Radar Madura JawaPos.com | Catatan RSS News Feed https://radarmadura.jawapos.com/rss/280/catatan http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarmadura-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarmadura-logo1.png Radar Madura JawaPos.com | Catatan RSS News Feed https://radarmadura.jawapos.com/rss/280/catatan id Tue, 19 Feb 2019 10:22:46 +0700 Radar Madura <![CDATA[Kiai dan Peta Elektoral Madura 2019]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/19/120223/kiai-dan-peta-elektoral-madura-2019 https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/19/120223/kiai-dan-peta-elektoral-madura-2019

THE Initiative Institute pada 10–18 Oktober 2018 melakukan survei elektabilitas calon presiden di Jawa Timur dan menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul]]>

THE Initiative Institute pada 10–18 Oktober 2018 melakukan survei elektabilitas calon presiden di Jawa Timur dan menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan angka 57,7 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 19,7 persen. Keunggulan pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mewakili semua wilayah di Jawa Timur. Di Madura, pasangan Prabowo-Sandi justru menang dengan angka 43 persen, sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 20,5 persen.

Bayang-bayang kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Madura tidak bisa dinafikan. Bahkan, jika melihat hasil Pilpres 2014 menunjukkan bahwa pasangan Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK. Saat itu, perolehan suara Prabowo-Hatta di Madura mencapai 830.968 dan Jokowi-JK hanya memperoleh 692.631 suara. Keadaan serupa akan berulang pada Pilpres 2019 jika tim kampanye pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mampu mendeteksi strategi yang efektif untuk mendulang suara di Pulau Garam.

Karena itu, pelacakan secara sosio-antropologis penting dilakukan untuk mengetahui aktor-aktor yang memainkan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Di Madura, ada tiga hierarki yang menjadi spirit masyarakat, yakni bapha’-babhu’, guru, rato (bapak-ibu, guru, dan pemerintah). Ketiga elemen ini merupakan hierarki ketaatan yang telah membentuk pola pandang masyarakat Madura. Mereka menjadi rujukan utama dalam laku, termasuk dalam menentukan pilihan politik sekalipun.

Jika dilihat secara politik, titik perbedaan ketiga hieraraki itu terletak pada cakupan pengaruhnya. Bapak-ibu hanya berpengaruh secara internal di lingkungan keluarga. Adapun pemerintah lebih luas pengaruhnya. Ia bisa menjangkau setiap segmen masyarakat. Tetapi, saat ini pemerintah cenderung diidentikkan dengan persoalan administratif. Ia harus menggandeng aktor-aktor lain agar mempunyai pengaruh lebih luas. Meskipun, di sisi lain, tidak menutup kemungkinan pemerintah mampu memberikan pengaruh besar melalui legitimasi kekuasaan formalnya.

Meski begitu, dalam konteks ini, kiai adalah aktor paling dominan dalam menebar pengaruh di masyarakat. Ia mempunyai segenap modal yang dapat mengukuhkan hegemoninya. Asal-usul genealogis seperti ilmu pengetahuan, nasab, dan kesetiaan mangayomi umat menjadi titik penentu bagaimana kiai relatif dominan memengaruhi masyarakat. Bahkan dalam praksis politik, kiai adalah vote getter yang bisa menentukan ke mana suara masyarakat akan berlabuh.

Dalam konstelasi politik Madura, posisi kiai sangat vital. Ia bisa menggunakan loyalitas masyarakat sebagai modal untuk melakukan political bargaining. Kiai bisa menjadi instrumen untuk merealisasikan cita-cita politisi dengan memanfaatkan modalitas yang dimilikinya. Namun, belakangan kataatan masyarakat digunakan oleh sebagian kiai untuk mengakses kekuasaan struktural. Mereka secara terang-terangan terjun ke politik dengan menggunakan kekuatan kulturalnya demi meraih kekuasaan struktural.

Karisma seorang kiai menjadi indiktor penting untuk mengetahui sejauh mana ia berkuasa. Antropolog Liek Arifin Mansurnoor (1990) menyinggung, semakin karismatik kiai, maka kekuasaan yang melekat dalam dirinya akan semakin kukuh. Ini artinya indikator pengaruh seorang kiai terhadap masyarakat terlatak pada karisma di dalam dirinya. Kiai mampu memengaruhi bahkan menghegemoni pemilih dalam menentukan pilihannya. Dalam hal ini, preferensi pemilih bertumpu pada alasan ”berbakti pada guru”.

Segendang sepenarian, kiai akan kembali menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi- Ma’ruf dan Prabowo-Sandi di Madura. Semakin banyak dukungan kiai, potensi menang akan lebih besar. Itulah alasan mengapa elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi dalam survei yang dilakukan The Initiative Institute. Alasannya, dukungan kiai terhadap Jokowi-Ma’ruf kurang masif.

 

Perang Elektabilitas

Sosok Ma’ruf Amin yang notabene adalah kiai dan tokoh berpengaruh di Nahdlatul Ulama (NU) belum mampu menaikkan elektabilitas mereka di Madura. Padahal, Ma’ruf Amin sendiri pernah menjabat Rois Aam PB NU yang dipilih oleh sembilan ulama senior melalui sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Penunjukan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mestinya mampu mengonsolidasi dukungan nahdliyin akar-rumput. Tapi, kenyataannya tak demikian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan elektabiltas Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi di Madura.

Pertama, menguatnya populisme Islam. Sejak aksi 212 di Jakarta pada 2016 silam Islam politik di Madura kian menunjukkan eksistensinya. Front Pembela Islam (FPI) merupakan motor penggeraknya. FPI gampang masuk dan diterima di Madura karena Aliansi Ulama Madura (AUMA) ikut memfasilitasinya. Keberadaan FPI ini pelan-pelan mengusik NU. Sejumlah kiai penting di Madura mulai tertarik dan bergabung dengan FPI. Alih-alih menyuarakan narasi Islam rahmatan lil 'alamin, mereka tergabung dalam arus dan gerakan #2019GantiPresiden.

Pada Pilpres 2019, sejumlah tokoh FPI di Sumenep menyatakan sikap untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Mereka adalah kiai yang tidak sekadar berpengaruh di FPI, tetapi juga disegani oleh kalangan nahdliyin. Sebagai sosok influencer, mereka dapat menggerus basis massa pendukung Jokowi-Ma’ruf karena kemampuan memobilisasi massa dan kecerdikan “menggoreng” isu yang penuh sentimen.

Kedua, minimnya dukungan dari kiai. Pengaruh besar kiai belum mampu dimaksimalkan oleh tim kampenya Jokowi-Ma’ruf. Kiai dimaksud di sini ialah mereka yang tidak tergabung dengan FPI, baik yang mempunyai pesantren maupun tergabung secara struktural di Nahdlatul Ulama (NU). Kelemahan ini disadari oleh tim lawan. Mereka mengakomodasi sejumlah kiai di Madura untuk memberikan dukungan elektoral kepadanya. Padahal, pasangan Jokowi-Ma’ruf memiliki pertalian kuat dengan NU. Meskipun secara resmi NU tidak memberikan dukungan pada siapa pun, kiai-kiai NU berhak menentukan pilihan politiknya. Lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Madura salah satunya disebabkan oleh kurang masifnya dukungan kiai terhadap mereka.

Kendati demikian, bukan tidak mungkin pasangan Jokowi-Ma’ruf dapat mengalahkan Prabowo-Sandi di Madura. Modal paslon 01 telah mencukupi, hanya butuh konsolidasi agar berjalan efektif. Ma’ruf Amin adalah kiai yang berpengaruh dan cukup masyhur di kalangan NU. Yang dibutuhkan ialah mengenalkannya lebih jauh pada kalangan nahdliyin Madura agar popularitasnya semakin tinggi sehingga bisa memantik layolitas masyarakat terhadap dirinya.

Di sisi lain, meminjam bahasanya Clifford Geertz (1960) kiai mempunyai peran sebagai perantara kuktural (cultural broker). Atas dasar itu, peran kiai tidak boleh dinafikan, terutama untuk menguatkan konsolidasi kalangan nahdliyin akar rumput agar melabuhkan pilihannya pada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Siapa pun yang menyadari dan memaksimalkan peran kiai, kemungkinan besar akan unggul dan menang di Madura. Toh, Pulau Garam galib disebut sebagai kunci kemenangan di Jawa Timur. 

 

*) Mantan ketua Perpustakaan SMA Annuqayah; alumnus Fakultas Hukum UBK Jakarta; Kornas Himpunan Aktivis Milenial Indonesia.

]]>
Abdul Basri Tue, 19 Feb 2019 10:22:46 +0700
<![CDATA[Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/09/118555/pers-menguatkan-ekonomi-kerakyatan-berbasis-digital https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/09/118555/pers-menguatkan-ekonomi-kerakyatan-berbasis-digital

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) diselenggarakan 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Tema peringatan tahun ini Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan]]>

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) diselenggarakan 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Tema peringatan tahun ini Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital. Kegiatan ini melibatkan Dewan Pers, berbagai asosiasi jurnalis, dan asosiasi perusahaan pers seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Serikat Perusahaan Pers (SPS), Serikat Grafika Pers (SGP), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

Pemilihan tema itu telah memberi kepercayaan bagi publik bahwa media digital tidak hanya persoalan dampak negatif saja seperti kegaduhan akibat penyebaran hoaks, minimnya etika bersosial media, dan ujaran kebencian di dunia maya. Tapi lebih dari itu. Perkembangan teknologi media digital yang begitu cepat dalam dimensi kehidupan sosial harus direspons oleh berbagai aktor. Tidak terkecuali oleh pers.

Bagi Cess J. Hamelink (1997), konsekuensi sosial dari perkembangan teknologi media digital memang telah melahirkan dua kutub pandangan. Yaitu kelompok yang pesimistis terhadap perkembangan media digital (dystopian perspective) dan kelompok yang tetap optimistis dengan perkembangan media baru atau digital (utopian perspective).

Pemilihan tema tersebut merupakan wujud optimistis bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan kekuatan ekonomi kerakyatan yang perlu ditingkatkan pangsa pasarnya melalui promosi dan sistem transaksi jual beli berbasis digital atau online. Bahkan perlu diingat bahwa pelaku UMKM ini menjadi pilar bisnis ekonomi bangsa yang mampu bertahan ketika krisis ekonomi moneter menimpa Indonesia pada 1997. Apalagi, berdasarkan data Kementerian Koperasi, usaha kecil dan menengah pada 2018 ada 59,2 juta pelaku UMKM dan 3,79 juta UMKM sudah go online.

Begitupun dengan Provinsi Jawa Timur yang menjadi tempat penyelenggara HPN 2019 juga memiliki semangat sama dalam sistem penguatan ekonomi kerakyatan. Jawa Timur merupakan satu-satunya provinsi yang memiliki Bank Perkreditan Rakyat UMKM untuk masyarakat Jawa Timur. Bank ini memberi bantuan kredit bagi pelaku usaha pertanian, perkebunan, manufaktur, kuliner, usaha kecil dan menengah lainnya. Jawa Timur juga mencatatkan sebagai provinsi yang pertumbuhan domestik regional bruto pada 2018 mencapai 5,57% atau di atas pertumbuhan nasional Indonesia yang hanya 5,27%.

Ketika melihat elemen pemerintah dan masyarakat mulai bergerak meningkatkan daya saing UMKM, sudah waktunya pers Indonesia memberikan sumbangsih konkret dan strategis dalam penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital dalam momentum Hari Pers Nasional 2019.

Posisi pers saat ini memiliki peran penting selain dukungan aktor pemerintah, publik, dan swasta. Pers dapat menjadi agen yang berperan signifikan dalam komunikasi pembangunan. Tentu posisi pers dalam komunikasi pembangunan di sini bukan bergerak atas kepentingan Pemerintah seperti pada Orde Baru. Sesuai UU 40/1999 bahwa pers berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, media kontrol sosial yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Sehingga, kegiatan jurnalistik yang dilakukan pers mendorong perubahan dan pembaruan sosial termasuk dalam informasi penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital.

 Apalagi di era media digital, setiap netizen memiliki kemampuan memproduksi pesan dan saling menukar pesan terhadap masyarakat luas (demassified). Bahkan lebih dari itu, netizen bisa langsung berjejaring untuk kepentingan bisnis dan kepeminatan tertentu. Tapi patut diakui tidak semua netizen memiliki tingkat kecakapan yang sama dalam berjejaring di dunia maya, sehingga kesenjangan digital juga masih dirasakan netizen di Indonesia. Bagi Mila G. Hernandes (2007), kesenjangan media digital bukan hanya persoalan minimnya infrastruktur digital, tapi juga bisa disebabkan oleh kurangnya kecakapan dan pemahaman pengguna terhadap internet.

Maka dari itu, pers sebagai lembaga kemasyarakatan perlu berperan dalam melakukan kegiatan edukatif terhadap kelompok-kelompok penggerak ekonomi kerakyatan yang belum menggunakan internet sebagai basis bisnis. Misalnya di wilayah perdesaan banyak petani, pengusaha konfeksi, pengusaha manufaktur, pengusaha kuliner lokal dan pelaku UMKM lainnya yang belum paham dan cakap menggunakan internet sebagai basis pengembangan bisnis.

Pers memiliki fungsi media pendidikan, sehingga menambah wawasan serta pengetahuan terhadap publik. Pers dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak kepentingan untuk melakukan pendampingan pengembangan sumber daya pelaku UMKM di berbagai daerah agar siap menuju ekonomi kerakyatan berbasis digital. Pelatihan semacam ini telah dilakukan oleh organisasi Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) wilayah Jawa Timur dengan tema Madura go to Digital”, yaitu memberikan pelatihan aplikasi kepada pengusaha UMKM di Madura agar dapat mempromosikan dan menjual produknya secara digital.

Pasca pelatihan, target berikutnya semua promosi dan transaksi akan terus didampingi oleh Japnas agar produknya tidak hanya laku di Madura saja. Tapi masuk ke pasar yang lebih luas di Indonesia dan luar negeri. Kegiatan serupa juga dilakukan komunitas Gerakan Melukis Harapan (GMH) yang memberikan pelatihan produksi UMKM kepada warga kampung bekas lokalisasi Dolly di Surabaya. GMH melatih warga untuk memproduksi dan memasarkan bahan minuman berbahan rumput laut yang diberi nama Orumy dan makanan olahan keripik singkong yang diberi nama Samijali.

Di era informasi semacam ini akan lebih optimal apabila kegiatan penguatan sosial di masyarakat bisa dilakukan berkolaboarasi dengan berbagai pihak kelompok kepentingan. Dengan demikian, manfaat yang didapatkan jauh lebih besar. Begitu pun dalam kegiatan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital bagi pelaku UMKM, pers bisa menjadi inisiator dalam kolaborasi antar lembaga seperti, dinas perindustrian dan perdagangan, lembaga pendidikan tinggi, dan asosiasi pengusaha supaya mendorong pelaku UMKM di berbagai daerah. Itu untuk meningkatkan kualitas produknya dan beralih menggunakan digital sebagai basis bisnis mereka.

Dengan begitu, pers menjadi elemen yang signifikan bermanfaat dan lebih dekat bersama masyarakat. Semoga tema Hari Pers Nasional 2019 bukan hanya sebatas barisan kata tanpa makna. Pers dapat berperan penting dalam komunikasi perubahan sosial, khususnya ekonomi kerakyatan berbasis digital. Selamat Hari Pers Nasional. 

]]>
Abdul Basri Sat, 09 Feb 2019 13:56:36 +0700
<![CDATA[Gengsi Adalah Fiksi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/04/117575/gengsi-adalah-fiksi https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/04/117575/gengsi-adalah-fiksi

Jika ditanya kota mana yang pemudanya paling rela melepas rasa gengsi, maka Jogjalah jawabannya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami selama sekitar delapan]]>

Jika ditanya kota mana yang pemudanya paling rela melepas rasa gengsi, maka Jogjalah jawabannya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami selama sekitar delapan tahun tinggal di Kota Gudeg. Dalam kunjungan terakhir ke daerah istimewa itu, bahkan saya berjumpa dengan seorang pemuda bergelar magister dari perguruan tinggi ternama yang tanpa gengsi menjadi pengemudi ojek online.

***

GERIMIS halus turun membasahi bumi malam itu. Udara dingin menelusup halus pada pori-pori tubuh. Lalu-lalang kendaraan masih melaju di Jalan Raya Malioboro, Kota Jogjakarta.

Sudah sekitar sepuluh menit saya menunggu pengemudi ojek online. Ini penantian yang cukup lama. Padahal biasanya hanya antara dua hingga lima menit lamanya. Hampir saja saya membatalkan orderan sebelum seorang pemuda yang mungkin usianya lebih muda dari saya datang menghampiri. ”Maaf, Mas, agak lambat. Soalnya orderan malam ini cukup padat,” katanya membuka pembicaraan.

