alexametrics
21.1 C
Madura
Friday, July 1, 2022

Pj Bupati Kecewa Pasar Margalela Sepi

SAMPANG – Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto bersama Ketua Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Joko Suharyanto serta Kasat Intel Polres Sampang AKP Karyono mendatangi Pasar Margalela Senin (1/10). Mereka ingin mendorong dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagprin) meningkatkan kinerja.

Sebab, banyak laporan yang menyatakan bahwa sampai saat ini sebagain besar pedagang belum menempati Pasar Margalela. Laporan itu benar. Pasar Margalela seperti pasar mati kemarin. Tidak ada penjual dan pengunjung di pasar yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah itu.

”Kami lihat kosong. Kami mendorong disperdagprin serius bekerja agar pedagang yang memiliki tempat di Pasar Margalela ini dimanfaatkan untuk berjualan,” kata Pj bupati. Dia sempat menegur kepala dinas dan Kabid mengenai lambannya penanganan Pasar Margalela.

Waktu dari pengundian hingga pengeluaran izin penempatan sampai lima bulan. Setelah Pj bupati mendapat penjelasan kepala dinas dan Kabid, pedagang tidak sama dalam mengurus izin. Ada yang mengurus lebih awal dan ada yang belakangan.

Baca Juga :  Dinkes Susun Juknis Untuk Mencairkan Honor Tim Vaksinator Covid-19

”Saya kecewa. Saya mangkel jika lokasi yang sudah disediakan tidak dimanfaatkan dan digunakan untuk pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sampang,” ujar Jonathan.

Dia menyayangkan tempat berjualan yang diperoleh secara cuma-cuma tidak ditempati. Karena itu, jika sampai tiga bulan pedagang tidak menempati, tempat itu segera dieksekusi untuk diambil kembali oleh pemerintah.

”Tempat berjualan itu milik pemerintah daerah yang tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dipindahtangankan. Jadi, harus ditempati pedagang yang bersangkutan. Jika ada yang tidak sanggup menempati, kembalikan kepada pemerintah. Nanti akan dilelang lagi,” tegas Pj bupati.

Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, Pasar Margalela memiliki 330 los dan 55 kios yang dibagi menjadi tiga blok. Menurut dia, seluruh kios dan los saat ini sudah ada pedagang yang siap menempati.

Untuk menempati kios, pedagang harus mengurus izin penempatan terlebih dahulu. Itu bukan ketentuan yang dibuat disperdagprin, melainkan sesuai dengan Perda 5/2011. Hingga saat ini, sudah ada 285 pedagang yang mengurus izin penempatan dan sudah menempati.

Baca Juga :  Tuding Tata Kelola Pasar Kedungdung Amburadul

Sisanya belum mengurus izin penempatan dan belum menempati. ”Mereka tidak mau menempati karena menunggu pengunjung dan pembeli ramai seperti Pasar Srimangunan. Jelas tidak bisa, awal-awal pasti sepi,” terangnya.

Pihaknya sudah mengirimkan surat teguran pertama kepada pedagang. Jika sampai tiga kali teguran tetap tidak menempati dan berjualan, tempatnya akan ditarik dan dilelang lagi. ”Kedatangan bapak Pj bupati ini positif untuk mendorong semangat kita dan para pedagang segera menempati kios dan los serta berjualan,” paparnya.

Blok A Pasar Margalela ditempati pedagang ayam, daging, ikan, peracangan, buah, dan makanan. Blok B ditempati pedagang konfeksi, kerudung, topi, dompet, tas atau jenis dagangan kain, dan baju. Blok C akan ditempati pedagang elektronik, konter HP, penjual kaset, sepatu, sandal, buku, dan penjual pakan ternak.

”Kami akan terus berupaya meramaikan Pasar Margalela. Kami akan tegas jika tiga bulan berturut-turut pedagang tidak menempati, kios atao los akan langsung ditarik,” tandas Wahyu Prihartono.

