alexametrics
21.4 C
Madura
Thursday, May 19, 2022

Jenazah Pengungsi Jemundo Dimakamkan di Tanah Kelahiran

  SAMPANG, Jawa Pos radar Madura – Penanganan konflik pengikut Tajul Muluk beberapa tahun lalu kini mengalami kemajuan positif. Masyarakat Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, sudah bisa menerima eks pengikut Tajul Muluk yang beberapa bulan lalu memutuskan kembali ke ajaran sunni. 

Buktinya, Safi’ih, eks pengikut Tajul Muluk di Rusunawa Puspa Agro Jemundo, Sidoarjodi, dikuburkan di tanah kelahirannya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan  Omben. Bahkan, proses pemulasaraan hingga penguburan dilakukan oleh tokoh dan masyarakat setempat. Almarhum meninggal di Rusunawa Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, sekitar pukul 22.00 karena stroke.

Almarhum Safi’ih memang sudah lama menderita penyakit stroke, sekitar satu tahun. Namun, almarhun tetap memaksakan diri mengikuti deklarasi baiat dan kembali pada paham ahlussunnah waljamaah atau Sunni pada 5 November 2020 lalu.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sampang Pardi menyampaikan, almarhum dimakamkan di tanah kelahirannya pada Jumat (30/4) sekitar pukul 02.30. Semua pihak mulai dari pemerintah, tokoh, perangkat desa, dan tim lima melakukan proses pemulasaraan jenazah hingga pemakaman.

Baca Juga :  Pastikan Ditangani Sesuai Kaidah Agama

”Saat kami menginformasikan kabar meninggalnya Safi’ih, warga setempat langsung menunggu melakukan pemakaman,” katanya.

Menurut dia, respons positif tersebut menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Sebab, masyarakat setempat sudah mau menerima pengikut Tajul Muluk yang sebelumnya ditentang warga sekitar.

”Kejadian tadi malam melegakan karena respons semuanya positif. Warga yang berada di lokasi pemakaman menerima semua. Ini membuktikan adanya sinergi luar biasa dari tokoh masyarakat setempat,” ucap Pardi.

Dijelaskan, sebelumnya ada eks pengikut Tajul Muluk yang meninggal karena sakit. Saat akan dilakukan proses pemakaman pada Desember yang lalu, ada pertentangan dari warga setempat. Karena itu, perlu dilakukan komunikasi agar jenazah bisa dimakamkan di tanah kelahirannya.

”Ini sudah kedua kali. Alhamdulillah langsung diterima dan pemakamannya diproses secara bersama-sama,” terang Pardi.

Dia sangat mengapresiasi terhadap kinerja pemerintah daerah dan jajaran lainnya yang sudah sama-sama mengupayakan menyelesaikan konflik tersebut. Termasuk juga kepada masyarakat setempat yang mau membuka ruang dan hati untuk menerima eks pengikuti Tajul Muluk.

”Ke depan kita harus bisa menunjukkan bahwa masyarakat Sampang memiliki rasa persaudaraan dan jati diri, toleran, dan bisa menerima sesama,” tutur Pardi.

Baca Juga :  Bupati Dukung Deklarasi Damai Antar Tokoh

Pardi menambahkan, pihaknya akan terus mengupayakan menyelesaikan konflik tersebut sampai tuntas. Maka dari itu, setiap melakukan pendampingan ke pengungsian Jemundo maupun masyarakat di daerah konflik. ”Kami aktif melakukan pendampingan setiap bulan ke Jemundo,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Lakpesdam PC NU Sampang Faisol menyampaikan, saat warga setempat mendengar ada eks pengikut Tajul Muluk meninggal dan akan dimakamkan di tanah kelahirannya, memang ada beberapa tokoh yang menentang. Karena itu, pihaknya bersama bakesbangpol dan camat setempat turun ke lapangan melakukan komunikasi.

”Setelah berbincang selama 2 jam, akhirnya menerima dan dimakamkan (di tanah kelahiran),” katanya.

