alexametrics
20.9 C
Madura
Saturday, August 20, 2022

Sumber Daya Alam Desa Melimpah, SDM Rendah

SAMPANG – Sumber daya alam (SDA) di Sampang cukup melimpah. Potensi itu mestinya dimanfaatkan oleh pemerintah desa demi pembangunan ekonomi masyarakat. Salah satu caranya dengan membentuk badan usaha milik desa (BUMDes).

Namun, keberadaan BUMDes belum bisa menjawab peningkatan ekonomi masyarakat desa. Sebab, jenis usaha yang digeluti BUMDes relatif sama. Sejauh ini belum ada BUMDes yang concern menggeluti usaha ekonomi kreatif untuk mengembangkan potensi desa.

Jenis usaha yang digeluti rata-rata bertumpu pada simpan pinjam, persewaan alat-alat pesta, dan pertokoan. Problem lainnya, dari 180 desa di Sampang, baru 89 BUMDes yang terbentuk. Sayangnya, baru 25 BUMDes yang aktif.

Kabid Pemberdayaan Ekonomi dan Teknologi Tepat Guna Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sampang Taufiqurrahman mengatakan, tahun ini setiap desa ditarget memiliki BUMDes. Kendalanya bukan lagi pendanaan. Sebab, setiap desa sudah mendapat dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD).

Baca Juga :  Dinas PUPR Lakukan Pengukuran P0 Normalisasi Kali Kamoning

Menurut Taufiq, potensi di setiap desa memang melimpah. Namun, selama ini cenderung dieksploitasi masyarakat dari luar desa. Problemnya, sumber daya manusia (SDM) di desa masih rendah dan belum mampu mengelola potensi SDA.

”Kami akui BUMDes yang aktif masih berkutat di jenis usaha yang sama. Tetapi, saat ini sudah mulai ada BUMDes yang bergerak di bidang ekonomi kreatif,” ucap Taufiq kepada Jawa Pos Radar Madura kemarin (31/1).

Taufiq membenarkan bahwa ada program fasilitasi dan pembinaan BUMDes setiap tahun. Pemanfaatan BUMDes dari sisi teknologi tepat guna memang belum ada. Yang diutamakan baru dari sisi pemberdayaan. Menurut dia, teknologi tepat guna sudah dibuat oleh ahli di bidang teknik, yakni Fauzil Ashghariansyah. Nantinya desa bisa mamanfaatkan teknologi tersebut.

Baca Juga :  Tersangka Korupsi DD-ADD Dilimpahkan

”Mas Fauzil dari Kecamatan Sreseh itu mitra kami yang bisa dijadikan contoh. Paling tidak karya Fauzil bisa dimanfaatkan untuk desa. Pengadaannya dari kami. Nanti akan diteruskan ke desa-desa,” jelasnya.

Selain faktor SDM yang rendah, minimnya BUMDes di Sampang terjadi karena skala prioritas desa bertumpu pada pembangunan infrastruktur. Belum mengarah pada pembangunan ekonomi. ”Desa baru berbenah. Yang diutamakan memang pembangunan infrastruktur. Permasalahannya masih berkutat di plengsengan, jalan rusak, pengaspalan, dan infrastruktur lainnya,” ungkap dia.

Karena itu, setiap tahun pihaknya akan memaksimalkan pendampingan terhadap BUMDes di setiap desa. Dia berharap desa lebih terbuka untuk mampu mengembangkan ekonomi desa melalui BUMDes. ”Potensi sudah ada, tinggal bagaimana masyarakat mengelolanya,” pungkas Taufiq.

SAMPANG – Sumber daya alam (SDA) di Sampang cukup melimpah. Potensi itu mestinya dimanfaatkan oleh pemerintah desa demi pembangunan ekonomi masyarakat. Salah satu caranya dengan membentuk badan usaha milik desa (BUMDes).

Namun, keberadaan BUMDes belum bisa menjawab peningkatan ekonomi masyarakat desa. Sebab, jenis usaha yang digeluti BUMDes relatif sama. Sejauh ini belum ada BUMDes yang concern menggeluti usaha ekonomi kreatif untuk mengembangkan potensi desa.

Jenis usaha yang digeluti rata-rata bertumpu pada simpan pinjam, persewaan alat-alat pesta, dan pertokoan. Problem lainnya, dari 180 desa di Sampang, baru 89 BUMDes yang terbentuk. Sayangnya, baru 25 BUMDes yang aktif.


Kabid Pemberdayaan Ekonomi dan Teknologi Tepat Guna Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sampang Taufiqurrahman mengatakan, tahun ini setiap desa ditarget memiliki BUMDes. Kendalanya bukan lagi pendanaan. Sebab, setiap desa sudah mendapat dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD).

Baca Juga :  Gaji Perangkat Desa Enam Bulan Ngendap

Menurut Taufiq, potensi di setiap desa memang melimpah. Namun, selama ini cenderung dieksploitasi masyarakat dari luar desa. Problemnya, sumber daya manusia (SDM) di desa masih rendah dan belum mampu mengelola potensi SDA.

”Kami akui BUMDes yang aktif masih berkutat di jenis usaha yang sama. Tetapi, saat ini sudah mulai ada BUMDes yang bergerak di bidang ekonomi kreatif,” ucap Taufiq kepada Jawa Pos Radar Madura kemarin (31/1).

Taufiq membenarkan bahwa ada program fasilitasi dan pembinaan BUMDes setiap tahun. Pemanfaatan BUMDes dari sisi teknologi tepat guna memang belum ada. Yang diutamakan baru dari sisi pemberdayaan. Menurut dia, teknologi tepat guna sudah dibuat oleh ahli di bidang teknik, yakni Fauzil Ashghariansyah. Nantinya desa bisa mamanfaatkan teknologi tersebut.

Baca Juga :  Uang Masuk ke Rekening Desa
- Advertisement -

”Mas Fauzil dari Kecamatan Sreseh itu mitra kami yang bisa dijadikan contoh. Paling tidak karya Fauzil bisa dimanfaatkan untuk desa. Pengadaannya dari kami. Nanti akan diteruskan ke desa-desa,” jelasnya.

Selain faktor SDM yang rendah, minimnya BUMDes di Sampang terjadi karena skala prioritas desa bertumpu pada pembangunan infrastruktur. Belum mengarah pada pembangunan ekonomi. ”Desa baru berbenah. Yang diutamakan memang pembangunan infrastruktur. Permasalahannya masih berkutat di plengsengan, jalan rusak, pengaspalan, dan infrastruktur lainnya,” ungkap dia.

Karena itu, setiap tahun pihaknya akan memaksimalkan pendampingan terhadap BUMDes di setiap desa. Dia berharap desa lebih terbuka untuk mampu mengembangkan ekonomi desa melalui BUMDes. ”Potensi sudah ada, tinggal bagaimana masyarakat mengelolanya,” pungkas Taufiq.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/