Radar Madura JawaPos.com | Kolom RSS News Feed https://radarmadura.jawapos.com/rss/277/kolom http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarmadura-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarmadura-logo1.png Radar Madura JawaPos.com | Kolom RSS News Feed https://radarmadura.jawapos.com/rss/277/kolom id Tue, 19 Feb 2019 10:22:46 +0700 Radar Madura <![CDATA[Kiai dan Peta Elektoral Madura 2019]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/19/120223/kiai-dan-peta-elektoral-madura-2019 https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/19/120223/kiai-dan-peta-elektoral-madura-2019

THE Initiative Institute pada 10–18 Oktober 2018 melakukan survei elektabilitas calon presiden di Jawa Timur dan menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul]]>

THE Initiative Institute pada 10–18 Oktober 2018 melakukan survei elektabilitas calon presiden di Jawa Timur dan menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan angka 57,7 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 19,7 persen. Keunggulan pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mewakili semua wilayah di Jawa Timur. Di Madura, pasangan Prabowo-Sandi justru menang dengan angka 43 persen, sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 20,5 persen.

Bayang-bayang kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Madura tidak bisa dinafikan. Bahkan, jika melihat hasil Pilpres 2014 menunjukkan bahwa pasangan Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK. Saat itu, perolehan suara Prabowo-Hatta di Madura mencapai 830.968 dan Jokowi-JK hanya memperoleh 692.631 suara. Keadaan serupa akan berulang pada Pilpres 2019 jika tim kampanye pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mampu mendeteksi strategi yang efektif untuk mendulang suara di Pulau Garam.

Karena itu, pelacakan secara sosio-antropologis penting dilakukan untuk mengetahui aktor-aktor yang memainkan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Di Madura, ada tiga hierarki yang menjadi spirit masyarakat, yakni bapha’-babhu’, guru, rato (bapak-ibu, guru, dan pemerintah). Ketiga elemen ini merupakan hierarki ketaatan yang telah membentuk pola pandang masyarakat Madura. Mereka menjadi rujukan utama dalam laku, termasuk dalam menentukan pilihan politik sekalipun.

Jika dilihat secara politik, titik perbedaan ketiga hieraraki itu terletak pada cakupan pengaruhnya. Bapak-ibu hanya berpengaruh secara internal di lingkungan keluarga. Adapun pemerintah lebih luas pengaruhnya. Ia bisa menjangkau setiap segmen masyarakat. Tetapi, saat ini pemerintah cenderung diidentikkan dengan persoalan administratif. Ia harus menggandeng aktor-aktor lain agar mempunyai pengaruh lebih luas. Meskipun, di sisi lain, tidak menutup kemungkinan pemerintah mampu memberikan pengaruh besar melalui legitimasi kekuasaan formalnya.

Meski begitu, dalam konteks ini, kiai adalah aktor paling dominan dalam menebar pengaruh di masyarakat. Ia mempunyai segenap modal yang dapat mengukuhkan hegemoninya. Asal-usul genealogis seperti ilmu pengetahuan, nasab, dan kesetiaan mangayomi umat menjadi titik penentu bagaimana kiai relatif dominan memengaruhi masyarakat. Bahkan dalam praksis politik, kiai adalah vote getter yang bisa menentukan ke mana suara masyarakat akan berlabuh.

Dalam konstelasi politik Madura, posisi kiai sangat vital. Ia bisa menggunakan loyalitas masyarakat sebagai modal untuk melakukan political bargaining. Kiai bisa menjadi instrumen untuk merealisasikan cita-cita politisi dengan memanfaatkan modalitas yang dimilikinya. Namun, belakangan kataatan masyarakat digunakan oleh sebagian kiai untuk mengakses kekuasaan struktural. Mereka secara terang-terangan terjun ke politik dengan menggunakan kekuatan kulturalnya demi meraih kekuasaan struktural.

Karisma seorang kiai menjadi indiktor penting untuk mengetahui sejauh mana ia berkuasa. Antropolog Liek Arifin Mansurnoor (1990) menyinggung, semakin karismatik kiai, maka kekuasaan yang melekat dalam dirinya akan semakin kukuh. Ini artinya indikator pengaruh seorang kiai terhadap masyarakat terlatak pada karisma di dalam dirinya. Kiai mampu memengaruhi bahkan menghegemoni pemilih dalam menentukan pilihannya. Dalam hal ini, preferensi pemilih bertumpu pada alasan ”berbakti pada guru”.

Segendang sepenarian, kiai akan kembali menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi- Ma’ruf dan Prabowo-Sandi di Madura. Semakin banyak dukungan kiai, potensi menang akan lebih besar. Itulah alasan mengapa elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi dalam survei yang dilakukan The Initiative Institute. Alasannya, dukungan kiai terhadap Jokowi-Ma’ruf kurang masif.

 

Perang Elektabilitas

Sosok Ma’ruf Amin yang notabene adalah kiai dan tokoh berpengaruh di Nahdlatul Ulama (NU) belum mampu menaikkan elektabilitas mereka di Madura. Padahal, Ma’ruf Amin sendiri pernah menjabat Rois Aam PB NU yang dipilih oleh sembilan ulama senior melalui sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Penunjukan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mestinya mampu mengonsolidasi dukungan nahdliyin akar-rumput. Tapi, kenyataannya tak demikian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan elektabiltas Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi di Madura.

Pertama, menguatnya populisme Islam. Sejak aksi 212 di Jakarta pada 2016 silam Islam politik di Madura kian menunjukkan eksistensinya. Front Pembela Islam (FPI) merupakan motor penggeraknya. FPI gampang masuk dan diterima di Madura karena Aliansi Ulama Madura (AUMA) ikut memfasilitasinya. Keberadaan FPI ini pelan-pelan mengusik NU. Sejumlah kiai penting di Madura mulai tertarik dan bergabung dengan FPI. Alih-alih menyuarakan narasi Islam rahmatan lil 'alamin, mereka tergabung dalam arus dan gerakan #2019GantiPresiden.

Pada Pilpres 2019, sejumlah tokoh FPI di Sumenep menyatakan sikap untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Mereka adalah kiai yang tidak sekadar berpengaruh di FPI, tetapi juga disegani oleh kalangan nahdliyin. Sebagai sosok influencer, mereka dapat menggerus basis massa pendukung Jokowi-Ma’ruf karena kemampuan memobilisasi massa dan kecerdikan “menggoreng” isu yang penuh sentimen.

Kedua, minimnya dukungan dari kiai. Pengaruh besar kiai belum mampu dimaksimalkan oleh tim kampenya Jokowi-Ma’ruf. Kiai dimaksud di sini ialah mereka yang tidak tergabung dengan FPI, baik yang mempunyai pesantren maupun tergabung secara struktural di Nahdlatul Ulama (NU). Kelemahan ini disadari oleh tim lawan. Mereka mengakomodasi sejumlah kiai di Madura untuk memberikan dukungan elektoral kepadanya. Padahal, pasangan Jokowi-Ma’ruf memiliki pertalian kuat dengan NU. Meskipun secara resmi NU tidak memberikan dukungan pada siapa pun, kiai-kiai NU berhak menentukan pilihan politiknya. Lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Madura salah satunya disebabkan oleh kurang masifnya dukungan kiai terhadap mereka.

Kendati demikian, bukan tidak mungkin pasangan Jokowi-Ma’ruf dapat mengalahkan Prabowo-Sandi di Madura. Modal paslon 01 telah mencukupi, hanya butuh konsolidasi agar berjalan efektif. Ma’ruf Amin adalah kiai yang berpengaruh dan cukup masyhur di kalangan NU. Yang dibutuhkan ialah mengenalkannya lebih jauh pada kalangan nahdliyin Madura agar popularitasnya semakin tinggi sehingga bisa memantik layolitas masyarakat terhadap dirinya.

Di sisi lain, meminjam bahasanya Clifford Geertz (1960) kiai mempunyai peran sebagai perantara kuktural (cultural broker). Atas dasar itu, peran kiai tidak boleh dinafikan, terutama untuk menguatkan konsolidasi kalangan nahdliyin akar rumput agar melabuhkan pilihannya pada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Siapa pun yang menyadari dan memaksimalkan peran kiai, kemungkinan besar akan unggul dan menang di Madura. Toh, Pulau Garam galib disebut sebagai kunci kemenangan di Jawa Timur. 

 

*) Mantan ketua Perpustakaan SMA Annuqayah; alumnus Fakultas Hukum UBK Jakarta; Kornas Himpunan Aktivis Milenial Indonesia.

]]>
Abdul Basri Tue, 19 Feb 2019 10:22:46 +0700
<![CDATA[Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/09/118555/pers-menguatkan-ekonomi-kerakyatan-berbasis-digital https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/09/118555/pers-menguatkan-ekonomi-kerakyatan-berbasis-digital

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) diselenggarakan 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Tema peringatan tahun ini Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan]]>

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) diselenggarakan 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Tema peringatan tahun ini Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital. Kegiatan ini melibatkan Dewan Pers, berbagai asosiasi jurnalis, dan asosiasi perusahaan pers seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Serikat Perusahaan Pers (SPS), Serikat Grafika Pers (SGP), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

Pemilihan tema itu telah memberi kepercayaan bagi publik bahwa media digital tidak hanya persoalan dampak negatif saja seperti kegaduhan akibat penyebaran hoaks, minimnya etika bersosial media, dan ujaran kebencian di dunia maya. Tapi lebih dari itu. Perkembangan teknologi media digital yang begitu cepat dalam dimensi kehidupan sosial harus direspons oleh berbagai aktor. Tidak terkecuali oleh pers.

Bagi Cess J. Hamelink (1997), konsekuensi sosial dari perkembangan teknologi media digital memang telah melahirkan dua kutub pandangan. Yaitu kelompok yang pesimistis terhadap perkembangan media digital (dystopian perspective) dan kelompok yang tetap optimistis dengan perkembangan media baru atau digital (utopian perspective).

Pemilihan tema tersebut merupakan wujud optimistis bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan kekuatan ekonomi kerakyatan yang perlu ditingkatkan pangsa pasarnya melalui promosi dan sistem transaksi jual beli berbasis digital atau online. Bahkan perlu diingat bahwa pelaku UMKM ini menjadi pilar bisnis ekonomi bangsa yang mampu bertahan ketika krisis ekonomi moneter menimpa Indonesia pada 1997. Apalagi, berdasarkan data Kementerian Koperasi, usaha kecil dan menengah pada 2018 ada 59,2 juta pelaku UMKM dan 3,79 juta UMKM sudah go online.

Begitupun dengan Provinsi Jawa Timur yang menjadi tempat penyelenggara HPN 2019 juga memiliki semangat sama dalam sistem penguatan ekonomi kerakyatan. Jawa Timur merupakan satu-satunya provinsi yang memiliki Bank Perkreditan Rakyat UMKM untuk masyarakat Jawa Timur. Bank ini memberi bantuan kredit bagi pelaku usaha pertanian, perkebunan, manufaktur, kuliner, usaha kecil dan menengah lainnya. Jawa Timur juga mencatatkan sebagai provinsi yang pertumbuhan domestik regional bruto pada 2018 mencapai 5,57% atau di atas pertumbuhan nasional Indonesia yang hanya 5,27%.

Ketika melihat elemen pemerintah dan masyarakat mulai bergerak meningkatkan daya saing UMKM, sudah waktunya pers Indonesia memberikan sumbangsih konkret dan strategis dalam penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital dalam momentum Hari Pers Nasional 2019.

Posisi pers saat ini memiliki peran penting selain dukungan aktor pemerintah, publik, dan swasta. Pers dapat menjadi agen yang berperan signifikan dalam komunikasi pembangunan. Tentu posisi pers dalam komunikasi pembangunan di sini bukan bergerak atas kepentingan Pemerintah seperti pada Orde Baru. Sesuai UU 40/1999 bahwa pers berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, media kontrol sosial yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Sehingga, kegiatan jurnalistik yang dilakukan pers mendorong perubahan dan pembaruan sosial termasuk dalam informasi penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital.

 Apalagi di era media digital, setiap netizen memiliki kemampuan memproduksi pesan dan saling menukar pesan terhadap masyarakat luas (demassified). Bahkan lebih dari itu, netizen bisa langsung berjejaring untuk kepentingan bisnis dan kepeminatan tertentu. Tapi patut diakui tidak semua netizen memiliki tingkat kecakapan yang sama dalam berjejaring di dunia maya, sehingga kesenjangan digital juga masih dirasakan netizen di Indonesia. Bagi Mila G. Hernandes (2007), kesenjangan media digital bukan hanya persoalan minimnya infrastruktur digital, tapi juga bisa disebabkan oleh kurangnya kecakapan dan pemahaman pengguna terhadap internet.

Maka dari itu, pers sebagai lembaga kemasyarakatan perlu berperan dalam melakukan kegiatan edukatif terhadap kelompok-kelompok penggerak ekonomi kerakyatan yang belum menggunakan internet sebagai basis bisnis. Misalnya di wilayah perdesaan banyak petani, pengusaha konfeksi, pengusaha manufaktur, pengusaha kuliner lokal dan pelaku UMKM lainnya yang belum paham dan cakap menggunakan internet sebagai basis pengembangan bisnis.

Pers memiliki fungsi media pendidikan, sehingga menambah wawasan serta pengetahuan terhadap publik. Pers dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak kepentingan untuk melakukan pendampingan pengembangan sumber daya pelaku UMKM di berbagai daerah agar siap menuju ekonomi kerakyatan berbasis digital. Pelatihan semacam ini telah dilakukan oleh organisasi Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) wilayah Jawa Timur dengan tema Madura go to Digital”, yaitu memberikan pelatihan aplikasi kepada pengusaha UMKM di Madura agar dapat mempromosikan dan menjual produknya secara digital.

Pasca pelatihan, target berikutnya semua promosi dan transaksi akan terus didampingi oleh Japnas agar produknya tidak hanya laku di Madura saja. Tapi masuk ke pasar yang lebih luas di Indonesia dan luar negeri. Kegiatan serupa juga dilakukan komunitas Gerakan Melukis Harapan (GMH) yang memberikan pelatihan produksi UMKM kepada warga kampung bekas lokalisasi Dolly di Surabaya. GMH melatih warga untuk memproduksi dan memasarkan bahan minuman berbahan rumput laut yang diberi nama Orumy dan makanan olahan keripik singkong yang diberi nama Samijali.

Di era informasi semacam ini akan lebih optimal apabila kegiatan penguatan sosial di masyarakat bisa dilakukan berkolaboarasi dengan berbagai pihak kelompok kepentingan. Dengan demikian, manfaat yang didapatkan jauh lebih besar. Begitu pun dalam kegiatan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital bagi pelaku UMKM, pers bisa menjadi inisiator dalam kolaborasi antar lembaga seperti, dinas perindustrian dan perdagangan, lembaga pendidikan tinggi, dan asosiasi pengusaha supaya mendorong pelaku UMKM di berbagai daerah. Itu untuk meningkatkan kualitas produknya dan beralih menggunakan digital sebagai basis bisnis mereka.

Dengan begitu, pers menjadi elemen yang signifikan bermanfaat dan lebih dekat bersama masyarakat. Semoga tema Hari Pers Nasional 2019 bukan hanya sebatas barisan kata tanpa makna. Pers dapat berperan penting dalam komunikasi perubahan sosial, khususnya ekonomi kerakyatan berbasis digital. Selamat Hari Pers Nasional. 

]]>
Abdul Basri Sat, 09 Feb 2019 13:56:36 +0700
<![CDATA[Gengsi Adalah Fiksi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/04/117575/gengsi-adalah-fiksi https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/04/117575/gengsi-adalah-fiksi

Jika ditanya kota mana yang pemudanya paling rela melepas rasa gengsi, maka Jogjalah jawabannya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami selama sekitar delapan]]>

Jika ditanya kota mana yang pemudanya paling rela melepas rasa gengsi, maka Jogjalah jawabannya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami selama sekitar delapan tahun tinggal di Kota Gudeg. Dalam kunjungan terakhir ke daerah istimewa itu, bahkan saya berjumpa dengan seorang pemuda bergelar magister dari perguruan tinggi ternama yang tanpa gengsi menjadi pengemudi ojek online.

***

GERIMIS halus turun membasahi bumi malam itu. Udara dingin menelusup halus pada pori-pori tubuh. Lalu-lalang kendaraan masih melaju di Jalan Raya Malioboro, Kota Jogjakarta.

Sudah sekitar sepuluh menit saya menunggu pengemudi ojek online. Ini penantian yang cukup lama. Padahal biasanya hanya antara dua hingga lima menit lamanya. Hampir saja saya membatalkan orderan sebelum seorang pemuda yang mungkin usianya lebih muda dari saya datang menghampiri. ”Maaf, Mas, agak lambat. Soalnya orderan malam ini cukup padat,” katanya membuka pembicaraan.

Saya memintanya diantarkan ke kedai kopi Blandongan. Aktivis mahasiswa Jogja generasi 2000-an tentu akrab dengan kedai yang satu ini. Bahkan dulu ada ungkapan: tidaklah sempurna menjadi aktivis Jogja bila belum pernah ngopi di Blandongan.

Di perjalanan, mas ojek itu bertanya asal tempat tinggal saya. Dia sangat pintar menciptakan suasana akrab dengan penumpangnya. Pembicaraan pun mengalir hingga akhirnya saya pun penasaran ingin tahu dari mana asal dan di mana dia tinggal sekarang.

Si abang ojek itu rupanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Timur. Dan yang membuat saya tertegun, dia sudah belasan tahun tinggal di Jogja. Mulai sejak SMA hingga lulus pascasarjana.

Saya tanya mengapa dia mau jadi pengemudi ojek online? Bukannya banyak pekerjaan lain yang lebih menjanjikan? Apa dia tidak gengsi? Dan pertanyaan-pertanyaan lain pun terus saya suguhkan.

Jawabannya sungguh di luar dugaan. Katanya, dia sebenarnya ingin jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi saat mendaftar tidak lulus. Tetapi menjadi pengemudi ojek menurutnya juga bukanlah pekerjaan yang buruk. Bahkan dari segi pendapatan, dia bisa meraup keuntungan lebih besar daripada PNS yang tak berpangkat.

Soal gengsi, dia sudah melemparnya jauh-jauh. Baginya, gengsi hanya akan membuatnya terpuruk. Orang yang gengsi akan terus dihantui oleh ketakutannya sendiri hingga dia lupa yang mana realitas dan yang mana harus dijalani.

Bagi penganut gengsiisme, tentu tidaklah rela bila lulusan pascasarjana menjadi tukang ojek. Dia lebih memilih menjadi pengangguran, sembari menunggu pekerjaan kantoran datang. Kemudian, dia akan memperhatikan grafik statistik tentang ribuan sarjana yang tidak punya pekerjaan. Lalu merasa senasib seperjuangan dan ramai-ramai mengutuk pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai.

Pekerjaan seakan-akan hanya yang duduk di kantoran. Pandangan semacam ini tertanam kuat, terutama bagi orang-orang yang hidup di zaman Orde Baru. Bagi mereka, menjadi PNS merupakan satu-satunya kehormatan meski dengan bayar ratusan juta sekalipun.

Padahal zaman sudah berkembang pesat. Konon tukang ojek dianggap aib, tapi berkat perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kini sudah menjadi pekerjaan idaman. Setidaknya bisa kita lihat hari ini sangat mudah menjadi lulusan perguruan tinggi ternama yang tanpa malu menjadi pengemudi ojek online.

Ngapain gengsi. Toh sepeda motor juga milik mereka sendiri. Dia juga bisa mendapatkan pahala karena telah mengantarkan orang lain ke tempat tujuan. Selain itu, jelas rezeki yang mereka dapatkan lebih halal daripada hanya yang mengandalkan proposal ke kantor-kantor pemerintahan.

Di Jogjakarta, ada ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang setangguh mas ojek online tersebut. Jika ingin bukti, datanglah ke Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di Jalan Parangtritis, Bantul. Pesantren ini telah meluluskan ratusan alumnus yang seluruhnya berideologi ”gengsi tai kucing”.

Istilah ”gengsi tai kucing” ini kali pertama diungkapkan oleh almarhum KH Zainal Arifin Thoha, pendiri pesantren tersebut. Kepada para santri, pria yang akrab disapa Gus Zainal itu selalu mewanti-wanti agar melepas rasa gengsi. Menurutnya, sikap gengsi, malu, atau terlalu mengagung-agungkan harga diri, tak lebih dari kotoran kucing yang tak berharga.

Santri-santri di sini rela bekerja serabutan demi mencapai kesuksesan. Ada yang menjadi loper koran. Ada pula yang jualan buku, jualan gorengan, dan pekerjaan-pekerjaan yang butuh mental kuat lainnya. Bagi santri, yang penting bisa hidup mandiri dengan jerih payah sendiri.

Di pesantren ini, seluruh santri harus hidup mandiri. Tidak boleh ada santri yang minta kriman kepada orang tua. Kalaupun mau minta kiriman, maksimal hanya tiga bulan sejak hari pertama mondok.

Mayoritas mahasiswa di pesantren ini kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Sebelum 2010, sangat mudah mencari santri Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di kampus tersebut. Tinggal perhatikan baju dan sepeda ontel yang digunakan. Jika penampilannya kucel, sepeda ontelnya karatan, dan tubuhnya kurus kerempeng, itu sudah bisa dipastikan santri Kutub, sebutan lain Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari.

Tapi jangan heran, meski penampilannya sangat memalukan, intelektualitas mereka di atas rata-rata. Setiap saat tulisan-tulisan santri Kutub tayang di media massa. Baik media massa lokal ataupun nasional.

Menulis menjadi jalan hidup atau jihad santri Kutub. Bagi mereka, menulis akan memperpanjang usia. Atau bahkan, menulis bisa menutupi utang. Dengan honor-honor yang diterima, mereka bisa membayar utang atau buat makan sehari-hari.

Banyak pemuda-pemuda asal Madura yang nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Mereka datang ke Jogja dengan modal nekat, ingin kuliah tapi tanpa membebani orang tua. Alumninya pun kini tersebar di berbagai daerah dan sukses dengan profesinya masing-masing. Ada yang menjadi dosen, tenaga ahli DPR RI, penyelenggara dan pengawas pemilu, pengusaha, kiai, dan semacamnya.

Mahwi Air Tawar, Achmad Muhlis Amrin, Bernando J. Sujibto, Salman Rusydie Anwar adalah sederet penulis produktif asal Sumenep yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Bagi penikmat sastra, tentu akrab dengan nama-nama di atas. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah melepas rasa gengsi demi mencapai kesuksesan hakiki.

Seandainya Rocky Gerung pernah bertemu dengan santri Kutub, barangkali dia akan mengatakan bahwa gengsi itu fiksi. Dan seandainya kalimat itu benar-benar diucapkan, untuk pertama kalinya saya akan bersepakat dengan dia. 

 

]]>
Abdul Basri Mon, 04 Feb 2019 10:18:00 +0700
<![CDATA[Genangan Bukan Kenangan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/01/117132/genangan-bukan-kenangan https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/02/01/117132/genangan-bukan-kenangan

JIKA melihat judul sepintas ada kemiripan rima. Namun, dipastikan berbeda. Baik kata maupun arti. Yang membedakan hanya satu huruf ”g” dan huruf ”k” di awal]]>

JIKA melihat judul sepintas ada kemiripan rima. Namun, dipastikan berbeda. Baik kata maupun arti. Yang membedakan hanya satu huruf ”g” dan huruf ”k” di awal kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata genangan berarti tempat atau daerah yang berair. Sedangkan kenangan sendiri memiliki arti sesuatu yang membekas dalam ingatan. Seperti seseorang, tempat, atau semua benda, dan segala yang dibendakan.

Salah satu contoh kalimat yang biasa diungkapkan anak milenial: Hujan banyak kenangan eh genangan. Dalam ungkapan kalimat tersebut seolah ada kekeliruan yang tidak disengaja. Namun, langsung dibenarkan hanya dengan kata eh. Kalimatnya menggelitik. Bahkan, membuat kita senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Tidak demikian bagi seseorang yang hatinya gundah gulana. Atau bagi mereka yang galau.

Terlepas dari itu, berbicara genangan pikiran saya langsung tertuju pada luapan Sungai Kamoning di Sampang. Akibat luapan terjadilah genangan. Iya genangan. Genangan yang membuat beberapa daerah terendam. Terutama di perkotaan. Terjadi setiap tahun. Saat musim hujan seperti sekarang.

Di Kota Bahari, selama Januari sudah tiga kali banjir akibat luapan Sungai Kamoning. Sehingga ada genangan. Semakin meluas. Tidak hanya kediaman warga yang menjadi sasaran. Lahan pertanian, lembaga pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, dan lain sebagainya tidak luput menjadi sasaran genangan.

Kedalaman air bervariasi. Mulai dari tumit hingga pinggang orang dewasa. Bahkan, ketinggian mencapai dada. Warga di daerah terdampak ketika musim penghujan seakan paham datangnya ”tamu” tak diundang itu. Misalnya, ketika hujan lebat turun. Terutama di daerah pantai utara (pantura).

”Siap-siap Sampang (daerah perkotaan) akan kedatangan tamu”. Celetukan seperti itu biasa terdengar. Kalimat tersebut diungkapkan sebagai candaan. Juga bentuk kekecewaan, bahkan kekesalan.

Berbicara ”genangan”, bukan hanya Sampang yang sering disinggahi. Tiga kabupaten lain di Madura, yaitu Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep juga kerap terjadi. Genangan semakin meluas membuat masyarakat waswas. Bagi anak-anak, ”genangan” membuat mereka senang. Wilayah terdampak dijadikan tempat bermain.

Siapa yang akan disalahkan? Pemilik lahan yang mendirikan perumahan, kos-kosan, took, dan lain sebagainya, sehingga lahan pertanian semakin sempit? Atau pemerintah yang tidak tanggap menyikapi? Seperti membangun irigasi atau saluran di sekitar bangunan yang sudah mulai pesat.

Meskipun ada irigasi tapi tersumbat saking banyaknya sampah yang menumpuk jadi satu. Hal itu perlu dikaji. Perlu dibicarakan oleh kepala daerah. Dibahas untuk mencari solusi. Bukan ujuk-ujuk membangun instalasi pompa banjir di lima titik.

Sementara normalisasi serta pemasangan sheet pile baru digarap. Banyak dampak akibat ”genangan” yang meluas. Infrastruktur seperti jalan cepat rusak. Tebing di pinggir sungai abrasi. Saking derasnya aliran.

Tidak sedikit kesehatan warga terganggu. Misalnya penyakit leptospirosis. Penyakit tersebut disebabkan bakteri leptospira. Penyebaran melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri. Seperti anjing dan tikus. Mirisnya lagi, ada warga yang meninggal terseret arus banjir. Saking derasnya.

Setiap tahun menjadi langganan banjir di Sampang. Berbagai macam cara dilakukan untuk mengatasi agar bebas dari genangan. Nyatanya, ”tamu” tak diundang masih saja singgah.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan instalasi pompa banjir. Proyek tersebut lebih kurang menyedot anggaran Rp 42 miliar. Sedangkan proyek yang sedang berjalan yakni normalisasi Sungai Kamoning dan pemasangan tiang pancang atau sheet pile Rp 365,3 miliar.

Pekerjaan mulai 2017 hingga 2019. Pekerjaan multiyear contract (MYC) itu harus diselesaikan akhir tahun ini. Meskipun, pekerjaannya diberhentikan sementara karena faktor cuaca. Tidak hanya itu, Pemkab Sampang akan membangun floodway atau sodetan. Saat ini proses pembebasan lahan.

Sodetan yang akan dibangun dengan panjang 7 kilometer dan lebar 70 meter. Sedikitnya terdapat 237 lahan penduduk terdampak. Lahan itu terdiri dari rumah dan tambak. Namun, pembebasan yang seharusnya dimulai 2018 itu belum terlaksana. Pembebasan lahan dianggarkan Rp 5 miliar.

Pola dan tatanan pemerintahan di Sampang perlu ada perombakan. Nah, gebrakan Bupati Sampang H Slamet Junaidi dan Wabup H Abdullah Hidayat ditunggu-tunggu masyarakat. Bukan hanya gebrakan perkara banjir. Tapi, semua persoalan di Sampang. Kita lihat saja, seperti apa pola kepemimpinan mereka.

Berklai-kali berganti pemimpin, persoalan banjir tak kunjung membuahkan hasil. Pun peningkatan infrastruktur. Yang menjadi salah satu tolok ukur kepala daerah adalah bisa membawa daerah selangkah lebih maju. Bukan hanya Sampang, pemimpin di Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep untuk berlomba-lomba meningkatkan prestasi. Bukan hanya adu argumentasi atau mencari sensasi.

]]>
Abdul Basri Fri, 01 Feb 2019 10:53:49 +0700
<![CDATA[Jatah Preman]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/28/116252/jatah-preman https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/28/116252/jatah-preman

Di mana bumi diinjak, di situ akan ada preman. Di mana ada preman, di situ pasti ada permintaan jatah. Sesuai dengan kadar keimanan dan maqam atau kedudukan]]>

Di mana bumi diinjak, di situ akan ada preman. Di mana ada preman, di situ pasti ada permintaan jatah. Sesuai dengan kadar keimanan dan maqam atau kedudukan si preman tersebut.

 

PERTENGAHAN Januari lalu, saya bersama beberapa kru kantor Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bertamasya ke Bandung, Jawa Barat. Di Paris van Java ini saya mendapatkan banyak pengalaman. Bukan hanya soal pariwisata dan dinginnya Kota Kembang, melainkan soal istilah ”jatah preman” pun saya juga mendapatkannya.

Ceritanya begini. Saat bus yang saya tumpangi berhenti di titik-titik strategis, selalu ada pedagang dan pengamen masuk. Pedagang itu menyuguhkan aneka makanan, suvenir, atau oleh-oleh khas Bandung lainnya. Sedang si pengamen akan menyanyikan lagu-lagu yang mereka hafal. Tak peduli suaranya bagus atau jelek. Disukai penumpang bus atau tidak, itu bukan urusan mereka. Yang terpenting, mereka mendapat jatah untuk makan dan kebutuhan lainnya.

Jika dagangan tak laku, atau pengamen tak mendapatkan uang receh, maka mereka akan menggerutu. Kata-kata kasar pun bisa keluar dari bibir mereka. Wisatawan akan disebut pelit dengan menggunakan bahasa Sunda kasar yang tak mudah dimengerti pendatang.

Pemandangan bus pariwisata dimasuki pedagang dan pengamen tentu cukup mengganggu wisatawan, termasuk saya. Ini merupakan kali pertama saya mendapat pemandangan bus pariwisata diserbu pedagang dan pengamen. Di kota-kota wisata lainnya, saya belum pernah merasakannya.

Raut wajah kami yang kurang nyaman dengan hadirnya pedagang dan pengamen ini rupanya disadari betul oleh agen travel. Pemandu wisata berkali-kali menjelaskan bahwa tak bisa menghalangi pedagang dan pengamen masuk ke dalam bus. Jika tidak diizinkan masuk, dikhawatirkan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebab menurut si pemandu wisata, pernah suatu ketika ada rombongan wisatawan dari Jogjakarta datang ke Bandung. Pedagang dan pengamen tidak diizinkan untuk masuk ke bus yang mereka tumpangi. Apa yang terjadi, di tengah perjalanan, bus asal Kota Gudeg itu dilempari batu.

Daripada terjadi semacam itu, lebih baik kita izinkan mereka masuk,” kata si pemandu wisata. Ya isitilahnya memberi jatah preman lah,” tambahnya menghibur kami yang mulai mengerutkan dahi.

Ya, jatah preman. Istilah ini cukup akrab di mata masyarakat. Jika ditilik melalui sejarah politik di negeri ini, preman cukup akrab di era Orde Baru. Mereka kerap dikendalikan oleh pemerintah untuk mengendalikan kuasa rezim. Bahkan, sebuah organisasi bentukan pemerintah bisa menggebuki warga yang dianggap mengkritisi pemerintah.

Modusnya macam-macam. Bisa saja mereka yang digebuki dianggap menentang atau melawan Pancasila. Atau karena dianggap menyebabkan ketidakstabilan sosial dan politik. Atau karena dinilai mengganggu terhadap bisnis para penguasa. Atau karena alasan-alasan lainnya yang entah apalah itu namanya.

Preman kadang kala didefinisikan sebagai free man, atau orang yang bebas. Orang-orang yang tergabung dalam kelompok ini menganggap dirinya kebal hukum. Karenanya mereka seakan-akan bebas melakukan tindakan apa pun.

Tetapi dalam konteks sosial politik, preman tidak cukup didefinisikan dengan istilah tersebut. Sebab, preman bukan hanya kelompok kriminal belaka. Preman bukan hanya yang melakukan pemalakan terhadap wisatawan, terhadap pemilik kendaraan, ataupun yang lainnya. Preman dalam konteks politik bisa berwajah dengan aneka ragam.

Ada preman yang berbaju agama. Mereka seakan-akan memiliki kebebasan untuk menggebuki orang lain yang dinilai melanggar aturan keagamaan. Dengan dalih menegakkan agama, segala bentuk kekerasan dihalalkan.

Ada pula preman yang berbaju Pancasila. Mereka seakan-akan bebas melakukan sweeping, termasuk menggebuki orang lain yang dinilai menentang Pancasila. Baik kelompok yang berbaju agama atau berbaju Pancasila ini kerap melakukan penghakiman mendahului penegak hukum.

Selain kelompok di atas, ada pula preman anggaran. Nah, kelompok ini saya waswas untuk menjelaskan. Sebab, mereka merupakan orang-orang terdidik yang tentu saja punya strategi tersendiri untuk menjarah anggaran pemerintahan.

Preman anggaran ini harus mendapat jatah. Jika tidak, mereka akan menghambat pembangunan. Bahkan, pembahasan anggaran bisa saja tak selesai-selesai jika si preman anggaran ini tak kebagian.

Pernah suatu ketika seorang kepala dinas curhat kepada saya. Dia mengeluh betapa susahnya mengusulkan anggaran. Sebab, perlu bisik-bisik dan bahkan perlu ”busuk-busuk” agar anggaran mudah diusulkan.

Preman anggaran ini tentu paling berbahaya dibanding dengan ragam preman lainnya. Jika preman seperti di Bandung tadi sangat kasatmata. Mereka bekerja, meminta ”hak” sesuai dengan yang dibutuhkan. Tak perlu kaya raya atau jarahan melimpah, yang penting kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi sudah cukup.

Preman berkedok agama dan Pancasila juga mudah dilihat mata. Mereka yang menghalalkan segala tindakan kekerasan bisa segera ditertibkan oleh aparat pemerintah. Kendati dalam kasus-kasus tertentu, kelompok tersebut juga cenderung dipelihara demi kepentingan politik sesaat.

Tetapi, preman anggaran sulit terlihat mata. Sebab transaksinya bukan lagi di jalanan, bukan di tempat keramaian, bukan pula dengan cara kekerasan. Mereka halus, santun, tapi menikam.

Mereka tak langsung mengancam keselamatan rakyat. Mereka juga tak meminta uang dari rakyat secara langsung. Tetapi mereka menggerogoti anggaran yang didapat dari pajak yang dibayarkan rakyat.

Lalu bagaimana caranya mengatasi para preman-preman itu? Tentu saja harus dikembalikan kepada tugas masing-masing. Jika penegak hukum, tegakkanlah hukum tanpa pandang bulu. Jika ahli agama, sampaikanlah nilai-nilai agama tanpa kepentingan lainnya.

Tetapi membasmi kelompok preman hingga ke akar-akarnya bukanlah perkara mudah. Sebab di dunia ini, di mana ada Musa di situ pasti ada Firaun. Negara hukum akan terus berhadapan dengan negara para preman. Kita hanya bisa berikhtiar agar negara hukum tidak dikerdilkan oleh kelompok atau aliran pengusung negara preman.

]]>
Abdul Basri Mon, 28 Jan 2019 10:00:56 +0700
<![CDATA[Satukan Hati Menuju Madura Provinsi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/23/115369/satukan-hati-menuju-madura-provinsi https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/23/115369/satukan-hati-menuju-madura-provinsi

MIMBAR diskusi tentang pembentukan Madura Provinsi kembali digelar. Rentetan kegiatan pengukir catatan sejarah itu akan diselenggarakan di Kota Pahlawan]]>

MIMBAR diskusi tentang pembentukan Madura Provinsi kembali digelar. Rentetan kegiatan pengukir catatan sejarah itu akan diselenggarakan di Kota Pahlawan, Surabaya, Sabtu (26/1).

Para pemangku kebijakan seperti bupati, ketua DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh partai politik yang duduk di kursi parlemen dijadwalkan hadir. Isu-isu strategis akan dibahas. Langkah perjuangan akan dikaji bersama.

Putusan MK yang menolak judicial review UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah tidak menyurutkan semangat masyarakat Madura untuk mandiri. Berbagai celah akan ditempuh demi terwujudnya kedigdayaan ekonomi.

Isu kesejahteraan menjadi topik pembicaraan hangat. Sebab, rakyat yang hidup di surga sumber daya alam (SDA) itu masih dihantui kemiskinan. Bahkan empat kabupaten di Madura masuk enam daerah termiskin di Jatim.

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim 2016, posisi pertama enam kabupaten termiskin diduduki Kabupaten Sampang. Dengan jumlah penduduk miskin 227.800 orang.

Disusul Bangkalan sebanyak 205.710 orang. Sumenep berada di posisi empat dengan jumlah penduduk miskin 216.140 orang. Sementara Pamekasan berada di posisi enam dengan jumlah warga miskin 142.320 orang.

Menjadi rahasia umum bahwa Madura surga minyak dan gas bumi (migas). Puluhan corong sumur menganga siap mengeluarkan minyak mentah dan gas bumi. Kekayaan alam itu melimpah.

Dari ujung timur Pulau Madura, sebanyak tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan eksplorasi. Yakni, PT Kangean Energi Indonesia (KEI) Ltd. di Blok Pagerungan Besar, Kecamatan/Pulau Sapeken.

Kemudian, Blok Terang Sirasun Batur (TSB) di perairan Pulau Komirian, Kecamatan/Pulau Raas. Lalu, PT Santos Pty. Ltd. menggarap Blok Maleo tepatnya di perairan Pulau/Kecamatan Giligenting.

Empat perusahaan pengelola migas lain dalam tahap ekplorasi. Yakni, PT Energi Mineral Langgeng (EML) di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi. Perusahaan tersebut mengembangkan pengeboran migas di daratan (onshore).

Lalu, Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Perairan Raas, Husky Anugerah Limited di perairan Sapeken dan Petronas Carigali di perairan Pasongsongan. Tiga perusahaan tersebut mengebor di wilayah laut (offshore).

Ironi. Dari tiga blok migas yang berproduksi, hanya satu yang masuk wilayah Sumenep. Yakni, blok Pagerungan Besar. Posisi sumur itu berada di kawasan 4 mil dari darat. Sementara blok TSB merupakan kewenangan Pemerintah Pusat karena posisinya diatas 12 mil laut.

Lalu, blok Maleo yang digarap PT Santos Pty. Ltd. menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jatim karena berada di kawasan diatas 4 mil laut. Kawasan blok ini sempat digugat Pemkab Sumenep. Namun, sampai sekarang tetap menjadi kewenangan Pemprov Jatim.

Kabupaten Sampang bukan termasuk wilayah penghasil migas. Lokasi sumur milik PT Santos Pty. Ltd. berada di wilayah laut di atas 4 mil. Dengan demikian, kewenangannya berada di bawah kuasa Pemprov Jatim.

Bangkalan menjadi wilayah penghasil migas. Sebab, sumur milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) West Madura Offshore (WMO) berada di wilayah laut 4 mil ke bawah. Dari sekian banyak blok migas di Madura, yang menyumbang dana bagi hasil (DBH) khusus kategori daerah penghasil migas hanya dua blok.

Migas belum memberikan dampak kesejahteraan yang signifikan. Sebab, hasil yang didapat hanya sedikit. Satu-satunya cara untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat Madura dari sisi migas, wajib hukumnya mandiri menjadi provinsi.

Sesuai UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemeirntah Pusat dan Pemerintah Daerah diatur jelas hak yang diperoleh pemerintah daerah. Pasal 14 huruf (e) dan huruf (f) menjelaskan secara detail penerimaan itu.

Khusus pertambangan minyak bumi, pemerintah pusat menerima 84,5 persen, sedangkan pemerintah daerah menerima 15,5 persen. Sementara pembagian penerimaan gas yaitu 69,5 persen pemerintah pusat dan 30,5 persen pemerintah daerah.

Perincian pembagian penerimaan untuk pemerintah daerah dijelaskan pada pasal 19 ayat (2) dan (3). Yakni, 3 persen untuk pemprov, 6 persen untuk daerah penghasil, dan 6 persen untuk daerah dalam provinsi yang bersangkutan.

Kemudian, pembagian penerimaan gas yakni 6 persen untuk pemprov, 12 persen untuk kabupaten/kota penghasil, dan 12 persen lainnya untuk kabupaten dalam provinsi yang bersangkutan.

Pembagian itu akan akumulatif milik Madura jika menjadi provinsi tersendiri terwujud. Bisa dibayangkan, 15,5 persen dari penerimaan minyak dan 30,3 persen penerimaan gas akan dikelola secara mandiri oleh Madura.

Rakyat Madura akan sejahtera. Masyarakat tidak perlu mencari penghidupan ke daerah lain bahkan sampai ke luar negeri. Tidak akan ada cerita warga Madura meninggal di negeri jiran. Tidak akan ada lagi cerita warga kelaparan.

Maka saatnya, satukan hati, satukan tekad menuju Madura Provinsi. Menjadi mandiri bukanlah utopia belaka. Ada celah yang bisa ditempuh. Salah satunya, pemekaran daerah. Salah satu kabupaten harus mekar menjadi kabupaten dan kota.

Secara geografis, sangat memungkinkan pembentukan Kota. Tinggal keseragaman keinginan dari seluruh komponen di Madura untuk mewujudkan cita-cita itu. Khususnya, bulat tekad dari para pemangku kuasa.

]]>
Abdul Basri Wed, 23 Jan 2019 10:40:44 +0700
<![CDATA[Jurus Kancil Herman Dali Kusuma]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/11/112985/jurus-kancil-herman-dali-kusuma https://radarmadura.jawapos.com/read/2019/01/11/112985/jurus-kancil-herman-dali-kusuma

UNTUK kali ke sekian, Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma lolos dari kudeta internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)]]>

UNTUK kali ke sekian, Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma lolos dari kudeta internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Padahal pimpinan tertinggi partai yang didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu telah mengeluarkan surat keputusan (SK) pergantian ketua DPRD. Tetapi apalah daya, Herman terlalu licin untuk digulingkan begitu saja.

Pertarungan Herman dengan elite PKB ibarat cerita kancil melawan raja hutan. Tubuh Herman memang tidak semungil kancil. Herman tinggi besar. Tapi strategi perlawanannya dalam mengelabui para elite partai hampir serupa dengan cara kancil melawan harimau, buaya, dan makhluk ganas lainnya di hutan belantara.

Banyak kisah tentang kancil. Misalnya saat kancil dikejar-kejar harimau untuk dimakan. Dia berlari hingga ke anak sungai. Di sungai telah banyak buaya yang siap menyantapnya hidup-hidup.

Kancil dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama membuka pintu ajal. Mundur dia akan disantap harimau. Sedangkan maju, tentu daging dan tulang belulangnya akan remuk dilumat gigi tajam buaya.

Tipu muslihatnya pun dikeluarkan. Dia mengatakan kepada buaya bahwa harimau memerintahkan seluruh buaya berbaris di sungai. Jika tidak, si raja hutan itu akan menerkam seluruh buaya di sungai tersebut.

Buaya ketakutan, dan seketika berbaris rapi hingga menjadi jembatan penyeberangan bagi kancil. Satu per satu buaya itu dilewatinya hingga ke seberang. Lalu apa yang terjadi, kancil mencundangi buaya dan mengatakan bahwa dirinya sedang menipunya mentah-mentah. Dengan kecerdikannya dia bisa melampaui dua ancaman kematian sekaligus.

Dari segi fisik, apalah artinya si kancil di hadapan harimau dan buaya. Kancil tidak punya kekuatan untuk memangsa lawan. Dia hanya bisa berpikir mencari jalan keluar dari ancaman yang bertubi-tubi dihadapinya.

Dalam kasus ketua DPRD Sumenep, begitu Herman dihantam oleh elite-elite PKB, dia berlindung kepada partai lain. Bahkan, dia dekat dengan para oposisi di parlemen. Berkat kedekatannya itulah, Herman dilindungi dari ancaman kudeta partainya sendiri.

Perlindungan yang diberikan oleh partai-partai lain begitu nyata. Kendati tidak diucapkan secara verbal, tetapi pembelaan dilakukan secara masif oleh mayoritas anggota DPRD di Sumenep. Buktinya, empat kali sidang paripurna, empat kali pula gagal terlaksana.

Mengapa wakil rakyat tidak menghadiri paripurna? Alasannya tentu beragam. Ada yang izin karena sakit, berhalangan, atau benturan dengan kegiatan lain. Ada pula yang tidak memberi keterangan apa pun.

Tapi itukah alasan yang sebenarnya? Orang yang melek politik pasti yakin bahwa bolos masal yang dilakukan oleh wakil rakyat sebagai bentuk pembelaan terhadap Herman. Sebab, manakala paripurna digelar dan yang hadir mencapai 2/3 dari 50 anggota dewan, maka surat pergantian ketua DPRD bisa dibacakan, dan otomatis Herman akan tumbang.

Tapi faktanya, sudah dua bulan lebih tak ada sidang paripurna yang kuorum di DPRD Sumenep. Itulah Herman Dali Kusuma, si otak kancil yang bisa berlindung kepada kebaikan buaya dari ancaman si raja hutan harimau. Herman yang oleh banyak orang dianggap tidak akan berdaya melawan partainya, toh kenyataannya tetap berkuasa hingga sekarang.

Selain tentang harimau dan buaya, ada pula kisah kancil yang mencuri mentimun. Pak Tani marah besar karena timun-timunnya yang segar setiap saat hilang. Dia pun berupaya untuk menangkap makhluk yang mencuri mentimun-mentimun itu.

Upaya Pak Tani berhasil. Kancil ditangkap hidup-hidup. Lalu, apakah nasib kancil berakhir? Tentu bukan kancil namanya jika tidak bisa keluar dari ancaman kematian. Kancil tetap bisa lolos.

Saat kancil tertangkap dan siap dihabisi, akal bulusnya langsung muncul. Dia pura-pura mati dan Pak Tani pun memercayainya. Karena kancil mati, Pak Tani pun membuangnya. Kancil yang pura-pura mati itu pun bisa kabur dari kematian.

Satu hal yang tentu publik masih ingat. Saat PKB berkirim surat terkait reposisi ketua DPRD, Herman melakukan perlawanan. Dia melayangkan surat gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Sumenep. Surat gugatan inilah yang dijadikan alasan oleh pimpinan DPRD yang lain untuk tidak membacakan surat pergantian saat paripurna pengesahan APBD Sumenep 2019 akhir Oktober 2018 lalu.

Elite PKB pun naik pitam. Mereka menggelar sidang pleno dan memutuskan Herman akan dikeluarkan dari partai berlambang bumi dikelilingi sembilan bintang tersebut. Jika keanggotaan Herman dicabut, maka dia tidak bisa maju dalam Pemilu 2019 dan bahkan keanggotaannya di DPRD juga bisa berakhir.

PKB memberi dua pilihan. Herman mencabut gugatannya dan membacakan surat pergantian ketua DPRD. Jika dua ultimatum itu tidak diikuti, maka hak politik Herman di PKB bisa berakhir.

Seperti kancil yang ditangkap hidup-hidup oleh Pak Tani, Herman tetap dingin dan berupaya mencari jalan keluar. Dia seperti menyerah. Buktinya, gugatannya di PN Sumenep dicabut dan dia berjanji akan membacakan surat reposisi dari PKB.

Dengan dua hal itu, hak keanggotaan Herman di PKB tetap aman. Dia tetap bisa mencalonkan diri dalam Pemilu 2019 dan keanggotaanya di DPRD Sumenep juga tidak dicabut. Lantas, apakah Herman membacakan surat pergantian ketua DPRD dari PKB? Jawabannya pasti tidak. Dia tidak mungkin meminum racun yang diraciknya sendiri.

Herman melunak di hadapan elite PKB bukan berarti dia menyerah. Dia mengaku tidak berdaya bukan berarti tidak bisa melakukan tipu daya. Secara formalitas, dia mengagendakan paripurna untuk membacakan surat pergantian. Tapi di saat yang sama, para koleganya tidak menghadiri undangan paripurna tersebut.

Cerita tentang Herman Dali Kusuma tidak berhenti sampai di sini. Sebab berdasar informasi yang beredar, keinginan elite PKB untuk mereposisi ketua DPRD masih kuat. Lagi pula, masih ada waktu sekitar 40 hari ke depan untuk melakukan pergantian. Artinya Herman belum aman dari ancaman penggulingan.

Tapi seperti cerita kancil, Herman tentu tidak akan kehilangan akal untuk melewati berbagai ancaman. Bahkan, ancaman dari raja hutan sekalipun dia bisa melewatinya. Hanya takdir dan ajal yang bisa mengakhiri kisah-kisah kancil.

Kisah kancil sudah melegenda. Tidak hanya di Nusantara, tapi juga di seluruh asia tenggara. Jika Herman Dali Kusuma bisa terlepas dari kudeta, maka bukan tidak mungkin kisahnya akan melegenda di masa-masa yang akan datang. Kita tunggu saja hingga akhir Februari mendatang.

]]>
Abdul Basri Fri, 11 Jan 2019 06:00:59 +0700
<![CDATA[Pemilih Berdaulat, Negara Kuat]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/31/110997/pemilih-berdaulat-negara-kuat https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/31/110997/pemilih-berdaulat-negara-kuat

UNDANG-UNDANG Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu membawa perubahan yang signifikan.]]>

UNDANG-UNDANG Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu membawa perubahan yang signifikan. Berkat UU tersebut pemilu dapat digelar secara serentak pada 17 April 2019 mendatang. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya di mana pemilu diatur dalam tiga regulasi, yakni UU Nomor 42/2009 tentang Pilpres, UU Nomor 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu, dan UU Nomor 8/2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Hajatan pemilu serentak berkat adanya UU 7/2017 ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat partisipasi pemilih. Sebab ada asumsi bahwa masyarakat jenuh terlalu sering datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Dapat disimpulkan, jika pemilu dilakukan secara serentak, maka akan lebih efisien dalam segala halnya.

Pada 17 April 2019 nanti pemilu dilakukan secara serentak untuk memilih presiden dan Wapres, anggota DPR, DPD, dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Artinya ini sejarah pemilu di Indonesia, sebagai perwujudan sistem ketatanegaraan yang demokratis dan berintegritas demi menjamin konsistensi dan kepastian hukum serta pemilihan umum yang efektif dan efisien.

Membahas persoalan kepastian hukum, tidak terlepas dari penegakan hukum pemilu, dalam UU 7/2017 setidaknya membahas dua hal. Pertama, pelanggaran pemilu, dan kedua, sengketa pemilu.

Pelanggaran pemilu terdiri atas pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu, pelanggaran administrasi pemilu serta pelanggaran tindak pidana pemilu. Termasuk di dalamnya adanya praktik jual beli suara (money politics), baik yang dilakukan oleh kandidat, tim atau bahkan penyelenggara pemilu sekaligus.

Politik uang terjadi bukan hanya sebatas karena kesalahan para kandidat atau tim. Pada saat yang sama, para penyelenggara juga kerap membuka ruang untuk terjadinya money politics. Pun demikian, pemilih di Indonesia masih banyak yang menginginkan adanya politik uang atau bisa disebut pemilih transaksional.

Jelas adanya politik uang akan merusak demokrasi itu sendiri. Sebab jika uang yang menjadi panglima pemilu, maka cita-cita reformasi untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih akan sulit terwujud. Pemilu yang terjual akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak mandiri dan terus berada di bawah pemodal.

Belum lagi adanya isu-isu agama yang terus diseret ke ranah politik praktis. Kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi puncaknya. Tak pelak Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu pun menguras berbagai sumber daya yang luar biasa. Pilkada di daerah lain hampir tenggelam tiada kabarnya, dan Ahok kalah.

Dua permasalahan di atas, yakni money politics dan isu agama, kiranya akan terus membumbui kehidupan politik pada 2019 mendatang. Tentu hal ini akan melelahkan bagi masyarakat. Masyarakat akan sulit berpikir rasional ketika otak sudah dijejali antara uang dan isu agama.

Politik uang akan membuat harga pemilih menjadi murah. Para politisi akan mudah menghitung, jika ingin menang harus menyiapkan berapa besar anggaran. Harga pemilih pun hanya kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Itu pun jika proses pembeliannya satu per satu, yakni memberi ke satu pemilih ke pemilih lainnya. Atau yang disebut dalam teori politik dengan vote buying. Beda lagi dengan pembelian secara grosiran alias vote trading, maka harga pemilih akan semakin murah bisa di bawah Rp 50 ribu per suara.

Sedangkan isu agama akan mudah memecah belah masyarakat. Menganggap satu kandidat tidak agamais dan hanya kandidat yang didukungnya paling baik, tentu bukanlah sikap yang bijak. Tapi dalam politik Indonesia kontemporer, fakta semacam itu mudah dilihat, baik di dunia nyata ataupun di media sosial.

Masyarakat yang sudah tercerai-berai akibat isu agama akan mudah disusupi oleh pemodal. Mereka akan membumbui keterpecahan itu dengan ”sedekah politik”. Akibatnya, hubungan antar satu pendukung dengan pendukung lainnya akan semakin renggang, bahkan cenderung mengakibatkan terjadinya permusuhan.

 

Pemilih Berdaulat

Di sinilah pentingnya meningkatkan edukasi politik kepada para pemilih. Perlu penyadaran bahwa para pemilih datang ke TPS walau hanya satu menit akan menentukan nasib bangsa hingga lima tahun yang akan datang. Jika mereka memilih hanya karena uang, pemilu akan kehilangan maknanya. Pun demikian, jika memilih hanya karena isu SARA, maka ketercerai-beraian yang hanya akan semakin tampak di depan mata.

Karena itulah, mewujudkan pemilih yang berdaulat penting dilakukan. Caranya, yakni dengan memperkuat kelompok-kelompok masyarakat, memperlebar ruang diskusi, dan mewujudkan kohesivitas civil society. Pemilih yang kuat dan teredukasi secara baik akan menentukan pilihan politiknya dengan baik pula.

Masyarakat perlu menyadari bahwa pemilu merupakan pesta demokrasi dalam rangka memilih pemimpin. Namanya pesta, mestinya digelar dengan senang dan kebahagiaan. Jika pemilu mengakibatkan perpecahan, berarti sudah tidak layak disebut pesta demokrasi.

Semua tentu berharap agar pesta demokrasi pada 17 April 2019 mendatang menjadi pintu masuk bagi terwujudnya negara Indonesia yang kuat. Hal itu bisa terwujud manakala para pemilih sudah bisa berdaulat. Berdaulat dalam arti, rakyatlah yang menentukan pilihan, bukan memilih karena berdasarkan uang. Jika rakyat berdaulat, maka negara akan kuat. Semoga.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Unira dan mantan anggota Panwaslu Pamekasan.

 

]]>
Abdul Basri Mon, 31 Dec 2018 12:50:34 +0700
<![CDATA[Di Balik Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/13/108312/di-balik-ketidakstabilan-nilai-tukar-rupiah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/13/108312/di-balik-ketidakstabilan-nilai-tukar-rupiah

Seperti yang kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin tidak terkontrol. nilai rupiah pernah menyentuh nilai 15.000]]>

Seperti yang kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin tidak terkontrol. nilai rupiah pernah menyentuh nilai Rp 15.000 pada beberapa bulan yang lalu. Dan kemerosotan nilai tukar rupiah saat ini merupakan level terendahnya sejak tahun 1998. Kemudian rupiah berhasil menguat kembali beberapa persen hingga hari ini menyentuh nilai Rp 14.540.

  

Penyebab ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar negeri. Soal besaran bobotnya, faktor dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, menjadi yang dominan, tak hanya itu krisis di Yunani, depresi Yuan di Cina dan krisis ekonomi yang menghantam sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Venezuela juga merupakan faktor eksternal yang dapat pempengaruhi ketidak stabilan nilai tukar rupiah. Faktor eksternal ini yang sulit diperkirakan.

