alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Derita Petani Pamekasan saat Anomali Cuaca

14 September 2021, 17: 51: 55 WIB | editor : Abdul Basri

HANYA BISA PASRAH: Warga Dusun Barat, Desa Somalang, Kecamatan Pakong, mengamati tembakau milik Amna kemarin.

HANYA BISA PASRAH: Warga Dusun Barat, Desa Somalang, Kecamatan Pakong, mengamati tembakau milik Amna kemarin. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Tidak gampang minta petani bersabar. Apalagi, saat tanaman tembakaunya rusak diguyur hujan. Bagaimanapun, nasib harus diterima. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Setelah itu, hanya pasrah seperti yang dialami Amna dan Achmad Mukit.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

PANEN tembakau di Pamekasan belum usai. Masa panen itu diprediksi berlangsung hingga beberapa minggu. Di luar dugaan, hujan sudah turun. Langit terus-menerus mendung.

Baca juga: Oktober, Film Basiyat Bakal Tayang di Bioskop

Beberapa petani harus pasrah menerima nasib ketika tembakaunya diguyur hujan. Seperti yang dialami petani tembakau di Dusun Barat, Desa Somalang, Kecamatan Pakong, Amna, 55.

Tembakau milik Amna dirajang pada Sabtu (11/9). Keesokan harinya (12/9), tembakaunya dijemur di lapangan tidak jauh dari rumahnya. Namun, hujan turun. Tembakaunya pun memerah sebelum mengering. ”Hanya bisa pasrah,” kata Amna.

Hingga kemarin (13/9), tembakaunya pun belum kering. Sebab, tidak ada sinar matahari. Kalaupun ada sinar matahari, hanya sebentar, lalu kembali turun hujan. Akibatnya, pengeringan tembakau tidak sempurna. ”Semoga ada rezeki lain,” katanya.

Kondisi yang sama juga dialami warga Dusun Rongrongan, Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Achmad Mukit, 53. Dia mengaku risau dengan kondisi cuaca yang sebentar panas dan sebentar turun hujan.

”Tembakau setelah dirajang kan perlu dijemur. Tiga hari ini cuaca tidak menentu. Akibatnya, hasil jemuran tidak maksimal,” ungkapnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Mukit mengatakan, ketika tembakau tidak kering karena tidak mendapat pencahayaan yang cukup, tekstur tembakau tidak akan bagus. Warna tembakau juga demikian. Termasuk aromanya tidak akan kuat. ”Ujung-ujungnya akan memengaruhi harga,” katanya.

Mukit menerangkan, tanaman tembakau masih banyak di sawah dan belum dipanen. Selain itu, banyak tembakau yang sudah dipanen dan menjelang proses rajang. Jika cuaca tetap tidak menentu, harga tembakau dipastikan hancur.

Petani dipastikan rugi kerja dan biaya. ”Karena kalau penjemurannya tidak maksimal, ditambah diguyur hujan, tembakau akan hitam dan aromanya rusak. Bahkan, bisa tidak beraroma tembakau lagi,” jelasnya.

Mukit mengaku masih memiliki daun tembakau yang belum dirajang. Jumlahnya sekitar sembilan bal setelah dirajang. Cuaca terang adalah harapan satu-satunya yang bisa menyelamatkan pertanian tembakaunya. Namun, bila hujan mengguyur, Mukit hanya bisa pasrah. ”Jika memang sudah jadi kehendak alam, kita bisa apa,” katanya.

Dia berharap, rezeki lain dan keluarganya diberi kesehatan. ”Semoga ada rezeki lain dan semoga kita tetap diberi kesehatan karena itu yang terpenting. Kalau kita sehat, kita bisa kerja lagi, berusaha lagi. karena kita hanya bisa berusaha, selebihnya pasrah,” katanya.

(mr/gky/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news