alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai
Sapi, Hewan Berharga bagi Orang Madura (3)

Jika Hilang Sepasang, Satu Ekor yang Jadi Tebusan

12 September 2021, 21: 00: 11 WIB | editor : Abdul Basri

Jika Hilang Sepasang, Satu Ekor yang Jadi Tebusan

Share this      

Pemilihan kepala desa (pilkades) selalu menarik diikuti. Magnet peleyan kalebun lebih memikat daripada jenis pemilihan umum (pemilu) lain. Pemilihan presiden (pilpres) sekalipun.

SETIAP pilkades atau ceplo’an selalu ada bumbu yang menyertai. Mulai rival bumbung kosong atau calon bawang, serangan fajar, kondisi keamanan, gesekan sosial antar pendukung calon, hingga taruhan.

Serangan fajar hanya bagian kecil dari upaya calon untuk meraih simpati masyarakat pemilik suara. Serangan fajar hanya istilah yang dilekatkan pada pemberian sesuatu beberapa jam sebelum pencoblosan.

Baca juga: Pencairan Mastoki Terkendala Cuaca

Pada hari H pencoblosan, ada bagi-bagi uang sehingga muncul beberapa kerata basa khusus. Misalnya, tongket (settong saeket, satu kepala Rp 50.000), berse (berras ban pesse), dan lain-lain.

Pada hari yang sama biasanya juga ada antar jemput pemilih yang difasilitasi tim calon. Saat di atas kendaraan itu ada pembagian nasi bungkus atau barang lain. Sebelum hari H, biasanya juga ada ”bagi-bagi rezeki”. Misalnya, guras (gula ban berras), mi, rokok, dan lain-lain.

Soal bumbung kosong ini juga menarik. Biasanya terjadi di desa yang hanya ada satu calon. Bisa jadi karena tidak ada yang ajajari petahana. Ini terjadi karena secara hitung-hitungan tidak akan bisa menang menandingi kalebun towa. Belakangan ada regulasi yang mensyaratkan minimal calon dua orang.

Jika tidak ada orang yang berani mencalonkan diri, sementara tuntutan regulasi mengharuskan calon minimal dua orang, maka muncul calon bawang. Calon untuk kalah. Asal ada. Karena itu, calon yang (di)munculkan kadang anggota keluarga calon petahana.

Yang menarik juga soal politik dinasti. Kepala desa selalu dari satu keluarga. Setelah masa jabatan ayah habis, ibu maju. Tapi, yang banyak berperan tetap si ayah. Setelah masa jabatan ibu habis tak bisa mencalonkan lagi, anak maju. Namun,  yang banyak berperan tetap kalebun towa (masyarakat tetap menyebut ”kalebun” kepada Kades meski sudah tidak memimpin dengan sebutan ”kalebun towa” atau ”kalebun kona”). Lalu, menantu dan seterusnya…

Ini terjadi karena masyarakat percaya kepada mereka. Atau karena tidak ada orang lain yang muncul atau dimunculkan saat pencalonan. Satu keinginan mendasar bagi masyarakat desa saat pencalonan: aman dan tenang.

Masyarakat tidak ingin hidup mereka tak tenang. Tidur bisa nyenyak tanpa harus memikirkan sapi di kandang hilang. Sebab, ancaman keamanan selalu muncul sebelum dan sesudah pemilihan. Yang selalu terjadi adalah peristiwa pencurian hewan (curwan). Sapi selalu menjadi objek pencurian.

Tak heran bila di suatu desa ada ratusan sapi hilang dalam sebulan. Waktu pencurian juga tidak hanya malam. Siang pun kadang ada yang raib. Bahkan, ada yang dicolong saat pemilik sedang berbuka puasa atau sedang salat Tarawih. Belakangan, pencuri sapi semakin cerdik. Hewan hasil curian tidak lagi diangkut pikap. Ada yang diangkut menggunakan Carry dan Avanza.

Yang memprihatinkan, korban curwan kadang jatuh tertimpa tangga dan nyebur ke comberan. Sapi hilang, diminta tebusan, maling tak tertangkap. Kecuali jika pencuri tepergok dan tertangkap tangan.

Istilah yang berkembang dalam kasus ini adalah ”ja’ nyare maleng mon sapena terro etemmowa” (jangan cari pencuri jika ingin sapi ditemukan). Kalaupun sapi ditemukan tidak gratis. Jika kehilangan sapi sepasang, biaya pencarian senilai sapi seekor. Benar sapi kembali semua, tapi uang yang keluar juga banyak. Abali sapasang elang settong gabay tebbusan.

Sapi yang kembali ke kandang itu tidak serta-merta datang sendiri. Pemilik harus mencari dan menjemput di suatu tempat atas petunjuk ”orang penting”. Orang penting ini saya duga tahu siapa sindikat pelaku. Sebab, kasus ini melibatkan banyak tangan. Bisa jadi terdiri atas mata-mata (tonju’), aktor yang mengeluarkan dari kandang, penerima di luar pekarangan, hingga penadah. Umur pelaku juga beragam. Bahkan, ada si belut licin masih seusia anak SMP.

Jika sapi ditemukan dan ada tebusan (atau mungkin biaya pencarian), berarti para aktor ini sebenarnya terdeteksi. Jaringan mana yang berulah kemungkinan besar diketahui. Mengapa tidak ditangkap dan diserahkan ke polisi? Saya tidak bisa menjawab. Saya bukan polisi. Tapi, mungkin juga karena kasus ini tidak ”dinaikkan”. Tidak dilaporkan atau tidak dipolisikan. Kalau dilaporkan, pasti diburu dan dijebloskan ke penjara.

Atau, bisa jadi ada alasan lain. Pemerintah desa tidak ingin mereka semakin berulah sehingga saleng patoro’ demi kondusivitas masyarakat. Mungkin mereka masih bisa dibina agar tidak mengulangi lagi. Tapi jika sudah keterlaluan, masyarakat kadang bertindak sendiri dengan cara masing-masing.

Tetapi, tidak semua pilkades dan masalah keamanan desa seperti itu semua. Banyak juga pelaku curwan yang dipenjara. Ada juga yang berulah lagi setelah bebas.

Tidak semua masalah harus diselesaikan melalui jalur hukum. Penyelesaian secara kekeluargaan juga bisa ditempuh.

Bagaimana hubungan sapi, pasar, dan lalu lintas? (*/bersambung)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news