Indonesia adalah negara yang sangat membutuhkan aliran modal dari luar negeri. Biasanya aliran modal itu masuk melalui pasar Surat Utang Negara (SUN) melalui pasar modal atau pinjaman korporasi. Ketika Bank Sentral AS, Federal Reserve, mengambil kebijakan menaikkan suku bunga acuannya.  Hal ini akan memicu  aliran modal asing di Indonesia akan migrasi ke AS. Akibatnya, permintaan dollar meningkat sehingga rupiah tertekan.

 

Adapun faktor di dalam negeri yang mempengaruhi kurs rupiah adalah inflasi, defisit ekspor impor barang jasa atau current account, Aktivitas neraca pembayaran, Perbedaan suku bunga di berbagai negara, Tingkat pendapatan relatif, Kontrol pemerintah dan aliran modal melalui penanaman modal asing maupun portofolio.

 

Dampak ketidakstabilan nilai rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah ini berdapak kuat bagi perekonomian bangsa dan negara. Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tak boleh dianggap enteng. Pasalnya jika terus dibiarkan, pelemahan rupiah akan berimbas pada pembengkakan biaya produksi dan berisiko menekan kinerja suatu perusahaan, terutama bagi mereka yang bahan baku impornya banyak.

 

Semakin anjlok nilai tukar rupiah semakin berat para pegusaha untuk membeli bahan baku untuk kelangsungan produksi. Oleh karennya banyak dari perusahaan asing yang melakukan PHK terhadap karyawan-karyawannya. Harga bahan baku yang semakin mahal dan ketidak stabilan nillai rupiah mengakibatkan banyak investor yang menghentikan investasi mereka di Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia membuat mereka gelisah di karenakan ketidak stabilan nilai rupiah saat ini. Semakin banyak investasi yang mereka tanam semakin besar pula resiko investasi yang akan mereka alami. Mungkin itu merupakan salah satu alasan dari banyak investor yang menarik investasi mereka dari Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia tidak berbanding lurus dengan profit yang mereka dapatkan. Sehingga banyak dari para investor mengalihkan dana investasi mereka.

 

Jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi nasional bisa terseret. Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi di tengah tren kenaikan harga minyak dunia juga memberikan risiko pada kondisi neraca perdagangan domestik, terutama di sektor minyak dan gas (migas). Depresiasi rupiah bisa membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal dan membengkakkan beban subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 

Apabila rupiah terlalu lemah, maka kondisi ini tidak bagus bagi mereka yang memiliki kewajiban valas dan importir. Namun, kondisi rupiah yang lemah juga bisa mendorong ekspor.

 

Sedangkan apabila nilai rupiah terlalu kuat, maka akan membuat impor terus terjadi dan melemahkan produksi dalam negeri. maka kondisi ini tidak baik juga bagi neraca perdagangan. Oleh karena itu, menurut bank sentral, kondisi rupiah yang paling baik adalah sesuai dan mencerminkan ekuilibrium dan fundamental ekonomi. Di samping itu, kondisi rupiah yang dipandang baik adalah yang dapat mendukung surplus neraca perdagangan. Rupiah yang terlalu kuat juga tidak berarti bagus bagi perekonomian.

 

Upaya untuk mengatasi ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan nilai rupiah dengan beberapa langkah kebijakan jangka pendek di bidang moneter yang dilakukan BI untuk mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah yaitu : Menaikkan suku bunga BI Rate (penentuan suku bunga bank), Menaikkan suku bunga fasilitas simpanan BI, Menyerap likuiditas dengan instrumen fine tune kontraksi (FTK) dengan variabel rate tender yaitu, dengan cara melakukan pelelangan, misalnya lelang suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Menaikkan suku bunga maksimum penjaminan simpanan baik suku bunga penjaminan simpanan rupiah atau deposito rupiah dan suku bunga penjaminan simpanan valuta asing (valas) atau deposito valas

 

Solusi untuk mengatasi krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Salah satunya dengan memperbaiki fundamental perekonomian Indonesia. Ada strategi jangka pendek hingga jangka panjang yang bisa dilakukan pemerintah.

Untuk jangka pendek, para eksportir wajib menukar devisa hasil ekspor ke rupiah sesuai lokal konten produksi mereka. Pemerintah perlu membuat aturan baku terkait hal ini agar segera dilakukan. Dalam jangka pendek, pemerintah juga bisa membuat tim khusus untuk mengundang investasi dari luar negeri. Mereka bisa tersebar di beberapa negara.

 

Sementara jangka menengah, pemerintah perlu mendorong ekspor melalui berbagai insentif. Caranya bisa dari sisi pajak maupun perizinan yang mudah. Bisa dengan mendorong investasi untuk ekspor. Ini bisa menghasilkan devisa. Adapun untuk beberapa barang impor yang bersifat konsumsi bisa dikurangi dengan menggunakan produk dalam negeri. Sehingga permintaan dolar bisa ditekan untuk menguatkan rupiah. 

Terakhir untuk jangka panjang, perekonomian Indonesia belum memiliki fundamental yang kokoh. Produktivitas masyarakat masih rendah membuat mesin pembangunan ekonomi belum bergerak kencang. Jadi, pemerintah harus mempercepat pertumbuhan ekonomi kelas bawah dengan berbagai kebijakan. Paling penting yakni melalui pelatihan kerja supaya produktif. 

 

SITI NAFISAH

*Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang

]]>
Abdul Basri Thu, 13 Dec 2018 11:00:03 +0700
<![CDATA[Liga Dengan Atraksinya]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/12/108071/liga-dengan-atraksinya https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/12/108071/liga-dengan-atraksinya

Hilanglah Medan. Muncul Sleman. Hilanglah Palembang. Muncul lagi Padang.]]>

Hilanglah Medan.
Muncul Sleman.
Hilanglah Palembang.
Muncul lagi Padang.

Itulah hasil kompetisi sepakbola kasta tertinggi kita. Liga 1. Selama setahun. Yang berakhir tadi malam.

Tentu sayang sekali. PSMS Medan harus harus turun kasta. Sebenarnya saya berdoa agar Medan bertahan. Tapi kalah 1-5 atas PSM Makassar. Kemarin sore. Tidak ada gunanya Persebaya kalah 0-4 di Medan. Minggu lalu.

Sayang juga. Palembang turun tahta. Begitu baik prestasi Sriwijaya FC di awal musim. Tapi begitu buruk di paro kedua. Penyebabnya jelas: Pilkada. Pendukung dana utama Sriwijaya FC gagal terpilih sebagai gubernur Sumsel.

Pemain-pemain terbaiknya dijual. Salah satu pembeli utamanya Arema, Malang. Aremalah yang mengalahkan Sriwijaya FC. Kemarin sore. Dengan skor 1-2. Menyebabkan Palembang turun tahta.

Saya mencatat begitu banyak kemajuan di sepakbola kita. Kompetisi Liga 1 tahun ini relatif lancar. Jumlah penonton meningkat drastis. Setidaknya di klub-klub favorit. Persebaya, Bandung, Makassar, Semarang. Bahkan Persija. Lihatlah pertandingan tadi malam. Gelora Bung Karno penuh: 90.000 orang. Memang tadi malam menentukan. Tapi pertandingan sebelumnya juga begitu.

Jumlah penonton terbanyak memang masih dipegang Bonek. Total 500.000 orang. Nyaris. Tapi bisa saja peta berubah musim depan. Yang konon baru dimulai lagi April.

Saya tidak perlu mengulangi. Kompetisi musim ini memang seru. Sampai menjelang pertandingan terakhir pun belum diketahui siapa juaranya. Persaingan di papan atas begitu sengitnya: antara Persija dan PSM. Persaingan di papan bawah begitu menegangkan: siapa tiga klub yang harus turun tahta.

Persib sebenarnya kandidat juara. Sebelum ada kasus kematian supporter Persija. Di Bandung. Yang menyebabkan Persib terkena sanksi berat. Tidak boleh bermain di kandang. Sampai akhir musim. Itulah yang justru membuahkan Persija juara. Dengan pengorbanan salah seorang supporternya.

Musim ini sanksi diberikan dengan sangat tegas. Dan berat. Persebaya, misalnya, begitu sering didenda. Akibat Bonek melakukan pelanggaran. Misalnya menyalakan flair. Atau meneriakkan kata-kata yang dilarang.

Pernah Bonek mencoba ini: memasang spanduk besar dengan tulisan huruf Jawa. Maksudnya agar petugas dari Jakarta tidak bisa membaca isinya: pelungker-pelungker. Eh, kena denda juga. Rupanya ada yang bisa membaca huruf Jawa. Kabarnya Persebaya terkena denda Rp 1,2 miliar. Selama satu musim ini. Persib mungkin lebih besar lagi.

Yang juga harus dipuji adalah Indosiar. Yang mau menyiarkan langsung. Sampai mengorbankan acara populernya: dangdut Academy. Peran siaran langsung itu besar: dalam mengontrol kejujuran wasit. Saya tidak berani memastikan urusan sogok-menyogok sudah tidak ada. Tapi saya bisa memastikan pasti turun drastis. Dengan siaran langsung itu seluruh masyarakat bisa ikut menilai. Indosiar telah ikut mengatasi problem mendasar sepakbola kita.

Sikap wasit kita juga banyak majunya. Sudah lebih banyak senyum. Menghadapi protes pemain. Seberingas apa pun. Mengacungkan kartu kuning pun sudah sambil senyum. Sudah mirip wasit di liga Eropa.
Dulu, wasit sepakbola kita galak. Wajahnya seperti pemarah. Kalau memberi kartu kuning sikapnya seperti menghukum. Akibatnya: menambah ketegangan permainan.

Akhirnya agak sulit menyalahkan Medan. Yang harus kembali turun tahta ke Liga 2. Waktu naik tahta tahun lalu waktunya mepet. Ibaratnya: minggu ini keputusan naik tahta, dua minggu lagi laga Liga 1 dimulai. Tidak sempat cari pemain. Tidak cukup waktu cari uang.

Itu pula problem Persebaya. Yang baru naik tahta bersamaan dengan Medan. Sulit cari pemain baru. Pemain baik sudah terikat kontrak semua. Karena itu Azrul Ananda, presidennya, tidak manargetkan juara. HANYA cukup papan tengah. Hasilnya, ternyata papan atas. Ranking lima. Meski sempat hampir terdegradasi juga.

Selamat datang Sleman. Anda tidak akan senasib Persebaya, PSIS atau PSMS. Anda punya waktu cukup untuk cari pemain berkualitas. Empat bulan lagi kompetisi baru dimulai. Demikian juga dua pendatang baru: Kalteng Putra dan Semen Padang.

Yang juga kemajuan: siaran langsung tidak mengurangi jumlah penonton di stadion. Saya masih ingat dulu: sedih sekali. Kalau pertandingan Persebaya disiarkan TV secara langsung. Sedikit sekali yang mau datang ke stadion.

Stadion kini sudah berubah menjadi teater. Begitu banyak lagu supporter. Begitu banyak spanduk. Dengan bunyi menghibur. Begitu banyak bendera. Raksasa ukurannya. Atraktif kibarannya.

Di kalangan Bonek muncul pula atraksi-atraksi tiga dimensi. Banyak juga lagu-lagu yang cara menyanyikannya sahut-sahutan. Antara tribun selatan, utara, timur dan barat.

Saya begitu suka lagu “rek aku teko rek” itu. Di samping lagu “song for pride”.

Dalam pertandingan penutupan dua hari lalu bahkan ada hujan salju. Di stadion Bung Tomo Surabaya. Menjelang babak dua dimulai. Di tribun selatan. Saya telat memvideokannya. Benar-benar seperti salju sedang turun. Rupanya seluruh penonton melemparkan tisu panjang. Dari atas. Dalam jumlah masif. Bersamaan.

Stadion sudah seperti Fift Evenue di New York. Atau Time Square. Orang pengin nonton orang. Bukan hanya ingin nonton sepakbola.

Itu yang tidak bisa dinikmati dalam siaran langsung di televisi.

Saya begitu gembira. Sepakbola sudah lebih banyak ditonton. Sudah lebih banyak untuk mengekspresikan eksistensi. Semoga bukan sekedar karena sudah bosan politik. Atau karena lagi sumpek ekonomi.(Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Wed, 12 Dec 2018 09:23:49 +0700
<![CDATA[Pemilu yang Tidak Memilukan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107722/pemilu-yang-tidak-memilukan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107722/pemilu-yang-tidak-memilukan

POLITIK kadang membuat geli dan ngeri. Geli karena kader partai politik (parpol) seakan diperbudak saat mengikuti kontestasi politik.]]>

POLITIK kadang membuat geli dan ngeri. Geli karena kader partai politik (parpol) seakan diperbudak saat mengikuti kontestasi politik. Bahkan, ketika sudah jadi sekalipun, parpol membuat ruang gerak kepala daerah maupun anggota dewan sempit.

Ngeri karena para pendukung tokoh politik saling memojokkan, mencaci maki, bahkan mengadu domba. Di media sosial (medsos) sampai berujung pertengkaran. Di dunia nyata, hal itu ditopang teknologi informasi (TI) yang semakin canggih. TI mempermudah penggunanya koar-koar sesuka hati tanpa berpikir panjang akan dampak dan akibatnya.

Situasi ini mengajarkan hal yang kurang baik kepada generasi bangsa. Generasi yang katanya ”calon pemimpin” ini seharusnya dicekoki dengan hal-hal positif agar meraih prestasi gemilang dan membanggakan keluarga tercinta dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada 2018 ini hingga 2019 merupakan tahun politik. Tahun ini ada pilkada. Tahun depan ada pemilu. Pesta demokrasi lima tahunan. Di Madura, tiga kabupaten –selain Sumenep– sudah melaksanakan pilkada. Namun, pengambilan sumpah terhadap kepala daerah terpilih tidak bersamaan.

Pilkada Sampang 2018 sempat masih disengketakan. Di Sampang sengketa pemilu sebenarnya bukan hal baru. Pada 1997, Sampang menjadi satu-satunya daerah tingkat dua di Indonesia yang dilakukan pemilu ulang.

Peristiwa itu terjadi saat masa Orde Baru. Yang melatarbelakangi ialah rekayasa dan manipulasi suara oleh penguasa demi memenangkan Golkar. Pada 29 Mei 1997 terjadilah kerusuhan masal di kota maupun desa. Kotak suara dibakar dan menuntut pemilu ulang. Pasca kerusuhan, barulah pemerintah menyetujui digelar pemilu ulang. Tepatnya, 4 Juni 1997. Walaupun dalam pelaksanaannya masih sarat tipu daya.

Pemilu 2004, Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan penghitungan ulang di enam kecamatan. Di Robatal, Sampang (khusus Desa Gunung Maddah), Kedungdung, Banyuates, Sokobanah, dan Ketapang.

Pemilu ulang ini didasarkan atas laporan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyebut ada penggelembungan suara di Sampang. Menanggapi laporan ini, MK memberikan perintah kepada pelaksana pemilu berdasarkan Surat Ketetapan Nomor 031/PHPU.C1-II/2004 untuk melakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat penghitungan suara.

MK memerintahkan KPU membawa kotak suara dari Madura ke Jakarta untuk dihitung ulang. Di Jakarta, ternyata kotak suara tidak utuh. Separo kotak suara kosong.

Kecurangan kembali mencuat pada pelaksanaan Pilkada Jawa Timur 2008. Sampang kembali mencatat rekor dalam pesta demokrasi tingkat provinsi di Indonesia. Di provinsi lain belum ada pemilihan gubernur sampai tiga putaran. Hanya di Sampang dan Bangkalan fenomena semacam itu terjadi.

Setahun kemudian, tepatnya pada pelaksanaan Pemilu 2009. Kasus yang mencuat yakni tuntutan terhadap penggelembungan suara DPD yang terjadi di Sampang. Abdul Jalil Latuconsina, salah seorang kontestan menggugat perolehan tidak wajar calon lainnya. Yakni, Haruna memperoleh 119.000 suara dan Badruttamam memperoleh 135.448 suara di Sampang.

Pada 2013, pelaksanaan Pilgub Jatim, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawiredja (Berkah) menemukan kecurangan tidak disebarkannya undangan pada pemilih secara merata. Terutama di kantong-kantong pendukung Berkah. Hal itu terjadi di salah satu desa di Sampang.

Tim Berkah menemukan tidak disebarnya 12.000 undangan kepada pemilih. Di samping itu, indikasi kecurangan didapat dari temuan perolehan nol suara bagi pasangan Berkah di sejumlah desa.

Disusul pelaksanaan Pemilu 2014. Ada dua peristiwa yang menambah ”prestasi” memalukan di Sampang. Pertama, pemungutan suara ulang (PSU) untuk 19 TPS di Kecamatan Robatal dan Ketapang. Rekomendasi Bawaslu soal PSU dikeluarkan setelah menemukan sejumlah kejanggalan dalam Pemilu Legislatif pada 9 April 2014.

Tak sampai di situ, catatan kelam pemilihan di Sampang terus berlanjut belum lama ini. Tepatnya, 27 Juni 2018. MK menganulir hasil perolehan suara Pilkada Sampang 27 Juni lantaran jumlah DPT melebihi data agregat kependudukan per kecamatan (DAK2) Kemendagri. MK memerintahkan PSU di semua TPS (1.450 TPS). Selain daftar pemilih tetap (DPT), Pilkada Sampang dianggap tidak logis dan tidak valid.

Menjelang Pemilu 2019, DAK2 dan DPT di Sampang selisih sangat tipis. Yakni 16.860 jiwa. Perinciannya, DPT pemilu 2019 dari 186 desa/kelurahan TPS berjumlah 3.692. Pemilih laki-laki 413.130 jiwa dan pemilih perempuan 424.381 jiwa. Total 837.511 jiwa. Sementara DAK2 di Sampang berjumlah 854.371 jiwa. Perinciannya, penduduk laki-laki 428.520 jiwa dan penduduk perempuan 425.851 jiwa.

Karena pemilu, Sampang berkali-kali menjadi sorotan nasional. Seharusnya berbagai pihak, utamanya pelaksana pemilu menunjukkan segala hal kurang baik menjadi lebih baik. Dengan begitu, pelaksanaan pemilu tidak memilukan. Mari perbaiki supaya segala hal yang seharusnya tidak terjadi semakin menjadi-jadi.

Menjelang tahun baru, ada harapan baru kepada bupati baru Sampang. Janji-janji pada saat kampanye seakan terus bergaung di gendang telinga. Tibalah saatnya janji-janji itu dibuktikan, usai pengambilan sumpah digelar, demi Sampang hebat dan bermartabat.

Masyarakat menunggu gebrakan H Slamet Junaidi-H Abdullah Hidayat (Jihad) untuk betul-betul berjihad demi kemajuan Sampang. Terutama dalam mengentaskan kemiskinan dan peningkatan infrastruktur di Kota Bahari tercinta ini.

]]>
Abdul Basri Mon, 10 Dec 2018 11:18:13 +0700
<![CDATA[Duo Cantik Huawei]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107679/duo-cantik-huawei https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/10/107679/duo-cantik-huawei

Sebulan terakhir ini pohon tinggi Huawei terus jadi berita besar. Terutama dua anak perempuan pendirinya. Yang dari beda ibu.]]>

Sebulan terakhir ini pohon tinggi Huawei terus jadi berita besar. Terutama dua anak perempuan pendirinya. Yang dari beda ibu.

Direktur keuangannya ditangkap di Canada: Sabrina Meng Wanzhou. Cantik. Umur 46 tahun. Pada 1 Desember lalu.

Sabrina tidak terlibat kesalahan apa pun. Perusahaannyalah yang dicurigai Amerika. Dianggap melanggar sanksi yang dikenakan kepada Iran.

Huawei dianggap punya hubungan dagang dengan negara Islam itu.

Hari itu Sabrina lagi dalam penerbangan. Transit di Vancouver, kota terbesar di Canada bagian barat.

Polisi menangkapnya di bandara. Atas permintaan Amerika. Yang melacak transaksi itu lewat HSBC bank.

Jumat kemarin adalah putusan pengadilan sementara: apakah penahanan Sabrina bisa ditangguhkan. Dengan uang jaminan.

Bulan lalu, adik tiri Sabrina juga jadi berita besar. Namanya Annabel Yao. Umur 21 tahun. Rasanya lebih cantik dari kakak tirinya itu. Sangat cantik.

Kalau tidak cantik tidak akan ditangkap. Oleh sebuah EO di Paris. Agar Annabel mau ikut acara besar itu.

Annabel pun ditangkap lagi. Ditangkap kamera. Sedang ikut pesta di Paris itu. Bukan sembarang pesta. Itulah salah satu dari 10 pesta terwah di dunia.

Nama pestanya: Le Bal des Debutantes. Pesta tahunan. Tiap bulan Nopember.

Pesertanya sangat terbatas. Hanya 30 orang. Maksimal. Hanya yang diundang. Tidak bisa dibeli tiketnya.

Yang diundang itu pun sangat ketat. Persyaratannya. Harus cantik. Harus masih kinyis-kinyis. Belum kawin. Harus anak orang kaya raya. Harus modis. Harus pandai dansa waltz. Harus cerdas melebihi kecerdasan orang pintar.

Annabel terpilih. Ia memenuhi semua syarat itu. Umurnya 21 tahun. Binal-binalnya. Kalau mau. Bapaknya salah satu orang terkaya di dunia: pendiri Huawei: Ren Zhengfei.

Kuliahnya di Harvard. Gile. Jurusannya: computer science. Gile.

Kecantikannya: saya tidak tahan. Lihat sendirilah fotonya. Di IG dahlaniskan19. Yang saya kutip dari media internasional.

Dua anak sukses ini agak beda dengan umumnya anak Tionghoa. Yang selalu membawa nama marga bapaknya.

Mereka tidak. Tidak mencantumkan marga Ren di belakang nama mereka.
Sabrina menggunakan nama belakang Meng. Annabel menggunakan nama belakang Yao.

Padahal marga bapaknya jelas: Ren. Konon itu kesepakatan keluarga. Agar tidak bikin ruwet. Akibat poligami.

Marga Meng di belakang nama Sabrina diambil dari nama ibunya: Meng Jun.

Marga Yao di belakang nama Annabel diambil dari nama ibunya: Yao Ling. Istri kedua Ren.

Konon masih ada satu istri lagi. Yang ketiga. Yang terbaru. Yang termuda. Yang masih imut-imut: generasi melineal. Yang kemarin-kemarin adalah sekretarisnya.

Dalam hal penangkapan Sabrina, pemerintah Tiongkok turun tangan. Protes keras. Ke Amerika. Dan ke Canada.

Penangkapan itu terjadi 1 Desember. Tepatlah: hari itu Presiden Donald Trump lagi di Argentina. Bertemu Presiden Xi Jinping. Untuk makan malam. Tepatnya: merundingkan perang dagang antar kedua negara.

Demikian juga Annabel. Yang ikut pesta di Le Bal. Bapaknya mendukung penuh. Bahkan ikut hadir di acara itu. Memang syaratnya begitu. Sang ayah harus berdansa dulu dengan putrinya. Lalu menyerahkan putrinya ke partner dansanya. Partner profesional. Yang disiapkan panitia. Untuk menguji kejagoan dansa sang putri.

Annabel sudah dikursuskan balet sejak umur lima tahun. Saat pindah ke Oxford pun Annabel terus menari. Dia juga ambil pelajaran dansa profesional di Washington DC. Juga di Orlando.

Tari balet seperti Swan Lake, Sleeping Beauty atau La Bayadere dikuasainya.

Annabel tujuh tahun di sekolah balet profesional. Di Jin Bao Long. Di Shanghai.

Tapi Ren Zhengfei istimewa bukan karena istri-istri dan anak-anaknya itu. Ia memang sangat cerdas. Sangat sehat. Sangat kuat. Di umurnya yang 74 tahun.

Anda pun sudah tahu siapa pendiri Huawei itu: lahir di daerah termiskin Tiongkok. Guizhou. Masuk tentara. Tanpa pangkat. Di bagian teknologi kemiliteran.

Berhenti dari tentara lantas mendirikan Huawei. Kini menjadi produsen handphone terbesar di dunia: mengalahkan Ericsson di tahun 2012. Mengalahkan IPhone di tahun 2017. Tinggal mengalahkan Samsung di atasnya. Dengan senjata P20-nya. Dan 5G. Amerika yang akan jadi penghadangnya.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Mon, 10 Dec 2018 01:01:37 +0700
<![CDATA[Nafas Panjang 90 Hari]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/05/106879/nafas-panjang-90-hari https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/05/106879/nafas-panjang-90-hari

G-20 kalah dengan G-2. Pertemuan 20 negara terbesar di dunia (ekonominya) itu tenggelam]]>

G-20 kalah dengan G-2.
Pertemuan 20 negara terbesar di dunia (ekonominya) itu tenggelam. Oleh 2 orang ini: Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Argentina menjadi saksinya.
Maka, kalau ditanya apa hasil pertemuan G-20? Di Argentina? Tanggal 30 November 2018?
Tidak banyak yang tahu.

Tapi kalau ditanya apa hasil pertemuan antara Jinping dan Trump? Di Argentina? Sehari kemudian itu?

Anda pun tahu jawabnya: gencatan senjata. Sepakat untuk tidak meningkatkan perang dagang. Antara Amerika dan Tiongkok.

Gencatan senjata itu berlangsung 90 hari.
Juru runding kedua negara akan bertemu. Harus sudah menyepakati banyak hal.
Sementara mereka berunding Amerika membatalkan rencananya: menaikkan bea masuk barang Tiongkok. Dari tambahan 10 persen menjadi 25 persen. Yang nilainya mencapai US 200 miliar dolar. Yang rencananya dimulai 1 Januari depan.

Tiongkok pun membatalkan rencana balasan setimpalnya.
Agenda yang harus diselesaikan adalah: Tiongkok harus membeli barang lebih banyak dari Amerika. Terutama produk pertanian. Ini sebenarnya sudah lama ditawarkan Tiongkok.

Agenda lain: soal transfer teknologi. Soal perlindungan hak cipta. Soal perluasan kesempatan berusaha di Tiongkok bagi perusahaan Amerika. Dan sebaliknya. Soal intip-mengintip rahasia negara. Lewat teknologi cyber. Soal kebijakan one China polecy dalam urusan Taiwan.

Ups… banyak banget.
Bagaimana kalau dalam tiga bulan tidak ada kesepakatan? Perang dimulai lagi. Tarif 25 persen diberlakukan. Tiongkok pun membalas dengan tit for tat.

Jinping sudah banyak mendapat pelajaran pahit. Selama perang dagang. Empat bulan terakhir: pertumbuhan ekonominya menurun satu persen.

Trump juga mendapat pelajaran. Petaninya marah-marah.

Tapi tim negosiasi juga masih sulit. Waktu tiga bulan semoga cukup.

Untungnya situasi lingkungan sudah berubah. Sedikit.

Di Amerika, Partai Republik kalah. Dalam Pemilu sela. Bulan lalu. DPR kini dikuasai Partai Demokrat.

Di Tiongkok juga muncul kesadaran baru. Berakar dari sejarah Tiongkok kuno: mengalah untuk menang.

Bahkan filsafat Deng Xiaoping dimunculkan kembali. Agar Tiongkok jangan terlalu menepuk dada dulu. “Sembunyikan kekuatanmu. Pupuk kemampuanmu”.

Di Taiwan juga ada perubahan: Partai yang ingin Taiwan merdeka kalah. Dalam Pemilu bulan lalu. Yang pro-Tiongkok menang.

Daerah-daerah di Taiwan pun mulai bikin rencana sendiri: mempererat hubungan. Antara satu daerah di Taiwan dengan satu daerah di Tiongkok. Tanpa membicarakannya dengan pemerintah pusat di Taipei. Yang presidennya masih yang pro-merdeka.

Tiongkok kelihatannya juga berubah: tidak akan memaksakan merebut Taiwan tahun 2025. Masih perlu  “memupuk kemampuan” lebih lama.

Mungkin sampai memiliki lima kapal induk dulu. Yang sekarang baru punya dua. Tiongkok tidak akan kesusu. Toh situasi di Taiwan juga sudah berubah.

Kita, yang menonton perang dagang itu sambil berdebar,  bisa menarik nafas panjang. Selama 90 hari. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Wed, 05 Dec 2018 01:02:34 +0700
<![CDATA[Minggat Kunci Sukses Nasir]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/04/106686/minggat-kunci-sukses-nasir https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/04/106686/minggat-kunci-sukses-nasir

Haji Nasir hanya tamatan STM. Kini kapalnya 7 buah. Tambak udangnya 20 hektar. Punya pabrik es. Cool storage]]>

Haji Nasir hanya tamatan STM. Kini kapalnya 7 buah. Tambak udangnya 20 hektar. Punya pabrik es. Cool storage. Perusahaannya sudah banyak: yang terkait dengan ikan: penangkapan ikan laut, budidaya udang.

Ia anggota DPRD. Dengan suara terbanyak. Tapi tidak mau lagi jadi caleg. Di Pemilu depan. Hanya mau sepenuhnya urus bisnis. Kapok masuk politik. Merasa ditipu. Tidak ada yang disebut komitmen di politik.

“Dulu saya ini dirayu. Agar mau jadi caleg,” kata Haji Nasir. “Dengan janji bisa jadi ketua DPRD. Andaikan saya bisa dapat suara terbanyak,” katanya.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Ia berhasil di Pemilu. Meraih suara terbanyak. Tapi yang berlaku dagang sapi. Jabatan Ketua DPRD itu lepas. Ke Golkar. Yang perolehan kursinya sama dengan partainya, PPP: lima. Tapi janji tinggal janji.

“Saya tidak cocok di politik,” katanya. “Istri saya juga melarang saya nyaleg lagi,” tambahnya.

Itu terjadi di Kabupaten Berau. Paling utara Kaltim.

Yang kini maju sekali. Sejak bupatinya berani membangun bandara. Sepuluhan tahun lalu.

Sejak itu Berau berubah. Tidak perlu lagi ke sana naik kapal. Dari Samarinda maupun dari Balikpapan.

Saya ingat ketika pertama ke Berau. Landasannya masih rumput. Pesawat yang ke sana berbaling satu. Isinya empat orang. Sebelum terbang, pilotnya minta tolong saya: putarkan baling-balingnya. Dengan tangan saya. Sambil kaki jinjit. Saya sedikit kurang tinggi.

Berau masih seperti itu. Kurang lebih. Ketika Haji Nasir Junaid tiba dari kampung halamannya: Barru, Sulsel.
Ia pasti tidak akan mau ke Berau. Kalau hatinya tidak sakit. Sakit sekali. Saat ia masih berumur 19 tahun. Saat Nasir belum lama tamat sekolah: STM Pembangunan di Makassar.

Pulang dari Makassar ia membantu ayahnya: jual beli ikan. Ayahnya memang nelayan tapi sambil berdagang ikan. Membeli ikan sesama nelayan. Menjualnya ke pasar.

Suatu saat Nasir diminta ayahnya menagih ke para pelanggan. Salah satunya tidak mau bayar: kakak sulungnya sendiri.

Sang kakak tidak mau bayar. Alasannya: uangnya lagi diperlukan untuk biaya sekolah anaknya.

Waktu menyerahkan uang tagihan ke bapaknya Nasir tidak bicara apa-apa. Setelah dihitung uangnya kurang. Nasir tidak berani melapor apa adanya. Tidak berani membuka kata-kata kakaknya. Tidak mengira juga ayahnya seteliti itu.

Ayahnya mencurigai sebagian uang itu dipakai Nasir. Marah besar. Tidak habis-habisnya. Akhirnya Nasir bicara terus terang. Tapi sang ayah terlanjur sudah marah. Nasir dituduh bersekongkol dengan kakaknya.

Nasir pun ditendang. Dengan kaki ayahnya yang kuat. Kena pantatnya.

Nasir menjauhi bapaknya. Masuk kamar. Menangis. Ibu tirinya meredakan. Gagal. Nasir ingin lari. Membawa luka yang dalam. Di dalam hati. Hati remaja.

Minggat.

Ia pamit pada ibu tirinya itu. Tanpa menyebut akan ke mana. Juga pamit ke ibu kandungnya. Yang juga sudah menikah lagi dengan pria lain. Ia bawa ijazah STM. Plus mengalaman magang tiga tahun. Di Astra. Saat sekolah di STM jurusan mesin dulu.

Nasir menuju pelabuhan Pare-pare. Hanya membawa dua baju. Dua celana. Dimasukkan tas kresek. Bersama ijazahnya.

Ada tiga kapal yang siap berangkat hari itu. Kapal kayu. Salah satunya ke Berau. Yang berangkat lebih dulu.
Ia bertanya ke anak kapal: apakah di Berau bisa hidup? Dengan bekal ijazah itu?
Yang ditanya melihat ijazahnya.
“Bisa”, jawab yang ditanya.

Tapi Nasir masih ragu. Ikut ke Berau atau ikut kapal lain. Ke jurusan lain.

Sinyal pertama berbunyi. Tanda kapal mau berangkat. Nasir masih terpaku di dermaga.

Sinyal kedua berbunyi. Nasir masih ragu. Masih terpaku juga di dermaga. Ingat pacarnya. Yang di Makassar. Tapi sudah agak lama juga terpisah. Sejak Nasir pulang ke Barru.

Sinyal ketiga pun berbunyi. Kapal mulai merenggang. Dermaga mulai ditinggalkan. Nasir meloncat!

Di kapal itu Nasir menempatkan diri sebagai orang yang nunut. Harus tahu diri. Ia kerjakan apa pun yang bisa ia kerjakan: membantu masak, cuci piring, ambil air, bersih-bersih.

Malam-malam ia masuk kamar mesin. Yang biasanya sunyi dalam gemuruh. Ia akan membantu juru mesin. Biar juru mesin bisa istirahat. Ia senang mesin. Sejak kecil. Itulah sebabnya ia masuk STM. Jurusan mesin. Dan magang di Astra.

Nasir bingung. Juru mesinnya sombong. Ia ajak bicara tidak mau menjawab. Akhirnya ia tahu: juru mesin itu bisu tuli. Cerita yang ia dapat: juru mesin itu dulunya tentara. Dihajar sampai ringsek. Akibat menembak komandannya.
Sang juru mesin berhasil lari dari penjara. Entahlah.

Yang jelas Nasir berhasil berkomunikasi dengan si bisu-tuli. Dengan bahasa mesin.

Satu hari satu malam kapal itu berlayar. Terlihatlah daratan Kalimantan. Kapal memasuki Muara Sungai Berau. Menyusuri sungai ke hulunya. Ke kota Tanjung Redeb, ibukota Berau.

Nasir disenangi seluruh awak kapal. Saat kapal sandar di dermaga Tanjung Redeb Nasir bingung: mau ke mana. Ini perantauan pertamanya ke luar Sulawesi.

Ia pun menghadap kapten kapal: minta ijin tinggal di kapal. Sebelum mendapat pekerjaan.

Hari pertama Nasir keliling kota kecil itu. Mencari bengkel. Yang pemiliknya orang Bugis. Ia melamar. Dengan senjata ijazah STM-nya.

Ditolak.
Besoknya datang lagi.
Ditolak lagi.

Hari ketiga Nasir datang lagi. Kali ini harus berhasil. Sore itu kapalnya akan berangkat ke Pare-pare. Tidak ada lagi tempat menginap.

Kepada pemilik bengkel Nasir menyatakan ini: tidak usah digaji. Asal diberi makan. Dan boleh tidur di bengkel itu.
Diterima.

Nasir mengerjakan apa saja di bengkel itu. Bengkel Wira Karya itu.

Bengkel itu kini sudah tidak ada. Sudah dibeli orang. Ditutup. Kini sedang dibangun hotel. Di dekat dealer Honda itu.

Teman Nasir di bengkel itu pun senang. Nasir rajin. Suka membantu teman. Bosnya pun bersimpati.

Tiga bulan kemudian bengkel mengalami kesulitan: tidak ada yang bisa memperbaiki persoalan mobil konsumennya.

Mobil itu baru: Daihatsu Hiline. Untuk angkutan penumpang. Jarak jauh. Dari Tanjung Redeb ke Biduk-biduk. Lewat hutan. Bukit. Sungai tak berjembatan. Jalannya tidak ada yang beraspal. Kalau hujan harus berhenti. Atau harus didorong. Tiga hari baru sampai.

Mobil itu tidak kuat naik gunung.

Dimasukkan lah ke bengkel Wira Karya. Tidak ada yang bisa memperbaiki. Pun kepala bengkelnya.
Nasir minta ijin menanganinya. Anak kecil itu.

Diragukan.
Semua melihat Nasir masih anak-anak: 19 tahun.
Tapi Nasir yakin bisa. Itu makanannya saat magang di Astra dulu.

Nasir lihat Klep-klep mobil itu. Pistonnya empat. Berarti klepnya ada delapan. Klep-klep itulah yang terlalu berdekatan.

Nasir menyetel ulang klep-klep itu. Lalu dicoba dihidupkan: grenggggg. Mobil hidup dengan suara lebih garang.
Tapi pengemudi mobil tidak pede. Nasir harus ikut serta dalam mobil itu. Yang sudah penuh penumpang itu. Harus ikut sampai gunung terakhir. Artinya: sampai tujuan. Tiga hari kemudian bisa ikut balik ke Tanjung Redeb.

Waktu naik gunung pertama itulah ujian bagi Nasir. Di situlah mobil tersebut dulu gagal menanjak. Ternyata mobil ini kini mampu naik dengan pedenya. Nasir mendapat pujian dari seluruh penumpang.

Nasir tentu senang kemampuannya diakui. Tapi tetap saja ia harus duduk di pojok belakang. Tempat barang. Semua kursi sudah terisi penumpang. Ia terpental-pental. Itulah nasib yunior. Yunior yang mampu sekali pun. Minggu berikutnya Nasir tiba kembali di Tanjung Redeb. Langsung diangkat menjadi kepala teknik. Seniornya kini jadi anak buahnya. Nasir sadar. Bakal banyak persoalan psikologis. Ia bertekad: harus pintar-pintar membawa diri. Sering kali ia lakukan: untuk hal yang sudah tahu pun Nasir bertanya pada anak buahnya. Pura-pura. Bohong. Tapi penting.

Gajinya naik terus. Tapi Nasir tetap tinggal di bengkel. Menghemat. Gaji pertamanya ia kirim ke ibunya. Ibu kandung.

Tiga tahun di bengkel itu Nasir sudah punya banyak tabungan. Ia bertekad ingin jadi pengusaha. Hanya menjadi karyawan tidak akan membuatnya kaya.

Kebetulan: ada kapal kayu dijual. Tanpa mesin. Nasir mampu membeli kapal itu. Dari tabungannya.

Lalu ia datangi penjual mesin. Yang selama ini sering minta tolong padanya: urusan kerusakan mesin kapal. Ia minta untuk bisa beli mesin. Dengan cara mencicil.

Begitulah. Nasir sudah punya kapal. Untuk angkut pasir. Setiap kali angkut ia dapat uang Rp 290 ribu. Dibagi tiga. Ia dapat Rp 70 ribu. Dua orang yang menjalankan kapal mendapat @Rp 70 ribu.

Nasir tetap bekerja di bengkel. Tetap tinggal di bengkel. Begitu hematnya.

Nasir tidak berpikir beli rumah dulu. Ia justru beli kapal kedua. Tapi kapal ini berada di tangan orang yang salah. Uangnya habis terus.

Saat itulah Nasir berpikir: harus fokus. Tidak boleh kapalnya diurus orang lain. Ia harus berhenti dari bengkel. Urus sendiri kapal-kapalnya.

Itu berarti tidak bisa lagi tinggal di bengkel. Harus cari rumah tinggal. Nasir tetap tidak mau membeli rumah. Tidak mau mengontrak rumah. Ia pilih menyewa satu kamar: diisi 9 orang. Semua perantau dari Sulawesi.
Masih harus berhemat.

Ia jalankan sendiri kapal-kapalnya. Sampai pernah nyasar ke perbatasan Filipina. Dihadang tentara bersenjata.
Nasir juga sering membawa kapalnya ke pelabuhan-pelabuhan di Sabah. Di situ Nasir belajar: membangun kapal sendiri.

Nasir tidak mau lagi membeli kapal. Kapal-kapal berikutnya adalah bikinan sendiri. Ia hanya beli bahan-bahannya. Membayar ongkos tukangnya.

Kini kapalnya tujuh buah. Termasuk dua kapal penangkap ikan. Di laut lepas.

Bisnisnya pun ke hulu: bikin pabrik es. Lalu cool storage. Lalu merambah ke tambak udang.

Bisnis ikan itu membuatnya sering ke pabrik es. Membawa kapalnya serta. Di pabrik itulah ia melihat beberapa gadis lagi mandi. Di pemandian pabrik. Tidak berdinding. Mereka mandi dengan mengenakan sarung.

Istri saya pun begitu. Dulu. Mandinya di batang. Di pinggir sungai. Bisa dilihat semua orang. Yang lagi lalu-lalang. Di Kaltim mandi seperti itu disebut mandi basah.

Saat itulah Nasir terpikat. Pada salah satu gadis yang mandi itu. Ternyata dia memang primadona di pabrik itu. Nasir minta tolong temannya. Untuk mengenalnya langsung.

Itulah istrinya yang sekarang: Sempurna. Dipanggil: Pur.

Pilihannya tepat. Nasir percaya istrinya itu membawa rejeki.

Ia ingat omongan-omongan orang tua di desanya: kalau cari istri carilah yang ada ininya di bawah lehernya.
Sambil mengatakan ‘ininya’ Nasir menggambarkan kalung di bawah lehernya. Ia melihat tanda itu saat Sempurna mandi basah. Yang hanya bagian susu ke bawah yang ditutupi sarung. Nasir bisa melihat tanda itu di bagian antara dada dan leher Sempurna.

Saya sendiri tidak jelas maksud tanda itu. Saya memang ke rumah Nasir Sabtu lalu. Tapi istrinya lagi tidak ada di rumah. Pun kalau toh ada, belum tentu saya berani minta ini: agar sang istri membuka dadanya.

Rumah Nasir ini luar biasa bagusnya. Untuk ukuran Berau. Membuat saya harus minta berfoto bersama. Di depan rumahnya. Lihatlah fotonya.

“Rumah ini saya sendiri yang mendesain. Saya sendiri pula yang mengawasi,” katanya.
Tambak udangnya pun ia desain sendiri. Pengerjaannya juga tanpa kontraktor.
Itulah hasil keseriusannya berusaha.

Semua orang di Barru kini tahu: Nasir adalah kisah sukses anak Barru.

Kisah itu mulai ‘bocor’ setelah Nasir punya dua kapal. Mulailah orang Barru tahu: ke mana Nasir minggat. Dari berita para awak kapal. Dari mulut ke mulut. Sampailah ke keluarga Nasir: Nasir jadi omongan di antara sesama perantau.

Bapaknya pun tahu.
Meski Nasir belum mau berkabar. Sampai saat itu.

Barulah ketika hendak naik haji Nasir minta bapaknya ke Berau. Sang ayah menolak. Tapi Nasir terus merayu. Dengan alasan: ini kan mau naik haji.

Akhirnya sang ayah ke Berau. Melihat sukses anak yang pernah ia tendang keras-keras itu.
Begitulah. Ketika ditinggal naik haji ayahnyalah yang mengurus kapal-kapal Nasir.

Ketika Nasir sudah kembali dari haji ayahnya pamit pulang. Nasir mencegahnya. Minta lebih lama di Berau.

Suatu malam, tengah malam, ayahnya mengajak Nasir bicara. Berdua. Di kamar. Saat itulah Nasir tidak berkutik. Sang ayah mengatakan bahwa umurnya tinggal 4 hari. Ia harus pulang ke Barru. Tidak mau meninggal di perantauan.

Mulut Nasir terkatup. Tidak mampu bicara apa-apa. Ia memandang ayahnya. Tidak habis-habis. Ia tahu ayahnya serius. Sudah tua pula.

Keesokan harinya Nasir melepas kepulangan ayahnya. Sang ayah masih berpesan: saat saya meninggal nanti kamu tidak usah pulang. Kirim saja uangmu. Untuk kuburku. Usahamu ini belum bisa ditinggal. Masih perlu kamu urus tiap hari.

Empat hari kemudian Nasir terima kabar: ayahnya meninggal dunia. Hanya beberapa jam setelah kedatangannya dari Berau. “Pagi tiba, sore meninggal,” ujar Nasir.

Sang ayah tentu lega: anak yang minggat itu, yang kini berumur 46 tahun itu, telah sukses di kampung orang.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Tue, 04 Dec 2018 06:00:59 +0700
<![CDATA[Di Perodua Lihat Londo Ngeprank]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/01/106305/di-perodua-lihat-londo-ngeprank https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/01/106305/di-perodua-lihat-londo-ngeprank

Tumben. Sopir Grab ini orang suku Dusun. Tumben lagi. Sopir Grab kali ini orang suku Bajau. Biasanya, di Sabah, sopir seperti ini orang asal Sulawesi.]]>

Tumben. Sopir Grab ini orang suku Dusun. Tumben lagi. Sopir Grab kali ini orang suku Bajau.

Biasanya, di Sabah, sopir seperti ini orang asal Sulawesi. Begitu menonjol suku Bugis di sini.

Misalnya waktu saya ke gunung Kinabalu. Saya salah sangka. Saya kira sopir ini suku Tionghoa. Kulitnya dan matanya itu. Tidak ada bedanya.

“Saya bukan Chinese,” katanya. Ketika saya ajak ia bicara bahasa Mandarin. “Saya suku Dusun,” tambahnya.
Apakah suku Dusun bagian dari masyarakat Dayak?

“Bukan,” jawabnya. Saya pun salah lagi. Saya banyak punya teman Dayak. Di Kaltim. Atau Kalteng. Kadang sulit dibedakan dengan Tionghoa.

Ia pun banyak bercerita tentang sukunya. Dalam bahasa melayu. Yang sudah lebih mirip dengan bahasa Indonesia. Beda dengan bahasa melayunya orang Semenanjung.

Saya tidak sampai di puncak Kinabalu. Tidak akan kuat. Kecuali dipaksakan. Tingginya 4.100 meter. Lebih tinggi dari Gunung Semeru.

Dan lagi saya masih harus ke Labuhan. Yang berarti harus naik Grab yang lagi lagi: 3 jam lagi. Ke pulau yang bebas pajak di Malaysia itu.

Kali ini sopirnya anak muda. Ganteng. Rambutnya agak panjang. Lehernya agak pendek. Pakai kaus ketat. Celana jean. Sandalnya jepit. Easy going. Namanya: Shawal.

Anak ini asyik. Sebagai teman seperjalanan.

Mobilnya Perodua. Sekelas Avanza. Mobil nasional kedua di Malaysia. Setelah Proton.

Shawal memasang wifi di mobilnya. Juga mengganti radionya. Dengan memasang layar monitor di posisi radio itu.
Shawal melakukan itu karena suka main youtube di mobilnya. Dengan wifinya itu. Salah satu yang ia suka adalah Londo Kampung. Yang pengaksesnya sudah lebih 40 ribu.

Dari situ Shawal mengerti banyak istilah jorok dalam bahasa Indonesia: gombal. Misalnya. Atau menggombali. Ia juga tahu kosa kata cewek. Dalam berbagai konotasinya.

Saya belum pernah melihat Londo Kampung. Maka Shawal pun tune ke youtube. Untuk saya. Cari Londo Kampung. Sambil ngebut.

Saya ikut tertawa-tawa ngakak. Bagaimana orang bule itu ngeprank di mall. Pakai bahasa Indonesia. Juga pakai bahasa Suroboyoan.

Rupanya Londo (orang Jawa menyebut semua orang bule sebagai Londo) itu tinggal di Surabaya. Hafal lagu-lagu bertema Surabaya. Atau lagu-lagu dangdut.

Misalnya saat si Londo naik eskalator. Di belakang seorang cewek. Ia teriak keras: ‘Rek!’. Seolah memanggil cewek itu. Ketika si cewek menoleh, si Londo ternyata meneruskan kata ‘rek’ itu. Menjadi sebuah dendang lagu ‘Rek ayo rek mlaku-mlaku…’ dengan cueknya. Sambil melengos dari si cewek.

Aksi ngeprank Londo Kampung itu memang menjengkelkan. Bagi yang kena tipu. Tapi menyenangkan. Bagi yang menonton.

Meski suku Bajau, Shawal sudah lahir di darat. Pemerintah Malaysia memang memiliki program ‘mendaratkan’ suku yang tinggal di atas laut itu.

“Rumah Bajau masih tetap utuh di atas laut. Tapi sudah banyak kosong. Tinggal untuk tambat perahu,” katanya.
Shawal sendiri lulusan studi perhotelan. Pernah kerja lima tahun di Kuala Lumpur. Di salah satu hotel di ibukota. Tapi ia tidak kerasan. “Enak tinggal di kampung halaman,” katanya.

Ketua Menteri (semacam gubernur) Sabah kini juga orang Bajau: Datuk Shafeei Abdal. Bajau dari daerah Sampurna. Tidak begitu jauh dari Nunukan, Indonesia.

Dari Shawal ini pula saya tahu: Bajau itu memiliki banyak Sub suku:
Bajau Suluk
Bajau Ubian
Bajau Samah
Bajau Laut
Bajau Sungai

Saya menjadi ingat: pernah diminta jadi pembicara di Kongres Bajau Sedunia. Di Kangean. Dua tahun lalu. Yang saya tidak bisa hadir. Harus sibuk dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

Menurut Shawal suku Bajau terbanyak tinggal di Filipina Selatan. Sabah nomor dua. Padahal, kata saya, Indonesia lah yang nomor dua. Wallahualam.

Sejak berpisah dari Shawal saya selalu dapat sopir orang Bugis. Umumnya sudah kelahiran Sabah.

Setelah keliling Sabah saya melihat KK bakal lebih maju. Bandaranya besar: bisa didarati Airbus 380. Meski belum pernah ada jenis itu yang mendarat di sana.

Jurusannya pun sudah luas: Jepang, Korea, Hongkok, Singapura. Yang domestik lebih banyak lagi. Tapi tidak satu pun yang jurusan tetangga dekatnya di selatan.

Sabah begitu dekat.
Juga begitu jauh. (dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Sat, 01 Dec 2018 11:11:57 +0700
<![CDATA[Pesawat Di Langit Warna Kuning Di MCC]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/30/106068/pesawat-di-langit-warna-kuning-di-mcc https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/30/106068/pesawat-di-langit-warna-kuning-di-mcc

Saya mencermati satu layar ke layar lain. Yang banyak ditempelkan di dinding. Di salah satu layar terlihat satu kotak kecil: warna kuning.]]>

Saya mencermati satu layar ke layar lain. Yang banyak ditempelkan di dinding. Di salah satu layar terlihat satu kotak kecil: warna kuning. Hanya satu kotak itu yang harus diwaspadai. Puluhan kotak lainnya normal.
Itulah layar-layar monitor. Untuk mengetahui banyak hal: apakah ada masalah di pesawat. Yang lagi terbang di langit.

Semua terhubung dengan monitor itu. Di Maintainance Control Centre (MCC) itu. Setiap terjadi ketidaknormalan, petugas MCC tahu: pesawat apa yang lagi bermasalah. Di mana masalahnya. Lalu: apa yang harus dikerjakan. Apa yang harus dipersiapkan.

Itulah salah satu ruang penting di Garuda Maintainance Facility. Yang berlokasi di dekat landasan pacu bandara Soekarno-Hatta.
Saya diajak ke GMF minggu lalu. Sebelum terbang ke Palembang – lalu ke Malaysia. Itulah anak perusahaan Garuda yang paling moncer. Manajemennya bagus. Banyak perusahaan penerbangan asing percaya padanya.

Kinerja keuangannya juga istimewa: laba besar. Setelah lama dipisah dari Garuda. Menjadi anak perusahaan saja. Tujuannya: agar tidak ketularan penyakit di Garuda. Yang sensitif atas naik-turunnya harga bahan bakar. Atau naik-turunnya rupiah.

Tahun lalu GMF go public. Terbilang sukses. Apalagi kalau pembeli saham tutup mata: tidak mengaitkannya dengan kinerja buruk keuangan Garuda.

Saat ke GMF itu saya disambut direktur utamanya: Ir Iwan Joeniarto MM. Alumni Teknik Industri ITS Surabaya. Dipaparkanlah kinerja GMF. Dari tahun ke tahun. Membuat saya ikut bangga.

Di saat peninjauan itu saya melihat dua pesawat besar KLM. Milik perusahaan penerbangan kebanggaan Belanda. Yang sudah dibeli Air France. “Wow. KLM pun sudah percaya kepada GMF,” puji saya.

Saya pun diajak naik ke Boeing 747 itu. Pekerja GMF lagi sibuk. Saya ingat: sering naik KLM. Dulu. Kalau ke Eropa. Sebelum ada Emirates. Atau Qatar Airways.

Saya juga melihat bagian perawatan mesin. Termasuk mesin-mesin Boeing 737. Yang populasinya sangat besar di Asia Tenggara.

Ada ruang kedap suara. Yang begitu kedapnya. Suara mesin jet 737 pun bisa ditahannya. Mesin yang lagi dites. Pun dalam kecepatan tertingginya.
Begitu banyak penghargaan yang diterima GMF. Menandakan kepercayaan yang tinggi. Korea pun sudah pula memulai: mempercayakan pemeliharaan pesawatnya pada GMF. Total sudah lebih 15 negara yang menjadi pelanggan GMF.

Mengapa perusahaan pemelihara pesawat sampai menyediakan ruang monitor? Untuk pesawat yang lagi terbang?

Itulah komitmen GMF. Kepada pelanggannya. Agar pesawat yang lagi terbang pun sudah diketahui masalahnya. Agar yang di darat segera tahu apa yang harus diperbuat.

Misalnya: menyiapkan spare partnya. Atau tenaga teknisnya. Begitu pesawat mendarat bisa langsung dikerjakan. Menghemat waktu.

Yang kotak warna kuning tadi pertanda ada masalah apa?
Hanya dengan melihat layar itu saya tidak tahu. Nama perusahaan penerbangannya, jenis pesawatnya, istilah kerusakannya, semua diganti kode. Hanya para operator di MCC yang tahu: yang warna kuning tadi itu pesawat apa, milik siapa dan bagian mana yang lagi bermasalah.

Saya tidak ingin tahu itu. Saya memahami kalau rahasia itu bagian dari komitmen GMF. Tapi saya ingin tahu: warna kuning tadi pertanda ada masalah apa. “Itu gangguan di bagian toiletnya,” ujar petugas di ruang itu. “Mungkin flushingnya yang buntu,” tambahnya.

Bayangkan: toilet buntu saja bisa diketahui dari darat. Apalagi gangguan yang lebih berat. Seperti yang dialami Lion JT 610 itu. Yang begitu dramatiknya itu. Yang begitu lama itu.
“Jadi,” kata saya memulai pertanyaan, “gangguan di Lion itu bisa diketahui di sini”?

“Kami tidak tahu. Lion bukan pelanggan kami, ” katanya.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Fri, 30 Nov 2018 09:27:21 +0700
<![CDATA[Perkawinan Krisis Konstitusi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/29/105906/perkawinan-krisis-konstitusi https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/29/105906/perkawinan-krisis-konstitusi

Hampir saja Taiwan menjadi yang pertama di Asia: melegalkan kawin sejenis. Tapi hasil referendum Sabtu lalu berkata lain: sebagian besar rakyat menolak.]]>

Hampir saja Taiwan menjadi yang pertama di Asia: melegalkan kawin sejenis. Tapi hasil referendum Sabtu lalu berkata lain: sebagian besar rakyat menolak.

Kini muncul perdebatan di sana: mana yang lebih kuat. Hasil referendum atau putusan Mahkamah Konstitusi.

Satu setengah tahun lalu memang. MK Taiwan membuat keputusan: UU Perkawinan yang melarang kawin sejenis melanggar konstitusi.

DPR harus merevisi UU Perkawinan yang ada. Paling lambat dua tahun. Setelah putusan MK itu: 24 April 2017.

Putusan MK itu bermula dari gugatan Chi Chia-wei. Yang di tahun 2013 lalu ingin menikah. Dengan sesama laki-laki. Ditolak.

Setelah putusan MK itu perkawinan sejenis kian marak. Sudah ada 19 daerah yang mau menikahkan pasangan lesbi. Atau gay.