Saya memintanya diantarkan ke kedai kopi Blandongan. Aktivis mahasiswa Jogja generasi 2000-an tentu akrab dengan kedai yang satu ini. Bahkan dulu ada ungkapan: tidaklah sempurna menjadi aktivis Jogja bila belum pernah ngopi di Blandongan.

Di perjalanan, mas ojek itu bertanya asal tempat tinggal saya. Dia sangat pintar menciptakan suasana akrab dengan penumpangnya. Pembicaraan pun mengalir hingga akhirnya saya pun penasaran ingin tahu dari mana asal dan di mana dia tinggal sekarang.

Si abang ojek itu rupanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Timur. Dan yang membuat saya tertegun, dia sudah belasan tahun tinggal di Jogja. Mulai sejak SMA hingga lulus pascasarjana.

Saya tanya mengapa dia mau jadi pengemudi ojek online? Bukannya banyak pekerjaan lain yang lebih menjanjikan? Apa dia tidak gengsi? Dan pertanyaan-pertanyaan lain pun terus saya suguhkan.

Jawabannya sungguh di luar dugaan. Katanya, dia sebenarnya ingin jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi saat mendaftar tidak lulus. Tetapi menjadi pengemudi ojek menurutnya juga bukanlah pekerjaan yang buruk. Bahkan dari segi pendapatan, dia bisa meraup keuntungan lebih besar daripada PNS yang tak berpangkat.

Soal gengsi, dia sudah melemparnya jauh-jauh. Baginya, gengsi hanya akan membuatnya terpuruk. Orang yang gengsi akan terus dihantui oleh ketakutannya sendiri hingga dia lupa yang mana realitas dan yang mana harus dijalani.

Bagi penganut gengsiisme, tentu tidaklah rela bila lulusan pascasarjana menjadi tukang ojek. Dia lebih memilih menjadi pengangguran, sembari menunggu pekerjaan kantoran datang. Kemudian, dia akan memperhatikan grafik statistik tentang ribuan sarjana yang tidak punya pekerjaan. Lalu merasa senasib seperjuangan dan ramai-ramai mengutuk pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai.

Pekerjaan seakan-akan hanya yang duduk di kantoran. Pandangan semacam ini tertanam kuat, terutama bagi orang-orang yang hidup di zaman Orde Baru. Bagi mereka, menjadi PNS merupakan satu-satunya kehormatan meski dengan bayar ratusan juta sekalipun.

Padahal zaman sudah berkembang pesat. Konon tukang ojek dianggap aib, tapi berkat perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kini sudah menjadi pekerjaan idaman. Setidaknya bisa kita lihat hari ini sangat mudah menjadi lulusan perguruan tinggi ternama yang tanpa malu menjadi pengemudi ojek online.

Ngapain gengsi. Toh sepeda motor juga milik mereka sendiri. Dia juga bisa mendapatkan pahala karena telah mengantarkan orang lain ke tempat tujuan. Selain itu, jelas rezeki yang mereka dapatkan lebih halal daripada hanya yang mengandalkan proposal ke kantor-kantor pemerintahan.

Di Jogjakarta, ada ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang setangguh mas ojek online tersebut. Jika ingin bukti, datanglah ke Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di Jalan Parangtritis, Bantul. Pesantren ini telah meluluskan ratusan alumnus yang seluruhnya berideologi ”gengsi tai kucing”.

Istilah ”gengsi tai kucing” ini kali pertama diungkapkan oleh almarhum KH Zainal Arifin Thoha, pendiri pesantren tersebut. Kepada para santri, pria yang akrab disapa Gus Zainal itu selalu mewanti-wanti agar melepas rasa gengsi. Menurutnya, sikap gengsi, malu, atau terlalu mengagung-agungkan harga diri, tak lebih dari kotoran kucing yang tak berharga.

Santri-santri di sini rela bekerja serabutan demi mencapai kesuksesan. Ada yang menjadi loper koran. Ada pula yang jualan buku, jualan gorengan, dan pekerjaan-pekerjaan yang butuh mental kuat lainnya. Bagi santri, yang penting bisa hidup mandiri dengan jerih payah sendiri.

Di pesantren ini, seluruh santri harus hidup mandiri. Tidak boleh ada santri yang minta kriman kepada orang tua. Kalaupun mau minta kiriman, maksimal hanya tiga bulan sejak hari pertama mondok.

Mayoritas mahasiswa di pesantren ini kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Sebelum 2010, sangat mudah mencari santri Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di kampus tersebut. Tinggal perhatikan baju dan sepeda ontel yang digunakan. Jika penampilannya kucel, sepeda ontelnya karatan, dan tubuhnya kurus kerempeng, itu sudah bisa dipastikan santri Kutub, sebutan lain Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari.

Tapi jangan heran, meski penampilannya sangat memalukan, intelektualitas mereka di atas rata-rata. Setiap saat tulisan-tulisan santri Kutub tayang di media massa. Baik media massa lokal ataupun nasional.

Menulis menjadi jalan hidup atau jihad santri Kutub. Bagi mereka, menulis akan memperpanjang usia. Atau bahkan, menulis bisa menutupi utang. Dengan honor-honor yang diterima, mereka bisa membayar utang atau buat makan sehari-hari.

Banyak pemuda-pemuda asal Madura yang nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Mereka datang ke Jogja dengan modal nekat, ingin kuliah tapi tanpa membebani orang tua. Alumninya pun kini tersebar di berbagai daerah dan sukses dengan profesinya masing-masing. Ada yang menjadi dosen, tenaga ahli DPR RI, penyelenggara dan pengawas pemilu, pengusaha, kiai, dan semacamnya.

Mahwi Air Tawar, Achmad Muhlis Amrin, Bernando J. Sujibto, Salman Rusydie Anwar adalah sederet penulis produktif asal Sumenep yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Bagi penikmat sastra, tentu akrab dengan nama-nama di atas. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah melepas rasa gengsi demi mencapai kesuksesan hakiki.

Seandainya Rocky Gerung pernah bertemu dengan santri Kutub, barangkali dia akan mengatakan bahwa gengsi itu fiksi. Dan seandainya kalimat itu benar-benar diucapkan, untuk pertama kalinya saya akan bersepakat dengan dia. 

 

]]>
Abdul Basri Mon, 04 Feb 2019 10:18:00 +0700
<![CDATA[Genangan Bukan Kenangan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/01/117132/genangan-bukan-kenangan https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/01/117132/genangan-bukan-kenangan

JIKA melihat judul sepintas ada kemiripan rima. Namun, dipastikan berbeda. Baik kata maupun arti. Yang membedakan hanya satu huruf ”g” dan huruf ”k” di awal]]>

JIKA melihat judul sepintas ada kemiripan rima. Namun, dipastikan berbeda. Baik kata maupun arti. Yang membedakan hanya satu huruf ”g” dan huruf ”k” di awal kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata genangan berarti tempat atau daerah yang berair. Sedangkan kenangan sendiri memiliki arti sesuatu yang membekas dalam ingatan. Seperti seseorang, tempat, atau semua benda, dan segala yang dibendakan.

Salah satu contoh kalimat yang biasa diungkapkan anak milenial: Hujan banyak kenangan eh genangan. Dalam ungkapan kalimat tersebut seolah ada kekeliruan yang tidak disengaja. Namun, langsung dibenarkan hanya dengan kata eh. Kalimatnya menggelitik. Bahkan, membuat kita senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Tidak demikian bagi seseorang yang hatinya gundah gulana. Atau bagi mereka yang galau.

Terlepas dari itu, berbicara genangan pikiran saya langsung tertuju pada luapan Sungai Kamoning di Sampang. Akibat luapan terjadilah genangan. Iya genangan. Genangan yang membuat beberapa daerah terendam. Terutama di perkotaan. Terjadi setiap tahun. Saat musim hujan seperti sekarang.

Di Kota Bahari, selama Januari sudah tiga kali banjir akibat luapan Sungai Kamoning. Sehingga ada genangan. Semakin meluas. Tidak hanya kediaman warga yang menjadi sasaran. Lahan pertanian, lembaga pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, dan lain sebagainya tidak luput menjadi sasaran genangan.

Kedalaman air bervariasi. Mulai dari tumit hingga pinggang orang dewasa. Bahkan, ketinggian mencapai dada. Warga di daerah terdampak ketika musim penghujan seakan paham datangnya ”tamu” tak diundang itu. Misalnya, ketika hujan lebat turun. Terutama di daerah pantai utara (pantura).

”Siap-siap Sampang (daerah perkotaan) akan kedatangan tamu”. Celetukan seperti itu biasa terdengar. Kalimat tersebut diungkapkan sebagai candaan. Juga bentuk kekecewaan, bahkan kekesalan.

Berbicara ”genangan”, bukan hanya Sampang yang sering disinggahi. Tiga kabupaten lain di Madura, yaitu Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep juga kerap terjadi. Genangan semakin meluas membuat masyarakat waswas. Bagi anak-anak, ”genangan” membuat mereka senang. Wilayah terdampak dijadikan tempat bermain.

Siapa yang akan disalahkan? Pemilik lahan yang mendirikan perumahan, kos-kosan, took, dan lain sebagainya, sehingga lahan pertanian semakin sempit? Atau pemerintah yang tidak tanggap menyikapi? Seperti membangun irigasi atau saluran di sekitar bangunan yang sudah mulai pesat.

Meskipun ada irigasi tapi tersumbat saking banyaknya sampah yang menumpuk jadi satu. Hal itu perlu dikaji. Perlu dibicarakan oleh kepala daerah. Dibahas untuk mencari solusi. Bukan ujuk-ujuk membangun instalasi pompa banjir di lima titik.

Sementara normalisasi serta pemasangan sheet pile baru digarap. Banyak dampak akibat ”genangan” yang meluas. Infrastruktur seperti jalan cepat rusak. Tebing di pinggir sungai abrasi. Saking derasnya aliran.

Tidak sedikit kesehatan warga terganggu. Misalnya penyakit leptospirosis. Penyakit tersebut disebabkan bakteri leptospira. Penyebaran melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri. Seperti anjing dan tikus. Mirisnya lagi, ada warga yang meninggal terseret arus banjir. Saking derasnya.

Setiap tahun menjadi langganan banjir di Sampang. Berbagai macam cara dilakukan untuk mengatasi agar bebas dari genangan. Nyatanya, ”tamu” tak diundang masih saja singgah.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan instalasi pompa banjir. Proyek tersebut lebih kurang menyedot anggaran Rp 42 miliar. Sedangkan proyek yang sedang berjalan yakni normalisasi Sungai Kamoning dan pemasangan tiang pancang atau sheet pile Rp 365,3 miliar.

Pekerjaan mulai 2017 hingga 2019. Pekerjaan multiyear contract (MYC) itu harus diselesaikan akhir tahun ini. Meskipun, pekerjaannya diberhentikan sementara karena faktor cuaca. Tidak hanya itu, Pemkab Sampang akan membangun floodway atau sodetan. Saat ini proses pembebasan lahan.

Sodetan yang akan dibangun dengan panjang 7 kilometer dan lebar 70 meter. Sedikitnya terdapat 237 lahan penduduk terdampak. Lahan itu terdiri dari rumah dan tambak. Namun, pembebasan yang seharusnya dimulai 2018 itu belum terlaksana. Pembebasan lahan dianggarkan Rp 5 miliar.

Pola dan tatanan pemerintahan di Sampang perlu ada perombakan. Nah, gebrakan Bupati Sampang H Slamet Junaidi dan Wabup H Abdullah Hidayat ditunggu-tunggu masyarakat. Bukan hanya gebrakan perkara banjir. Tapi, semua persoalan di Sampang. Kita lihat saja, seperti apa pola kepemimpinan mereka.

Berklai-kali berganti pemimpin, persoalan banjir tak kunjung membuahkan hasil. Pun peningkatan infrastruktur. Yang menjadi salah satu tolok ukur kepala daerah adalah bisa membawa daerah selangkah lebih maju. Bukan hanya Sampang, pemimpin di Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep untuk berlomba-lomba meningkatkan prestasi. Bukan hanya adu argumentasi atau mencari sensasi.

]]>
Abdul Basri Fri, 01 Feb 2019 10:53:49 +0700
<![CDATA[Satukan Hati Menuju Madura Provinsi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/23/115369/satukan-hati-menuju-madura-provinsi https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/23/115369/satukan-hati-menuju-madura-provinsi

MIMBAR diskusi tentang pembentukan Madura Provinsi kembali digelar. Rentetan kegiatan pengukir catatan sejarah itu akan diselenggarakan di Kota Pahlawan]]>

MIMBAR diskusi tentang pembentukan Madura Provinsi kembali digelar. Rentetan kegiatan pengukir catatan sejarah itu akan diselenggarakan di Kota Pahlawan, Surabaya, Sabtu (26/1).

Para pemangku kebijakan seperti bupati, ketua DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh partai politik yang duduk di kursi parlemen dijadwalkan hadir. Isu-isu strategis akan dibahas. Langkah perjuangan akan dikaji bersama.

Putusan MK yang menolak judicial review UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah tidak menyurutkan semangat masyarakat Madura untuk mandiri. Berbagai celah akan ditempuh demi terwujudnya kedigdayaan ekonomi.

Isu kesejahteraan menjadi topik pembicaraan hangat. Sebab, rakyat yang hidup di surga sumber daya alam (SDA) itu masih dihantui kemiskinan. Bahkan empat kabupaten di Madura masuk enam daerah termiskin di Jatim.

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim 2016, posisi pertama enam kabupaten termiskin diduduki Kabupaten Sampang. Dengan jumlah penduduk miskin 227.800 orang.

Disusul Bangkalan sebanyak 205.710 orang. Sumenep berada di posisi empat dengan jumlah penduduk miskin 216.140 orang. Sementara Pamekasan berada di posisi enam dengan jumlah warga miskin 142.320 orang.

Menjadi rahasia umum bahwa Madura surga minyak dan gas bumi (migas). Puluhan corong sumur menganga siap mengeluarkan minyak mentah dan gas bumi. Kekayaan alam itu melimpah.

Dari ujung timur Pulau Madura, sebanyak tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan eksplorasi. Yakni, PT Kangean Energi Indonesia (KEI) Ltd. di Blok Pagerungan Besar, Kecamatan/Pulau Sapeken.

Kemudian, Blok Terang Sirasun Batur (TSB) di perairan Pulau Komirian, Kecamatan/Pulau Raas. Lalu, PT Santos Pty. Ltd. menggarap Blok Maleo tepatnya di perairan Pulau/Kecamatan Giligenting.

Empat perusahaan pengelola migas lain dalam tahap ekplorasi. Yakni, PT Energi Mineral Langgeng (EML) di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi. Perusahaan tersebut mengembangkan pengeboran migas di daratan (onshore).

Lalu, Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Perairan Raas, Husky Anugerah Limited di perairan Sapeken dan Petronas Carigali di perairan Pasongsongan. Tiga perusahaan tersebut mengebor di wilayah laut (offshore).

Ironi. Dari tiga blok migas yang berproduksi, hanya satu yang masuk wilayah Sumenep. Yakni, blok Pagerungan Besar. Posisi sumur itu berada di kawasan 4 mil dari darat. Sementara blok TSB merupakan kewenangan Pemerintah Pusat karena posisinya diatas 12 mil laut.

Lalu, blok Maleo yang digarap PT Santos Pty. Ltd. menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jatim karena berada di kawasan diatas 4 mil laut. Kawasan blok ini sempat digugat Pemkab Sumenep. Namun, sampai sekarang tetap menjadi kewenangan Pemprov Jatim.

Kabupaten Sampang bukan termasuk wilayah penghasil migas. Lokasi sumur milik PT Santos Pty. Ltd. berada di wilayah laut di atas 4 mil. Dengan demikian, kewenangannya berada di bawah kuasa Pemprov Jatim.

Bangkalan menjadi wilayah penghasil migas. Sebab, sumur milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) West Madura Offshore (WMO) berada di wilayah laut 4 mil ke bawah. Dari sekian banyak blok migas di Madura, yang menyumbang dana bagi hasil (DBH) khusus kategori daerah penghasil migas hanya dua blok.

Migas belum memberikan dampak kesejahteraan yang signifikan. Sebab, hasil yang didapat hanya sedikit. Satu-satunya cara untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat Madura dari sisi migas, wajib hukumnya mandiri menjadi provinsi.

Sesuai UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemeirntah Pusat dan Pemerintah Daerah diatur jelas hak yang diperoleh pemerintah daerah. Pasal 14 huruf (e) dan huruf (f) menjelaskan secara detail penerimaan itu.

Khusus pertambangan minyak bumi, pemerintah pusat menerima 84,5 persen, sedangkan pemerintah daerah menerima 15,5 persen. Sementara pembagian penerimaan gas yaitu 69,5 persen pemerintah pusat dan 30,5 persen pemerintah daerah.

