alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Kondisi Pasar Anom Baru Sumenep di Tengah PPKM Darurat

Takut Di-Swab, Pedagang Kompak Tutup

15 Juli 2021, 17: 17: 53 WIB | editor : Abdul Basri

KOMPAK TUTUP: Tukang becak sedang melintas di sekitar toko dan lapak pedagang yang tutup di Pasar Anom Baru Sumenep kemarin.

KOMPAK TUTUP: Tukang becak sedang melintas di sekitar toko dan lapak pedagang yang tutup di Pasar Anom Baru Sumenep kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

Pasar sebagai pusat perbelanjaan sangat identik dengan keramaian. Sepanjang tahun keramaiannya hanya terjeda saat hari besar saja. Namun, kali ini ada yang berbeda. Kemarin (14/7) Pasar Anom Baru Sumenep sepi. Tak ada transaksi jual beli di sana, jalanan pun sangat lengang. Ada apa?

JUNAIDI PONDIYANTO, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

LANGIT di Kota Sumenep begitu cerah. Namun, aktivitas masih lengang. Maklum, seluruh perkantoran menerapkan work from home (WFH) pasca pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat diterapkan. Pembatasan kegiatan ini sudah berlangsung sejak 3 Juli lalu.

Baca juga: Singapura Tambah Bantuan Iso Tank dan Oksigen Cair untuk Indonesia

Situasi inilah yang membuat kehidupan warga Sumenep tak secerah langit pada pagi itu. Tak ada kerumunan, tak ada aktivitas normal seperti dulu lagi. Mayoritas warga memilih berdiam di rumah. Mengerjakan segala tugas di rumah. Hanya pasar yang selama ini masih terlihat normal meski waktunya dibatasi dan pembelinya tak seramai dulu.

Kemarin tiba-tiba kondisi pasar berubah seperti kota mati. Tak ada satu pun toko yang buka. Tumpukan barang yang biasanya meluber hingga ke depan toko, lenyap seketika. Pedagang yang biasanya tetap bertahan berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup, tiba-tiba tidak ada satu pun yang mau berjualan.

Jawa Pos Radar Madura pun mencoba mencari tahu apa penyebab Pasar Anom Baru Sumenep sepi. Tak jauh dari pasar, seorang perempuan tampak sedang berjalan. Perempuan paro baya itu ternyata pemilik salah satu toko. Sama seperti pemilik toko lainnya, dia memilih tidak berjualan hari itu.

Perempuan berinisial S itu mengaku sengaja tidak membuka toko karena sehari sebelumnya (Selasa, 13/7) ada pengumuman. Pengumuman tersebut berbunyi bahwa seminggu ke depan akan ada tim medis dari satgas Covid-19. Tim tersebut rencananya akan menggelar tes usap atau swab test dan suntik vaksin Covid-19 terhadap para pedagang dan pengunjung pasar.

Menurut S, dirinya mendapat informasi adanya pengumuman tersebut dari salah satu petugas pasar. Perempuan yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar Anom Baru itu mengaku takut untuk dites usap. Apalagi, jika nanti sampai didiagnosis positif Covid-19. Sementara dirinya sampai detik ini merasa masih sangat sehat.

Ternyata, keputusan yang diambil S sama dengan rekan-rekan pedagang lainnya. Seluruh pedagang kompak memilih tidak berjualan kemarin. ”Saya warga kecil, tidak banyak tahu tentang kesehatan. Tapi, saya bisa merasakan kalau saya sedang sehat,” ujar perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Terkait tidak adanya pedagang yang datang ke pasar, S meyakini semua pedagang takut di-swab dan divaksin. ”Setelah mendengar akan ada petugas dari kesehatan, pedagang memang banyak yang merencanakan tidak buka,” ungkapnya.

S mengakui jika keputusan tidak berjualan merugikan pedagang sendiri. Namun, dia dan sejumlah pedagang lainnya memilih tidak mencari nafkah daripada harus terjaring petugas swab masal. Padahal, lanjut dia, jelang Hari Raya Idul Adha biasanya pasar ramai kedatangan pembeli. ”Kalau begini terus, pedagang tidak buka dan tidak ada pemasukan,” keluhnya.

Menanggapi itu, Kabid Perdagangan Disperindag Sumenep Ardiansyah Ali Shochibi menyampaikan, banyaknya pedagang di Pasar Anom Baru yang memilih tutup itu adalah hak para pedagang. Terkait rencana dilakukan tes swab dan vaksinasi, pihaknya membenarkan. Menurut dia, sehari sebelumnya petugas telah menyosialisasikan rencana operasi yustisi di Pasar Anom Baru. Operasi terebut dilakukan sebagai upaya melacak kondisi kesehatan masyarakat.

Operasi yustisi yang akan digelar di Pasar Anom Baru tersebut sekaligus menjadi sarana sosialisasi agar pedagang dan pengunjung mematuhi protokol kesehatan. Secara prinsip, menurut dia, seharusnya pedagang tidak perlu takut untuk diperiksa. Sebab, mereka yang sehat hasilnya tetap akan keluar negatif.

Pria yang biasa disapa Ardi itu menambahkan, jika petugas menemukan warga yang reaktif, akan mendapat penanganan dari pemerintah. Langkah ini dilakukan karena virus korona terkadang menjangkiti seseorang tanpa menunjukkan gejala apa-apa. Kondisi tersebut akan berbahaya apabila virus itu menjangkiti warga lain yang imunnya menurun.

Pihaknya meminta masyarakat tidak perlu panik apabila ada petugas kesehatan melakukan tracing di pasar. ”Semuanya ini kembali pada maksud diberlakukannya PPKM darurat. Tidak perlu takut, karena yang sehat hasil rapidnya tetap negatif,” jelasnya. (fei)

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news