
PONDOK Pesantren Nurud Dhalam memiliki berbagai keunggulan. Di antaranya, mengaji kitab kuning dengan metode sorogan.
Yakni, santri menyetorkan kemampuan baca pada ustad, baik dengan cara kosongan maupun tidak.
”Dengan sorogan, santri mampu lancar membaca kitab, baik ada maknanya maupun dengan bentuk kosongan (kitab gundul),” jelas Penasihat Pesantren Nurud Dhalam Shofiyatul Ummah.
Kajian kitab kuning tersebut tidak bisa dihilangkan dari aktivitas pesantren. Sebab, hal itu menjadi ciri khas dari pendidikan pesantren.
”Kami upayakan bagaimana santri bisa membaca dan memahami baca kitab kuning yang menjadi warisan ulama terdahulu,” ujar alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Selain itu, lembaga pendidikan di Kecamatan Ganding ini juga melakukan pemantapan ilmu fardu ain. Pemantapan ini dilakukan dengan program penataran dan praktik ubudiah secara berkelompok. Misalnya, salat, wudu, najis, tayamum, hingga merawat jenazah.
”Ini juga ilmu yang sangat penting dan bagaimana santri bisa melaksanakannya dengan baik dan benar,” ujarnya.
Neng Fifi menjelaskan, pihaknya juga menggelar kursus problematika haid dan istihadah. Kegiatan itu diikuti oleh santri putra dan putri yang membahas tentang hukum darah, baik darah haid, istihadah, maupun nifas. Hal ini penting dilakukan karena masalah kewanitaan ini sering kali dilupakan.
”Kursus problematika haid dan istihadah santri mampu memahami jenis darah kewanitaan dan mengetahui hukumnya. Sebab, masalah ini sering dialami para wanita,” paparnya.
Sebagai dewan penasihat, Neng Fifi akan terus berkomitmen membawa Nurud Dhalam menjadi lentera bagi masyarakat.
”Yang terus membawa panji-panji keislaman dan bisa membawa manfaat sebesar-besarnya bagi santri dan masyarakat,” tegasnya. (sin/luq)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