Perincian pembagian penerimaan untuk pemerintah daerah dijelaskan pada pasal 19 ayat (2) dan (3). Yakni, 3 persen untuk pemprov, 6 persen untuk daerah penghasil, dan 6 persen untuk daerah dalam provinsi yang bersangkutan.

Kemudian, pembagian penerimaan gas yakni 6 persen untuk pemprov, 12 persen untuk kabupaten/kota penghasil, dan 12 persen lainnya untuk kabupaten dalam provinsi yang bersangkutan.

Pembagian itu akan akumulatif milik Madura jika menjadi provinsi tersendiri terwujud. Bisa dibayangkan, 15,5 persen dari penerimaan minyak dan 30,3 persen penerimaan gas akan dikelola secara mandiri oleh Madura.

Rakyat Madura akan sejahtera. Masyarakat tidak perlu mencari penghidupan ke daerah lain bahkan sampai ke luar negeri. Tidak akan ada cerita warga Madura meninggal di negeri jiran. Tidak akan ada lagi cerita warga kelaparan.

Maka saatnya, satukan hati, satukan tekad menuju Madura Provinsi. Menjadi mandiri bukanlah utopia belaka. Ada celah yang bisa ditempuh. Salah satunya, pemekaran daerah. Salah satu kabupaten harus mekar menjadi kabupaten dan kota.

Secara geografis, sangat memungkinkan pembentukan Kota. Tinggal keseragaman keinginan dari seluruh komponen di Madura untuk mewujudkan cita-cita itu. Khususnya, bulat tekad dari para pemangku kuasa.

]]>
Abdul Basri Wed, 23 Jan 2019 10:40:44 +0700
<![CDATA[Jurus Kancil Herman Dali Kusuma]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/11/112985/jurus-kancil-herman-dali-kusuma https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/11/112985/jurus-kancil-herman-dali-kusuma

UNTUK kali ke sekian, Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma lolos dari kudeta internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)]]>

UNTUK kali ke sekian, Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma lolos dari kudeta internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Padahal pimpinan tertinggi partai yang didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu telah mengeluarkan surat keputusan (SK) pergantian ketua DPRD. Tetapi apalah daya, Herman terlalu licin untuk digulingkan begitu saja.

Pertarungan Herman dengan elite PKB ibarat cerita kancil melawan raja hutan. Tubuh Herman memang tidak semungil kancil. Herman tinggi besar. Tapi strategi perlawanannya dalam mengelabui para elite partai hampir serupa dengan cara kancil melawan harimau, buaya, dan makhluk ganas lainnya di hutan belantara.

Banyak kisah tentang kancil. Misalnya saat kancil dikejar-kejar harimau untuk dimakan. Dia berlari hingga ke anak sungai. Di sungai telah banyak buaya yang siap menyantapnya hidup-hidup.

Kancil dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama membuka pintu ajal. Mundur dia akan disantap harimau. Sedangkan maju, tentu daging dan tulang belulangnya akan remuk dilumat gigi tajam buaya.

Tipu muslihatnya pun dikeluarkan. Dia mengatakan kepada buaya bahwa harimau memerintahkan seluruh buaya berbaris di sungai. Jika tidak, si raja hutan itu akan menerkam seluruh buaya di sungai tersebut.

Buaya ketakutan, dan seketika berbaris rapi hingga menjadi jembatan penyeberangan bagi kancil. Satu per satu buaya itu dilewatinya hingga ke seberang. Lalu apa yang terjadi, kancil mencundangi buaya dan mengatakan bahwa dirinya sedang menipunya mentah-mentah. Dengan kecerdikannya dia bisa melampaui dua ancaman kematian sekaligus.

Dari segi fisik, apalah artinya si kancil di hadapan harimau dan buaya. Kancil tidak punya kekuatan untuk memangsa lawan. Dia hanya bisa berpikir mencari jalan keluar dari ancaman yang bertubi-tubi dihadapinya.

Dalam kasus ketua DPRD Sumenep, begitu Herman dihantam oleh elite-elite PKB, dia berlindung kepada partai lain. Bahkan, dia dekat dengan para oposisi di parlemen. Berkat kedekatannya itulah, Herman dilindungi dari ancaman kudeta partainya sendiri.

Perlindungan yang diberikan oleh partai-partai lain begitu nyata. Kendati tidak diucapkan secara verbal, tetapi pembelaan dilakukan secara masif oleh mayoritas anggota DPRD di Sumenep. Buktinya, empat kali sidang paripurna, empat kali pula gagal terlaksana.

Mengapa wakil rakyat tidak menghadiri paripurna? Alasannya tentu beragam. Ada yang izin karena sakit, berhalangan, atau benturan dengan kegiatan lain. Ada pula yang tidak memberi keterangan apa pun.

Tapi itukah alasan yang sebenarnya? Orang yang melek politik pasti yakin bahwa bolos masal yang dilakukan oleh wakil rakyat sebagai bentuk pembelaan terhadap Herman. Sebab, manakala paripurna digelar dan yang hadir mencapai 2/3 dari 50 anggota dewan, maka surat pergantian ketua DPRD bisa dibacakan, dan otomatis Herman akan tumbang.

Tapi faktanya, sudah dua bulan lebih tak ada sidang paripurna yang kuorum di DPRD Sumenep. Itulah Herman Dali Kusuma, si otak kancil yang bisa berlindung kepada kebaikan buaya dari ancaman si raja hutan harimau. Herman yang oleh banyak orang dianggap tidak akan berdaya melawan partainya, toh kenyataannya tetap berkuasa hingga sekarang.

Selain tentang harimau dan buaya, ada pula kisah kancil yang mencuri mentimun. Pak Tani marah besar karena timun-timunnya yang segar setiap saat hilang. Dia pun berupaya untuk menangkap makhluk yang mencuri mentimun-mentimun itu.

Upaya Pak Tani berhasil. Kancil ditangkap hidup-hidup. Lalu, apakah nasib kancil berakhir? Tentu bukan kancil namanya jika tidak bisa keluar dari ancaman kematian. Kancil tetap bisa lolos.

Saat kancil tertangkap dan siap dihabisi, akal bulusnya langsung muncul. Dia pura-pura mati dan Pak Tani pun memercayainya. Karena kancil mati, Pak Tani pun membuangnya. Kancil yang pura-pura mati itu pun bisa kabur dari kematian.

Satu hal yang tentu publik masih ingat. Saat PKB berkirim surat terkait reposisi ketua DPRD, Herman melakukan perlawanan. Dia melayangkan surat gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Sumenep. Surat gugatan inilah yang dijadikan alasan oleh pimpinan DPRD yang lain untuk tidak membacakan surat pergantian saat paripurna pengesahan APBD Sumenep 2019 akhir Oktober 2018 lalu.

Elite PKB pun naik pitam. Mereka menggelar sidang pleno dan memutuskan Herman akan dikeluarkan dari partai berlambang bumi dikelilingi sembilan bintang tersebut. Jika keanggotaan Herman dicabut, maka dia tidak bisa maju dalam Pemilu 2019 dan bahkan keanggotaannya di DPRD juga bisa berakhir.

PKB memberi dua pilihan. Herman mencabut gugatannya dan membacakan surat pergantian ketua DPRD. Jika dua ultimatum itu tidak diikuti, maka hak politik Herman di PKB bisa berakhir.

Seperti kancil yang ditangkap hidup-hidup oleh Pak Tani, Herman tetap dingin dan berupaya mencari jalan keluar. Dia seperti menyerah. Buktinya, gugatannya di PN Sumenep dicabut dan dia berjanji akan membacakan surat reposisi dari PKB.

Dengan dua hal itu, hak keanggotaan Herman di PKB tetap aman. Dia tetap bisa mencalonkan diri dalam Pemilu 2019 dan keanggotaanya di DPRD Sumenep juga tidak dicabut. Lantas, apakah Herman membacakan surat pergantian ketua DPRD dari PKB? Jawabannya pasti tidak. Dia tidak mungkin meminum racun yang diraciknya sendiri.

Herman melunak di hadapan elite PKB bukan berarti dia menyerah. Dia mengaku tidak berdaya bukan berarti tidak bisa melakukan tipu daya. Secara formalitas, dia mengagendakan paripurna untuk membacakan surat pergantian. Tapi di saat yang sama, para koleganya tidak menghadiri undangan paripurna tersebut.

Cerita tentang Herman Dali Kusuma tidak berhenti sampai di sini. Sebab berdasar informasi yang beredar, keinginan elite PKB untuk mereposisi ketua DPRD masih kuat. Lagi pula, masih ada waktu sekitar 40 hari ke depan untuk melakukan pergantian. Artinya Herman belum aman dari ancaman penggulingan.

Tapi seperti cerita kancil, Herman tentu tidak akan kehilangan akal untuk melewati berbagai ancaman. Bahkan, ancaman dari raja hutan sekalipun dia bisa melewatinya. Hanya takdir dan ajal yang bisa mengakhiri kisah-kisah kancil.

Kisah kancil sudah melegenda. Tidak hanya di Nusantara, tapi juga di seluruh asia tenggara. Jika Herman Dali Kusuma bisa terlepas dari kudeta, maka bukan tidak mungkin kisahnya akan melegenda di masa-masa yang akan datang. Kita tunggu saja hingga akhir Februari mendatang.

]]>
Abdul Basri Fri, 11 Jan 2019 06:00:59 +0700
<![CDATA[Pemilih Berdaulat, Negara Kuat]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/31/110997/pemilih-berdaulat-negara-kuat https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/31/110997/pemilih-berdaulat-negara-kuat

UNDANG-UNDANG Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu membawa perubahan yang signifikan.]]>

UNDANG-UNDANG Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu membawa perubahan yang signifikan. Berkat UU tersebut pemilu dapat digelar secara serentak pada 17 April 2019 mendatang. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya di mana pemilu diatur dalam tiga regulasi, yakni UU Nomor 42/2009 tentang Pilpres, UU Nomor 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu, dan UU Nomor 8/2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Hajatan pemilu serentak berkat adanya UU 7/2017 ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat partisipasi pemilih. Sebab ada asumsi bahwa masyarakat jenuh terlalu sering datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Dapat disimpulkan, jika pemilu dilakukan secara serentak, maka akan lebih efisien dalam segala halnya.

Pada 17 April 2019 nanti pemilu dilakukan secara serentak untuk memilih presiden dan Wapres, anggota DPR, DPD, dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Artinya ini sejarah pemilu di Indonesia, sebagai perwujudan sistem ketatanegaraan yang demokratis dan berintegritas demi menjamin konsistensi dan kepastian hukum serta pemilihan umum yang efektif dan efisien.

Membahas persoalan kepastian hukum, tidak terlepas dari penegakan hukum pemilu, dalam UU 7/2017 setidaknya membahas dua hal. Pertama, pelanggaran pemilu, dan kedua, sengketa pemilu.

Pelanggaran pemilu terdiri atas pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu, pelanggaran administrasi pemilu serta pelanggaran tindak pidana pemilu. Termasuk di dalamnya adanya praktik jual beli suara (money politics), baik yang dilakukan oleh kandidat, tim atau bahkan penyelenggara pemilu sekaligus.

Politik uang terjadi bukan hanya sebatas karena kesalahan para kandidat atau tim. Pada saat yang sama, para penyelenggara juga kerap membuka ruang untuk terjadinya money politics. Pun demikian, pemilih di Indonesia masih banyak yang menginginkan adanya politik uang atau bisa disebut pemilih transaksional.

Jelas adanya politik uang akan merusak demokrasi itu sendiri. Sebab jika uang yang menjadi panglima pemilu, maka cita-cita reformasi untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih akan sulit terwujud. Pemilu yang terjual akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak mandiri dan terus berada di bawah pemodal.

Belum lagi adanya isu-isu agama yang terus diseret ke ranah politik praktis. Kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi puncaknya. Tak pelak Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu pun menguras berbagai sumber daya yang luar biasa. Pilkada di daerah lain hampir tenggelam tiada kabarnya, dan Ahok kalah.

Dua permasalahan di atas, yakni money politics dan isu agama, kiranya akan terus membumbui kehidupan politik pada 2019 mendatang. Tentu hal ini akan melelahkan bagi masyarakat. Masyarakat akan sulit berpikir rasional ketika otak sudah dijejali antara uang dan isu agama.

Politik uang akan membuat harga pemilih menjadi murah. Para politisi akan mudah menghitung, jika ingin menang harus menyiapkan berapa besar anggaran. Harga pemilih pun hanya kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Itu pun jika proses pembeliannya satu per satu, yakni memberi ke satu pemilih ke pemilih lainnya. Atau yang disebut dalam teori politik dengan vote buying. Beda lagi dengan pembelian secara grosiran alias vote trading, maka harga pemilih akan semakin murah bisa di bawah Rp 50 ribu per suara.

Sedangkan isu agama akan mudah memecah belah masyarakat. Menganggap satu kandidat tidak agamais dan hanya kandidat yang didukungnya paling baik, tentu bukanlah sikap yang bijak. Tapi dalam politik Indonesia kontemporer, fakta semacam itu mudah dilihat, baik di dunia nyata ataupun di media sosial.

Masyarakat yang sudah tercerai-berai akibat isu agama akan mudah disusupi oleh pemodal. Mereka akan membumbui keterpecahan itu dengan ”sedekah politik”. Akibatnya, hubungan antar satu pendukung dengan pendukung lainnya akan semakin renggang, bahkan cenderung mengakibatkan terjadinya permusuhan.

 

Pemilih Berdaulat

Di sinilah pentingnya meningkatkan edukasi politik kepada para pemilih. Perlu penyadaran bahwa para pemilih datang ke TPS walau hanya satu menit akan menentukan nasib bangsa hingga lima tahun yang akan datang. Jika mereka memilih hanya karena uang, pemilu akan kehilangan maknanya. Pun demikian, jika memilih hanya karena isu SARA, maka ketercerai-beraian yang hanya akan semakin tampak di depan mata.

Karena itulah, mewujudkan pemilih yang berdaulat penting dilakukan. Caranya, yakni dengan memperkuat kelompok-kelompok masyarakat, memperlebar ruang diskusi, dan mewujudkan kohesivitas civil society. Pemilih yang kuat dan teredukasi secara baik akan menentukan pilihan politiknya dengan baik pula.

Masyarakat perlu menyadari bahwa pemilu merupakan pesta demokrasi dalam rangka memilih pemimpin. Namanya pesta, mestinya digelar dengan senang dan kebahagiaan. Jika pemilu mengakibatkan perpecahan, berarti sudah tidak layak disebut pesta demokrasi.

Semua tentu berharap agar pesta demokrasi pada 17 April 2019 mendatang menjadi pintu masuk bagi terwujudnya negara Indonesia yang kuat. Hal itu bisa terwujud manakala para pemilih sudah bisa berdaulat. Berdaulat dalam arti, rakyatlah yang menentukan pilihan, bukan memilih karena berdasarkan uang. Jika rakyat berdaulat, maka negara akan kuat. Semoga.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Unira dan mantan anggota Panwaslu Pamekasan.

 

]]>
Abdul Basri Mon, 31 Dec 2018 12:50:34 +0700
<![CDATA[Di Balik Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/13/108312/di-balik-ketidakstabilan-nilai-tukar-rupiah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/13/108312/di-balik-ketidakstabilan-nilai-tukar-rupiah

Seperti yang kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin tidak terkontrol. nilai rupiah pernah menyentuh nilai 15.000]]>

Seperti yang kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin tidak terkontrol. nilai rupiah pernah menyentuh nilai Rp 15.000 pada beberapa bulan yang lalu. Dan kemerosotan nilai tukar rupiah saat ini merupakan level terendahnya sejak tahun 1998. Kemudian rupiah berhasil menguat kembali beberapa persen hingga hari ini menyentuh nilai Rp 14.540.

  

Penyebab ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar negeri. Soal besaran bobotnya, faktor dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, menjadi yang dominan, tak hanya itu krisis di Yunani, depresi Yuan di Cina dan krisis ekonomi yang menghantam sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Venezuela juga merupakan faktor eksternal yang dapat pempengaruhi ketidak stabilan nilai tukar rupiah. Faktor eksternal ini yang sulit diperkirakan.

Indonesia adalah negara yang sangat membutuhkan aliran modal dari luar negeri. Biasanya aliran modal itu masuk melalui pasar Surat Utang Negara (SUN) melalui pasar modal atau pinjaman korporasi. Ketika Bank Sentral AS, Federal Reserve, mengambil kebijakan menaikkan suku bunga acuannya.  Hal ini akan memicu  aliran modal asing di Indonesia akan migrasi ke AS. Akibatnya, permintaan dollar meningkat sehingga rupiah tertekan.

 

Adapun faktor di dalam negeri yang mempengaruhi kurs rupiah adalah inflasi, defisit ekspor impor barang jasa atau current account, Aktivitas neraca pembayaran, Perbedaan suku bunga di berbagai negara, Tingkat pendapatan relatif, Kontrol pemerintah dan aliran modal melalui penanaman modal asing maupun portofolio.

