alexametrics
20.9 C
Madura
Friday, July 8, 2022

Klaim Angka Kematian Ibu dan Bayi Mengalami Penurunan

SAMPANG – Angka kematian ibu dan bayi (AKIB) di wilayah Kota Bahari jadi atensi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang. Hingga Oktober tahun ini tercatat 10 ibu melahirkan dan 60 bayi meninggal dunia.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Sampang Agus Mulyadi menegaskan, angka 10 kematian ibu itu menurun jika dibanding tahun sebelumnya. Pada 2018 lalu ada 14 kasus ibu yang melahirkan meninggal dunia.

Untuk tahun ini pihaknya berharap tidak ada tambahan kematian ibu kembali. ”Penyebabnya, terbanyak karena pendarahan pascapersalinan. Kedua, tensinya tinggi,” ungkap Agus kemarin (31/10).

Banyak faktor ibu mengalami pendarahan saat melahirkan. Salah satunya karena gizi ibu tersebut kurang bagus. Selain itu mereka rata-rata kurang intens melakukan pengecekan di petugas kesehatan selama masa kehamilan. ”Si ibu hamil tidak rutin datang ke tenaga kesehatan,” imbuh pria berkacamata itu.

Baca Juga :  Dinkes Bebaskan Puluhan Desa dari Masalah BABS

Standarnya, setiap ibu hamil wajib datang ke petugas kesehatan minimal empat kali. ”Jadi selama sembilan bulan itu minimal datang empat kali. Triwulan pertama satu kali, triwulan berikutnya satu kali, lalu triwulan ketiga dua kali,” jelasnya.

Untuk kematian bayi di Sampang masih tinggi. Agus mengaku lupa jumlah pastinya. Seingatnya mencapai puluhan bayi. Jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian bayi juga diklaim mengalami penurunan.

”Saya lupa angka pastinya. Tapi, hingga Oktober kematian bayi di bawah enam puluh kasus. Tahun lalu sampai 145 bayi. Jadi penurunannya signifikan,” tambahnya.

”Untuk kematian bayi rata-rata karena asfiksia. Asfiksia itu kegagalan napas,” katanya.

SAMPANG – Angka kematian ibu dan bayi (AKIB) di wilayah Kota Bahari jadi atensi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang. Hingga Oktober tahun ini tercatat 10 ibu melahirkan dan 60 bayi meninggal dunia.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Sampang Agus Mulyadi menegaskan, angka 10 kematian ibu itu menurun jika dibanding tahun sebelumnya. Pada 2018 lalu ada 14 kasus ibu yang melahirkan meninggal dunia.

Untuk tahun ini pihaknya berharap tidak ada tambahan kematian ibu kembali. ”Penyebabnya, terbanyak karena pendarahan pascapersalinan. Kedua, tensinya tinggi,” ungkap Agus kemarin (31/10).


Banyak faktor ibu mengalami pendarahan saat melahirkan. Salah satunya karena gizi ibu tersebut kurang bagus. Selain itu mereka rata-rata kurang intens melakukan pengecekan di petugas kesehatan selama masa kehamilan. ”Si ibu hamil tidak rutin datang ke tenaga kesehatan,” imbuh pria berkacamata itu.

Baca Juga :  Jukir Tolak Parkir Berlangganan

Standarnya, setiap ibu hamil wajib datang ke petugas kesehatan minimal empat kali. ”Jadi selama sembilan bulan itu minimal datang empat kali. Triwulan pertama satu kali, triwulan berikutnya satu kali, lalu triwulan ketiga dua kali,” jelasnya.

Untuk kematian bayi di Sampang masih tinggi. Agus mengaku lupa jumlah pastinya. Seingatnya mencapai puluhan bayi. Jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian bayi juga diklaim mengalami penurunan.

”Saya lupa angka pastinya. Tapi, hingga Oktober kematian bayi di bawah enam puluh kasus. Tahun lalu sampai 145 bayi. Jadi penurunannya signifikan,” tambahnya.

”Untuk kematian bayi rata-rata karena asfiksia. Asfiksia itu kegagalan napas,” katanya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/