alexametrics
Kamis, 21 Oct 2021
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota

Airlangga: Pemerintah Dukung Industri Perfilman Era Platform Digital

22 September 2021, 22: 02: 25 WIB | editor : Haryanto

PAPARAN: Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri sebuah acara.

PAPARAN: Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri sebuah acara. (Kemenko Bidang Perekonomian for RadarMadura.id)

Share this      

JAKARTA – Sejak tahun lalu, pemerintah telah melaksanakan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) guna mengurangi dampak pandemi Covid-19. Kebijakan tersebut telah membuahkan hasil dan terlihat dalam tren positif perekonomian nasional pada Q2 tahun 2021 yang tumbuh sebesar 7,07 persen.

Hampir seluruh sektor perekonomian menunjukkan perbaikan. Hal ini seiring dengan terkendalinya kasus Covid-19, membaiknya permintaan dalam negeri, dan membaiknya ekonomi global. Khususnya negara mitra dagang.

Sektor perfilman menjadi salah satu sektor yang terdampak ketika pandemi Covid-19. Mulai dari terhentinya proses produksi yang melibatkan banyak pekerja seni dan juga penutupan bioskop yang dilakukan untuk memutus persebaran Covid-19. Karena itu, pemerintah telah melakukan evaluasi kebijakan yang ditujukan untuk menghidupkan kembali industri perfilman nasional.

Baca juga: MTQ Se-Jatim Berlangsung di Pamekasan 3–10 November

”Pembukaan bioskop telah dilakukan seiring perbaikan level PPKM. Ini diterapkan di daerah PPKM level 3 dan 2. Aplikasi PeduliLindungi juga digunakan sebagai pembatasan penonton yang masuk, serta tidak diperbolehkan menjual makanan minuman di area bioskop,” ucap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam webinar bertema Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri secara virtual, Rabu (22/9).

Menurut dia, pada masa pandemi Covid-19, pelaku industri di berbagai sektor harus mampu berinovasi agar bisa beradaptasi. Dikatakan, pada masa pandemi Covid-19 industri perfilman terbuka dengan peluang baru yakni berupa layanan streaming berbasis platform digital dengan video on demand.

Berdasarkan data statistik, pendapatan dari langganan video on demand Indonesia bisa mencapai USD 411 juta di 2021 dengan penetrasi pengguna sebesar 16 persen di 2021. Diperkirakan, nantinya akan naik menjadi 20 persen pada 2025.

”Layanan streaming ini menjadi peluang tambahan bagi industri perfilman karena dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, bisa masuk pasar global. Ini peluang besar bagi para sineas Indonesia yang berkiprah di regional maupun global,” imbuh Airlangga.

Untuk mendukung potensi ini, sambung Airlangga, pemerintah memformulasikan aturan bagi layanan video on demand. Tujuannya, melindungi industri dalam negeri agar bisa tumbuh dan terjaga dengan baik tanpa menghilangkan hak masyarakat dalam memperoleh tontonan yang baik.

Di sisi lain, kehadiran film berbasis digital membuat pertunjukan film semakin beragam dan membutuhkan proses filterasi. Airlangga menegaskan perkembangan ini harus diiringi dengan proses filterasi dan penyensoran yang sesuai dengan norma dan budaya serta aspek religi bangsa Indonesia. Perlu ada keterangan terkait klasifikasi usia yang tepat untuk menonton film tersebut.

”Kami menyambut baik dan mengapresiasi Lembaga Sensor Film Indonesia yang mencanangkan budaya sensor mandiri guna mendorong masyarakat memilih dan memilah dalam menonton yang sesuai dengan klasifikasi usia. Orang tua diharapkan terus ikut mengawasi apa yang ditonton anggota keluarganya,” pungkas Airlangga. (ltg/fsr/par)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news