alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

Oktober, Film Basiyat Bakal Tayang di Bioskop

14 September 2021, 17: 48: 42 WIB | editor : Abdul Basri

TAKE ADEGAN: Pengambilan adegan film Basiyat di Dusun Ganding Timur, Desa/Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Senin (13/9).

TAKE ADEGAN: Pengambilan adegan film Basiyat di Dusun Ganding Timur, Desa/Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Senin (13/9). (CREW BASIYAT FOR RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Upaya budayawan M. Shoim Anwar dalam melestarikan budaya Madura layak diapresiasi. Apalagi, film berjudul Basiyat yang diadopsi dari cerpen karyanya bertajuk Mandikan Mayatku dengan Tuak itu bakal tayang di bioskop. Saat ini sedang dilakukan syuting di Dusun Ganding Timur, Desa/Kecamatan Ganding.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, basiyat bermakna wasiat atau amanah. Dalam tradisi orang Madura, wasiat wajib dilaksanakan. Biasanya, wasiat diberikan para sesepuh kepada generasi penerusnya. Ketika si pemberi wasiat meninggal, penerima wajib merealisasikan wasiat tersebut.

”Bagi orang Madura, wasiat itu sakral dan harus dilaksanakan oleh si penerima wasiat,” kata Ahmad Faiz, direktur sekaligus sutradara film Basiyat.

Baca juga: Menko Airlangga: Realisasi PEN Capai 50,7 Persen

Menurut dia, film Basiyat ini mengambil lokasi syuting taneyan lanjang. Sebab, kata pria yang akrab di sapa Faiz itu, taneyan lanjang bagian dari simbol masyarakat Madura yang keberadaannya harus dirawat. ”Sejak 2020, kami melakukan riset untuk menentukan lokasi syuting film Basiyat,” tambahnya.

Dia menjelaskan, Basiyat adalah film bertema multikultural masyarakat Madura. ”Film ini berkisah tentang seorang oknum bajing yang berwasiat kepada temannya. Inti wasiatnya, ketika meninggal, jenazah yang bersangkutan harus diiringi saronen dan pemandiannya menggunakan arak, bukan air,” tuturnya.

Faiz menambahkan, pemandian bajing tersebut kemudian dipertentangkan oleh salah seorang tokoh agama karena bertentangan dengan hukum agama. ”Dalam film ini, saya ingin mempertemukan bajing dan ulama atau kiai pada satu peristiwa. Tentu dengan latar belakang yang berbeda,” ucapnya.

Sebagai sineas, Faiz menyatakan tidak ingin membatasi tafsir penonton atas tema film yang kini sedang digarapnya. Sebab, penonton berada dalam ruang bebas untuk menafsirkan filmnya. ”Sebelum membuat film ini, saya membuat film dokumenter Annuqayah Menuju Tetater Pesantren,” terang lelaki yang menempuh studi di Institut Seni Indonesia Surakarta tersebut.

Faiz menambahkan, film Basiyat mendapat dukungan dari Divisi Perfilman Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Jika merujuk pada jawal, film Basiyat akan tayang di bioskop DKJT pada Oktober 2021. ”Selanjutnya, film Basiyat akan diputar di boskop Sumenep,” pungkasnya. (c3)

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news