Memang itu baru setengah kawin. Mereka tetap belum bisa mendapat hak hukum sebagai suami-suami. Atau istri-istri. Tapi perpartnerannya sudah disahkan.

Sambil menunggu lahirnya UU Perkawinan yang baru. Seperti yang diamanatkan MK. Paling lambat 1 Mei tahun depan.

Aktivis anti perkawinan-sejenis bergerak cepat. Dimotori oleh gereja. Yang umatnya hanya 5 persen dari jumlah penduduk.

Segala macam penyakit dikaitkan dengan perkawinan jenis itu. Dalam kampanye anti perkawinan-sejenis. Demikian juga segala macam laknat. Dan bencana.

Aktivis tersebut berhasil mengumpulkan tandatangan: 310.000. Melebihi batas syarat permintaan referendum: 280.000 tandatangan.

Yang pro perkawinan-sejenis juga bergerak. Juga mengumpulkan tandatangan. Melebihi syarat minimal untuk minta referendum.

Kampanye dua kelompok ini hebohnya bukan main.
Akhirnya keduanya sama-sama dapat tempat.
Dalam referendum itu. Yang ‘anti’ berhak mengajukan dua pertanyaan. Yang ‘pro’ boleh mengajukan satu pertanyaan.

Masih ada dua pertanyaan lagi. Dari kelompok lain. Yang terkait dengan pendidikan seks di sekolah.
Maka pertanyaan dalam referendum Sabtu lalu banyak sekali. Sampai proses pemungutan suara Pemilu tersebut berlarut. (baca disway edisi kemarin).

“Referendum itu hanya semacam pooling,” ujar aktivis pro perkawinan-sejenis. “Putusan MK lebih tinggi,” tambahnya.

Masalahnya: apakah ada wakil rakyat yang berani. Untuk mengajukan inisiatif penyempurnaan UU Perkawinan. Seperti yang diamanatkan MK. Mereka pasti takut kalah dalam Pemilu berikutnya.

Sampai akhir tahun lalu sudah tercatat 2.200 perkawinan-sejenis di Taiwan. Yang terbanyak sesama wanita: 1.700 pasang. Yang sesama laki-laki 500 pasang.

Semua itu berkat ‘jasa’ Chi Chia-wei. Yang kini berumur 60 tahun. Yang badannya tetap kurus kering itu.

Sejak umur 29 tahun Chia-wei terus berjuang. Ialah yang pertama mengaku secara terbuka: sebagai gay. Ia adakan konferensi pers: untuk menggalang pertolongan pada penderita HIV/AIDS di Taiwan.

Pada umur 30 tahun Chia-wei mendatangi notaris. Minta perkawinan-sejenisnya disahkan. Ia tidak mau ke catatan sipil: pasti ditolak.

Notaris ternyata menolaknya juga. Lalu ia ke DPR. Ditolak.

Chia-wei sempat ditangkap polisi. Dituduh terlibat perampokan. Dijatuhi hukuman 5 tahun. Ia menolak tuduhan itu. Dengan terus mengajukan bukti. Akhirnya pengadilan tinggi membebaskannya: setelah terlanjur menjalani hukumannya lebih dari lima bulan.

Akhirnya Chia-wei ke mahkamah konstitusi itu: diterima.

Tapi hasil referendum Sabtu lalu jelas: menolak.
Menarik sekali: Putusan MK berlawanan dengan hasil referendum.

Itu bisa saja menjadi tipping point: krisis konstitusi.(dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Thu, 29 Nov 2018 08:22:05 +0700
<![CDATA[Sulap Pulau Garam Jadi Ladang Jagung]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/24/105164/sulap-pulau-garam-jadi-ladang-jagung https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/24/105164/sulap-pulau-garam-jadi-ladang-jagung

MADURA disebut sebagai Pulau Garam. Dengan sebutan Pulau Garam, seharusnya di segala penjuru mata angin ditemukan tambak garam]]>

MADURA disebut sebagai Pulau Garam. Dengan sebutan Pulau Garam, seharusnya di segala penjuru mata angin ditemukan tambak garam dan pengembangan turunannya. Seperti pabrik garam konsumsi alias garam asin yang sering dinikmati.

Selain pabrik garam konsumsi, seharusnya ada juga pabrik garam produksi. Seperti garam bahan dasar infuse serta garam untuk campuran pembuatan kain dan kertas. Ataupun campuran bahan-bahan kebutuhan produk lainnya. Sebab, garam produksi banyak dibutuhkan sebagai bahan campuran produk lain.

Kenapa Madura hanya bisa memproduksi garam tanpa bisa mengembangkan turunannya? Jika ada beberapa pabrik garam besar di Madura pasti mampu menyerap tenaga kerja banyak. Sehingga meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Kita ambil contoh. Biar tidak dikira omdong (omong doang). Madura bisa mengkiblatkan Kota Batu. Kota Batu dikenal sebagai Kota Apel. Kota dingin ini menunjukan jati diri sebagai penghasil buah apel. Julukan itu dibuktikan dengan melimpahnya produksi buah apel.

Kota Batu juga mengembangkan industri turunannya. Seperti memproduksi keripik apel, selai apel, sirup apel serta kue dan roti berbahan dasar apel. Bahkan untuk menarik konsumen, bungkus industri turunan itu dikemas sangat menarik.

Sekarang kembali fokus bahas Madura. Sebenarnya, selain penghasil garam, masih banyak potensi Madura sesuai resource base. Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah petakan enam klaster potensi unggulan Madura.

Pertama, garam dan  tembakau. Kedua, pangan (jagung, singkong, tebu, sapi, hasil laut). Ketiga, energi dan migas. Keempat, pendidikan (formal dan nonformal). Kelima, tenaga kerja dan wanita. Terakhir, pariwisata dan ekonomi kreatif (seni, bahasa, budaya, jamu, batik, kuliner, infrastruktur, tata ruang, lingkungan, pulau-pulau kecil, teknologi).

Selain garam, Madura sangat kaya sumber daya alam (SDA). Sampai di sini mau bahas potensi selain garam, he he he. Sekarang bahas produksi pangan berupa jagung. UTM telah melakukan riset jagung.

Hasilnya, riset menemukan enam varites jagung unggulan. Hasil penemuan varietas jagung diberi nama Madura satu hingga Madura enam. Bahkan, varietas jagung Madura satu dan dua sudah menapatkan lisensi resmi dari Kementerian Pertanian pada 2016.

Salah satu keunggulan paling mencolok jagung Madura 1 dan 2 yakni, jika jagung biasa ditaman di lahan 1 hektare hanya bisa memproduksi sekitar 2,7 ton. Jika jagung Madura 1 dan 2 ditanam di lahan seluas 1 hektare, hasilnya sekitar 7 ton. Dua kali lipat lebih.

Jika empat kabupten masing-masing bersedia menyiapkan lahan seluas 75.000 hektare, lahan tersedia untuk produksi jagung di Madura 300.000 hektare. Dengan begitu, Pemkab Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep harus membuat perda terkait sistem sewa lahan atau bagi hasil dengan pemilik lahan.

Sehingga dalam penggunaan lahan, warga tidak dirugikan. Kemudian untuk memproduksi jagung skala besar setiap kabupaten harus menunjuk BUMD untuk mengelola. Jika luas lahan 300.000 hektare kali 7 ton, hasilnya 2.100.000 ton jagung.

Ini hasil satu kali produksi. Katakanlah setahun ada dua kali produksi jagung. Hasilnya 4.200.000 ton jagung. Anggap saja harga jagung Rp 5.000 per kilogram. Kalikan 4.200.000 ton atau 4.200.000.000 kilogram. Hasilnya mencapai Rp 21 triliun.

Katakanlah keuntungan yang diperoleh 20 persen dari Rp 21 triliun untuk biaya garap. Seperti pembelian benih, sewa lahan, biaya penanaman seperti membajak lahan, menyiram, dan pemberian pupuk hingga ongkos panen. Berarti memperoleh keuntungan Rp 4,2 triliun.

Kemudian keuntungan Rp 4,2 triliun dibagi empat kabupaten. Tiap kabupaten memperoleh keuntungan Rp 1,05 trilun. Sementara APBD Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep rata-rata sekitar Rp 2,3 triliun. Dengan memproduksi jagung, dapat suntikan dana segar hampir separo APBD.

Tidak hanya sampai di situ. Jika hasil produksi jagung itu dikembangkan lagi ke industri turunan, mungkin keuntungan dari produksi jagung dan industri mencapai ratusan triliun. Misalkan Madura memiliki pabrik-pabrik besar dengan menggunakan bahan dasar jagung. Seperti pabrik tepung jagung, pabrik popcorn, dan pabrik makanan ringan berbahan dasar jagung.

Belum lagi banyak tenaga kerja terserap. Jika banyak tenaga terserap, pasti pendapatan masyarakat meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat meningkat.

Nanti semua bisa tahu jika Madura tidak hanya penghasil garam. Mereka pasti menilai Madura juga sebagai ladang jagung. Kebutuhan jagung nasional sekitar 15,5 juta ton. Sementara Madura bisa memproduksi 4.200.000 ton atau Madura menyumbang 27 persen kebutuhan jagung nasional. Namun, tidak sedikit pihak yang pesimistis untuk mewujudkan Madura sebagai ladang jagung.

Tahukah kisah sukses Kolonel Sanders? Pendiri Kentucky Fried Chicken KFC itu sempat mengalami kegagalan 1.009 Kali. Namun dia tidak pernah menyerah. Tetap bersemangat. Berkat kegigihan dan keuletan, KFC menjadi primadona masyarakat dunia. Banyak stan KFC hampir di segala penjuru negara. Masak masyarakat Madura mau menyerah?

Lebih-lebih memiliki abantal omba’ asapo’ angen. Alako berra’ apello koneng. Hal itu menujukkan etos kerja masyarakat yang enggan menyerah.

Jika 300.000 hektare lahan terwujud ditamani jagung, bukan tidak mungkin Pulau Garam jadi ladang jagung dan mengembangkan industri turunannya. Kemudian, dibangun pabrik besar yang menggunakan bahan dasar jagung. Sehingga banyak menyerap tenaga kerja dan pendapatan masyarakat meningkat.

Dengan begitu, Madura menjadi daerah maju. Jika kesempatan itu dimanfaatkan pemangku kebijakan, itu menunjukkan empat pemkab di Madura pandai membaca peluang. Pangapora ban mator sakalangkong.

]]>
Abdul Basri Sat, 24 Nov 2018 11:34:41 +0700
<![CDATA[Membayangkan Video Dan Grafik Lion]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/23/104990/membayangkan-video-dan-grafik-lion https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/23/104990/membayangkan-video-dan-grafik-lion

Ngeri. Saat melihat video ini: bagaimana pergerakan pesawat Lion 610 itu. Sebelum terjun ke laut dekat Karawang itu.]]>

Ngeri. Saat melihat video ini: bagaimana pergerakan pesawat Lion 610 itu. Sebelum terjun ke laut dekat Karawang itu.

Saya menerima video itu seminggu setelah kecelakaan. Dari grup para engineers. Saya tidak berani nge-share. Belum tahu apakah betul-betul begitu.

Saya pun mengikuti perkembangannya dengan seksama. Membaca media-media Amerika, Inggris dan Hongkong. Diskusi dengan ahli di bidang itu.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan: sepertinya pergerakan pesawat seperti di video itu betul. Setidaknya mirip-mirip.

Di video itu terlihat pesawat take off di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Tanggal 29 Oktober. Pukul 6 pagi. Lengkap dengan menit dan detiknya.

Setelah take off terlihat terbangnya agak datar. Tidak menaik. Sampai beberapa menit kemudian masih belum tinggi.
Ketika mulai bisa naik turun lagi. Lalu naik lagi. Turun lagi.

Beberapa kali.

Pesawat tidak pernah naik lagi. Sampai beberapa menit kemudian. Bahkan hidungnya sempat menukik. Beberapa saat. Lalu normal lagi. Menukik lagi. Normal lagi.

Saya bisa membayangkan: seandainya saya penumpangnya. Dengan pergerakan pesawat seperti itu. Alangkah paniknya.

Tentu sebagian penumpang sudah tertidur. Sejak sebelum take off. Akibat bangun terlalu awal. Seperti kebiasaan saya. Pun pasti terbangun. Apalagi ketika hidung pesawat menukik tajam. Ke arah air laut. Lebih-lebih ketika pesawat dalam posisi terbalik. Sebelum normal lagi. Dan akhirnya benar-benar terjun ke laut. Dengan 189 penumpangnya.

Lihatlah grafik perjalanan pesawat itu. Di instagram saya: dahlaniskan19. Yang saya ambil dari New York Times.
Terlihat pilot seperti mengalami kesulitan. Untuk menaikkan pesawat.

Mungkin pilot mencoba-coba memasukkan data ke komputer. Untuk mengatasinya. Lalu mengoreksinya. Memasukkan data lain lagi. Mengoreksinya lagi. Entahlah.

Ternyata kejadian yang mirip Lion itu pernah terjadi di Irlandia. Tahun lalu. Saat pesawat serupa akan terbang dari Belfast, Irlandia. Menuju Yunani. Dengan penumpang 185 orang.

Pesawat Sunwing Airlines itu mau take off. Tapi tidak segera bisa mengangkasa. Roda depan tidak segera terangkat. Padahal ujung landasan sudah dekat. Akhirnya roda depan memang terangkat. Tapi telat sekali. Sudah hampir lewat landasan. Roda belakangnya sempat nyenggol lampu di tanah. Lampunya pecah.
Pilot berusaha keras untuk mengatasi ketinggian. Untung. Berhasil.

Analis kejadian itu baru keluar kemarin. Kesimpulannya: sangat membahayakan. Ternyata ada kesalahan data temperatur di komputer. Saat take off itu. Yang mestinya 16 derajat tertulis minus 52 derajat: sama dengan suhu ketika pesawat di ketinggian 30 ribu kaki.

Akibatnya, kecepatan pesawat tidak mencapai seperti yang diprogramkan.

Dalam kasus Belfast itu pilot berhasil mengatasinya. Dengan ketenangannya. Banyak contoh keberhasilan pilot seperti itu: pilot 747 yang empat mesinnya mati semua di atas Gunung Galunggung. Pilot Garuda yang dua mesinnya semua mati: bisa mendaratkannya di sungai dekat Solo. Pilot Adam Air yang berhasil mendaratkan pesawat tanpa arah itu di Sumba Barat.

Memang ada juga yang gagal. Seperti pilot Singapore Airline. Yang take off di bandara Taipei. Yang komputernya dikira tidak berfungsi. Pilot menambah ketinggian secara manual. Ternyata komputernya berfungsi.

Dua perintah ‘naik’ datang bersamaan. Pesawat berdiri tegak. Lalu jatuh stall di bandara.

Video perjalanan Lion JT610 itu dibuat sebagai simulasi. Dengan cara memasukkan data ke dalam komputer. Yang diambil dari menara. Atau dari sumber lainnya.

Dalam situasi kritis seperti itulah pilot dan copilot harus satu soul.
Biasanya sang pilot lebih senior. Copilotnya yang lebih yunior. Tapi dalam kasus Lion JT610 ini Copilotnya lebih tua. Tentu tidak ada salahnya.

Hanya menimbulkan spekulasi: apakah yang lebih senior itu mau mengakui kemampuan yuniornya.
Saya tentu tidak tahu itu. Juga tidak tahu: adakah senior-yunior menjadi persoalan psikis dalam koordinasi di cockpit? Dengan taruhan nyawa penumpang satu pesawat.

Ataukah ini persoalan manajemen penugasan?

Dari grafik yang dimuat New York Times terlihat jelas: betapa pilot Lion berusaha untuk mengatasinya.

Dari blackbox kita akan tahu: bagaimana pilot dan copilot saling bicara. Untuk mengatasi kondisi kritis itu.

Sementara ini kita bayangkan saja. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Fri, 23 Nov 2018 12:11:56 +0700
<![CDATA[Dua Boys Wardah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/21/104559/dua-boys-wardah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/21/104559/dua-boys-wardah

Dua anak lelaki, dua tipe manusia. Sama-sama hebat. Tapi punya kelemahan masing-masing]]>

Dua anak lelaki, dua tipe manusia.
Sama-sama hebat. Tapi punya kelemahan masing-masing.

Bu Nurhayati, ibu mereka, segera ambil kesimpulan: anak sulung dan adiknya itu memang berbeda.

Yang kuliah di ITB jurusan kimia itu lebih kreatif. Tapi kurang rapi. Dalam pekerjaannya.

Yang kuliah di ITB jurusan elektro itu lebih tertib dalam bekerja. Juga lebih disiplin. Tapi kalah kreatif.

Hasilnya sangat beda. Pasar Wardah di Indonesia wilayah barat lebih maju. Karena dipimpin orang yang lebih kreatif.
Tapi manajemen di wilayah Indonesia timur lebih rapi. Karena dipimpin oleh anak yang lebih disiplin.

Dua-duanya diperlukan oleh perusahaan.

Pemilik kosmetik Wardah itu segera ambil langkah. Pembagian tugas di antara dua anaknya itu tidak lagi perwilayah.

Nurhayati sudah sampai pada kesimpulan: dua anaknya sama-sama bisa diandalkan. Hanya kemampuan mereka yang berbeda.
Maka anak yang kreatif itu diberi tugas bidang pemasaran. Tidak lagi hanya di wilayah barat. Seluruh Indonesia.

Yang manajemennya rapi tadi ditugaskan memimpin produksi. Bu Nurhayati pun memiliki direktur produksi dan pemasaran.

Sang ibu tinggal lebih konsentrasi di riset dan pengembangan. Sang suami berhenti bekerja. Memperkuat perusahaan keluarga. Menangani bidang sumber daya manusia.

Dengan pembagian tanggungjawab yang baru Wardah kian maju.

Sambil menunggu anak ketiganya lulus. Yang lagi mengambil spesialis kulit itu. Yang akan memperkuat bidang riset dan pengembangan.

Kebetulan salah satu menantu Bu Nurhayati juga memiliki kelebihan: bidang keuangan. Bisa diberi wewenang di bidang akuntansi.

Wardah lantas meraih kemajuan yang luar biasa.

Semua pengendalinya muda.

Kerjanya gila.

Hanya anak muda yang bisa bikin kemajuan. Statement saya sejak enam tahun lalu itu terbukti lagi di Wardah. “Anak-anak saya itu yang membesarkan Wardah,” kata Bu Nurhayati.

Semua seperti kebetulan.

Kebetulan Bu Nurhayati tidak diterima menjadi dosen.

Kebetulan diterima oleh Wella.

Kebetulan ditugaskan di bagian lab.

Kebetulan memilih memelihara anak daripada terus bekerja.

Kebetulan anak-anaknya pintar dan bisa dilepas.

Kebetulan memilih bisnis kecil-kecilan daripada kembali bekerja di perusahaan orang lain.

Kebetulan rumahnya terbakar.

Kebetulan tuntutan keadilan berkembang setelah reformasi. Termasuk keadilan ekonomi.

Kebetulan bank mulai memperhatikan usaha kecil. Wardah dapat kredit kecil.

Kebetulan anak-anaknya sudah lulus. Saat perusahaan berkembang.

Kebetulan anak-anaknya mau ikut perusahaan ibunya.

Kebetulan hijaber lagi berkembang….

Kebetulan.

Saya setuju bahwa semua itu pertolongan Tuhan. Tapi saya tidak setuju kalau semua itu sekedar kebetulan.

Saya bisa melihat dengan jelas: semua kebetulan itu karena Bu Nurhayati mengusahakannya.

Adakah yang lebih kreatif itu dipengaruhi kuliahnya di kimia?
Yang memberikan doktrin eksperimen tanpa batas? Bukankah dunia kimia itu dunia kombinasi tanpa batas?

Ataukah memang pada dasarnya lebih kreatif?
Adakah yang lebih tertip dan disiplin itu karena kuliahnya di elektro? Yang mengajarkan serba disiplin? Agar tidak korslet?

Bu Nurhayati tidak mempersoalkan itu. Juga tidak tertarik mencari penyebabnya. Biarlah itu tugas ilmuwan sumber daya manusia.

Yang jelas dua-duanya punya keunggulan. Tinggal ketepatan penempatannya.

Bu Nurhayati jeli melihat perbedaan kemampuan anaknya.(dahlan iskan / bersambung)

]]>
Abdul Basri Wed, 21 Nov 2018 09:20:26 +0700
<![CDATA[Kamal Takkan Mati]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/03/101683/kamal-takkan-mati https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/11/03/101683/kamal-takkan-mati

PRO-KONTRA dalam mengambil kebijakan itu wajar. Salah satunya kebijakan Presiden Joko Widodo mengubah status jalan Tol Suramadu menjadi jalan non-tol]]>

PRO-KONTRA dalam mengambil kebijakan itu wajar. Salah satunya kebijakan Presiden Joko Widodo mengubah status jalan Tol Suramadu menjadi jalan non-tol. Kebijakan itu menjadi perbincangan hangat seantero nusantara.

Lebih-lebih masyarakat Jawa Timur (Jatim). Khususnya warga Madura. Mulai dari abang becak, kuli bangunan, loper susu, hingga aktor atau lakon yang mengenakan celana kain, dipadukan dengan setelan jas dan dasi.

Semuanya berdiskusi tentang penggratisan tarif jembatan penghubung Pulau Jawa dengan Madura. Satu sisi, penggratisan tarif Suramadu bakal mempercepat peningkatan pertumbuhan ekonomi Madura. Di satu sisi mereka menilai perekonomian kawasan Kecamatan Kamal bakal merosot. Sebab, penumpang feri di Pelabuhan Kamal terus alami penurunan.

Jika kita kembali ke masa lalu, sebelum Suramadu beroperasi, penumpang feri di Pelabuhan Kamal selalu ramai. Lebih-lebih ketika momentum arus mudik dan balik. Juga momentum perayaan tahun baru.

Aktivitas bongkar muat feri di Pelabuhan Kamal memang tinggi. Bahkan, mengakibatkan antrean sepanjang 4 kilometer dari hingga Desa Gili Anyar. Apakah dengan sepinya pelabuhan dan Terminal Kamal membuat perekonomian merosot? Tentu saja tidak. Kamal memiliki bangunan megah dan penghuninya mencapai puluhan ribu.

Deretan beberapa gedung megah. Serta terdapat satu gedung menjulang ke langit hingga lantai 10. Itu adalah lembaga pendidikan dengan nama Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Jumlah mahasiwa di kampus terbesar di Madura itu mencapai 17.500.

Sekarang kita mulai berhitung. Harga seporsi nasi plus minum Rp 10 ribu. Sehari makan tiga kali. Jadi per hari mengeluarkan uang Rp 30 ribu untuk makan dan minum. Jika ditotal  urusan perut saja mahasiswa harus merogoh gocek Rp 900 ribu per bulan. Kemudian ditambah sewa kos Rp 250 ribu per bulan. Belum lagi bahan bakar kendaraan, uang pulsa, dan tetek bengek lainya.

Anggap saja hitung tipis-tipis uang saku mahasiwa Rp 1,5 juta per bulan. Sementara jumlah mahasiswa 17.500. Hasilnya mencapai Rp 26,25 miliar per bulan. Itu suma sebulan loh ya, belum setahun.

Sementara jumlah penduduk se-Kecamatan Kamal –sesuai data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Bangkalan hingga September 2018– mencapai 50.423. Perinciannya, dewasa di atas 17 tahun mencapai 37.271 dan usia di bawah 17 tahun mencapai 13.423 jiwa.

Jika biaya hidup golongan dewasa Rp 1 juta per bulan dikalikan 37.271, hasilnya Rp 37,27 miliar. Jika uang saku anak di bawah usia sweet seventeen Rp 250 ribu dikalikan 13.423, hasilnya Rp 3,35 miliar.

Jika ditotal dengan variabel Rp 26,25 ditambah Rp 37,27 miliar. Selanjutnya ditambah uang saku anak bau kencur di bawah usia 17 tahun senilai Rp 3,35 miliar. Hasilnya mencapai Rp 56,87 miliar.

 Dana puluhan miliar itu mereka gunakan untuk memenuhi kebutan hidup di kawasan Kecamatan Kamal. Dengan jumlah uang beradar (JUB) mencapai Rp 56,87 miliar, masih mau bilang perekonomian lesu?

Jika Pemkab Bangkalan sedikit cerdas membaca potensi, seharusnya pemangku kebijakan membuat mainan baru di kawasan Kamal. Seperti, membuat kios-kios atau semacam deretan kafe di kawasan UTM. Juga, bisa membuat kafe-kafe di kawasan Pelabuhan Kamal hingga Desa Tanjung Jati. Untuk kafe di kawasan kamal Posisinya harus berada di bibir pantai. Sehingga memiliki view Selat Madura.

Masyarakat bisa menyewa kafe atau deretan kios saban tahun. Kemudian, dermaga barat Pelabuhan Kamal bisa dibangun destinasi wisata bahari. Seperti Wahana Bahari Lamongan (WBL). Kemudian kapal-kapal feri itu bisa digunakan untuk wisatawan.

Jika kurang modal bisa menggandeng investor. Izinnya jangan dipersulit. Jika Wisata Bahari Kamal benar-benar terwujud, sudah pasti JUB di Kamal bisa meningkat berkali-kali dari Rp 56,87 milar. Serta mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat.

Mulai dari pedagang, tukang parkir, petugas keamanan, loper susu, hingga penginapan. Dengan begitu, pendapatan masyarakat kian meningkat. Pemkab Bangkalan juga bisa menerima PAD besar dari kawasan Kamal.

Kita tunggu saja kesaktian Pemkab Bangkalan. Apakah pandai memanfaatkan kesempatan besar ini. Ingat, meski tarif Suramadu Rp 0, perekonomian Kecamatan Kamal tidak akan lesu. Kecamatan Kamal akan terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat.

Jika Pemkab Bangkalan cerdas dan serius memajukan Kamal, tidak ada suatu negara atau daerah yang tidak maju. Yang ada salah dalam mengelolanya. Pangapora raja. Mator sakalangkong.

 

]]>
Abdul Basri Sat, 03 Nov 2018 12:14:35 +0700
<![CDATA[Wujudkan Pemilu Bersih, Damai, dan Aman]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/31/101099/wujudkan-pemilu-bersih-damai-dan-aman https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/31/101099/wujudkan-pemilu-bersih-damai-dan-aman

BANGSA Indonesia patut berbangga. Sebab dalam beberapa sektor, perjalanan demokrasi di negeri ini semakin lebih baik. Sistem pemilihan secara langsung lambat]]>

BANGSA Indonesia patut berbangga. Sebab dalam beberapa sektor, perjalanan demokrasi di negeri ini semakin lebih baik. Sistem pemilihan secara langsung lambat laun juga terus dibenahi. Masyarakat yang semakin cerdas serta kebebasan pers yang terbuka dalam mengawal demokratisasi juga perlu disyukuri.

Tentu kemajuan-kemajuan tersebut menjadi modal dalam menyambut Pemilu 2019. Kita berharap Pemilu 2019 menjadi pesta demokrasi yang bersih, damai, dan aman. Sebuah pemilu yang tidak hanya mengedepankan prosedural, tetapi juga pada hasil yang berkualitas dan substantif.

Mewujudkan pemilu yang bersih, damai, dan aman tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sebab meski secara prosedural semakin baik, banyak catatan merah dalam perjalanan pemilihan umum di negeri ini. Lubang-lubang demokrasi itu perlu kiranya kita tambal sulam agar pemilu mendatang semakin berkualitas.

Dalam catatan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, terutama pada pengalaman Pilkada Serentak 2017, kerawanan pemilu masih terjadi di berbagai dimensi. Mulai dari penyelenggara, kontestasi, hingga partisipasi masyarakat.

Dalam aspek penyelenggara, Bawaslu menemukan masih adanya penyelenggara yang tidak bisa menjaga netralitas dan profesionalitas. Bahkan Bawalsu juga menemukan tidak sedikit penyelenggara pemilu yang terindikasi menyalahgunakan wewenang. Padahal kunci utama penyelenggara pemilu adalah menjaga integritas diri agar tidak terjebak pada kepentingan politik sesaat.

Pada kontestasi, sering terjadi konflik antarkandidat yang melibatkan massa pendukung. Tak pelak cara-cara culas pun kadang dilakukan demi memenangkan pemilu. Model-model kampanye hitam masih sering ditemukan dalam setiap pelaksanaan pesta demokrasi. Mulai dari politik uang (money politics) hingga politisasi agama mereka lakukan demi meraih kemenangan. Termasuk penyebaran ujaran kebencian serta kabar bohong (hoaks) melalui media sosial kerap mewarnai perjalanan demokrasi di negeri ini.

Memang tidak mudah menghindari permasalahan di atas, terutama politisasi agama dalam pemilu. Sebab, agama (Islam) sarat dengan pesan-pesan moral bagi pemimpin. Misalnya, pesan berlaku adil, jujur, amanah, dan lain-lain. Karena itu, memilih calon pemimpin yang kredibel bisa bermakna ibadah. Bahkan ”istikharah” merupakan salah satu media yang dilakukan banyak ulama untuk memilih calon pemimpin kredibel.

Karena itulah butuh pemilahan antara seruan moral agama dalam hal kepemimpinan dan pemanfaatan agama dalam kepentingan politik sesaat. Maka, para tokoh agama juga perlu menyadari dan mewaspadai tarik-menarik antara seruan agama dan kepentingan politik praktis ini. Tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat perlu menjadi menguat demokrasi substansial. Bukan sebaliknya, mengeroposkan demokrasi dengan berbalut agama.

Yang perlu dihindari oleh para tokoh agama yakni jangan sampai menjual ”ayat, hadis, fatwa” untuk memenangkan calon tertentu atau untuk menjatuhkan calon tertentu. Jangan sampai mengeluarkan ”fatwa pesanan” untuk memenangkan calon tertentu atau untuk menjatuhkan calon tertentu. Sebab, cara-cara seperti itu justru akan memperburuk jalannya demokrasi di negari ini.

Ujaran kebencian serta penyebaran berita hoaks perlu menjadi atensi tokoh masyarakat dan tokoh agama. Para tokoh agama harus memberikan pencerahan kepada umat tentang akibat membuat dan menebar berita hoaks.Yakni, di samping melanggar aturan agama (yang diancam dengan dosa dan siksa), juga melanggar aturan pemerintah (yang berpotensi diseret ke meja hijau). Belum lagi dampak sosialnya yang masif melalui medsos.

Para tokoh agama perlu mengajak jamaahnya untuk mewaspadai berita hoaks, terutama yang bertendensi kepentingan politik. Jika menerima berita, jangan langsung ditelan mentah-mentah, apalagi langsung disebar kepada orang lain. Setiap informasi yang diterima, perlu dilakukan tabayun sebelum disebarkan kepada orang lain.

Politisasi agama serta penyebaran berita hoaks bakal berimplikasi negatif pada pemilu. Dampak terburuknya justru akan membuat umat terpecah belah. Padahal sejatinya, pemilu diselenggarakan demi melahirkan pemimpin berkualitas dan menciptakan demokrasi yang lebih baik.

 

Pemilu Berkualitas

Untuk menciptakan pemilu berkualitas, butuh perbaikan di segala lini. Mulai regulasi yang jelas, peserta pemilu yang kompeten, birokrasi yang netral, penyelenggara pemilu yang berintegritas, dan pemilih yang cerdas. Jika komponen-komponen itu tidak terwujud, akan ada celah yang dapat merusak kualitas pemilu.

Pemilih yang cerdas memiliki peran penting dalam demokrasi. Pemilih cerdas akan menempatkan pemilu sebagai alat, bukan tujuan. Pemilu merupakan sarana untuk menyeleksi calon pemimpin yang kredibel. Dengan begitu, kualitas calon pemimpin sangat ditentukan proses pemilu.

Karena itu, pilihlah pemimpin yang dipandang kredibel dan hindari politik uang. Politik uang sama saja dengan memberikan peluang kepada calon tidak kredibel untuk menjadi pemimpin. Masyarakat juga tidak boleh golput. Sebab, hal itu hanya akan menguntungkan bagi calon yang tidak kredible.

Karena biasanya, perilaku golput dilakukan orang yang kritis yang memandang tidak ada calon yang kredibel. Padahal golput akan memberikan peluang orang yang kurang kompeten untuk memenangkan pertandingan. Gerakan golput sama bahayanya dengan politik uang. Karena itu, jangan golput dan tolak politik uang. (*)

 

]]>
Abdul Basri Wed, 31 Oct 2018 10:07:46 +0700
<![CDATA[Empat Jenis Angin Setelah Subuh]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/29/100743/empat-jenis-angin-setelah-subuh https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/29/100743/empat-jenis-angin-setelah-subuh

Saya lari mengambil HP. Yang lagi saya charge di dekat pintu masuk. Ada pemandangan unik. Di masjid Tokyo, ini. Yang harus saya abadikan di kamera: foto dan vid]]>

Saya lari mengambil HP. Yang lagi saya charge di dekat pintu masuk. Ada pemandangan unik. Di masjid Tokyo, ini. Yang harus saya abadikan di kamera: foto dan video.

Minggu subuh kemarin itu saya dapat tempat di deretan tengah. Baris depan sudah penuh. Oleh jamaah subuh yang datang lebih dulu.

Begitu salat selesai saya diminta ke depan. Untuk memberikan santapan rohani. Kuliah subuh. Tapi saya diminta menunggu dulu. Akan ada santapan jasmani dulu.

Jamaah diminta menghadap ke kanan. Berarti: orang yang tadi duduk di samping menjadi duduk di depan masing-masing.

Lalu datanglah komando ini: agar semua memijat pundak teman di depannya. Dengan gerakan hujan rintik-rintik. Artinya memijit-mijit dengan gerakan ringan.

Saya tidak menyangka akan melihat itu. Di dalam masjid. Saat wiridan baru selesai. Saat jamaah masih duduk rapi. Berderet dan bersila.

Saya pun lari mengambil HP. Lucu sekali gerakan mereka.

Tak lama kemudian datang komando baru: gerakan hujan batu!

Maka tangan mereka pun dalam posisi tergenggam. Dipukul-pukulkan ke punggung teman di depannya. Ada yang memukulkannya dengan keras. Ada yang keras sekali.

Lalu ada komando yang lain lagi: hujan badai! Genggaman dibuka. Lima jari diluruskan. Dikaratekan ke punggung teman di depannya. Ada yang pukulan karatenya cepat. Ada yang cepat sekali.

Komando pun berubah lagi: angin sepoi-sepoi! Maka gerakan pijatnya menjadi pijat pelan. Selesai.

Eh, belum.

Jamaah diminta berbalik. Yang tadi memijat ganti dipijat. Dengan empat jenis hujan yang sama.

Inilah pijat masal. Di dalam masjid. Bakda subuh. Khas masjid di Tokyo, Jepang. Di kompleks sekolah Indonesia. Milik kedutaan besar kita.

Subuh hari itu diimami oleh Ustad Fatah. Guru sekolah itu. Asal Sunda. Yang berjamaah sekitar 60 orang. Penuh sekali. Sebagian wanita. Sebagian sudah di situ sejak lewat tengah malam: qiyamul lail.

Sebagian lagi belum tidur sama sekali: masak. Di dapur dekat masjid itu. Untuk sajian makan pagi. Bagi seluruh jamaah. Gratis.

Saya hanya bicara kurang dari lima menit. Jamaah di situ orang-orang pintar. Mahasiswa S2 atau S3. Bahkan beberapa sudah bergelar doktor. Di bidang ilmu yang berat-berat: ilmu komputer, ilmu material, konversi energi, kimia, fisika ...

Saya lebih ingin mendengarkan mereka. Tentang ilmu-ilmu mereka. Dan apa yang bisa dilakukan di kemudian hari.

Salah satu jamaah bertanya: bagaimana kelak bisa pulang. Untuk mengabdi ke tanah air.

Ia merasa tidak nasionalis. Kalau tidak pulang.

Saya sampaikan: jangan punya perasaan seperti itu. Indonesia juga perlu lebih banyak orang sukses di luar negeri. Sebagai kekayaan nasional: kekayaan networking.

Jangan merasa kalau hidup di luar negeri lantas tidak nasionalis.

Bahkan saya anjurkan: begitu lulus jangan pulang dulu. Bekerjalah dulu di Jepang. Paling tidak dua tahun. Untuk 'kuliah kehidupan' yang sebenarnya. Di negeri yang disiplinnya tinggi.

Mengapa?

Agar tertular sistem manajemen Jepang. Yang penularan seperti itu penting. Tidak bisa didapat di bangku kuliah. S3 sekali pun.

Proses penularan itu berbeda dengan proses pengajaran. Dalam proses penularan akan terjadi internalisasi pada sikap dan watak. Yang kemudian membentuk karakter.

Banyak pertanyaan subuh itu. Tapi waktunya terbatas. Saya harus segera memenuhi acara lain.

Sehari sebelumnya saya menghadiri acara TICA. Tokyo-Tech Indonesia Commitment Award. Yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia di situ: Tokyo Institute of Technology. MIT atau ITB-nya Jepang.

Acara itu diselenggarakan tiap tahun. Ini tahun kesembilan. Kian tahun kian menarik perhatian. Tahun ini ada 400 penelitian mahasiswa. Yang ikut kompetisi.

Tiga finalisnya diundang ke Tokyo. Ke acara ini. Selama empat hari.

Kali ini finalisnya cewek semua! Ampuuuun. Pinter-pinter. Cantik-cantik pula: dari ITB (Ayu Lia Pratama), dari Brawijaya Malang (Elviliana) dan dari ITS Surabaya (Nadhira Nurfathiya).

Juaranya yang dari ITB itu. Yang kuliah di jurusan fisika. Dia mengambil fisika nuklir.

Lia adalah gadis kota kecil: Ponorogo. Ayahnya kerja mandiri: vulkanisir ban. Lia mengajukan penelitiannya: penggunaan plutonium yang lebih efisien untuk reaktor nuklir HTGR.

Sedang Elviliana mengajukan penelitiannya di bidang listrik: dari kulit pisang dan kulit kacang. Yang dimasukkan reaktor. Lalu diberi katoda dan anoda. Kesimpulannya: yang dari kulit pisang menghasilkan lebih banyak listrik. Dibanding yang kulit kacang.

Tapi Elviliana belum meneliti keekonomiannya. Misalnya: sama-sama satu ton kulit pisang, mana yang lebih banyak menghasilkan listrik: dengan cara dia itu atau dengan cara diambil gas metannya.

Nadhira, ITS, mengajukan penelitiannya di bidang deteksi logam berat. Menggunakan kulit semangka dan kulit jeruk.

Banyak pertanyaan sulit-sulit. Dari dewan yuri. Salah satunya Dr Misbakhul Huda. Yang meraih gelar doktor pada umur 27 tahun. Di bidang nanotechnology.

Dr Misbakhul adalah anggota OPEC: Orang Pecalongan. Rumahnya dekat guru tasawuf Habib Lutfi. Dr Misbakhul sendiri kini menjadi Ketua Nahdlatul Ulama cabang Jepang.

Tahun depan tentu lebih banyak lagi peminat TICA. Rasanya PPI di universitas ini telah menemukan reputasinya.

Saya pun siap memberikan pijatan angin apa pun pada finalisnya. Tahun depan. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Mon, 29 Oct 2018 10:10:16 +0700
<![CDATA[Teka-Teki Masa Depan BUMN Korut]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/29/100711/teka-teki-masa-depan-bumn-korut https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/29/100711/teka-teki-masa-depan-bumn-korut

Seperti penjual buah itu. Dia digaji bulanan. Dapat beras, sayur dan buah-buahan. Dari pemerintah. Lewat organisasi sekelas RT.]]>

Saya ke restoran.
Itu milik negara.
Saya beli apel. Di toko buah yang sederhana.
Itu milik negara.
Saya ke gym.
Itu milik negara.
Apalagi kereta api, bank dan pabrik.
Saya lewat daerah persawahan.
Itu milik negara.
Semua milik negara. Dari yang besar sampai sekecil toko buah.

Itulah Korea Utara. Semua usaha adalah usaha negara.

Seperti penjual buah itu. Dia digaji bulanan. Dapat beras, sayur dan buah-buahan. Dari pemerintah. Lewat organisasi sekelas RT.
Dia dapat pakaian seragam. Gratis. Dapat rumah gratis. Berobat gratis. Sekolah anaknya gratis.

Hanya pakaian sehari-hari yang harus beli. Dan tambahan bahan makanan –kalau mau makan lebih banyak. Atau tambah daging –kalau ingin makan lebih enak.

Perusahaan negara adalah lapangan kerja. Untuk rakyatnya.

Tidak hanya penjual buah. Semua rakyat dapat rumah gratis. Sekolah gratis. Berobat gratis. Naik bus kota hanya bayar Rp 75. Listrik di rumah hanya bayar Rp 2500/bulan. Bayarnya tiap tiga bulan.

Semua kementerian memiliki BUMN. Misalnya toko buah tadi: di bawah kementerian perdagangan.

Seperti kita dulu. Sebelum memiliki kementerian BUMN. BUMN kita di bawah kementerian bidang masing-masing.

Hanya saja, di kita, waktu itu, masih banyak juga perusahaan swasta. Atau perorangan.

Korea Utara lebih mirip Tiongkok sebelum kepemimpinan Deng Xiaoping. Warung pun milik negara. Lalu terjadilah swastanisasi besar-besaran. Boleh dikata gila-gilaan. Yang dilakukan Deng Xiaoping. Awal tahun 1980-an.

Seperti warung, toko, potong rambut diberikan kepada perorangan.

Yang bentuknya perusahaan kecil dan menengah diberikan kepada tim manajemennya. Suruh menjalankan sendiri. Hasilnya untuk mereka sendiri. Asal tidak minta pesangon pada negara. Asal tidak ada PHK. Kalau pun ada PHK uang pesangonnya cari sendiri.

Jutaan jumlah perusahaan seperti ini. Yang tiba-tiba menjadi milik pengelolanya.

Dalam perkembangannya terjadi banyak kenyataan: ada yang pengelolanya mampu memajukan perusahaan. Ada yang terpaksa mencari partner.

Perusahaan-perusahaan besar swasta Tiongkok saat ini umumnya berangkat dari cara berpartner seperti itu.

Yang masih dimiliki negara adalah yang besar-besar. Dan yang strategis. Itu pun hanya sebagian yang masih 100 persen milik pemerintah. Sebagian lagi saham pemerintah tinggal 75pct. Atau 50 pct. Atau lebih kecil lagi.

Saya belum tahu model apa yang akan ditempuh Korea Utara. Kalau akan mengubah sistem ekonominya.

Yang jelas kondisi ekonomi Korut sekarang beda dengan Tiongkok 1970. Tidak semiskin Tiongkok waktu itu. Penduduk Korut juga hanya 25 juta orang. Beda dengan beban Tiongkok yang 1,3 milyar.

Korut juga sudah mulai mengenal joint venture. Salah satu dari dua perusahaan telkomnya dijointkan dengan Orascom. Perusahaan terbesar di Mesir.

Itu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa pilihannya swasta Mesir. Aneh sekali. Jauh sekali. Mengapa, misalnya, bukan dari Tiongkok. Mengapa bukan dari Singapura. Mengapa bukan Telkomsel.

Demikian juga salah satu gedung baru di Pyongyang. Juga patungan dengan swasta Mesir itu.

Saya bertemu orang Mesir. Di Pyongyang. Di masjid Iran. Untuk salat Jumat bersama. Mereka adalah para eksekutif perusahaan telkom tersebut.

Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan saya. ”Kami hanya eksekutif di sini. Tidak tahu ceritanya,” ujarnya. Ia menjadi Imam salat Jumat minggu lalu itu.

Memang sudah lama perusahaan Mesir itu masuk Korut. Saat kelompok Nonblok masih jaya: Indonesia, Mesir, India, Yugoslavia dan Korut anggota pentingnya.

Mula-mula Orascom mendirikan pabrik semen di Korut. Semen memang bidang bisnis utama. Sudah berkembang ke beberapa negara. Orascom lantas dipercaya membangun properti. Gedung baru yang mirip roket biru itu. Lantas dipercaya pula untuk joint dengan perusahaan telkom Korea Utara: Koryolink.

Saya belum tahu masa depan bentuk BUMN di Korut.

Jangan-jangan akan ikut cara Singapura. Perusahaan negara tetap eksis. Sebagai raja. Tapi swasta boleh ada. Biar bersaing.
Hanya Kim Jong-Un yang tahu. Bukankah ia dianggap rakyatnya setengah Tuhan? (dahlan iskan)

]]>
Abdul Basri Mon, 29 Oct 2018 05:00:59 +0700
<![CDATA[Janji ke Baekdu Harapan ke Halla]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100179/janji-ke-baekdu-harapan-ke-halla https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100179/janji-ke-baekdu-harapan-ke-halla

Begitu tulus. Kim Jong-Un menerima kedatangan Moon Jae-In. Di drama kedua ini. Bulan lalu. Seperti dua bersaudara. Seperti sudah melupakan]]>

Ini drama kedua. Kelanjutan dari drama April di Panmunjom.

Begitu tulus. Kim Jong-Un menerima kedatangan Moon Jae-In. Di drama kedua ini. Bulan lalu. Seperti dua bersaudara. Seperti sudah melupakan ini: dua negara itu resminya masih dalam status perang. Hanya sedang dalam masa gencatan senjata.

Di Pyongyang Moon Jae-In diterima di stadion terbesar di dunia itu. 120 ribu rakyat Korut menyambutnya. Dengan hangat. Dengan meriah. Memenuhi tempat duduk stadion.

Masih ada 100 ribu orang lagi: memainkan berbagai atraksi. Di tengah stadion.

Moon Jae-In menyaksikan atraksi itu dengan banyak bertepuk tangan. Satu jam kemudian ia menoleh ke tempat duduk Kim Jong-Un. Berbicara sesuatu.

Ternyata Moon Jae-In minta izin: bolehkah menyampaikan sesuatu langsung pada rakyat Korut? Ia minta ijin untuk berpidato.

Mendengar permintaan itu Kim Jong-Un langsung berdiri. Menuju mikrofon. Memberitahukan bahwa tamunya akan berpidato. Agar rakyat mendengarkan baik-baik. Tepuk tangan menggemuruh.

Acara malam itu memang tidak pakai MC. Semua mengalir begitu saja. Entah sudah diskenario atau tidak.

Selesai Kim Jong-Un memberi kata pengantar, Moon Jae-In berdiri. Pidato. Pendek. Lima menit. Tapi mendalam. Tepuk tangan menggemuruh. Moon Jae-In memuji habis rakyat Korea Utara. Dan pemimpin mereka. Dalam satu istilah bahasa Korea. Yang artinya panjang: sebuah negara yang antara rakyat dan pemimpinnya bersatu dalam satu tekad dan satu hati.

Begitu mengesankan acara malam itu.

Keesokan harinya ada yang aneh: Moon Jae-In tidak jadi pulang. Di luar jadwal, presiden Korea Selatan itu ke gunung Baekdu. Yang harus ditempuh dengan pesawat. Satu jam penerbangan.

Rupanya Moon Jae-In ingat. Ia pernah berjanji pada Kim Jong-Un. April lalu. Saat keduanya berjalan bergandengan. Di Panmunjom. Di perbatasan. Gandengan tangan yang sangat legendaris itu.

Janji Moon Jae-In adalah: suatu saat akan ke gunung Baekdu. Yang sering juga disebut gunung Paektu.

Janji itu sangat mengena di hati orang Korea Utara. Menandakan pengakuan terhadap simbol bersama dua Korea.

Dahlan Iskan di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan 

Baekdu adalah gunung tertinggi di semenanjung Korea: 2.956 meter. Letaknya di ujung utara Korea Utara. Di perbatasan antara Korea dan Tiongkok.

Gunung Baekdu dipercaya sebagai asal usul bangsa Korea. Dari situlah suku asli Korea berasal. Leluhur tertua. Sebelum akhirnya menyebar. Ke seluruh Korea. Berlanjut ke pulau-pulau di timur. Yang sekarang disebut Jepang.

Orang Korea menganggap Baekdu sebagai gunung bertuah. Mistis. Ziarah ke sana merupakan satu keharusan.

Dari gunung ini pula bapak pejuang Korea Utara memulai perlawanannya: Kim Il-Sung. Melawan Jepang. Sejak umur 14 tahun. Kakek Kim Jong-Un itu.

Waktu terdesak dulu Kim Il-Sung mundur jauh ke Baekdu. Untuk kembali menyusun kekuatan. Lalu membebaskan seluruh Korea. Dari penjajahan Jepang.

Baekdu berarti selalu putih. Puncaknya selalu bersalju.

Gunung ini sangat tua.

Sebelum tahun masehi Baekdu sangat tinggi. Lalu meletus dahsyat. Tercatat sebagai salah satu dari lima letusan gunung terbesar dalam sejarah dunia.

Yang terbesar adalah letusan gunung di Yunani. Yang bekas gunungnya sampai menjadi teluk: Santorini. Yang kini menjadi daerah tujuan wisata paling populer di Yunani: Pulau Santorini.

Yang terbesar ketiga dan keempat adalah gunung Tambora dan gunung Samalas. Dua-duanya di NTB, Indonesia. Gunung Samalas lenyap sama sekali. Tinggal anaknya: Rinjani. Letusan terbesar kelima ada di Selandia Baru.

Di puncak gunung Baekdu pun sampai tercipta kawah. Berbentuk danau. Seperti di gunung Toba, di Sumut.

Di Korea juga ada kepercayaan: segala hal tercipta secara berpasangan.Baekdu pun punya pasangan: gunung Halla. Lokasinya di pulau paling selatan Korea Selatan. Pulau Jeju.

Baekdu dipercaya sebagai suami. Halla adalah istri.

Dalam legenda Korea diceritakan: ada terowongan air besar di bawah sana. Yang menghubungkan gunung Baekdu dan gunung Halla.

Dua gunung itu bukan main populernya. Sama-sama jadi pusat wisata. Maka mempersatukan dua Korea adalah mendekatkan kembali suami istri itu. Yang dipisahkan oleh penjajahan Jepang.

Moon Jae-In sudah ke Baekdu. Kapan Kim Jong-Un ke Halla?(Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Thu, 25 Oct 2018 09:44:54 +0700
<![CDATA[Kashoggi Sampai Di Twitter Qahtani]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100145/kashoggi-sampai-di-twitter-qahtani https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100145/kashoggi-sampai-di-twitter-qahtani

Pangeran MbS pasti akan aman. Tidak mungkin jatuh. Arab Saudi bukan negara demokrasi. Yang pemimpinnya bisa mudah dijatuhkan.]]>

Pangeran MbS pasti akan aman. Tidak mungkin jatuh. Arab Saudi bukan negara demokrasi. Yang pemimpinnya bisa mudah dijatuhkan.

Dan lagi, tangan kanannya pasti melindunginya: Saud al Qahtani. Yang umurnya kini di puncak kejayaannya: 40 tahun.

Wartawan Kashoggi boleh meninggal. Dengan cara dibunuh. Di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Oleh 15 orang tim intelejen kerajaan. Yang terbang khusus ke Istanbul. Dengan dua pesawat jet carteran. Yang terbang dari Riyadh. Tapi kekuasaan kerajaan Arab Saudi tidak akan runtuh. Cukup ada yang mau dikorbankan. Salah satunya Saud al Qahtani itu.

Qahtani sudah dipecat. Tepatnya digeser.

Jabatannya sebagai penasehat pangeran MbS sudah dihapus. Jabatan barunya ‘cuma’ Chairman Federasi Cyber Security, Programing dan Drone. Itu jabatan lamanya dulu.

Karir Qahtani memang amat cepat. Setelah lulus dari fakultas hukum ia masuk Angkatan Udara. Pangkatnya sebenarnya masih kapten. Tapi kekuasaannya besar. Terutama tiga tahun terakhir. Setelah menjadi tangan kanan Muhamad bin Salman. Yang di Saudi lebih populer dipanggil Pangeran MbS.

Qahtani mulai dekat MbS saat pangeran itu masih menjadi gubernur ibukota Arab Saudi, Riyadh. Di kalangan wartawan senior, Qahtani dikenal sebagai Steve Banon-nya Donald Trump. Tokoh yang agresif dalam menghabisi lawan-lawan politik. Lewat media. Lewat Sosmed. Lewat pernyataan-pernyataan menyerangnya.

Qahtani bukan tokoh misterius. Bukan sosok tersembunyi. Qahtani sangat tampil ‘inilah dadaku’.

Ia punya grup WA. Salah satunya dengan para pemimpin redaksi dan tokoh-tokoh wartawan. Para Pimred bisa mengenal watak keras dan agresifnya. Hanya lewat grup WA itu saja.

Ia juga aktif di twitter. Orang-orang kritis pada pemerintah diserangnya. Di twitternya. Pernah dalam suatu medsos ia menyebut sudah punya daftar hitam. Mereka yang dianggap anti pemerintah.

]Dan …. itu pula yang mencelakakannya. Atau mencelakakan pangerannya.

Qahtani menggunakan skype. Untuk berkomunikasi dengan tim 15 orang itu. Harian terkemuka South China Morning Post bahkan menyebut ada perintah ini: ”Bawa ke saya kepala anjing itu”. Dalam pembicaraan skypenya.

Rekaman skype itulah yang kini ada di tangan Presiden Turki: Tayeb Erdogan. Ini yang membuat Arab Saudi tidak berkutik.

Semula Saudi menolak keras kejadian di konsulat itu. Berulang kali. Tanggal 2 Oktober itu Kashoggi sudah meninggalkan konsulat. Baik-baik saja.

Tapi calon istrinya tidak melihat Kashoggi keluar pintu. Hatice Cengiz menunggu di luar pagar. Sejak pukul 13.00. Dia juga yang mengantar Kashoggi ke konsulat. Untuk mengambil surat keterangan: sudah menceraikan istrinya yang dulu. Sebagai syarat untuk bisa menikah dengan wanita Turki itu. Minggu depannya.

Turki terus mengungkapkan kejadian sebenarnya di dalam konsulat. Saudi tidak berkutik: mengakui wartawan 56 tahun itu tewas. Tiga minggu kemudian.

Tapi masih ada tidak jujurnya: meninggal karena berkelahi. Belakangan diperbaiki lagi: meninggal karena tersedak. Akibat tenggorokan tercekik. Saya tidak bisa menterjemahkan arti yang pas dari kata ‘chokehold’. Yang dinyatakan sebagai penyebab kematiannya. Versi Saudi.

Yang jelas kepala Kashoggi belum ditemukan.

Keikutsertaan seorang dokter ahli forensik di ‘tim 15’ itu sempat menimbulkan spekulasi: Kashoggi dimutilasi. Potongan-potongan tubuhnya ditanam di hutan: 15 km dari konsulat.

Atau jangan-jangan sudah dibawa pulang. Setidaknya kepalanya. Seperti di zaman kekhalifahan dulu.

Kalau Pengeran MbS benar-benar selamat kali ini, itu untuk yang ketiga kalinya. Dalam dua tahun ini.

Tahun lalu Qahtani menyandera orang penting: Perdana Menteri Lebanon, Saad Al Hariri. Di Riyadh.

Lebanon sempat heboh. Perdana Menterinya hilang. Lucu sekali. Perdana menteri kok hilang. Tahu-tahu ia muncul di TV Arab Saudi: menyatakan mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri.

Saat disandera itulah Qahtani ambil posisi penting. Ia yang ‘menangani’ Hariri. Perdana menteri dari aliran Sunni tapi dianggap tidak bisa menekan mayoritas di Lebanon: Syiah.

”Tidak ada pilihan bagi Anda. Kecuali mengundurkan diri. Dan menandatangani pernyataan ini,” ujar Qahtani. Seperti dikutip media internasional.

Hariri akhirnya bebas. Setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turun tangan. Pergi sendiri ke Riyadh.

Demikian juga ketika tahun lalu Saudi menghukum Qatar. Mengisolasinya. Memblokadenya. Sampai sekarang. Bahkan akan membuat laut pemisah. Di perbatasan dua negara.

Qatar tetap bertahan. Sampai sekarang. Qatar cukup kaya. Apalagi dua tetangganya membantu: Iran dan Turki. Dua negara yang amat dibenci Saudi.

Qahtani sendiri tidak perlu grogi. Dulu ia sering mengatakan di twitternya: ia tidak melakukan apa pun tanpa persetujuan tuannya.

Atau pernah juga mengatakan begini: Apakah Anda pikir saya membuat putusan tanpa petunjuk? Saya adalah petugas. Hanya menjalankan perintah atasan.

