alexametrics
Jumat, 24 Sep 2021
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Membaca Sangkol

oleh: KHAIRUL UMAM*

29 Agustus 2021, 20: 04: 13 WIB | editor : Abdul Basri

PERTAHANKAN TANAH SANGKOL: Warga nahdliyin menggelar istigotsah upaya penyelamatan alih fungsi di Desa Badur, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Selasa, 8 Oktober 2019.

PERTAHANKAN TANAH SANGKOL: Warga nahdliyin menggelar istigotsah upaya penyelamatan alih fungsi di Desa Badur, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Selasa, 8 Oktober 2019. (KHAIRUL UMAM FOR RadarMadura.id)

Share this      

BAGI orang Madura, kata sangkolan adalah sesuatu yang tidak asing. Hal ini bukan saja karena sering terdengar di berbagai kesempatan berkumpul. Dalam kata tersebut juga terkandung misteri berupa tulah dan tuah. Saat mendengar kata sangkol, dalam benak kita, tidak hanya tergambar barang atau harta milik leluhur. Namun, juga senyum dan kemarahan yang empunya meski akhir-akhir ini hal itu sudah mulai samar-samar, bahkan pudar. Antara sangkol dan bukan seperti tidak ada lagi sekat pembeda.

Terlepas dari perkembangan yang terjadi dan ketidakpercayaan yang juga mulai menggema, saya rasa tetap penting mencoba merenungi kembali kata sangkol yang sudah dicetuskan entah kapan oleh leluhur kita (baca: Madura). Setidaknya, ada dua alasan mengapa hal itu saya rasa penting. Pertama, manusia Madura adalah penyuka simbol. Mereka hidup bersama simbol-simol yang diciptakan, baik berupa mitos, ritual, maupun parebasan-parebasan. Kedua, simbol adalah pencapaian tertinggi manusia sehingga kita bisa beradab. Dalam bukunya, Manusia dan Kebudayaan, Ernst Cassirer pun menegaskan bahwa perbedaan manusia dan binatang terletak pada simbol yang dimilikinya (baca: bahasa).

Menurut Bapak Taufiq, kata sangkol merupakan akronim dari dua frasa: epanyagsang epapekol. Ia mengandung pengertian bahwa sangkol merupakan harta benda leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bisa berupa sebidang tanah, rumah, keris, dan harta lainnya, pun termasuk kitab-kitab yang dimiliki. Berdasar frasa di atas, sangkolan yang diterima adalah amanah yang perlu dijaga dan dipikul oleh penerima. Sangkol bukan sekadar pemberian cuma-cuma yang lepas begitu saja dari pemilik pertama.

Baca juga: Jadi Legislator Remaja Wakili Madura

JAGA WARISAN LELUHUR: Sejumlah kiai memimpin istigotsah di Desa Badur, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Selasa, 8 Oktober 2019.

JAGA WARISAN LELUHUR: Sejumlah kiai memimpin istigotsah di Desa Badur, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Selasa, 8 Oktober 2019. (KHAIRUL UMAM FOR RadarMadura.id)

Dalam kepercayaan masyarakat Madura, roh leluhur akan terus mengujungi anak cucunya minimal setiap Kamis malam. Mereka pulang dan melihat dari jarak yang begitu dekat apa saja yang sedang dilakukan oleh anak cucu mereka di dunia. Jika melakukan hal yang baik dan mengirimkan doa-doa kepada leluhurnya, mereka akan pulang dengan bangga dan senang. Jika sebaliknya, mereka pulang dengan kusut dan wajah masam. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa sebagaimana semasih hidup. Satu-satunya kekuatan mereka adalah doa. Bukankah doa orang meninggal bagi orang yang masih hidup mustajab?

Lalu, apa hubungannya dengan sangkolan? Nah, kira-kira begini runutannya. Sebagai sesuatu yang ditinggalkan dan di-sangkol-kan oleh leluhur, tugas kita hanyalah menjaga sebaik mungkin sebagaimana leluhur kita dulu menjaganya. Apalagi bisa mengembangkannya menjadi lebih baik karena pada dasarnya harta atau apa pun yang di-sangkol-kan bukanlah milik kita secara mutlak. Ia hanya titipan yang harus dijaga dan dipelihara. Leluhur kita secara fisik tidak mungkin kembali hidup dan harta itu sudah benar-benar dimiliki kita dengan cara diwariskan. Namun, secara batin, orang Madura tetap meyakini bahwa mereka masih terkait dengan leluhur sebelumnya.

Dari hal ini lahirlah kata tulah, tuah, dan barokah. Sebab, sangkolan sangat erat kaitannya dengan sebidang tanah. Orang Madura sering kali meletakkan makam leluhurnya di tanah yang di-sangkol-kan untuk memperbesar rasa tanggung jawab dan mempererat rasa diawasi. Hal ini pulalah yang menurut Bambang bahwa tanah di Madura tidak hanya sekadar bermakna ekonomi, tapi juga spiritual.

Ketika anak cucunya memperlakukan sangkolan tersebut dengan semena-mena seperti menelantarkan begitu saja, menjual karena nilai tukarnya yang fantastis, sudah pasti leluhur yang kita yakini masih bersama anak cucu mereka akan kecewa dan sangat mungkin mereka akan abasto kepada kita sebagai keturunan yang tidak bertanggung jawab dan melalaikan segala perjuangan mereka dahulu. Begitu pun sebaliknya. Mereka akan bangga dan merestui langkah keturunannya apabila sangkolan yang mereka tinggalkan dijaga dengan sebaik-baiknya.

Dalam tradisi Islam basto dan restu berkaitan dengan doa buruk dan baik leluhur kepada anak cucu mereka di dunia. Sangat beralasan ketika ada anggapan bahwa anak cucu yang tidak menjaga sangkolan dengan baik sama saja dengan orang yang tidak bisa berterima kasih kepada leluhur yang telah memperjuangkan mereka selama hidup sehingga hidup mereka akan terkena basto leluhur dengan risiko hidup mereka tidak akan pernah tenteram dan damai. Bahkan diyakini akan sangat terpuruk hingga akhir hayat. Pun sebaliknya, mereka yang menjaganya dengan baik akan hidup dalam kecukupan dan berkah karena leluhur mereka bakal terus mendoakan yang terbaik bagi anak cucu yang menjaga sangkolan dengan sempurna.

Terlepas dari perbedaan cara pandang yang ada, bagi orang Madura, sangkolan bukan sakadar materi dan hal yang tampak di mata. Namun, ia merupakan sesuatu yang bersejarah, spiritual, dan tersambung ke genarasi yang entah. Dengan demikian, sangkolan bukanlah milik pribadi. Ia adalah milik bersama yang ditanggungkan pada generasi paling akhir sebagai penjaganya. Untuk melakukan apa pun terhadap sangkolan tersebut, pengelola tidak boleh semena-mena. Jangankan menjual dan menelantarkannya, sekadar mengubah dan merenovasi saja mereka harus pamit dulu pada leluhur dengan cara rokat dan mengirim doa-doa.

Gapura, 2021

*)Wakil sekretaris MWC NU Gapura. Dosen di Institut Sains dan Teknologi Annuqayah, guru di MA Nasa 1 Gapura. Anggota Lesbumi PC NU Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news