alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Perjalanan Harun Al Rasyid dari Pesantren hingga Jadi ”Raja OTT”

Indonesia Harus Diselamatkan dari Koruptor

13 Juli 2021, 17: 15: 33 WIB | editor : Abdul Basri

SEDERHANA: Harun Al Rasyid ditemui di halaman Masjid Al-Iklas, Dusun Kedungdung, Desa Patereman Modung, Bangkalan, Sabtu (10/7).

SEDERHANA: Harun Al Rasyid ditemui di halaman Masjid Al-Iklas, Dusun Kedungdung, Desa Patereman Modung, Bangkalan, Sabtu (10/7). (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Tegas dan tak kenal kompromi. Itulah sikap sosok Harun Al Rasyid. Putra Madura ini punya julukan raja operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan Komisi Berantas Korupsi (KPK).

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

AWAN tebal menyelimuti langit Bangkalan sekitar pukul 09.00 Sabtu (10/7). Empasan angin di sepanjang pantai selatan meneteskan air hingga membasahi permukaan jalan. Beberapa saat kemudian, matahari kembali menyinari bumi perbatasan Bangkalan-Sampang.

Baca juga: Ra Latif Sosialisasikan Aturan PPKM Darurat kepada Takmir Masjid

Pagi menjelang siang itu Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tiba di gazebo Masjid Al-Ikhlas. Lokasinya di Dusun Kedungdung, Desa Patereman, Kecamatan Modung, Bangkalan. Seorang tokoh masyarakat Patereman duduk di tempat itu.

Di masjid megah di pinggir pantai itu terparkir beberapa kendaraan. Juga terlihat seorang laki-laki bersarung dan mengenakan baju koko. Dia bersiap melaksanakan salat Duha. Dia adalah Harun Al Rasyid, pegawai KPK yang banyak mengungkap kasus korupsi di negeri ini.

Seusai salat sunah, pria yang biasa dipanggil ”raja OTT” itu menghampiri JPRM yang duduk di gazebo bersama Sayuti. Angin kencang dan ombak yang mengempas pagar masjid menjadi pelengkap saat Harun menceritakan masa kecil di tanah kelahirannya itu.

Harun lahir di Dusun Kedungdung pada 25 September 1975. Masa kecilnya banyak dihabiskan di dunia pendidikan. Dia menamatkan pendidikan dasar di SDN 1 Patereman pada 1998. Pada tahun yang sama, dia lulus MI Maftahul Ulum Al-Islamiyah, Kedungdung, Modung.

Di bawah naungan Ponpes Miftahul Ulum Al Islamiyah itu, Harun banyak belajar ilmu agama hingga duduk di bangku SMP. Itulah yang membuat dia sangat erat dengan dunia pesantren hingga saat ini. ”Setiap sore sekolah madrasah (di Ponpes Miftahul Ulum Al Islamiyah),” tutur alumnus SMPN 1 Modung 1991 tersebut.

Anak pertama lima bersaudara itu kemudian melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Sampang. Dia lulus dari lembaga di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Bahari, tersebut pada 1994. Selama mengenyam pendidikan formal di Sampang, Harun tinggal bersama kakeknya yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Bustanul Huffadz.

Dia juga menimba ilmu kepada almarhum KH Ach. Sujak yang merupakan pengasuh Ponpes Siti Khotijah di Jalan Mawar, Sampang. Tidak heran jika perawakan Harun sampai saat ini masih mengidentitaskan dirinya santri karena sejak kecil dia tumbuh besar di lingkungan pensantren.

Setelah lulus SMA, Harun melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang. Dia lulus pada 1999. Lalu, dia bekerja sebagai dosen luar biasa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus kuliah pascasarjana di UB. Harun lulus pada 2001.

”Sebenarnya saya mendapat beasiswa untuk kuliah di Belanda. Tetapi, tidak saya ambil karena saya memiliki adik yang masih kecil-kecil,” ceritanya.

Setelah mendapat gelar magister, dia mengikuti seleksi di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta. Karirnya di KPPU berhenti setelah dia diterima saat mengikuti seleksi di KPK pada 2005.

Selama berkarir di dunia penegakan hukum, sudah banyak koruptor kelas kakap di negeri ini yang keok di tangan Harun. Mulai dari yang berstatus bupati, gubernur, politisi, hingga menteri.

Ketegasannya sebagai penegak hukum di lembaga antirasuah membuat dirinya dijuliki raja OTT. Penyelidikan yang dilakukan juga terbuka. Itu semua tidak lepas dari upaya dalam menciduk para koruptor sehingga banyak mendapat apresiasi.

Pria yang kini berdomisili di Bogor tersebut mengaku banyak tenakan yang dihadapi sebagai penegak hukum yang tidak pandang bulu. Mulai dari intervensi, diiming-imingi jabatan, hingga ancaman. Meski begitu, dia tidak gentar melawan kemungkaran. ”Indonesia harus diselamatkan dari para koruptor,” katanya.

Di tengah kesibukannya sebagai penyelidik di KPK, Harun menamatkan pendidikan doktoral hukum di Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2015. Yakni di bidang spesialis pidana Islam.

Kegiatannya juga banyak dihabiskan dengan mengajar santri yatim dan duafa di yayasan yang didirikan istrinya. Selain itu, sering mengisi kegiatan dan menjadi khotib. Itu dilakukan di sela-sela kesibukan sebagai penyelidik KPK.

Selain itu, dia aktif menulis. Pengalaman bergelut di dunia hukum menginspirasi Harun menulis dua buku. Masing-masing berjudul Fikih Korupsi serta Fikih Persaingan Usaha dan Moralitas Antikorupsi.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news