
Oleh MOH. RASYID*
CUACA dingin saat dini hari memanjakan setiap mata dalam tidur panjang. Gemuruh suara toa di masjid-masjid atau langgar di perkampungan memberi kabar tibanya waktu yang berkah. Dari suatu arah terdengar suara ajakan kepada kaum muslimin-muslimat untuk menyantap sahur.
Sementara dari arah berlawanan, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an mengalun indah menelusuri sanubari orang-orang beriman, menambah keharmonisan kepergian malam. Angin yang tak terlalu kencang seolah menghadirkan kembali pahit-manisnya kenangan.
Setiap waktu sahur tiba, ingatan saya seperti dipaksa mundur ke kisaran 2014–2021. Ini sering kali saya alami sejak kurang lebih tiga tahun terakhir setiap Ramadan, sejak 2021 saya resmi meninggalkan perantauan.
Selain enam tahun di pesantren (2008–2014), saya merantau untuk kuliah selama enam tahun. Empat tahun untuk jenjang S-1 (2014–2018) dan dua tahun untuk jenjang S-2 (2019–2021).
Sebagaimana perantau pada umumnya, pahit-manisnya kehidupan jadi kenyataan yang harus saya rasakan.
Yang manis, biarlah melebur menjadi nikmat Allah SWT yang senantiasa saya syukuri. Dan yang pahit, senantiasa menjelma cerita indah dan berkesan yang akan saya kenang selamanya. Sebagai anak muda yang berangkat dari ”bawah”, merasakan pahitnya kehidupan barangkali semacam keniscayaan.
Bagi perantau yang sedang menuntut ilmu, kekurangan uang mungkin sesuatu yang biasa, minimal menurut saya dan beberapa teman senasib seperjuangan.
Namun, kekurangan uang saat Ramadan rasanya lebih mencemaskan. Sering kali dalam suasana Ramadan saya tidak pegang uang sama sekali.
Untungnya Allah SWT mengaruniai manusia akal untuk berpikir, sehingga bisa saya gunakan untuk menyiasati kenyataan agar bisa bertahan. Pinjam kepada teman? Jarang sekali, karena harus memikirkan dari mana uang yang harus dikembalikan.
Atau, alih-alih membangun usaha untuk menambah pendapatan. Memenuhi kebutuhan primer saja masih tertatih-tatih, apalagi menggelontorkan modal dengan nominal lebih besar dari harga satu porsi makan sahur.
Untuk menghindari jeratan utang, satu-satunya jalan yang paling mungkin saya lakukan adalah memanfaatkan takjil gratis di masjid-masjid atau di jalan-jalan. Jadinya saya tak terlalu khawatir tidak bisa berbuka meski sedang mengalami defisit anggaran.
Bagi kami, takjil gratis benar-benar berkah yang wajib disyukuri. Selain bisa menopang kebutuhan berbuka, keberadaannya juga bisa mendekatkan kami dengan rumah-rumah Allah SWT yang suci. Sungguh nikmat Tuhan yang tak mungkin kami dustakan.
Tapi, kekhawatiran saya tak berhenti di situ. Suatu waktu, saat tiba waktu sahur, saya mengalami dilema luar biasa. Satu sisi harus makan sahur untuk memastikan stamina tubuh tetap bugar saat berpuasa. Tapi, di sisi lain tak ada sesuap nasi pun yang bisa saya makan.
Di waktu sahur, teman-teman selalu membangunkan saya yang sebenarnya tidak tidur. Memang betul, membangunkan orang yang berpura-pura tidur itu lebih susah ketimbang orang yang benar-benar tidur. Sekarang, saya merasa bersalah karena sudah mengingkari iktikad baik mereka.
Atau, hanya demi menenangkan mereka, saya mengaku sudah sahur. Pikir saya, kepura-puraan seperti ini mungkin cara yang tepat untuk tidak merepotkan mereka berulang-ulang. Kejadian seperti ini lebih dari dua kali saya alami.
Kadang saya berpikir, andai saja kedua orang tua tahu apa yang dirasakan anak sulungnya di perantauan, pasti mereka sedih. Tapi, saya memilih menyembunyikan apa saja dari mereka kecuali kabar-kabar gembira. Terlalu besar dosa dan utang budi seorang anak untuk lagi-lagi membuat orang tua larut dalam kesedihan.
Mungkin orang-orang berpikir, sebegitu terpuruknya perjalanan hidup saya di perantauan. Padahal, saya tidak pernah menganggap dinamika perjalanan ini sebagai sebuah keterpurukan, apalagi akhir dari kehidupan.
Orang-orang sepuh selalu mengajari saya tentang hakikat kehidupan. Kata beliau-beliau, dalam urusan materi, kita harus memandang ke bawah, karena memandang ke atas hanya boleh dalam urusan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, manusia akan tahu hakikat nikmat dan cara berterima kasih kepada Pemberinya.
Saya cukup yakin bahwa dinamika perjalanan ini bukan berada di titik terendah. Di luar sana, masih banyak orang yang jauh lebih kekurangan. Meski dengan segala kekurangan dan keterbatasan, saya masih diberi ”kesempatan” untuk menempuh pendidikan hingga jenjang strata dua (S-2) di daerah yang konon istimewa.
Tetapi, saya tidak mau menganggap diri ini pelaut hebat nan tangguh yang berhasil melewati badai angin dan ombak dengan tenang, lantaran ”berhasil” menghadapi kenyataan hidup yang kelam. Orang lainlah yang berhak menyematkan atribut-atribut kebaikan kepada kita.
Kalau Bang Rhoma Irama bilang ”berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian”, maka saya tidak tahu apakah sakit di masa lalu akan berbuah kesenangan di masa depan. Biarlah waktu yang menentukan.
Melalui kitab suci Al-Qur’an Allah SWT juga memberi pesan indah kepada umat manusia, bahwa sesungguhnya setelah melalui kesulitan, pasti memperoleh kemudahan (QS. Al Insyirah: 5). Kesulitan-kesulitan sudah saya lalui, tinggal saatnya Dia yang menentukan ”kemudahan” apa yang layak saya dapatkan.
Yang pasti, hari-hari ini saya sangat bersyukur kepada-Nya yang telah memberi umur panjang, dan sampai pada fase di mana bisa mengenang dan menertawakan pahit-manisnya hidup di perantauan, sambil buka puasa dan sahur apa adanya bersama istri tercinta dan (calon) anak pertama. (*)
*)Santri Nurul Islam, Karang Cempaka, Bluto, Sumenep (2009–2014)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