Memang itu tidak dalam konteks lenyapnya Kashoggi.
Itu saat ia masih sangat berkuasa.
Dan mungkin masih akan terus berkuasa.
Ia masih muda. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Thu, 25 Oct 2018 06:20:59 +0700
<![CDATA[Beda Bersih Karena Baru Dibersihkan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/24/99980/beda-bersih-karena-baru-dibersihkan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/24/99980/beda-bersih-karena-baru-dibersihkan

Saya Kira Hanya Saya. Ternyata Orang-Orang Asing Juga Berpikiran Sama: Kota Pyongyang Ini Bersih Sekali]]>

Saya kira hanya saya. Ternyata orang-orang asing juga berpikiran sama: Kota Pyongyang ini bersih sekali.

Saya bertanya ke beberapa turis dari Beijing. ”Saya juga tidak menyangka Pingrang sebersih ini,” ujar turis itu.

Ia seorang pengusaha konstruksi. Umur 60an tahun. Juga untuk pertama kali ke Korea Utara. Dengan rombongan 8 orang.

Kami ngobrol asyik dalam bahasa Mandarin. Saat makan pagi bersama. ”Anggota rombongan kami juga kaget. Kota ini bersih sekali,” kata istrinya.

Dalam bahasa Mandarin, Pyongyang disebut Pingrang (平壤). Tanah yang datar. ”Satu puntung rokok pun tak terlihat,” tambahnya.

Mereka sudah tiga hari di Pyongyang. Terheran-heran. Jauh dari yang mereka duga.
”Lebih bersih dari Singapura,” ujar turis Singapura itu. Agak berlebihan.

”Ini kota terbersih yang pernah saya kunjungi,” ujar turis Belanda. Yang rombongannya 20 orang. Semua naik kereta. Dari Beijing. Satu malam suntuk. Tepatnya 20 jam.

Turis Belanda ini senang sekali saya ajak berbincang. Setelah lebih dulu saya puji. ”Belanda sekarang hebat. Mengalahkan Jerman 3-0,” kata saya.

Mereka langsung bersorak. ”Sekarang kami calon juara dunia,” ujarnya.

Saya sendiri sudah dua hari di Pyongyang. Dari rencana lima hari. Juga terheran-heran.

Di Jakarta memang banyak lokasi indah. Makmur. Dan bersih. Seperti di SCBD. Tapi tidak jauh dari situ sudah terlihat kampung miskin. Kumuh. Kotor. Apalagi di bagian lain Jakarta. Banyak yang sangat parah. Miskinnya. Dan kumuhnya.

Di Beijing, Shanghai, Guangzhou juga begitu. Kemakmurannya campur dengan kemiskinannya. Kebersihannya rukun dengan kejorokannya. Keindahannya bergandengan dengan kekumuhannya.

Tidak di Pyongyang.

Memang tidak ada mall mewah. Tidak ada kompleks yang megah. Tidak ada hotel wah. Tapi juga tidak ada kaki lima. Tidak ada sampah.

Bahkan tidak banyak tong sampah. Di pinggir jalan sekali pun. Yang di negara kita sering terlihat tongnya pun sudah begitu jeleknya. Sudah menjadi sampah itu sendiri.

Kualitas jalan, kualitas berm, kualitas trotoar dan kualitas tamannya memang bukan yang kualitas tinggi. Sedang-sedang saja. Tapi bersihnya itu lho!

Saya bisa membedakan bersih dadakan, bersih belum lama dan bersih kultural.

Saya mengambil kesimpulan: bersihnya kota Pyongyang bukan bersih mendadak. Bukan bersih ‘belum lama dibersihkan’. Bersihnya karena akar kebersihan sudah begitu dalam.

Dan sungai-sungainya itu.
Bersih luar biasa.
Pinggirnya.
Tengahnya.
Hulunya.
Hilirnya.

Banyak kota bersih. Tapi hanya di jalan-jalan utamanya. Banyak kota indah. Hanya bagian tertentunya.

Pyongyang  bersih di seantero wilayahnya.

Bandingkan dengan kota-kota modern di Tiongkok. Atau kota-kota di Indonesia. Yang dapat Adipura sekali pun. Pyongyang di atas semua itu.

Tentu juga jangan dibandingkan dengan kota seperti Perth, Australia Barat. Yang begitu komplitnya: indah, bersih, megah, makmur menjadi satu.

Pyongyang masih jauh dari kelas itu.

Perkampungan di Pyongyang  berupa apartemen tinggi. Tidak ada lagi kampung lama. Atau kampung kumuh. Bukan apartemen mewah, memang. Tapi juga bukan kelas rumah susun yang kita kenal.

Bangunan luarnya, umumnya,  terlihat seperti kelas hotel bintang tiga.

Tidak terlihat tempelan-tempelan AC di luarnya. Tidak terlihat ada tiang jemuran. Kesannya rapi. Meski tidak mewah.

Di jalan-jalan juga tidak ada sepeda motor. Hanya ada mobil. Tidak terlihat mobil tua. Atau gerobak. Atau truk peyot. Memang terlihat banyak juga sepeda. Tapi dikayuhnya di trotoar. Sehingga pemandangan di jalan raya tidak terasa ruwet.

Mobil-mobil umumnya buatan Tiongkok: VW, Audi, Ford, Buick, BYD, Yiji, dan lainnya. Kira-kira 70 persen buatan Tiongkok. Sisanya mobil Jepang. Atau mobil Korut hasil asembling mobil Tiongkok. Ada empat merk yang diasembling dengan nama lokal: Pyonghwa, Naenara, Huipharam, dan  Samchonri.

Anda ingat baik-baik merk itu. Siapa tahu kelak akan ikut menyerbu Indonesia. Terlihat juga sedan Mercy hitam. Sesekali. Mungkin juga buatan Tiongkok.

Tidak terlihat sama sekali mobil Korea Selatan: Hyundai, Kia atau Daewoo.

Permusuhannya dengan saudaranya di selatan sampai ke merk mobil. Rupanya.

Di Pyongyang jalan raya sudah sangat ramai dengan mobil. Tapi belum sampai ke tingkat macet. Saya belum pernah lihat satu titik pun yang macet.

Ramainya lalu-lintas ini juga tidak saya sangka. Kok sudah ramai begini. Waktu pertama ke Beijing dulu (awal 1980-an), hampir tidak terlihat mobil di jalan raya. Yang lebar-lebar itu.

Hanya sesekali ada mobil lewat. Jalan raya dipenuhi oleh sepeda. Atau gerobak. Yang ditarik sepeda.

”Sekarang ini memang sudah tiga kali lebih ramai. Dibanding lima tahun lalu,” ujar teman Pyongyang saya.

Kalau boleh usul, jangan tambah mobil lagi. Atau maksimum tambahnya 10 persen saja. Jangan ulangi kasus Jakarta, Bangkok, Beijing, Mumbai. Yang macetnya bikin pusing itu.

Sekarang ini ideal sekali. Ramai tapi tidak macet.

Tapi mana mungkin. Tampaknya sulit sekali mencegah pertambahan mobil. Di negara komunis sekali pun. (Dahlan Iskan)

]]>
Abdul Basri Wed, 24 Oct 2018 07:40:59 +0700
<![CDATA[Pemilu Damai sebagai Wujud Nasionalisme dan Cinta NKRI]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/26/90509/pemilu-damai-sebagai-wujud-nasionalisme-dan-cinta-nkri https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/26/90509/pemilu-damai-sebagai-wujud-nasionalisme-dan-cinta-nkri

PEMILU 2019 akan menjadi hajatan bersama ratusan juta penduduk Indonesia. Seluruh warga akan terlibat dalam kontestasi lima tahunan, baik sebagai kandidat]]>

PEMILU 2019 akan menjadi hajatan bersama ratusan juta penduduk Indonesia. Seluruh warga akan terlibat dalam kontestasi lima tahunan, baik sebagai kandidat, pendukung, atau pemilih. Pemilu kali ini juga akan menjadi yang tersibuk dari pesta demokrasi sebelumnya. Sebab, tahun depan pemilihan presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota serta DPR RI akan digelar secara serentak.

Pemilu pada dasarnya merupakan sarana untuk menjaring pemimpin terbaik di republik ini. Melalui pemilu, masyarakat bisa memilih siapa calon pemimpin yang cocok untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa. Yakni, terwujudnya masyarakat yang sejahtera, berkeadilan sosial, berdaulat, serta hidup yang damai.

Karena itulah, cara-cara mempersiapkan pemilu juga perlu dilakukan secara damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan. Sebab jika cara yang dilakukan sudah tidak selaras dengan nilai-nilai perdamaian, kepemimpinan yang dihasilkan juga tidak akan ideal. Padahal mereka yang dipilih pada pemilu nanti akan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia selama lima tahun yang akan datang.

Pemilu yang damai akan memiliki dampak positif bagi umat beragama, termasuk Islam di dalamnya. Sebab dengan terwujudnya pemilu damai dan aman, maka umat Islam bisa khusyuk dalam menjalankan perintah agama. Mulai dari salat, puasa, zakat, haji, serta amaliah-amaliah lainnya.

Untuk mewujudkan kondisi negara aman salah satu caranya adalah menyukseskan proses kepemimpinan melalui pemilu. Dalam konteks keislaman, memilih pemimpin menjadi kewajiban personal yang tidak bisa diwakilkan. Sebab, keberlangsungan negara tidak akan terjadi tanpa adanya seorang pemimpin.

Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib). Bagi umat Islam, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), merupakan sebuah kewajiban untuk menyukseskan pemilu, baik pileg atau pilpres.

Siapa nantinya akan dipilih dalam kontestasi Pemilu 2019? Tentu akan kembali kepada ijtihad masing-masing warga. Tetapi, pada prinsipnya, memilih pemimpin tidak boleh gegabah. Perlu ditelaah terlebih dahulu siapa dari calon yang ada yang paling dinilai mampu memimpin negeri ini.

Bagi kaum muslim boleh memimpin siapa saja sesuai keyakinannya. Sepanjang calon itu memiliki jiwa nasionalisme tinggi mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Bagi NU juga dianjurkan memilih pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman.

Mengukur calon pemimpin yang sesuai dengan konteks keislaman dan keindonesiaan sangatlah mudah. Pertama, kita bisa lihat dari track record sang calon. Masyarakat bisa melihat apakah sepanjang sejarah hidup sang kandidat pernah berhubungan dengan pemberontakan terhadap negara atau tidak.

Kedua, bisa dilihat dari visi misinya. Gagasan-gagasannya tentang kenegaraan, keindonesiaan, dan keislaman bisa kita baca. Sebab, pemimpin negara harus menjunjung nilai-nilai dasar negara, seperti UUD 1945, Pancasila, serta Bhinneka Tunggal Ika.

Mengukur spirit keislaman juga bukan lantas setara dengan gagasan pendirian negara khilafah. Sebab, sepanjang pengamatan saya pribadi, negara khilafah tidak pernah termaktub dalam teks Alquran, hadis atau ijmak ulama. Islam tidak mengharuskan berdirinya satu model tunggal kepemimpinan.

Tidak ada ideologi negara tunggal dalam konsep Islam. Kita bisa lihat percaturan politik internasional. Dari hampir semua negara yang penduduknya mayoritas Islam berbeda-beda model negaranya.

Indonesia menggunakan sistem negara kesatuan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Malaysia menggunakan sistem kerajaan, Brunei kesultanan, Maroko dan Arab Saudi kerajaan. Artinya, bukan model negara yang diutamakan, tetapi lebih kepada nilai. Islam bisa masuk ke semua sistem kenegaraan, baik bagi negara kesatuan, negara kesultanan, negara kerajaan, negara republik, serta negara federasi. Yang penting adalah nilai-nilai keislaman masuk ke sistem negara tersebut.

 

Pemilu Damai

Semua pihak, terlepas dari kepentingan politik sesaat, tentu menginginkan pemilu yang damai. Sebab hidup berdampingan, gotong royong, serta hormat-menghormati satu sama lain sudah menjadi budaya bangsa Indonesia. Beda pilihan dalam pemilu kiranya terlalu kecil untuk dijadikan alasan berkonflik.

Tetapi, konflik kadang diciptakan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan. Bahkan, konflik kadang menjadi media untuk memenangkan pertarungan. Strategi peta konflik atau pecah belah dipakai pada saat strategi-strategi lain tidak mempan.

Bahkan, politisasi agama juga kerap dipakai hanya untuk kepentingan politik sesaat. Pemandangan ini terlihat dari beberapa pesta demokrasi yang digelar di negeri ini. sebuah pemandangan yang ironis, mengingat negeri ini dibangun oleh bangsa dari latar belakang berbeda, baik dari segi agama, suku, budaya, etnis, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, mereka yang menggunakan politisasi agama merupakan orang yang kalah. Maka senjata terakhir menggunakan politisasi agama. Dia punya nafsu politik yang besar, tapi selalu kalah. Maka, dia menggunakan politisasi agama sebagai cara untuk meraih kekuasaan.

Jika menggunakan kaidah fiqh, dosa politisasi agama lebih besar daripada mencuri. Politisasi agama sama halnya dengan menjual agama. Itu sangat dibenci oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam konteks inilah, cara-cara yang ditempuh oleh NU penting untuk digelorakan. Sejak awal berdiri, NU tidak pernah menggunakan agama sebagai simbol. Meski NU merupakan kumpulan para ulama, kiai, dan santri, tapi mereka tetap menempatkan Pancasila sebagai asas organisasi. Termasuk ketika mendirikan partai politik, NU juga tidak menggunakan Islam sebagai asas, tapi tetap Pancasila. Sebab bagi NU, Islam terlalu mulia, terlalu tinggi, hanya untuk urusan sepele seperti politik.

 

Sinergi Ulama dan Umara

Pemilu damai tidaklah mungkin terjadi tanpa peran serta seluruh elemen bangsa. Termasuk ulama, umara, serta aparat pemerintah juga perlu bersatu padu untuk mewujudkan demokrasi yang berkualitas. Peran ketiga elemen ini sangat penting karena terlibat langsung dengan masyarakat.

Selain itu, penyelenggara pemilu juga penting menggandeng ormas dalam menyosialisasikan tahapan pemilu. Dengan catatan, ormas yang dilibatkan merupakan ormas yang setia pada Pancasila, UUD 1945, serta NKRI. NU, Muhammadiyah, SI, Persis, kiranya termasuk ormas yang bisa digandeng oleh KPU.

KPU juga bisa datang ke pesantren-pesantren. Sebab, pesantren inilah yang paling banyak bersentuhan dengan warga. Mereka bisa mengampanyekan pemilu damai dan mencegah terjadinya politisasi agama.

Saat ini sudah bukan zamannya lagi sosialisasi KPU digelar di hotel-hotel berbintang. Sebab yang hadir ke tempat tersebut hanyalah segelintir orang, sehingga tidak menyentuh kepada masyarakat secara luas. Saatnya penyelenggara turun ke pusat-pusat peradaban, pesantren, ormas, dan tokoh-tokoh masyarakat lokal. 

]]>
Abdul Basri Thu, 26 Jul 2018 17:40:40 +0700
<![CDATA[Tantangan Guru Era Digital]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/23/89760/tantangan-guru-era-digital https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/23/89760/tantangan-guru-era-digital

KEBERHASILAN pendidikan siswa tidak lepas dari kemampuan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi dan pesatnya era digital]]>

KEBERHASILAN pendidikan siswa tidak lepas dari kemampuan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi dan pesatnya era digital menuntut kompetensi guru selalu update menjawab tantangan perkembangan teknologi. Hal itu sesuai dengan amanat UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Tantangan guru dalam pembelajaran era digital membutuhkan orientasi baru dalam pendidikan. Pendidikan yang menekankan pada kreativitas, inisiatif, dan inovatif. Di sisi lain masih banyak guru 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk digital kontemporer. Akibatnya, sedikit banyak para murid mempunyai pandangan berbeda dengan guru.

Pertumbuhan dan perkembangan era digital ini melahirkan pandangan baru pada semua bidang kehidupan manusia, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Sehingga menuntut guru sebagai agent of change terhadap siswa mempunyai peran penting agar tidak ada murid yang terisolasi dalam informasi. Menjadi guru era 80-an berbeda dengan era digital. Karisma guru tidak lagi menjadi prioritas utama, akan tetapi harus dipadukan dengan kemampuan nyata saat ini.

Karena itu, pendidikan merupakan salah satu tonggak utama dalam perkembangan sebuah bangsa. Melalui pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang mampu berdaya saing. Salah satu elemen penting dalam pendidikan adalah ketersediaan tenaga guru yang kompeten dan profesionalitas dalam mentransfer ilmu pengetahuan.

 

Kompetensi Guru

PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 disebutkan, ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompentensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru merupakan kemampuan guru untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kewajiban pembelajaran secara profesional dan bertanggung jawab.

Menurut UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat (10), kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Permendiknas 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri-sendiri. Melainkan saling berhubungan dan saling memengaruhi dan mempunyai hubungan hierarkis.

 

Sertifikasi Guru

Sertifikasi guru merupakan upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan (Depdiknas, 2008:1).

Menurut Puguh, peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru SMK dapat dilakukan dengan beberapa cara. Antara lain, studi lanjut program strata 2, kursus dan pelatihan, pemanfaatan jurnal, seminar, kerja sama antara lembaga profesi, dan lain lain.

Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Demikian juga warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus (pasal 5 ayat 2, 3, dan 4).

 

Guru Era Digital

Pendidik atau guru di setiap zaman memiliki tantangan berbeda. Perbedaan era, perbedaan zaman, maka berbeda pula tata cara mengatasi persoalan. Era digital telah mengubah cara pandang manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari arus kemajuan teknologi ini.

Setiap individu dihadapkan pada dua pilihan. Menempatkan dirinya sebagai pemain atau pelaku dalam arus perubahan globalisasi ini. Atau dia menjadi korban dan terseret derasnya arus globalisasi.

Seiring dengan kemajuan ini, guru harus menghadapi tantangan masyarakat perubahan teknologi. Di era teknologi ini, guru sangat dituntut meningkatkan kompetensinya sebagai pengajar dan pendidik.

Kemajuan yang superpesat dan supercanggih membuat guru harus selalu berinovasi. Jika tidak, maka zaman akan menggilasnya. Perlu disadari, kemajuan digital didesa tidak seperti dikota. Akan tetapi, tuntutan kemajuan zaman berlaku untuk semua orang dan semua daerah.

Jika cara guru tidak berubah dalam menyampaikan pembelajaran yang monoton, tentu juga guru akan ditinggalkan muridnya apalagi sebagian besar banyak guru yang tidak lahir di era digital. Sehingga bisa dikatakan tidak bagitu mengetahui dan tidak menguasai perkembangan teknologi. 

 

*)Pimpinan lembaga pendidikan Magistra Utama.

 

]]>
Abdul Basri Mon, 23 Jul 2018 11:06:55 +0700
<![CDATA[Sistem Zonasi demi Keadilan dan Pemerataan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/16/87990/sistem-zonasi-demi-keadilan-dan-pemerataan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/07/16/87990/sistem-zonasi-demi-keadilan-dan-pemerataan

MENDIKBUD menegaskan, diwujudkannya sistem zonasi PPDB 2018 ini untuk menghapus sekolah favorit karena harus sama.]]>

MENDIKBUD menegaskan, diwujudkannya sistem zonasi PPDB 2018 ini untuk menghapus sekolah favorit karena harus sama.

Ide awal sistem zonasi telah diterapkan dengan terbatas pada tahun pembelajaran 2017. Dan tahun pembelajaran 2018 ini terus berlanjut. Sebagaimana diungkap Prof Dr H Muhajir Efendi untuk menihilkan sekolah favorit yang selama ini telanjur membentuk mindset para wali peserta didik. Bahwa, sekolah ini jaminan kesuksesan di masa akan datang.

Ide ini merupakan perwujudan dari sebagian nawacita Presiden Ir H Joko Widodo yang menekankan bahwa pendidikan berkualitas milik bersama anak bangsa. Oleh karena itu, anak bangsa harus diperlakukan sama pula agar kualitas hidup manusia Indonesia meningkat. Dengan demikian, Permendikbud 14/2018 ini lahir berlandaskan pada hal itu.

Dan ide ini sebenanya ingin mewujudkan sistem pendidikan yang berkeadilan sosial, sebagaimana  jiwa Pancasila sila ke-5. Karena anak bangsa harus diperlakukan sama, atau harus mengecap pendidikan yang berkualitas berkeadilan, maka sistem zonasi perlu diterapkan. Sehingga pola pikir para orang tua tentang sekolah unggulan dengan sendirinya akan terkubur bersama kemunculan dan keberhasilan sistem zonasi ini.

 

Pemerataan Pendidikan di Daerah

Sistem ini hanya terjadi di sekolah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berstatus negeri. Jadi, praktisi pendidikan yang berada di luar kementerian tersebut atau sekolah swasta jangan ikut kebakaran jenggot. Sebab, andai Permendikbud di atas berlaku kepada kementerian yang menyelenggarakan pendidikan, misalkan Kementerian Agama, maka  Kemendikbud akan berpikir seribu kali. Bahkan beribu-ribu kali terkait eksistensi pondok pesantren di seluruh nusantara ini. Tenang saja, ini tak mungkin menyasar lembaga pendidikan MTs atau MA. Lebih-lebih madrasah di bawah naungan pondok pesantren.

Walaupun demikian, penulis memandang bahwa praktisi pendidikan di bawah Kemendikbud-pun banyak yang tidak sepakat atas terbitnya aturan ini. Lebih-lebih yang terkadung lena pada kursi nyaman selama ini. Lebih-lebih mereka yang berada di sekolah tercap sebagai unggulan, yang tanpa susah payah didatangi siswa melebihi pagu, sehingga terkesan sekolah itu mewariskan ”kesombongan” yang akut.

Di samping itu, penulis menelusuri empat problem terkait sistem ini, yaitu: Pertama, kerumitan sistem zonasi. Hal ini bermula dari sistem pendaftaran online. Bagi para wali yang serba biasa menggunakan gawai, kerumitan pendaftaran online tidak akan ditemui. Bahkan mereka akan lebih enjoy mengingat tidak harus pergi ke sekolah setempat, tidak seperti dulu sebelum ada internet.

Kedua, pemerintah daerah berbeda-benda dalam mengartikan zonasi. Multitafsir ini bermula dari ketidakjelasan batasan ”zona daerah” bagi siswa yang akan mendaftar. Ada sebagian daerah yang menerapkan zonasi sekolah berdasarkan radius/jarak antara sekolah dengan tempat tinggal calon peserta didik. Ada pula pemerintah daerah mewujudkan zonasi berdasarkan wilayah kecamatan tempat sekolah berada.

Ketiga, kebijakan yang tumpang tindih. Penetapan 20 persen pembebanan biaya untuk pemilik SKTM dan kuota 5 persen untuk peserta didik berprestasi, serta 5 persen buat jalur khusus/pindahan luar kota masih kurang tegas. Dalam pasal 19 Permendikbud 14/2018 tentang PPDB berbunyi, ”….peserta didik baru yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu yang berdomisili dalam satu wilayah daerah provinsi paling sedikit 20 persen dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima dibuktikan dengan SKTM.”

Sementara pasal 1 sampai 6 tentang Sistem Zonasi, tidak satu pasal pun menyebut SKTM sebagai perhitungan untuk PPDB. Jika tidak secara tegas dijelaskan tentang posisi 20 persen yang tidak mampu, dan 5 persen jalur prestasi, serta 5 persen jalus khusus itu, maka ketumpangtindihan peraturan ini terus berlanjut. Dan ada angka 30 persen jalur yang dapat disalahgunakan. Seperti jual beli SKTM palsu, misalnya.

Keempat, terancam masuk ke sekolah negeri. Karena sistem ini hanya diberlakukan di sekolah-sekolah negeri, maka bagi peserta didik yang gagal diterima di zona wilayahnya akan terancam gagal masuk di sekolah negeri tersebut. Sementara mau mendaftar di sekolah swasta bermutu –karena diakui atau tidak di sekitar kita terlalu banyak sekolah swasta kurang bermutu– pendaftarannya telah lama tutup. Dengan demikian, yang menjadi korban adalah calon peserta didik itu sendiri.

Untung sebagian besar orang tua di Madura tidak berpaku pada sekolah-sekolah negeri. Mereka teramat sadar bahwa kesuksesan atau keberhasilan sang anak di masa depan bukan terletak pada berapa jumlah sekolah negeri. Namun sejauh mana anak-anak itu berproses dengan bimbingan para guru yang istiqamah, ikhlas, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, para orang tua tetap mempercayakan pondok pesantren sebagai paripurna sistem pendidikan bermutu.

Namun, sistem zonasi ini cukup baik dengan melihat tujuannya. Tujuan sistem zonasi ini adalah pemerataan pendidikan di daerah. Dengan sistem ini siswa-siswa yang berbakat, baik secara kognitif, afektif, dan psikomotorik, secara holistik akan dimaksimalkan di daerah di mana mereka dilahirkan. Meraka tidak akan terkonsentrasi pada satu sekolah yang dianggap ”favorit” karena dengan sendirinya semua sekolah telah menjadi favorit. Wallahu A’lam. (*)

 

*)Guru di SMA Assalam Pakong, SMA 3 Annuqayah, dan MTs 1 Putri Annuqayah Guluk-Guluk.

 

 

]]>
Abdul Basri Mon, 16 Jul 2018 10:34:17 +0700
<![CDATA[Pesantren Ladang Memburu Barokah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/30/84449/pesantren-ladang-memburu-barokah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/30/84449/pesantren-ladang-memburu-barokah

SIAPA sih yang tidak ingin barokah? Kapan dan di mana pun pertanyaan itu muncul, jawabannya pasti tidak ada yang tak ingin barokah]]>

SIAPA sih yang tidak ingin barokah? Kapan dan di mana pun pertanyaan itu muncul, jawabannya pasti tidak ada yang tak ingin barokah. Apalagi pertanyaan tersebut ditanyakan kepada santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren. Pasti mereka dengan tegas menjawab, ”Saya ingin barokah”.

Bagi santri yang paham barokah akan menganggap kedudukan barokah berada di posisi pertama dibandingkan ilmu pengetahuan. Kenapa tidak? Karena banyak orang yang berilmu tinggi ketika tidak mendapatkan barokah, semua akan tampak biasa-biasa saja. Bahkan tidak jadi apa-apa. Begitu sebaliknya, meskipun ilmunya dianggap tidak seberapa ketika ia mendapatkan barokah, maka ia akan menjadi orang hebat tatkala sudah berada di tengah masyarakat.

Secara logika mungkin semua terasa tidak masuk akal. Bahkan dari saking tidak mampunyaI akal pikiran mengkaji barokah, yang terjadi tidak semua orang percaya akan barokah. Apalagi mereka yang semasa hidup tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Banyak kata yang dirangkai menjadi kalimat untuk mendefinisikan hakikat barokah. Salah satunya, ziyadatul khair. Definisi ini sampai sekarang masih tetap dijadikan rujukan semua orang ketika diminta memberikan penjelasan tentang barokah. Yang artinya adalah bertambahnya kebaikan.

Dari definisi itulah, kita bisa memahami sederhanya orang yang mendapatkan barokah. Sepanjang hidupnya akan menjadi pribadi yang selalu bertambah kebaikannya sekaligus mampu menabur kebaikan di mana pun berada. Keberadaannya pun tergolong pada kelompok khoirunnas anfa’uhum linnas.

Sebagai orang yang pernah ada di pondok pesantren, entah itu santri, alumni, atau seorang ustad sekalipun pasti mendengar cerita-cerita dari sang kiai tentang orang-orang hebat karena ketaatannya, keistiqamaannya, kesabarannya, dan pengabdiannya kepada pondok pesantren menjadi orang terpandang dan disegani semua orang karena ilmu dan kewibawaannya. Semuanya itu terjadi karena barokah.

Semenjak saya masih nyantri, ketika itu sang kiai sedang mengisi kajian kitab kuning di masjid. Di sela-sela keterangan beliau sering bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan barokah. Jika saya analisis ulang dengan menggunakan kacamata santri tatkala itu, saya beranggapan itu semua diceritakan agar santri bisa mengambil hikmah sekaligus memberikan penyadaran bahwa pondok pesantren tidak hanya sebagai tempat mencari ilmu. Melainkan juga sebagai ladang untuk mencari barokah.

Cerita-cerita tersebut tidak menutup kemungkinan juga terdapat di berbagai pondok pesantren lain. Beliau menuturkan, sering ditemukan santri ketika semenjak di pesantren cerdas luar biasa, bahkan tidak hanya berhenti di situ, semua pelajaran dapat ia serap, setiap hafalan dia orang pertama yang mampu menyelesaikan tepat pada waktunya.

Akan tetapi, santri tersebut jarang sekali meluangkan waktu untuk mencari barokah. Ia hanya merasa puas dengan keberadaannya saat itu tanpa menyadari ada yang lebih penting, yakni barokah. Alhasil ketika sudah pulang ke masyarakat, ia tidak mampu memaksimalkan ilmu yang didapatkan.

Beda dengan santri yang kedua. Ia lambat memahami pelajaran. Tetapi, ia pandai meluangkan waktu untuk mengabdikan diri ke pondok pesantren. Sehingga ia mampu memaksimalkan kesempatan yang ada. Walhasil, ia menjadi kepercayaan masyarakat. Bahkan menjadi tokoh masyarakat atau tokoh agama. Kedengarannya tampaknya tidak masuk akal dan mengarah pada sesuatu yang magic. Tapi, begitulah kenyataannya.

Cerita tersebut sebagai inspirasi sekaligus gambaran bagi santri yang sedang menimba ilmu. Bahwa sebagai orang yang memiliki status santri tidak cukup apabila hanya memusatkan pada pencarian ilmu. Tetapi juga harus disertai dengan pengabdian yang nyata kepada pondok pesantren sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Mencari barokah di pondok pesantren merupakan segala-galanya bagi santri. Namun, di sisi lain mereka juga harus paham bahwa ketika barokah tidak diimbangi dengan ilmu tidak akan maksimal juga. Sangat tidak dibenarkan jika santri hanya fokus pada satu sisi saja karena antara barokah dan ilmu bukan pilihan, melaikan sebuah keharusan.

Menjadi santri itu memiliki keuntungan besar. Mereka dapat kesempatan mencari ilmu sekaligus mencari barokah. Mencari ilmu dengan jalan mengaji dan memburu barokah dengan jalan mengabdi. Kedua-duanya merupakan aktivitas yang hanya bisa dilakukan santri dalam mencari ilmu dan menggapai barokah demi terbentuknya insan yang khoirunnas anfa’uhum linnas. Wallahu a’lam.

 

*)Alumnus Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin, Laden, Pamekasan. Mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

]]>
Abdul Basri Sat, 30 Jun 2018 21:17:56 +0700
<![CDATA[Tradisi Ikonik nan Ironis di Bulan Diskon]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/22/82369/tradisi-ikonik-nan-ironis-di-bulan-diskon https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/22/82369/tradisi-ikonik-nan-ironis-di-bulan-diskon

Beberapa hari lalu desa kami dihebohkan meledaknya material petasan di jok sepeda motor seorang warga. Karena tengah melaju, ledakan merembet]]>

Beberapa hari lalu desa kami dihebohkan meledaknya material petasan di jok sepeda motor seorang warga. Karena tengah melaju, ledakan merembet ke motor lain yang berpapasan. Kobaran api juga melalap sebagian kecil bangunan di sisi jalan. Satu nyawa melayang dan beberapa yang lain luka-luka.

 

TRAGEDI di penghujung Ramadan tersebut menyisakan duka mendalam. Tak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat umum. Suasana bahagia menyambut kedatangan Idul Fitri seketika berubah menjadi ketakutan mencekam.

Lepas dari berbagai spekulasi penyebab kejadian, peristiwa tersebut menyiratkan perlunya perenungan ulang terhadap tradisi-tradisi Ramadan yang telanjur melekat dan nyaris ikonik dalam masyarakat kita. Ini menjadi penting, sebab selain menjadi ikon, beberapa tradisi tertentu juga ironis karena justru menghadirkan nilai yang berseberangan dengan keluhuran Ramadan.

Hal tersebut sedikitnya dapat dilihat dari beberapa ilustrasi kecil berikut; Pertama, dipasangnya target yang tidak proporsional pun tak realistis. Ramadan adalah ”bulan diskon” sehingga ritual ibadah di dalamnya dipercaya bernilai lebih dibanding bulan-bulan lain. Karenanya, dalam beberapa ibadah tertentu, lazim ditetapkan target yang tak jarang mekso dan tanpa disadari justru ”mengganggu” esensi Ramadan.

Salat Tarawih supercepat dengan gerakan banter dan tuma’ninah yang banyak terlewatkan, misalnya, berseberangan dengan arti kata Tarawih yang seakar dengan makna rehat atau istirahat. Tadarus dengan kecepatan tinggi juga demikian berbeda dengan kebiasaan Rasulullah me-nakrir Alquran di hadapan Jibril yang dilakukan begitu pelan dan teliti demi memastikan otentisitas kitab pamungkas tersebut.

Selain ritual yang kemudian menjadi nyaris tanpa esensi, target yang demikian juga cenderung membuat energi selama Ramadan habis di hari-hari pertama, seperti halnya lari sprint. Padahal, Ramadan tak ubahnya lari maraton yang mengharuskan terjaganya ketahanan dan stamina pelari di setiap tahapan. Utamanya di lap-lap akhir menjelang garis finish.

Kedua, digelarnya kemeriahan yang dalam beberapa hal salah sasaran. Selain kebiasaan menyalakan petasan yang tak hanya memekakkan telinga, tetapi juga mengancam jiwa, berbagai daerah masih tak lepas dari tongtong. Dalam tradisi ini, beberapa orang berkeliling kampung dengan iringan musik—umumnya tradisional—dan kadang kala dilengkapi dengan suara petasan.

Awalnya, tradisi ini dimaksudkan untuk membangunkan warga agar tak ketinggalan sahur. Akan tetapi berbagai ”inovasi” belakangan justru menjadikannya beralih fungsi. Waktu operasional sejak sekitar jam 12 malam, utamanya, membuat tradisi ini berubah menjadi pengganggu jam istirahat malam dan musuh bebuyutan ibu-ibu yang memiliki bayi.

Tak sampai di situ. Kemeriahan tersebut akan mencapai titik kulminasinya pada malam takbiran, malam sebelum hari raya. Sebagian warga biasanya datang berbondong ke pusat kota mengendarai mobil pikap dengan suara musik keras dari sound system besar yang terdengar sepanjang jalan. Ramadan dan Idul Fitri kemudian menjadi semacam ajang hura-hura yang terlihat legal secara adat maupun agama.

Ketiga, melonjaknya skala konsumsi. Sudah menjadi rahasia umum pada bulan Ramadan, permintaan barang di pasar bukannya menurun. Tetapi justru melonjak drastis. Ini lebih dari cukup mengindikasikan pola konsumsi masyarakat dengan ”jadwal makan” ala Ramadan bukannya semakin efisien, akan tetapi justru sebaliknya.

Ritual puasa yang disebut-sebut dapat menumbuhkan empati kepada mereka yang kurang beruntung juga nyaris menjadi wacana belaka ketika agenda buka puasa lebih bernuansa ”balas dendam” dan gaya-gayaan. Menu spesial, porsi jumbo, restoran mahal, gaya hidup borjuis, dan jadwal yang kebablasan menjadikan momen tersebut nyaris sebagai acara makan besar dan atau ”kumpul-kumpul” semata.

Lonjakan konsumsi akan terus berlanjut menjelang Idul Fitri. Ini dimulai dari belanja busana dan kebutuhan sandang lain. Suguhan dan konsumsi hari raya, perbaikan bagian-bagian rumah, pembaruan perabot, hingga tiket perjalanan dan jatah angpau atau parsel untuk keluarga maupun sahabat.

Di satu sisi, tentu tidak ada problem dengan momentum dan berbagai tradisi ”konsumtif” tersebut. Apalagi, hari-hari terakhir Ramadan hingga hari raya merupakan momentum yang banyak dipilih untuk menunaikan berbagai varian zakat dan sedekah. Hanya saja, tak jarang, konsentrasi akan hal-hal tersebut mengalahkan skala prioritas pada hal-hal lain yang lebih esensial.

***

Lepas dari perlunya perenungan ulang terhadap tiga hal tersebut, bagi sebagian orang, berbagai hal di atas justru menjadi momentum nostalgia yang begitu dirindukan. Apalagi, Ramadan dan Idul Fitri milik semua orang. Muslim maupun nonmuslim, lelaki dan perempuan, anak kecil hingga orang tua, mereka yang suka mokel ataupun yang sregep mengejar Lailatul Qadar. Semua terkena ”barakah” momentum ini.

Tak berlebihan kiranya jika tradisi-tradisi tersebut direnungkan ulang untuk dimodifikasi sedemikian rupa demi ikhtiar melestarikan budaya tanpa mengabaikan esensi-esensi religius di dalamnya. Penghujung Ramadan adalah momentum tepat untuk melakukan perenungan tersebut sembari berharap masih berkesempatan menjumpai di tahun-tahun mendatang. 

 

*Alumni PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

]]>
Abdul Basri Fri, 22 Jun 2018 13:07:20 +0700
<![CDATA[Pilkada (Katanya)]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/21/82126/pilkada-katanya https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/21/82126/pilkada-katanya

Pilkada. Ajang pesta demokrasi. Ajang bergembira ria. Ajang unjuk eksistensi. Ajang mencari bos eksekutif. Ajang siapa paling kuat dan banyak duit.]]>

Pilkada. Ajang pesta demokrasi. Ajang bergembira ria. Ajang unjuk eksistensi. Ajang mencari bos eksekutif. Ajang siapa paling kuat dan banyak duit.

 

BANGKALAN. Salah satu kabupaten yang siap menggelar itu. Pada 27 (Juni) 2018 – kran demokrasi sebenarnya dibuka. Dibuka sebuka-bukanya. Katanya begitu.

Padahal, pilkada hanya urusan siapa yang pintar menabung koneksi. Jejaring. Amal politik. Menebar senyum basa-basi. Murah hati. Dan tidak lupa: yang paling mujarab. Yakni yang banyak memberikan kertas [duit] bergambar Soekarno-Hatta warna merah. Dijamin menang. Itu ampuh.

Katakanlah – andai tiap kepala dapat lima kertas warnah merah itu. Siapapun kontestannya. Insya Allah terpilih. Gampang kan jadi bos ekeskutif!

Pilkada juga tidak lepas dari ini: Intrik. Tuding menuding. Menjelekkan satu sama lain. Saling gontok-gontokan. Saling main petak umpet. Saling cegal.

Bahkan, karena pilkada (mencari bos eksekutif). Ayat suci pun dijual gratis. Masjid jadi mimbar orasi kepentingan. Langgar jadi tempat menyusun strategi pemenangan. Menurut saya.

Tidak heran. Ketika saudara bisa jadi musuh. Kawan bisa jadi lawan. Yang semula akrab jadi retak. Miris.

Yang aneh lagi – soal kemampuan kontestan atau calon sebagai peserta pilkada. Saya melihat. Adu gagasan. Itu nomor sekian. Sebab itu, pengetahuan dan integritas – bisa dikemas sesuai kebutuhan dan keperluan. Yang penting gol dan menang.

Lihatlah. Yang terjadi sekarang. Kontestan mendadak baik. Mendadak dermawan. Mendadak sering ke masjid. Mendadak ke pasar (tradisional). Mendadak religius. Mendadak suka nolong. Peduli poolll.

Padahal sekarang rakyat (kita) tidak bodoh-bodoh amat. Camkan itu. Masih ada yang konsisten dan tidak mau terjebak. Tahu cara membedakan mana calon yang hobi berpura-pura dan jujur.

Meskipun – pada kelompok lain. Tidak sedikit juga saya menemukan tipe manusia yang pragmatis. Di jidatnya hanya urusan duit, duit dan duit. Tapi. Tidak salah juga. Itu pilihan mereka di era yang katanya kran demokrasi sudah dibuka itu.  

Menurut mereka (wong cilik). Kapan lagi njaluk duit calon? Kalau bukan sekarang. Nanti kalau jadi juga lupa. Mumpung ada kesempatan, celesss..

Sekarang mah kapan saja bisa ditemui. Bahkan. Pulangnya bisa diamplopin. Tapi nanti ketika terpilih dan benar-benar jadi [bos eksekutif). Tidak diusir untung. Paling kacungnya (ajudan maksudnya, red) bilang, ‘Bapak’ tidak ada. Cara-cara lama dipakai. Memuakkan.

Tapi, soal pilkada di Bangkalan. Saya tetap yakin seyakin yakinnya akan menjadi rujukan kabupaten/kota lain. Paling ideal. Kompetitif. Sehat. Tidak ada kecurangan. Tidak karena politik patron. Baguslah pokoknya. Kita doakan dan mari bersama-sama bilang amin.

Semoga saja bos eksekutif di Bangkalan nantinya meniru gaya Presiden Uruguay, Jose Alberto Mujica Cordano. Priode 2010-2015. Tidak memperkaya diri. Tidak gila hormat. Tidak picik. Tidak korupsi pula. Dan menolak rumah dinas.

Presiden dengan julukan ”the world’s ‘humblest’ president” merupakan presiden termiskin di dunia. Dia hidup sederhana. Jauh dari kemewahan dan fasilitas kenegaraan. Dia hanya mengambil 10 persen dari gajinya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara, 90 persennya dia gunakan untuk membantu rakyat miskin di negaranya.

Namun dia tidak pernah merasa miskin. Bagi dia, orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih. 

 

]]>
Abdul Basri Thu, 21 Jun 2018 12:15:52 +0700
<![CDATA[Jaringan Pertemanan Pesantren]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/20/81967/jaringan-pertemanan-pesantren https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/20/81967/jaringan-pertemanan-pesantren

SALAH satu rasa syukur atas kehidupan ini saya pernah menjadi santri di pesantren. Saya memiliki jaringan pertemanan dari berbagai daerah]]>

SALAH satu rasa syukur atas kehidupan ini saya pernah menjadi santri di pesantren. Saya memiliki jaringan pertemanan dari berbagai daerah. Ketika melakukan traveling keliling Indonesia, saya tidak pernah khawatir menginjakkan kaki di kota baru.

Jaringan pertemanan di pesantren tidak hanya mengikat interaksi sesama satu angkatan saja. Juga terjalin kuat antarkakak dan adik kelas. Inilah yang dikatakan Wasserman & Faust (1994) sebagai jaringan pertemanan yang merupakan salah satu konsep utama dalam analisis jaringan sosial. Terdiri atas 2 orang atau kelompok yang diikat kesamaan nasib dan kesamaan kesukaan (hobi).

Nasib santri di pesantren sama. Harus disiplin menaati aturan. Jika melanggar harus rela menerima ‘iqob’ (sanksi). Iqob-nya pun terkesan lucu, namun ”menyakitkan dan memalukan”. Misalnya, jika kedapatan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah dalam berkomunikasi antarsantri akan kena sanksi. Pesantren mewajibkan santri berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sanksinya mengangkat papan kecil bertulisan ”Ana mufsidatul lughah” (baca: saya adalah perusak bahasa) keliling wilayah pesantren.

Belum lagi jika tidak bangun pukul 03.00 untuk melaksanakan salat Tahajud. Atau terlambat datang ke musala untuk salat wajib. Atau terlambat masuk kelas. Tiba-tiba suasana setelah salat Asar menjadi horor manakala seorang pengurus akan membacakan ”Mad’uwwah” yang berisi nama santri dalam daftar ”tersangka” untuk diadili di mahkamah (pengadilan). Sesekali terdengar suara teriakan mencekam dan sesekali suara tangisan terisak. Tak pelak suasana musala berubah menjadi angker nun menyeramkan.

Jaringan pertemanan angkatan jauh lebih kuat dibandingkan dengan jaringan pertemanan almamater. Intensitas pertemanannya jauh lebih kuat lantaran seringkali kami harus menghadapi masalah bersama. Suatu kali, tiba-tiba kami satu angkatan dipanggil dan dikumpulkan di musala oleh pengurus organisasi pesantren yang terdiri dari kakak kelas akhir. Katanya kami telah melakukan pelanggaran dan penghinaan. Kemudian, kami dijemur di lapangan dengan satu kaki.

Kami benar-benar kesakitan, kepanasan, dan marah. Kami melakukan perlawanan. Tanpa komando, kami pun bubar. Sementara pengurus hanya melongo. Malam harinya kami harus mempertanggungjawabkan ke hadapan para pengasuh putri.

Setelah lulus, jaringan pertemanan angkatan perlahan tergantikan dengan jaringan pertemanan almamater (alumni). Semua bersatu dan terikat atas nama pesantren. Benar yang dikatakann Grootaer (2002), jaringan pertemanan bagian jaringan sosial adalah sebuah kapital sosial yang mampu mengatasi persoalan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.

Misalnya, persoalan ekonomi yang berkaitan dengan jaringan kerja. Ketika seorang menerima lamaran kerja dari sesama alumni, kemungkinan besar akan diterima kerja dengan alasan ikatan kealmamateran. Satu nasib, satu pola pikir, satu etos kerja, dll. Bekerja sama dengan orang yang memiliki satu visi dan misi akan tercipta potensi keberhasilan.

Pertemanan almamater juga menjadi kapital sosial bagi saya dalam menjalin jaringan sosial di berbagai bidang. Lantaran alumni tersebar luas di berbagai bidang. Ada yang menjadi jurnalis. Ada yang menjadi dosen atau tokoh penting di perguruan tinggi. Ada budayawan atau seniman. Ada politisi atau pengamat politik. Ada pemilik atau pengasuh pesantren. Dan lain sebagainya. Jaringan sosial inilah yang saya manfaatkan sebagai kapital untuk menjalin jaringan sosial lebih luas.

Jaringan sosial diikat kepercayaan dan norma-norma. Ketika kepercayaan dilanggar, jaringan akan rusak seketika dan harus dimulai dari awal. Jika saya bermasalah dengan salah seorang dalam sebuah jaringan sosial, seluruh elemen dalam ruang lingkup jaringan tersebut juga akan terputus.

Suatu kali saya difitnah dan dituduh sebagai pribadi ”buruk” yang tidak mencerminkan alumnus pesantren. Tuduhan itu tersebar dan mengakibatkan seluruh alumni mengecap saya sebagai alumnus yang buruk. Saya menerima dan mengakui tuduhan itu. Beberapa tahun kemudian, salah seorang alumnus bersaksi. Bahwa tuduhan itu tidak benar. Semua pun berubah. Seperti awal lagi.

”Kehebatan” jaringan sosial kepesantrenan ini tercipta karena banyak kultur dalam diri seseorang (santri). Santri dari berbagai daerah membawa pengetahuan kultur daerah masing-masing dalam jaringan pertemanan. Seperti dikatakan Peter L Berger, semakin banyak kultur dalam diri seseorang, semakin banyak peluang menyelesaikan persoalan hidup.

Tak ada hidup tanpa masalah. Semua orang pasti pernah berhadapan dengan masalah. Persoalannya bukan seberapa besar masalah yang dihadapi. Tapi, seberapa cepat masalah tersebut teratasi. Hanya seseorang yang memiliki banyak kultur dalam dirinya yang segera menyelesaikan masalahnya. Atau bahkan menganggap bahwa itu bukan masalah. 

 

*)Alumnus Al-Amien Prenduan, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Wed, 20 Jun 2018 11:23:39 +0700
<![CDATA[Meluaskan Makna Tadarus]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/19/81857/meluaskan-makna-tadarus https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/19/81857/meluaskan-makna-tadarus

TADARUS adalah sebagian amalan dari warga kampung saya, Parebaan, pada setiap Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kaum remaja, tetapi juga orang dewa]]>

TADARUS adalah sebagian amalan dari warga kampung saya, Parebaan, pada setiap Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kaum remaja, tetapi juga orang dewasa.

Seusai salat Tarawih, kami duduk melingkar secara bergantian mendaras kitab suci. Dengan pelantang, kami menyemarakkan malam dengan lantunan Alfurqan. Warga pun menyediakan kue sebagai kudapan. Di akhir bulan, Haji Khalil membagikan uang Rp 1.000 untuk setiap anak.

Di luar Ramadan, anak-anak mengaji di surau atau langgar. Masjid tak lagi menjadi tempat untuk bertadarus. Lalu, adakah pembacaan hanya berhenti pada pelafalan tanpa memahami lebih jauh makna yang terkandung dalam kitab ini? Tentu tidak.

Anak-anak yang dulu mengaji itu telah berkeluarga dan bekerja. Saya sendiri memilih menjadi dosen Alquran dan Hadis. Dengan latar belakang pendidikan Kajian Islam, saya menyelesaikan disertasi terkait pemikiran Toshihiko Izutsu mengenai relasi Tuhan, manusia, dan alam dalam Alquran di Universitas Sains Malaysia.

Dukungan pembimbing Profesor Zailan Moris telah membantu penyelesaian penulisan. Kesabaran dan kecermatan murid Seyyed Hossein Nasr tersebut untuk membahas dengan cermat pelbagai masalah yang berkaitan dengan karya ini turut mengayakan sudut pandang dan materi kajian. Namun demikian, tanggung jawab kandungan kajian sepenuhnya berada di tangan penulis. Bagaimanapun, tadarus tidak lagi membaca huruf, tetapi lebih jauh memahami pendekatan semantik (ilmu ma’ani) untuk menguak pesan.

Selain itu, saya menyusuri banyak perpustakaan untuk ”bertadarus”, misalnya Universitas Islam Antarabangsa Malaysia, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaya dan ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) Universitas Nasional Singapore. Tentu, perpustakaan Hamzah Sendut Universitas Sains Malaysia yang banyak menyediakan bahan dan bahkan buku-buku lain yang menjadi minat saya. Seperti sastra, politik, sosial, dan ilmu humaniora memenuhi dahaga pengetahuan. Ketersediaan jurnal dalam edisi cetak dan daring (online) melengkapi keperluaan saya terhadap informasi terbaru mengenai wacana ilmiah.

Ternyata, mengkaji Izutsu tentang Alquran bukan melulu soal ilmu-ilmu Alquran. Tetapi juga rujukan lain terkait dengan dunia penulis asal Jepang tersebut. Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika membaca novel karangan Takashi Matsuoka bertajuk Cloud of Sparrows: An Epic Novel of Japan. Bukan saja pengarang novel ini pernah mengabdikan hidupnya di tempat peribadatan Zen, tetapi juga kemampuan beliau dalam melukiskan Jepang pada abad ke-18 dan pertikaiannya dengan dunia Barat. Jelas, novel ini merupakan karya sastra yang mencerminkan suasana kejiwaan dan pemikiran tokoh yang dibahas, Toshihiko Izutsu.

Lebih jauh, sejatinya Alquran bisa dipahami melalui pelbagai sudut pandang yang berbeda, seperti teologi, filsafat, sosiologi, tata bahasa, dan takwil (exegesis). Ketika Izutsu mengusulkan sebuah pendekatan semantik di dalam mengkaji Alquran, ini berarti bahwa ada hubungan erat antara metodologi semantik dengan pemahaman terhadap Alquran dan sumbangannya bagi pengembangan pemikiran Islam secara umum.

Namun demikian, tugas kita sekarang adalah menghadirkan kaidah yang mampu menjelaskan Alquran dari beberapa sudut pandangan sehingga diperoleh pesan yang bisa dimanfaatkan pada masa kini. Kesadaran terhadap upaya penyesuaian semangat Alquran dengan era kontemporer juga dibicarakan dengan baik oleh Muhammad al-Ghazalī, sarjana kajian Islam Mesir, dalam karya Kaifa Nata‘ammala ma‘al-Qur’ān.

Dengan pertanyaan retorik dia mengajukan sebuah soalan, dapatkah kita menggunakan kaidah ulama terdahulu memahami Alquran? Tanpa mengatakan tidak, dia menjawab bahwa kita memerlukan sebuah tafsir yang menyeluruh yang memungkinkan khitāb Qur’āni mendekati tema-tema seperti fiqih hukum formal, administrasi, pengenalan hukum-hukum jatuh bangun sebuah peradaban, dinamika dan kesadaran keagamaan serta berbagai pengaruhnya terhadap masyarakat, baik sosial maupun individual. Untuk itu, dia menegaskan hubungan antara Alquran dan ilmu-ilmu sosial.

Sejalan dengan ide di atas, kita juga perlu menimbang pendapat Charles Adam yang diungkapkan dengan jujur bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam kajian agama juga berbahaya karena ia bisa mereduksi pemahaman manusia terhadap ajaran Tuhan. Meskipun demikian harus diakui, sejatinya hal-ihwal agama itu terkait dengan nilai-nilai sosial, mekanisme integrasi sosial, dan sarana yang mengaitkan dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui atau dikawal.

Akhirnya, tadarus tidak lagi dibatasi pada pembacaan tanpa pemahaman. Malah, kegiatan ini tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga di warung kopi. Dengan demikian, pesan kitab suci hadir dalam keseharian penganutnya dan lebih penting lagi ia menjadi pedoman hidup, bukan sekadar mantra yang diharapkan berkahnya. 

 

*)Alumnus Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia.

 

 

]]>
Abdul Basri Tue, 19 Jun 2018 17:29:38 +0700
<![CDATA[Keajaiban Silaturahmi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/18/81757/keajaiban-silaturahmi https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/18/81757/keajaiban-silaturahmi

SEORANG pemuda memilih nyantri saat menjalani pendidikan sebagai mahasiswa. Usia sudah tidak lazim dan disibukkan banyak hal. Selama mengaji, dia hanya menjadi]]>

SEORANG pemuda memilih nyantri saat menjalani pendidikan sebagai mahasiswa. Usia sudah tidak lazim dan disibukkan banyak hal. Selama mengaji, dia hanya menjadi pendengar yang baik.

Dia memang ikut pegang kitab kuning. Ikut pula menerjemahkan sebagaimana santri lainnya. Hanya saja ala kadarnya. Karena itu, dalam mengaji, dia betul-betul mengandalkan ingatan.

Beberapa ingatan itu di antaranya adalah, pertama, anjuran untuk selalu memperbarui niat. Itu pelajaran perdana yang diterima di pondok. Kedua, anjuran untuk rajin silaturahmi. Ketiga, cerita-cerita khazanah  pesantren.

Tiga pelajaran itu berelaborasi dalam laku kesehariannya. Seperti tentang memperbarui niat. Ia mempraktikkan sendiri bersama sang guru ketika diajak bepergian. Di tengah perjalanan, sang guru mengingatkan apa sudah niat. Tentu saja dia bingung. Sang guru mengatakan niatlah silaturahmi. Sang santri pun melafalkan niat tersebut lillahi ta’ala dalam hatinya.

Selalu memperbarui niat sejatinya adalah manifestasi dari ibadah mahda. Dalam ibadah tersebut, niat menjadi rukun. Jika tidak membaca niat, tidak sah ibadah yang dilakukan. Semua ibadah seharusnya termanifestasi dalam laku hidup sehari-hari.

Maka, mengawali semua perbuatan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak bukan ibadah dengan niat. Tidak lain adalah pengamalan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, semua laku kita akan dinilai sebagai ibadah jika niatnya karena mengharap rida Allah SWT.

Lain niat, lain pula dengan keajaiban yang diterima dari pengamalan silaturahmi. Ia mengusir malas dalam diri untuk mengamalkan ajaran silaturahmi. Karena itu, ketika liburan, ia menikmati liburan didahului silaturahmi ke rumah teman-temannya sebelum pulang ke rumah sendiri. Dalam berbagai kesempatan dan kesempitan, dia memaknai liburan cukup sebagai tamasya silaturahmi.

Pun dalam kehidupan sehari-hari tampak betul hikmah yang diterima sang santri dari rajin silaturahmi. Begitu dia lulus kuliah dan kembali ke kampungnya, dia menemukan pekerjaan setelah silaturahmi di sebuah acara reuni. Alhasil, dia mendapat rekomendasi dari temannya untuk mengajar di sebuah SMA.

Setahun setelah mengajar SMA itu, ada kesempatan lebih baik baginya untuk memperbaiki karier. Lagi-lagi, dia diterima di sebuah perusahaan karena rekomendasi teman karibnya. Tentu saja rekomendasi bukan sekadar usulan. Tetapi, rekomendasi turun karena sama-sama mengetahui kualitas diri. Tiga tahun setelah itu, dia menduduki jabatan tertinggi di sebuah kota tanpa ia minta-minta. Dia hanya tahu satu hal bahwa kualitas diri dapat dibangun, salah satunya dengan rajin silaturahmi.

