alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kegagalan dan Kekecewaan Membawaku ke Eropa

Ambil Keputusan Gila Yang Tidak Berdasar

Oleh RIZKY DWI KURNIAWAN

04 September 2021, 20: 04: 42 WIB | editor : Abdul Basri

SAUDARA BARU: Rizky Dwi Kurniawan foto pertama bersama teman-teman di Central Station Frankfurt.

SAUDARA BARU: Rizky Dwi Kurniawan foto pertama bersama teman-teman di Central Station Frankfurt. (RIZKY DWI KURNIAWAN FOR RadarMadura.id)

Share this      

SEPERTI judul di atas, perjalanan saya ke Eropa merupakan hasil dari kegagalan dan kekecewaan saya. Sebelum menceritakan kisah ini, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya adalah Rizky Dwi Kurniawan atau lebih dikenal dengan panggilan Kiki. Saya merupakan putra asli Kamal, Bangkalan, yang baru saja menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang teknik industri yang berfokus pada energi listrik di RWTH Aachen University Jerman. Saat ini yang sedang menempuh pendidikan S-2 di bidang dan kampus yang sama. RWTH Aachen University merupakan tempat Presiden Ketiga Republik Indonesia Bapak Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie menempuh pendidikannya.

Melanjutkan kuliah ke Jerman awalnya tidak pernah terbesit di pikiran saya. Jangankan memikirkan untuk kuliah ke Eropa, memimpikannya saja saya tidak pernah. Keputusan saya untuk pergi ke Eropa saya ambil setelah lulus SMA pada 2014. Tepatnya di saat saya gagal untuk mendapatkan tempat di jurusan dan kampus Indonesia yang saya inginkan. Namun sebenarnya alasan terbesar saya untuk ke Eropa adalah kekecewaan.

Kekecewaan terhadap sistem di Indonesia di mana seharusnya sebuah lembaga yang berperan penting dalam pengembangan SDM dan para penerus bangsa malah memberikan contoh yang tidak semestinya, dengan memberikan penilaian yang tidak objektif. Seharusnya kemampuan finansial dan keturunan tidak boleh dijadikan aspek penilaian. Namun kenyataannya kedua aspek ini menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi penilaian mereka. Keputusan saya ke Eropa membuat saya harus melalui banyak sekali rintangan dan kegagalan. Keputusan yang hingga sekarang kadang sering saya sesali, namun tetap saya syukuri.

Baca juga: Hasil Penyelidikan Polisi terkait Kasus Penipuan Online

BERANGKAT MENIMBA ILMU: Rizky Dwi Kurniawan foto bersama keluarga saat keberangkatan pertama ke Jerman pada 2015.

BERANGKAT MENIMBA ILMU: Rizky Dwi Kurniawan foto bersama keluarga saat keberangkatan pertama ke Jerman pada 2015. (RIZKY DWI KURNIAWAN FOR RadarMadura.id)

Melanjutkan kuliah S-1 di Jerman nyatanya tidak semudah seperti yang saya bayangkan. Rintangan pertama yang harus saya lalui adalah mendapatkan visa pelajar dari Pemerintah Jerman. Salah satu persyaratan terberat adalah kemampuan saya berbahasa Jerman. Syarat ini merupakan syarat mutlak yang harus saya penuhi, karena dalam kehidupan dan perkuliahan saya nanti seluruhnya menggunakan bahasa Jerman.

Di sinilah masalah terbesar saya dimulai, karena saya merupakan anak yang sangat kesulitan sekali untuk belajar bahasa asing. Jangankan bahasa Jerman, bahasa Inggris yang sudah saya pelajari sejak SD pun saya masih merasa sangat kesulitan hingga saat ini. Di sinilah saya mulai merasa bahwa keputusan yang saya ambil adalah keputusan gila yang tidak berdasar. Namun pada saat itu saya teringat kisah seorang tokoh bernama Ippho Santosa yang dulu juga memiliki masalah dalam belajar bahasa asing, namun akhirnya dia berhasil menguasai bahasa asing tersebut dan menjadi seorang pembicara yang fasih berbasaha asing.

Beliau menyampaikan pada sebuah seminar yang rekamannya sering saya dengarkan semasa kecil bahwa kadang kala kita perlu memaksa diri kita untuk terjun ke sebuah lingkungan yang mendesak kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai agar kita bisa menaklukannya. Dan dari kisah beliau akhirnya membuat diri saya masuk ke dalam kondisi yang memaksa untuk bisa berbahasa asing dengan baik jika ingin terus bertahan. Akhirnya setelah hampir satu tahun belajar bahasa Jerman, sertifikat bahasa Jerman level B1 berhasil saya dapatkan.

