alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Nurul Hakiki, Remaja 16 Tahun Hanya Bisa Terbaring sejak Lahir

Semoga Kelak Menjadi Perantara Masuk Surga

09 September 2021, 19: 18: 44 WIB | editor : Abdul Basri

BUTUH ULURAN TANGAN: Kiki saat berbaring di ruang tengah rumahnya di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, kemarin.

BUTUH ULURAN TANGAN: Kiki saat berbaring di ruang tengah rumahnya di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, kemarin. (MOH. IQBAL AFGANI/RadarMadura.id)

Share this      

Gumpalan daging di atas kepala membuat Kiki tidak leluasa bergerak. Selama belasan tahun dia hanya terbaring. Pernah dibawa ke rumah sakit. Tapi, keluarga terkendala biaya.

MOH. IQBAL AFGANI, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

KIKI itu baru selesai mandi ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) sampai pukul 07.15 kemarin (8/9). Aroma wangi semerbak tercium di ruang tengah. Kiki memang biasa mandi pagi.

Baca juga: Belanja TIK DAK SD Melenceng

Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu menemani Kiki yang sedang berbaring beralaskan kasur di samping meja tamu. Remaja 16 tahun itu memang belum tidur saat JPRM menemuinya. Ibunda remaja bernama lengkap Nurul Hakiki itu sangat ramah ketika mempersilakan JPRM  masuk.

Keluarga Kiki tinggal di rumah yang berseberangan dengan lahan pertanian di wilayah utara Pamekasan. Tepatnya, di Dusun Tlangi I, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru. Dari arah Kota Pamekasan butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai. Akses jalan menuju rumah Kiki hanya bisa dilalui oleh motor sekitar 500 meter dari Jalan Raya Waru.

Rumah mungil dengan luas sekitar 40 meter persegi itu dibagi menjadi dua bagian. Di ujung timur adalah rumah Kiki bersama keluarga. Sementara di ujung barat bersebelahan dengan musala rumah almarhum pamannya.

Dengan warna cat biru muda membuat rumah itu semakin elok dipandang meski tidak terlalu mewah. Halaman sempit di depan rumah digunakan untuk menjemur pakaian dan hasil pertanian seperti bawang.

Di ruang tamu, kursi dan lemari berbahan kayu menghiasi rumah sederhana itu. Selain itu, kasur berukuran satu setengah meter digunakan Kiki untuk beristirahat. Selain itu, ada kamar yang digunakan untuk tempat beristirahat orang tua Kiki dan kakaknya ketika pulang dari rantau.

Kiki merupakan anak bungsu pasangan Ahmadi dan Sumiatul Mukarromah. Aktivitas Ahmadi membantu mengajar di salah satu madrasah diniah tak jauh dari rumahnya. Selain mengajar, dia bertani. Sementara ibu, hanya mengurus kebutuhan keluarga.

Pasangan suami istri ini memiliki dua anak. Si sulung bernama Kholilur Rohman. Dia merantau bersama sepupunya. Penghasilan yang dimiliki cukup untuk makan dan membiayai kebutuhan keluarga di Madura.

Ahmadi menuturkan, si bungsu memang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir. Terdapat gumpalan daging yang tumbuh di atas kepala Kiki yang membuatnya tidak bisa leluasa bergerak selain berbaring di atas kasur.

”Awalnya Kiki sempat kami bawa ke rumah sakit. Namun, terkendala dengan biaya. Saya juga takut terjadi apa-apa kepada Kiki jika dilakukan operasi,” tuturnya.

Ahmadi bersyukur masih bisa merawat anaknya itu. Meski terkadang muncul perasaan iba akibat kondisi Kiki yang tidak bisa tumbuh sebagaimana anak seumurannya. Bagaimanapun, kata dia, Kiki juga berhak untuk hidup normal dan bahagia.

Kemampuan berbicara Kiki juga tidak seberapa. Dia hanya mengerti yang orang lain maksud, namun sulit untuk menanggapi. Secara ilmiah, belum tercatat pasti penyakit yang diderita Kiki.

”Tidak bisa apa-apa selain berbaring. Duduk pun juga tidak bisa karena kondisi kepalanya itu,” terangnya.

Keluarga Kiki berharap anaknya itu bisa sembuh. Mereka percaya tidak ada yang tidak mungkin bagi Yang Mahakuasa. Sehingga, doa-doa baik selalu mereka panjatkan demi kebaikan anak bungsunya itu.

Meski mengalami keterbatasan fisik, Ahmadi selalu mengajarkan anaknya itu tentang ilmu agama. Dengan begitu, kelak kewajiban orang tua terhadap anak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

”Saya tidak bisa memberikan apa-apa terhadap anak kami ini selain pengetahuan agama. Semoga kelak bisa menjadi perantara kami masuk surga-Nya,” harap Ahmadi dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan Mochammad Tarsun melalui Pendamping Disabilitas Putri Ayunita Sari mengakui Kiki belum tersentuh bantuan pemerintah. Dia berjanji akan mengajukan untuk mendapatkan bantuan.

(mr/luq/bil/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news