Sang santri ingat pada sebuah hadis Nabi Muhammad, ”Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (muttafaqun ‘alaihi).” Hadis itu selalu diingatnya.

Dalam hadis itu, makna rezeki tidak disempitkan pada materi saja. Salah satu rezeki dari ruang-ruang pertemuan yang diciptakan adalah bertambahnya ilmu. Ilmu adalah rezeki dari Allah SWT yang jauh lebih bernilai dari sekadar materi. Dia menyadari hampir semua silaturahmi yang dilakukan berbuah ilmu dan pengalaman.

Sang santri percaya dan mengimani dua hal dalam hadis itu pasti didapat saat itu juga oleh orang yang menjalin silaturahmi. Dalam sebuah ceramah, seorang kiai berkata, ”minimal rezeki yang didapat adalah hidangan yang diberikan tuan rumah. Itu juga rezeki.”

Dengan silaturahmi, orang-orang akan semakin banyak sahabat dan di situlah saling mendoakan kebaikan terjadi. Umur panjang bukan berarti semakin lama hidup di dunia. Tetapi, kebaikan-kebaikan yang diciptakan selama hidup dalam proses silaturahmi membekas dalam ingatan semua sahabatnya.

 

Silaturahmi Milenial

Di era milenial, ruang silaturahmi terbuka lebar. Dengan media sosial, seseorang bisa dipertemukan dengan kawan lama. Dengan media sosial , hampir setiap hari bertambah kawan dan wawasan yang baik.

Hal itu tentu bisa didapat jika berkumpul dengan orang-orang saleh, yakni menerima pertemanan dan informasi yang baik-baik. Dalam bahasa Alquran, pertemanan dijalin dengan asas watawa saubil haq watawa saubis-shabr.

Di media sosial, seseorang yang tidak pernah kenal sebelumnya bisa intens membangun komunikasi positif. Tidak jarang dari pertemuan virtual itu kemudian bertemu dalam kopi darat (kopdar). Kopdar bisa jadi dilakukan dengan sengaja dalam forum. Bisa juga terjadi karena menjadi musafir. Tidak jarang di tengah perjalanan seseorang singgah di sebuah tempat dan terjadilah pertemuan dengan teman yang tinggal di daerah tersebut.

Begitulah renungan sang santri malam itu di sebuah warung kopi, tempat dia duduk sendirian di sebuah sudut. Ketika banyak orang melakukan aktivitas ngopi, misalnya, didahului dengan janjian bertemu, tidak demikian halnya dengan sang santri. Dia bisa melakukan aktivitas tersebut sendirian.

Dalam kesendirian itu, ia ingin mengalir pada arah takdir. Pada akhirnya, tidak jarang dia sebenarnya tidak benar-benar sendirian. Adakalanya, saat menikmati sendirian, ia dipertemukan dengan orang-orang baru yang diperkenalkan temannya dalam pertemuan yang direncanakan takdir.

Begitulah ia menyebut keajaiban silaturahmi yang sering dialaminya. 

 

*)Alumnus Ponpes Sabilillah, Lidah Wetan Surabaya. Komunitas Stingghil Sampang.

]]>
Abdul Basri Mon, 18 Jun 2018 12:12:17 +0700
<![CDATA[Sutradara dari Pesantren]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/18/81756/sutradara-dari-pesantren https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/18/81756/sutradara-dari-pesantren

MENONTON film-film pendek karya WANT Production dan DAQU Movie, seketika terpikir akan pentingnya pegiat film dari pesantren]]>

MENONTON film-film pendek karya WANT Production dan DAQU Movie, seketika terpikir akan pentingnya pegiat film dari pesantren. Kenapa? Pesantren adalah gudang ilmu pengetahuan dan kebajikan.

Di pesantren juga ada banyak teladan yang sebenarnya harus diketahui banyak orang untuk dicontoh dalam kehidupan keseharian. Mulai dari kehidupan sehari-hari santri yang penuh kesederhanaan, kemandirian santri, tradisi ibadah, diskusi yang kerap melahirkan perbedaan pendapat, perilaku keseharian santri yang penuh dengan humor, dan hal-hal lain yang belum banyak khalayak tahu tentang kehidupan pesantren. Untuk memberitahu mereka, tentu saja perlu cara tersendiri. Salah satunya melalui film.

Kita tahu, di era digital ini, masyarakat lebih senang menjadi penonton ketimbang pembaca yang baik. Apalagi, penyebaran konten digital dapat dilakukan dengan mudah. Seiring semakin canggihnya gadget dan kian banyaknya media berbagi video di dunia maya. Dengan sekali klik, satu video dapat disebar kepada banyak orang.

Film saat ini tak harus diputar di bioskop dan atau diputar di video player. Film yang dibagikan di Youtube misalnya dapat ditonton dan diunduh oleh banyak orang yang tertarik, sehingga lebih mudah tersebar ke khalayak luas.

Penyebaran nilai-nilai kebaikan dan hal positif dalam bentuk film penting khususnya untuk anak muda kita. Selama ini, anak-anak muda kita banyak belajar dari film dan sinetron yang kurang asupan nilai keagamaannya. Yang banyak justru adalah film dan sinetron penyebar perilaku dan budaya negatif yang tidak layak ditiru oleh anak muda.

Anak muda kita, melalui sinetron dan film, justru diajak untuk pacaran, tawuran, memusuhi orang tua, dan sikap-sikap negatif lainnya. Nilai-nilai positif semakin jarang kita temukan, khususnya dalam sinetron-sinetron yang tayang di beberapa stasiun TV swasta Indonesia.

Untuk itulah, di sinilah saya kira anak-anak muda kita perlu diberi tontonan yang lebih ”bergizi” dan bermanfaat untuk mereka, yang sekiranya dapat membentuk karakter mereka menjadi lebih baik lagi. Salah satu bentuk tontonan tersebut adalah sajian film-film pendek kreatif yang menyentuh.

Namun, dalam beberapa kasus, untuk mengejar tontonan yang ”bergizi”, malah terlalu kaya akan nasihat dan arahan: menggurui penontonnya. Tontonan demikian, justru akan ditinggalkan oleh penontonnya. Tontonan yang ”bergizi” adalah tontonan yang pesan-pesannya tersirat dan tersampaikan dengan baik, tanpa kehilangan esensi tontonan sebagai sebuah hiburan. Hal itu tergantung dari kelihaian sang sutradara dalam menyajikan tontonan yang demikian.

Karena itu, pesantren perlu menggarap ini dengan serius sebagai salah satu media dakwah kepada masyarakat, khususnya anak muda agar tidak tersesat di jalan yang salah. Di era modern ini, pesantren juga perlu memanfaatkan cara-cara modern dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Hal ini selaras dengan apa yang dicontohkan Wali Sanga kepada kita.

Saat itu, seni tradisi seperti ludruk, topeng, dan lainnya sangat digandrungi masyarakat. Karena itu, Wali Sanga kemudian menjadikan seni tradisi itu sebagai media dalam menyampaikan dakwah.

Kita membutuhkan sutradara-sutradara andal untuk membuat film berkualitas dan berkarakter pesantren. Sutradara yang memang memahami dunia pesantren luar dalam, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah tentang pesantren, sebagaimana yang terjadi selama ini. Film pesantren harus dibuat oleh anak muda pesantren yang memiliki kreativitas.

Tentu saja hal itu tidaklah instan. Pesantren perlu mendukung pembibitan sutradara dari pesantren dengan melakukan kerja sama dengan komunitas pembuat film pendek untuk memberikan pelatihan kepada santri yang berminat. Saya kira inilah langkah awal yang bisa dilakukan oleh pesantren. 

 

*)Sekretaris LP2M Institut Ilmu Keislaman Annuqayah.

 

]]>
Abdul Basri Mon, 18 Jun 2018 12:10:38 +0700
<![CDATA[Memfitrahkan Diri]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/14/81520/memfitrahkan-diri https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/14/81520/memfitrahkan-diri

DALAM pandangan John Locke (filsuf Inggris, 1623–1704), anak manusia ketika dilahirkan berupa kertas kosong atau ”tabula rasa”.]]>

DALAM pandangan John Locke (filsuf Inggris, 1623–1704), anak manusia ketika dilahirkan berupa kertas kosong atau ”tabula rasa”. Seiring perjalanan waktu, kertas kosong itu diisi dengan pengalaman-pengalaman, pendidikan yang diperoleh selama hidup. Pengalaman dan pendidikan dapat menentukan dan membentuk kepribadian seseorang.

Terlepas teori tersebut senantiasa berpengaruh atau tidak dalam dunia pendidikan, ternyata bantahan ketidaksepahaman oleh sementara ahli patut diapresiasi. Jika seorang anak dikatakan seperti kertas kosong, telah menjadikan proses pembelajaran anak didik lebih terhormat menjadi pendengar setia daripada banyak bertanya apalagi membantah guru. Padahal proses pembelajaran yang aktif dan dinamis menjadikan setiap pertemuan sebagai ajang berdiskusi. Sedangkan guru sebagai fasilitator sekaligus motivator.

Alquran dan Al-Hadis sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki pandangan berbeda dari filsuf Inggris, John Locke. Kalau John Locke mengategorikan anak yang lahir sebagai kertas kosong, dalam hadis disebutkan sebagai fitrah.

Berdasarkan sebuah hadis yang masyhur riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Malik, dan Ahmad bin Hambal menyebutkan: ”Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan kedua orang tualah yang menjadikan pemeluk Kristen, Yahudi atau Majusi.”

Dalam Ensiklopedi Islam, fitrah memiliki beberapa arti: Pertama, fitrah dengan arti asal kejadian bersinonim dengan kata ”ibda’” dan ”khalq”. Fitrah manusia atau asal kejadiannya diciptakan oleh Allah bebas dari noda dan dosa.

Kedua, fitrah dengan arti kesucian terdapat dalam hadis yang menyebutkan semua bayi terlahir dalam keadaan fitrah (keadaan suci). Dengan arti fitrah ini dalam perspektif Islam, setiap bayi yang lahir tidak dikenal membawa dan menanggung dosa warisan.

Ketiga, fitrah dengan arti agama yang benar (agama Allah/Islam). Arti ini dapat dirujuk dalam surah Ar-Rum; 30. ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Keempat, fitrah dengan arti sunah Nabi Muhammad SAW bahkan lebih umum mengartikan dengan sunah-sunah para nabi. Ini berdasarkan hadis Nabi bahwa ada lima hal termasuk fitrah. Yaitu berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.

Fitrah dalam artian pertama yaitu dengan arti ”asal kejadian” ketika dihubungkan dengan surah Al-A’raf (7) : 172–173. ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan-keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah telah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Allah berfirman): ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar nanti di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. ”Atau agar kamu tidak mengatakan: ”Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan-perbuatan orang yang sesat dahulu?”

Manusia semenjak berada di alam arwah, alam sebelum alam dunia yang hadir ini telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. ”Alastu birabbikum?” ”Qaaluu: balaa, syahidna.”

Dengan demikian, manusia dilahirkan bukan seperti kertas kosong melompong. Akan tetapi, dalam jiwa bersih itu ada fundamen rasa ketahui dan mengesakan Allah. Tauhid yang dimaknai komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus keseluruhan rasa hormat dan rasa syukur yang tak terhingga.

Dengan begitu, berarti Allah telah menyiapkan bani Adam sebagai khalifah agar selalu bergantung kepada Allah dengan senantiasa melewati rel dan memperhatikan ketentuan-Nya. Bukan bergantung kepada suatu akidah produk orang-orang jahiliah modern yang cenderung destruktif dan menyalahi fitrah kemanusiaan sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.

Sebuah hadis qudsi dalam Shahih Muslim dari riwayat Iyadh bin Hummar Nabi SAW bersabda: ”Berkata Allah: ’Aku telah menjadikan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) maka datanglah setan-setan yang membelokkan dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka”.

Menjadikan keimanan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya sumber nilai adalah perjuangan yang tidak pernah selesai. Godaan dan cobaan datang silih berganti dan luar biasa. Khususnya dalam era teknologi dan informasi saat ini.

Pendidikan secara operasional mengandung dua aspek, yaitu aspek menjaga atau memperbaiki dan aspek menumbuhkan atau membina. Orang tua yang mendominasi waktu bagi anak mengemban tanggung jawab pertama. Orang tua harus memberikan teladan yang baik dengan mengajarkan dan mencontohkan nilai luhur dalam tahapan membentuk karakter anak.

Orang tua dituntut menumbuhkembangkan nilai-nilai keimanan, syariat, dan akhlak anak. Anak-anak dapat melaksanakan salat dengan rajin dan baik, hanya orang tua yang tahu benar. Orang tua mutlak melaksanakan pengawasan secara efektif dan efisien terhadap anak-anak agar tidak merugi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab memperbaiki dan menumbuhkan nilai-nilai religius anak. Guru pemegang materi pendidikan agama otomatis secara langsung dapat mengimplementasikan hal tersebut. Guru pemegang materi umum hendaknya pandai-pandai memasukkan dan mengaitkan nilai-nilai religius dalam proses belajar mengajar.

Contoh dalam mengajar materi matematika. Satu plus satu sama dengan dua. Ketika anak-anak besok menjadi pedagang, janganlah satu plus satu tetap satu karena menjual barangnya. Atau satu plus satu menjadi tiga karena demi untung dalam pembelian tetapi merugikan orang lain. Jujurlah! Dan banyak contoh lain.

Rasulullah bersabda: ”Siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan pengharapan akan diampunkan segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nilai-nilai puasa Ramadan sangat urgen dalam pendidikan umat manusia agar ke depan mereka dapat menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan liku-liku.

Puasa Ramadan melejitkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Puasa mendidik kesabaran, kejujuran, sikap disiplin diri, dan menjadikannya segala amaliah keseharian kita sebagai ibadah kepada Allah SWT. Itulah arti kembali kepada fitrah asal kejadian. Yaitu, dekat dengan Allah SWT. Semoga!

 

*)Khadim Pesantren Al-Istikmal Cangkreng, Lenteng, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Thu, 14 Jun 2018 15:52:10 +0700
<![CDATA[Akhir Ramadan, Antara Sedih dan Bahagia]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/13/81279/akhir-ramadan-antara-sedih-dan-bahagia https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/13/81279/akhir-ramadan-antara-sedih-dan-bahagia

IDUL Fitri menjadi sangat berarti karena ia sejatinya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Hari Raya Idul Fitri dirayakan]]>

IDUL Fitri menjadi sangat berarti karena ia sejatinya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Hari Raya Idul Fitri dirayakan setelah kaum muslimin menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, rukun Islam keempat.

Ibnul A’rabi, sebagaimana dalam Al Lisan, berkata, ”Idul Fitri disebut ’ied karena ia senantiasa kembali setiap tahun dengan kebahagian yang baru.” (Syarh Umdah Al Fiqh, hal. 309)

Karena itu, hari raya seharusnya dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk sukacita karena keutamaan dan karunia Allah. Sublimasi dari kebahagiaan karena taat dan ibadah, rasa syukur yang seutuhnya karena takwa, dan amal shaleh. Berbahagia karena keutamaan dan karunia Allah adalah perintah Allah.

Akan tetapi, Idul Fitri tentu bukan momen kebahagiaan individual. Idul Fitri adalah hari kebahagiaan semua umat Islam. Maka, pada setiap hari raya itu disyariatkan amal ibadah yang mengandung nilai sosial. Di samping nilai ketaatan dan ketundukan kepada Allah sebagai tujuan utamanya.

Tujuannya adalah agar secara merata seluruh kaum muslimin dapat merasakan kebahagiaan. Termasuk orang-orang fakir dan miskin. Makna disyariatkannya zakat fitrah pada hari Idul Fitri hakikatnya adalah bagaimana distribusi kebahagiaan dapat merata pada semua kalangan. Ukuran minimalnya adalah mengeluarkan harta dalam bentuk makanan kepada fakir miskin dengan ukuran yang telah ditentukan.

Maka, merayakan Idul Fitri secara berlebihan dan menonjolkan kemewahan individual sesungguhnya bukan spirit yang dikehendaki perayaan Idul Fitri. Kebahagiaan egoistik dengan memamerkan kemewahan individual justru merupakan kontradiksi dengan semangat Idul Fitri itu sendiri.

Sebagai simbolisasi kemenangan, sudah selayaknya Idul Fitri dirayakan dengan kegembiraan. Bagi mereka yang betul-betul berpuasa, Idul Fitri akan datang secara alamiah tanpa harus dipersiapkan kedatangannya.

Sebentar lagi Idul Fitri akan tiba. Namun, sesungguhnya sepertiga akhir Ramadan merupakan saat-saat paling menyedihkan karena sebentar lagi Ramadan meninggalkan kita. Bukan sebaliknya, menjadi masa-masa menyenangkan karena menunggu Lebaran tiba.

Bagi orang yang beriman dan senantiasa bermuhasabah, kepergian Ramadan tentulah sebuah kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang saleh yang mengungkapkan kesedihan dan tangisan menjelang perpisahan dengan Ramadan.

Rasa sedih dengan kepergian Ramadan akan selaras dengan kualitas kebahagiaan ketika menyambutnya. Bagi mereka yang sangat merindukan keberkahan Ramadan, kepergiannya adalah kehilangan luar biasa. Kesedihan para ulama dan orang saleh yang memendam api kerinduan yang membakar selama sebelas bulan ke depan.

Kita pun semestinya merasa sedih dengan kepergian Ramadan. Semoga saja kesedihan itu bukan kepura-puraan atau sekadar ikut-ikutan. Kesedihan karena akan kehilangan suasana menyenangkan menjelang berbuka saja, kesedihan karena tak akan ada lagi asyiknya reuni dan buka bersama.

 

Kualitas kesedihan itu sangat ditentukan oleh apa yang menjadi objek kehilangan. Kesedihan palsu segera tertutup dengan gegap gempita dan hura-hura Lebaran saja. Ramadan tidak bermakna apa-apa kecuali menunggu waktu pameran baju baru. Na'udzubillah. 

 

*)Alumni Annuqayah Latee, pengajar di STIT Aqidah Usymuni, peneliti di elBina Jatim.

 

]]>
Abdul Basri Wed, 13 Jun 2018 08:35:34 +0700
<![CDATA[Jagad Keilmuan Masyarakat Madura]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/12/81057/jagad-keilmuan-masyarakat-madura https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/12/81057/jagad-keilmuan-masyarakat-madura

JAGAD keilmuan masyarakat Madura bergerak sejak beberapa abad silam. Masyarakat dengan kapasitas dan kualitas keilmuan yang dimiliki menggerakkan peradaban awam]]>

JAGAD keilmuan masyarakat Madura bergerak sejak beberapa abad silam. Masyarakat dengan kapasitas dan kualitas keilmuan yang dimiliki menggerakkan peradaban awam bergeser ke generasi modern. Meski tahapan pergeseran itu sangat bertahap, pelan, namun pasti.

Realitas itu bisa diamati dari pergerakan perilaku, cara berkomunikasi, dan keterlibatan manusia Madura dalam setiap tahapan perubahan zaman. Tahapan belajar-mengajar di Madura dimulai sejak islamisasi masuk Jawa sekitar abad ke-7–19 M. Meski data otoritatif islamisasi ke Madura beragam, sosok Raden Rahmat (Sunan Ampel) diduga kuat sebagai penyebar ajaran Islam di kawasan Madura.

Islamisasi sudah menjadikan kawasan Madura sebagai pusat penyebaran ajaran agama Islam. Mayoritas penduduk di Madura beragama Islam (M.C. Ricklefs, 2008). Struktur sosial masyarakat Madura berjalan dinamis seiring perkembangan dan perubahan konteks zaman. Tradisional, modern, dan terus berkembang.

Seiring perjalanan waktu, tekstur kemaduraan tersebut mengalami perubahan setiap generasi. Hari ini kristalisasi perubahan dan perkembangan tekstur kemaduraan semakin matang (Wiyata, 2012). Pembentukan ideotipe (watak manusia) dan biotipe (struktur sosial) kemaduraan terlihat jelas dalam setiap babakan generasinya. Namun, meski zaman terus berjalan, karakter orang Madura dalam menjaga wibawa kemaduraan tak pernah pudar.

Wibawa moralitas dalam pandangan masyarakat Madura salah satunya adalah tatengka. Tatengka merupakan penjabaran dari perilaku dalam berkehidupan (hablum minannas wal alam). Anak pesantren menyebutnya akhlak.

Sebagaimana teori koneksionisme, perilaku lahir akibat sentuhan stimulasi dan respons dalam realitas tertentu (Skinner dan L. Thorndike, 1980). Tatengka di kalangan masyarakat Madura juga saling terkait erat dengan reaksi respons dan stimulasi realitas manusia, alam, dan agama masyarakat Madura. Warga Madura satu dengan lainnya selalu menjaga wibawa moral ini bertahan secara turun-temurun.

Salah satu wujud tatengka ini adalah; pertama, selalu hati-hati menjaga ikatan persaudaraan (nyagara, abala tatangga). Kedua, membiasakan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi (andhap asor, angko keng ta’ pengko/berani tapi tidak sewenang-wenang). Ketiga, merasa sungkan apabila tidak memberi pelayanan dan penghormatan yang sama.

Tatengka sebagai representasi kesuciaan kebudayaan Madura menjelma nasionalisme etnisitas. Orang Madura di mana pun berada sangat menjaga amanat tatengka. Fakta idealisasi orang Madura dalam menjaga bendera budaya ini setidaknya mengubur anggapan (stereotipe) negatif tentang orang Madura.

Tatengka yang sarat nilai kehidupan, pesan bertuah ajaran agama, dan tafsir sakral alam ini diduga bermula dan bermuara di sebuah tempat bernama langgar (langgar, Madura). Di langgar inilah siklus tatengka mengalir ke sudut-sudut hati masyarakat Madura secara dinamis.

Langgar pada mulanya hanya dimiliki seorang yang dipercaya memiliki kemampuan di bidang ilmu agama. Pemilik langgar disebut dengan keyae/keyaji. Istri keyae disbut ma’ nyae. Anak keyae, jika laki-laki disebut lora dan disebut neng apabila perempuan. Sedangkan santri keyae disebut bindara. Masyarakat menjadikan langgar pada masa awal sebagai sentral kegiatan kemasyarakatan. Sehingga, keberadaan langgar saat itu sangat keramat dan multifungsi.

Masyarakat Madura membagi tingkatan kiai sesuai dengan tugas dan wilayah garapannya. Pertama, kiai pesantren. Tokoh agama ini memiliki tugas mengurus pesantren. Tugas dan garapannya sangat luas. Indikator yang bisa masuk ke ruang pesantren orang tertentu. Yaitu, memiliki potensi keilmuan mumpuni, keturunan darah biru, memiliki kedigjayaan, dan pandai berpidato.

Kedua, kiai kampung. Tokoh agama ini adalah sosok orang biasa, namun memiliki kemampuan di bidang pengetahuan agama meski terbatas. Memiliki harapan yang lebih terbatas daripada kiai pesantren. Hidup bersama masyarakat tanpa batas. Lebih populis karena waktu berkumpul dengan warga lebih leluasa dibanding kiai pesantren. Biasanya, kiai kampung adalah santri jebolan pesantren.

Penduduk di Madura, baik yang berdomisili di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, menjadikan langgar sebagai pusat energi keilmuan. Masyarakat bisa belajar ilmu agama, budaya, kanuragan, dan sejumlah ilmu kehidupan lainnya. Yang memegang peranan dominan –inti– di langgar adalah kiai. Kiai di sini adalah kiai kampung. Mereka menjadi panutan yang membuka diri memberikan bakti kepada masyarakat.

Ketulusan sang maha guru ini membekaskan ikatan rasa yang sangat kuat di hati masyarakat. Seakan, pernyataan kiai adalah mantra langit. Wajar jika warga memercayakan anak-anak mereka untuk mengaji ilmu agama dan ilmu kehidupan kepada kiai di lembaga pendidikan (sekolah) bernama langgar. Praktik persekolahan di sekolah masyarakat perkampungan Madura ini pada era kejayaannyasekitar abad ke-19 berhasil mencetak lulusan dengan bekal keilmuan yang multiilmu; ilmu agama,ilmu kedigjayaan, dan ilmu kehidupan (tatengka).

Sayang, sejak terbukanya kontak kebudayaan dari luar Madura, sedikit demi sedikit pertahanan tatengka kemaduraan tergerus. Fungsi dan peran langgar sebagai pusat keilmuan mulai berubah. Lembaga bergengsi ini mulai dijauhi peminatnya. Sekolah-sekolah modern dengan aneka propaganda sains dan teknologi dinilai masyarakat lebih menjanjikan.

Langgar sebatas menjadi tempat alternatif selepas anak-anak belajar di sekolah siang hari. Akan tetapi, seperti apa pun kondisinya, langgar sudah menjadi peletak bangunan keilmuan bagi komunitas Madura. Salah satu realitas penting yang perlu dipertahankan sampai kapan pun adalah metode belajar yang lahir dari rahim langgar. Yaitu, metode belajar pal-apalan. (*)

 

*)Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Mahasiswa program doktor UIN Sunan Ampel Surabaya.

]]>
Abdul Basri Tue, 12 Jun 2018 14:46:46 +0700
<![CDATA[Pesantren, Ramadan, dan Jeda Reflektif]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/11/80693/pesantren-ramadan-dan-jeda-reflektif https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/11/80693/pesantren-ramadan-dan-jeda-reflektif

Sebagai subkultur, pesantren di antaranya memiliki cara pandang tersendiri tentang waktu dan pengelolaannya.]]>

Sebagai subkultur, pesantren di antaranya memiliki cara pandang tersendiri tentang waktu dan pengelolaannya. Ritme dan jadwal kegiatan belajar santri sehari-hari di pesantren berlangsung dengan mengikuti jadwal salat lima waktu. Dalam rentang satu tahun, libur pesantren juga mengikuti liburan hari-hari besar Islam, termasuk libur Ramadan.

 

NAMUN, saat pesantren mulai mengadopsi sistem pendidikan formal dengan kalender pendidikan yang diatur sedemikian rupa oleh otoritas pemerintah, ritme waktu di pesantren juga berubah. Hal ini juga terkait dengan libur bulan Ramadan.

Berdasarkan pengalaman saya saat belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, dahulu libur Ramadan adalah libur akhir tahun pelajaran. Waktu itu, kalender pendidikan di pesantren dalam satu tahun mengikuti kalender Hijriah (lunar), dan Ramadan adalah libur panjang akhir tahun.

Kegiatan akhir tahun pelajaran madrasah di Pesantren Annuqayah dahulu hingga tahun 1992 dimulai tepat keesokan hari setelah malam Nisfu Syakban. Itu adalah waktu perayaan setelah ujian akhir di madrasah yang dikenal juga dengan istilah haflatul imtihan. Puncak haflatul imtihan dilaksanakan sekitar sepekan kemudian, lalu setelah itu liburan panjang pun dimulai. Santri kembali ke pesantren dua pekan setelah Lebaran.

Dalam sistem kalender pendidikan seperti itu, Ramadan bagi pesantren adalah semacam jeda reflektif. Setahun ditempa dengan berbagai kegiatan kependidikan dan keagamaan di pesantren, libur Ramadan adalah saat bagi santri untuk kembali ke rumah dan lingkungan masyarakatnya. Selain hidup bermasyarakat, Ramadan di kampung halaman adalah kesempatan bagi santri untuk mengikuti ritme kegiatan keagamaan di masa bulan Ramadan.

Kiai M. Faizi, salah satu pengasuh di Pesantren Annuqayah saat ini yang juga dikenal sebagai penyair dan budayawan, di laman Facebook-nya mencatat ada 11 manfaat liburan pesantren dalam konteks kekinian. Selain sebagai tempat santri ”berlatih” berkiprah di masyarakat, di antara manfaat yang ditulis Kiai Faizi adalah bahwa libur Ramadan merupakan ”aktivitas politik pertanggungjawaban” saat santri kembali dipasrahkan kepada orang tuanya.

Sementara itu, sebagian santri ada juga yang kembali ke pondok untuk mengikuti pengajian kitab yang diselenggarakan di pesantren. Di pesantren, selain mengaji kitab, mereka juga bertadarus dan Tarawih bersama. Kegiatan belajar dan berkegiatan di pesantren saat Ramadan bisa dikatakan berbasis kesadaran santri—tidak ada tekanan dan aturan seketat saat hari-hari aktif.

Jeda reflektif santri saat Ramadan ini mungkin mendekati atau mirip dengan momen saat Nabi Muhammad SAW menjalani masa-masa rutin tahannuts di Gua Hira. Tahannuts, menurut Quraish Shihab, ”bisa jadi merupakan tata cara yang sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim as.”. Bentuknya bisa berupa renungan, tafakur, dan zikir. Dalam Alquran dan ajaran tasawuf pada khususnya, tafakur dapat berarti juga sebagai momen reflektif mendapat tempat yang cukup penting.

Secara sederhana, Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menerangkan bahwa kegiatan tafakur itu dapat menghasilkan ilmu atau pengetahuan, dan ilmu atau pengetahuan dapat mengubah keadaan hati. Jika hati berubah, maka perilaku anggota badan juga dapat berubah.

Kini, ritme tahunan kegiatan kependidikan dan keagamaan pesantren sedikit berubah. Ramadan tidak mesti menjadi akhir tahun pelajaran madrasah/pendidikan. Seperti tahun ini, pelaksanaan perayaan akhir tahun pelajaran dilaksanakan pada saat yang berbeda-beda di beberapa pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan bercorak pesantren. Ada yang bentuknya disederhanakan dan dilaksanakan beberapa hari sebelum Ramadan. Ada juga yang dilaksanakan di bulan Ramadan. Lainnya ada yang akan dilaksanakan di bulan Syawal atau setelah Lebaran.

Apakah perubahan ritme tahunan kegiatan di pesantren terkait Ramadan ini berpengaruh pada kehidupan pesantren atau cara berpikir santri secara umum? Ini mungkin bisa ditelaah secara khusus dan lebih mendalam. Tata waktu adalah salah satu unsur orientasi dalam sistem kebudayaan manusia. Yang jelas, tata waktu subkultur pesantren saat ini tengah berubah akibat perubahan kalender pendidikan ini.

Masalah ini semakin menarik untuk diteliti lebih jauh jika kita meletakkan situasi yang berubah ini dalam kerangka kebudayaan yang melatarinya. Bagaimanapun, harus diakui bahwa tata waktu pendidikan formal yang saat ini diadopsi pesantren sedikit banyak mengikuti pengaturan waktu menurut dunia industri yang bisa dibilang bias Barat. Masa akhir tahun pelajaran yang berlaku saat ini sejatinya sangat cocok untuk negara empat musim seperti di Eropa atau Amerika Utara. Itu adalah masa liburan musim panas, saat kerja dan kegiatan pokok diliburkan. Sedangkan waktu libur di pertengahan adalah libur natal dan tahun baru, saat turunnya salju mencapai puncaknya.

Yuval Noah Harari dalam buku larisnya yang berjudul Sapiens menjelaskan semakin berkuasanya waktu industrial dalam kebudayaan manusia di berbagai penjuru dunia. Sistem waktu yang mengandalkan ketepatan dan keseragaman di sektor industri lambat laun juga diadopsi sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, dan lainnya. Jika waktu industrial semakin dominan, dan sistem ini secara tidak disadari juga menjadi landasan ritme waktu kegiatan kependidikan di pesantren, kemungkinan adanya pengaruh—disadari atau tidak—sangatlah terbuka.

Memang, perubahan yang dialami pesantren bukan hanya terkait ritme waktu. Ini hanya salah satu sisi yang dalam kerangka kebudayaan dapat bermakna dan memiliki konsekuensi yang cukup samar namun bisa cukup penting. Sisi lainnya tentu saja terkait dengan berbagai bentuk perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat kita, seperti penetrasi teknologi informasi yang luar biasa yang juga berdampak pada kehidupan santri pada khususnya.

Semua perubahan ini mungkin memang bagian dari perubahan alamiah dalam kehidupan sosial dan kebudayaan yang terus berkembang. Yang perlu dipikirkan secara lebih serius adalah pengaruhnya terhadap nilai-nilai dan pandangan dunia pesantren, dan yang lebih penting lagi antisipasi dan langkah konkret yang harus diambil oleh pesantren. (*)

 

*)Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-Guluk, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Mon, 11 Jun 2018 14:20:47 +0700
<![CDATA[Bekerja dan Beribadah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/10/80476/bekerja-dan-beribadah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/10/80476/bekerja-dan-beribadah

SEORANG kawan mengirimkan status via WhatsApp: Moto kami di sini: Bekerja itu hanya selingan, untuk menunggu datangnya waktu salat.]]>

SEORANG kawan mengirimkan status via WhatsApp: Moto kami di sini: Bekerja itu hanya selingan, untuk menunggu datangnya waktu salat.

Entah, perusahaan apa yang mengunakan moto seperti ini. Atau, instansi mana yang mengutamakan salat daripada bekerja. Atau, moto ini semacam majas ironi untuk menyadarkan kita, yang sering kali mengutamakan kerja daripada salat.

Paling tidak, jika dalam hal bekerja kita memiliki semangat empat lima, maka dalam hal ibadah pun harus menduduki posisi utama. Yang jelas, ini merupakan hal menarik untuk direnungkan.

Sebuah perusahaan biasanya memiliki profit oriented. Secara kalkulatif, bisnis harus memiliki keuntungan. Keuntungan tersebut selain untuk biaya produksi, juga untuk membayar gaji karyawan.

Perusahaan akan bertahan lama jika keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya pengeluaran. Namun, jika perusahaan ini menganut sistem besar pasak daripada tiang, maka tunggulah waktu kehancuran.

Saya akan memandang ini dari posisi karyawan. Bagi saya, sebesar apa pun gaji seseorang, jika melalaikan waktu ibadah, dia tidak termasuk orang yang sukses. Boleh saja kita memiliki rumah mewah, mobil berkelas, berlibur ke tempat indah, atau memiliki puluhan rekening dengan saldo ratusan juta, melupakan Allah sama dengan melupakan kesuksesan.

Usaha dan doa atau ibadah adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Seorang milyarder dianggap sukses apabila harta yang diperoleh menggunakan cara halal dan tidak melalaikan waktu ibadah. Seorang milyarder tidak dikatakan sukses apabila melupakan ibadah kepada Allah.

Maklum, dia ”berhasil” dalam hal materi, sebab dia telah mencuri waktu untuk menghadap Allah. Dia termasuk koruptor yang telah menyelewengkan waktunya sendiri. Seharusnya, dia menyisihkan waktu untuk beribadah, di samping memaksimalkan usaha meraup keuntungan duniawi.

Sebaliknya, beribadah secara an-sich, tanpa dibarengi usaha mencari rezeki adalah kekonyolan belaka. Sebab, hidup di dunia butuh materi sebagai bekal ibadah. Saya lebih suka seorang mukmin kaya daripada mukmin miskin. Dengan catatan, seorang mukmin kaya tersebut mau menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidak pelit. Tidak kikir.

Jika ada pembangunan masjid, dia merupakan orang pertama yang mendaftarkan diri menjadi donatur. Meminta-meminta di jalan raya untuk pembangunan masjid bisa dihindari. Jika ada orang miskin atau orang-orang telantar, dia menjadi orang pertama yang mau memperbaiki nasib mereka. Walhasil, harta yang mereka miliki dijadikan alat untuk kemaslahatan bersama.

Aura Husna membagi kategori kaya menjadi kaya majasi dan kaya hakiki. Kaya majasi adalah kekayaan yang diukur berdasarkan parameter harta atau materi yang dimiliki. Semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, semakin kaya dalam pengertian ini.

Sedangkan kaya hakiki adalah kekayaan yang hadir dalam jiwa. Jiwa yang kaya adalah jiwa yang tidak tertindas keinginan yang dapat menggelincirkan pada jurang dosa dan kehinaan.

Nah, bagi saya, ada kombinasi antara kaya majasi dan kaya hakiki. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk kategori ini adalah Ustman bin Affan. Khalifah ketiga pasca Nabi Muhammad SAW wafat ini terkenal dermawan. Dalam Ekspedisi Tabuk yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1.000 dinar.

Ustman memiliki peran penting dalam perkembangan Islam. Jiwa dan hartanya dipersembahkan untuk agama sehingga membuat Nabi Muhammad SAW mencintainya sepenuh hati. Bagi Ustman, segala gerak-gerik dan tingkah lakunya harus bernilai ibadah sehingga tidak ada pekerjaan yang sia-sia.

Orang Islam memiliki kunci niat yang akan menentukan hasilnya. Kegiatan ibadah yang tidak diniatkan ibadah bisa menjadi pekerjaan sia-sia. Sebaliknya, aktivitas yang berkaitan erat dengan kegiatan duniawi akan bernilai ibadah jika diniatkan ibadah. Dengan catatan, pekerjaan yang dimaksud bukan pekerjaan yang dilarang Allah.

Bekerja di kantor akan bernilai ibadah jika diniatkan sebagai cara untuk memenuhi kewajiban keluarga atau sebagai bekal ibadah. Jika menggunakan cara seperti ini, waktu salat pun tidak akan tersita. Melaksanakan salat juga tidak akan terasa berat. Sebab, semua aktivitasnya akan bermuara pada kegiatan ibadah.

Maka, ketika moto di atas menjadi salah satu pegangan hidup, sungguh, sepanjang hari akan terasa damai. 

 

*Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai dosen IAIN Madura.

 

]]>
Abdul Basri Sun, 10 Jun 2018 18:49:18 +0700
<![CDATA[Musik dan Mistisisme Suara]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/09/80349/musik-dan-mistisisme-suara https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/09/80349/musik-dan-mistisisme-suara

MUSIK adalah bahasa universal. Dasarnya adalah suara. Musik adalah suara yang diungkapkan secara harmonis dan ritmis. Dalam kehidupan sehari]]>

MUSIK adalah bahasa universal. Dasarnya adalah suara. Musik adalah suara yang diungkapkan secara harmonis dan ritmis. Dalam kehidupan sehari hari ia lebih menyerupai udara, ada dan hadir kapan saja, di mana saja. 

Para ahli kosmologi meyakini teori terbentuknya alam berawal dari peristiwa ledakan besar. Musik besar! Big Bang namanya. Big Bang adalah ”musik besar”, penanda asal muasal terbentuknya alam semesta. 

Seorang ayah melantunkan azan di dekat telinga bayi yang baru lahir sebelum dia mendengar suara apa-apa. Pada acara pemakamannya kelak, sang anak melakukannya sebagai penghormatan terakhir. 

Dari hulu hingga hilir sejarah hidup umat manusia, musik dan suara telah meng-ada. Musik mengalir, menempuh perjalanan jauh kanal-kanal kehidupan.

Masyarakat primitif zaman kuno melantunkan suara mantra untuk memanggil arwah para leluhur. Di Anatolia sana, Maulana Rumi menjadikan musik sebagai latar para sufi menari, whirlingdarwish, tarian berputar pengantar jiwa mencumbui Sang Maha. Musik laiknya aliran besar sungai kehidupan.

Pada 200 tahun sebelum masehi, teater-teater Romawi klasik telah meleburkan komponen musik, properti, dan tari dalam setiap pertunjukan. Zaman abad pertengahan, tepatnya di Spanyol dan Perancis, teater menjadi sponsor utama bagi perayaan hari-hari besar keagamaan. Lalu, memuncak pada abad pencerahan, ketika pertunjukan pertunjukan teater Eropa mempengaruhi sebagian besar daratan benua itu. 

Musik terus berkembang, menegaskan eksistensi. Dia tak sekadar ingar-bingar. Musik memiliki daya pemantik, menggerakkan jiwa, melambungkan imaji. Musik membentuk disiplin tubuh, menggelorakan rasa, melahirkan paradigma, hingga mencipta visi. Di dalam tempurung kepala, ia membentuk peradaban otak kanan. 

Seorang wali mastur berujar, ”Jangan kau sibuk berdebat soal musik. Tanya kenapa hasrat samar menyelinap saat kau memainkan atau sedang menyimak.”

Dia melanjutkan ... 

”Engkau memainkan musik untuk meraih Yang Tinggi atau kau dendangkan kalimat suci demi kepuasan puncak seni? Pertama, ia mengantarkanmu pada Tuhan. Kedua, kau menjadikan ayat-ayat-Nya demi mereguk hasrat dan kepuasan. Tak pantas musik menjadi korban hasrat rendahan.”

Alam bergerak selaras, berdetak mengikuti kehendak. Burung berkicau, angin berdesir, orang-orang bercengkerama. Pohon-pohon bertasbih. Jagat binatang melaksanakan tugas-Nya dengan derajat kepasrahan yang sangat mencengangkan. 

Ketika Nabi Muhammad menerima ilham Tuhan, adakalanya wahyu datang dalam wujud bebunyian. Dalam buku The Mysticism of Sound and Music, Hazrat Inayat Khan berujar, ”Perjalanan akhir dunia ini akan ditutup dengan ’permainan tunggal’ musik dari sangkakala Sang Malaikat.”

Setiap jiwa sejatinya mendendangkan suara. Masing-masing semua telah memainkannya sejak mula-mula. Musik paling sejati dari suara semesta kehidupan ini adalah detak jantungmu sendiri yang menyebut nama Rabbmu tak henti-henti. Allahu a’lam.

 

*)Santri, keluarga besar ROTOR Jakarta, Indonesia, 1996, pendiri Mother of Grunge, Malang, 1997.

]]>
Abdul Basri Sat, 09 Jun 2018 17:03:23 +0700
<![CDATA[Kilas Santri Membangun Bangsa]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/08/79984/kilas-santri-membangun-bangsa https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/08/79984/kilas-santri-membangun-bangsa

TULANG punggung bangsa besar ini terletak di tangan santri. Mungkin banyak kurang sepakat. Walaupun diam-diam akan mengakui dan membenarkan]]>

TULANG punggung bangsa besar ini terletak di tangan santri. Mungkin banyak kurang sepakat. Walaupun diam-diam akan mengakui dan membenarkan bangsa besar ini didirikan umat Islam sebagai umat yang pertama menyambut kedatangan penjajah. Sekaligus, pertama berperang dengan penjajah.

Tak semua kita memahami siapa dan bagaimana sosok pembangun bangsa itu sebenarnya. Penulis menyampaikan beberapa hal tersembunyi terkait sosok santri dalam membangun bangsa ini. Bersyukurlah Radar Madura membikin rubrik khusus ”Suara Santri”. Paling tidak santri di Madura lebih paham eksistensinya sejak ratusan tahun silam.

Kita mulai di zaman Malaka. Tahun 1511 adalah kekuasaan terakhir Sultan Mahmud Syah, cucu pelarian kerajaan Sriwijaya, Parameswara. Setelah masuk Islam berganti nama menjadi Muhammad Syah (berkuasa 1400–1414). Inilah perang pertama kaum muslimin nusantara melawan keangkuhan pimpinan penjajahan Portugis Alfonso de Al’burquerque.

Mahmud Syah (w. 1511) adalah santri dari ibundanya sendiri, Unang Kening binti Mansyur Syah. Mansyur Syah adalah raja termasyhur kesultanan Kelantan. Di samping seorang sultan, Mansyur merupakan seorang ulama besar yang nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Kontribusi Mahmud atas bangsa ini adalah niai-nilai juangnya dalam menghadapi serbuan pasukan Portugis hingga syahid dalam pertempuran. Nilai juangnya terwariskan kepada Sultan Iskandar Muda (w. 1636) dan keturunannya. Mereka, juga santri Meunasah Banda Aceh sehingga kesultanan Aceh sangat sulit ditaklukkan Hindia Belanda. Menjadi wilayah kesultanan di nusantara yang paling terakhir dikuasai penjajah. Keberadaan Meunasah sebagai pondok pesantren di Aceh mendahului pondok pesantren pertama tanah Jawa yang didirikan Sunan Giri. Yang kita kenal dengan nama Padepokan Giri Kedaton (1490-an) di Gresik.

Setelah Malaka dapat dihancurkan Portugis, bangsa penjajah ini berlayar ke arah timur dan bersandar di Pulau Ternate, Maluku. Portugis berniat menguasai daerah penghasil cengkeh dan lada. Waktu itu, Ternate dipimpin Sultan Bayanullah (berkuasa 1500–1521).

Karena Portugis beriktikad baik, Bayanullah menyambut baik. Bayanullah wafat dan diganti adiknya, Sultan Khairun (berkuasa 1521–1570). Pada masa Sultan Khairun itulah watak culas penjajah mulai terlihat pada Portugis.

Demi slogan 3G (gold, gospel, dan glory), Portugis menjebak Sultan Khairun yang datang tanpa pengawalan ke benteng Sao Paulo, Ternate. Setibanya, sang sultan dibunuh atas perintah penguasa benteng, Lopez de Mesquita (berkuasa 1566–1570). Khairun tewas atas suatu kehendak perjuangan bangsa Barat melanjutkan cita-cita 3G.

Syukurlah, maksud Portugis untuk memusnahkan dakwah santri di bumi Maluku tak tersampaikan. Sebab, Sultan Khairun punya keturunan yang mengantarkan babak baru Bumi Raja-Raja, demikian julukan Maluku. Perannya menenggelamkan Portugis hingga penjajah ini menyingkir ke Pulau Timor dan Pulau Makau. Putra Sultan Khairun ini kita kenal dengan nama Babullah (berkuasa 1570–1583).

Siapakah Sultan Zainal Abidin dan keturunannya? Mereka adalah santri-santri Padepokan Giri Kedaton, Gresik. Tahun 1494 Zainal Abidin berangkat ke Gresik demi memperdalam agama Islam dari sang Mufti Tanah Jawa, demikian gelar Sunan Giri (w. 1506). Hubungan ini dilanjutkan keturunan Zainal Abidin dan keturunan Sunan Giri, sehingga terjalin hubungan dakwah Islam di nusantara berabad-abad kemudian.

Demikian pula, jika kita bergeser ke Sulawesi. Sultan-sultan, sebut saja misalnya Sultan Hasanuddin Makassar (w. 1670), Sultan Wajo, Sultan Enrekang, Sultan Mamuju, kerajaan Palu dan kesultanan Buton adalah santri-santri hasil didikan Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang dari Minangkabau. Konsentrasi ketiga ulama tersebut berada di Sulawesi Selatan.

Namun lembaga pendidikan yang mereka dirikan dengan gemilang dapat mengislamkan di sebagian besar Pulau Sulawesi. Khusus Sultan Amai Gorontalo (w. 1550), berhasil masuk Islam setelah berinteraksi dengan ulama-ulama Ternate dan Tidore. Dapat diartikan bahwa pelajaran agama Islam yang mereka terima berasal dari santri-santri Giri.

Kita ke Madura. Pangeran Trunojoyo (w. 1680) adalah pahlawan tanah Madura bertempur melawan kesewenang-wenangan Mataram dan kezaliman VOC. Masa kecil hingga remaja dihabiskan menuntut ilmu pada ulama-ulama Mataram.

Ulama-ulama Mataram mempunyai silsilah keilmuwan mengakar kuat pada Wali Sanga. Lebih-lebih Pesantren Giri dan Pesantren Ampel Denta. Semua bangsawan Mataram masa Sultan Agung adalah santri. Bahkan Sultan Agung, Panembahan Pemanahan, Jaka Tingkir, Hadiwijaya, Pati Unus, Trenggono, Fatahillah, Sultan Ageng Tirtayasa, sampai Raden Fattah adalah santri langsung Wali Sanga. Fakta ini tak mungkin bisa ditutup-tutupi siapa pun.

Kesantrian Trunojoyo dapat disaksikan dari keuletan berjuang melawan Amangkurat I dan VOC. Tanpa lelah mengobarkan perjuangan rakyat Madura dibantu pasukan Banjar, Bugis, dan Makassar. Bahkan, sampai ia terbunuh di tangan Amangkurat II, sifat ksatria ia pegang dengan kuat.

Pangeran Diponegoro (w. 1855) seorang bangsawan keturunan Sultan Agung sekalipun, adalah santri yang amat dalam pengetahuan agama islamnya. Haji Miskin atau Imam Bonjol juga santri. Cuma, setelah Hindia Belanda semakin dalam cengkeraman kekuasaannya, dan banyak kesultanan-kesultanan nusantara dihapus, pesantren-pesantren menjadi terdistorsi.

Belanda sangat berhasil dalam taktik Devide et Impera-nya. Dalam masalah keilmuan itu Belanda berhasil membuat dikotomi. Sampai saat ini ada asumsi ilmu itu ada umum dan agama.

Sejak kebangkitan nasional menggema kembali di awal abad XX, santri-santri mulai menunjukkan perannya lagi dalam pembentukan karakter (character building) bangsa. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, H Agus Salim, sampai HAMKA adalah santri. Tokoh-tokoh seperti Moh. Hatta atau Soekarno adalah santri.

Hatta pernah menjadi santri di Surau Syekh Batu Hampar. Soekarno pun pernah ”nyantri” di bawah kepengasuhan Haji Omar Said Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Soekarno memperdalam agama Islam secara progresif dan mendalam. Sewaktu ia dibuang ke Bengkulu, sampai mengikrarkan menjadi pengurus perserikatan Muhammadiyah cabang Bengkulu, sambil mengajar di sekolah perserikatan dan berjodoh dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu.

Soekarno juga sangat mencintai NU. Dalam muktamar ke-23 NU, 28 Desember 1962, Soekarno berpidato: ”Saya sangat cinta kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak cinta pada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU.”

Tulisan ini refleksi kegelisahan penulis seakan-akan santri tak pernah berkontribusi dalam mendirikan bangsa ini. Walau hanya sekilas, semoga bermanfaat.

 

*)Pengajar sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA Assalam Cenlecen, Pakong.

]]>
Abdul Basri Fri, 08 Jun 2018 04:45:26 +0700
<![CDATA[Nalar Kiai tentang Rokok]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/07/79663/nalar-kiai-tentang-rokok https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/07/79663/nalar-kiai-tentang-rokok

TIDAK ada barang seajaib rokok. Jika ada batu akik, katanya, ada yang bisa memancarkan sinar atau keris kuno bisa terbang sendiri]]>

TIDAK ada barang seajaib rokok. Jika ada batu akik, katanya, ada yang bisa memancarkan sinar atau keris kuno bisa terbang sendiri, itu juga keajaiban. Tapi, masih kelas ekonomi.

Pertama, tidak semua orang punya barang tersebut. Kedua, apa manfaat cahaya yang dipancarkan batu akik sementara sekarang musimnya lampu senter. Dan apa guna keris terbang sendiri, sedangkan yang punya tidak bisa menungganginya? Kalah dong dengan pesawat terbang.

Beda dengan rokok. Maqam keajaibannya kelas bisnis. Pertama, ia bisa diakses semua orang dari semua tingkatan umur. Kedua, efeknya ganda. Satu sisi membuat orang sadar bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan. Di sisi lain, membuat daya nalar si perokok melejit tinggi sehingga bisa melakukan ijtihad nalari yang melahirkan fatwa bahwa rokok tidak selamanya berbahaya.

Tidak selamanya. Artinya ada momen ketika rokok tidak memiliki efek apa-apa.

Kapan itu?

Sebelum tahu jawabannya, mari kita simak kisah faktual berikut ini:

Jumat pagi (25/5) saya berbincang hangat dengan KH Imam Hasyim. Pengasuh Pondok Pesantren At-Taufiqiyah, Aeng Baja Raja, Bluto, Sumenep. Beliau mantan ketua DPRD. Hingga sekarang aktif berceramah di berbagai daerah.

Dalam perbincangan itu beliau berkisah tentang penyakit yang hampir merenggut nyawanya pada 2013. Di tahun itu, jantung beliau lemah. Dayanya tinggal 25 persen untuk memompa darah.

Itu daya minimal yang tidak bisa berfungsi normal. Agar berfungsi normal, tim medis memberikan 5 selang demi membantu power kerja jantung.

Beberapa selang dimasukkan lewat mulut, kerongkongan hingga jantung. Sisanya dimasukkan lewat dada yang sudah dilubangi. Selang-selang itu ada yang memberi daya secara elektrik dan ada yang dioperasikan secara manual. Kiai Imam saat itu sudah tidak sadar karena kritis.

Di saat yang kritis itu, Rumah Sakit Siloam, milik Singapura, menjadi rujukan. Per hari ongkos perawatan minimal Rp 15 juta. Empat hari beliau tinggal di sana. Dengan kecanggihan teknologi dan kelihaian dokter yang semuanya –kata beliau– adalah profesor, kesehatan Kiai Imam pulih kembali.

Kendati demikian, beliau pulih–kata si dokter–bukan semata karena obat dan perawatan medis, tapi mukjizat. Dilihat dari begitu parahnya jantung Kiai Imam.

Kenapa jantung beliau separah itu?

Rokok. Beliau perokok berat. Setiap hari menghabiskan 3 bungkus rokok. Namun, menurut beliau, sebenarnya bukan rokok yang membuat jantung beliau sakit. Tapi karena memang jantung beliau yang lemah. Rokok tidak akan berpengaruh apa-apa selama jantung kuat.

Ini logika luar biasa. Sama dengan ketika Anda bertinju dengan Mike Tyson. Anda kalah. Bukan kekuatan jotos Mike Tyson yang menyebabkan Anda kalah. Tapi karena Anda letoi. Kekuatan si Leher Beton tidak akan mengalahkan Anda selama kekuatan tubuh Anda kuat.

Kiai Hasyim, abah Kiai Imam adalah pecandu rokok. Beliau bahkan bilang bahwa rokok itu jahat. Namun, beliau terus merokok dan tidak mengalami penyakit akut. Sebabnya, jantung Kiai Hasyim kuat. Juga banyak dokter–menurut penuturan Kiai Imam–yang menjadi perokok berat. Mereka fine-fine saja. Sebabnya, jantung mereka kuat. Nah, dalam konteks inilah rokok tidak akan memiliki efek buruk.

Masalahnya, bagaimana membuktikan jantung kita lemah atau kuat? Tidak ada cara yang paling pas kecuali dengan merokok. Rokok adalah parameter kesehatan jantung paling sahih. Jika Anda merokok per bungkus tiap hari namun jantung Anda tidak bermasalah, berarti jantung Anda sehat. Keep smoking. Jika ternyata jantung Anda makin lemah, seperti yang dialami Kiai Imam, berarti jantung Anda lemah. No Smoking.

Menurut Kiai Imam, berdasarkan informasi dokter spesialis yang beliau dapatkan, jantung bisa menjadi lemah bukan karena rokok. Tapi karena tiga hal: pikiran, makanan, dan kecapekan. Dari tiga varian toksin ini, yang paling berbahaya adalah pikiran.

Jika banyak pikiran hingga tingkatan stres, otomatis jantung akan melemah. Jika pikiran tenang dan santai, jantung akan tetap sehat. Herannya, merokok adalah aktivitas yang bisa bikin tenang pikiran. Iya kan? Coba perhatikan jamaah ”ahlul hisab”. Begitu damai hidup mereka ketika mengisap rokok.

Dari sini lahir logika smokingisme: rokok tidak berbahaya kecuali bagi jantung yang lemah. Untuk mengetahui jantung lemah atau kuat, cara paling ideal adalah dengan merokok. Cara menjaga vitalitas jantung yaitu dengan menjaga pikiran agar tetap tenang. Merokok terbukti merupakan aktivitas yang paling bisa menenangkan pikiran.

Karena saya tidak merokok, pikiran saya puyeng memahami logika ini. 

 

*)Alumni Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Thu, 07 Jun 2018 05:24:08 +0700
<![CDATA[Kiai Keturunan vs Kiai Keilmuan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/06/79297/kiai-keturunan-vs-kiai-keilmuan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/06/79297/kiai-keturunan-vs-kiai-keilmuan

SEKITAR 2014, saya dan dua teman menemui KH A. Busyro Karim di rumah dinas bupati untuk wawancara tentang kehidupan sosial]]>

 SEKITAR 2014, saya dan dua teman menemui KH A. Busyro Karim di rumah dinas bupati untuk wawancara tentang kehidupan sosial kiai di Madura. Kiai Busyro memiliki banyak kesibukan karena status kebupatiannya. Kiai Busyro menerima kami dengan ramah dan tetap dengan gaya khasnya: senyum dan suasana penuh keakraban.

Yang saya rasakan saat itu: Kiai Busyro tampak tidak hanya sebagai bupati. Melainkan juga sebagai agamawan dan cendikiawan dengan cara pandang luas dan kompleks. Terutama dalam membaca dinamika kehidupan sosial kiai di Madura.

