alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota
Santri dan Negeri Tirai Bambu (5)

Merayakan Maulid di Kota Tua Xi`an

19 Juni 2021, 13: 45: 09 WIB | editor : Haryanto

AHONG: Nur Musyafak foto bersama seorang imam masjid di Kota Xi`an.

AHONG: Nur Musyafak foto bersama seorang imam masjid di Kota Xi`an. (Nur Musyaffak for RadarMadura.id)

Share this      

Setelah dari Kota Guangzhou dengan sejarah Islam yang cukup menarik, dengan tatanan kota yang sangat modern, kita akan beranjak ke salah satu kota tua yang dulunya pernah dijadikan sebagai ibu kota, yakni Kota Xi`an.

KOTA Xi`an juga memiliki sejarah yang cukup panjang. Bangunan-bangunan yang menjadi saksi sejarah saat itu masih tetap dirawat dan dilindungi hingga sekarang. Namun yang menarik, kota ini ditinggali oleh banyak muslim sehingga dibangun beragam masjid untuk tempat ibadah.

Xi`an sendiri memiliki hampir 40 masjid yang dimanfaatkan untuk ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Di antara masjid di Kota Xi`an tersebut, ada beberapa masjid yang terletak di satu kawasan. Jaraknya tidak terlalu jauh, yakni Masjid Huajuexiang, Masjid Daxuexiang, dan Masjid Beiguang Road.

Baca juga: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Keturunan Mangkunegara

HALAL: Muslim street merupakan sebuah jalan khusus para pejalan kaki yang di sepanjang jalannya terdapat stan dan toko makanan serta suvenir. Tempat ini mampu menarik banyak wisatawan.

HALAL: Muslim street merupakan sebuah jalan khusus para pejalan kaki yang di sepanjang jalannya terdapat stan dan toko makanan serta suvenir. Tempat ini mampu menarik banyak wisatawan. (Nur Musyaffak for RadarMadura.id)

Jika naik bus umum, kita akan turun di Beiguang Road. Dari sini terlihat gapura dengan tulisan Arab ”Lailaha Illallah, Muhammadur Rosulullah” dan ”huifang” yang artinya perkampungan suku muslim.

Di tengah-tengah perkampungan muslim ini ada Masjid Beiguang Road. Kemudian, dari masjid ini berjalan sekitar 10 menit akan sampai di Masjid Huajuexiang. Lalu, keluar dari gang perkampungan ini menuju gang di sebelahnya, berjalan kaki sekitar 20 menit akan sampai di Masjid Daxuexiang.

Xi`an sebagai salah satu kota tua di Tiongkok merupakan ibu kota Provinsi Shaanxi. Kota yang menjadi saksi banyak sejarah ini pernah dijadikan sebagai ibu kota negara oleh beberapa dinasti kerajaan. Penemuan ternama Terracotta Warriors and Horses terletak di salah satu district Kota Xi`an.

Bekas bangunan kerajaan di kota ini tetap dijaga dengan baik. Tidak jarang kita temui tembok kuno yang masih berdiri kukuh di samping jalan raya yang menjadikan Xi`an lebih indah.

Jika Kota Amoy Xiamen hanya memiliki satu Masjid Besar Xiamen yang ada di daerah daonei (pulau dalam), berbeda dengan kota tua Xi`an yang memiliki sekitar hampir 40 masjid yang setiap hari digunakan untuk melaksanakan salat bersama.

Di sekitar masjid ada perkampungan yang mayoritas ditempati oleh orang-orang Islam. Mereka kebanyakan membuka bisnis kuliner untuk menarik para wisata lokal dan asing.

Masjid di Kota Chang`an memiliki bangunan dengan bentuk dan corak bangunan khas negeri tirai bambu yang dipadukan dengan ciri khas Islam. Gaya bangunan yang dijadikan masjid menampilkan gaya arsitektur tradisional Tiongkok yang kental, yang menyerupai kelenteng dengan naga dan ukiran di atas atapnya.

Namun, semua tata letak bangunan dan isi dalam masjid tetap mengikuti aturan ajaran Islam. Ukiran serta pola dekoratif di dalamnya terdiri dari ukiran Arab.

