alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Ningsih, Ibu Rumah Tangga Berjuang Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Sejak Kecil Anak Lumpuh, dan Suami Stroke

31 Agustus 2021, 18: 55: 10 WIB | editor : Abdul Basri

PERLU BANTUAN: Ningsih sedang bersama anaknya, Muhammad Risqiawan, di rumahnya.

PERLU BANTUAN: Ningsih sedang bersama anaknya, Muhammad Risqiawan, di rumahnya. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

Ningsih sekuat tenaga mencoba tegar. Tapi, raut mukanya tidak dapat menyembunyikan beban hidup yang begitu berat. Dia saat ini menjadi tulang punggung keluarga.

MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

”Eatore alenggi (silakan duduk),” kata Ningsih menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Madura di sebuah rumah di Dusun Tengah, Desa Trasak, Kecamatan Larangan, Sabtu (28/8). Siang itu dia menyiapkan dan membereskan kursi yang berserakan di emperan rumah.

Baca juga: Airlangga: 28,8 Juta Keluarga Telah Menerima Bantuan Beras 10 Kilogram

Di sudut utara rumah itu, terlihat seorang pria duduk di kursi. Dia Hosnan Asmoro, suami Ningsih. Saat koran ini mendekat, dia hanya bisa mengulurkan tangan. Ternyata pria kelahiran 1966 tersebut dalam kondisi stroke.

Sementara Ningsih terlihat sibuk keluar masuk rumah sembari membawa makanan dalam piring. Makanan itu untuk anaknya, Muhammad Risqiawan. Buah hatinya lumpuh sejak masih bayi.

Ningsih menyuapi Risqi di kamar, tempat anaknya berbaring. Setelah memberi makan, lalu buah hatinya tersebut dibopong keluar. Dia hanya bisa menatap ke atas dan sesekali bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Sesekali dia juga tersenyum.

”Anak saya ini lumpuh sejak lahir. Ini kembar dan saudaranya meninggal pas lahir,” tutur Ningsih.

Selain lumpuh, anaknya juga tidak bisa berbicara. Dengan kondisi itu, Ningsih harus mengatur jam makan. Sehari tiga kali.

”Saya harus ngerti sendiri. Sebab, meskipun dia tidak diberi makan, dia hanya diam. Tapi kalau dia sudah melihat saya bawa makanan, pasti tersenyum,” ujarnya.

Perempuan kelahiran 1980 tersebut harus memenuhi kebutuhan keluarga seorang diri. Untuk kebutuhan diri sendiri, suami, anak. Selain asupan makan, dia harus memenuhi kebutuhan susu Risqi. Sebab, selain itu tidak mau makan.

”Saya belinya setiap minggu, jadi banyak uang yang harus saya keluarkan. Lain lagi untuk biaya anak saya yang lain yang usianya masih kecil,” ungkapnya.

Dalam kondisi tersebut dirinya juga harus menjadi tulang punggung keluarga. Itu disebabkan suaminya tidak bisa mencari nafkah. Berhubung kondisi kesehatannya terganggu. ”Suami saya sudah lama stroke. Jadi tidak bisa bekerja. Terpaksa saya yang berusaha untuk mencari nafkah untuk suami dan anak-anak saya,” ucapnya.

Untuk mencari nafkah, Ningsih hanya menunggu masyarakat yang akan memakai jasanya.  Dirinya bekerja sebagai penjahit rumahan. ”Seperti memermak atau memperbaiki baju gitu. Kadang dapat Rp 25 ribu. Kadang ya tidak dapat sama sekali,” ucapnya.

Beruntung untuk kebutuhan jajan anak-anaknya terkadang dibantu oleh neneknya. Sebab, dirinya sering tidak memiliki uang. ”Sampai saat ini belum ada bantuan sama sekali kepada kami,” ucapnya.

Muhammad Risqiawan bukan satu-satunya buah hati Ningsih. Selain punya saudara kembar meninggal, dia juga kakak dan adik. Risqi lahir pada 5 Juli 2004. Kakak Risqi bernama Hendi Ferdian. Dia lahir pada 26 Februari 2000. Sementara adiknya, Muhammad Nur Ilmi Ridaullah lahir pada 16 Oktober 2013.

Kepala Dinsos Pamekasan Moch. Tarsun mengaku siap memberikan bantuan kepada anak yang lumpuh tersebut. Hal itu sebagai wujud kepedulian pemerintah kepada masyarakat tidak mampu. Apalagi memiliki penyakit tertentu. ”Akan kami cek dan silakan kirim alamatnya kepada kami,” janji mantan Kadisdik Pamekasan itu.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news