alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kegagalan dan Kekecewaan Membawaku ke Eropa

Pilih RWTH Aachen Ikuti Jejak Habibie

Oleh RIZKY DWI KURNIAWAN

11 September 2021, 20: 32: 19 WIB | editor : Abdul Basri

BANGUNAN BERSEJARAH: Rizky Dwi Kurniawan foto di depan Brandenburger Tor atau Tembok Berlin

BANGUNAN BERSEJARAH: Rizky Dwi Kurniawan foto di depan Brandenburger Tor atau Tembok Berlin (RIZKY DWI KURNIAWAN FOR RadarMadura.id)

Share this      

Pihak imigrasi menuntut untuk menyelesaikan studienkolleg dan mendapatkan bangku kuliah dalam waktu dua tahun sejak kedatangan. Kiki hanya bisa mengikuti seleksi hanya pada dua periode. Yaitu semester musim dingin (winter semester) 2015 dan semester musim panas (summer semester) 2016. Jika tidak bisa mendapatkan bangku kuliah dalam dua tahun akan dideportasi dan kembali ke Indonesia.

PADA periode winter semester 2015, saat itu saya mendapatkan surat panggilan untuk mengikuti tes Aufnahmeprüfung dari 4 studienkolleg di 4 negara bagian yang berbeda. Dari empat tes yang saya ikuti, alhamdulillah pada periode pertama ini saya langsung berhasil mendapatkan satu tempat di Studienkolleg Hochschule Anhalt yang terletak di Kota Köthen.

Köthen merupakan sebuah kota kecil di negara bagian Sachsen-Anhalt. Kota Köthen sangat identik dengan komponis terkenal bernama Johann Sebastian Bach. Dia menciptakan cukup banyak karya di Kota Köthen. Di kota ini saya menetap selama satu tahun untuk menyelesaikan studienkolleg. Karena saya mengambil jurusan teknik, maka selama studienkolleg pelajaran yang saya dapatkan sama seperti ketika SMA jurusan IPA. Namun pelajaran biologi tidak saya dapatkan karena pelajaran tersebut dikhususkan untuk pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di bidang kesehatan.

Baca juga: DBS III Absen Subsidi Perintis

LUAS: Rizky Dwi Kurniawan berpose di Stadion terbesar di Jerman Olympiastadion Berlin.

LUAS: Rizky Dwi Kurniawan berpose di Stadion terbesar di Jerman Olympiastadion Berlin.

Materi yang diajarkan selama studienkolleg tidak berbeda jauh dengan pelajaran saya selama SMA. Namun, pendalaman materi yang diajarkan di sini lebih mendalam dan terfokus dibandingkan ketika saya SMA dan yang sangat berbeda tentu bahasa yang digunakan. Selama studienkollege, saya belajar banyak kosakata baru yang digunakan dalam ilmu sains di negara Jerman. Karena mengambil jurusan teknik, saya merasa sedikit bersyukur, karena pelajaran yang saya pelajari banyak berhubungan dengan angka, bukan kata.

Masa studienkolleg adalah masa saya beradaptasi dengan kultur belajar di Jerman. Selama SMA saya tidak cukup banyak belajar karena merasa ketika bisa mengejarkan soal latihan di sekolah berarti bisa mengerjakan soal ujian. Namun, di sini saya harus mengubah pola belajar saya. Setiap hari saya harus me-review apa yang telah saya pelajari. Hal ini saya lakukan karena soal ujian harian yang diadakan di studienkolleg saya memaksa untuk memahami materi, bukan hanya bisa mengerjakan soal setiap hari.

Hal ini yang sedikit banyak membuat teman-teman saya yang juga berasal dari Indonesia mengalami kesulitan. Akhirnya harus banyak mengulang semester. Bahkan, banyak yang di-DO dan dideportasi dari Jerman. Tahap studienkolleg merupakan seleksi alam pertama bagi pelajar asing di Jerman. Pelajar yang tidak mau berubah dan beradaptasi, akan membawa kegagalan.

