alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya
Sapi, Hewan Berharga bagi Orang Madura (1)

Bantu Pekerjaan hingga Naikkan Kehormatan

29 Agustus 2021, 20: 09: 54 WIB | editor : Abdul Basri

Bantu Pekerjaan hingga Naikkan Kehormatan

Share this      

Bagi orang Madura, sapi bukan sekadar hewan peliharaan biasa. Binatang berkaki empat itu sangat berharga bagi kehidupan mereka. Bisa membantu pekerjaan, memenuhi kebutuhan, hingga menaikkan gengsi bagi yang punya.

PERINTAH seorang camat agar kepala desa mencuri sapi warga yang enggan divaksin menyulut perhatian banyak orang. Pernyataan itu bermasalah karena tiga hal.

Pertama, ada kata perintah mencuri. Kedua, masalah kemauan warga untuk disuntik vaksin. Ketiga, berkenaan dengan sapi, hewan yang sangat berharga.

Baca juga: Lestarikan Nilai Budaya Taneyan Lanjang

Soal kata ”keco’ sapena” sepertinya tidak murni ucapan camat. Kalau dalam dunia tulis-menulis, dia hanya mengutip pernyataan orang lain. Dalam hal ini bupati, atasan camat. Saya tidak akan menduga-duga, apakah benar camat hanya mengutip atau salah memahami sumber rujukan.

Masalah kedua soal antusiasme warga untuk divaksin. Memang banyak yang tidak mau dengan berbagai alasan. Terutama terpengaruh informasi simpang siur yang menyebutkan banyak orang mati karena divaksin. Pemerintah mestinya bisa membuktikan bahwa orang yang mati setelah divaksin bukan karena disuntik. Suguhkan data bahwa orang yang tetap sehat setelah divaksin jauh lebih banyak. Masyarakat perlu diberi pemahaman. Jangan dibiarkan liar.

Masalah ketiga soal sapi. Saya lebih tertarik membedah ini. Terima kasih, Pak Camat. Anda telah mengingatkan saya pada sapi. Mereka yang marah atas pernyataan Anda itu karena cinta pada sapi. Mereka tersinggung karena mengerti betapa penting hewan yang satu ini bagi kehidupan.

Setidaknya ada lima jenis sapi bagi orang Madura. Tapi ingat, tidak semua orang Madura punya sapi! Lima jenis sapi itu meliputi sape lako, sape daging, sape kontheng, sape sono’, dan sape kerrap. Pemilik sapi masing-masing jenis itu berbeda. Cara pemeliharaan dan perlakuan juga tidak sama.

secara harfiah, sape lako bisa dimaknai sapi untuk kerja. Sapi ini biasanya dipelihara oleh petani untuk membajak lahan pertanian. Mereka beternak dan bertani sekaligus. Dua pekerjaan yang saling terkait dan menguntungkan.

Tenaga sapi digunakan untuk membajak sawah. Sementara rumput di sawah diarit untuk pakan sapi. Selanjutnya, kotoran sapi dikembalikan ke sawah untuk pupuk. Kata mereka, eman jika bertani tak memelihara sapi karena rumput dan kotoran terbuang sia-sia.

Karena dibutuhkan tenaganya, biasanya sape lako dipelihara hingga besar. Berbeda dengan jenis sape kontheng. Sapi ini dipelihara untuk tabungan. Biasanya, beli empe’ buru mesa, lalu dipelihara untuk beberapa bulan. Setelah diperkiraan dapat hasil, sapi kecil itu dijual lagi. Uang hasil penjualan itu dibelikan empe’ buru mesa lagi. Begitu seterusnya.

Berbeda dengan sape daging atau sapi pedaging alias sapi potong. Sapi ini dipelihara memang dibuat gemuk untuk disembelih. Atau, dipelihara agar gemuk dan dijual. Lalu, disembelih untuk dikonsumsi. Ada yang dijual lagi dan ada yang digunakan untuk gabay/karja atau untuk keperluan kurban.

Kemudian, ada jenis sape sono’. Ada yang menyebut sape pajang atau sape lottrengan. Umumnya, sapi betina itu dipelihara demi kecantikan dan gerak tubuhnya yang seirama dengan musik saronen. Pencinta sape sono’ orang-orang tertentu. Tentu saja harus berduit.

Berbeda dengan sape kerrap. Sapi jantan ini dipelihara agar sehat, kuat, dan lari cepat. Pemilik sapi ini juga harus tebal dompet. Sebab, biaya pemeliharaan sapi jenis ini tidak sedikit. Sampai-sampai ada istilah orengnga la-ngalae ka sapena. Berapa pun uang akan dikeluarkan untuk sapi.

Semua itu terbayar jika sapi yang dipelihara jadi juara. Lebih-lebih juara Piala Presiden. Pemiliknya akan terkenal. Otomatis akan melejitkan derajat dan gengsi si pemilik. Terutama di komunitas sesama pencinta sape kerrap.

Selain tanah dan emas, aset berharga orang Madura adalah sapi. Lalu, bagaimana kehidupan petani setelah bajak sapi tergantikan mesin? (bersambung/*)

 

LUKMAN HAKIM AG.

Wartawan Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news