BANGKALAN, RadarMadura.id – Peluncuran kitab Basatinul Imdad Wal Is’ad pada Minggu (7/4) berjalan khidmat.
Launching yang bersamaan dengan Haul Akbar Ke-102 Syaikhona Muhammad Kholil itu dipadati ribuan warga. Mereka juga berdoa untuk almarhumah Nyai Muthmainnah.
Halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Moh. Cholil Bangkalan sudah dipadati warga sejak pagi.
Mereka datang tidak hanya memperingati haul Syaikhona Muhammad Kholil. Namun, juga memperingati 40 hari wafatnya almarhumah Nyai Muthmainnah.
Ketua Umum Ponpes Putri dan Ketua I Pondok Putra Ponpes Syaichona Moh. Cholil Muhammad Ismail Al Ascholy menjelaskan, malam haul Syaikhona Muhammad Kholil diisi dengan tahlil dan peluncuran kitab.
Konsep ini sama dengan haul tahun lalu yang meluncurkan kitab karya Syaikhona Kholil.
Kitab Basatinul Imdaad Wal Is’aad Min Mukhtarati Risalati Sayyidi Syaikh Ahmad bin Sa’duddin Al Murad atau Basatinul Imdad Wal Is’ad diluncurkan tepat malam 40 hari meninggalnya Nyai Muthmainnah.
Kitab tersebut memang diperuntukkan almarhumah sebagai bentuk amanah bagi Lora Ismail Al Ascholy.
”Hasil musyawarah para panitia malam itu juga ada pemutaran video Nyai Muth untuk mengenang almarhumah semasa hidupnya,” tambahnya.
Sebelum launching kitab, kegiatan dimulai dengan pembacaan Salawat Ali Al Habsyi. Kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan pemutaran video almarhumah Nyai Muthmainnah.
Kegiatan malam haul dihadiri Syekh Syadzi Arbasy dari Syiria. Hadir pula Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Ghafur Maimoen Zubair.
Ceramah diisi Syekh Syadzi Arbasy. Kemudian diakhiri peluncuran kitab Basatinul Imdad. Kitab yang berisi kumpulan doa Asy Syaikh Ahmad Amin untuk Nyai Muthmainnah.
Syekh Amin merestui peluncuran kitab tersebut. Bahkan memberikan ijazah dan kata pengatar.
”Iya beliau telah mendoakan, memberi ijazah, dan memberi izin untuk siapa pun yang membaca kitab ini,” ucapnya.
Menurut Lora Ismail Al Ascholy, kitab tersebut merupakan persembahan atas permintaan terakhir Nyai Muthmainnah. Baginya, sosok ibunya begitu sederhana, tetapi istimewa.
Sebab, dari ibunya Lora Ismail belajar kesederhanaan dan menanamkan jiwa karakter pada anak untuk terus rendah hati.
”Bagi saya, umi adalah sosok seorang ibu yang tidak pernah lupa mendoakan anak. Dia tidak pernah memuji kehebatan anaknya untuk menghindari sifat sombong,” kenangnya. ”Semoga dengan kitab ini bisa diistiqamahkan oleh santri,” harap Lora Ismail. (ay/luq)
Editor : Ina Herdiyana