Pada Mei 2015 saya berhasil memenuhi segala persyaratan untuk mengajukan visa pelajar ke Kedutaan Jerman. Setelah menunggu hampir sebulan lamanya pada tanggal 12 Juni 2015 saya mendapatkan kabar dari kedutaan Jerman bahwa pengajuan visa saya diterima. Sungguh lega rasanya, karena beberapa hari sebelumnya pengajuan visa beberapa teman saya mendapatkan penolakan karena berbagai alasan.

Akhirnya, pada 20 Juni 2015 petualangan dan perjuangan seorang anak muda kampung berusia 19 tahun di benua Eropa dimulai. Saya bersama 12 teman mendarat di Kota Frankfurt. Dari Frankfurt, kami melanjutkan perjalan ke Kota Heidelberg menggunakan kereta. Heidelberg merupakan kota pertama yang saya tinggali bersama teman-teman saya untuk melanjutkan belajar bahasa Jerman ke level C1 dan melakukan persiapan untuk berkuliah di Jerman.

Heidelberg adalah salah satu kota wisata yang ada diJ erman. Schloss atau kastil sisa masa kerajaan dulu menjadi ikon kota tersebut. Di kota inilah perjuangan saya untuk mendapatkan tempat di universitas Jerman dimulai.

 Sebagai pelajar Indonesia yang hanya membawa ijazah SMA ,saya tidak bisa langsung mengikuti seleksi perguruan tinggi di Jerman. Karena standardisasi pendidikan Jerman dan Indonesia tidak sama. Salah satu perbedaannya adalah masa sekolah SD hingga SMA di Jerman ditempuh selama 13 tahun. Sedangkan di Indonesia hanya 12 tahun. Sehingga dimungkinkan ada perbedaan kompentensi antara Jerman dan Indonesia.

Karena itu, sebelum mengikuti seleksi perguruan tinggi di Jerman, saya terlebih dulu mengikuti seleksi sekolah penyetaraan atau yang disebut studienkollege. Namun untuk mendapatkan tempat di sekolah penyetaraan ini kita harus mengikuti tes aufnahmeprüfung atau tes penerimaan pelajar baru. Pada tes ini kita bersaing dengan pelajar lain dari negara di luar Uni Eropa seperti Tiongkok, Korea, Rusia, dan lain-lain. Pelajaran yang diujikan pada tes tersebut berbeda-beda. Bergantung jurusan yang ingin kita ambil.

Penjurusan pada studienkollege dibagi menjadi empat. Yaitu Medizin atau Kesehatan, Teknik, Wirtschaft atau Ekonomi, dan Sozialwirtschaft atau ilmu sosial. Karena saya berencena untuk mengambil jurusan teknik, maka saya mengambil ujian studienkollege T-Kurs (Teknik kurs). Pelajaran yang diujiankan pada Aufnahmeprüfung adalah bahasa Jerman dan matematika. Tingkat kesulitan pada tes ini bukan terletak pada soal yang diujikan, namun pada tingkat persaingan.

Jerman merupakan salah satu negara yang membuka pintunya selebar mungkin untuk calon mahasiswa dari negara lain. Tidak hanya membuka pintunya saja. Tapi mereka juga memfasilatasi mahasiswa-mahasiswa asing dengan memberikan biaya kuliah gratis pada mahasiswa-mahasiswa asing yang berkuliah di kampus Jerman. Alasan inilah yang membuat semakin hari semakin banyak pelajar dari berbagai negara yang datang ke Jerman. Sehingga membuat tingkat persaingan masuk studienkollege semakin hari semakin ketat.

Sama halnya seperti ujian sekolah, ujian studienkollege diadakan di tiap-tiap sekolah. Studienkollege di Jerman jumlahnya tidak terlalu banyak, dan makin hari makin sedikit. Sangat berkebalikan dengan jumlah pelajar yang datang yang semakin hari semakin banyak. Studienkolleg di Jerman biasanya hanya ada 1 hingga 3 sekolah pada setiap negara bagian.

Saat ini Jerman terdiri dari 16 negara bagian. Setiap studienkollege biasanya hanya menyediakan 3 hingga 5 kelas. Setiap kelas hanya tersedia 20-30 kursi. Jumlah yang sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan pelajar yang mengikuti tes pada setiap semesternya yang mencapai ribuan orang. 

Tekanan saya pada saat itu sangatlah kuat. Selain dari tekanan tes, juga tekanan dari pihak imigrasi. Pihak imigrasi menuntut untuk menyelesaikan studienkollege dan mendapatkan bangku kuliah dalam waktu 2 tahun sejak kedatangan saya di Jerman. Artinya saya hanya bisa mengikuti seleksi hanya pada 2 periode. Yaitu, winter semester 2015 dan summer semester 2016. Jika tidak bisa mendapatkan bangku kuliah dalam 2 tahun, maka saya akan dideportasi dan kembali ke Indonesia dan harus menutup mimpi saya untuk bisa berkuliah di Jerman.

(mr/*/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news