Berbagai pandangan dan pemikiran Kiai Buysro tersampaikan. Cara pandang yang dalam serta pengalaman sebagai kiai telah memberikan informasi bermakna untuk memahami kehidupan kiai yang memiliki posisi sosial sangat tinggi di tengah masyarakat. Khususnya di Madura.

Yang menarik, kiai Busyro memberikan analisis baru tentang genealogi kiai. Menurut dia, generasi kiai telah mengalami perkembangan dinamis. Status kiai tidak hanya mengacu pada faktor gen atau keturunan. Juga telah mengalami perubahan dalam paradigma yang lain. Banyak tokoh dan figur muncul di tengah masyarakat dengan latar belakang keluarga biasa. Tetapi mendapatkan posisi sosial yang tinggi di tengah masyarakat sebagai kiai.

Bahkan, menurut Kiai Busyo, saat acara seperti bahsul masail NU, banyak orang baru yang menguasai kitab kuning dan memiliki pemahaman keagamaan yang dalam. Melebihi keturunan kiai secara genealogis. Padahal, mereka bukan keturunan kiai. Tetapi, mampu menguasai khazanah dan karisma sebagaimana kiai. Masyarakat kemudian menyebut mereka sebagai ”kiai” juga.

Pandangan tersebut sangat brilian dan argumentatif. Secara langsung ataupun tidak, pemikiran Kiai Busyro telah memberikan tesis baru tentang status ”kiai” yang telah banyak dikaji peneliti. Bahwa seseorang disebut kiai karena faktor keturunan. Untuk mendapatkan sebutan sebagai kiai, lebih banyak ditentukan faktor gen keluarga besar kiai. Tetapi, kesimpulan itu ternyata tidak semua benar. Dalam perkembangannya, sebutan kiai bisa diberikan kepada siapa saja asalkan memiliki kemampuan dan karisma sebagaimana kiai.

Dalam konteks itu, status kiai yang diberikan masyarakat karena faktor keilmuan dengan menafikan faktor gen (keturunan) merupakan ekspresi paradigma baru masyarakat dalam memaknai posisi kiai. Sekaligus sebagai bentuk kritik sosial terhadap figur kiai ”keturunan” yang tidak memiliki kualifikasi keilmuan, keteladanan, dan perilaku sebagaimana menjadi identitas kiai yang substansial.

Masyarakat tidak segan-segan menyebut seseorang dari keturunan keluarga biasa sebagai kiai yang berilmu dan pengayom masyarakat. Masyarakat juga akan mudah menyepelekan keturunan kiai yang tidak mencerminkan kualifikasi sebagai kiai.

 

Efek Mandat Ke-kiai-an

Posisi kiai adalah mandat sosial yang diberikan kepada seseorang yang dianggap layak. Keputusan memberikan status itu berada di tengah masyarakat. Setiap individu yang disebut kiai berarti telah mendapat kepercayaan besar dari masyarakatnya untuk berperan secara terbuka dalam ruang kehidupan sosial. Peran sosial tersebut otomatis membuat kiai menjadi sosok sentral di tengah masyarakat dan menjadi sumber rujukan utama. Eksistensi kiai menjadi penentu kehidupan sosial masyarakat dengan kemampuan yang kompleks.

Status kiai harus dimaknai pada domain keilmuan yang dikuasai serta akhlak mulia yang dimiliki. Sekalipun ia bukan keturunan kiai. Sebagai status, masyarakat memiliki hak dominan untuk menganggap dan memberikan penghargaan terhadap siapa pun yang dianggap memiliki kedekatan dengan semangat ke-ulama-an untuk disebut sebagai kiai. Kemudian ditempatkan pada posisi sentral sebagai elite sosial-agama di tengah mereka.

Beberapa istilah dipakai dalam menggambarkan posisi sosial kiai di tengah masyarakat. Pertama, Clifford Geertz seperti dikutip Mohammad Baharun (dalam Bustami, 2007: xii) menyebut kiai sebagai ”makelar budaya” (cultural broker). Predikat ini karena kiai tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara verbal. Melainkan penyampaian nilai oleh kiai pada dasarnya sebagai proses transformasi yang mampu mengubah dan cara pandang umat. Kedua, Mohammad Baharun menyebut kiai sebagai ”orang yang serba bisa” (multi player), karena peranan kiai yang sentralistik dalam menciptakan wacana pada masyarakat, terutama sebagai agen keagamaan.

Secara sosial, kiai merupakan sosok yang memiliki eksistensi di tengah masyarakat. Apalagi di Madura yang notabene telah memosisikan kiai bukan hanya sebagai elite sosial. Tetapi sebagai guru yang harus digugu dan ditiru. Guru dalam konteks kebudayaan Madura menempati tangga penting dalam keyakinan sosial masyarakat yang terlegitimasi melalui ungkapan buppa’ bappu’, guru, rato (bapak-ibu, guru, dan raja/penguasa).

Kiai sebagai guru yang oleh orang Madura diyakini sebagai elite sosial dan agama, merupakan kiai dengan keilmuannya mumpuni sehingga harus mendapatkan tempat yang sangat terhormat. Masyarakat Madura telah mengalami pergeseran cukup signifikan dalam memandang sosok kiai: tidak lagi hanya diberikan kepada sosok keturunan kiai. Predikat sebagai kiai juga diberikan kepada sosok baru yang lahir bukan dari gen kiai. Yaitu, sosok kiai yang lahir dari semangat –dalam istilah Alquran– ”utul ilma derajat”.

Hal itu relevan dengan sejumlah asumsi bahwa istilah kiai diberikan karena faktor keilmuan yang dimiliki. Mungkin generasi ini bisa disebut sebagai generasi utul ilma derajat.  Yaitu, generasi kiai baru dengan kualifikasi keilmuan yang dapat menjadi pengayom sejati dalam kehidupan sosial masyarakat. Apalagi, predikat utul ilma derajat bisa didapatkan oleh sosok dari tingkat sosial mana pun dan dari keluarga siapa pun. Selama ia mampu memiliki keilmuan yang mumpuni dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan umat.

Munculnya kiai keilmuan dengan penguasaan kitab kuning yang dalam mampu memberikan peran penting setiap kajian dan diskusi keagamaan. Seperti dalam bahtsul masail, merupakan bagian dari dinamika sosial yang mulai berlaku di tengah masyarakat. Apalagi, dengan potret kehidupan masyarakat yang sudah mulai cerdas, juga akan berpengaruh terhadap paradigma dalam memandang status kekiaian seseorang.

Masyarakat berilmu lebih selektif menghormati dan menghargai sosok yang akan ditokohkan. Masyarakat juga akan memberikan penghargaan sosial terhadap sosok dari kalangan nonkiai sebagai kiai melebihi penghargaan terhadap sosok kiai keturunan. 

 

*)Alumnus PP Annuqayah Lubangsa Selatan. Peneliti di LPPM STKIP PGRI Sumenep.

]]>
Abdul Basri Wed, 06 Jun 2018 03:55:03 +0700
<![CDATA[Puasa, Perjalanan Menuju Asal Muasal]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/05/79081/puasa-perjalanan-menuju-asal-muasal https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/05/79081/puasa-perjalanan-menuju-asal-muasal

Setiap diri memiliki pangkat dan kelebihan (fadhilah) di sisi Allah; faddlalallahu ba’dan ala ba’din. Tiap kita diberi bekal untuk menemukan pengejewantahan]]>

SETIAP diri memiliki pangkat dan kelebihan (fadhilah) di sisi Allah; faddlalallahu ba’dan ala ba’din. Tiap kita diberi bekal untuk menemukan pengejewantahan diri dalam kehidupan ini. Allah memberi setiap kita kecondongan dasar (fitrah) untuk bagaimana menjalani kekhalifahan dalam dunia yang sementara ini.

Kehidupan sosial terkadang memaksa kita layaknya sekawanan domba yang seragam. Berkerumun dalam totalitas yang dipaksakan. Meski sejatinya Allah membentuk kita dengan keragaman. Masing-masing mengisi satu sama lain dalam upaya menemukan diri kita yang sejati dibutuhkan suatu perjalanan kembali pada asal muasal. Kembali pada fitrah diri. Dari diri yang kultural kepada diri yang azali.

Kengototan kita untuk memaksakan sementara kebenaran terhadap pihak lain menciptakan suatu benturan yang tak sederhana. Akhir-akhir ini, dengan terbuka luasnya ruang informasi dan komunikasi sosial, kita sangat mudah menjumpainya.

Hal itu menciptakan suatu lingkaran dan rantai yang membuat kita buta terhadap realitas sejati dari penampakan segala sesuatu. Maka, yang tercipta adalah benturan dan chaos, pertentangan dalam diri, kegelisahan, dan keterasingan, serta biasnya kenikmatan semu dan kebahagiaan sejati bersama-Nya.

Islam merupakan suatu jalan (as-shirat al-mustaqim), di mana seluruh perangkat nilainya mengantarkan kita pada upaya kembali menuju asal muasal. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Salah satu dari tarekat menuju asal muasal ini adalah puasa (shaum) guna mencapai fitrah dalam pemasrahan diri kepadanya.

Alastu bi Rabbikum? Bala Syahidna. Suatu perjanjian azali diri kita dalam mengemban seluruh tugas kekhalifahan di muka bumi. Kesadaran atas fitrah, mengembalikan kita pada tujuan sejati seluruh ikhtiar dalam kehidupan ini.

Puasa disyariatkan karena di balik pengingkaran terhadap kebutuhan wadag, tersimpan suatu totalitas pencerahan. Itu sebabnya, Allah SWT berfirman bahwa puasa (Ramadan) merupakan suatu ibadah yang khusus untuk-Nya. Dan Ia sendiri yang memberikan pahala dan keutamaannya.

Ini bukti bahwa berpuasa bukan formalitas religius semata. Ia merupakan suatu tarekat (jalan tempuh) untuk mengenal diri dan diri-Nya.

Sabda Nabi, ”Barang siapa memelihara pandangannya, ia akan merasakan nikmatnya kelezatan iman dalam hatinya.” Puasa melihat bukan berarti kita menutup mata terhadap realitas segala sesuatu. Akan tetapi, menjadikan seluruh penglihatan sebagai kesaksian terhadap kebesaran-Nya.

Sebagaimana Maryam yang berpuasa dari berbicara. Ia dianugerahi seorang putra (Nabi Isa) yang begitu lahir langsung fasih berbicara ”kebenaran” yang terang. Puasa juga tirakat menahan pendengaran dan mengarahkan penglihatan hanya kepada-Nya.

Mengurangi bahkan menghilangkan seluruh ketergantungan selain-Nya hakikatnya melihat seluruh rangkaian kahanan sebagai perwujudan dari-Nya. Hal itu termaktub dalam konsepsi ”Ihsan”. ”Beribadahlah kalian kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika kalian tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita.”

Kaum sufi membagi maqam ihsan ini menjadi dua macam. Pertama, maqam musyahadah, suatu maqam di mana melihat dan memahami realitasnya melalui pendekatan pemahaman dan ilmu yang dimiliki. Kedua, maqam muraqabah, yakni menghadirkan-Nya dalam seluruh totalitas keseharian seorang salik.

Awaluddin ma’rifatullah, demikian kata Kiai Semar dalam khazanah spiritualitas Jawa. Sementara untuk menuju pengenalan atas-Nya, terlebih dahulu kita mesti memahami kedirian kita sendiri.

Ketika hamba tiba pada sebuah kesadaran bahwa tiada wujud selain Dia, di sinilah, ihsan memfungsikan dirinya sebagai gerbang makrifat, menuju suatu manifestasi akhlak al-karimah. Hatinya akan mawas, membentuk sikap wara’i.

Maka ketika ia bertemu seorang pengemis kehausan, ia melihat Allah dalam perwujudannya. Melihat pengemis itu sebagai media untuk bertemu dan melakukan pelayanan atas-Nya. Seperti yang diterangkan dalam hadis qudsi perihal Nabi Musa ketika Allah berkata: ”Wahai Musa, mengapa kau tak memberikan aku minum ketika aku kehausan? Nabi Musa yang belum mengerti, ia hanya menjawab, ’Bagaimana aku dapat memberi minum Engkau?”

Ia akan menerima dan melihat kebenaran dari siapa pun. Meski hal itu keluar dari dubur ayam. Ia tak bernafsu memperdebatkan kebenaran-kebenaran. Ia hanya akan berkata, ”Sesungguhnya aku hanya berpasrah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Imran: 20).

Ini juga menunjukkan kepada kita bahwa muara spiritualitas adalah laku. Sebuah totalitas kepasrahan atas-Nya. Dalam terminologi sufistik, ini berarti segala hal mengenai penempuhan spiritual bukan sekadar bunga-bunga teori dan konsepsi. Melainkan tindakan nyata dalam amaliyah yang konsisten (istiqamah).

Puasa menekan pergerakan aqliyah dan dominasi jasmani menuju penguatan hati. Mencambuk kesadaran kita untuk menampik ketergantungan kita untuk bersandar pada selain-Nya. Bahkan ketergantungan rasionalitas yang sejatinya kerdil dan terbatas.

Melakukan pelompatan iman. Membakar seluruh bangunan kebenaran rasio yang telah terpagankan oleh ego manusiawi. Menekan kebenaran semu hingga tiada yang ”haq” selain Ia. Dekonstruksi keyakinan yang telah terhalang oleh pagan-pagan dalam diri! 

 

*Pernah nyantri di PP TMI Al-Amien Prenduan, Sumenep. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan.

 

 

]]>
Abdul Basri Tue, 05 Jun 2018 14:03:22 +0700
<![CDATA[Santre Ngereng Keyae]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/04/78751/santre-ngereng-keyae https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/04/78751/santre-ngereng-keyae

KIAI adalah guru sekaligus juru ramal. Saya mendapatkan kesan itu setelah sepuluh tahun berjarak dengan pondok. Pada rentang sepuluh tahun]]>

KIAI adalah guru sekaligus juru ramal. Saya mendapatkan kesan itu setelah sepuluh tahun berjarak dengan pondok. Pada rentang sepuluh tahun itu, saya dihinggapi rindu dan keinginan membaca kisah enam tahun lalu saya bergumul dengan nahwu, tashrif, dan dinding kamar yang dingin.

Ternyata, selama enam tahun itu, ada satu sosok yang kental mengisi ingatan saya: kiai. Ia hadir dengan satu napas dan satu rupa: guru. Sebagai sosok guru, kiai saya begitu kuat membentuk dan mendogma saya.

Sorot matanya yang teduh. Tutur katanya yang lembut. Tingkah lakunya yang melangkah dengan ketukan satu-dua kesabaran. Seumpama tetesan air hujan yang melubangi batu kebebalan dalam diri saya.

Selain itu, kiai saya juga jenaka. Ketika hendak pamit pulang (undur diri dari pondok), saya mendapatkan ijazah hadis ”Khairunnas anfa’uhum anfaunnas”. Saya termangu. Bukankah hadis ini sering disampaikannya dalam beberapa pengajian?

Saya hanya bertanya dalam hati. ”Enggi,” saya menerima ijazah kiai. ”Kau harus jadi orang bermanfaat, Nak.”

”Enggi.”

”Kau harus mampu mengamalkan ilmumu di tengah masyarakatmu.”

”Enggi.”

”Arti hidupmu bisa kau raih dengan bermanfaat untuk orang lain.”

”Enggi.”

Saya berulang mengatakan ”enggi” meski dalam hati saya mencari-cari: apa sekiranya yang bermanfaat dalam diri saya untuk orang lain?

Enggi, saya ingin sekali mengucapkan kata itu lagi. Tapi, tidak dengan pertanyaan dalam hati. Saya ingin mengucapkan kata itu untuk menyatakan, bahwa ijazah kiai sepuluh tahun lalu itu kini sudah mulai saya pahami.

Enggi, saya akan belajar dan mengamalkan ijazah ”menjadi orang bermanfaat.” ”Meski tidak sepenuhnya saya bisa, Kiai, saya akan berusaha. Saya akan berusaha.”

Sekadar diketahui, sudah menjadi tradisi di pondok, saban ada santri yang pamit hendak undur diri, kiai selalu memberinya ijazah berupa petuah atau nasihat. Setiap santri mendapatkan ijazah berbeda: jagalah salatmu, jagalah wudumu, jaga akhlakmu, jadilah orang yang bermanfaat dan lainnya.

Andai ditanya pemahaman pada ijazah kiai, saya ingin menggambarkan dalam satu narasi sederhana. Kebermanfaatan santri tidak harus menjadi seorang kiai, ustad, takmir masjid, dan lainnya. Kebermanfaatan santri adalah kemampuan untuk mengamalkan ilmu secara istikamah. Saya menemukan pemahaman seperti itu saat saya bergumul dengan teman-teman santri lintas pondok dan lintas profesi.

Tidak hanya itu, untuk menyelami makna jadilah yang bermanfaat bagi orang lain, ternyata saya harus menelusur perjalanan jauh ke belakang. Manfaat itu bukan sekadar kita memberi atau berbagi dengan orang lain. Bermanfaat itu juga bisa dimaknai sebagai upaya kita untuk menjadi teladan bagi orang lain. Dalam hal ini, saya dituntut untuk berpegang teguh sekaligus mengikuti jejak kiai.

Kesadaran lain yang timbul dalam diri saya, ijazah kiai adalah titik sumbu; titik ledak atas berbagai pelajaran yang disampaikan kiai. Lebih jauh, ijazah itu pengikat atau penyambung antara kiai dan santri. Dengan berusaha untuk bermanfaat pada orang lain, saya berusaha mengingat segala petuah dan gerak laku kiai. Dengan demikian, meski saya sudah berjarak sepuluh tahun dari pondok, sosok dan petuah kiai tetap segar dalam ingatan saya.

Santre ngereng keyae (:sami’na waatha’na) merupakan satu prinsip yang cukup mendasar dan bermakna dalam diri santri. Apalagi di tengah krisis multi-dimensi ini. Hubungan kiai dan santri adalah hubungan yang membentuk jejaring dan pengaman sosial.

Kiai sebagai tokoh sentral memegang kata kunci dalam mengarahkan santri untuk membangun satu sinergi sesama santri. Sinergi ini dapat menjadi modal pembangun satu peradaban masyarakat yang berlandaskan Alquran dan As-Sunnah.

Lebih jauh, kiai sebagai tokoh kunci memiliki peran penting dalam mengendalikan kondisi sosial. Isu terorisme, liberalisme, radikalisme, ultra-nasional, dan isu lainnya akan mudah ditangkal jika santri tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Dengan kata lain, kiai yang mengemban amanah sebagai pewaris nabi akan senantiasa untuk menjaga integritas dan komitmen sosialnya.

Selaras dengan itu, santri yang mampu mengamalkan sami’na waatha’na pada kiai akan menjadi pion-pion dalam menciptakan satu tatanan yang harmoni. Mungkin dalam pemahaman seperti itu, aktualisasi nilai-nilai sami’na waatha’na pada kiai adalah model pengaman sosial yang melintasi ruang-waktu.

Dengan pengaman sosial ini, santri akan mampu memainkan peran dan fungsi sesuai dengan bidang dan profesinya.

 

*)Santri PP. Anwarul Abrar Sumenep dan alumni Nurul Jadid Probolinggo.

 

KUNCI:

]]>
Abdul Basri Mon, 04 Jun 2018 11:41:21 +0700
<![CDATA[Hikmah Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/03/78530/hikmah-sinau-bareng-cak-nun-dan-kiai-kanjeng https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/03/78530/hikmah-sinau-bareng-cak-nun-dan-kiai-kanjeng

RABU malam (30/5), Sumenep dinaungi nuansa keberkahan. Emha Ainun Nadjib, budayawan cum agamawan cum cendekiawan dihadirkan bersama Kiai Kanjeng]]>

RABU malam (30/5), Sumenep dinaungi nuansa keberkahan. Emha Ainun Nadjib, budayawan cum agamawan cum cendekiawan dihadirkan bersama Kiai Kanjeng yang dipimpinnya. Pria kelahiran Jombang yang genap 65 tahun pada 27 Mei 2018 ini memenuhi undangan Radio Republik Indonesia di penutupan Pekan Tilawatil Quran (PTQ) se-Indonesia. Sebuah kesempatan berharga bagi Sumenep (Madura secara umum) dapat menjadi tuan rumah acara nan religius ini.

Ribuan jamaah meriung dan duduk bersila di sekitar panggung berlatar Masjid Jamik Sumenep. Selepas tarawih hingga acara berakhir dini hari jamaah yang duduk manis tidak beringsut sedikit pun. Emha, yang karib disapa Cak Nun, ditemani budayawan dan sastrawan KH D. Zawawi Imron. Bupati Sumenep beserta direktur utama RRI turut menemani di pentas persamuhan agung malam ke-15 Ramadan itu.

Cak Nun mengawali acara bertajuk Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan mendeskripsikan kebesaran sejarah Sumenep. Sebagai kerajaan, yang secara fisik keratonnya masih eksis hingga hari ini, dijelaskan Cak Nun secara sejarah hadir lebih awal dari kerajaan Majapahit. Penting mengingat dan mentadabburi khazanah kebesaran masa silam ini.

Untuk apa? Sebagai pengingat, spirit Sumenep ini dapat dijadikan keris, pusaka, yang akan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari kehancuran akibat centang perenangnya pelbagai masalah di level nasional yang multidimensional. Maka, Cak Nun memimpin jamaah memulai persuaan dengan menyampaikan salam tiga kali kepada pendahulu dan peletak dakwah Islam di tanah Madura.

Cak Nun kemudian menyitir pentingnya makna malam ini ketika mengaitkannya dengan gelaran PTQ. Posisi Alquran sebagai panduan perlu dimengerti dalam tiga tahapan: a) tadris/tadarus dan tahfid (dibaca dan dihapalkan). Ini berfungsi sebagai fondasi awal; b) tahfim (dipahami maknanya). Ini berfungsi sebagai pilar-pilar yang mengukuhkan; c) Takdib (sebagai infrastruktur keadaban dan membentuk peradaban qurani).

Harapan besarnya adalah Alquran akan menjadi sarana utama mewujudkan peradaban yang sejalan dengan kehendak-Nya sebagai pengejawantahan tugas manusia selaku abdullah dan khalifatullah fil ardh.

Selanjutnya, Cak Nun mengajak jamaah sinau bareng dengan ngonceki perihal konsep kebenaran dan kebaikan. Hal ini berangkat dari fakta sosial kiwari yang seolah-olah terus mengajak setiap elemen bangsa untuk mempertentangkan kebenaran. Setiap orang, pihak, dan kelompok saling mengedepankan kebenarannya sendiri-sendiri.

Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang meminta umat-Nya untuk fastabiqul khoirot, alih-alih fastabiqul haqq. Berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan kebenaran. Kebenaran itu, lanjut Cak Nun, harusnya di posisi belakang atau di dapur dalam analogi masakan restoran. Yang disajikan di depan atau di etalase hablum min an naas harusnya berkait tentang kebaikan.

Kebenaran berfungsi sebagai awal yang diyakini setiap insan. Namun ketika berhadapan dengan sesama, yang lebih dikedepankan dan dipentingkan adalah setiap hal yang berporos pada arasy kebaikan. Ketika kebaikan yang disodorkan, akan tercipta keindahan pada hubungan antarsesama. Muara segalanya adalah berpuncak pada cinta (mahabbah), baik sebagai ikatan primordial vertikal dengan Tuhan maupun tetesan pada hubungan horisontal dengan manusia lain dan alam sekitar.

Beberapa tembang salawatan yang di-medley dengan lagu barat, dangdut, pop dan rock kemudian mengisi ruang kebatinan jamaah di antara proses pembelajaran bersama ini. Tembang Madura seperti Tondhu’ Majang dan Lir-Ilir asal Jawa tak lupa dilantunkan sebagai kekayaan kebijaksanaan lokal. Komposisi aransemen Kiai Kanjeng yang menggabungkan instrumen modern dan tradisional (gamelan) adalah kekayaan khazanah kreativitas yang mampu membawa pendengar ke dalam suasana trance, mengingat kebesaran-Nya dan melantunkan salawat atas Rasul-Nya yang mulia penuh kesyahduan.

Ada yang menarik ketika Kiai Kanjeng membawakan Sayang yang dipopulerkan secara dangdut koplo Via Vallen. Cak Nun memahami keresahan yang mungkin timbul di benak jamaah. Apakah pas lagu semacam itu dinyanyikan saat penutupan PTQ? Dengan tegas, Cak Nun kemudian mendedahkan jawaban atas pertanyaan semacam itu.

Lagu dan segala hal di dunia, jelas Cak Nun, ketika ingin dinilai baik dan buruknya tergantung konteks. Secara analogis dicontohkan, walau salat Subuh merupakan kewajiban. Tapi jika ingin dilaksanakan di masa tengah malam haram. Sebab, belum masuk waktu.

Jadi, ketika hendak menghakimi, termasuk menyalahkan sesuatu, perlu dipikir matang dan diendapkan terlebih dahulu. Jangan terlalu mudah menilai, menuding, dan menyimpulkan serampangan tanpa ilmu dan kepekaan batiniah memadai. Perlu mencari pelajaran yang bisa dipetik melalui hikmah pada diri. Cara berpikir semacam ini akan mengurangi ketegangan yang sering kali muncul akibat sikap reaktif sesaat tanpa pengendapan memadai.

Belajar bareng ini pun dipungkasi dengan salawat dan doa bersama. Rahmat Allah dan syafaat Rasulullah adalah asa bersama yang dituju guna cita hidup bahagia fi ad diini wa ad dunya wa al akhirah. Formulasi sederhana (namun tak mudah dilakoni) yang diresapi seluruh jamaah Maiyahan nusantara ini kemudian ditegaskan ulang Cak Nun di akhir persamuhan.

Jamaah pun beringsut pulang dengan hati jembar (lapang) dengan rasa kuat yang tersambung senantiasa pada Robbi dan kecintaan besar pada Sang Kekasih, Muhammad SAW. Semoga demikian seterusnya. 

 

*Jamaah aktif Maiyah, alumnus Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Sumenep.

]]>
Abdul Basri Sun, 03 Jun 2018 06:18:15 +0700
<![CDATA[Melawan Hipertensi Agama]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/02/78308/melawan-hipertensi-agama https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/02/78308/melawan-hipertensi-agama

Merebaknya aksi radikalisme dan masifnya proses radikalisasi akhir-akhir ini telah mencapai tahap paling mengkhawatirkan. Terutama bagi]]>

Merebaknya aksi radikalisme dan masifnya proses radikalisasi akhir-akhir ini telah mencapai tahap paling mengkhawatirkan. Terutama bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk.

 

FENOMENA merebaknya cara berpikir formalis-tekstual ala muslim urban perkotaan perlahan mulai menular pada pola pikir kalangan masyarakat yang berada jauh di pelosok desa. Teknologi informasi memiliki andil besar dalam proses distribusi pemikiran radikal. Masyarakat pengguna media sosial (medsos) yang notabene tingkat pemahaman agamanya pas-pasan mulai lepas dari akar pemikiran toleran (fiqh) yang khas masyarakat pesantren.

Proses instanisasi pemahaman keagamaan semakin tak terbendung ketika para politisi nakal sengaja memanfaatkan medsos untuk menggoreng isu-isu sensitif keagamaan untuk satu tujuan politik. Pemahaman teks-teks agama yang maknanya plural dikudeta menjadi tunggal oleh kelompok tertentu yang merasa paling Islam. Hasilnya, gairah beragama yang menggebu yang berbanding lurus dengan proses pendangkalan pemahaman agama itu sendiri.

Benteng terakhir yang bisa diharapkan dalam melestarikan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa yang majemuk ini adalah pesantren. Pesantren merupakan institusi yang seribu langkah lebih maju membahas fiqh lintas disiplin, mulai fiqh sosial, fiqh politik, fiqh kebangsaan, fiqh wanita dan transgender, dll.

Para santri digembleng materi-materi keagamaan sejak dini. Mereka dibiasakan mengonsumsi materi-materi keagamaan sejak balita. Bahkan ada yang dipesantrenkan sejak umur 3 tahun. Meskipun bukan hal mudah bagi orang tua melepas putra-putri kesayangan mereka untuk mondok. Begitu pun beban para kiai ketika menerima amanah luar biasa berat sebagai pengasuh sekaligus pembimbing (mursyid).

Tak hanya belajar bisa baca Alquran dengan fasih, di pondok pesantren mereka juga digembleng piawai baca kitab gundul (kitab warisan ulama terdahulu, umumnya tanpa harakat, sering pula disebut kitab kuning). Di kalangan kaum santri hanya bisa baca tulisan Arab berharakat itu tidak luar biasa.

Kitab yang di(k)aji juga berjenjang. Mulai dari level ”matan”, yang paling dasar, hingga kitab-kitab level ”syarah”. Hirarki pemahaman santri tentang agama tertata rapi sedemikian rupa. Seorang santri tidak hanya tahu masalah dan bagaimana hukumnya. Tetapi juga mengerti argumen (dalil) kenapa ulama berpendapat/berhujjah demikian.

Untuk memperluas jangkauan pengetahuannya, diajarkan pula kitab-kitab level ”hasyiyah”. Santri tak hanya dituntut memahami hujjah/argumentasi hukum dari seorang ulama, tetapi dibawa bertamasya lebih jauh pada wilayah analis komparatif (fiqhul muqoron), perbandingan mazhab (muqaranatul mazahib). Karena itu, spektrum wawasan seorang santri tentang agama jelas tidak perlu diragukan lagi.

Tahapan-tahapan di atas menggiring pada satu kesimpulan bahwa perbedaan pendapat di kalangan para ulama adalah rahmat dan keluasan. Umat Islam boleh memilih mana yang diyakini dan mana yang lebih menenteramkan hati. Dari kesadaran inilah toleransi terhadap perbedaan menemukan akarnya.

Tak cukup mumpuni ilmu-ilmu lahiriyah, santri ditempa pula dengan ilmu-ilmu batin. Dalam doktrin pesantren, kecerdasan spiritual dan emosional adalah tujuan utama menjadi seorang santri. Terbiasa hidup kekurangan, mandiri, tabah, taat pada kiai, dan istiqamah adalah pelajaran tak langsung seorang santri untuk menyucikan diri.

Alhasil, mencetak santri ideal itu butuh waktu yang tidak singkat. Di kalangan pesantren dikenal konsep tuulu zamanin (waktu yang tidak sebentar) dalam memahami agama. Maka, jangan bandingkan produk pesantren dengan mereka yang hanya belajar agama di halaqah-halaqah dan pesantren kilat.

Berbicara agama itu sangat luas. Tidak hitam-putih. Bukan hanya soal kofar-kafir, sesat-menyesatkan. Tidak cukup kita bela Islam hanya dengan mengonsumsi materi-materi agama instan yang disajikan ustad-ustad anyar bermodal jenggot dan jidat hitam. Apalagi hanya berguru pada ”kiai Google”. Selain tidak bergizi, pengetahuan yang didapat justru menyebabkan hipertensi dalam beragama.

Agar agama tidak terjebak pada kanal tekstualitasnya, agar agama tak berubah wujud menjadi horor, tak ada solusi lain kecuali mengirim putra-putri kita ke pesantren. Agar generasi kita tidak seperti mereka yang sedikit-sedikit mengafirkan orang, padahal baru saja bisa baca Alquran.

Mereka yang sedikit-sedikit menyesatkan orang lain, padahal cuma bisa pakai gamis dan serban. Mereka yang sering turun jalan menuduh orang menista agamanya, padahal tak bisa membedakan mana ajaran agama dan mana kepentingan.

*Alumnus PP Annuqayah Latee, dosen di STIT Aqidah Usymuni, Sumenep.

 

 

]]>
Abdul Basri Sat, 02 Jun 2018 06:05:27 +0700
<![CDATA[”Bernostalgia” Bersama Rasulullah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/01/78114/bernostalgia-bersama-rasulullah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/06/01/78114/bernostalgia-bersama-rasulullah

Bernostalgia adalah mengingat peristiwa berkesan yang pernah dialami. Juga sebagai upaya mengobati kerinduan setelah lama tidak bertemu dan berkomunikasi]]>

Bernostalgia adalah mengingat peristiwa berkesan yang pernah dialami. Juga sebagai upaya mengobati kerinduan setelah lama tidak bertemu dan berkomunikasi. Komunikasi ada dua bentuk, yaitu komunikasi fisik dan batin.

 

KOMUNIKASI fisik, sehari-hari kita lakukan secara nyata. Komunikasi batin perlu spesifik dan ketulusan kepada siapa kita akan berkomunikasi. Salah satunya ketika kita akan ”bernostalgia” bersama Rasulullah Muhammad SAW.

Di Ramadan inilah, kita perlu persiapkan jiwa untuk terus bisa berkomunikasi dan bernostalgia bersama Rasulullah. Menjadi kebiasaan dan pemandangan indah di bulan suci ini, di mana masjid-masjid menjadi ramai dan sibuk akan kegiatan rutinitas Ramadan.

Tidak hanya beribadah (hablun minallah) saja yang dilakukan, seperti salat, tadarus Alquran, sahur, dan berbuka. Urusan kemanusiaan-keduniawian (hablun minannas), sebagai pencerdasan umat juga dilakukan. Mulai dari diskusi publik yang membicarakan isu-isu global, biasanya dilakukan sambil menunggu waktu berbuka.

Pemahaman bahasa Arab, sains dalam pandangan Islam, bahkan pemahaman bahasa-bahasa internasional lainnya (Inggris, Tionghoa, Prancis, Rusia, Spanyol), dikemas dalam kegiatan pondok Ramadan atau pertemuan rutin harian. Dari semua kegiatan di atas, masjidlah sebagai sentral atau sumbu yang membakar semangat kaum muslim.

Inilah nostalgia pertama kita bersama Rasulullah. Dahulu, Rasulullah memusatkan setiap kegiatan mulai dan dari masjid. Meskipun kita tidak mungkin bernostalgia langsung bersama Rasulullah, paling tidak kita bernostalgia dengan semangat beliau. Semangat Rasulullah dalam memasyarakatkan Islam dan meng-Islam-kan masyarakat.

Mari sejenak kita telusuri sejarah, Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai sarana dalam berbagai aktivitas, berupa dakwah, pendidikan, dan ibadah. Begitu juga ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. Rasulullah membangun masjid dalam rangka mendidik umat Islam. Meskipun pada perkembangan selanjutnya dibangunlah tempat-tempat belajar. Bangunan baru di sekitar masjid, karena bertambahnya umat Islam dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, sehingga masjid tak mampu lagi menampung umat yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan.

Perlu digarisbawahi, masjidlah yang menjadi pemicu perkembangan tersebut. Sebagaimana bahasa penulis di atas, menjadi sumbu yang membakar semangat kaum muslim.

Semoga ramai dan sibuknya kegiatan masjid di Ramadan ini, dari perkotaan hingga pedesaan, terus dinamis dan berlangsung di luar Ramadan hingga bertemu di Ramadan yang akan datang. Percuma bila pemandangan ghirah Islam ini hanya terlihat selama satu bulan dari 12 bulan.

”Kasihan” semangat Rasulullah yang telah diteladankan kepada kita semua dalam menghidupkan Islam, hilang di 11 bulan yang lain. ”Bernostalgia” dengan Rasulullah jangan hanya di bulan Ramadan saja.

Sesudah itu, mari ”bernostalgia” hal yang lain bersama Rasulullah. Di samping masjid yang ramai di bulan suci ini, terutama di pedesaan, kita melihat salah satu sudut rumah penduduk juga ramai. Biasanya keramaian itu terlihat menjelang salat Isya.

Di pedesaan di Madura, biasanya di depan rumah warga dibangun kobung. Kobung yang biasanya dibangun di sisi barat halaman rumah (simbol arah kiblat) adalah tempat keluarga dan kerabat berkumpul. Tempat menerima tamu serta tempat beribadah keluarga.

Nah, bagi keluarga yang rumahnya jauh dari masjid akan berkumpul di kobung tersebut bersama kerabat dan tetangga terdekat. Melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah. Dilanjutkan dengan tadarus Alquran.

Bahkan, setelah itu dilanjutkan dengan obrolan-obrolan positif tentang keislaman. Nasihat dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Semua obrolan penuh dengan nuansa islami. Pemandangan ini sangat guyub yang jarang terlihat di luar Ramadan. Hal ini juga dilakukan Rasulullah dulu. Mari kita bernostalgia.

Sebelum masjid menjadi sentral dakwah dan pendidikan umat, pada masa Islam awal tempat kegiatan dakwah, belajar mengajar, membaca, menulis, dan menghafal Alquran. Pada zaman Rasulullah SAW dikenal sebagai Darul Arqam (rumah kediaman sahabat Al-Arqam bin Abi al-Arqam Ra). Rumah tersebut sebagai tempat Rasululullah dalam menyampaikan risalah Islam. Rumah sahabat ini merupakan tempat generasi awal umat Islam dicetak yang terbukti ketaatannya dan pengabdiannya kepada Rasulullah dan Allah SWT.

Semangat keislaman di rumah-rumah, dengan media kobung tersebut, mari terus semarakkan di 11 bulan setelah Ramadan. Pemahaman dan pendidikan Islam dimulai dari lingkungan keluarga, kerabat, dan tetangga terdekat. Dengan demikian, tugas Rasulullah untuk mewujudkan Islam rahmatan lil ’alamin dapat kita rasakan di lingkungan kita.

Tidak perlu jauh-jauh ke Makkah dan Madinah untuk merasakan Islam rahmatan lil ’alamin, cukup ”bernostalgia” dengan Rasulullah SAW setiap saat. Kapan pun dan di mana pun kita akan berada dalam lingkaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Insyaallah.

*Pengelola Pesantren Nurul Iman, Lawangan Daya Pamekasan. Dosen di Universitas Madura.

 

]]>
Abdul Basri Fri, 01 Jun 2018 16:11:00 +0700
<![CDATA[Puasa Syariat, Tarekat, dan Makrifat di Tahun Politik]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/31/77912/puasa-syariat-tarekat-dan-makrifat-di-tahun-politik https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/31/77912/puasa-syariat-tarekat-dan-makrifat-di-tahun-politik

PUASA yang diwajibkan agama adalah menjauhkan diri dari makan, minum, dan hubungan seks dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Itu puasa lahir (syariat).]]>

PUASA yang diwajibkan agama adalah menjauhkan diri dari makan, minum, dan hubungan seks dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Itu puasa lahir (syariat). Puasa batin adalah menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan.

Puasa batin meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Jika puasa lahir dibatasi waktu, puasa batin (tarekat dan makrifat) dijalani selama-lamanya. Selama hidup di dunia hingga kehidupan akhirat. Itulah puasa sejati.

Puasa dan politik memiliki korelasi mendalam. Sesungguhnya satu output-nya untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. (QS Al-Baqarah:183). Spirit ketakwaan dapat diterjemahkan sebagai bagian bentuk kejujuran, ketulusan, rendah hati, dan saling peduli (care).

Spirit ini kemudian melahirkan seseorang bertindak dan bertingkah laku mulia. Sebagai jalan menuntun seseorang muslim untuk meningkatkan hubungan antarmanusia dan dengan Allah. Begitu juga dengan politik. Satu ouput-nya adalah melahirkan sikap jujur dan saling peduli. Maka jadilah puasa dan politik adalah satu jalan menuju kedamaian dan keselamatan.

 

Puasa Syariat (Fiqh)

Dalam dimensi fikih, puasa Ramadan dipahami sebagai amalan dalam rangka menahan diri. Baik menahan makan, minum, bicara buruk, dan perbuatan yang bertentangan ajaran agama. Itu dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Puasa tak hanya menjadi ritual tahunan yang berlangsung pada bulan Ramadan dengan mengikuti aturan-aturan fikih, melainkan harus mendapatkan makna dimensi lain yang lebih transformatif. Harus ada hikmah positif-konstruktif dalam setiap event Ramadan. Selanjutnya diinternalisasikan dalam kehidupan personal dan komunitas.

Internalisasi nilai-nilai hikmah puasa Ramadan tersebut akan berkontribusi bagi proses transformasi ke arah yang lebih baik dan berkualitas di tengah komunitas yang melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Komunitas atau personal dalam konteks politik bisa jadi itu adalah partai politik, gabungan partai politik atau komunitas pendukung salah satu pasangan calon (di pilkada).

Maka dengan puasa Ramadan ini, membuka sekat-sekat perbedaan antarpendukung, antarkader politik (politisi), perbedaan sikap, dan aliran politik/dukungan menjadi cair di Ramadan ini. Begitu juga bagi komunitas atau personal penyelenggara pemilu yang harus mengedepankan nilai-nilai integritas dan independensi (tidak ada keberpihakan). Juga sesuai syariat (peraturan dan perundang-undangan) dalam menjalankan fungsi dan tahapan-tahapan pilkada atau pemilu.

 

Puasa Tarekat dan Makrifat

Seorang muslim dalam berpuasa harus siap lahir dan batin. Harus mengerti makna atau tujuan utama puasa. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan (level) puasa. Yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus.

Puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.

Dalam konteks tema ini ada relevansi puasa (secara makrifat) dengan berpolitik sekarang ini. Dapat dilihat dari lisan politisi dalam menjaga ketenteraman dalam kehidupan sosial masyarakat. Terlihat bahwa selama puasa Ramadan semua politisi dan masyarakat umum tidak melanggar norma agama atau sengaja mengeluarkan ”jurus mabuk” untuk membuat publik heboh. Pada akhirnya dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Bekerja untuk kepentingan publik yang dalam kajian maqasid syariah-nya disebut al-maslahath al-ammah (kepentingan publik) juga bagian dari mengisi ibadah puasa. Yang lebih penting, selama puasa Ramadan kita terhindari dari manuver politik yang dapat mengganggu ketenteraman berpuasa.

Imam Asy-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat mengatakan, lima hal yang wajib dipelihara atau dijaga seseorang yang bekerja dalam kancah politik. Yaitu, menjaga agama (hifdzu ad-din), menjaga jiwa (hifdzu an-nafs), menjaga nasab (hifdzu an-nasl), menjaga akal (hifdzu aql), dan menjaga harta (hifdzu al-mal).

Merujuk pada pendapat Imam Asy-Syatibi, seorang politisi muslim jelas disebutkan pada level pertama. Walau berbeda partai, berbeda dukungan, berbeda dapil, dan berbeda latar belakang tetap harus menjaga agama sebagai prisip utama dalam kehidupan berpolitik. Menjaga agama itu merupakan internalisasi dari makna berpuasa secara tarekat dan makrifat.

Tidak ada alasan yang dapat diketengahkan bahwa puasa Ramadan tidak ada hubungan dengan perilaku politisi. Semoga puasa Ramadan ini benar-benar cerminan menuju peningkatan peradaban politik sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Semoga kita tidak digolongkan sebagai golongan manusia sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, ”Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga”. Wallahu a’lam bis-sawab. 

 

*)Santri Nashatut Thullab Prajjan, Camplong, mengabdi di KPU Sampang.

]]>
Abdul Basri Thu, 31 May 2018 14:35:13 +0700
<![CDATA[Suara Santri: Rindu]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/30/77575/suara-santri-rindu https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/30/77575/suara-santri-rindu

RINDU, apakah harus diberi nama? Atau haruskah diberi nama rindu? Lelaki itu bergegas ke musala, sesaat setelah azan berkumandang]]>

RINDU, apakah harus  diberi nama? Atau haruskah diberi nama rindu? Lelaki itu bergegas ke musala, sesaat setelah azan berkumandang. Ia merasa ingin segera bertemu Tuhan dalam religiusitas Ramadan. Ia orang yang pertama kali datang dan yang terakhir kali pulang dari tempat ibadah itu.

Dari sisi kosmologi rindu, cara ia merindu mendekati wilayah substansial. Rindu adalah dialektika rasa untuk bertemu dan begitu berjumpa, merasa berat untuk berpisah.

Itulah hakikat rindu dalam rubaiat rasa. Ia butuh jeda di mana perindu dan yang dirindu berada dalam spektrum rasa. Atmosfer eskatologis dalam fragmentasi ini membuncah, lepas, dan membebaskan.

Di musala itu, andai disurvei dengan sebuah pertanyaan, ”Adakah yang merindukan Tuhan?” Tesis sementara akan memunculkan tabulasi data yang dominan. Sebagian besar jamaah pasti mengacungkan tangan bila jawaban atas pertanyaan itu dijawab secara terbuka. Apakah yang menjawab rindu pada Tuhan itu seluruhnya jujur, mungkin saja.

Tetapi, lihatlah orang yang duduk di baris nomor dua dari belakang. Ia lelaki yang mengenakan sarung putih, baju koko putih lengan panjang, dan tentu saja kopiah putih. Ada jenggot di dagunya tanpa kumis di bibir atas. Pada saat salat Jumat tiba, ia selalu hadir ketika imam selesai takbiratul ihram. Ketika imam mengucap salam di ujung tahiyat akhir, lelaki itu pun orang yang pertama kali meninggalkan tempat ibadah. Inikah rindu (pada Tuhan) seperti dalam alinea pertama?

Rindu itu adalah rasa (ingin bertemu) dan memanfaatkan sebesar-besarnya momentum itu untuk kemaslahatan antardiri. Lalu, pernahkah kita merasa rindu? Bagaimana cara kita mengekspresikan rindu kepada yang dituju? Apakah kita juga termasuk hamba yang merindukan (pertemuan) Tuhan? Berapa lama kita salat atau seberapa sebentar kita sembahyang? Atau pernahkah kita meninggalkan salat bahkan puasa untuk dan atas nama rindu pada Tuhan?

Semua jawaban atas pertanyaan itu ada pada diri kita. Rindu, atau tidak rindu, tak ada yang tahu sebagai suatu sikap diri dari rasa yang ada. Tetapi, rindu atau bukan rindu, itu semua memerlukan perjuangan sampai akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Begitu pula dalam momentum Ramadan ini. Semua memerlukan perjuangan supaya kelak mendapatkan hari kemenangan, Idul Fitri. Hidup yang tak diperjuangkan tak akan pernah dimenangkan seperti disampaikan Tan Malaka. Perjuangan terbesar adalah perang melawan nafsu diri sendiri. Sudahkah kita berjuang dan menang atas pertempuran itu?

Ada peristiwa menarik dalam cara pandang dan artikulasi rindu yang dilakukan Rabiah Al Adawiyah. Pertama, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena ingin masuk surga, sudilah Tuhan berkenan memasukkannya ke dalam neraka.

Kedua, ia bersujud sembari mengatakan bila sujud karena takut neraka, ia minta pintu surga dikunci serapat-rapatnya. Ketiga, ia bersujud dan menyampaikan bahwa sujud hanya karena cinta tanpa peduli apakah Tuhan memasukkannya ke dalam neraka atau mengabadikannya di surga. Tetapi, Rabiah lepas dari itu semua.

Sementara di jalan raya, orang-orang merusak dan meneror untuk dan atas nama Tuhan. Mereka yakin perilaku itu bisa menyelamatkannya dari neraka. Ekspresi rindu dan cinta Tuhan tentu saja tidak seperti itu, sebagaimana meraih surga pastilah tidak sebercanda itu. 

 

*)Alumnus Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk dan Al-Amien (Ponteg) Prenduan, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Wed, 30 May 2018 05:28:42 +0700
<![CDATA[Tarbiyah Nasawiyah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/29/77277/tarbiyah-nasawiyah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/29/77277/tarbiyah-nasawiyah

Menjadi perempuan lebih dari 30 tahun dan belum menikah itu tidak mudah. Namun tidak sesulit perempuan muda berstatus janda single (tanpa anak). Bahkan janda]]>

Menjadi perempuan lebih dari 30 tahun dan belum menikah itu tidak mudah. Namun tidak sesulit perempuan muda berstatus janda single (tanpa anak). Bahkan janda paket (sepaket dengan anak-anaknya).

 

BERBAGAI tekanan dialami perempuan tersebut dari keluarga, sahabat, dan masyarakat. Salah satunya, pertanyaan ”Kapan nikah?” Sementara tidak ada pernikahan yang bisa direncanakan. Kapan akan bertemu jodoh? Dan kapan akan bercerai? Meski memiliki alasan, tak jarang tekanan tersebut berdampak buruk bagi mereka.

Ada yang akhirnya meninggalkan tanah kelahiran dan merantau. Ada pula yang ”mengamini” tekanan itu dengan menikahi pria yang tak tepat karena terburu-buru mengambil keputusan. Ada juga yang melawan dengan melakukan tindakan yang semakin ”meresahkan” masyarakat. Misalnya, menjelma menjadi pelakor, pelacur, atau pecandu narkoba, dll.

Perilaku perempuan atas tekanan masyarakat terhadap statusnya tidak jarang menjadi subjek riset peneliti sosial berkenaan dengan budaya patriarki. Pengalaman mereka tak jauh dari akibat budaya patriarki. Umumnya menjadi sistem sosial masyarakat Madura.

Budaya patriarki tak hanya menempatkan lak-laki sebagai pemegang kekuasaan dan mendominasi berbagai peran sosial. Juga menempatkan perempuan sebagai pelaku yang mereproduksi budaya. Misalnya, menjadi aparatur kebencian perempuan lain yang dianggap melakukan penyimpangan sosial. Penyimpangan tidak hanya dimaknai kesalahan. Keluar dari mainstream juga disebut penyimpangan.

Sebagai alumni pondok pesantren, saya ingat pelajaran tarbiyah nasawiyah (pendidikan kewanitaan) sejak kelas satu madrasah aliah hingga lulus. Selama 3 tahun dididik dan diajari nyai menjadi perempuan salihah (kelas 1). Menjadi istri salihah (kelas 2). Dan menjadi ibu salihah (kelas 3). Pelajaran itu sangat penting dan wajib bagi santriwati sebagai bekal ketika lulus pondok dan terjun ke masyarakat. Apalagi yang berencana menikah.

Bab awal mengenai perempuan (sebelum menikah) harus menjadi muslimah yang kafah. Yaitu (1) menjaga diri dari fitnah; (2) menjaga pandangan; (3) menjaga diri dari perbuatan zina (seluruh indra); (4) membekali diri dengan ilmu agama; (5) memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan cara dakwah yang baik; (6) memelihara kedua orang tua (berbakti); (7) mengamalkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat; dan (8) berperan dalam aktivitas masyarakat.

Membaca rangkuman di atas tampak ideal. Memang harus begitu menjadi perempuan dalam perspektif Islam. Perempuan tak hanya pandai beribadah kepada Tuhan dengan menjalani perintah agama-Nya. Juga harus pandai bersikap santun pada sesama. Saking idealnya, baik penulis kitab maupun pengajar, lupa bahwa dalam kehidupan bersosial perempuan juga harus pandai memahami dan merespons realitas sosial-budaya tempat ia tinggal. Daerah satu dengan daerah lain memiliki kebudayaan berbeda dalam memandang perempuan dan kesetaraan gender.

Ketika melajutkan kuliah hingga doktor dengan tidak menikah terlebih dahulu, saya sangat memaklumi sikap beberapa laki-laki yang akan ”dijodohkan” memilih mundur secara perlahan dengan alasan ”ketinggian”. Saya sadar saat ini tinggal di Madura yang berbudaya patriarki. Laki-laki harus lebih ”tinggi” daripada perempuan; baik secara ekonomi, pendidikan, status sosial, maupun kelas sosial. Bahkan terdapat sebuah ungkapan, ”Mon bi’ reng towana eenome ette, ja’ sampe’ pas mare epakabin eenome gun aeng pote. Tape kodu eenome susu” (jika oleh orang tuanya diberi minum teh, maka jangan sampai setelah kau nikahi, hanya diberi minum air putih. Tapi, seharusnya diberi minum susu).

Seharusnya, laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Terutama dalam segi ekonomi. Jika realitasnya terbalik, akan tercipta kesenjangan berujung konflik atas nama ketidakcocokan membangun rumah tangga. Dalam segi pendidikan, ketinggian itu dipahami sebagian laki-lagi dengan ungkapan, ”Perempuan pintar itu pasti galak dan otoriter. Saya gak maulah kalau nanti diperintah-perintah. Emang di mana kelaki-lakian saya?” kata seorang laki-laki informan penelitian disertasi saya, ”Relasi Kuasa Seksualitas Masyarakat Madura.”

Saya harus lebih detail membaca dan belajar tarbiyah nasawiyah agar mampu menjawab persoalan ketika merespons tekanan masyarakat yang bertanya, ”Kapan menikah?” Bagaimana mau menikah jika daya tawar saya sebagai perempuan lebih tinggi daripada laki-laki Madura kebanyakan? Bukankah di dalam kitab tersebut perempuan harus memiliki intelektual kuat (berpendidikan tinggi)? Lalu, apakah perempuan harus rela mengorbankan potensi intelektualnya (tidak melanjutkan kuliah) hanya agar ”laku” dan dapat segera menikah? Mengapa banyak kitab hanya menulis tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi perempuan” dan meniadakan pembahasan tentang ”Bagaimana seharusnya menjadi laki-laki?” Mengapa perempuan yang harus dituntut agar bisa diterima dan dinikahi laki-laki?

Berbeda dengan kasus beberapa kakak dan adik kelas semasa pesantren yang saat ini berstatus janda cerai (akibat perceraian), baik janda single maupun janda paket. Tekanan mereka jauh lebih ”dahsyat” daripada yang saya alami. Tak jarang mereka mendapatkan perlakukan buruk dari beberapa kalangan masyarakat dengan stigma kebencian.

Masyarakat tidak peduli, apakah status janda mereka ”menceraikan” atau ”diceraikan”. Bagi masyarakat, perempuan adalah satu-satunya ”tersangka” dan harus menanggung semua kesalahan perceraiannya. Suami selingkuh, istri yang disalahkan. Tak merawat dirilah. Kurang ”goyanganlah”. Kurang servisnyalah. Tak mau diaturlah. Suka melawanlah, dll.

Ketika suami mengingkari janji pernikahan, penyebab utamanya adalah istri. Lucunya, kesalahan pemahaman tersebut direproduksi kalangan perempuan sendiri yang mewajarkan perilaku buruk suami. Inilah yang disebut dengan budaya patriarki.

Saya berharap, pengajar tarbiyah nasawiyah tidak hanya mengajarkan menjadi muslimah yang kafah. Namun, juga mengajarkan menjadi perempuan cerdas merespons realitas hidup, yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Merespons bukanlah resistensi. Tetapi, memiliki kepercayaan diri yang kuat. Perempuan cerdas itu tahu bertanggung jawab atas risiko pilihan hidupnya. Ia tahu yang diinginkan dan tahu cara mewujudkan. Ia tahu bagaimana cara bersikap anggun nan elegan dalam merespons ”kenyinyiran” masyarakat dan netizen atas dirinya. 

 

*)Alumnus Al-Amien Prenduan, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Tue, 29 May 2018 04:59:10 +0700
<![CDATA[Pak Zainuddin dan Arwah Kiai-Kiai Annuqayah]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/28/77206/pak-zainuddin-dan-arwah-kiai-kiai-annuqayah https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/28/77206/pak-zainuddin-dan-arwah-kiai-kiai-annuqayah

LIMA orang mendengar kisah yang dituturkan Pak Zainuddin terpaku. Sebagian saya lihat mengeluarkan air mata. Pak Zainuddin juga demikian. Saya pun begitu]]>

LIMA orang mendengar kisah yang dituturkan Pak Zainuddin terpaku. Sebagian saya lihat mengeluarkan air mata. Pak Zainuddin juga demikian. Saya pun begitu. Kantor yang sebelumnya ramai dengan kesibukan kerja, saat itu senyap terserap dalam kisah perjumpaan Pak Zainuddin dengan arwah Kiai Abdullah Sajjad, Kiai Ilyas, Kiai Warits, Kiai Basyir, Kiai Ishom, Kiai Hasan, dan arwah kiai-kiai Annuqayah lainnya.

”Hingga sekarang saya masih terus ingat pertemuan itu. Begitu mengesankan,” kata beliau.

”Kapan mimpi itu?” tanya saya.

”Dua hari setelah saya berbaring di rumah sakit,” saat itu beliau memang kritis. Gegara kecelakaan tunggal. Ada kerusakan kecil di otak belakang. Tentu dengan beberapa luka di beberapa bagian tubuh lainnya.