Ditambahkan, ke depan dibutuhkan SOP yang jelas mengenai pemakaman eks pengikut Tajul Muluk. Mulai dari ambulans, pemakaman, dan sebagainya. ”Karena persoalan ini belum jelas di tatanan pemerintah. Sehingga, harus segera diselesaikan agar ke depan tidak ada kendala yang sama,” saran Faisol. (iqb)

 

 

- Advertisement -

  SAMPANG, Jawa Pos radar Madura – Penanganan konflik pengikut Tajul Muluk beberapa tahun lalu kini mengalami kemajuan positif. Masyarakat Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, sudah bisa menerima eks pengikut Tajul Muluk yang beberapa bulan lalu memutuskan kembali ke ajaran sunni. 

Buktinya, Safi’ih, eks pengikut Tajul Muluk di Rusunawa Puspa Agro Jemundo, Sidoarjodi, dikuburkan di tanah kelahirannya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan  Omben. Bahkan, proses pemulasaraan hingga penguburan dilakukan oleh tokoh dan masyarakat setempat. Almarhum meninggal di Rusunawa Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo, sekitar pukul 22.00 karena stroke.

Almarhum Safi’ih memang sudah lama menderita penyakit stroke, sekitar satu tahun. Namun, almarhun tetap memaksakan diri mengikuti deklarasi baiat dan kembali pada paham ahlussunnah waljamaah atau Sunni pada 5 November 2020 lalu.


Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sampang Pardi menyampaikan, almarhum dimakamkan di tanah kelahirannya pada Jumat (30/4) sekitar pukul 02.30. Semua pihak mulai dari pemerintah, tokoh, perangkat desa, dan tim lima melakukan proses pemulasaraan jenazah hingga pemakaman.

Baca Juga :  Guru Budi Pergi, Komite Anak Ajak┬áBersinergi

”Saat kami menginformasikan kabar meninggalnya Safi’ih, warga setempat langsung menunggu melakukan pemakaman,” katanya.

Menurut dia, respons positif tersebut menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Sebab, masyarakat setempat sudah mau menerima pengikut Tajul Muluk yang sebelumnya ditentang warga sekitar.

”Kejadian tadi malam melegakan karena respons semuanya positif. Warga yang berada di lokasi pemakaman menerima semua. Ini membuktikan adanya sinergi luar biasa dari tokoh masyarakat setempat,” ucap Pardi.

Dijelaskan, sebelumnya ada eks pengikut Tajul Muluk yang meninggal karena sakit. Saat akan dilakukan proses pemakaman pada Desember yang lalu, ada pertentangan dari warga setempat. Karena itu, perlu dilakukan komunikasi agar jenazah bisa dimakamkan di tanah kelahirannya.

”Ini sudah kedua kali. Alhamdulillah langsung diterima dan pemakamannya diproses secara bersama-sama,” terang Pardi.

Dia sangat mengapresiasi terhadap kinerja pemerintah daerah dan jajaran lainnya yang sudah sama-sama mengupayakan menyelesaikan konflik tersebut. Termasuk juga kepada masyarakat setempat yang mau membuka ruang dan hati untuk menerima eks pengikuti Tajul Muluk.

”Ke depan kita harus bisa menunjukkan bahwa masyarakat Sampang memiliki rasa persaudaraan dan jati diri, toleran, dan bisa menerima sesama,” tutur Pardi.

Baca Juga :  Seluruh Biaya Ditanggung Pemerintah

Pardi menambahkan, pihaknya akan terus mengupayakan menyelesaikan konflik tersebut sampai tuntas. Maka dari itu, setiap melakukan pendampingan ke pengungsian Jemundo maupun masyarakat di daerah konflik. ”Kami aktif melakukan pendampingan setiap bulan ke Jemundo,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Lakpesdam PC NU Sampang Faisol menyampaikan, saat warga setempat mendengar ada eks pengikut Tajul Muluk meninggal dan akan dimakamkan di tanah kelahirannya, memang ada beberapa tokoh yang menentang. Karena itu, pihaknya bersama bakesbangpol dan camat setempat turun ke lapangan melakukan komunikasi.

”Setelah berbincang selama 2 jam, akhirnya menerima dan dimakamkan (di tanah kelahiran),” katanya.

Ditambahkan, ke depan dibutuhkan SOP yang jelas mengenai pemakaman eks pengikut Tajul Muluk. Mulai dari ambulans, pemakaman, dan sebagainya. ”Karena persoalan ini belum jelas di tatanan pemerintah. Sehingga, harus segera diselesaikan agar ke depan tidak ada kendala yang sama,” saran Faisol. (iqb)

 

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/