 

Dampak ketidakstabilan nilai rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah ini berdapak kuat bagi perekonomian bangsa dan negara. Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tak boleh dianggap enteng. Pasalnya jika terus dibiarkan, pelemahan rupiah akan berimbas pada pembengkakan biaya produksi dan berisiko menekan kinerja suatu perusahaan, terutama bagi mereka yang bahan baku impornya banyak.

 

Semakin anjlok nilai tukar rupiah semakin berat para pegusaha untuk membeli bahan baku untuk kelangsungan produksi. Oleh karennya banyak dari perusahaan asing yang melakukan PHK terhadap karyawan-karyawannya. Harga bahan baku yang semakin mahal dan ketidak stabilan nillai rupiah mengakibatkan banyak investor yang menghentikan investasi mereka di Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia membuat mereka gelisah di karenakan ketidak stabilan nilai rupiah saat ini. Semakin banyak investasi yang mereka tanam semakin besar pula resiko investasi yang akan mereka alami. Mungkin itu merupakan salah satu alasan dari banyak investor yang menarik investasi mereka dari Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia tidak berbanding lurus dengan profit yang mereka dapatkan. Sehingga banyak dari para investor mengalihkan dana investasi mereka.

 

Jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi nasional bisa terseret. Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi di tengah tren kenaikan harga minyak dunia juga memberikan risiko pada kondisi neraca perdagangan domestik, terutama di sektor minyak dan gas (migas). Depresiasi rupiah bisa membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal dan membengkakkan beban subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 

Apabila rupiah terlalu lemah, maka kondisi ini tidak bagus bagi mereka yang memiliki kewajiban valas dan importir. Namun, kondisi rupiah yang lemah juga bisa mendorong ekspor.

 

Sedangkan apabila nilai rupiah terlalu kuat, maka akan membuat impor terus terjadi dan melemahkan produksi dalam negeri. maka kondisi ini tidak baik juga bagi neraca perdagangan. Oleh karena itu, menurut bank sentral, kondisi rupiah yang paling baik adalah sesuai dan mencerminkan ekuilibrium dan fundamental ekonomi. Di samping itu, kondisi rupiah yang dipandang baik adalah yang dapat mendukung surplus neraca perdagangan. Rupiah yang terlalu kuat juga tidak berarti bagus bagi perekonomian.

 

Upaya untuk mengatasi ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan nilai rupiah dengan beberapa langkah kebijakan jangka pendek di bidang moneter yang dilakukan BI untuk mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah yaitu : Menaikkan suku bunga BI Rate (penentuan suku bunga bank), Menaikkan suku bunga fasilitas simpanan BI, Menyerap likuiditas dengan instrumen fine tune kontraksi (FTK) dengan variabel rate tender yaitu, dengan cara melakukan pelelangan, misalnya lelang suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Menaikkan suku bunga maksimum penjaminan simpanan baik suku bunga penjaminan simpanan rupiah atau deposito rupiah dan suku bunga penjaminan simpanan valuta asing (valas) atau deposito valas

 

Solusi untuk mengatasi krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Salah satunya dengan memperbaiki fundamental perekonomian Indonesia. Ada strategi jangka pendek hingga jangka panjang yang bisa dilakukan pemerintah.

Untuk jangka pendek, para eksportir wajib menukar devisa hasil ekspor ke rupiah sesuai lokal konten produksi mereka. Pemerintah perlu membuat aturan baku terkait hal ini agar segera dilakukan. Dalam jangka pendek, pemerintah juga bisa membuat tim khusus untuk mengundang investasi dari luar negeri. Mereka bisa tersebar di beberapa negara.

 

Sementara jangka menengah, pemerintah perlu mendorong ekspor melalui berbagai insentif. Caranya bisa dari sisi pajak maupun perizinan yang mudah. Bisa dengan mendorong investasi untuk ekspor. Ini bisa menghasilkan devisa. Adapun untuk beberapa barang impor yang bersifat konsumsi bisa dikurangi dengan menggunakan produk dalam negeri. Sehingga permintaan dolar bisa ditekan untuk menguatkan rupiah. 

Terakhir untuk jangka panjang, perekonomian Indonesia belum memiliki fundamental yang kokoh. Produktivitas masyarakat masih rendah membuat mesin pembangunan ekonomi belum bergerak kencang. Jadi, pemerintah harus mempercepat pertumbuhan ekonomi kelas bawah dengan berbagai kebijakan. Paling penting yakni melalui pelatihan kerja supaya produktif. 

 

SITI NAFISAH

*Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang

]]>
Abdul Basri Thu, 13 Dec 2018 11:00:03 +0700
<![CDATA[Liga Dengan Atraksinya]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/12/108071/liga-dengan-atraksinya https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/12/108071/liga-dengan-atraksinya

Hilanglah Medan. Muncul Sleman. Hilanglah Palembang. Muncul lagi Padang.]]>

Hilanglah Medan.
Muncul Sleman.
Hilanglah Palembang.
Muncul lagi Padang.

Itulah hasil kompetisi sepakbola kasta tertinggi kita. Liga 1. Selama setahun. Yang berakhir tadi malam.

Tentu sayang sekali. PSMS Medan harus harus turun kasta. Sebenarnya saya berdoa agar Medan bertahan. Tapi kalah 1-5 atas PSM Makassar. Kemarin sore. Tidak ada gunanya Persebaya kalah 0-4 di Medan. Minggu lalu.

Sayang juga. Palembang turun tahta. Begitu baik prestasi Sriwijaya FC di awal musim. Tapi begitu buruk di paro kedua. Penyebabnya jelas: Pilkada. Pendukung dana utama Sriwijaya FC gagal terpilih sebagai gubernur Sumsel.

Pemain-pemain terbaiknya dijual. Salah satu pembeli utamanya Arema, Malang. Aremalah yang mengalahkan Sriwijaya FC. Kemarin sore. Dengan skor 1-2. Menyebabkan Palembang turun tahta.

Saya mencatat begitu banyak kemajuan di sepakbola kita. Kompetisi Liga 1 tahun ini relatif lancar. Jumlah penonton meningkat drastis. Setidaknya di klub-klub favorit. Persebaya, Bandung, Makassar, Semarang. Bahkan Persija. Lihatlah pertandingan tadi malam. Gelora Bung Karno penuh: 90.000 orang. Memang tadi malam menentukan. Tapi pertandingan sebelumnya juga begitu.

Jumlah penonton terbanyak memang masih dipegang Bonek. Total 500.000 orang. Nyaris. Tapi bisa saja peta berubah musim depan. Yang konon baru dimulai lagi April.

Saya tidak perlu mengulangi. Kompetisi musim ini memang seru. Sampai menjelang pertandingan terakhir pun belum diketahui siapa juaranya. Persaingan di papan atas begitu sengitnya: antara Persija dan PSM. Persaingan di papan bawah begitu menegangkan: siapa tiga klub yang harus turun tahta.

Persib sebenarnya kandidat juara. Sebelum ada kasus kematian supporter Persija. Di Bandung. Yang menyebabkan Persib terkena sanksi berat. Tidak boleh bermain di kandang. Sampai akhir musim. Itulah yang justru membuahkan Persija juara. Dengan pengorbanan salah seorang supporternya.

Musim ini sanksi diberikan dengan sangat tegas. Dan berat. Persebaya, misalnya, begitu sering didenda. Akibat Bonek melakukan pelanggaran. Misalnya menyalakan flair. Atau meneriakkan kata-kata yang dilarang.

Pernah Bonek mencoba ini: memasang spanduk besar dengan tulisan huruf Jawa. Maksudnya agar petugas dari Jakarta tidak bisa membaca isinya: pelungker-pelungker. Eh, kena denda juga. Rupanya ada yang bisa membaca huruf Jawa. Kabarnya Persebaya terkena denda Rp 1,2 miliar. Selama satu musim ini. Persib mungkin lebih besar lagi.

Yang juga harus dipuji adalah Indosiar. Yang mau menyiarkan langsung. Sampai mengorbankan acara populernya: dangdut Academy. Peran siaran langsung itu besar: dalam mengontrol kejujuran wasit. Saya tidak berani memastikan urusan sogok-menyogok sudah tidak ada. Tapi saya bisa memastikan pasti turun drastis. Dengan siaran langsung itu seluruh masyarakat bisa ikut menilai. Indosiar telah ikut mengatasi problem mendasar sepakbola kita.

Sikap wasit kita juga banyak majunya. Sudah lebih banyak senyum. Menghadapi protes pemain. Seberingas apa pun. Mengacungkan kartu kuning pun sudah sambil senyum. Sudah mirip wasit di liga Eropa.
Dulu, wasit sepakbola kita galak. Wajahnya seperti pemarah. Kalau memberi kartu kuning sikapnya seperti menghukum. Akibatnya: menambah ketegangan permainan.

Akhirnya agak sulit menyalahkan Medan. Yang harus kembali turun tahta ke Liga 2. Waktu naik tahta tahun lalu waktunya mepet. Ibaratnya: minggu ini keputusan naik tahta, dua minggu lagi laga Liga 1 dimulai. Tidak sempat cari pemain. Tidak cukup waktu cari uang.

Itu pula problem Persebaya. Yang baru naik tahta bersamaan dengan Medan. Sulit cari pemain baru. Pemain baik sudah terikat kontrak semua. Karena itu Azrul Ananda, presidennya, tidak manargetkan juara. HANYA cukup papan tengah. Hasilnya, ternyata papan atas. Ranking lima. Meski sempat hampir terdegradasi juga.

Selamat datang Sleman. Anda tidak akan senasib Persebaya, PSIS atau PSMS. Anda punya waktu cukup untuk cari pemain berkualitas. Empat bulan lagi kompetisi baru dimulai. Demikian juga dua pendatang baru: Kalteng Putra dan Semen Padang.

Yang juga kemajuan: siaran langsung tidak mengurangi jumlah penonton di stadion. Saya masih ingat dulu: sedih sekali. Kalau pertandingan Persebaya disiarkan TV secara langsung. Sedikit sekali yang mau datang ke stadion.

Stadion kini sudah berubah menjadi teater. Begitu banyak lagu supporter. Begitu banyak spanduk. Dengan bunyi menghibur. Begitu banyak bendera. Raksasa ukurannya. Atraktif kibarannya.

Di kalangan Bonek muncul pula atraksi-atraksi tiga dimensi. Banyak juga lagu-lagu yang cara menyanyikannya sahut-sahutan. Antara tribun selatan, utara, timur dan barat.

Saya begitu suka lagu “rek aku teko rek” itu. Di samping lagu “song for pride”.

Dalam pertandingan penutupan dua hari lalu bahkan ada hujan salju. Di stadion Bung Tomo Surabaya. Menjelang babak dua dimulai. Di tribun selatan. Saya telat memvideokannya. Benar-benar seperti salju sedang turun. Rupanya seluruh penonton melemparkan tisu panjang. Dari atas. Dalam jumlah masif. Bersamaan.

Stadion sudah seperti Fift Evenue di New York. Atau Time Square. Orang pengin nonton orang. Bukan hanya ingin nonton sepakbola.

Itu yang tidak bisa dinikmati dalam siaran langsung di televisi.

Saya begitu gembira. Sepakbola sudah lebih banyak ditonton. Sudah lebih banyak untuk mengekspresikan eksistensi. Semoga bukan sekedar karena sudah bosan politik. Atau karena lagi sumpek ekonomi.(Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Wed, 12 Dec 2018 09:23:49 +0700
<![CDATA[Pemilu yang Tidak Memilukan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107722/pemilu-yang-tidak-memilukan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107722/pemilu-yang-tidak-memilukan

POLITIK kadang membuat geli dan ngeri. Geli karena kader partai politik (parpol) seakan diperbudak saat mengikuti kontestasi politik.]]>

POLITIK kadang membuat geli dan ngeri. Geli karena kader partai politik (parpol) seakan diperbudak saat mengikuti kontestasi politik. Bahkan, ketika sudah jadi sekalipun, parpol membuat ruang gerak kepala daerah maupun anggota dewan sempit.

Ngeri karena para pendukung tokoh politik saling memojokkan, mencaci maki, bahkan mengadu domba. Di media sosial (medsos) sampai berujung pertengkaran. Di dunia nyata, hal itu ditopang teknologi informasi (TI) yang semakin canggih. TI mempermudah penggunanya koar-koar sesuka hati tanpa berpikir panjang akan dampak dan akibatnya.

Situasi ini mengajarkan hal yang kurang baik kepada generasi bangsa. Generasi yang katanya ”calon pemimpin” ini seharusnya dicekoki dengan hal-hal positif agar meraih prestasi gemilang dan membanggakan keluarga tercinta dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada 2018 ini hingga 2019 merupakan tahun politik. Tahun ini ada pilkada. Tahun depan ada pemilu. Pesta demokrasi lima tahunan. Di Madura, tiga kabupaten –selain Sumenep– sudah melaksanakan pilkada. Namun, pengambilan sumpah terhadap kepala daerah terpilih tidak bersamaan.

Pilkada Sampang 2018 sempat masih disengketakan. Di Sampang sengketa pemilu sebenarnya bukan hal baru. Pada 1997, Sampang menjadi satu-satunya daerah tingkat dua di Indonesia yang dilakukan pemilu ulang.

Peristiwa itu terjadi saat masa Orde Baru. Yang melatarbelakangi ialah rekayasa dan manipulasi suara oleh penguasa demi memenangkan Golkar. Pada 29 Mei 1997 terjadilah kerusuhan masal di kota maupun desa. Kotak suara dibakar dan menuntut pemilu ulang. Pasca kerusuhan, barulah pemerintah menyetujui digelar pemilu ulang. Tepatnya, 4 Juni 1997. Walaupun dalam pelaksanaannya masih sarat tipu daya.

Pemilu 2004, Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan penghitungan ulang di enam kecamatan. Di Robatal, Sampang (khusus Desa Gunung Maddah), Kedungdung, Banyuates, Sokobanah, dan Ketapang.

Pemilu ulang ini didasarkan atas laporan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyebut ada penggelembungan suara di Sampang. Menanggapi laporan ini, MK memberikan perintah kepada pelaksana pemilu berdasarkan Surat Ketetapan Nomor 031/PHPU.C1-II/2004 untuk melakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat penghitungan suara.

MK memerintahkan KPU membawa kotak suara dari Madura ke Jakarta untuk dihitung ulang. Di Jakarta, ternyata kotak suara tidak utuh. Separo kotak suara kosong.

Kecurangan kembali mencuat pada pelaksanaan Pilkada Jawa Timur 2008. Sampang kembali mencatat rekor dalam pesta demokrasi tingkat provinsi di Indonesia. Di provinsi lain belum ada pemilihan gubernur sampai tiga putaran. Hanya di Sampang dan Bangkalan fenomena semacam itu terjadi.

Setahun kemudian, tepatnya pada pelaksanaan Pemilu 2009. Kasus yang mencuat yakni tuntutan terhadap penggelembungan suara DPD yang terjadi di Sampang. Abdul Jalil Latuconsina, salah seorang kontestan menggugat perolehan tidak wajar calon lainnya. Yakni, Haruna memperoleh 119.000 suara dan Badruttamam memperoleh 135.448 suara di Sampang.

Pada 2013, pelaksanaan Pilgub Jatim, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawiredja (Berkah) menemukan kecurangan tidak disebarkannya undangan pada pemilih secara merata. Terutama di kantong-kantong pendukung Berkah. Hal itu terjadi di salah satu desa di Sampang.

Tim Berkah menemukan tidak disebarnya 12.000 undangan kepada pemilih. Di samping itu, indikasi kecurangan didapat dari temuan perolehan nol suara bagi pasangan Berkah di sejumlah desa.

Disusul pelaksanaan Pemilu 2014. Ada dua peristiwa yang menambah ”prestasi” memalukan di Sampang. Pertama, pemungutan suara ulang (PSU) untuk 19 TPS di Kecamatan Robatal dan Ketapang. Rekomendasi Bawaslu soal PSU dikeluarkan setelah menemukan sejumlah kejanggalan dalam Pemilu Legislatif pada 9 April 2014.

Tak sampai di situ, catatan kelam pemilihan di Sampang terus berlanjut belum lama ini. Tepatnya, 27 Juni 2018. MK menganulir hasil perolehan suara Pilkada Sampang 27 Juni lantaran jumlah DPT melebihi data agregat kependudukan per kecamatan (DAK2) Kemendagri. MK memerintahkan PSU di semua TPS (1.450 TPS). Selain daftar pemilih tetap (DPT), Pilkada Sampang dianggap tidak logis dan tidak valid.

Menjelang Pemilu 2019, DAK2 dan DPT di Sampang selisih sangat tipis. Yakni 16.860 jiwa. Perinciannya, DPT pemilu 2019 dari 186 desa/kelurahan TPS berjumlah 3.692. Pemilih laki-laki 413.130 jiwa dan pemilih perempuan 424.381 jiwa. Total 837.511 jiwa. Sementara DAK2 di Sampang berjumlah 854.371 jiwa. Perinciannya, penduduk laki-laki 428.520 jiwa dan penduduk perempuan 425.851 jiwa.

