alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya
Sapi, Hewan Berharga bagi Orang Madura (2)

Salah Satu Simpul Kehidupan Masyarakat Guyub

05 September 2021, 18: 28: 26 WIB | editor : Abdul Basri

Salah Satu Simpul Kehidupan Masyarakat Guyub

Share this      

Manfaat sapi bagi pertanian tidak hanya untuk menarik bajak menggemburkan tanah. Sapi sekaligus menjadi simpul kehidupan masyarakat yang guyub. Saat fungsi sapi tergantikan mesin, pada saat itu pula banyak pekerjaan hilang.

KEBIJAKAN pertanian berhasil mendorong percepatan produksi. Tawaran modernitas kadang memang menggiurkan karena bisa menghemat biaya dan mempercepat penyelesaian kerja.

Di sektor pertanian misalnya. Pergantian sapi ke mesin telah banyak mengubah pola hidup masyarakat agraris. Penggunaan mesin bisa menghemat biaya dan mempercepat pekerjaan.

Baca juga: BPBD Tak Jangkau Wilayah Kepulauan

Salah satu contoh pengolahan lahan sebelum cocok tanam. Waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk membajak akan terpaut jauh antara menggunakan tenaga sapi dengan mesin hand tractor.

Di sisi lain, penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) dapat memutus mata rantai kebudayaan masyarakat agraris. Atau setidaknya menggeser pola hidup dan kehidupan masyarakat petani.

Jika sapi diganti mesin, otomatis akan mengurangi jenis sape lako. Selain itu, seperangkat alat pertanian akan dilupakan. Sebab, dengan sapi, petani bisa membajak (asaka’/ananggala) dan nyalaga.

Nanggala dan salaga akan digantung karena fungsinya sudah tergantikan oleh hand tractor. Jika nanggala dan salaga digantung, otomatis tidak akan beli yang baru karena tidak rusak terpakai. Bila tidak ada yang beli, berarti perajin terancam gulung tikar. Jika hasil kerajinan itu tidak laku, perajin akan berhenti dan beralih penghasilan baru. Pedagang penyedia peralatan pertanian itu juga akan gulung tikar.

Dengan nanggala dan salaga banyak yang diuntungkan. Seperangkat bajak terdiri atas jiggan, cabang, to’-bunto’, pangonong, pameccot, tongkos/barungso’, dan beberapa perangkat lain.

Modernitas mempercepat penyelesaian suatu pekerjaan sekaligus memangkas jumlah tenaga manusia. Mesin telah merampas tenaga manusia. Jika ini disebut kemajuan sektor pertanian, sejatinya juga menggali lubang pengangguran. Banyak tenaga kerja tidak terpakai.

Jika sebelumnya membajak sepetak sawah menggunakan dua pasang sapi bisa setengah hari, jika menggunakan hand tracktor akan selesai hanya dalam hitungan jam. Mesin itu bahkan bisa menyelesaikan beberapa petak sawah dalam sehari. Pemilik sawah terima jadi, tanah gembur hanya dengan mengeluarkan ongkos, yang kadang tak perlu engon (makan).

Berkurangnya fungsi sapi untuk pertanian juga menggerus jumlah petani memelihara hewan tersebut. Dengan begitu juga mengurangi jumlah kandang. Kandang itu dalam kehidupan masyarakat tradisional dibangun dan diperbaiki dengan gotong royong.

Jika petani tidak memelihara sapi, rumput liar di sawah akan terbuang sia-sia. Jika petani tidak memelihara sapi, penyubur tanah akan menggunakan pupuk kimia dari pabrik.

Tapi, tidak semua petani seperti itu. Ada petani punya sawah tidak memelihara sapi. Ada petani memelihara sapi tapi tidak untuk membajak sawah. Mereka memelihara sapi hanya karena tidak ingin rumput terbuang sekaligus bisa memanfaatkan pupuk kandang. Sapi yang dipelihara tidak untuk dimanfaatkan tenaganya, melainkan untuk tabungan. Biasanya beli empe’ atau jagir lalu dijual ketika jadi pangorbi atau pajanten.

Ada pula petani yang menjual sapi bukan karena fungsinya yang telah tergantikan oleh mesin. Ada yang menjual sapi karena desanya tidak aman. Hidup jadi tidak tenang. Tidur tidak bisa nyenyak.

Tiap malam nyaris ada warga yang kehilangan sapi. Lebih-lebih saat menjelang dan setelah pemilihan kepala desa (pilkades). (*/bersambung)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news