SAMPANG – Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto bersama Ketua Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Joko Suharyanto serta Kasat Intel Polres Sampang AKP Karyono mendatangi Pasar Margalela Senin (1/10). Mereka ingin mendorong dinas perdagangan dan perindustrian (disperdagprin) meningkatkan kinerja.

Sebab, banyak laporan yang menyatakan bahwa sampai saat ini sebagain besar pedagang belum menempati Pasar Margalela. Laporan itu benar. Pasar Margalela seperti pasar mati kemarin. Tidak ada penjual dan pengunjung di pasar yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah itu.

”Kami lihat kosong. Kami mendorong disperdagprin serius bekerja agar pedagang yang memiliki tempat di Pasar Margalela ini dimanfaatkan untuk berjualan,” kata Pj bupati. Dia sempat menegur kepala dinas dan Kabid mengenai lambannya penanganan Pasar Margalela.


Waktu dari pengundian hingga pengeluaran izin penempatan sampai lima bulan. Setelah Pj bupati mendapat penjelasan kepala dinas dan Kabid, pedagang tidak sama dalam mengurus izin. Ada yang mengurus lebih awal dan ada yang belakangan.

Baca Juga :  Sanksi ASN Bolos Penundaan Kenaikan Gaji Berkala

”Saya kecewa. Saya mangkel jika lokasi yang sudah disediakan tidak dimanfaatkan dan digunakan untuk pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sampang,” ujar Jonathan.

Dia menyayangkan tempat berjualan yang diperoleh secara cuma-cuma tidak ditempati. Karena itu, jika sampai tiga bulan pedagang tidak menempati, tempat itu segera dieksekusi untuk diambil kembali oleh pemerintah.

”Tempat berjualan itu milik pemerintah daerah yang tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dipindahtangankan. Jadi, harus ditempati pedagang yang bersangkutan. Jika ada yang tidak sanggup menempati, kembalikan kepada pemerintah. Nanti akan dilelang lagi,” tegas Pj bupati.

Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, Pasar Margalela memiliki 330 los dan 55 kios yang dibagi menjadi tiga blok. Menurut dia, seluruh kios dan los saat ini sudah ada pedagang yang siap menempati.

Untuk menempati kios, pedagang harus mengurus izin penempatan terlebih dahulu. Itu bukan ketentuan yang dibuat disperdagprin, melainkan sesuai dengan Perda 5/2011. Hingga saat ini, sudah ada 285 pedagang yang mengurus izin penempatan dan sudah menempati.

Baca Juga :  Optimalkan Pelayanan Masyarakat, Pemkab Sampang Bentuk Enam UPTD Baru

Sisanya belum mengurus izin penempatan dan belum menempati. ”Mereka tidak mau menempati karena menunggu pengunjung dan pembeli ramai seperti Pasar Srimangunan. Jelas tidak bisa, awal-awal pasti sepi,” terangnya.

Pihaknya sudah mengirimkan surat teguran pertama kepada pedagang. Jika sampai tiga kali teguran tetap tidak menempati dan berjualan, tempatnya akan ditarik dan dilelang lagi. ”Kedatangan bapak Pj bupati ini positif untuk mendorong semangat kita dan para pedagang segera menempati kios dan los serta berjualan,” paparnya.

Blok A Pasar Margalela ditempati pedagang ayam, daging, ikan, peracangan, buah, dan makanan. Blok B ditempati pedagang konfeksi, kerudung, topi, dompet, tas atau jenis dagangan kain, dan baju. Blok C akan ditempati pedagang elektronik, konter HP, penjual kaset, sepatu, sandal, buku, dan penjual pakan ternak.

”Kami akan terus berupaya meramaikan Pasar Margalela. Kami akan tegas jika tiga bulan berturut-turut pedagang tidak menempati, kios atao los akan langsung ditarik,” tandas Wahyu Prihartono.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Mobdin Bukan Fasilitas Lebaran

Hindari Diet Berat saat Pandemi

Diundang sejak Dua Tahun Lalu

Saat Mondok Jualan Permen

Artikel Terbaru

/