alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Cara Warga Desa Lapa Daya Tolak Covid-19

Andalkan Kekuatan Istighotsah dan Doa Bersama

08 Juli 2021, 14: 57: 07 WIB | editor : Abdul Basri

MINTA PERTOLONGAN: Warga Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, saat menggelar istighotsah dan doa bersama Selasa malam (6/7).

MINTA PERTOLONGAN: Warga Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, saat menggelar istighotsah dan doa bersama Selasa malam (6/7). (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Share this      

Kasus Covid-19 sudah tidak bisa dibendung. Termasuk, penyakit panas lainnya. Tak ayal, belakangan ini ulama, tokoh, pejabat, dan tenaga medis banyak yang tutup usia. Karena itu, warga Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, menggelar istighotsah dan doa bersama.

DAFIR FALAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura 

SELESAI salat Isya, warga Desa Lapa Daya dan sekitarnya berbondong-bondong berkumpul di tempat pemakaman umum. Dari mulai anak kecil hingga dewasa datang berduyun-duyun. Mereka berkumpul untuk berdoa kepada Sang Pencipta agar pandemi Covid-19 segera berakhir. 

Baca juga: Sekolah Harus Belikan HP untuk Siswa Kurang Mampu

Uniknya, setiap warga yang datang membawa ketupat. Usai istighotsah mereka makan bersama. Itu sebagai upaya untuk menolak marabahaya. Apalagi, selama dua pekan terakhir, warga setempat banyak yang sakit. Ketika satu orang sakit, anggota keluarga lainnya juga ikut sakit.

Kondisi semacam itu membuat warga panik. Karena itu, mereka menggelar istighotsah dan doa bersama. Cara itu dianggap yang paling mujarab untuk menolak marabahaya dan segala penyakit. Apalagi, penyakit itu datangnya dari Allah, yang menyembuhkan tentu atas izin kuasa-Nya.

Setelah warga berkumpul, salah seorang tokoh memimpin istighotsah. Mereka sangat khusuk, lantunan ayat Tuhan terus dibacakan. Usai istighotsah digelar, mereka membaca surah Yasin. Kemudian, diteruskan dengan salawat burdah.

Imamul Arifin, tokoh pemuda setempat mengatakan, selama dua pekan terakhir, hampir semua warga sakit. Mereka panik. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini. “Karena itu, kami menggelar istighotsah dan doa bersama,” katanya.

Menurut Imam, datangnya penyakit semacam ini merupakan ujian dan teguran dari Sang Pencipta. Termasuk, banyaknya ulama besar yang tutup usia. “Hanya dengan doa kita punya harapan besar. Pokoknya, jangan remehkan kekuatan doa,” ujarnya.

Termasuk, seperti menghadapi Covid-19. Silakan ikuti anjuran pemerintah sebagai upaya pencegahan. Itu baik. “Cara medis tidak ada yang salah. Tetapi, tidak boleh lupa akan kekuatan doa. Sebab, doa merupakan pengingat bahwa manusia itu lemah. Tidak punya kekuatan apa-apa, kecuali atas kehendak-Nya,” imbuhnya.

Dijelaskan, di era yang serbamodern ini, tradisi istighotsah sudah jarang dilakukan. Bahkan, pelan-pelan mulai ditinggalkan. ”Mari kita gelorakan lagi kegiatan istighotsah. Mari meminta pertolongan kepada Allah. hanya Allah yang tahu kapan Covid-19 berakhir,” sebutnya.

Ditambahkan, yang memberi.kesembuhan itu Allah, bukan manusia. Manusia seperti tenaga medis hanyalah perantara. “Itu yang perlu dipahami. Jangan pernah berpikir kesembuhan itu datangnya dari manusia, tetapi dari Allah,” pungkasnya.

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news