Karena pemilu, Sampang berkali-kali menjadi sorotan nasional. Seharusnya berbagai pihak, utamanya pelaksana pemilu menunjukkan segala hal kurang baik menjadi lebih baik. Dengan begitu, pelaksanaan pemilu tidak memilukan. Mari perbaiki supaya segala hal yang seharusnya tidak terjadi semakin menjadi-jadi.

Menjelang tahun baru, ada harapan baru kepada bupati baru Sampang. Janji-janji pada saat kampanye seakan terus bergaung di gendang telinga. Tibalah saatnya janji-janji itu dibuktikan, usai pengambilan sumpah digelar, demi Sampang hebat dan bermartabat.

Masyarakat menunggu gebrakan H Slamet Junaidi-H Abdullah Hidayat (Jihad) untuk betul-betul berjihad demi kemajuan Sampang. Terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan peningkatan infrastruktur di Kota Bahari tercinta ini.

]]>
Abdul Basri Mon, 10 Dec 2018 11:18:13 +0700
<![CDATA[Duo Cantik Huawei]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107679/duo-cantik-huawei https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107679/duo-cantik-huawei

Sebulan terakhir ini pohon tinggi Huawei terus jadi berita besar. Terutama dua anak perempuan pendirinya. Yang dari beda ibu.]]>

Sebulan terakhir ini pohon tinggi Huawei terus jadi berita besar. Terutama dua anak perempuan pendirinya. Yang dari beda ibu.

Direktur keuangannya ditangkap di Canada: Sabrina Meng Wanzhou. Cantik. Umur 46 tahun. Pada 1 Desember lalu.

Sabrina tidak terlibat kesalahan apa pun. Perusahaannyalah yang dicurigai Amerika. Dianggap melanggar sanksi yang dikenakan kepada Iran.

Huawei dianggap punya hubungan dagang dengan negara Islam itu.

Hari itu Sabrina lagi dalam penerbangan. Transit di Vancouver, kota terbesar di Canada bagian barat.

Polisi menangkapnya di bandara. Atas permintaan Amerika. Yang melacak transaksi itu lewat HSBC bank.

Jumat kemarin adalah putusan pengadilan sementara: apakah penahanan Sabrina bisa ditangguhkan. Dengan uang jaminan.

Bulan lalu, adik tiri Sabrina juga jadi berita besar. Namanya Annabel Yao. Umur 21 tahun. Rasanya lebih cantik dari kakak tirinya itu. Sangat cantik.

Kalau tidak cantik tidak akan ditangkap. Oleh sebuah EO di Paris. Agar Annabel mau ikut acara besar itu.

Annabel pun ditangkap lagi. Ditangkap kamera. Sedang ikut pesta di Paris itu. Bukan sembarang pesta. Itulah salah satu dari 10 pesta terwah di dunia.

Nama pestanya: Le Bal des Debutantes. Pesta tahunan. Tiap bulan Nopember.

Pesertanya sangat terbatas. Hanya 30 orang. Maksimal. Hanya yang diundang. Tidak bisa dibeli tiketnya.

Yang diundang itu pun sangat ketat. Persyaratannya. Harus cantik. Harus masih kinyis-kinyis. Belum kawin. Harus anak orang kaya raya. Harus modis. Harus pandai dansa waltz. Harus cerdas melebihi kecerdasan orang pintar.

Annabel terpilih. Ia memenuhi semua syarat itu. Umurnya 21 tahun. Binal-binalnya. Kalau mau. Bapaknya salah satu orang terkaya di dunia: pendiri Huawei: Ren Zhengfei.

Kuliahnya di Harvard. Gile. Jurusannya: computer science. Gile.

Kecantikannya: saya tidak tahan. Lihat sendirilah fotonya. Di IG dahlaniskan19. Yang saya kutip dari media internasional.

Dua anak sukses ini agak beda dengan umumnya anak Tionghoa. Yang selalu membawa nama marga bapaknya.

Mereka tidak. Tidak mencantumkan marga Ren di belakang nama mereka.
Sabrina menggunakan nama belakang Meng. Annabel menggunakan nama belakang Yao.

Padahal marga bapaknya jelas: Ren. Konon itu kesepakatan keluarga. Agar tidak bikin ruwet. Akibat poligami.

Marga Meng di belakang nama Sabrina diambil dari nama ibunya: Meng Jun.

Marga Yao di belakang nama Annabel diambil dari nama ibunya: Yao Ling. Istri kedua Ren.

Konon masih ada satu istri lagi. Yang ketiga. Yang terbaru. Yang termuda. Yang masih imut-imut: generasi melineal. Yang kemarin-kemarin adalah sekretarisnya.

Dalam hal penangkapan Sabrina, pemerintah Tiongkok turun tangan. Protes keras. Ke Amerika. Dan ke Canada.

Penangkapan itu terjadi 1 Desember. Tepatlah: hari itu Presiden Donald Trump lagi di Argentina. Bertemu Presiden Xi Jinping. Untuk makan malam. Tepatnya: merundingkan perang dagang antar kedua negara.

Demikian juga Annabel. Yang ikut pesta di Le Bal. Bapaknya mendukung penuh. Bahkan ikut hadir di acara itu. Memang syaratnya begitu. Sang ayah harus berdansa dulu dengan putrinya. Lalu menyerahkan putrinya ke partner dansanya. Partner profesional. Yang disiapkan panitia. Untuk menguji kejagoan dansa sang putri.

Annabel sudah dikursuskan balet sejak umur lima tahun. Saat pindah ke Oxford pun Annabel terus menari. Dia juga ambil pelajaran dansa profesional di Washington DC. Juga di Orlando.

Tari balet seperti Swan Lake, Sleeping Beauty atau La Bayadere dikuasainya.

Annabel tujuh tahun di sekolah balet profesional. Di Jin Bao Long. Di Shanghai.

Tapi Ren Zhengfei istimewa bukan karena istri-istri dan anak-anaknya itu. Ia memang sangat cerdas. Sangat sehat. Sangat kuat. Di umurnya yang 74 tahun.

Anda pun sudah tahu siapa pendiri Huawei itu: lahir di daerah termiskin Tiongkok. Guizhou. Masuk tentara. Tanpa pangkat. Di bagian teknologi kemiliteran.

Berhenti dari tentara lantas mendirikan Huawei. Kini menjadi produsen handphone terbesar di dunia: mengalahkan Ericsson di tahun 2012. Mengalahkan IPhone di tahun 2017. Tinggal mengalahkan Samsung di atasnya. Dengan senjata P20-nya. Dan 5G. Amerika yang akan jadi penghadangnya.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Mon, 10 Dec 2018 01:01:37 +0700
<![CDATA[Nafas Panjang 90 Hari]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/05/106879/nafas-panjang-90-hari https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/05/106879/nafas-panjang-90-hari

G-20 kalah dengan G-2. Pertemuan 20 negara terbesar di dunia (ekonominya) itu tenggelam]]>

G-20 kalah dengan G-2.
Pertemuan 20 negara terbesar di dunia (ekonominya) itu tenggelam. Oleh 2 orang ini: Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Argentina menjadi saksinya.
Maka, kalau ditanya apa hasil pertemuan G-20? Di Argentina? Tanggal 30 November 2018?
Tidak banyak yang tahu.

Tapi kalau ditanya apa hasil pertemuan antara Jinping dan Trump? Di Argentina? Sehari kemudian itu?

Anda pun tahu jawabnya: gencatan senjata. Sepakat untuk tidak meningkatkan perang dagang. Antara Amerika dan Tiongkok.

Gencatan senjata itu berlangsung 90 hari.
Juru runding kedua negara akan bertemu. Harus sudah menyepakati banyak hal.
Sementara mereka berunding Amerika membatalkan rencananya: menaikkan bea masuk barang Tiongkok. Dari tambahan 10 persen menjadi 25 persen. Yang nilainya mencapai US 200 miliar dolar. Yang rencananya dimulai 1 Januari depan.

Tiongkok pun membatalkan rencana balasan setimpalnya.
Agenda yang harus diselesaikan adalah: Tiongkok harus membeli barang lebih banyak dari Amerika. Terutama produk pertanian. Ini sebenarnya sudah lama ditawarkan Tiongkok.

Agenda lain: soal transfer teknologi. Soal perlindungan hak cipta. Soal perluasan kesempatan berusaha di Tiongkok bagi perusahaan Amerika. Dan sebaliknya. Soal intip-mengintip rahasia negara. Lewat teknologi cyber. Soal kebijakan one China polecy dalam urusan Taiwan.

Ups… banyak banget.
Bagaimana kalau dalam tiga bulan tidak ada kesepakatan? Perang dimulai lagi. Tarif 25 persen diberlakukan. Tiongkok pun membalas dengan tit for tat.

Jinping sudah banyak mendapat pelajaran pahit. Selama perang dagang. Empat bulan terakhir: pertumbuhan ekonominya menurun satu persen.

Trump juga mendapat pelajaran. Petaninya marah-marah.

Tapi tim negosiasi juga masih sulit. Waktu tiga bulan semoga cukup.

Untungnya situasi lingkungan sudah berubah. Sedikit.

Di Amerika, Partai Republik kalah. Dalam Pemilu sela. Bulan lalu. DPR kini dikuasai Partai Demokrat.

Di Tiongkok juga muncul kesadaran baru. Berakar dari sejarah Tiongkok kuno: mengalah untuk menang.

Bahkan filsafat Deng Xiaoping dimunculkan kembali. Agar Tiongkok jangan terlalu menepuk dada dulu. “Sembunyikan kekuatanmu. Pupuk kemampuanmu”.

Di Taiwan juga ada perubahan: Partai yang ingin Taiwan merdeka kalah. Dalam Pemilu bulan lalu. Yang pro-Tiongkok menang.

Daerah-daerah di Taiwan pun mulai bikin rencana sendiri: mempererat hubungan. Antara satu daerah di Taiwan dengan satu daerah di Tiongkok. Tanpa membicarakannya dengan pemerintah pusat di Taipei. Yang presidennya masih yang pro-merdeka.

Tiongkok kelihatannya juga berubah: tidak akan memaksakan merebut Taiwan tahun 2025. Masih perlu  “memupuk kemampuan” lebih lama.

Mungkin sampai memiliki lima kapal induk dulu. Yang sekarang baru punya dua. Tiongkok tidak akan kesusu. Toh situasi di Taiwan juga sudah berubah.

Kita, yang menonton perang dagang itu sambil berdebar,  bisa menarik nafas panjang. Selama 90 hari. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Wed, 05 Dec 2018 01:02:34 +0700
<![CDATA[Minggat Kunci Sukses Nasir]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/04/106686/minggat-kunci-sukses-nasir https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/04/106686/minggat-kunci-sukses-nasir

Haji Nasir hanya tamatan STM. Kini kapalnya 7 buah. Tambak udangnya 20 hektar. Punya pabrik es. Cool storage]]>

Haji Nasir hanya tamatan STM. Kini kapalnya 7 buah. Tambak udangnya 20 hektar. Punya pabrik es. Cool storage. Perusahaannya sudah banyak: yang terkait dengan ikan: penangkapan ikan laut, budidaya udang.

Ia anggota DPRD. Dengan suara terbanyak. Tapi tidak mau lagi jadi caleg. Di Pemilu depan. Hanya mau sepenuhnya urus bisnis. Kapok masuk politik. Merasa ditipu. Tidak ada yang disebut komitmen di politik.

“Dulu saya ini dirayu. Agar mau jadi caleg,” kata Haji Nasir. “Dengan janji bisa jadi ketua DPRD. Andaikan saya bisa dapat suara terbanyak,” katanya.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Ia berhasil di Pemilu. Meraih suara terbanyak. Tapi yang berlaku dagang sapi. Jabatan Ketua DPRD itu lepas. Ke Golkar. Yang perolehan kursinya sama dengan partainya, PPP: lima. Tapi janji tinggal janji.

“Saya tidak cocok di politik,” katanya. “Istri saya juga melarang saya nyaleg lagi,” tambahnya.

Itu terjadi di Kabupaten Berau. Paling utara Kaltim.

Yang kini maju sekali. Sejak bupatinya berani membangun bandara. Sepuluhan tahun lalu.

Sejak itu Berau berubah. Tidak perlu lagi ke sana naik kapal. Dari Samarinda maupun dari Balikpapan.

Saya ingat ketika pertama ke Berau. Landasannya masih rumput. Pesawat yang ke sana berbaling satu. Isinya empat orang. Sebelum terbang, pilotnya minta tolong saya: putarkan baling-balingnya. Dengan tangan saya. Sambil kaki jinjit. Saya sedikit kurang tinggi.

Berau masih seperti itu. Kurang lebih. Ketika Haji Nasir Junaid tiba dari kampung halamannya: Barru, Sulsel.
Ia pasti tidak akan mau ke Berau. Kalau hatinya tidak sakit. Sakit sekali. Saat ia masih berumur 19 tahun. Saat Nasir belum lama tamat sekolah: STM Pembangunan di Makassar.

Pulang dari Makassar ia membantu ayahnya: jual beli ikan. Ayahnya memang nelayan tapi sambil berdagang ikan. Membeli ikan sesama nelayan. Menjualnya ke pasar.

Suatu saat Nasir diminta ayahnya menagih ke para pelanggan. Salah satunya tidak mau bayar: kakak sulungnya sendiri.

Sang kakak tidak mau bayar. Alasannya: uangnya lagi diperlukan untuk biaya sekolah anaknya.

Waktu menyerahkan uang tagihan ke bapaknya Nasir tidak bicara apa-apa. Setelah dihitung uangnya kurang. Nasir tidak berani melapor apa adanya. Tidak berani membuka kata-kata kakaknya. Tidak mengira juga ayahnya seteliti itu.

Ayahnya mencurigai sebagian uang itu dipakai Nasir. Marah besar. Tidak habis-habisnya. Akhirnya Nasir bicara terus terang. Tapi sang ayah terlanjur sudah marah. Nasir dituduh bersekongkol dengan kakaknya.

Nasir pun ditendang. Dengan kaki ayahnya yang kuat. Kena pantatnya.

Nasir menjauhi bapaknya. Masuk kamar. Menangis. Ibu tirinya meredakan. Gagal. Nasir ingin lari. Membawa luka yang dalam. Di dalam hati. Hati remaja.

Minggat.

Ia pamit pada ibu tirinya itu. Tanpa menyebut akan ke mana. Juga pamit ke ibu kandungnya. Yang juga sudah menikah lagi dengan pria lain. Ia bawa ijazah STM. Plus mengalaman magang tiga tahun. Di Astra. Saat sekolah di STM jurusan mesin dulu.

Nasir menuju pelabuhan Pare-pare. Hanya membawa dua baju. Dua celana. Dimasukkan tas kresek. Bersama ijazahnya.

Ada tiga kapal yang siap berangkat hari itu. Kapal kayu. Salah satunya ke Berau. Yang berangkat lebih dulu.
Ia bertanya ke anak kapal: apakah di Berau bisa hidup? Dengan bekal ijazah itu?
Yang ditanya melihat ijazahnya.
“Bisa”, jawab yang ditanya.

Tapi Nasir masih ragu. Ikut ke Berau atau ikut kapal lain. Ke jurusan lain.

Sinyal pertama berbunyi. Tanda kapal mau berangkat. Nasir masih terpaku di dermaga.

Sinyal kedua berbunyi. Nasir masih ragu. Masih terpaku juga di dermaga. Ingat pacarnya. Yang di Makassar. Tapi sudah agak lama juga terpisah. Sejak Nasir pulang ke Barru.

Sinyal ketiga pun berbunyi. Kapal mulai merenggang. Dermaga mulai ditinggalkan. Nasir meloncat!

Di kapal itu Nasir menempatkan diri sebagai orang yang nunut. Harus tahu diri. Ia kerjakan apa pun yang bisa ia kerjakan: membantu masak, cuci piring, ambil air, bersih-bersih.

Malam-malam ia masuk kamar mesin. Yang biasanya sunyi dalam gemuruh. Ia akan membantu juru mesin. Biar juru mesin bisa istirahat. Ia senang mesin. Sejak kecil. Itulah sebabnya ia masuk STM. Jurusan mesin. Dan magang di Astra.

Nasir bingung. Juru mesinnya sombong. Ia ajak bicara tidak mau menjawab. Akhirnya ia tahu: juru mesin itu bisu tuli. Cerita yang ia dapat: juru mesin itu dulunya tentara. Dihajar sampai ringsek. Akibat menembak komandannya.
Sang juru mesin berhasil lari dari penjara. Entahlah.

Yang jelas Nasir berhasil berkomunikasi dengan si bisu-tuli. Dengan bahasa mesin.

