alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota

Menko Airlangga: Double Disruption Terjadi Selama Pandemi Covid-19

14 September 2021, 01: 10: 11 WIB | editor : Haryanto

MERAH PUTIH: Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri sebuah acara.

MERAH PUTIH: Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri sebuah acara. (Kemenko Bidang Perekonomian for RadarMadura.id)

Share this      

JAKARTA – Ekonomi Indonesia sempat terkontraksi pada pandemi Covid-19. Tapi,  kembali pulih pada kuartal II  2021 dan masih berada pada tren pertumbuhan positif. Hal tersebut tak lepas dari berbagai upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah. Baik di bidang kesehatan, perlindungan sosial, maupun perekonomian.

Pada bidang ekonomi, pemerintah banyak memberikan stimulus dan insentif. Misalnya, bantuan kepada pelaku UMK, insentif fiskal, penjaminan kredit, subsidi bunga, dan sebagainya. Selain itu, mengupayakan pemanfaatan teknologi untuk memaksimalkan potensi ekonomi di masa pandemi.

”Pandemi Covid-19 dan kemajuan teknologi telah memaksa kita melakukan percepatan pemanfaatan teknologi digital yang mendorong lahirnya profesi baru berbasis digital,” ujar Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara webinar Creativepreneur 4.0 bertema Business Journey: Navigating in the Sea of Challenges yang diadakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universiti Utara Malaysia, Sabtu (11/9).

Baca juga: Wapres Ma’ruf Amin: Pemerintah Prioritaskan Perlindungan Untuk Non-ASN

Menurut Airlangga, berdasar laporan World Economic Forum tentang The Future of Job Report 2020, diperkirakan dalam lima tahun ke depan akan terjadi peningkatan kesenjangan keterampilan. Sebab, keterampilan yang diminta di seluruh pekerjaan akan mengalami perubahan.

”Bahkan, saat ini telah terjadi ‘double-disruption’, yaitu pergeseran pekerjaan akibat digitalisasi atau automasi yang dipercepat pasca terjadinya pandemi Covid-19,” jelas Airlangga.

Dia menerangkan, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah daya saing digital Indonesia yang jauh tertinggal. Berdasar IMD World Digital Competitiveness Ranking, Indonesia berada pada posisi 56 dari 63 negara. Global Innovation Index yang mengukur kemampuan inovasi suatu negara, sejak 2018 sampai 2020, merilis posisi Indonesia tidak berubah dan berada pada urutan ke-85 dari 131 negara.

”Karena itu, diharapkan peran aktif dari para pelajar Indonesia, NGO, dan seluruh stakeholder untuk bersama meningkatkan daya saing digital. Termasuk kapasitas kita dalam berinovasi dan menghasilkan produk inovatif,” kata Airlangga.

Untuk memperbaiki peringkat daya saing digital Indonesia, sambung Airlangga, pemerintah menyusun Peta Jalan Indonesia Digital 2021–2024 yang disusun untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Yaitu, Indonesia sebagai negara berdaulat, maju, adil dan makmur.

”Terdapat empat pilar utama dalam mencapai visi Indonesia 2045. Yaitu, pembangunan manusia serta penguasaan iptek, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pemantapan ketahanan nasional, dan tata kelola pemerintahan,” ulas Airlangga.

Dia menambahkan, dengan melaksanakan hal-hal di dalam peta jalan tersebut, diharapkan 2024 akan terjadi penambahan pertumbuhan PDB sebesar 1 persen dan UMKM terdigitalisasi 50 persen. Termasuk, tersedia 2,5 juta lapangan kerja baru dan 600 ribu talenta digital yang dilatih setiap tahun.

”Selain dilihat sebagai sebuah tantangan, kemajuan teknologi, khususnya teknologi digital, juga dapat dipandang sebagai peluang. Hal ini diperkuat dengan berbagai studi yang menyatakan peluang ekonomi digital Indonesia masih terbuka lebar. Pada 2025, nilai transaksi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 124 miliar (Rp 1.700 triliun),” terang Airlangga.

Airlangga mengungkapkan, berbagai studi menyatakan bahwa peluang ekonomi digital Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini didukung oleh sejumlah faktor. Misalnya, total penduduk yang terbesar ke-4 di dunia, jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta atau 70,7 persen, ditopang oleh generasi Z sebanyak 75,49 juta orang atau 27,94 persen dan generasi Y/milenial yang mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen.

”Dari sisi digital user, jumlah pengguna ponsel Indonesia saat ini mencapai 345,3 juta (125,6 persen dari total populasi) dengan penetrasi internet sebesar 73,7 persen dan trafik internet yang mengalami peningkatan 15–20 persen selama 2020. Bahkan saat ini, telah muncul gelombang teknologi baru seperti jaringan 5G, IoT, blockchain, artificial intelligence, dan cloud computing,” papar Airlangga.

Sektor Edutech dan Healthtech kini menjadi pendatang baru yang menjanjikan dalam lanskap ekonomi digital. Pada 2020, pengguna aktif aplikasi Edutech Indonesia tumbuh signifikan mencapai 200 persen. ”Tren peningkatan jumlah penguna juga terjadi pada sektor Healthtech (telemedicine). Bahkan dalam lima tahun ke depan, pengguna Telemedicine Asia Pasifik diprediksi meningkat  109 persen,” imbuh Airlangga.

Di akhir sambutannya, Airlangga menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi seluruh komponen bangsa sangat dibutuhkan untuk meraih cita-cita Indonesia Emas 2045.

”Termasuk dukungan adik-adik mahasiswa-mahasiswi yang saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya di Malaysia. Sumbangsih pemikiran dan saran dari adik-adik sangat diperlukan dalam mendukung upaya pemerintah memulihkan perekonomian bangsa pascapandemi. Dengan demikian, kita semua dapat segera keluar dari middle income trap dan meraih cita-cita Indonesia Emas 2045,” pungkas Airlangga. (ag/fsr/par)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news