Banyak pelajar yang sulit beradaptasi dengan kultur belajar Jerman. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kelulusan. Di studienkolleg, saya yang awalnya terdiri dari lima kelas hanya tersisa tiga kelas saja di semester II. Dan hanya dua kelas saja yang diperbolehkan untuk mengikuti ujian kelulusan. Namun, ternyata hal ini belum seberapa jika membandingkan dengan tingkat kelulusan di perguruan tinggi Jerman. Terutama di kampus-kampus favorit.

Pada Juni 2016, saya berhasil menyelesaikan studienkolleg secara tepat waktu dengan hasil memuaskan. Keberhasilan ini sedikit membuat saya lega karena berhasil melalui seleksi alam pertama bagi pelajar asing seperti saya. Dari studienkolleg ini saya mendapatkan zeugnis atau ijazah yang bisa saya gunakan untuk mendaftarkan diri ke kampus yang saya inginkan. Seleksi perguruan tinggi di Jerman hanya menggunakan seleksi nilai. Tidak ada ujian masuk lagi seperti ujian masuk (aufnahmeprüfung) ketika masuk ke studienkolleg.

Perguruan tinggi di Jerman dibagi menjadi dua. Faktor pembedanya adalah pembelajarannya. Ada yang berfokus pada teori dan ada yang fokus pada praktik atau pengaplikasian. Perguruan tinggi yang fokus pada praktik adalah fachhochschule atau dalam bahasa Inggrisnya university of applied science. Sedangkan yang berfokus pada teori adalah universität atau universitas.

Selain fokus pembelajaran, bisa dikatakan tujuan dari kedua universitas juga sedikit berbeda. Universitas bertujuan menciptakan mahasiswa yang dapat menciptakan sebuah innovasi di masa depan. Sedangkan di fachhochschule (FH) bisa dikatakan bertujuan menciptakan SDM yang baik untuk dunia Industri. Jika diperdalam, masih banyak lagi perbedaan antara kedua jenis perguruan tinggi tersebut. Namun, tetap memiliki keunggulan masing masing.

Meskipun bisa dibilang kedua jenis kampus tersebut setara, tapi tetap saja banyak yang mengatakan bahwa universität lebih bergengsi daripada fachhochschule. Namun sebenarnya memilih FH atau universitas semua bergantung kita mengenali diri kita masing-masing. Jika kita memang memiliki kemampuan berpikir yang cukup tinggi dan daya imajinasi yang tinggi, universität merupakan tempat yang cocok. Tetapi jika kemampuan logika dan berpikir kita tidak cukup tinggi, tapi mudah memahami praktik, fachhochshule adalah pilihan yang tepat.

Meskipun di Jerman bisa dibilang kualitas dan fasilitas semua kampus setara, namun tetap saja ada beberapa kampus yang terbilang spesial. Untuk kampus teknik ada sembilan kampus spesial yang termasuk dalam kategori TU9 atau technische universität 9. Kesembilan kampus ini dikatakan spesial karena banyak penelitian penting dan profesor hebat di kesembilan kampus tersebut. Namun dari kesembilan kampus ini, terdapat tiga kampus yang dikatakan sangat spesial dan menjadi favorit di Jerman. Ketiga kampus terebut adalah Technische Universität München (TUM), Karlsruher Institut für Technologie (KIT) dan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen (RWTH Aachen Universität).

Dari sembilan kampus yang masuk TU9 saya mendaftar di tujuh kampus. Dua di antaranya adalah KIT dan RWTH Aachen. Saya tidak mendaftar di TUM karena biaya hidup yang harus dikeluarkan di Kota München sangatlah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kota lain di Jerman. Maka, sejak awal saya tidak berkeinginan untuk berkuliah di Kota München.

Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan tempat di jurusan pilihan pertama di tujuh kampus yang saya daftarkan. Meskipun banyak teman saya yang menyarankan agar tidak masuk ke RWTH Aachen karena sangat susah sekali untuk lulus. Namun saya tetap memilih sebagai kampus tempat saya belajar. Alasannya tentu saja karena ingin mengikuti Pak Habibie. Orang tua pun dari awal sangat berharap saya bisa masuk ke sana.

Selain itu, sejak saya di studienkolleg saya percaya kemampuan tiap manusia berbeda. Belum tentu yang dikatakan orang lain susah itu susah juga bagi saya. Begitu pun sebaliknya. Karena itu, saya tetap percaya diri dan ingin membuktikannya sendiri. 

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news