Satu hari satu malam kapal itu berlayar. Terlihatlah daratan Kalimantan. Kapal memasuki Muara Sungai Berau. Menyusuri sungai ke hulunya. Ke kota Tanjung Redeb, ibukota Berau.

Nasir disenangi seluruh awak kapal. Saat kapal sandar di dermaga Tanjung Redeb Nasir bingung: mau ke mana. Ini perantauan pertamanya ke luar Sulawesi.

Ia pun menghadap kapten kapal: minta ijin tinggal di kapal. Sebelum mendapat pekerjaan.

Hari pertama Nasir keliling kota kecil itu. Mencari bengkel. Yang pemiliknya orang Bugis. Ia melamar. Dengan senjata ijazah STM-nya.

Ditolak.
Besoknya datang lagi.
Ditolak lagi.

Hari ketiga Nasir datang lagi. Kali ini harus berhasil. Sore itu kapalnya akan berangkat ke Pare-pare. Tidak ada lagi tempat menginap.

Kepada pemilik bengkel Nasir menyatakan ini: tidak usah digaji. Asal diberi makan. Dan boleh tidur di bengkel itu.
Diterima.

Nasir mengerjakan apa saja di bengkel itu. Bengkel Wira Karya itu.

Bengkel itu kini sudah tidak ada. Sudah dibeli orang. Ditutup. Kini sedang dibangun hotel. Di dekat dealer Honda itu.

Teman Nasir di bengkel itu pun senang. Nasir rajin. Suka membantu teman. Bosnya pun bersimpati.

Tiga bulan kemudian bengkel mengalami kesulitan: tidak ada yang bisa memperbaiki persoalan mobil konsumennya.

Mobil itu baru: Daihatsu Hiline. Untuk angkutan penumpang. Jarak jauh. Dari Tanjung Redeb ke Biduk-biduk. Lewat hutan. Bukit. Sungai tak berjembatan. Jalannya tidak ada yang beraspal. Kalau hujan harus berhenti. Atau harus didorong. Tiga hari baru sampai.

Mobil itu tidak kuat naik gunung.

Dimasukkan lah ke bengkel Wira Karya. Tidak ada yang bisa memperbaiki. Pun kepala bengkelnya.
Nasir minta ijin menanganinya. Anak kecil itu.

Diragukan.
Semua melihat Nasir masih anak-anak: 19 tahun.
Tapi Nasir yakin bisa. Itu makanannya saat magang di Astra dulu.

Nasir lihat Klep-klep mobil itu. Pistonnya empat. Berarti klepnya ada delapan. Klep-klep itulah yang terlalu berdekatan.

Nasir menyetel ulang klep-klep itu. Lalu dicoba dihidupkan: grenggggg. Mobil hidup dengan suara lebih garang.
Tapi pengemudi mobil tidak pede. Nasir harus ikut serta dalam mobil itu. Yang sudah penuh penumpang itu. Harus ikut sampai gunung terakhir. Artinya: sampai tujuan. Tiga hari kemudian bisa ikut balik ke Tanjung Redeb.

Waktu naik gunung pertama itulah ujian bagi Nasir. Di situlah mobil tersebut dulu gagal menanjak. Ternyata mobil ini kini mampu naik dengan pedenya. Nasir mendapat pujian dari seluruh penumpang.

Nasir tentu senang kemampuannya diakui. Tapi tetap saja ia harus duduk di pojok belakang. Tempat barang. Semua kursi sudah terisi penumpang. Ia terpental-pental. Itulah nasib yunior. Yunior yang mampu sekali pun. Minggu berikutnya Nasir tiba kembali di Tanjung Redeb. Langsung diangkat menjadi kepala teknik. Seniornya kini jadi anak buahnya. Nasir sadar. Bakal banyak persoalan psikologis. Ia bertekad: harus pintar-pintar membawa diri. Sering kali ia lakukan: untuk hal yang sudah tahu pun Nasir bertanya pada anak buahnya. Pura-pura. Bohong. Tapi penting.

Gajinya naik terus. Tapi Nasir tetap tinggal di bengkel. Menghemat. Gaji pertamanya ia kirim ke ibunya. Ibu kandung.

Tiga tahun di bengkel itu Nasir sudah punya banyak tabungan. Ia bertekad ingin jadi pengusaha. Hanya menjadi karyawan tidak akan membuatnya kaya.

Kebetulan: ada kapal kayu dijual. Tanpa mesin. Nasir mampu membeli kapal itu. Dari tabungannya.

Lalu ia datangi penjual mesin. Yang selama ini sering minta tolong padanya: urusan kerusakan mesin kapal. Ia minta untuk bisa beli mesin. Dengan cara mencicil.

Begitulah. Nasir sudah punya kapal. Untuk angkut pasir. Setiap kali angkut ia dapat uang Rp 290 ribu. Dibagi tiga. Ia dapat Rp 70 ribu. Dua orang yang menjalankan kapal mendapat @Rp 70 ribu.

Nasir tetap bekerja di bengkel. Tetap tinggal di bengkel. Begitu hematnya.

Nasir tidak berpikir beli rumah dulu. Ia justru beli kapal kedua. Tapi kapal ini berada di tangan orang yang salah. Uangnya habis terus.

Saat itulah Nasir berpikir: harus fokus. Tidak boleh kapalnya diurus orang lain. Ia harus berhenti dari bengkel. Urus sendiri kapal-kapalnya.

Itu berarti tidak bisa lagi tinggal di bengkel. Harus cari rumah tinggal. Nasir tetap tidak mau membeli rumah. Tidak mau mengontrak rumah. Ia pilih menyewa satu kamar: diisi 9 orang. Semua perantau dari Sulawesi.
Masih harus berhemat.

Ia jalankan sendiri kapal-kapalnya. Sampai pernah nyasar ke perbatasan Filipina. Dihadang tentara bersenjata.
Nasir juga sering membawa kapalnya ke pelabuhan-pelabuhan di Sabah. Di situ Nasir belajar: membangun kapal sendiri.

Nasir tidak mau lagi membeli kapal. Kapal-kapal berikutnya adalah bikinan sendiri. Ia hanya beli bahan-bahannya. Membayar ongkos tukangnya.

Kini kapalnya tujuh buah. Termasuk dua kapal penangkap ikan. Di laut lepas.

Bisnisnya pun ke hulu: bikin pabrik es. Lalu cool storage. Lalu merambah ke tambak udang.

Bisnis ikan itu membuatnya sering ke pabrik es. Membawa kapalnya serta. Di pabrik itulah ia melihat beberapa gadis lagi mandi. Di pemandian pabrik. Tidak berdinding. Mereka mandi dengan mengenakan sarung.

Istri saya pun begitu. Dulu. Mandinya di batang. Di pinggir sungai. Bisa dilihat semua orang. Yang lagi lalu-lalang. Di Kaltim mandi seperti itu disebut mandi basah.

Saat itulah Nasir terpikat. Pada salah satu gadis yang mandi itu. Ternyata dia memang primadona di pabrik itu. Nasir minta tolong temannya. Untuk mengenalnya langsung.

Itulah istrinya yang sekarang: Sempurna. Dipanggil: Pur.

Pilihannya tepat. Nasir percaya istrinya itu membawa rejeki.

Ia ingat omongan-omongan orang tua di desanya: kalau cari istri carilah yang ada ininya di bawah lehernya.
Sambil mengatakan ‘ininya’ Nasir menggambarkan kalung di bawah lehernya. Ia melihat tanda itu saat Sempurna mandi basah. Yang hanya bagian susu ke bawah yang ditutupi sarung. Nasir bisa melihat tanda itu di bagian antara dada dan leher Sempurna.

Saya sendiri tidak jelas maksud tanda itu. Saya memang ke rumah Nasir Sabtu lalu. Tapi istrinya lagi tidak ada di rumah. Pun kalau toh ada, belum tentu saya berani minta ini: agar sang istri membuka dadanya.

Rumah Nasir ini luar biasa bagusnya. Untuk ukuran Berau. Membuat saya harus minta berfoto bersama. Di depan rumahnya. Lihatlah fotonya.

“Rumah ini saya sendiri yang mendesain. Saya sendiri pula yang mengawasi,” katanya.
Tambak udangnya pun ia desain sendiri. Pengerjaannya juga tanpa kontraktor.
Itulah hasil keseriusannya berusaha.

Semua orang di Barru kini tahu: Nasir adalah kisah sukses anak Barru.

Kisah itu mulai ‘bocor’ setelah Nasir punya dua kapal. Mulailah orang Barru tahu: ke mana Nasir minggat. Dari berita para awak kapal. Dari mulut ke mulut. Sampailah ke keluarga Nasir: Nasir jadi omongan di antara sesama perantau.

Bapaknya pun tahu.
Meski Nasir belum mau berkabar. Sampai saat itu.

Barulah ketika hendak naik haji Nasir minta bapaknya ke Berau. Sang ayah menolak. Tapi Nasir terus merayu. Dengan alasan: ini kan mau naik haji.

Akhirnya sang ayah ke Berau. Melihat sukses anak yang pernah ia tendang keras-keras itu.
Begitulah. Ketika ditinggal naik haji ayahnyalah yang mengurus kapal-kapal Nasir.

Ketika Nasir sudah kembali dari haji ayahnya pamit pulang. Nasir mencegahnya. Minta lebih lama di Berau.

Suatu malam, tengah malam, ayahnya mengajak Nasir bicara. Berdua. Di kamar. Saat itulah Nasir tidak berkutik. Sang ayah mengatakan bahwa umurnya tinggal 4 hari. Ia harus pulang ke Barru. Tidak mau meninggal di perantauan.

Mulut Nasir terkatup. Tidak mampu bicara apa-apa. Ia memandang ayahnya. Tidak habis-habis. Ia tahu ayahnya serius. Sudah tua pula.

Keesokan harinya Nasir melepas kepulangan ayahnya. Sang ayah masih berpesan: saat saya meninggal nanti kamu tidak usah pulang. Kirim saja uangmu. Untuk kuburku. Usahamu ini belum bisa ditinggal. Masih perlu kamu urus tiap hari.

Empat hari kemudian Nasir terima kabar: ayahnya meninggal dunia. Hanya beberapa jam setelah kedatangannya dari Berau. “Pagi tiba, sore meninggal,” ujar Nasir.

Sang ayah tentu lega: anak yang minggat itu, yang kini berumur 46 tahun itu, telah sukses di kampung orang.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Tue, 04 Dec 2018 06:00:59 +0700
<![CDATA[Di Perodua Lihat Londo Ngeprank]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/01/106305/di-perodua-lihat-londo-ngeprank https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/01/106305/di-perodua-lihat-londo-ngeprank

Tumben. Sopir Grab ini orang suku Dusun. Tumben lagi. Sopir Grab kali ini orang suku Bajau. Biasanya, di Sabah, sopir seperti ini orang asal Sulawesi.]]>

Tumben. Sopir Grab ini orang suku Dusun. Tumben lagi. Sopir Grab kali ini orang suku Bajau.

Biasanya, di Sabah, sopir seperti ini orang asal Sulawesi. Begitu menonjol suku Bugis di sini.

Misalnya waktu saya ke gunung Kinabalu. Saya salah sangka. Saya kira sopir ini suku Tionghoa. Kulitnya dan matanya itu. Tidak ada bedanya.

“Saya bukan Chinese,” katanya. Ketika saya ajak ia bicara bahasa Mandarin. “Saya suku Dusun,” tambahnya.
Apakah suku Dusun bagian dari masyarakat Dayak?

“Bukan,” jawabnya. Saya pun salah lagi. Saya banyak punya teman Dayak. Di Kaltim. Atau Kalteng. Kadang sulit dibedakan dengan Tionghoa.

Ia pun banyak bercerita tentang sukunya. Dalam bahasa melayu. Yang sudah lebih mirip dengan bahasa Indonesia. Beda dengan bahasa melayunya orang Semenanjung.

Saya tidak sampai di puncak Kinabalu. Tidak akan kuat. Kecuali dipaksakan. Tingginya 4.100 meter. Lebih tinggi dari Gunung Semeru.

Dan lagi saya masih harus ke Labuhan. Yang berarti harus naik Grab yang lagi lagi: 3 jam lagi. Ke pulau yang bebas pajak di Malaysia itu.

Kali ini sopirnya anak muda. Ganteng. Rambutnya agak panjang. Lehernya agak pendek. Pakai kaus ketat. Celana jean. Sandalnya jepit. Easy going. Namanya: Shawal.

Anak ini asyik. Sebagai teman seperjalanan.

Mobilnya Perodua. Sekelas Avanza. Mobil nasional kedua di Malaysia. Setelah Proton.

Shawal memasang wifi di mobilnya. Juga mengganti radionya. Dengan memasang layar monitor di posisi radio itu.
Shawal melakukan itu karena suka main youtube di mobilnya. Dengan wifinya itu. Salah satu yang ia suka adalah Londo Kampung. Yang pengaksesnya sudah lebih 40 ribu.

Dari situ Shawal mengerti banyak istilah jorok dalam bahasa Indonesia: gombal. Misalnya. Atau menggombali. Ia juga tahu kosa kata cewek. Dalam berbagai konotasinya.

Saya belum pernah melihat Londo Kampung. Maka Shawal pun tune ke youtube. Untuk saya. Cari Londo Kampung. Sambil ngebut.

Saya ikut tertawa-tawa ngakak. Bagaimana orang bule itu ngeprank di mall. Pakai bahasa Indonesia. Juga pakai bahasa Suroboyoan.

Rupanya Londo (orang Jawa menyebut semua orang bule sebagai Londo) itu tinggal di Surabaya. Hafal lagu-lagu bertema Surabaya. Atau lagu-lagu dangdut.

Misalnya saat si Londo naik eskalator. Di belakang seorang cewek. Ia teriak keras: ‘Rek!’. Seolah memanggil cewek itu. Ketika si cewek menoleh, si Londo ternyata meneruskan kata ‘rek’ itu. Menjadi sebuah dendang lagu ‘Rek ayo rek mlaku-mlaku…’ dengan cueknya. Sambil melengos dari si cewek.

Aksi ngeprank Londo Kampung itu memang menjengkelkan. Bagi yang kena tipu. Tapi menyenangkan. Bagi yang menonton.

Meski suku Bajau, Shawal sudah lahir di darat. Pemerintah Malaysia memang memiliki program ‘mendaratkan’ suku yang tinggal di atas laut itu.

“Rumah Bajau masih tetap utuh di atas laut. Tapi sudah banyak kosong. Tinggal untuk tambat perahu,” katanya.
Shawal sendiri lulusan studi perhotelan. Pernah kerja lima tahun di Kuala Lumpur. Di salah satu hotel di ibukota. Tapi ia tidak kerasan. “Enak tinggal di kampung halaman,” katanya.

Ketua Menteri (semacam gubernur) Sabah kini juga orang Bajau: Datuk Shafeei Abdal. Bajau dari daerah Sampurna. Tidak begitu jauh dari Nunukan, Indonesia.

Dari Shawal ini pula saya tahu: Bajau itu memiliki banyak Sub suku:
Bajau Suluk
Bajau Ubian
Bajau Samah
Bajau Laut
Bajau Sungai

Saya menjadi ingat: pernah diminta jadi pembicara di Kongres Bajau Sedunia. Di Kangean. Dua tahun lalu. Yang saya tidak bisa hadir. Harus sibuk dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

Menurut Shawal suku Bajau terbanyak tinggal di Filipina Selatan. Sabah nomor dua. Padahal, kata saya, Indonesia lah yang nomor dua. Wallahualam.

Sejak berpisah dari Shawal saya selalu dapat sopir orang Bugis. Umumnya sudah kelahiran Sabah.

Setelah keliling Sabah saya melihat KK bakal lebih maju. Bandaranya besar: bisa didarati Airbus 380. Meski belum pernah ada jenis itu yang mendarat di sana.

Jurusannya pun sudah luas: Jepang, Korea, Hongkok, Singapura. Yang domestik lebih banyak lagi. Tapi tidak satu pun yang jurusan tetangga dekatnya di selatan.

Sabah begitu dekat.
Juga begitu jauh. (dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Sat, 01 Dec 2018 11:11:57 +0700
<![CDATA[Pesawat Di Langit Warna Kuning Di MCC]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/30/106068/pesawat-di-langit-warna-kuning-di-mcc https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/30/106068/pesawat-di-langit-warna-kuning-di-mcc

Saya mencermati satu layar ke layar lain. Yang banyak ditempelkan di dinding. Di salah satu layar terlihat satu kotak kecil: warna kuning.]]>

Saya mencermati satu layar ke layar lain. Yang banyak ditempelkan di dinding. Di salah satu layar terlihat satu kotak kecil: warna kuning. Hanya satu kotak itu yang harus diwaspadai. Puluhan kotak lainnya normal.
Itulah layar-layar monitor. Untuk mengetahui banyak hal: apakah ada masalah di pesawat. Yang lagi terbang di langit.