Dalam pertemuan dengan arwah para kiai Annuqayah tersebut ada dialog menarik. Kiai Warits berkata bahwa kedatangan pengasuh Lubangsa Raya ini ke rumah sakit karena sehabis Magrib mencari Pak Zainuddin, namun tidak ketemu. Biasanya Pak Zainuddin habis Magrib senantiasa sowan ke Kiai Warits. Lalu ada yang menginformasikan bahwa Pak Zainuddin ada di rumah sakit. Segera Kiai Warits berangkat.

”Saya ke sini juga mencari Zainuddin,” kata Kiai Ishom dalam mimpi itu.

Para kiai menanyakan keadaan Pak Zainuddin. ”Oh, ndak, sudah lumayan,” kata Kiai Warits setelah melihat kondisi luka guru SMAN Lenteng itu. ”Wajah Sampean kelihatan semakin bagus,” kata Kiai Ishom menambahi.

Kiai Abdullah Sajjad bertanya,”Sampean ada di mana ini?”

”Saya ada di rumah sakit.”

”Oh iya ya, kita beda alam. Sampean masih hidup,” kata Aba Kiai Basyir dan Kiai Ishom tersebut.

Pak Zainuddin baru sadar bahwa bukan hanya para kiai Annuqayah yang datang, tapi banyak arwah lain di luar rumah sakit begitu ramai yang hendak menjenguk beliau. Lalu beliau bertanya kepada Kiai Abdullah Sajjad siapakah mereka.

Apa jawaban Pimpinan Hizbullah tersebut?

”Mereka adalah orang-orang yang pernah kau bacakan doa tanpa kau sebut nama-nama mereka. Sementara kami ini selalu kau sebut namanya saat didoakan sehingga bisa berkumpul dekat Sampean,” kata Kiai Abdullah Sajjad.

Lalu dengan akrabnya pejuang kemerdekaan ini berkisah tentang nikmat yang telah diberikan Allah di alam baka.

”Saat ini Allah memberikan dua kenikmatan. Satu kenikmatan lagi dijanjikan kelak ketika hari kiamat datang. Dua kenikmatan yang saat ini saya rasakan sungguh luar biasa. Namun saya masih penasaran dengan satu janji kenikmatan tersebut. Semoga Sampean kelak juga diberi kenikmatan-kenikmatan ini oleh Allah,” kata Kiai Abdullah Sajjad kepada Pak Zainuddin.

Saya lihat air mata kembali mengalir dari mata Pak Zainuddin yang mulai memerah. Dia diam sejenak dan kembali berkisah dengan suara yang mulai pelan dan parau.
“Saya mohon didoakan agar kelak saya bisa bersama kiai-kiai semua,” kata Pak Zainuddin kepara para kiai Annuqayah.

Entah bagaimana, Kiai Basyir mengangkat tangan memimpin doa diamini kiai-kiai lain. Pak Zainuddin saat itu turut mengangkat tangan membacakan amin dalam doa yang lumayan panjang.

Setelah itu, para kiai pamit pulang dan Pak Zainuddin terbangun dari mimpinya. Namun bagi beliau, ia serasa bukan mimpi. Begitu nyata. Merasuk ke dalam jiwa.

Saya bertanya kepada Pak Zainuddin, adakah amalan khusus atau riyadah yang selama ini beliau lakukan sehingga arwah kiai-kiai mulia tersebut berkenan hadir, menyapa, berkisah dengan akrab serta mendoakan beliau dalam mimpi?

Ternyata ada.

Apakah itu?

”Setiap salat Magrib saya senantiasa membaca Alfatihah kepada kiai-kiai Annuqayah,” kata Pak Zainuddin membeberkan amalannya yang ternyata telah dilakukan bertahun-tahun.
Gaya Alfatihahnya tidak menggunakan mode one for all alias satu Alfatihah untuk semua arwah. Melainkan model head to head. Satu alfatihah untuk satu almarhum. Tidak hanya itu, beliau juga menghadirkan wajah setiap almarhum untuk memantapkan jalinan rohani seolah ketika Alfatihah dibacakan, ruh yang dituju berada di depannya.

”Sekitar 30 menit saya mengamalkan itu,” lanjut beliau.

Jadi saya baru paham mengapa di alam baka sana, arwah kiai-kiai Annuqayah menanyakan tentang Pak Zainuddin sehabis magrib. Ya, karena saat itu beliau berada di rumah sakit. Tidak bisa lagi membacakan Alfatihah seperti biasa.

”Kehadiran arwah para kiai semakin memantapkan keyakinan saya bahwa doa yang dibacakan benar-benar sampai kepada yang dituju. Sejak mimpi itu, saya selalu bergetar setiap kali membacakan Alfatihah, merasa kelu lidah ini, karena sangat terasa kehadiran arwah kiai-kiai Annuqayah di depan saya,” kata humas SMA Annuqayah ini.

Saya tahu, sebelum kejadian mimpi itu, beliau sangat menghormati setiap orang, terutama guru beliau. Contohnya, jika beliau mengimami salat Duhur yang jamaahnya siswa dan guru SMA Annuqayah di masjid pesantren salaf yang didirikan Kiai Basyir, maka sehabis salat beliau pasti membaca Alfatihah secara berjamaah untuk Kiai Basyir sebagai kompensasi ketidaksopanan beliau karena membelakangi pusara Kiai Basyir yang ada di sebelah timur masjid.

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin merasa jiwanya semakin terikat erat dengan kiai-kiai Annuqayah dan hendak memasrahkan utuh jiwanya agar bisa diakui sebagai santri mereka. Maka, beliau pun mendatangi putra-putra almarhumin untuk melakukan aksi yang membuat saya benar-benar terkejut.

Apa itu?

Beliau dengan sangat sopan minta izin untuk memeluk dan mencium perut kiai-kiai yang sekarang menjadi pengasuh Annuqayah. Beliau bilang baru dua kiai yang sudah didatangi. Kedua pengasuh tersebut mengerti apa yang diinginkan Pak Zainuddin dan mengizinkannya. Memeluk perut dan menciumnya adalah tanda kecintaan dan ketakdziman terhadap orang yang lebih mulia.

Saya berpikir barangkali Pak Zainuddin hendak meniru sahabat Da’tsur yang mencium dan memeluk perut Rasulullah karena begitu cinta dan begitu berharap kelak di akhirat bisa berkumpul dengan Almushthafa.

Pasca mimpi itu, Pak Zainuddin juga merasa sungkan berjalan lewat di depan musala Latee, masjid Lubangsa Raya atau musala Lubangsa Selatan. Dia harus nyisih dengan membukukkan badan karena nampak baginya Kiai Basyir, Kiai Warist, dan Kiai Ishom berada di sana dan melihat beliau. Beliau sangat mengerti bahwa ketiganya sudah wafat. Namun rasa hati mengatakan lain. Ketiganya masih hidup dan nampak pada momen dan tempat tertentu.

Kuatnya ikatan batin Pak Zainuddin dengan Kiai-kiai Annuqayah sangat mempengaruhi cara mendidik anak-anaknya. Misalnya, ketika putrinya hendak kuliah ke luar Madura, dibawalah dia ke Asta Kiai Amir Ilyas.

Tidak hanya mengaji Alquran dan menuturkan ajaran Kiai Amir tentang tujuan pendidikan, beliau juga meminta anak sareang-nya itu untuk melihat apa yang ada di atas pusara Kiai Amir dan menyuruh untuk mengambilnya. Sang putri mengambil kerikil. Beliau meminta untuk menyimpannya untuk dibawa ke tempat kuliah, diletakkan di depan bantal atau di tempat yang mudah dijangkau.

Untuk apa?

Tamat.

 

*)Guru di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

...........................

Catatan Redaksi: Tulisan Habibullah Salman di atas diambil dari catatan penulis di Facebook dalam empat bagian. Catatan pertama 24 Mei 2018 pukul 11.06 dan catatan  keempat 27 Mei 2018 pukul 16.53. Kemudian oleh Lukman Hakim AG. dikumpulkan menjadi satu.

]]>
Abdul Basri Mon, 28 May 2018 20:27:11 +0700
<![CDATA[Totalitas Kesalehan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/28/77058/totalitas-kesalehan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/28/77058/totalitas-kesalehan

Seusai perang Aceh yang mencekam, konon, para cendekiawan Belanda mengadakan diskusi amat rahasia. Topiknya sederhana: Upaya menjinakkan umat Islam Nusantara.]]>

Seusai perang Aceh yang mencekam, konon, para cendekiawan Belanda mengadakan diskusi amat rahasia. Topiknya sederhana: Upaya menjinakkan umat Islam Nusantara.

 

BELANDA nyaris kehilangan tenaga menghadapi perlawanan umat Islam Nusantara yang menelan nyawa dan kerugian biaya tidak terkira. Bayangkan! Bagaimana dengan dahsyatnya perang Diponegoro, perang Hasanuddin, perang Padri, dan perlawanan gerilyawan-gerilyawan yang tumbuh secara sporadis di seantero bumi nusantara.

Salah seorang peserta diskusi berdiri mengutarakan pendapat. Ini yang pertama. Menurut dia, yang amat berbahaya adalah Islam sebagai agama. Islam menjadi roh perjuangan. Maka kuku kolonialisme akan mencengkeram dengan mantap dengan catatan Islam harus dicerai-berai dari penduduk negeri ini.

Pendapat pertama disanggah. Sebab, memisahkan agama Islam yang mendarah daging dari penduduk pribumi, tentu saja, bagaikan bunuh diri bagi Belanda. Agama diusik spontan akan menyulut api perlawanan berkobar dahsyat ke mana-mana. Pendapat itu tidak menguntungkan. Ditolak. Itulah politik.

Diskusi panjang itu menghasilkan beberapa kesimpulan. Antara lain: Umat Islam setelah perang Aceh sedang ngantuk. Di tangan kiri tergenggam sebilah pedang terhunus. Di tangan kanan memegang Alquran.

Salah satu diambil akan mengamuk. Apalagi kedua-duanya. Ini paling berbahaya. Biarkan keduanya dipegang erat. Cuma yang perlu menjadi perhatian agar umat Islam yang sedang ngantuk perlu dikipas-kipasi dengan pembodohan dan ragam budaya modern yang sekularisasi, hedonis, dan kapitalis.

Akhirnya umat Islam akan tidur lelap.

Cukup beralasan analisis cendekiawan Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif. Bahwasanya generasi-generasi yang lalu jatuh ke tangan penjajah lebih disebabkan kebodohannya. Ini karena umat Islam telah lama kehilangan visi Alquran tentang sejarah yang dinamis.

Bangsa Indonesia mayoritas beragama Islam terbesar di dunia. Akan tetapi, berapa persen umat yang dapat membaca Alquran dengan tulisan Arab? Berapa persen umat Islam yang bisa membaca Alquran dan memahami isinya? Berapa persen umat Islam yang tahu membaca Alquran dengan memahami isi dan mengamalkan tuntutannya? Berapa persen umat Islam yang tahu membaca Alquran dengan memahami isi dan mengamalkan tuntutannya lalu mendakwahkan amar makruf-nahi mungkarnya?

Islam sebagai agama tidak hanya berdimensi vertikal dengan Allah (hablun minallah), melainkan juga berdimensi sosial-horizontal (hablun minannas). Amat banyak ayat-ayat Alquran dan hadis Rasulullah berkenaan dengan muamalat dibandingkan dengan ayat-ayat dan hadis-hadis tentang ibadah. Dengan demikian, setiap ajaran ritual secara implisit terdapat perintah aktivitas sosial.

”Salat itu mencegah dari kejahatan dan kemungkaran” (Alquran). ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain” (al-Hadits).

Bukankah Allah SWT mengajak umat manusia ”udkhulu fissilmi kaffah?” Kata ”kaffah” bukan berkonotasi penekanan kuantitas. Akan tetapi, justru pada kualitas. Setiap kesalehan ritual mesti ada tuntutan untuk mengimplementasikan dalam bentuk kesalehan sosial. Andai penekanannya pada kuantitas, niscaya akan terasa kehambaran firman Allah yang berbunyi: Lakum dinukum waliyadin. ”Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Akan semakin babak belur apabila meletakkan interpretasi bagian akhir surah al-Kafirun dalam konteks keputusasaan setelah kalah berkompetisi dengan agama-agama non-Islam.

Kian hari umat Islam semakin ngantuk oleh desiran angin kebudayaan Barat. Kesadaran umat Islam tentang kehadiran agama sebagai tali penghubung Allah SWT dengan orang-orang sekitar mulai terkikis. Sehingga makna iman ditangkap sebagai kata benda yang statis. Padahal seharusnya kata iman ditangkap sebagai kata kerja yang dinamis. Justru itu, umat Islam dalam mendekati Allah tidak cukup dengan hanya mengucapkan zikir dengan lisan, tapi sepi implementasi.

Beriman kepada Allah tiada henti menuntut respons positif manusia sejalan dengan trifungsinya: Pertama, manusia sebagai khalifah atau penguasa di bumi (al-Baqarah:30), yang dilengkapi dengan akal untuk berkreativitas guna menangkap rahasia alam dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedua, manusia sebagai mustakmir atau pemakmur bumi (Hud:61), yang dilengkapi dengan naluri estetika yang cenderung kepada keindahan dan kesempurnaan. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang diraih manusia untuk diarahkan kepada yang positif dan konstruktif.

Ketiga, manusia sebagai abid atau hamba Allah (ad-Dzariyat: 56), yang mengharuskan manusia tunduk dan patuh kepada Allah. Sehingga segala aktivitas hablun minallah dan hablun minannas semata diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Dengan trifungsi manusia itu sebagai umara akan menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara profesional. Ulama, kiai, ustad dalam menyampaikan pesan-pesan agama secara ideal dan komprehensif. Aghniya’ (orang-orang kaya) akan mengeluarkan zakat, infak, dan sedekahnya kepada yang berhak. Pedagang, petani, pekerja, nelayan, dan seterusnya akan melakukan aktivitasnya secara tekun dan jujur.

Setan yang terkutuk kerap memercikkan kotoran menjijikkan ke sekujur badan manusia, baik lahir maupun batin. Untuk tidak overlapping dengan kotoran-kotoran selanjutnya, setiap waktu umat Islam perlu mengaca diri pada Alquran dan hadis rasul. Kotoran-kotoran yang menempel secepatnya dibersihkan dengan air taubat yang jernih menyejukkan. Wabil khusus di bulan puasa ini sebagai bulan yang penuh berkah. 

 

*)Thalibul ilmi Pesantren Al-Istikmal Cangkreng, Lenteng, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Mon, 28 May 2018 05:44:18 +0700
<![CDATA[Anak Adam yang Mulia]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/27/76806/anak-adam-yang-mulia https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/27/76806/anak-adam-yang-mulia

Nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip-prinsip Islam yang utama yaitu menjaga toleransi sesama manusia. Toleransi membangun cinta]]>

Nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip-prinsip Islam yang utama yaitu menjaga toleransi sesama manusia. Toleransi membangun cinta pada kebaikan bagi manusia, menghargai dan menghormati mereka. 

 

LEMAH lembut dalam berinteraksi. Membalas keburukan dengan kebaikan. Memandang dan melihat kebaikan mereka. Memaafkan kesalahan dan keteledoran mereka. Allah SWT berfirman, ”Maka maafkanlah dengan cara yang baik.” (Al Hijr  85).

Pemaafan merupakan makna utama toleransi. Pelakunya akan mendapatkan pahala yang agung. Allah berfirman, ”Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (As Syura: 40).

Berapa banyak anggota masyarakat yang berlaku baik, lemah lembut, dan mempermudah urusan sesamanya, maka Allah memberikan kemudahan pada mereka. Memberi keberkahan dan memperluas rezeki mereka.

Di antara bentuk toleransi dan yang paling banyak sebarannya adalah menghargai dan menghormati sesama manusia. Berlaku lemah-lembut pada mereka. Dan inilah kasih sayang Allah yang diletakkan pada hati orang yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman pada Rasul-Nya, ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka.” (Ali Imran: 159).

Di mana Rasulullah SAW mengadukan keangkuhan kaummnya pada Tuhannya, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” (Az Zukhruf: 88). Kemudian Allah memerintahkannya untuk memaafkan mereka. Disebutkan dalam firman-Nya:

”Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: salam (selamat tinggal). Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)” (Az Zukhruf  : 89).

Perintah Allah dialamatkan pada Nabi SAW. Sedangkan kita berkewajiban untuk meneladani kanjeng Nabi. Maka, hendaknya kita berlaku toleran antara sesama dan dengan kelompok lain. Karena toleransi, perlakuan baik, dan kelembutan merupakan prinsip dasar kemanusiaan dan kewajiban agama menjaga martabat manusia. Inilah hak semua manusia dengan beragam ras, afiliasi warna kulit, dan agama.

Allah SWT berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (Al Isra’: 70). Rasulullah SAW bersabda, ”Manusia adalah anak keturunan Adam dan Adam berasal dari tanah.” (Abu Daud 5116, At Tirmdzi 3956, dan Ahmad 8721). Islam memperlakukan agama apa pun dengan toleran dan kelemahlembutan.

Ini telah ditetapkan menjadi prinsip, ”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” (Al-Baqarah: 256). Inilah fondasi dasar dalam berinteraksi serta berlaku baik terhadap mereka. Ini merupakan potret utama yang dipersembahkan pada kita. Kerja sama kemanusiaan didasarkan pada toleransi dan menghargai hak-hak sesama.

Semua itu berpengaruh besar dalam pembangunan peradaban. Nabi SAW selalu menjaga penguatan hubungan antara sesama muslimin dan penduduk lainnya di Madinah atas dasar toleransi. Hal diatas dibuktikan dengan adanya Piagam Madinah.

Kita diperintahkan untuk berlaku adil dan bijak terhadap sesama dan terhadap orang lain. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Maidah 5:8).

Ya Allah, bekalilah kami dengan sifat toleransi dan kasih sayang antar sesama manusia agar kami dapat menjalankan ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, baik di Indoneisa maupun seluruh dunia. Amin. 

 

*Santri Assirojiyyah Kajuk, Sampang.

 

 

]]>
Abdul Basri Sun, 27 May 2018 05:06:54 +0700
<![CDATA[Menunggu Tanamkan Kesabaran]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/26/76583/menunggu-tanamkan-kesabaran https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/26/76583/menunggu-tanamkan-kesabaran

MENDENGAR kata ”menunggu”, sebagian orang akan mengaitkan dengan lantunan Ridho Rhoma Menunggu. Ketika musik ini dilantunkan, pencinta musik dangdut]]>

MENDENGAR kata ”menunggu”, sebagian orang akan mengaitkan dengan lantunan Ridho Rhoma Menunggu. Ketika musik ini dilantunkan, pencinta musik dangdut mungkin akan menggerak-gerakkan sebagian jari atau kaki.  Mungkin juga akan menggoyang-goyangkan kepala. Disesuaikan dengan nada lagu. Baginya, ”menunggu” merupakan sesuatu yang sangat mengasyikkan.

Di sisi lain, kita akrab dengan kalimat ”menunggu adalah pekerjaan paling membosankan”. Tak jarang, kita melihat raut muka masam seseorang ketika sedang menunggu sesuatu. Terkadang, dia menoleh ke kanan atau ke kiri untuk memastikan yang ditunggu sudah datang atau sebaliknya.

Walhasil, dia gusar dan galau karena melakukan aktivitas ”menunggu”. Mungkin, dia terlalu yakin bahwa menunggu betul-betul merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat membosankan.

Ketika saya nyantri dulu, aktivitas menunggu merupakan salah satu bagian yang harus dihadapi; menunggu untuk mendapat giliran wudu di kamar mandi, menunggu untuk mendapat air ketika hendak memasak nasi, atau menunggu muallim—guru, ustad, Pak Kiai–mengajari santri tentang ilmu agama.

Para santri menunggu beliau sambil membaca nadzam kitab atau melantunkan salawat nabi. Terkadang, mereka menunggu hingga setengah jam. Uniknya, mereka tak pernah menggerutu.

Ketika Pak Kiai ke musala, mereka berebut membalikkan sandalnya. Ketika turun dari musala, Pak Kiai tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk memasang kedua sandal. Mereka merasa bangga melakukan hal seperti itu. Kitab Taklimul Mutaallimin melekat dalam diri mereka. Sungguh ini salah satu nilai luhur pesantren.

Akhir-akhir ini, saya baru memahami bahwa menunggu muallim bagian proses belajar-mengajar. Aktivitas ”menunggu” merupakan bagian dari belajar santri. Mereka dituntut belajar memperbaiki diri dan menata hati agar bisa bersabar. Ketika hal ini dilakukan secara terus-menerus dalam jiwa santri akan tertanam sesuatu sangat berharga, kesabaran.

Pesantren tidak sekadar menjejali teori kepada santri. Tetapi dia juga mendidik rohani agar santrinya memiliki mental kuat. Pesantren tidak hanya mencetak santri untuk menjadi kepala desa, camat, bupati, wali kota, atau bahkan presiden. Pesantren juga mendidik dan mencetak santri agar memiliki mental yang berlandaskan Alquran dan Al-Hadis.

Pesantren mendidik santri agar memiliki kesabaran tinggi dengan tidak tergesa-gesa menjadi orang kaya tetapi menyerobot hak orang lain. Pesantren mendidik santri agar tidak ikut korup di tengah sistem yang korup. Pesantren mendidik santri agar bisa menerapkan ”Qul al-haqqo walau kaana murron”, ”Sampaikan yang benar walaupun terasa pahit adanya”. Ini membutuhkan sebuah kesabaran yang tinggi.

Pada zaman mutakhir ini, kesabaran menunggu muallim tiba di kelas perlu ditanamkan di kalangan santri (termasuk pelajar). Etika santri atau pelajar kepada muallim semakin punah. Tidak sedikit mereka meninggalkan kelas karena muallim datang terlambat. Saya tidak membela muallim yang datang terlambat. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa menunggu adalah bagian dari proses belajar. Santri dididik menata hati agar mampu bersabar menghadapi cobaan.

Masihkah kita mengingat kisah Raden Said atau Sunan Kalijaga yang ingin berguru kepada Sunan Bonang? Sunan Bonang ingin menerima Raden Said menjadi muridnya dengan syarat Raden Said harus menunggui tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Sebelum Sunan Bonang kembali ke tempat itu, Raden Said tidak boleh ke mana-mana. Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Akar dan rerumputan merambati tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.

Saya terenyuh ketika mendengar cerita dua wali tersebut. Betapa sabar Raden Said menunggu sang guru hingga bertahun-tahun. Fenomena ini perlu diketuk tularkan kepada santri dan pelajar sebagai reorientasi pemikiran. Bahwa pola pendidikan bukan hanya tatap muka muallim dengan santri. Bukan sekadar tatap muka ustad atau Pak Kiai dengan santri. Ada pola pendidikan yang kasatmata dan memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian santri.

Nilai-nilai luhur seperti ini yang akan mengukuhkan keutuhan NKRI. Tak heran jika pemerintah memiliki perhatian besar terhadap pesantren. Pesantren memiliki peluang besar untuk mengembangkan keilmuan kepada santrinya. Menurut Asrori S. Karni (2009; xxxviii), pemerintah semakin merangkul pesantren dalam sistem pendidikan nasional. Partisipasi pesantren demikian itu, menyumbang kemajuan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

Bagi pesantren, hal itu meneguhkan kiprah pesantren dalam mencerdaskan masyarakat akar rumput. Keterlibatan demikian juga menjadi ruang improvisasi kiprah pesantren di tengah masyarakat dengan tantangan yang terus berkembang.

Perhatian pemerintah terhadap pesantren harus diimbangi dengan nilai luhur yang harus dipertahankan santri. Seperti takzim kepada muallim walaupun mereka hanya mengajarinya satu huruf. Nilai luhur tersebut harus menjadi roh kehidupan santri setelah mengabdikan diri di tengah masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk kondisi negeri yang semakin semrawut.

Jika Ridho Rhoma mampu menunggu, mengapa santri harus menggerutu ketika menunggu muallim yang tak kunjung datang di majelis taklim? Mari kita tanamkan dalam keyakinan bahwa tidak semua aktivitas menunggu merupakan sesuatu yang membosankan. Menunggu muallim adalah bagian dari belajar; belajar menata hati untuk bersabar. 

 

*)Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Mengabdi sebagai Dosen IAIN Madura.

 

]]>
Abdul Basri Sat, 26 May 2018 04:36:52 +0700
<![CDATA[Santre Pangarangan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/25/76272/santre-pangarangan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/25/76272/santre-pangarangan

Sewaktu di Jogja, saya dan beberapa alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep menginisiasi buletin kecil-kecilan Santre Pangarangan.]]>

Sewaktu di Jogja, saya dan beberapa alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep menginisiasi buletin kecil-kecilan Santre Pangarangan. Nama Santre Pangarangan disepakati atas dasar dua alasan.

 

PERTAMA, domisili pondok kami memang di Pangarangan. Karena domisili ini, kami biasanya dipanggil ”Santre Pangarangan”. Kedua, ”Pangarangan” ini dirujukkan pada kata pengarang.

Dengan demikian, buletin Santre Pangarangan kami maksudkan sebagai wadah aktualisasi mengarang santri/alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar di Desa Pangarangan, Sumenep. Sedangkan label kecil-kecilan saya sematkan karena awalnya hanya untuk kalangan sendiri.

Edisi pertama menyuguhkan nostalgia semasa kami di pondok. Baru edisi kedua teman-teman berani menyuguhkan wacana yang sedikit lebih luas. Kami mulai melibatkan nama-nama lain seperti Acep Zamzam Noor, Faizi El-Kaelan, (alm) Fudloli Zaini, dan lainnya. Kecil-kecilan juga dapat diartikan, bahwa untuk menuju hal yang besar kami mesti memulai dari yang kecil.

Buletin Santre Pangarangan tidak bertahan lama. Teman-teman lulus. Pemrednya, Set Wahedi pulang ke Madura. Mahwi Air Tawar, penjaga gawang rubrik sastra hijrah ke Jakarta. Saya juga hijrah ke Jakarta. Tapi, tak ada harimau yang tak meninggalkan belang. Jasad boleh hancur ditelan ruang-waktu. Tapi, mimpi tidak akan lekang oleh hujan dan badai.

Satu mimpi tersisa dan terus mengiang dalam ingatan saya: asareng, aereng, dan mereng. Tagline buletin Santre Pangarangan ini cukup simpel dan mengena. Tagline ini ingin menekankan, meski bersifat kecil-kecilan, Santre Pangarangan adalah satu alasan bagi kami untuk bertemu, bertukar cerita, dan sesekali join rokok lalu tertawa bersama.

Santre Pangarangan medium kami untuk bisa bersama-sama (asareng). Santre Pangrangan akhirnya menjadi wadah kebersamaan kami. Santre Pangarangan membawa kami menemukan pintu masuk sekaligus arah membuhul mimpi-mimpi: penyair, ilmuwan, politisi, akademisi, dan lainnya.

Mimpi-mimpi kami beragam. Karena itu, kami harus beriringan (aereng). Politisi mungkin identik dengan urusan kekuasaan dan hal-hal pragmatis. Itu berbeda dengan akademisi yang mengedepankan objektivitas dan ”kejujuran” membaca data-fakta.

Apalagi jika dibandingkan dengan penyair, politisi seolah menjadi titik tumpu kritik-kemanusiaannya. Tapi itu tidak berlaku di Santre Pangarangan. Beragam mimpi kami hanya dibedakan garis tipis. Mimpi-mimpi kami hanya dibedakan oleh area dan kepentingannya. Sedangkan yang lebih penting, semua mimpi itu bertujuan sebagai jalan menuju Tuhan sesuai profesinya.

Yang lebih penting lagi, dengan mimpi yang beragam kami bisa berjalan bersama secara beriringan. Perbedaan mimpi tidak membuat kami bercerai-berai. Perbedaan mimpi membuat kami menemukan sisi lain dari setiap diri kami untuk bersinergi, bekerja sama.

Satu hal yang kadang membuat kami tertawa meski tak ada obrolan lucu: sami’na waatha’na pada satu jarak. Di tanah rantau Jogja, kami merasa perlu untuk mendengarkan lagi dengan baik-baik perkataan kiai kami. Dalam diskusi Santre Pangarangan, teman-teman berusaha menyitir perkataan kiai. Meski ruang-waktu dengan kiai sudah berjarak, ke-sami’na-waatha’na-an kami tidak serta-merta memudar.

Jarak memberi ruang lain bagi kami untuk memahami, menghayati dan mengaplikasikan setiap nasihat kiai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sami’na waatha’na ini pelan-pelan menumbuhkan satu filter dalam diri kami terhadap segala wacana keagamaan dan kebangsaan yang datang silang sengkarut hari ini.

Tagline Santre Pangarangan itu ternyata telah bertransformasi dalam mimpi dan jalan politik saya. Kalau politik diartikan seni meyakinkan orang lain tentang gagasan, mimpi dan cita-cita kita, maka kebersamaan (asareng), sinergitas (aereng), dan ingatan akan petuah-petuah kiai (mereng) membuka ruang-ruang dialog lebih terbuka dan istikamah.

Kalau politik mengajarkan satu permainan dinamis, tagline itu memompa saya untuk menjalani proses politik secara riang gembira. Politik bukan lagi ”siapa saya”. Politik adalah ”saya yang menjadi kita” pada cita-cita kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Politik adalah cara melintasi jembatan kemerdekaan menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dalam ekonomi, hukum, politik, dan pembangunan.

Santre Pangarangan sudah tidak terbit. Tapi gagasannya, mimpi-mimpi orang yang terlibat di dalamnya, serta tagline-nya: asareng, aereng, mereng tak lekang ruang-waktu. Saban bertemu alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar saya selalu teringat dengan Santre Pangarangan, baik sebagai nama buletin atau nama panggilan kami dalam berbagai percakapan.

Satu hal yang terus tumbuh dalam diri saya: tagline Santre Pangarangan. Tagline itu selalu mengingatkan saya akan kekompakan, komitmen untuk maju bersama-sama sesuai dengan mimpi masing-masing; untuk bergandeng tangan dengan segala perbedaannya.

Santre Pangrangan sudah menjadi nyala baru dalam diri saya untuk mempererat tali silaturahmi sesama alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar pada level yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat. Tabik. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Fri, 25 May 2018 03:44:37 +0700
<![CDATA[Buku Tempati Kasta Sudra di Pesantren]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/24/75952/buku-tempati-kasta-sudra-di-pesantren https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/24/75952/buku-tempati-kasta-sudra-di-pesantren

Ada masa di mana para kiai sepuh gelisah menyaksikan jumlah santri yang bisa dan suka membaca kitab kuning (turats) sangat langka.]]>

Ada masa di mana para kiai sepuh gelisah menyaksikan jumlah santri yang bisa dan suka membaca kitab kuning (turats) sangat langka. Sebaliknya, santri yang senang membaca buku meningkat. Di pesantren, fenomena demikian merupakan petaka besar.

 

KITAB kuning identik dengan pesantren. Ia tidak bisa digantikan dengan buku terjemahan walaupun memiliki isi yang sama. Ada semacam aura tertentu ketika kitab kuning dibacakan.

Begitu pula ketika ada santri yang menguasai kitab kuning. Otomatis dia akan dilabeli sebagai alim. Betapa pun kita tahu bahwa pengetahuan agama juga bisa diperoleh dari buku. Ini merupakan rasa penghormatan kepada eksistensi kitab kuning sebagai karya tulis yang dihasilkan ulama.

Di pesantren, kitab ditempatkan nomor dua setelah Alquran. Bahkan, ada ritual tersendiri sebelum membaca kitab turats. Membaca Alfatihah khusus bagi mushannif. Dengan ritual demikian dipercaya akan mudah untuk memahami dan mendapatkan berkah kitab yang dibaca. Sikap dan ritual demikian tidak berlaku ketika membaca buku.

Jika kitab kuning lebih dimuliakan daripada buku, rasanya tidak berlebihan. Para pengarang kitab adalah ulama yang setidaknya memiliki tiga kriteria: kesucian, ketekunan, dan kecerdasan.

Kesucian ini mencakup kepribadian dan niat dalam menulis. Misalnya Imam Bukhari, setiap hendak menulis, beliau salat dua rakaat untuk minta petunjuk kepada Allah. Beliau memiliki kitab hadis yang berjumlah lebih 7 ribu hadis. Jadi sebanyak itu pula beliau salat.

Ibnu Sina pengarang al-Tib, buku kedokteran yang jadi rujukan Barat hingga abad ke-16, setiap kali menghadapi persoalan, pasti salat. Ini merupakan anjuran nabi bahwa idza hamma ahadukum bi amrin farka’ rak’ataini bil ghairil faridhah. Lain lagi dengan Al-Ghazali. Beliau uzlah dua tahun di menara Masjid Basrah demi menulis Ihya Ulumuddin yang menjadi kitab masterpiece sepanjang zaman.

Ketika Imam Syafi’e mengadu kepada sang guru, Imam Waqi’, tentang lemahnya hafalannya, beliau mendiagnosis karena dosa. Bukan karena kurang unsur DHA lantaran kurang minum susu.

Bahkan demi kesucian niat, para ulama sangat hati-hati menetapkan tujuan menulis kitab. Pernah terbetik di hati Imam Ibnu Malik untuk mengarang kitab nahwu yang lebih praktis ketimbang karya gurunya, Imam Ibnu Mu’thi. Akibatnya fatal. Ilmu Imam Ibnu Malik hilang. Dia sadar. Dia minta maaf kepada sang guru. Baru ilmunya kembali lagi yang bisa kita baca dalam seribu bait kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Pengarang kitab Jurumiyah, Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shonhajie, karena khawatir niatnya tidak suci, melakukan proper test. Dia membawa karyanya ke sungai. Sebelum kitab itu dilempar, beliau membatin jika niatnya suci kitabnya tidak akan basah. Ternyata, kitab itu tetap kering walaupun dibawa arus sungai. Kata Jurmiyah memiliki arti ”berjalan di atas air”.

Demi menjaga kesucian, para ulama perlu diminta terlebih dahulu, bahkan dipaksa oleh orang lain, biasanya oleh sahabat-sahabat atau murid-muridnya untuk menulis kitab. Al-Ghazali berkali-kali diminta oleh sahabat dan muridnya untuk menulis kitab Ayyuhal Walad. Awalnya Al-Ghazali enggan. Namun sahabat dan muridnya mendesak dengan alasan kitab itu merupakan intisari sekaligus media sederhana untuk memahami kitab Ihya Ulumuddin yang dinilai kompleks.

Hal yang sama juga terjadi kepada Taqiyuddil Al Husni Abu Bakar Muhammad bin Husaini Al Husni Assyafii ketika harus menulis kitab Kifayatul Akhyar. Begitu hati-hatinya para ulama menjaga kesucian, sampai-sampai tidak terpikirkan untuk mendapatkan popularitas, upah, hadiah atau royalti. Padahal pada waktu itu, karena berharganya pengetahuan, nilai sebuah kitab ditimbang dengan berat emas. Jadi sangat mahal.

Selain kesucian, ketekunan mereka sangat mengagumkan. Imam Al-Ghazali membaca logika karya Aristoteles enam belas kali. Ibnu Rusyd, begitu tekunnya, senantiasa membaca kecuali dalam dua waktu: waktu malam ketika ayahnya meninggal dan waktu malam pengantin. Sebagai dokter, beliau tidak minta upah. Yang diminta hanya kesempatan untuk bisa membaca buku di ruangan pasiennya.

Imam Syafi’e hanya untuk tahu bahasa Arab, belajar kepada suku Arab asli selama lima belas tahun. Imam al-Suyuthi harus menyepi ke hutan agar lebih konsentrasi. Dengan kecerdasan yang mereka miliki, lahirlah pengetahuan magnum opus.

Al-Ghazali bisa menguasai kurang lebih tujuh cabang pengetahuan dengan karya ratusan jilid. Ibnu Rusyd berhasil menjadi dokter umur 17 tahun dengan hak paten penemuan sekitar 70 obat penyakit. Imam al-Suyuti menulis sekitar 600 kitab dengan beragam tema. Sementara kitab Imam al-Safi’e adalah Nasirul Hadist, pionir ushul fikh sekaligus imam mazhab yang diikuti ratusan juta orang hingga sekarang.

Lalu apakah penulis buku juga memiliki kriteria kesucian, ketekunan, dan kecerdasan seperti itu? Jika memang tidak demikian, wajarlah jika buku masih menempati kasta sudra di pesantren. Bagaimana menurut Anda?

 

*)Khadim Pesantren Nurul Huda 2, Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Thu, 24 May 2018 03:17:25 +0700
<![CDATA[Haflatul Imtihan Antara Gurauan dan Tasyakuran]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/23/75694/haflatul-imtihan-antara-gurauan-dan-tasyakuran https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/23/75694/haflatul-imtihan-antara-gurauan-dan-tasyakuran

Setahun penuh lembaga pendidikan bersama wali murid mendidik dan mengajar agar anak didik menjadi insan berakhlakul karimah dan berwawasan]]>

Setahun penuh lembaga pendidikan bersama wali murid mendidik dan mengajar agar anak didik menjadi insan berakhlakul karimah dan berwawasan ilmiah. Di akhir tahun mereka mengadakan tasyakuran atas ilmu dan prestasi anak didiknya.

 

LEMBAGA-lembaga di Madura, khususnya lembaga pendidikan Islam, berlomba-lomba mengadakan tasyakuran ilmu melalui haflatul imtihan atau haflah akhirussanah. Rata-rata tahun ini haflah dilangsungkan setelah Ramadan. Ada sebagian yang sudah melaksanakan.

Banyak bentuk tasyakuran ilmu melalui kegiatan haflatul imtihan. Mayoritas lembaga pendidikan Islam (LPI) menggunakan model pesantren salaf. Seminggu biasanya diisi dengan berbagai macam perlombaan edukatif dan hiburan. Di puncak mereka tutup dengan pengajian akbar dan penobatan bintang teladan.

Pawai dengan berbagai macam tema berbau budaya dan agama mewarnai keseruan haflatul imtihan. Mulai siswa berbusana muslim, berpakaian adat, selebrasi para huffadz, atraksi peserta karnaval, drum band, becak hias, ul-gaul, jaran kenca’, hingga para elite profesi diperankan anak TK.

Namun, ada segelintir lembaga (LPI) di sebagian daerah (khususnya Madura) lebih fokus dalam perayaan haflatul imtihan pada sisi hiburan. Becak hias, jaran kenca’, dan drum band mendominasi pawai. Hal ini tetap patut kita apresiasi. Akan tetapi, banyak kalangan terlalu berlebihan. Seolah-oleh lupa tujuan awal haflatul imtihan untuk mensyukuri prestasi.

Pawai dengan aneka becak hias dan jaran kenca’ seakan-akan menjadi hal wajib sehingga kurang memperhatikan status ekonomi. Perasaan gengsi dikedepankan sehingga walaupun harus pusing cari uang pinjaman tetap memaksakan diri.

Perayaan tasyakuran model becak hias ini dianggap tradisi yang wajib ada. Mereka tidak sadar telah mencekik diri sendiri. Sawah dan pohon jati pun rela dijual demi mendatangkan becak hias dan hiburan lainnya. Bahkan ada yang sampai ngutang kepada tetangga. Usai acara, banyak yang hijrah ke negeri tetangga demi mencari tambahan penghasilan untuk membayar utang.

Seolah-olah pawai adalah harga diri. Padahal, lembaga tidak menganjurkan wali murid mendatangkan becak hias atau berbagai hiburan lainnya. Bahkan ada sebagian lembaga yang melarang. Lembaga menganggap perilaku tersebut terlalu menghambur-hamburkan uang.

Alangkah baiknya jika pawai model sekarang ditiadakan. Alih-alih dapat dukungan, yang ada lembaga malah diancam oleh sebagian wali siswa bahwa ia akan memindahkan anaknya ke sekolah lain jika pawai ditiadakan. Hal tersebut menjadi dilema bagi lembaga. Lebih-lebih lembaga yang muridnya pas-pasan.

Di satu sisi perayaan haflatul imtihan dengan model sekarang sudah mendekati kata ishrof. Di sisi lain mereka tidak menginginkan siswanya pindah sekolah gara-gara lembaga menghapus pawai.

Ada sisi positif yang tidak bisa dianggap remeh. Pertama, kebahagiaan yang terlihat di mata siswa dan wali siswa saat pawai. Kedua, menggugah kreativitas insan per-becak-an, drummer, dan per-kuda-an. Ketiga, mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.

Sisi negatif perayaan ini juga perlu dipikirkan. Panitia penyelenggara harus me-manage semaksimal mungkin. Lebih-lebih saat memasuki jalan raya. Jangan sampai pawai mengganggu ketertiban. Apalagi sampai membuat macet dan merusak lingkungan.

Banyak kejadian memilukan di tengah hiruk pikuk pawai. Ada ibu hamil yang terpaksa melahirkan di mobil karena tidak bisa lewat akibat jalan macet. Tidak sedikit orang sakit tambah parah karena tidak cepat mendapatkan pertolongan akibat tidak bisa cepat sampai ke rumah sakit.

Satu lagi yang mencoreng label LPI adalah ketika ada sawer-menyawer saat pawai. Dengan bangga menaburkan lembaran-lembaran rupiah kepada anak sendiri. Bukankah hal tersebut hanya menumbuhkan sifat materialisme kepada siswa atau bahkan bisa dianggap merendahkan harga diri? Bahkan ada sebagian lembaga yang mendatangkan Andika musik drum band yang menghadirkan goyangan erotis sebagian personel wanitanya. Tasyakuran model apa jika seperti itu?

Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang sedang hanyut dalam kemeriahan pawai. Namun, penyelenggara perlu dimintai pertanggungjawaban. Kurangnya konfirmasi dan kerja sama dengan berbagai pihak, khususnya pihak berwajib, menjadikan salah satu kendala lembaga. Mungkin jika ada pengatur lalu lintas akan meminimalkan kemacetan.

Semua lembaga harus bahu-membahu menyukseskan acara tahunan siswa ini. Jika dianggap perlu, adakan musyawarah khusus dengan wali siswa mengenai bagaimana format pawai yang baik.

Satukan tekad dan bulatkan niat. Pawai tetap ada dengan format berbeda. Bukan menjadi keharusan bagi siswa yang lulus atau khotmil Quran. Tetapi kebolehan saja. Pawai tidak melulu dengan becak hias, jaran kenca’, dan drum band. Bisa menggunakan format lama, pawai obor, dan pawai hias bendera.

Bisa juga dengan format baru, pawai amal dengan bagi-bagi suvenir kepada pengendara atau memungut sampah dari sekian meter jalan yang dilalui. Semua bergantung pada kreativitas dan kondisi masing-masing lembaga. 

 

*)Santri PP. Mambaul Ulum, Ganding, Sumenep.

]]>
Abdul Basri Wed, 23 May 2018 05:12:01 +0700
<![CDATA[Puasa: Sebuah Momen Kebersamaan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/22/75318/puasa-sebuah-momen-kebersamaan https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/22/75318/puasa-sebuah-momen-kebersamaan

PUISI selalu mampu menyampaikan apa yang dikatakan imajinasi. Kata-katanya lembut dan santun. Seperti puasa yang sedang kita jalani]]>

puasa bulan penuh berkah

aku sambut dengan harakah

aku lantunkan huruf-huruf semesta

 

cakrawala malam berhias gemintang

jiwa-jiwa gemetar

lantaran bulan ini hadir

untuk menyapa jiwa yang gersang

 

semoga kita mampu berenang

di bulan samudera senang

bersama benang yang dikenang

 

PUISI selalu mampu menyampaikan apa yang dikatakan imajinasi. Kata-katanya lembut dan santun. Seperti puasa yang sedang kita jalani. Ia hadir membawa kebaikan-kebaikan dan pengampunan sehingga jiwa-jiwa hamba terenyuh lantaran kesejukan puasa yang hadir di bulan kita. Bulan yang diperuntukkan bagi semua umat Islam. Namun, puasa tahun ini dibuka dengan kejadian memalukan di Surabaya.

Puasa kali ini berbeda dengan puasa tahun-tahun kemarin. Puasa kali ini disuguhkan dengan bom bunuh diri di Surabaya. Bagi umat Islam, bom tidak menjadikan puasa hilang ditelan propaganda dan cacian. Sebab, ia akan mengotori kertas puasa yang putih.

Karena itu, puasa merupakan momen kebersamaan. Kebersamaan dengan keluarga dan tetangga. Bahkan kebersamaan dengan Allah. Setiap selesai salat lima waktu selalu dihiasi lantunan bacaan Alquran. Setiap malam dan siang cakrawala ramai dengan huruf-huruf semesta.

Kita akan berpikir ketika hendak bepergian ke suatu tempat. Setelah aku sampai di sana, aku akan mudah mendapatkan kebaikan dan kemaslahatan. Begitu pun dengan puasa. Puasa sebenarnya sebuah tempat kita bertempat tinggal bersama di perkampungan Tuhan. Maka, wajar jika setan dipenjara.

Siapa yang mampu memenjarakan setan? Tentu nilai-nilai dan makna puasa kita. Nilai-nilai puasa, salah satunya, kita menyadari betul bahwa tubuh ini tidak ada apa-apanya. Tubuh hanya sebuah bungkus. Sejatinya adalah nilai-nilai.

Bungkus bisa saja diperindah dan dipercantik dengan usapan bedak dan kostum yang kini beredar di pasar, grup WA, dan FB yang menawarkan berbagai macam bungkus. Hakikatnya, puasa bukanlah bungkus yang bisa dibeli di pasar, mal, dan swalayan. Tetapi, apa yang ada di balik bungkus (immateri/metafisika) yaitu moral/etika.

Nilai puasa di balik kerepotan ibu-ibu di dapur dan ramainya pembicaraan tentang baju di teras rumah membutuhkan refleksivitas kritis dari seorang hamba yang berpuasa. Pernak-pernik puasa di tepian jalan dan media sosial seolah-olah kita tidak sempat berpikir tentang makna puasa. Sebab, yang menjadi pembicaraan ”nanti buka apa”, ”buka di mana”, pasar, pantai, dan kafe menjadi pelarian. Padahal ”ingin ini”, ”ingin itu”, pada hakikatnya lapar.

Apakah puasa hanya lapar, haus, capek, dan lelah? Tidak. Puasa merupakan sebuah refleksivitas sosial. Sebab, pada bulan puasa dibuka lebar pintu kebaikan. Akankah kita melewatkan pintu kebaikan ditutup dengan tirai penyesalan?

Puasa untuk meningkatkan kualitas sosial. Meskipun kita dikatakan Allah bahwa ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S Al-Isra’;70). Apakah dengan serta merta kita sebagai anak Adam mulia di hadapan manusia dan Tuhan? Tidak semudah itu. Tuhan menciptakan syariat-syariat yang harus dilakukan hambanya. Salah satunya adalah puasa.

Artinya, membutuhkan perjuangan (jihad) untuk menjadi manusia yang dimuliakan Tuhan. Perjuangan di sini harus melewati jembatan syariat. Bukan lantas ngebom dianggap jihad. Itu salah besar, bahkan dosa besar.

Puasa sebagai bagian syariat tentu tidak mudah menjalankan. Dibutuhkan pemahaman mendalam. Bahwa puasa benar-benar diwajibkan agar tidak sekadar formalitas tahunan. Momen kebersamaan ini harus dimaknai spiritual. Bagaimanapun puasa pada dasarnya spiritual. Kita puasa untuk memenuhi perintah Tuhan. Momen seperti inilah yang harus selalu menjadi keseharian dalam berpuasa.

Keseharian selalu dipenuhi zikir dan pikir agar kita tidak masuk dalam sabda Nabi Muhammad, bahwa banyak orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan haus dan lapar. Sabda ini mengandung makna yang dalam. Buat apa puasa, jika hati dan pikiran kita belum puasa? Hati dan pikiran juga harus berpuasa. Kalau puasa mulut dan perut tentu haus dan lapar.

Puasa pikir dan spiritual merupakan puasa yang memberikan gizi teo-ontologis. Pikiran tidak lepas berpikir tentang makna puasa. Sementara hati selalu dihiasi dengan bacaan-bacaan Ilahi (Alquran). Sehingga ketika puasa selesai, jiwa dan pikiran kita benar-benar meraih kemenangan hakiki.

Kita mengemban tugas Tuhan. Puasa yang ditugaskan kepada kita tentu harus dijaga dan dilestarikan agar tugas itu tidak mati ditelan zaman dan waktu yang pelan-pelan hilang lantaran ulah kita. Kebersamaan ini menjadi penting untuk menjaga moral sosial-religius.

Kita bisa terbang dengan sayap derajat sosial-religius. Sementara burung akan terbang dengan sayapnya. Maka, sayap sosial-religius yang akan mengantarkan kita pada kedalaman puasa yang kita jalani.

Momen puasa kali ini merupakan ruang bagi kita untuk membangun hubungan baik dengan manusia. Di bulan ini pula Alquran diturunkan. Betapa mulia bulan ini. Jangan-jangan lebih mulia bulan puasa daripada manusianya?

Untuk berdamai dengan alam, tentu kita harus berdamai dengan manusia. Untuk berdamai dengan manusia, tentu kita harus berdamai dengan Tuhan. Untuk berdamai dengan Tuhan, tentu kita harus berdamai dengan manusia dan alam. 

 

*Santri Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur yang dosen di STKIP PGRI Sumenep.

]]>
Abdul Basri Tue, 22 May 2018 00:39:30 +0700
<![CDATA[Dari Dogmatisme Menuju Nalar Jihad]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/21/75110/dari-dogmatisme-menuju-nalar-jihad https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/21/75110/dari-dogmatisme-menuju-nalar-jihad

Peristiwa berbau teror berkedok agama ibarat jamur tumbuh di tempat basah. Agama tak henti-henti dipersandingkan secara telanjang untuk kepentingan teror. Penampakan aksi teror selalu berjalan seiring dengan tendensi keberagamaan tertentu.]]>

Peristiwa berbau teror berkedok agama ibarat jamur tumbuh di tempat basah. Agama tak henti-henti dipersandingkan secara telanjang untuk kepentingan teror. Penampakan aksi teror selalu berjalan seiring dengan tendensi keberagamaan tertentu.

 

Anggapan tersebut menemukan gemanya saat publik dikejutkan serentetan aksi teror di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia. Pelakunya keluarga muslim dan beraksi mengatasnamakan ”jihad”. Mirisnya, peristiwa ini terjadi ketika umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadan, bulan yang penuh rahmat.

Keterkaitan agama dan aksi teror bukan hal baru. Sebelum agama-agama lahir di dunia, secara naluri manusia punya insting untuk melakukan aksi ”teror”. Insting ini biasa dipergunakan sebagai bentuk daya survive atau untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Apabila insting dibiarkan tanpa kontrol akan menimbulkan situasi chaos karena tak ada mekanisme kontrol dalam pelampiasannya. Dus, keberadaan agama dengan seperangkat doktrinnya, mengatur insting tersebut agar bisa diarahkan serta diterjemahkan menjadi perilaku yang konstruktif, bukan destruktif.

Beberapa abad agama berhasil dalam menekan menguapnya potensi teror dalam diri manusia. Selain memiliki kemampuan menjernihkan persoalan, agama punya kekuatan mengkristalkan nilai sehingga gerakan yang dilakukan memiliki jiwa atau spirit. Mark Juergensmeyer, penulis Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, mengatakan, agama membuat orang merasa memiliki nilai penting, yang tidak terbatas pada kurun waktu kehidupannya saja. Tetapi meluas, bahkan melampaui lintas sejarah. Struktur ideologi agama selalu menempatkan individu dalam kedudukan kosmis, yang sangat istimewa di hadapan Yang Mahakuasa (Witdarmono, 2003: 479).

Daya kosmis dan perasaan istimewa di hadapan Yang Mahakuasa inilah—ditambah dengan adanya sistem ganjaran yang khas, unsur legitimasi, dan pembenaran mendapatkan tempat yang nyata pada suatu tindakan berdasarkan keyakinan agama. Pada tataran selanjutnya bisa dipersandingkan dengan nilai-nilai suci dan sakral dalam agama.

Persoalannya terletak pada intensitas kedalaman makna dalam menangkap pesan agama. Pesan moral dalam ayat-ayat suci, terutama yang berdimensi perjuangan saat ini banyak dimaknai dan dipakai pada hal-hal yang bersifat sloganistik dan parsial. Mengapa ajaran luhur agama begitu mudah teramputasi?

 

Ironi Dogmatisme

Agama muncul ke dunia untuk menciptakan kesadaran moral dalam masyarakat. Agama bukan hal yang tendensius ataupun ambisius. Tetapi memberikan kesadaran kritis, agar manusia bersikap bijak dalam menghadapi sekian problematika hidup. Pemikir Franz Magnis Suseno, misalnya, mengungkapkan tiga lembaga normatif dalam kehidupan.

Pertama, diri kita sendiri, adalah dinilai efektif apabila sanggup memberikan penilaian rasional terhadap dorongan-dorongan dalam batin (superego). Kedua, segala macam lembaga dalam masyarakat seperti: keluarga, sekolah, lembaga agama, dan lain-lain. Ketiga, segala macam ideologi yang memperebutkan keterlibatan manusia pada zaman sekarang (Suseno, 1999: 13).

Berdasar kategori tersebut, pendekatan terhadap teror sebagai cara melakukan segala hal dengan menggunakan simbol agama, berarti terjebak pada pemahaman agama secara simbolis-ideologis tidak substantif. Betul kata Nurcholish Madjid dalam buku Islam Indonesia Masih Simbolis, tentang perlunya mengimplementasikan doktrin-doktrin Islam yang pokok secara luas dalam kehidupan sehari-hari (Saleh, 2004: 332). Dewasa ini masih banyak ditemukan pengajaran dan pemaknaan agama secara dogmatis dan doktriner. Ditambah, kondisi sosial-politik dan ekonomi yang masih jauh dari nilai-nilai keadilan dengan beragam ketimpangan sosial yang menyertai.

Di sinilah pentingnya reformulasi pemahaman terhadap teks-teks agama. Kenyataan ini yang barangkali belum tuntas dipahami dan disadari sebagian kalangan umat Islam. Kesadaran beragama itu bukan hanya persoalan keyakinan dan ritual. Tetapi, juga banyak menekankan aspek relasi sosial yang menyeluruh. Utamanya, ketidakmampuan dalam menemukan relevansi pemahaman yang tepat dan proporsional antara teks dan konteks akan melahirkan duri dalam kehidupan yang pada akhirnya mengarah pada disintegrasi. Padahal, secara fundamental Islam difungsikan sebagai kekuatan integratif yang melampaui batas-batas sentimen dan identitas primordialisme.

 

Nalar Jihad

Bagaimana semestinya memperlakukan teks jihad? Sesuai paparan di atas, yang perlu dilakukan adalah memaknai jihad secara rasional. Umat bisa memahami konsep jihad secara rasional dapat dinyatakan melalui dua pendekatan. Pertama, mengajukan penalaran-penalaran terhadap persoalan keagamaan dan kemanusiaan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah, memberikan pemahaman yang kreatif tentang dimensi jihad yang bisa dilakukan dan tidak harus menggunakan dengan kekerasan. Kedua, merasionalisasikan doktrin untuk mengatasi problem makna mendasar: apakah mereka benar-benar terselamatkan ke surga?

Rasionalisasi itu dapat dilihat juga sebagai penghilang dogmatisme kaku dalam memaknai pesan-pesan agama. Seseorang pasti berpikir panjang untuk melakukan suatu tindakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih bermakna di balik suatu peristiwa. Seseorang dapat memahami sesuatu melalui kalkulasi-kalkulasi rasional. Pemahaman yang rasional dan kontekstual terhadap suatu ajaran bisa menjadi modal utama untuk meminimalkan munculnya tindakan-tindakan teror yang sekali lagi bisa memutus tali peradaban.

]]>
Abdul Basri Mon, 21 May 2018 13:45:31 +0700
<![CDATA[Jalan Dakwah dan Spirit Kebangsaan Pesantren]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/20/74923/jalan-dakwah-dan-spirit-kebangsaan-pesantren https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/20/74923/jalan-dakwah-dan-spirit-kebangsaan-pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional tertua di Indonesia. Sepak terjangnya semakin membanggakan. Pola pendidikan pesantren semakin luar biasa.]]>

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional tertua di Indonesia. Sepak terjangnya semakin membanggakan. Pola pendidikan pesantren semakin luar biasa. Eksistensinya mampu menjadi kiblat metode pendidikan di Indonesia.

