alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Aruna Nathya Anindiar, Juara Pertama Bercerita MKAA Kemenlu RI

10 September 2021, 20: 24: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN:  Aruna Nathya Anindiar (tengah) diapit Kepala SDN Pangarangan 3 Sumenep Zainal (kiri) dan guru pembimbing Andi Lala menunjukkan penghargaan di sekolahnya kemarin.

MEMBANGGAKAN:  Aruna Nathya Anindiar (tengah) diapit Kepala SDN Pangarangan 3 Sumenep Zainal (kiri) dan guru pembimbing Andi Lala menunjukkan penghargaan di sekolahnya kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 tidak lantas menutup ruang siswa untuk berprestasi. Aruna Nathya Anindiar membuktikan dengan prestasi gemilang. Siswi kelas V SD itu menorehkan tinta emas di ajang lomba bercerita tingkat nasional.

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

MASYARAKAT Kabupaten Sumenep patut berbangga atas prestasi yang diraih Aruna. Nama gadis usia sebelas tahun itu bertengger sebagai juara tingkat nasional. Dia keluar sebagai juara satu lomba bercerita (storytelling) yang diselenggarakan Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Baca juga: Percepat Herd Immunity, SMAN 2 Pamekasan Gelar Vaksinasi Dosis Kedua

Siswa kelas V SDN Pangarangan 3 Sumenep itu memang dikenal salah satu pelajar berprestasi. Selain pandai dari sisi akademik, juga memiliki banyak bakat. Dara kelahiran 2010 lalu itu juga piawai dalam menyanyi dan menari.

Aruna adalah satu-satunya siswi yang pernah menyambut kunjungan Bupati Achmad Fauzi dengan lagu hits To The Bone Rabu lalu (18/8). Selama 2021, putri pasangan Achdiar Redy Setiawan dan Eka Findi Tresnawati ini dua kali meraih juara teratas lomba storytelling.

Kali pertama sekitar Mei lalu yang diselenggarakan Universitas Trunojoyo Madura. Kedua, bulan Juli lalu, lomba bercerita yang diselenggarakan MKAA Kemenlu RI. Dua event lomba storytelling itu juga diikuti secara virtual karena saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Pada dua ajang bergengsi itu, Aruna keluar sebagai juara pertama. Berkat prestasinya itu, Aruna diundang khusus oleh Kemenlu untuk kembali menampilkan kemampuannya pada Senin lalu (6/9) secara virtual.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu membagikan pengalamannya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin (10/9). Persiapan mengikuti lomba itu amat mepet. Informasinya didapat tiga hari sebelum pelaksanaan. Karena itu, butuh persiapan ekstra cepat.

Hari pertama nulis naskah. Hari kedua menaklukkan naskah. Hari ketiga langsung pengambilan (take) gambar. Menurut Aruna, cerita lomba kali ini harus disampaikan lebih diplomatis. Tidak seperti lomba yang diikuti sebelumnya yang biasanya bercerita dengan tema lebih dalam nuansa anak.

Pada lomba ini Aruna mengusung tema Indonesiaku Pahlawan Dunia. Situasi yang mepet ini bisa dimanfaatkan secara maksimal karena Aruna sudah berpengalaman dalam lomba yang sama.

”Kalau untuk lomba yang terakhir persiapannya sangat mepet. Karena sudah ada pengalaman sebelumnya, akhirnya tinggal mengembangkan,” jelasnya.

Perempuan yang bercita-cita ingin menjadi diplomat itu mengaku keterampilan berbicara di depan umum tidak serta-merta mudah dilakukan. Apalagi, harus tampil dalam event bergengsi. Semua butuh proses latihan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Bahkan, sebelum dirinya tahu bahwa akan ada kesempatan tampil di kancah nasional, beragam cara latihan dilakukan. Mulai menampilkan diri di depan orang tua, teman kelas, hingga berbicara di depan cermin. Semua itu dilakukan untuk melatih kemampuan mengutarakan pendapat di depan umum.

Aruna mendapat dukungan yang luar biasa dari keluarga. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah menekankan untuk maju di salah satu bidang tertentu. ”Yang penting positif, pasti didukung,” ucap adik Agatha Neysha Anindiar dan kakak Achdara Nahda Anindiar itu.

Andi Lala, guru pembimbing Aruna menyampaikan, pendelegasian siswa untuk mengikuti event melalui seleksi. SDN Pangarangan 3 memiliki program deteksi potensi sejak sistem pembelajaran daring selama pandemi Covid-19.

Pihak sekolah meminta masukan wali murid secara virtual terkait kemampuan masing-masing siswa. Dari situlah siswa mendapat pembinaan khusus. Setelah dilakukan pembinaan, tugas pembina mencari tahu adakah event yang bisa diikuti siswanya.

Andi menilai, Aruna memang memiliki banyak skill. Perkembangannya juga cukup pesat. Namun, Andi berharap Aruna tidak mudah puas dengan capaian yang diperoleh saat ini. ”Terus belajar dengan giat,” pesannya.

Sementara itu, Achdiar Redy Setiawan mengungkapkan, orang tua hanya fasilitator. Dalam mendidik anak, dia mengarahkan setiap bakat potensi masing-masing. Selain itu, dia membiasakan menyediakan bahan bacaan yang banyak untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan literasi.

”Kalau pulang dari Bangkalan atau Surabaya saya pasti mampir ke toko buku. Saya belikan cerpen, novel, dan bahan bacaan anak,” katanya.

Dia mengaku tidak mendikte anak menekuni bidang tertentu. Dia hanya menyuruh buah hati mencoba bidang akademik dan nonakademik. Menurut dia, kemampuan otak kanan dan otak kiri harus seimbang. ”Selain akademik, ada juga seni,” imbuh dosen penggandrung seni itu.

(mr/jun/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news