Semua terhubung dengan monitor itu. Di Maintainance Control Centre (MCC) itu. Setiap terjadi ketidaknormalan, petugas MCC tahu: pesawat apa yang lagi bermasalah. Di mana masalahnya. Lalu: apa yang harus dikerjakan. Apa yang harus dipersiapkan.

Itulah salah satu ruang penting di Garuda Maintainance Facility. Yang berlokasi di dekat landasan pacu bandara Soekarno-Hatta.
Saya diajak ke GMF minggu lalu. Sebelum terbang ke Palembang – lalu ke Malaysia. Itulah anak perusahaan Garuda yang paling moncer. Manajemennya bagus. Banyak perusahaan penerbangan asing percaya padanya.

Kinerja keuangannya juga istimewa: laba besar. Setelah lama dipisah dari Garuda. Menjadi anak perusahaan saja. Tujuannya: agar tidak ketularan penyakit di Garuda. Yang sensitif atas naik-turunnya harga bahan bakar. Atau naik-turunnya rupiah.

Tahun lalu GMF go public. Terbilang sukses. Apalagi kalau pembeli saham tutup mata: tidak mengaitkannya dengan kinerja buruk keuangan Garuda.

Saat ke GMF itu saya disambut direktur utamanya: Ir Iwan Joeniarto MM. Alumni Teknik Industri ITS Surabaya. Dipaparkanlah kinerja GMF. Dari tahun ke tahun. Membuat saya ikut bangga.

Di saat peninjauan itu saya melihat dua pesawat besar KLM. Milik perusahaan penerbangan kebanggaan Belanda. Yang sudah dibeli Air France. “Wow. KLM pun sudah percaya kepada GMF,” puji saya.

Saya pun diajak naik ke Boeing 747 itu. Pekerja GMF lagi sibuk. Saya ingat: sering naik KLM. Dulu. Kalau ke Eropa. Sebelum ada Emirates. Atau Qatar Airways.

Saya juga melihat bagian perawatan mesin. Termasuk mesin-mesin Boeing 737. Yang populasinya sangat besar di Asia Tenggara.

Ada ruang kedap suara. Yang begitu kedapnya. Suara mesin jet 737 pun bisa ditahannya. Mesin yang lagi dites. Pun dalam kecepatan tertingginya.
Begitu banyak penghargaan yang diterima GMF. Menandakan kepercayaan yang tinggi. Korea pun sudah pula memulai: mempercayakan pemeliharaan pesawatnya pada GMF. Total sudah lebih 15 negara yang menjadi pelanggan GMF.

Mengapa perusahaan pemelihara pesawat sampai menyediakan ruang monitor? Untuk pesawat yang lagi terbang?

Itulah komitmen GMF. Kepada pelanggannya. Agar pesawat yang lagi terbang pun sudah diketahui masalahnya. Agar yang di darat segera tahu apa yang harus diperbuat.

Misalnya: menyiapkan spare partnya. Atau tenaga teknisnya. Begitu pesawat mendarat bisa langsung dikerjakan. Menghemat waktu.

Yang kotak warna kuning tadi pertanda ada masalah apa?
Hanya dengan melihat layar itu saya tidak tahu. Nama perusahaan penerbangannya, jenis pesawatnya, istilah kerusakannya, semua diganti kode. Hanya para operator di MCC yang tahu: yang warna kuning tadi itu pesawat apa, milik siapa dan bagian mana yang lagi bermasalah.

Saya tidak ingin tahu itu. Saya memahami kalau rahasia itu bagian dari komitmen GMF. Tapi saya ingin tahu: warna kuning tadi pertanda ada masalah apa. “Itu gangguan di bagian toiletnya,” ujar petugas di ruang itu. “Mungkin flushingnya yang buntu,” tambahnya.

Bayangkan: toilet buntu saja bisa diketahui dari darat. Apalagi gangguan yang lebih berat. Seperti yang dialami Lion JT 610 itu. Yang begitu dramatiknya itu. Yang begitu lama itu.
“Jadi,” kata saya memulai pertanyaan, “gangguan di Lion itu bisa diketahui di sini”?

“Kami tidak tahu. Lion bukan pelanggan kami, ” katanya.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Fri, 30 Nov 2018 09:27:21 +0700
<![CDATA[Perkawinan Krisis Konstitusi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/29/105906/perkawinan-krisis-konstitusi https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/29/105906/perkawinan-krisis-konstitusi

Hampir saja Taiwan menjadi yang pertama di Asia: melegalkan kawin sejenis. Tapi hasil referendum Sabtu lalu berkata lain: sebagian besar rakyat menolak.]]>

Hampir saja Taiwan menjadi yang pertama di Asia: melegalkan kawin sejenis. Tapi hasil referendum Sabtu lalu berkata lain: sebagian besar rakyat menolak.

Kini muncul perdebatan di sana: mana yang lebih kuat. Hasil referendum atau putusan Mahkamah Konstitusi.

Satu setengah tahun lalu memang. MK Taiwan membuat keputusan: UU Perkawinan yang melarang kawin sejenis melanggar konstitusi.

DPR harus merevisi UU Perkawinan yang ada. Paling lambat dua tahun. Setelah putusan MK itu: 24 April 2017.

Putusan MK itu bermula dari gugatan Chi Chia-wei. Yang di tahun 2013 lalu ingin menikah. Dengan sesama laki-laki. Ditolak.

Setelah putusan MK itu perkawinan sejenis kian marak. Sudah ada 19 daerah yang mau menikahkan pasangan lesbi. Atau gay.

Memang itu baru setengah kawin. Mereka tetap belum bisa mendapat hak hukum sebagai suami-suami. Atau istri-istri. Tapi perpartnerannya sudah disahkan.

Sambil menunggu lahirnya UU Perkawinan yang baru. Seperti yang diamanatkan MK. Paling lambat 1 Mei tahun depan.

Aktivis anti perkawinan-sejenis bergerak cepat. Dimotori oleh gereja. Yang umatnya hanya 5 persen dari jumlah penduduk.

Segala macam penyakit dikaitkan dengan perkawinan jenis itu. Dalam kampanye anti perkawinan-sejenis. Demikian juga segala macam laknat. Dan bencana.

Aktivis tersebut berhasil mengumpulkan tandatangan: 310.000. Melebihi batas syarat permintaan referendum: 280.000 tandatangan.

Yang pro perkawinan-sejenis juga bergerak. Juga mengumpulkan tandatangan. Melebihi syarat minimal untuk minta referendum.

Kampanye dua kelompok ini hebohnya bukan main.
Akhirnya keduanya sama-sama dapat tempat.
Dalam referendum itu. Yang ‘anti’ berhak mengajukan dua pertanyaan. Yang ‘pro’ boleh mengajukan satu pertanyaan.

Masih ada dua pertanyaan lagi. Dari kelompok lain. Yang terkait dengan pendidikan seks di sekolah.
Maka pertanyaan dalam referendum Sabtu lalu banyak sekali. Sampai proses pemungutan suara Pemilu tersebut berlarut. (baca disway edisi kemarin).

“Referendum itu hanya semacam pooling,” ujar aktivis pro perkawinan-sejenis. “Putusan MK lebih tinggi,” tambahnya.

Masalahnya: apakah ada wakil rakyat yang berani. Untuk mengajukan inisiatif penyempurnaan UU Perkawinan. Seperti yang diamanatkan MK. Mereka pasti takut kalah dalam Pemilu berikutnya.

Sampai akhir tahun lalu sudah tercatat 2.200 perkawinan-sejenis di Taiwan. Yang terbanyak sesama wanita: 1.700 pasang. Yang sesama laki-laki 500 pasang.

Semua itu berkat ‘jasa’ Chi Chia-wei. Yang kini berumur 60 tahun. Yang badannya tetap kurus kering itu.

Sejak umur 29 tahun Chia-wei terus berjuang. Ialah yang pertama mengaku secara terbuka: sebagai gay. Ia adakan konferensi pers: untuk menggalang pertolongan pada penderita HIV/AIDS di Taiwan.

Pada umur 30 tahun Chia-wei mendatangi notaris. Minta perkawinan-sejenisnya disahkan. Ia tidak mau ke catatan sipil: pasti ditolak.

Notaris ternyata menolaknya juga. Lalu ia ke DPR. Ditolak.

Chia-wei sempat ditangkap polisi. Dituduh terlibat perampokan. Dijatuhi hukuman 5 tahun. Ia menolak tuduhan itu. Dengan terus mengajukan bukti. Akhirnya pengadilan tinggi membebaskannya: setelah terlanjur menjalani hukumannya lebih dari lima bulan.

Akhirnya Chia-wei ke mahkamah konstitusi itu: diterima.

Tapi hasil referendum Sabtu lalu jelas: menolak.
Menarik sekali: Putusan MK berlawanan dengan hasil referendum.

Itu bisa saja menjadi tipping point: krisis konstitusi.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Thu, 29 Nov 2018 08:22:05 +0700
<![CDATA[Sulap Pulau Garam Jadi Ladang Jagung]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/24/105164/sulap-pulau-garam-jadi-ladang-jagung https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/24/105164/sulap-pulau-garam-jadi-ladang-jagung

MADURA disebut sebagai Pulau Garam. Dengan sebutan Pulau Garam, seharusnya di segala penjuru mata angin ditemukan tambak garam]]>

MADURA disebut sebagai Pulau Garam. Dengan sebutan Pulau Garam, seharusnya di segala penjuru mata angin ditemukan tambak garam dan pengembangan turunannya. Seperti pabrik garam konsumsi alias garam asin yang sering dinikmati.

Selain pabrik garam konsumsi, seharusnya ada juga pabrik garam produksi. Seperti garam bahan dasar infuse serta garam untuk campuran pembuatan kain dan kertas. Ataupun campuran bahan-bahan kebutuhan produk lainnya. Sebab, garam produksi banyak dibutuhkan sebagai bahan campuran produk lain.

Kenapa Madura hanya bisa memproduksi garam tanpa bisa mengembangkan turunannya? Jika ada beberapa pabrik garam besar di Madura pasti mampu menyerap tenaga kerja banyak. Sehingga meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Kita ambil contoh. Biar tidak dikira omdong (omong doang). Madura bisa mengkiblatkan Kota Batu. Kota Batu dikenal sebagai Kota Apel. Kota dingin ini menunjukan jati diri sebagai penghasil buah apel. Julukan itu dibuktikan dengan melimpahnya produksi buah apel.

Kota Batu juga mengembangkan industri turunannya. Seperti memproduksi keripik apel, selai apel, sirup apel serta kue dan roti berbahan dasar apel. Bahkan untuk menarik konsumen, bungkus industri turunan itu dikemas sangat menarik.

Sekarang kembali fokus bahas Madura. Sebenarnya, selain penghasil garam, masih banyak potensi Madura sesuai resource base. Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah petakan enam klaster potensi unggulan Madura.

Pertama, garam dan  tembakau. Kedua, pangan (jagung, singkong, tebu, sapi, hasil laut). Ketiga, energi dan migas. Keempat, pendidikan (formal dan nonformal). Kelima, tenaga kerja dan wanita. Terakhir, pariwisata dan ekonomi kreatif (seni, bahasa, budaya, jamu, batik, kuliner, infrastruktur, tata ruang, lingkungan, pulau-pulau kecil, teknologi).

Selain garam, Madura sangat kaya sumber daya alam (SDA). Sampai di sini mau bahas potensi selain garam, he he he. Sekarang bahas produksi pangan berupa jagung. UTM telah melakukan riset jagung.

Hasilnya, riset menemukan enam varites jagung unggulan. Hasil penemuan varietas jagung diberi nama Madura satu hingga Madura enam. Bahkan, varietas jagung Madura satu dan dua sudah menapatkan lisensi resmi dari Kementerian Pertanian pada 2016.

Salah satu keunggulan paling mencolok jagung Madura 1 dan 2 yakni, jika jagung biasa ditaman di lahan 1 hektare hanya bisa memproduksi sekitar 2,7 ton. Jika jagung Madura 1 dan 2 ditanam di lahan seluas 1 hektare, hasilnya sekitar 7 ton. Dua kali lipat lebih.

Jika empat kabupten masing-masing bersedia menyiapkan lahan seluas 75.000 hektare, lahan tersedia untuk produksi jagung di Madura 300.000 hektare. Dengan begitu, Pemkab Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep harus membuat perda terkait sistem sewa lahan atau bagi hasil dengan pemilik lahan.

Sehingga dalam penggunaan lahan, warga tidak dirugikan. Kemudian untuk memproduksi jagung skala besar setiap kabupaten harus menunjuk BUMD untuk mengelola. Jika luas lahan 300.000 hektare kali 7 ton, hasilnya 2.100.000 ton jagung.

Ini hasil satu kali produksi. Katakanlah setahun ada dua kali produksi jagung. Hasilnya 4.200.000 ton jagung. Anggap saja harga jagung Rp 5.000 per kilogram. Kalikan 4.200.000 ton atau 4.200.000.000 kilogram. Hasilnya mencapai Rp 21 triliun.

Katakanlah keuntungan yang diperoleh 20 persen dari Rp 21 triliun untuk biaya garap. Seperti pembelian benih, sewa lahan, biaya penanaman seperti membajak lahan, menyiram, dan pemberian pupuk hingga ongkos panen. Berarti memperoleh keuntungan Rp 4,2 triliun.

Kemudian keuntungan Rp 4,2 triliun dibagi empat kabupaten. Tiap kabupaten memperoleh keuntungan Rp 1,05 trilun. Sementara APBD Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep rata-rata sekitar Rp 2,3 triliun. Dengan memproduksi jagung, dapat suntikan dana segar hampir separo APBD.

Tidak hanya sampai di situ. Jika hasil produksi jagung itu dikembangkan lagi ke industri turunan, mungkin keuntungan dari produksi jagung dan industri mencapai ratusan triliun. Misalkan Madura memiliki pabrik-pabrik besar dengan menggunakan bahan dasar jagung. Seperti pabrik tepung jagung, pabrik popcorn, dan pabrik makanan ringan berbahan dasar jagung.

Belum lagi banyak tenaga kerja terserap. Jika banyak tenaga terserap, pasti pendapatan masyarakat meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat meningkat.

Nanti semua bisa tahu jika Madura tidak hanya penghasil garam. Mereka pasti menilai Madura juga sebagai ladang jagung. Kebutuhan jagung nasional sekitar 15,5 juta ton. Sementara Madura bisa memproduksi 4.200.000 ton atau Madura menyumbang 27 persen kebutuhan jagung nasional. Namun, tidak sedikit pihak yang pesimistis untuk mewujudkan Madura sebagai ladang jagung.

Tahukah kisah sukses Kolonel Sanders? Pendiri Kentucky Fried Chicken KFC itu sempat mengalami kegagalan 1.009 Kali. Namun dia tidak pernah menyerah. Tetap bersemangat. Berkat kegigihan dan keuletan, KFC menjadi primadona masyarakat dunia. Banyak stan KFC hampir di segala penjuru negara. Masak masyarakat Madura mau menyerah?

Lebih-lebih memiliki abantal omba’ asapo’ angen. Alako berra’ apello koneng. Hal itu menujukkan etos kerja masyarakat yang enggan menyerah.

Jika 300.000 hektare lahan terwujud ditamani jagung, bukan tidak mungkin Pulau Garam jadi ladang jagung dan mengembangkan industri turunannya. Kemudian, dibangun pabrik besar yang menggunakan bahan dasar jagung. Sehingga banyak menyerap tenaga kerja dan pendapatan masyarakat meningkat.

Dengan begitu, Madura menjadi daerah maju. Jika kesempatan itu dimanfaatkan pemangku kebijakan, itu menunjukkan empat pemkab di Madura pandai membaca peluang. Pangapora ban mator sakalangkong.

]]>
Abdul Basri Sat, 24 Nov 2018 11:34:41 +0700
<![CDATA[Membayangkan Video Dan Grafik Lion]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/23/104990/membayangkan-video-dan-grafik-lion https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/23/104990/membayangkan-video-dan-grafik-lion

Ngeri. Saat melihat video ini: bagaimana pergerakan pesawat Lion 610 itu. Sebelum terjun ke laut dekat Karawang itu.]]>

Ngeri. Saat melihat video ini: bagaimana pergerakan pesawat Lion 610 itu. Sebelum terjun ke laut dekat Karawang itu.

Saya menerima video itu seminggu setelah kecelakaan. Dari grup para engineers. Saya tidak berani nge-share. Belum tahu apakah betul-betul begitu.

Saya pun mengikuti perkembangannya dengan seksama. Membaca media-media Amerika, Inggris dan Hongkong. Diskusi dengan ahli di bidang itu.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan: sepertinya pergerakan pesawat seperti di video itu betul. Setidaknya mirip-mirip.

Di video itu terlihat pesawat take off di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Tanggal 29 Oktober. Pukul 6 pagi. Lengkap dengan menit dan detiknya.