 

FAKTOR utama semakin kukuhnya model pendidikan pesantren terletak pada konsistensi dalam memupuk moralitas peserta didik atau santri. Ini bisa kita lihat sepanjang perjalanan pesantren hampir tak pernah melepaskan visi pengembangan akhlakul karimah sebagai benteng utama.

Pesantren juga tak menutup diri dalam menangkap perkembangan zaman. Setradisional apa pun model pendidikan pesantren tetap mampu menyesuaikan dengan laju zaman yang semakin maju. Ini yang semakin menguatkan poisisi dan nilai tawar pesantren dalam kancah global. Pesantren mampu memaksimalkan dua tembok besar. Benteng moral bangsa sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Keduanya berjalan secara bersamaan.

Inilah jalan dakwah pondok pesantren. Berkomitmen mencetak generasi bangsa yang memiliki integritas tinggi antara moral dan intelekual. Kedua hal tersebut menjadi visi abadi dalam perjalanan pendidikan pesantren.

Lulusan pesantren diharapkan mampu menjadi warna yang baik dalam setiap pergerakan sosial kemasyarakatan. Tak hanya itu, dengan bermodal dua pilar tersebut, santri nantinya bisa memberikan kontribusi positif dalam ikut memajukan masa depan bangsa dan negara.

Menerjemahkan visi tersebut bukan sesuatu yang mudah. Apalagi tantangan dunia modern begitu nyata di depan mata. Mudahnya akses teknologi informasi masuk ke dunia pesantren juga menjadi tantangan. Setidaknya bisa dilihat dari dampak langsung terhadap pola pikir santri. Namun, pesantren tetap harus konsisten menjaga semangat klasiknya di tengah gempuran modernisasi yang mulai ”memanjat” benteng pesantren. Sehingga kemajuan zaman tak berdampak negatif terhadap eksistensi pesantren.

Sebaliknya, pesantren justru memanfaatkan modernisasi untuk menopang perkembangan sistem pendidikan. Misalnya dengan meningkatkan metode pembelajaran memanfaatkan serangkaian produk teknologi informasi tersebut dengan tetap menjaga marwah pesantren sebagai benteng moral bangsa. Inilah kekhasan pesantren yang menurut Nurcholish Madjid mampu mengendalikan dua kekuatan sekaligus. Kekuatan moral bangsa dan kekuatan laju zaman.

 

Spirit Kebangsaan

Harus diakui bahwa pondok pesantren tak hanya memliki andil dalam dunia pendidikan. Pesantren juga memliki peran vital dalam proses pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak masa penjajahan, pesantren sudah menjadi pusat konsolidasi masyarakat pribumi dalam menyusun strategi perlawanan terhadap kaum penjajah. Puncaknya, masyarakat pesantren yang dimotori Hadrotus Syekh KH Hasyim Asyari mampu menaklukkan kaum penjajah dengan semangat Resolusi Jihad yang dikobarkan kala itu.

Histori perjuangan pesantren dalam ikut serta membangun bangsa dan negara ini perlu menjadi spirit bagi masyarakat modern untuk terus menggelorakan jiwa kebangsaan dalam setiap denyut nadi perjuangan pesantren di tanah air. Gairah ini yang kemudian oleh Nahdlatul Ulama (NU) selalu disenandungkan dengan kalimat Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Ini menjadi tugas bersama, pesantren harus hadir sebagai wadah untuk membangkitkan semangat kebangsaan.

Logika sederhana yang perlu diperhatikan adalah rumah besar bernama Indonesia ini dibangun banyak pihak. Salah satunya adalah pesantren. Maka, merawatnya merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, nafas kebangsaan seharusnya kita gelorakan dari bilik-bilik pesantren agar para santri memiliki nasionalisme yang kuat serta ikut berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Kita sangat menyayangkan andai ada sekelompok kecil pesantren yang tiba-tiba menjadi pusat tumbuh kembang sel radikalisme. Pesantren yang justru sama sekali tidak mampu bersinergi dengan segenap lapisan masyarakat serta penegak hukum untuk sama-sama menjaga keutuhan NKRI. Sangat disayangkan, karena pesantren yang semestinya menjadi pusat gerakan pemersatu bangsa justru menjadi penyebab perpecahan karena pola dan pemahaman yang salah dari praktisi pesantren tersebut.

Masa depan bangsa dan negara ini ada di tangan pesantren. Seperti halnya awal pendiriannya sangat ditentukan oleh gelora nasionalisme kaum pesantren. Jalan dakwah pesantren melalui penguatan moral dan intelektual harus diperkuat dan terus dijadikan roh pergerakan pesantren sepanjang masa.

Menggelorakan semangat kebangsaan dari kesunyian bilik-bilik pesantren harus menjadi aktivitas penting dalam kegiatan pesantren. Dengan demikian, masyarakat pesantren mampu menjadi benteng moral bangsa. Menjadi agen perubahan bangsa. Sekaligus menjadi penjaga bangsa dan negara. Wallahu a’lam bis-sawab. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Al-In’am Banjar Timur, Gapura dan Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Sun, 20 May 2018 16:37:45 +0700
<![CDATA[Kembali ke Pondok saat Libur, Siapa Takut?]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/19/74761/kembali-ke-pondok-saat-libur-siapa-takut https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/19/74761/kembali-ke-pondok-saat-libur-siapa-takut

Ramadan agar santri berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturahmi. Pesantren menawarkan program bagi santri agar segera kembali]]>

LIBUR Ramadan agar santri berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturahmi. Pesantren menawarkan program bagi santri agar segera kembali. Kembali ke pondok menambah sehat badan dan batin.

Hampir semua pesantren di Madura, bahkan di seluruh Indonesia, meliburkan santrinya akhir Syakban. Libur dalam rangka Ramadan agar seluruh santri dapat berkonsentrasi berpuasa dan menjalin silaturahmi di rumah masing-masing. Juga, agar mereka dapat istirahat selama lebih satu bulan dari ketegangan membuncah selama sebelas bulan di pondok. Bila mereka kembali ke pondok awal Syawal, pikiran, jiwa, dan hati mereka kembali segar. Siap menerima pembelajaran di pondok yang disiplin dan keras.

Agar tujuan liburan dari pesantren tercapai dengan baik, santri harus diproteksi. Proteksi itu, bila penulis merujuk pada terminologi sosiologi, dapat dilakukan oleh lembaga sosial (social institution) yang biasa disebut dengan istilah pranata sosial. Sebagaimana mengacu pada pendapat Harry M. Johnson, yaitu lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga agama, lembaga politik, lembaga hukum, lembaga budaya, dan lembaga kesehatan.

Bila delapan lembaga ini berfungsi dengan baik, proteksi santri dan imunitasnya akan berjalan sempurna. Dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial mereka akan tereduksi sehingga ekses-ekses negatif bisa diminimalkan dari dunia santri.

 

Keluarga Fondasi Utama

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Pengendali utama terdiri dari ayah dan ibu. Lembaga ini merupakan institusi awal ketika dilahirkan. Kita diajari mengenal sesuatu yang menjadi pijakan utama lebih lanjut dari cara mengenal baca huruf, hitung, hewan-hewan, berbagai jenis tumbuhan, sampai kepada pengenalan terhadap Tuhannya.

Sebagai fondasi utama pembentukan karakter seseorang, keluarga dijadikan tolok ukur keberhasilan seorang anak. Keluarga dijadikan stressing utama oleh Rasulullah SAW dalam pendidikan berperilaku. Sebagaimana ungkapan beliau; anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Anak akan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi sangat tergantung pada didikan kedua orang tuanya.

Karakter utama pendidikan Rasulullah SAW dalam membina keluarga yang baik adalah unsur akidah diletakkan sebagai dasar utama dalam mengatasi segala problematika kehidupan. Dengan unsur akidah yang baik, anak tidak akan bertindak macam-macam, baik di waktu ada orang maupun tidak ada orang. Sebab kita merasa diawasi Tuhan.

Saat ini, para santri berada dalam naungan institusi keluarganya lagi. Secara teori, santri telah hafal dengan baik rukun iman, sifat-sifat Allah, aliran-aliran akidah dalam Islam, dan lain-lain. Tugas orang tua mengejawantahkan pengalaman kemampuan teoritis tersebut dalam wujud nyata. Yaitu pengalaman terkait dengan ibadah ubudiah, perilaku sosial di tengah masyarakat, baik perilaku dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Sebab akidah tak bisa lepas dari syariah itu sendiri.

 

Dorong Santri Segera Kembali

Pesantren selalu menawarkan program bagi santri yang berlibur untuk segera kembali ke pondok. Lebih-lebih di bulan Ramadan. Program tersebut merupakan manifestasi lembaga pendidikan yang mempersiapkan anggota masyarakat dalam mencari nafkah. Kemudian mengembangkan bakat pribadi seorang anak. Lalu, melestarikan kebudayaan bangsa. Selain itu, pesantren menanamkan keterampilan individu. Pesantren juga menjamin integritas sosial dan sumber inovasi sosial.

Pesantren yang comfortable mempunyai segala hal ini. Kembali ke pesantren selama libur Ramadan akan mengasah keterampilan-keterampilan di atas. Institusi pendidikan pondok pesantren mempunyai keterkaitan yang amat lekat dengan lembaga ekonomi dan lembaga agama. Kembali ke pondok adalah cara terbaik untuk menanamkan kemandirian.

Ciri ini merupakan kekuatan ekonomi terbaik. Santri yang terbiasa mandiri akan mempunyai kekuatan andal dalam mencari nafkah kelak. Jangka panjangnya, kemandirian akan membuat negara dan bangsa selalu disegani.

Kembali ke pondok selama Ramadan dengan sendirinya juga akan mengukuhkan lembaga agama sebagai solusi terbaik dalam menyingkap permasalahan. Pesantren sebagai lembaga agama tidak hanya berhasil menyiapkan peserta didik dengan kemampuaan agama yang sangat baik. Tetapi juga telah berhasil menyiapkan kemampuan lain dengan baik pula. Inilah roh pesantren.

Kemampuan-kemampuan dalam politik, hukum, budaya, dan kesehatan, lebih-lebih kesehatan batin, sangat melekat dalam pondok pesantren. Inilah yang disebut kemampuan integral yang ditanamkan pesantren sejak sekian abad silam.

Mungkin kembali ke pondok selama liburan tidak secara nyata mempunyai keahlian dalam ilmu politik sebagaimana mahasiswa jurusan FISIP. Namun jika santri dapat mengaji kitab karya ulama besar mazhab Syafi’ie Imam Al-Mawardi selama liburan, maka akan tahu bagaimana politik dalam Islam itu berfungsi.

Kembali ke pondok akan menanamkan kepekaan dalam masalah hukum, baik hukum positif bernegara, lebih-lebih hukum syariah. Kembali ke pondok juga akan selalu melestarikan budaya. Lebih-lebih budaya santri yang andhap ashor. Demikian pula, kembali ke pondok akan menambah sehat badan dan batin. Sebab kesehatan dhahir dan batin sangat diperhatikan di seluruh pondok di nusantara ini. Wallahu a’lam. 

 

*)Santri Annuqayah Daerah Nirmala era 1990-an. Saat ini tetap mengabdi di Annuqayah sebagai tenaga pendidik.

]]>
Abdul Basri Sat, 19 May 2018 14:59:22 +0700
<![CDATA[Jam Mandi]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/18/74361/jam-mandi https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/18/74361/jam-mandi

JAM mandi merupakan salah satu usaha pondok untuk mendisiplinkan tubuh santri. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang]]>

JAM mandi merupakan salah satu usaha pondok untuk mendisiplinkan tubuh santri. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Kali pertama masuk pondok pesantren, sekitar pertengahan 1997, saya sedikit uring-uringan dengan tradisi jam mandi. Mandi, yang bagi keseharian saya –dan juga orang kebanyakan– dilakukan atas dasar hendak melakukan rutinitas, menyegarkan tubuh, menghadiri pesta, menghilangkan sumuk atau alasan yang dapat dicomot dari mana saja.

Karena itu, mandi menjadi kebutuhan insidental yang benar-benar akan menentukan mood seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas hidup. Tapi pada lazimnya, mandi dilakukan sebanyak tiga kali. Setali tiga uang dengan makan.

Tradisi jam mandi, kira-kira begitulah saya akan menamai satu fase kenangan awal saya di pondok. Satu fase yang merujuk pada aturan pondok: setiap santri hanya boleh mandi dua kali: sekali di pagi hari (pukul 06.00–07.00) dan sekali di sore hari (15.30–17.30). Atau dengan kalimat lain, santri dilarang mandi di luar jam itu. Kalau melanggar, santri tersebut berarti siap untuk diberdirikan, digundul atau disuruh membersihkan jeding atau selokan.

Jam mandi dan segala konsekuensinya, tidak sekadar tradisi yang ”mengancam” pada mulanya. Akan tetapi, rutinitas yang membosankan. Setiap hari, para santri berebut, antre, dan mandi dengan hitungan detik yang lugas: satu kali sabun, selesai.

Kalau tidak? Lagi-lagi hal semacam ini yang menjadikan tradisi jam mandi penyebab saya uring-uringan: kamu akan diolok-olok! Kira-kira jam mandi bukan jam yang pas untuk kau mandi. Akan tetapi jam mandi adalah jam di mana kau tahu diri dalam waktu untuk mandi.

Baru setelah dua tahun di pondok, saya begitu ”enjoy” mengikuti tradisi jam mandi. Saya jadi rajin dan sopan di dalam kamar mandi. Setelah aderres (:belajar baca kitab) seusai salat Asar, saya segera mempersilakan tempat sabun mandi saya untuk nangkring di mulut kamar mandi. ”Itu sabun saya. Nomor tiga. Setelah si anu,” begitu kalimat yang sering diucapkan seorang santri untuk menegaskan nomor antrean.

Setelah dua tahun, jam mandi saya semakin berdentang nyaring. Saya tidak hanya sopan dan rajin di kamar mandi. Tetapi, saya juga mulai nyanyi-nyanyi. Saya mendapatkan detik yang istimewa untuk gosok gigi, sabun dua kali, dan mendapatkan air yang cukup bersih.

Penyebabnya, sejak menginjak kelas dua tsanawiyah, saya dipercaya untuk jaga koperasi. Dengan dalih sebagai penjaga koperasi, jam mandi saya berdetak dan bermenit dengan murah meriah. Kalau dua tahun sebelumnya saya begitu kesulitan mandi dengan air bersih dan waktu yang enak, sejak jadi penjaga koperasi saya benar-benar menemukan jam mandi memiliki keistimewaan.

Setelah purna dari pondok, saya jadi melihat banyak hal-hal kecil dalam jam mandi yang menggoda. Tradisi jam mandi ternyata merupakan salah satu usaha ”kecil” pondok untuk mendisiplinkan tubuh para santri. Para santri yang berangkat ke pondok dari berbagai latar, mencoba didudukkan dalam satu ruang bersama. Siapa pun dia, dari golongan keluarga apa pun, sampai dari mana pun mereka berasal, harus tunduk pada keinginan bersama: hidup disiplin.

Kalau kau anak orang kaya, yang di rumahmu boleh mandi sesukamu, dan boleh menghabiskan bergayung-gayung air. Di sini kau cukup mandi secukupnya. Jika kau berasal dari daerah yang kekeringan dan kau kesulitan mandi, di pondok kau bisa mandi seperti mereka yang dulu mengejekmu sebagai orang-orang yang kekurangan mandi.

Disiplin merupakan kata kunci untuk menundukkan dan membentuk tubuh manusia. Dengan disiplin, para santri belajar untuk mendialogkan antara keinginan dirinya dan tuntutan orang di sekitarnya. Dalam hal ini, manusia dengan imajinasi kenikmatannya, kalau tidak diberi garis pembatas, cenderung menjelma makhluk liar.

Kebutuhan dan rasa puas dapat menyeretnya untuk melakukan hal-hal yang tak dianjurkan. Untuk hal itulah, jam mandi menyisakan cerita yang cukup dalam diri saya: kedisiplinan ternyata bukan monopoli militer. Kedisiplinan merupakan kata kunci setiap orang untuk membentuk dirinya sebagai individu yang saleh dan penuh ketaatan.

Selain kedisiplinan, tradisi jam mandi menekankan keteraturan. Dalam jam mandi, setiap santri belajar untuk saling menghormati dan menghargai. Santri yang lebih dulu menaruh tempat sabunnya, memiliki legitimasi penuh untuk mandi lebih dulu. Bahkan, dia memiliki otoritas untuk menegur orang lain.

Keteraturan jam mandi tidak memandang usia dan pangkat. Siapa pun dia harus tunduk pada tradisi jam mandi. Keteraturan jam mandi adalah metode tidak langsung untuk membentuk para santri memiliki karakter yang kuat dalam memahami masyarakatnya.

Eit, hal yang tidak boleh dilupa: dengan kedisiplinan dan keterbatasan waktu, jam mandi melatih saya untuk dengan cermat memerhatikan tubuh. Terutama tubuh saya ketika bersiap menghadap seseorang. 

 

*)Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Sumenep.

]]>
Abdul Basri Fri, 18 May 2018 13:22:44 +0700
<![CDATA[Teror di Jantung NU]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/17/74046/teror-di-jantung-nu https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/05/17/74046/teror-di-jantung-nu

JAUH hari sebelum intoleransi dan politik identitas keagamaan menguat menjelang, saat, dan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)]]>

JAUH hari sebelum intoleransi dan politik identitas keagamaan menguat menjelang, saat, dan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, The Wahid Institute telah menangkap sinyal menguatnya intoleransi di Indonesia.

The Wahid Institute melaporkan pada 2009 terjadi 184 peristiwa intoleran. Pada 2010 sama, yakni 184 peristiwa. Pada 2011 terjadi 267 peristiwa. Pada 2012 terjadi 278 peristiwa. Pada 2013 sedikit menurun menjadi 245. Tetapi, kasusnya makin menyebar.

Catatan Setara Institute, dari 264 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan pada 2012, terdapat lima provinsi dengan tingkat pelanggaran paling tinggi. Yaitu, Jawa Barat dengan 76 peristiwa, Jawa Timur 42 peristiwa, Aceh 36 peristiwa, Jawa Tengah 30 peristiwa, dan Sulawesi Selatan 17 peristiwa.

Saat masih aktif mengampanyekan perdamaian di kalangan remaja dan lembaga-lembaga pendidikan pada 2014–2015, saya tak begitu yakin intoleransi menguat karena belum terasa betul. Saya rasa, kegiatan kampanye damai yang kami lakukan seperti menggarami lautan. Kampanye damai di negeri yang sudah damai.

Namun setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, menguatnya intoleransi sangat terasa. Setiap hari di jejaring sosial, netizen disuguhi ujaran kebencian, SARA, hoaks, radikalisme. Yang paling mengejutkan, dalam beberapa hari terakhir publik disuguhi rentetan aksi intoleransi. Mulai upaya pembacokan polisi di Mako Brimob pasca rusuh. Pengeboman tiga tempat ibadah di Surabaya. Ledakan diduga berasal dari bom di sebuah rusunawa di belakang Mapolsek Sepanjang Sidoarjo. Lalu penyerangan Polrestabes Surabaya dengan bom kendaraan.

Serangan bom di Surabaya sangat mengejutkan sekaligus melecehkan kami secara khusus warga nahdliyin dan secara umum umat Islam. Sekalipun sasarannya bukan warga nahdliyin, Surabaya sebagai tempat lahir NU yang menjunjung tinggi perdamaian ternyata tidak bebas dari tindakan teror. Ini memberi kesan tempat lahir NU sudah jadi sarang teroris.

Selain negara, NU punya tanggung jawab besar untuk membersihkan ekstremis. Setidaknya dari tanah kelahirannya. Mantan anggota Jamaah Islamiah (JI) Ali Fauzi kepada media mengatakan, Jawa Timur yang merupakan lumbung NU tempat reproduksi pengantin sekaligus reproduksi bom.

Selama ini NU memang tidak diam menghadapi menguatnya intoleransi. NU perlu mengajak ormas-ormas lain yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) bersuara lantang, sehingga NU tidak sendirian membendung arus intoleransi. Apalagi, isu terorisme menjadi salah satu pemicu lahirnya LPOI.

Langkah sederhana dan preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah intoleransi semakin meluas di tanah air adalah memperkuat ideologi paham keagamaan masing-masing agar pengikutnya tak terjangkit epidemi terorisme. Minimal, menggaransi pengikut ormas masing-masing dari radikalisme.

 

Jihad Konstitusi

Setelah pengeboman kembali terjadi di Surabaya, banyak pihak yang kembali mendesak DPR segera mengesahkan RUU terorisme yang terbengkalai sejak 2016. Sebenarnya, dorongan agar RUU ini segera diselesaikan sudah muncul pasca kejadian bom bunuh diri di Kampung Melayu pada 2017.

Namun, RUU terorisme tak kunjung disahkan karena belum menemukan titik temu. Pasalnya, ada dua pending issue yang menjadi perdebatan antara pemerintah dengan pihak DPR pada satu sisi, dan belum kompaknya partai politik pada sisi yang lain.

Setelah peristiwa di Surabaya, eksekutif dan legislatif terkesan saling lempar tanggung jawab di media massa. DPR salahkan pemerintah dan pemerintah salahkan DPR. Sementara sebagian partai politik menganggap tidak begitu urgen RUU terorisme. Padahal, banyak pihak yang berkeyakinan revisi UU terorisme adalah salah satu solusi pemberantasan terorisme.

NU perlu meyakinkan legislatif dan eksekutif untuk segera mengesahkan RUU terorisme demi menyelamatkan rakyat. Legislatif dan eksekutif perlu segera mengakhiri perbedaan pandangan tentang terminologi teroris karena terorisnya sudah di depan rumah-rumah rakyat.

Di legislatif, NU bisa memanfaatkan kader NU yang nyaris tersebar di semua partai politik di Senayan. Forum Silaturahmi Politisi Nahdlatul Ulama (ForsiNU) punya peran penting berjihad melalui konstitusi segera menyelesaikan RUU terorisme.

Sementara di eksekutif, Rais Aam PB NU KH Ma’ruf Amin yang dekat dengan Presiden Joko Widodo bisa meyakinkan pemerintah agar segera mengakhiri perbedaan pandangan dengan DPR terkait RUU terorisme atau segera menerbitkan Perppu. 

 

*)Generasi muda Nahdlatul Ulama. Duta Perdamaian Madura 2014. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk, Sumenep.

 

]]>
Abdul Basri Thu, 17 May 2018 12:14:08 +0700
<![CDATA[Bersatu Wujudkan Pilkada Damai]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/02/28/53188/bersatu-wujudkan-pilkada-damai https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/02/28/53188/bersatu-wujudkan-pilkada-damai

PESTA demokrasi lima tahunan segera digelar di Pulau Garam. Ada tiga kabupaten, yakni Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, yang akan menyelenggarakan]]>

PESTA demokrasi lima tahunan segera digelar di Pulau Garam. Ada tiga kabupaten, yakni Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak. Ditambah dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang juga bakal dilaksanakan secara bersamaan.

Suhu politik pun mulai menghangat. Hal ini wajar mengingat masing-masing pasangan calon (paslon) ingin memenangkan pertandingan. Para tim sama-sama berjuang agar pada hari pemilihan nanti, yakni 27 Juni 2018, masyarakat menjatuhkan pilihan kepada jagoan mereka.

Berbagai macam cara dilakukan. Baik dengan cara memoles kandidat agar dicintai masyarakat. Menyusun visi misi yang sedemikian ciamik. Hingga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat sebagai juru kampanye agar bisa memengaruhi emosi pemilih.

Ironisnya, cara-cara kurang apik kadang dilakukan oleh para tim sukses demi meraih kemenangan. Mulai menyebarkan berita-berita hoaks tentang lawan politik hingga melempar isu-isu berbau sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Termasuk, menghalalkan praktik money politics atau politik uang.

Inilah tiga tantangan terbesar yang sedang dihadapi masyarakat jelang pilkada serentak 2018. Pengalaman di pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu menjadi semacam cerminan betapa isu SARA sangat menyita emosi warga. Masyarakat dibelah hanya demi kepentingan politik sesaat.

Saya sangat prihatin atas kondisi perpolitikan tanah air belakangan ini yang nyaris diwarnai oleh ketegangan yang bersifat primordial. Tentu saja kita semua tidak ingin perpecahan atas nama apa pun terjadi hanya gara-gara pemilihan kepala daerah. Sebab pada dasarnya, pemilihan kepala daerah digelar demi mewujudkan demokrasi yang semakin berkualitas, bukan malah memecah belah umat.

Pilkada merupakan ikhtiar demokratis untuk memilih pemimpin yang qualified. Pelibatan setiap warga negara yang berhak dengan sistem one man one vote menunjukkan bahwa pilkada memberikan penghargaan dan peluang sama kepada setiap pemilih untuk berpartisipasi dalam menentukan calon pemimpin. Semua pihak mesti berharap bahwa pilkada serentak berjalan aman dan damai.

Semangat menebarkan keamanan dan kedamaian dalam setiap situasi, khususnya saat pilkada, merupakan wujud rasa cinta dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Bagi umat Islam, menebarkan kedamaian dan keamanan merupakan simbol tingginya nilai ketaatan terhadap ajaran Islam.

Dalam perspektif teologi, memilih pemimpin merupakan kewajiban. Hal ini diperkuat dengan hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah bahwa jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpinnya. Umar bin Khattab menegaskan bahwa tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.

Begitu kuatnya perintah memilih pemimpin hingga Imam Al-Mawardi dalam kitabnya yang monumental Al-Ahkam As-Sultaniyah menyebutkan bahwa memilih pemimpin adalah fardu kifayah. Pada titik inilah pilkada menjadi sarana ibadah umat Islam. Yakni, ikhtiar memilih pemimpin yang amanah. Karena itu, lakukan ikhtiar tersebut secara santun, menghormati perbedaan, dan menghindari konflik.

 

Ulama Harus Menjadi Pelopor Pilkada Damai

Untuk menciptakan pilkada damai, kiranya tidak bisa hanya dipasrahkan kepada para penyelenggara pilkada seperti KPU dan turunannya. Demikian juga tidaklah etis manakala kita lepas tangan dengan memasrahkan kepada penegak keamanan dan pengawas pemilu. Sebab pada dasarnya, damai tidaknya pesta demokrasi bergantung pada sikap masyarakat secara umum.

Oleh karena itulah, butuh keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat, khususnya ulama, dalam mewujudkan pilkada damai. Ulama dan tokoh masyarakat lainnya harus menjadi contoh yang baik dan menciptakan pilkada damai. Jangan sampai justru sebaliknya, menjadi sumber konflik.

Mereka harus meyakinkan umat bahwa beda pilihan merupakan hal yang wajar sehingga tidak boleh memaksakan kehendak, apalagi sampai berkonflik. Mereka harus meyakinkan umat bahwa terlaksananya pilkada aman-damai menunjukkan bahwa kita adalah bangsa bermartabat dan religius yang cinta damai. Mereka harus meyakinkan umat agar jangan langsung percaya berita-berita hoaks seputar pilkada, terutama yang cenderung adu domba. Sebab, hal tersebut bisa menjadi sumber konflik.

Sekali lagi, pilkada merupakan ikhtiar demokratis memilih pemimpin yang qualified. Ikhtiar yang baik ini tidak boleh dilakukan dengan menghalalkan segala cara karena akan mencederai kualitas pilkada. Ikuti aturan pilkada, hindari adu domba, hormati pilihan yang berbeda.

Kepada calon dan tim, saya berharap agar jangan menghalalkan segala cara untuk menang. Hindari kampanye negatif-provokatif, hindari politik uang, hindari politisasi SARA, hormati pilihan orang lain yang berbeda. Jika menang, harus merangkul dan tunaikan janji-janji kampanye. Jika kalah, harus berlapang dada dan sejukkkan pengikutnya untuk menerima kekalahan.

]]>
Abdul Basri Wed, 28 Feb 2018 03:48:28 +0700
<![CDATA[Membangun Kebersamaan dalam Kebhinnekaan Bangsa]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/11/18/27662/membangun-kebersamaan-dalam-kebhinnekaan-bangsa https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/11/18/27662/membangun-kebersamaan-dalam-kebhinnekaan-bangsa

BANGSA Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan budaya, tradisi, etnis, dan beragam agama. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia dapat dikatakan sebagai bangsa]]>

BANGSA Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan budaya, tradisi, etnis, dan beragam agama. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia dapat dikatakan sebagai bangsa yang majemuk, multikultural, dan bhinneka. Sebagai bangsa yang majemuk dan multikultural, bangsa Indonesia dihadapkan pada realitas yang sangat rumit apabila masyakat masih berpola pikir primordialistik.

Berpikir primordial merupakan ancaman pada kesadaran dalam membangun kebersamaan sebuah bangsa besar yang majemuk ini. Kejadian-kejadian yang memicu pada konflik SARA merupakan contoh bahwa sebagian masyarakat kita masih berpikir primordial. Juga, adanya faktor lain yang melatari terjadinya konflik SARA tersebut. Misalnnya, karena adanya konflik politik dan penguasaan ekonomi.

Kesadaran Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya merupakan bangunan yang telah dicapai oleh bangsa ini dengan berbagai usaha yang telah dilakukan para pendiri bangsa. Sumpah Pemuda pada 1928 merupakan langkah nyata yang dilakukan para pemuda kala itu. Kemudian, dilanjutkan saat persiapan kemerdekaan dengan memasukkan sila persatuan dalam Pencasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Hal ini adalah bukti nyata bahwa kesadaran Bhinneka Tunggal Ika sudah ditancapkan dalam pola kesadaran masyarakat bangsa, sehingga terbentuklah bangsa yang besar dan bangsa yang satu yaitu bangsa Indonesia.

Bhinneka dalam bingkai bangsa Indonesia di antaranya adalah; pertama, Bhinneka mata pencaharian (petani, nelayan, pedagang, pegawai, peternak, dan lain-lain). Kebhinnekaan ini terjadi karena Indonesia adalah wilayah yang terdiri dari daratan dan lautan (kepulauan). Kedua, Bhinneka dalam ras. Bangsa ini memiliki banyak sekali ras yang menjadi identitas kekayaan bangsa yang besar dengan semangat persatuan.

Ketiga, Bhinneka dalam suku bangsa. Indonesia memiliki suku bangsa yang dapat dipersatukan dalam satu bangsa besar, yaitu bangsa Indonesia. Keempat, Bhinneka dalam agama. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragaman dalam beragama, namun bangsa Indonesia dapat hidup dalam perbedaan agama dengan cara toleransi, semangat cinta tanah air, dan persatuan bangsa.

Kelima, Bhinneka dalam budaya. Bangsa Indonesia sangat kaya dalam budaya yang menjadi salah satu identitas bangsa yang besar dalam berbagai keragaman. Kebhinnekaan ini kemudian menjadi Tunggal Ika, karena adanya semangat tinggi dari masyarakat Indonesia dalam membangun bangsa secara bersama-sama.

 

Kesadaran Konstruktif dalam Membangun Kebersamaan

Berbagai usaha harus dilakukan demi menjaga dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran konstruktif dalam masyarakat. Kesadaran konstruktif merupakan kesadaran yang sangat bertolak belakang dengan kesadaran primordial.

Kesadaran konstruktif dapat mengolah kesadaran etnisitas hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial, karena kesadaran ini akan mengarahkan etnisitas pada sesuatu yang dijadikan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Dengan begitu, tercipta pola kesadaran bahwa persamaan adalah anugerah dan perbedaan adalah berkah. Sebagaimana Alquran (Surat Al-Hujurat ayat 13) telah menginformasikan bahwa manusia diciptakan dengan berbangsa-bangsa (syu’uba) dan bersuku-suku (qaba’ila) agar mereka saling mengenal satu sama lain.

Menurut hemat penulis, bangsa Indonesia adalah bangsa yang telah diberi anugerah besar oleh Allah dengan tercapainya penyatuan bangsa-bangsa dan suku-suku menjadi bangsa besar yaitu bangsa Indonesia. Sebagaimana yang telah digambarkan dalam Surat Al-Hujurat di atas. Untuk itulah, bangsa ini wajib mensyukurinya dengan cara membangun dan merawat kebersamaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk menerjemahkan Surat Al-Hujurat di atas, para ulama telah ikut serta dalam menancapkan kesadaran dalam berbangsa. Salah satu di antaranya adalah ungkapan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang terkenal dengan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air merupakan sebagian dari iman.

Kedasadaran konstruktif dapat dibentuk melalui beberapa langkah; pertama, adanya rasa senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor sejarah. Kedua, adanya ideologi nasional yang tercermin dalam simbol negara, yaitu Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, adanya tekad serta keinginan untuk bersatu dalam bingkai berbangsa yaitu bangsa Indonesia, sebagaimana telah dinyatakan dalam Sumpah Pemuda.

Keempat, selalu waspada akan adanya ancaman ideologi dari luar (dengan mengatasnamakan apa pun, termasuk mengatasnamakan khilafah) yang akan menyebabkan runtuhnya semangat nasionalisme dari jiwa rakyat. Kelima, bangga dengan menggunakan bahasa Indonesia (sebagai bahasa persatuan), dengan tanpa meninggalkan bahasa daerah yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kesadaran konstruktif dapat juga terhambat dengan adanya hal yang menghambat terjadinya integrasi nasional. Di antaranya; Pertama, kurangnya penghargaan terhadap keberagaman atau kemajemukan yang bersifat heterogen. Kedua, kurangnya toleransi antargolongan, kelompok, dan agama.

Ketiga, kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia akan ancaman ideologi dan gangguan dari luar. Keempat, adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan dan ketidakmerataan dari hasil-hasil kinerja pemerintah.

Untuk itu, membangun kebersamaan adalah sesuatu yang wajib dilakukan demi tujuan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera dengan cita-cita bersama yaitu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan kita bersama. Wallahu a’lam. 

 

*)Wakil Ketua II STIU Al-Mujtama’ Pamekasan.

]]>
Abdul Basri Sat, 18 Nov 2017 15:54:37 +0700
<![CDATA[Pemuda Zaman Now dan Keberlangsungan Bahasa Kesatuan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/10/29/23109/pemuda-zaman-now-dan-keberlangsungan-bahasa-kesatuan https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/10/29/23109/pemuda-zaman-now-dan-keberlangsungan-bahasa-kesatuan

SELAMAT pagi, Pemuda. Selamat pagi, Madura. Selamat pagi untuk kita, pemuda Indonesia. Pemegang tonggak masa depan bangsa. Tidak terasa 28 Oktober telah kita]]>

SELAMAT pagi, Pemuda. Selamat pagi, Madura. Selamat pagi untuk kita, pemuda Indonesia. Pemegang tonggak masa depan bangsa. Tidak terasa 28 Oktober telah kita lewati sebagai hari bersejarah atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Yang ketika itu, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda mengucapkan ikrarnya dalam satu-kesatuan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu, yakni Indonesia, yang kita sebut sebagai Hari Sumpah Pemuda.

”Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” begitulah Bung Karno, presiden pertama kita, berucap dalam pidatonya yang terakhir pada HUT Republik Indonesia 1996. Dari sumpah tersebut selayaknya kita mampu meneruskan sikap nasionalisme pemuda di masa sekarang dan yang akan datang.

Dalam tulisan ini saya tidak akan menerangkan seluk-beluk perjuangan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada 1928. Sebab, seperti halnya waktu, zaman tak pernah statis. Ia selalu bergerak secara dinamis. Unsur-unsur di dalamnya juga berubah sesuai situasi dan kondisi yang terjadi pada masanya.  Generasi pun mengikuti tumbuh kembangnya. Kecintaan pemuda zaman dahulu terhadap Indonesia ditunjukkan dengan menyingsingkan baju. Mempertaruhkan raga dan nyawa. Berperang melawan penjajah. Mati dikenang menjadi pahlawan.

Lalu, apa kabar pemuda masa kini? Pemuda zaman now, generasi micin, atau pemuda hit yang suka narsis di media sosial (medsos). Tentu kita memiliki cara berbeda dengan pemuda zaman dahulu. Jika pemuda dulu memperjuangkan Indonesia melalui tindakan fisik dan mempertaruhkan nyawa, saatnya kita bisa mengharumkan nama Indonesia melaui prestasi-prestasi dan karya-karya membanggakan. 

Menyikapi sikap pemuda masa kini yang bahasa kerennya kids zaman now, kita bisa geleng-geleng kepala atau bahkan terbahak-bahak karena lucu. Beberapa waktu lalu saya sempat membaca meme di Instagram dengan gambar pasangan anak-anak seusia sekolah dasar berpegangan tangan. Kata-kata yang diungkapkan layaknya pasangan dewasa. Lalu, di bawahnya tertulis kids zaman now. Namun, di sini saya tidak berbicara kelakuan anak-anak masa kini yang tidak sesuai dengan usianya. Saya hanya bertanya-tanya tentang khazanah bahasa kesatuan kita. Bahasa Indonesia. Masihkah bahasa kita mampu bertahan di tengah maraknya media daring yang menyajikan informasi dengan beragam bahasa gaul?  Jawabannya bergantung pada kita.

Selain kids zaman now, yang lagi menjamur di medsos adalah bentukan-bentukan akronim dan singkatan. Baik di WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, maupun ujaran-ujaran langsung dalam obrolan sehari-hari. Misalnya, salfok (salah fokus), mager (malas gerak), kepo, rempong, unyu, galau, woles, PHP, GWS, OTW, lo gue end, eaa, gengges, hoax, rempong, narsis, unyu, alay, japri, gaje, typo, keleus, hater, dan sebagainya.

Ujaran-ujaran itu sudah biasa digunakan kalangan pemuda. Bahkan sering kita jumpai adanya campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Misalnya, me-launching, mem-plotting,  me-regrouping, nge-dance, mem-blocking, dan lain-lain. Semua itu harus menjadi koreksi bagi kita semua. Mengingat, bahasa Indonesia merupakan bagian dari sumpah pemuda yang harus kita lestarikan bersama.

Timbulnya bahasa tersebut menunjukkan bahwa kita telah terpengaruh oleh bentukan-bentukan bahasa asing. Baik melalui iklan di televisi maupun di medsos. Hal itu tidak menjadi masalah asal diujarkan dalam konteks nonformal. Parahnya, ketika campur kode antara bahasa asing dengan bahasa kesatuan kita digunakan dalam konteks resmi seperti dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Atau, dalam dunia literasi yang lain.

Perlu kita ketahui, tidak ada yang salah dengan perkembangan bahasa. Maraknya bahasa slang (gaul) pun akan memiliki tempat sendiri. Bahasa gaul merupakan ekspresi pemuda yang ingin terlihat eksklusif pada zamannya. Boleh saja digunakan sesuai konteks. Biasanya, ketika ngumpul dengan teman akrab, saat makan bareng, nongkrong, atau ngopi tipis-tipis.

Namun, sebagai pemuda yang mencintai bahasa kesatuan dan melek literasi, kita harus mampu menyampaikan penuturan secara kontekstual, profesional, dan proporsional. Memahami apa yang kita dituturkan. Dengan siapa kita bertutur. Di mana kita bertutur dan dalam konteks apa kita bertutur. Mari jaga khazanah bahasa kesatuan kita. Salam semangat, para pemuda. Sebab, di tangan kitalah tergenggam arah bangsa.

Copy Editor Jawa Pos Radar Madura

]]>
Abdul Basri Sun, 29 Oct 2017 17:10:09 +0700
<![CDATA[Gara-Gara Narkoba, Kustilah Susul Teman ke Tahanan]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/09/26/15791/gara-gara-narkoba-kustilah-susul-teman-ke-tahanan https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/09/26/15791/gara-gara-narkoba-kustilah-susul-teman-ke-tahanan

SUMENEP – Masa muda hidup di penjara. Begitulah Moh. Kustilah, 18, warga Dusun Campor, Desa Campor Barat, Kecamatan Ambunten, yang terseret kasus narkoba.]]>

SUMENEP – Masa muda hidup di penjara. Begitulah Moh. Kustilah, 18, warga Dusun Campor, Desa Campor Barat, Kecamatan Ambunten, yang terseret kasus narkoba. Remaja lanjut tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada penegak hukum.

Kustilah ditangkap polisi di sebuah rumah di Desa Campor Barat pada Minggu (24/9). Penangkapan dilakukan petugas dari pengembangan kasus Matjuri bin Busadin yang diringkus Rabu (13/9). Setelah ditangkap Satresnarkoba Polres Sumenep, Matjuri menyebut nama Kustilah.

Kepada polisi Matjuri mengaku, membeli narkoba jenis sabu-sabu patungan. Dari hari pemeriksaan itu polisi melacak keberadaan Kustilah. Setelah sebelas hari berselang dari penangkapan tersangka pertama, Kustilah berhasil diringkus.

Sebelumnya polisi mengamankan satu bungkus plastik klip putih kecil yang terdapat sisa-sisa narkoba. Polisi juga mengamankan satu plastik lain berisi 0,35 gram sabu-sabu. Barang haram tersebut didapati polisi dari Matjuri. 

Dalam pengembangannya, barang dibeli dengan cara patungan bersama Moh. Kustilah. Kapolres Sumenep AKBP Joseph Ananta Pinora melalui Kasubbaghumas AKP Suwardi mengatakan, penangkapan terhadap tersangka berdasarkan pengembangan. Polisi langsung melakukan penangkapan setelah tersangka pertama menyebut nama temannya. ”Jajaran satresnarkoba langsung mencari dan menangkapnya,” ucapnya.

Suwardi menjelaskan, Kustilah diduga bersama-sama melakukan penyalahgunaan narkoba. Dia diyakini ikut menyumbang sejumlah uang untuk membeli barang terlarang itu. Meski demikian, keterlibatan kedua tersangka masih didalami.

Polisi juga akan mengorek hubungan mereka. Termasuk asal usul barang tersebut hingga sampai kepada Matjuri dan Kustilah. Akibat perbuatannya, dua tersangka dijerat dengan Pasal 112 (1) subsider Pasal 127 (1) huruf a UU 35/2009 tentang Narkotika.

]]>
Abdul Basri Tue, 26 Sep 2017 14:03:36 +0700
<![CDATA[Buat Pelajar kok Coba-coba]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/09/01/11201/buat-pelajar-kok-coba-coba https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/09/01/11201/buat-pelajar-kok-coba-coba

kebijakan di dunia pendidikan seakan biasa. Bahkan terkesan kurang dikaji oleh pemikir dan pembuatnya. Perubahan sistem selalu mengundang masalah]]>

GONTA-GANTI kebijakan di dunia pendidikan seakan biasa. Bahkan terkesan kurang dikaji oleh pemikir dan pembuatnya. Perubahan sistem selalu mengundang masalah di tingkat sekolah.

Sekitar dua bulan lalu, semua sekolah melaksanakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2017. Aturan main agar bisa diterima di sekolah yang dituju, siswa harus menyesuaikan dengan zonasi. Kemudian, nilai ujian nasional (unas) harus lebih tinggi di antara kompetitor lainnya.

Kebijakan nilai unas sebagai penentu PPDB muncul pada masa Mendikbud Anis Baswedan. Kendali sudah di tangan Muhadjir Effendy. Kini, mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu hendak mengganti lagi kebijakan gubernur terpilih DKI Jakarta itu.

Informasi tersebut seperti diberitakan koran Jawa Pos (31/8). Heran. Kok kayaknya mudah sekali mengganti kebijakan. Padahal masalah full day school (FDS) yang mengundang banyak kontroversi belum selesai.

Bukan dalam artian setiap kebijakan para kepanjangan tangan presiden itu tidak baik atau tidak layak diterapkan. Mereka tentu lebih pintar dan lebih paham dengan kebijakan yang dibuat. Tapi, apakah mereka sudah menampung aspirasi dari semua daerah di Indonesia? Atau, hanya mengambil sampel di kota-kota besar?

Mengapa saya bisa bilang begitu? Semisal, rencana penerapan sistem kredit semester (SKS) untuk jenjang SMA. Yang dijadikan sampel itu salah satu sekolah di Surabaya. Pertanyaannya lagi, bagaimana jika SKS hanya coba-coba ala menteri sebelum membuat kebijakan.

Jangan gitu. Kalau bisa untuk rencana penghapusan nilai unas sebagai penentu saat PPDB dikaji lagi. Lihat daerah lainnya. Kita ambil contoh di Bangkalan. Hasil PPDB cukup mencengangkan. Banyak kursi kosong di sekolah-sekolah negeri. Bukan berarti minat pendidikan masyarakat rendah. Permasalahannya: kurang sosialisasi.

Sehingga tidak seperti pada PPDB 2017. Total pagu SMAN/SMKN online dan offline 6.222 kursi. Rinciannya, 5.688 kursi untuk online. Sisanya offline. Hingga PPDB online ditutup, pendaftar hanya 4.453 orang. Pemerintah membuat kebijakan mengadakan PPDB online gelombang kedua dengan pagu 1.320 kursi. Sayang, pendaftar hanya 86 orang.

Padahal, lulusan SMP/MTs di Bangkalan 15.495 siswa. Sedangkan pendaftar online gelombang pertama hanya 4.453 orang ditambah 86 orang gelombang kedua. Ada sekitar 10.000 lulusan yang tidak masuk ke sekolah negeri di Bangkalan. Pada lari ke mana?

Apa karena masyarakat enggan masuk sekolah negeri atau sistem online yang bikin ribet? Ingat, tidak semua masyarakat berlatar pendidikan tinggi. Jadi, jangan buat kebijakan kalau tidak siap melakukan sosialisasi. Jangan membuat aturan baru kalau tidak sesuai kondisi sosial masyarakat.

Kabarnya, Muhadjir juga akan fokus pada penerapan zonasi. Titik fokus tersebut juga perlu diperhatikan. Seperti di perbatasan Bangkalan Kota dengan Kecamatan Socah. Di pinggiran kota terdapat sekolah SMK yang dijadikan tempat menimba ilmu pelajar Kecamatan Socah. Jaraknya lebih dekat dari rumah. Fasilitas sekolah lebih lengkap.

Jika sistem zonasi terlalu dipaksakan tanpa toleransi terhadap pelajar dengan kondisi tersebut, minat bersekolah jadi menurun. Bagaimana tidak, ada sekolah lebih dekat dan bagus, tapi tidak dalam zonasi. Sedangkan ada sekolah dalam zonasi, tapi masih terbatas dan jarak tempuh jauh.

Kalau punya motor sih oke-oke saja. Kalau jalan kaki dengan jarak tempuh 5–10 kilometer? Kecuali, ada mobil-mobil menteri yang mau disumbangkan untuk dijadikan operasional.

Jika memang ingin menghapus penggunaan nilai sebagai salah satu syarat PPDB, setidaknya ada tolok ukur  siswa tersebut layak diterima atau tidak. Jika fokus pada sistem zonasi, ada kurangnya juga. Misal dalam satu zona terdapat tiga sekolah. Pasti masyarakat akan lebih banyak memilih sekolah yang sudah teruji. Alias favorit.

Istilah sekolah biasa dan favorit bisa jadi timbul jika hanya mengandalkan zonasi. Perlu tes yang dapat menjadi tolok ukur siswa bisa masuk ke sekolah yang diinginkan. Jika tidak bisa memenuhi syarat tersebut, harus rela di sekolah pilihan kedua.

Jangan tergesa-gesa membuat kebijakan. Kebijakan sangat berdampak besar bagi hidup masyarakat. Jangan karena jabatan bisa lantang membuat persimpangan. Siapkan amunisi dan personel untuk menyurvei serta penelitian di masyarakat. Khususnya di Madura. Seperti kita ketahui, empat kabupaten di Pulau Garam menjadi penghuni peringkat bawah hasil UNBK SMA/SMK 2017.

Makanya, membuat kebijakan jangan dibuat mudah. Jangan dibuat-buat. Jangan hanya karena ingin kelihatan bekerja di mata presiden lantas mencetuskan kebijakan seolah-olah. Padahal ruginya dilimpahkan ke masyarakat. Jangan pula membuat kebijakan karena ingin terkenal.

Perlu lebih sering duduk bersama dengan semua elemen masyarakat. Mereka lebih tahu kondisi sosial pendidikan di masing-masing daerah. Seperti kiai, tokoh pemuda, sesepuh, budayawan, dan pegiat pendidikan pelosok. Jangan hanya rapat dengan jas dan dasi kemeja putih. Orang-orang baju rombengan ini juga perlu diminta bersuara. Sebelum mereka bersuara sendiri.

Dengan begitu, kebijakan yang dibuat mewakili semua keinginan masyarakat. Itulah pentingnya deka dengan ulama, tokoh masyarakat dan terjun langsung ke daerah terbelakang. Mudah-mudahan kebijakan menteri selalu prorakyat. Semoga benar-benar mengusung kepentingan rakyat, bukan golongan. Dan, semoga bukan untuk coba-coba. 

]]>
Abdul Basri Fri, 01 Sep 2017 20:24:30 +0700
<![CDATA[Lampu Kuning FDS]]> https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/08/26/9824/lampu-kuning-fds https://radarmadura.jawapos.com/read/2017/08/26/9824/lampu-kuning-fds

Ungkapan ganti menteri ganti kebijakan seakan semakin kekal. Setiap menteri baru seolah rakyat harus siap-siap untuk terkaget-kaget dengan kebijakan baru.]]>

Ungkapan ganti menteri ganti kebijakan seakan semakin kekal. Setiap menteri baru seolah rakyat harus siap-siap untuk terkaget-kaget dengan kebijakan baru. Entah itu masalah kurikulum atau waktu belajar siswa.

 FEBRUARI lalu, saya mengisi pelatihan jurnalistik kepada pelajar SMP negeri di Bangkalan. Banyak informasi baru yang saya peroleh. Mulai dari kerusakan jalan pelosok, kabel listrik yang tidak tertib, dan kosakata bahasa Madura.

Dan oleh-oleh dari Safari Jurnalistik itu tentang arti penting pendidikan agama bagi masyarakat. Mereka membuktikan dengan vitalnya pendidikan di madrasah diniyah (madin). Pendidikan sore ini yang belakangan kian bergaung setelah Mendikbud Muhadjir Effendy mewacanakan sekolah lima hari dengan durasi delapan jam per hari. Atau, yang umum disebut full day school (FDC).

Saya tidak punya kapasitas untuk menilai kebijakan menteri tersebut dibatalkan atau lanjut. Saya tetap berprasangka baik bahwa tidak ada menteri yang ingin menghancurkan pendidikan. Perbedaan pendapat itu biasa. Hanya, mungkin yang perlu dilakukan adalah berusaha memilih yang terbaik dari yang baik-baik.

Di hari yang berbeda saya mengisi materi di Kecamatan Geger dan Kecamatan Kokop. Dua tempat ini jauh dari jantung kota. Murid dua sekolah ini terbilang banyak. Jarak rumah dengan sekolah jauh-jauh. Tidak sedikit yang berjalan kaki. Tentu waktu yang dibutuhkan tidak sebentar.

Dari dua sekolah ini saya mendapat dua informasi yang sama. Bahwa, siswa biasa (di)pulang(kan) pukul 11.00. Sebab, setelah sampai rumah, murid-murid ini masih berangkat ke madin. Sore baru pulang ke rumah.

Karena itu, saya diingatkan agar menyudahi pelatihan tidak melibas waktu yang telah ditentukan. Saya paham. Pendidikan umum dan agama sama-sama penting. ”Jika pukul 11.00 belum dipulangkan, siswa tidak akan tenang karena keburu pulang. Bahkan, mereka bisa meninggalkan sekolah sendiri,” kata seorang kepala sekolah.

Kini, setelah ramai soal FDS, saya jadi berpikir bahwa tidak semua sekolah di bawah naungan dinas pendidikan harus menerapkan kebijakan itu. Jika dipaksakan, ada banyak hal yang perlu disiapkan. Banyak juga yang harus diselesaikan.

Saya ambil contoh, jika dua sekolah itu menerapkan delapan jam belajar, siswa (otomastis wali murid) harus menyiapkan makan siang. Siswa tidak mungkin pulang pada jam istirahat. Lebih-lebih yang rumahnya jauh dari sekolah.

Sekolah juga menyediakan tempat ibadah yang memadai untuk salah Duhur dan Ashar. Kebutuhan guru tambahan selain yang biasa mengajar pagi hingga siang perlu dipikirkan. Sudah lengkapkah fasilitas dan kebutuhan lain di sekolah itu jika menerapkan kebijakan delapan jam hingga sore?

Di desa saya, Sumenep, ada dua lembaga pendidikan berdekatan. Satu SD negeri. Yang satu lagi yayasan pendidikan agama. Di dalamnya ada kelompok bermain (KB), raudlatul adhfal (RA), MI, MTs, dan SMA. Juga, ada santri yang mukim di pondok.

Jarak dua lembaga pendidikan ini tidak jauh. Mungkin seratus meter. Hanya dipisahkan balai desa dan polindes. Dua perbedaan mendasar dari dua lembaga ini.

Di SDN itu melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Pagi hingga siang. Sore ada ekstrakurikuler. Tapi tidak tiap hari.

Sedangkan di yayasan dekat sekolah itu lebih komplet. Pagi dilaksanakan pendidikan formal. KB–SMA. Sedangkan sore madin.

KB masuk empat hari sepekan. MI, MTs, dan SMA libur Minggu. Sedangkan madin libur Jumat. Jumat sore ada kegiatan Pramuka. Bagi yang mukim di pondok masih ada agenda ngaji pada malam hari dan setelah Subuh. Ini sudah lebih dari delapan jam loooh.

Meski berdekatan dan sama-sama ada sekolah/madrasah, dasar keduanya tetap rukun. Siswa SDN itu juga banyak yang sekolah madin ke yayasan pendidikan agama di sebelahnya itu. Siswa madin tidak hanya pelajar sekolah formal di lembaga tersebut. Juga siswa SDN tetangga. Siswa SD itu juga banyak yang ngaji kepada kiai di pondok tersebut.

Saya pikir pondok ini tidak hanya menerapkan FDS dalam artian delapan jam belajar. Melainkan FDS plus. Apalagi santri-santri yang memang dipasrahkan kepada kiai selama bertahun-tahun untuk menimba ilmu.

Alasan FDS yang disebut-sebut agar anak lebih terlindungi di sekolah daripada liar di luar tidak mutlak benar. Tidak semua orang tua kerja kantoran, berangkat pagi pulang sore atau malam. Alasan agar siswa lebih banyak bersama orang tua pada hari libur tidak semua bisa diterima.

Ini sama dengan memperpanjang waktu santai (dua hari) siswa untuk jalan-jalan. Siapa yang bisa memastikan bahwa dua hari itu mereka bersama kelurga terus? Dugaan saya, delapan jam sehari ini untuk kepentingan pemenuhan kewajiban guru sertifikasi. Bukankah hak mereka masih banyak diutang oleh pemerintah?

Lama anak tidak berkumpul keluarga sudah terjawab dan selesai bagi santri. Orang yang memiliki anak di pondok tenang meski tidak pulang. Bahkan, bersyukur tidak sering pulang. Mereka bukan hanya tidak pulang dalam hitungan hari. Banyak juga yang lebih lama dari Bang Toyyib yang hanya tiga kali Lebaran.

Jika dua SMPN dan SD yang saya sebutkan di awal tadi memaksakan diri menerapkan FDS akan memunculkan masalah baru. Jika dua sekolah itu menerapkan delapan jam belajar, otomatis mengurangi siswa ke madin. Jika lagi-lagi siswa dipaksa belajar di sekolah umum dan madin sekaligus hanya bisa jika jarak dua lembaga serta rumah siswa itu dekat. Bagaimana dengan mereka yang harus melintas sungai atau laut?

Jika tidak diwajibkan, kembali kepada kesiapan sekolah, siswa, dan wali murid. Bergantung pada kesiapan lembaga masing-masing. Kebijakan tersebut ada seperti tidak ada. Sementara pesantren sudah melaksanakan FDS plus sejak lama. Tanpa paksaan.

Sistem yang dibuat pemerintah tidak akan diterima jika bertentangan dengan budaya yang telah mengakar. Pendidikan pesantren yang di dalamnya juga ada madin akan lebih diterima daripada sistem baru. Kalaupun dipaksakan, harus mengatur ulang dari segala hal.

Seperti ingin memperbaiki rumah yang masih banyak dihuni dengan cara menggali fondasinya. Madin adalah pendidikan rakyat. Pendidikan akar rumput. Sudah mengakar. Jika ”dirusak” lingkungan jadi gersang. (*/redaktur budaya jawa pos radar madura)

 

]]>
Abdul Basri Sat, 26 Aug 2017 05:30:59 +0700