Setelah take off terlihat terbangnya agak datar. Tidak menaik. Sampai beberapa menit kemudian masih belum tinggi.
Ketika mulai bisa naik turun lagi. Lalu naik lagi. Turun lagi.

Beberapa kali.

Pesawat tidak pernah naik lagi. Sampai beberapa menit kemudian. Bahkan hidungnya sempat menukik. Beberapa saat. Lalu normal lagi. Menukik lagi. Normal lagi.

Saya bisa membayangkan: seandainya saya penumpangnya. Dengan pergerakan pesawat seperti itu. Alangkah paniknya.

Tentu sebagian penumpang sudah tertidur. Sejak sebelum take off. Akibat bangun terlalu awal. Seperti kebiasaan saya. Pun pasti terbangun. Apalagi ketika hidung pesawat menukik tajam. Ke arah air laut. Lebih-lebih ketika pesawat dalam posisi terbalik. Sebelum normal lagi. Dan akhirnya benar-benar terjun ke laut. Dengan 189 penumpangnya.

Lihatlah grafik perjalanan pesawat itu. Di instagram saya: dahlaniskan19. Yang saya ambil dari New York Times.
Terlihat pilot seperti mengalami kesulitan. Untuk menaikkan pesawat.

Mungkin pilot mencoba-coba memasukkan data ke komputer. Untuk mengatasinya. Lalu mengoreksinya. Memasukkan data lain lagi. Mengoreksinya lagi. Entahlah.

Ternyata kejadian yang mirip Lion itu pernah terjadi di Irlandia. Tahun lalu. Saat pesawat serupa akan terbang dari Belfast, Irlandia. Menuju Yunani. Dengan penumpang 185 orang.

Pesawat Sunwing Airlines itu mau take off. Tapi tidak segera bisa mengangkasa. Roda depan tidak segera terangkat. Padahal ujung landasan sudah dekat. Akhirnya roda depan memang terangkat. Tapi telat sekali. Sudah hampir lewat landasan. Roda belakangnya sempat nyenggol lampu di tanah. Lampunya pecah.
Pilot berusaha keras untuk mengatasi ketinggian. Untung. Berhasil.

Analis kejadian itu baru keluar kemarin. Kesimpulannya: sangat membahayakan. Ternyata ada kesalahan data temperatur di komputer. Saat take off itu. Yang mestinya 16 derajat tertulis minus 52 derajat: sama dengan suhu ketika pesawat di ketinggian 30 ribu kaki.

Akibatnya, kecepatan pesawat tidak mencapai seperti yang diprogramkan.

Dalam kasus Belfast itu pilot berhasil mengatasinya. Dengan ketenangannya. Banyak contoh keberhasilan pilot seperti itu: pilot 747 yang empat mesinnya mati semua di atas Gunung Galunggung. Pilot Garuda yang dua mesinnya semua mati: bisa mendaratkannya di sungai dekat Solo. Pilot Adam Air yang berhasil mendaratkan pesawat tanpa arah itu di Sumba Barat.

Memang ada juga yang gagal. Seperti pilot Singapore Airline. Yang take off di bandara Taipei. Yang komputernya dikira tidak berfungsi. Pilot menambah ketinggian secara manual. Ternyata komputernya berfungsi.

Dua perintah ‘naik’ datang bersamaan. Pesawat berdiri tegak. Lalu jatuh stall di bandara.

Video perjalanan Lion JT610 itu dibuat sebagai simulasi. Dengan cara memasukkan data ke dalam komputer. Yang diambil dari menara. Atau dari sumber lainnya.

Dalam situasi kritis seperti itulah pilot dan copilot harus satu soul.
Biasanya sang pilot lebih senior. Copilotnya yang lebih yunior. Tapi dalam kasus Lion JT610 ini Copilotnya lebih tua. Tentu tidak ada salahnya.

Hanya menimbulkan spekulasi: apakah yang lebih senior itu mau mengakui kemampuan yuniornya.
Saya tentu tidak tahu itu. Juga tidak tahu: adakah senior-yunior menjadi persoalan psikis dalam koordinasi di cockpit? Dengan taruhan nyawa penumpang satu pesawat.

Ataukah ini persoalan manajemen penugasan?

Dari grafik yang dimuat New York Times terlihat jelas: betapa pilot Lion berusaha untuk mengatasinya.

Dari blackbox kita akan tahu: bagaimana pilot dan copilot saling bicara. Untuk mengatasi kondisi kritis itu.

Sementara ini kita bayangkan saja. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Fri, 23 Nov 2018 12:11:56 +0700
<![CDATA[Dua Boys Wardah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/21/104559/dua-boys-wardah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/21/104559/dua-boys-wardah

Dua anak lelaki, dua tipe manusia. Sama-sama hebat. Tapi punya kelemahan masing-masing]]>

Dua anak lelaki, dua tipe manusia.
Sama-sama hebat. Tapi punya kelemahan masing-masing.

Bu Nurhayati, ibu mereka, segera ambil kesimpulan: anak sulung dan adiknya itu memang berbeda.

Yang kuliah di ITB jurusan kimia itu lebih kreatif. Tapi kurang rapi. Dalam pekerjaannya.

Yang kuliah di ITB jurusan elektro itu lebih tertib dalam bekerja. Juga lebih disiplin. Tapi kalah kreatif.

Hasilnya sangat beda. Pasar Wardah di Indonesia wilayah barat lebih maju. Karena dipimpin orang yang lebih kreatif.
Tapi manajemen di wilayah Indonesia timur lebih rapi. Karena dipimpin oleh anak yang lebih disiplin.

Dua-duanya diperlukan oleh perusahaan.

Pemilik kosmetik Wardah itu segera ambil langkah. Pembagian tugas di antara dua anaknya itu tidak lagi perwilayah.

Nurhayati sudah sampai pada kesimpulan: dua anaknya sama-sama bisa diandalkan. Hanya kemampuan mereka yang berbeda.
Maka anak yang kreatif itu diberi tugas bidang pemasaran. Tidak lagi hanya di wilayah barat. Seluruh Indonesia.

Yang manajemennya rapi tadi ditugaskan memimpin produksi. Bu Nurhayati pun memiliki direktur produksi dan pemasaran.

Sang ibu tinggal lebih konsentrasi di riset dan pengembangan. Sang suami berhenti bekerja. Memperkuat perusahaan keluarga. Menangani bidang sumber daya manusia.

Dengan pembagian tanggungjawab yang baru Wardah kian maju.

Sambil menunggu anak ketiganya lulus. Yang lagi mengambil spesialis kulit itu. Yang akan memperkuat bidang riset dan pengembangan.

Kebetulan salah satu menantu Bu Nurhayati juga memiliki kelebihan: bidang keuangan. Bisa diberi wewenang di bidang akuntansi.

Wardah lantas meraih kemajuan yang luar biasa.

Semua pengendalinya muda.

Kerjanya gila.

Hanya anak muda yang bisa bikin kemajuan. Statement saya sejak enam tahun lalu itu terbukti lagi di Wardah. “Anak-anak saya itu yang membesarkan Wardah,” kata Bu Nurhayati.

Semua seperti kebetulan.

Kebetulan Bu Nurhayati tidak diterima menjadi dosen.

Kebetulan diterima oleh Wella.

Kebetulan ditugaskan di bagian lab.

Kebetulan memilih memelihara anak daripada terus bekerja.

Kebetulan anak-anaknya pintar dan bisa dilepas.

Kebetulan memilih bisnis kecil-kecilan daripada kembali bekerja di perusahaan orang lain.

Kebetulan rumahnya terbakar.

Kebetulan tuntutan keadilan berkembang setelah reformasi. Termasuk keadilan ekonomi.

Kebetulan bank mulai memperhatikan usaha kecil. Wardah dapat kredit kecil.

Kebetulan anak-anaknya sudah lulus. Saat perusahaan berkembang.

Kebetulan anak-anaknya mau ikut perusahaan ibunya.

Kebetulan hijaber lagi berkembang….

Kebetulan.

Saya setuju bahwa semua itu pertolongan Tuhan. Tapi saya tidak setuju kalau semua itu sekedar kebetulan.

Saya bisa melihat dengan jelas: semua kebetulan itu karena Bu Nurhayati mengusahakannya.

Adakah yang lebih kreatif itu dipengaruhi kuliahnya di kimia?
Yang memberikan doktrin eksperimen tanpa batas? Bukankah dunia kimia itu dunia kombinasi tanpa batas?

Ataukah memang pada dasarnya lebih kreatif?
Adakah yang lebih tertip dan disiplin itu karena kuliahnya di elektro? Yang mengajarkan serba disiplin? Agar tidak korslet?

Bu Nurhayati tidak mempersoalkan itu. Juga tidak tertarik mencari penyebabnya. Biarlah itu tugas ilmuwan sumber daya manusia.

Yang jelas dua-duanya punya keunggulan. Tinggal ketepatan penempatannya.

Bu Nurhayati jeli melihat perbedaan kemampuan anaknya.(dahlan iskan / bersambung)

]]>
Abdul Basri Wed, 21 Nov 2018 09:20:26 +0700
<![CDATA[Pemilu Damai sebagai Wujud Nasionalisme dan Cinta NKRI]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/26/90509/pemilu-damai-sebagai-wujud-nasionalisme-dan-cinta-nkri https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/26/90509/pemilu-damai-sebagai-wujud-nasionalisme-dan-cinta-nkri

PEMILU 2019 akan menjadi hajatan bersama ratusan juta penduduk Indonesia. Seluruh warga akan terlibat dalam kontestasi lima tahunan, baik sebagai kandidat]]>

PEMILU 2019 akan menjadi hajatan bersama ratusan juta penduduk Indonesia. Seluruh warga akan terlibat dalam kontestasi lima tahunan, baik sebagai kandidat, pendukung, atau pemilih. Pemilu kali ini juga akan menjadi yang tersibuk dari pesta demokrasi sebelumnya. Sebab, tahun depan pemilihan presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota serta DPR RI akan digelar secara serentak.

Pemilu pada dasarnya merupakan sarana untuk menjaring pemimpin terbaik di republik ini. Melalui pemilu, masyarakat bisa memilih siapa calon pemimpin yang cocok untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa. Yakni, terwujudnya masyarakat yang sejahtera, berkeadilan sosial, berdaulat, serta hidup yang damai.

Karena itulah, cara-cara mempersiapkan pemilu juga perlu dilakukan secara damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan. Sebab jika cara yang dilakukan sudah tidak selaras dengan nilai-nilai perdamaian, kepemimpinan yang dihasilkan juga tidak akan ideal. Padahal mereka yang dipilih pada pemilu nanti akan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia selama lima tahun yang akan datang.

Pemilu yang damai akan memiliki dampak positif bagi umat beragama, termasuk Islam di dalamnya. Sebab dengan terwujudnya pemilu damai dan aman, maka umat Islam bisa khusyuk dalam menjalankan perintah agama. Mulai dari salat, puasa, zakat, haji, serta amaliah-amaliah lainnya.

Untuk mewujudkan kondisi negara aman salah satu caranya adalah menyukseskan proses kepemimpinan melalui pemilu. Dalam konteks keislaman, memilih pemimpin menjadi kewajiban personal yang tidak bisa diwakilkan. Sebab, keberlangsungan negara tidak akan terjadi tanpa adanya seorang pemimpin.

Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib). Bagi umat Islam, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), merupakan sebuah kewajiban untuk menyukseskan pemilu, baik pileg atau pilpres.

Siapa nantinya akan dipilih dalam kontestasi Pemilu 2019? Tentu akan kembali kepada ijtihad masing-masing warga. Tetapi, pada prinsipnya, memilih pemimpin tidak boleh gegabah. Perlu ditelaah terlebih dahulu siapa dari calon yang ada yang paling dinilai mampu memimpin negeri ini.

Bagi kaum muslim boleh memimpin siapa saja sesuai keyakinannya. Sepanjang calon itu memiliki jiwa nasionalisme tinggi mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Bagi NU juga dianjurkan memilih pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman.

Mengukur calon pemimpin yang sesuai dengan konteks keislaman dan keindonesiaan sangatlah mudah. Pertama, kita bisa lihat dari track record sang calon. Masyarakat bisa melihat apakah sepanjang sejarah hidup sang kandidat pernah berhubungan dengan pemberontakan terhadap negara atau tidak.

Kedua, bisa dilihat dari visi misinya. Gagasan-gagasannya tentang kenegaraan, keindonesiaan, dan keislaman bisa kita baca. Sebab, pemimpin negara harus menjunjung nilai-nilai dasar negara, seperti UUD 1945, Pancasila, serta Bhinneka Tunggal Ika.

Mengukur spirit keislaman juga bukan lantas setara dengan gagasan pendirian negara khilafah. Sebab, sepanjang pengamatan saya pribadi, negara khilafah tidak pernah termaktub dalam teks Alquran, hadis atau ijmak ulama. Islam tidak mengharuskan berdirinya satu model tunggal kepemimpinan.

Tidak ada ideologi negara tunggal dalam konsep Islam. Kita bisa lihat percaturan politik internasional. Dari hampir semua negara yang penduduknya mayoritas Islam berbeda-beda model negaranya.

Indonesia menggunakan sistem negara kesatuan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Malaysia menggunakan sistem kerajaan, Brunei kesultanan, Maroko dan Arab Saudi kerajaan. Artinya, bukan model negara yang diutamakan, tetapi lebih kepada nilai. Islam bisa masuk ke semua sistem kenegaraan, baik bagi negara kesatuan, negara kesultanan, negara kerajaan, negara republik, serta negara federasi. Yang penting adalah nilai-nilai keislaman masuk ke sistem negara tersebut.

 

Pemilu Damai

Semua pihak, terlepas dari kepentingan politik sesaat, tentu menginginkan pemilu yang damai. Sebab hidup berdampingan, gotong royong, serta hormat-menghormati satu sama lain sudah menjadi budaya bangsa Indonesia. Beda pilihan dalam pemilu kiranya terlalu kecil untuk dijadikan alasan berkonflik.

Tetapi, konflik kadang diciptakan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan. Bahkan, konflik kadang menjadi media untuk memenangkan pertarungan. Strategi peta konflik atau pecah belah dipakai pada saat strategi-strategi lain tidak mempan.

Bahkan, politisasi agama juga kerap dipakai hanya untuk kepentingan politik sesaat. Pemandangan ini terlihat dari beberapa pesta demokrasi yang digelar di negeri ini. sebuah pemandangan yang ironis, mengingat negeri ini dibangun oleh bangsa dari latar belakang berbeda, baik dari segi agama, suku, budaya, etnis, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, mereka yang menggunakan politisasi agama merupakan orang yang kalah. Maka senjata terakhir menggunakan politisasi agama. Dia punya nafsu politik yang besar, tapi selalu kalah. Maka, dia menggunakan politisasi agama sebagai cara untuk meraih kekuasaan.

Jika menggunakan kaidah fiqh, dosa politisasi agama lebih besar daripada mencuri. Politisasi agama sama halnya dengan menjual agama. Itu sangat dibenci oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam konteks inilah, cara-cara yang ditempuh oleh NU penting untuk digelorakan. Sejak awal berdiri, NU tidak pernah menggunakan agama sebagai simbol. Meski NU merupakan kumpulan para ulama, kiai, dan santri, tapi mereka tetap menempatkan Pancasila sebagai asas organisasi. Termasuk ketika mendirikan partai politik, NU juga tidak menggunakan Islam sebagai asas, tapi tetap Pancasila. Sebab bagi NU, Islam terlalu mulia, terlalu tinggi, hanya untuk urusan sepele seperti politik.

 

Sinergi Ulama dan Umara

Pemilu damai tidaklah mungkin terjadi tanpa peran serta seluruh elemen bangsa. Termasuk ulama, umara, serta aparat pemerintah juga perlu bersatu padu untuk mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Peran ketiga elemen ini sangat penting karena terlibat langsung dengan masyarakat.

Selain itu, penyelenggara pemilu juga penting menggandeng ormas dalam menyosialisasikan tahapan pemilu. Dengan catatan, ormas yang dilibatkan merupakan ormas yang setia pada Pancasila, UUD 1945, serta NKRI. NU, Muhammadiyah, SI, Persis, kiranya termasuk ormas yang bisa digandeng oleh KPU.

KPU juga bisa datang ke pesantren-pesantren. Sebab, pesantren inilah yang paling banyak bersentuhan dengan warga. Mereka bisa mengampanyekan pemilu damai dan mencegah terjadinya politisasi agama.

Saat ini sudah bukan zamannya lagi sosialisasi KPU digelar di hotel-hotel berbintang. Sebab yang hadir ke tempat tersebut hanyalah segelintir orang, sehingga tidak menyentuh kepada masyarakat secara luas. Saatnya penyelenggara turun ke pusat-pusat peradaban, pesantren, ormas, dan tokoh-tokoh masyarakat lokal. 

]]>
Abdul Basri Thu, 26 Jul 2018 17:40:40 +0700