Tidak sulit menemukan makanan halal di Kota Chang`an (nama kuno Xi`an). Bahkan, ada Muslim Street atau dalam bahasa Mandarin disebut Huimin jie. Pada 17 Februrari 2014, kebetulan di saat itu musim dingin, kami traveling ke Xi`an Muslim Street. Makan jajanan di sini tidak perlu khawatir ada campuran minyak atau daging yang tidak halal.

Melancong di Muslim Street akan membawa kita bertemu dengan bermacam-macam makanan, yang tentunya halalan toyyiba. Mulai dari makanan chou doufu atau tahu busuk, toujiamou atau roti isi daging cincang, burger, ayam goreng, bebek goreng, dan sebagainya.

Para penjualnya rata-rata memakai kopiah dan kerudung. Karena tempat ini tidak jauh dari Masjid Huajuexiang, maka seusai berjalan-jalan di Muslim Street kami bisa langsung melaksanakan salat berjamaah di masjid. Rengan begitu, tidak perlu mecari tempat sepi untuk melaksanakan salat.

Ketika sudah masuk waktu Duhur, kami bergegas menuju ke masjid. Awalnya saya kira tidak akan ada banyak orang yang salat berjamaah. Tidak disangka ternyata cukup banyak jamaah yang salat Duhur. Bahkan, lebih banyak daripada jamaah masjid-masjid di Indonesia ketika waktu salat Duhur.

Para jamaah datang sebelum azan dikumandangkan. Kemudian, kami dan jamaah berdiri di depan masjid sampai azan selesai dikumandangkan, baru masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat.

Pada keesokan pagi, 18 Februari 2014, saya ingin merasakan suasana subuh di perkampungan muslim Kota Xi`an. Kebutulan waktu itu musim dingin. Jadi sekitar pukul 6 pagi baru masuk waktu Subuh. Setelah salat Subuh, kami jalan-jalan di perkampungan muslim tersebut.

Pada pagi hari yang cerah, matahari belum menampakkan diri, sehingga masih diterangi dengan lampu-lampu jalan. Banyak dari kalangan muslim yang duduk santai bercengkrama sambil menikmati minuman khas mereka.

Jika di Indonesia, pagi hari paling nikmat  minum kopi. Berbeda dengan di Tiongkok, pagi hari enaknya minum teh. Kami pun memesan segelas teh dan roti untuk teman nimbrung. Menikmati segelas teh hangat, menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara musim dingin di Xi`an.

Suasana perkampungan muslim ini mengingatkan saya pada suasana kampung di Madura. Selepas salat Subuh orang-orang duduk di warung pinggir jalan untuk sekadar berbincang-bincang dengan ditemani segelas teh hangat.

Orang-orang yang berjualan juga sudah mulai membuka toko, merapikan jualan, dan petugas kebersihan seperti biasa membersihkan jalanan. Udara musim dingin menambah dinginnya udara di pagi itu. Begitulah gambaran salah satu perkampungan muslim di Xi`an saat pagi hari.

Tidak lama setelah itu, orang-orang muslim yang bercengkrama dengan kami, tiba-tiba mengajak kami untuk pergi ke Masjid Beiguang Road. Dari tempat kami ngobrol kira-kira lima menit berjalan kaki menuju masjid tersebut.

Awalnya saya tidak tahu kenapa mereka berbondong-bondong pergi ke masjid. Setelah sampai di gerbang masjid, terpampang spanduk dengan tulisan ”Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad, Mari Teladani Akhlak Mulianya”.

Saya baru ingat kalau saat itu masih dalam suasana bulan Maulid Nabi Muhammad. Ternyata perayaan maulidir Rasul atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan meriah oleh orang Islam yang mayoritas dari suku Hui di Kota Xi`ani. Perayaan Maulid Nabi di Kota Xi`an ini sudah menjadi sebuah acara yang dirayakan oleh masyarakat setempat setiap tahun.

Melancong ke Kota Xi`an ketika masih dalam suasana Maulid Nabi, mempertemukan kami dengan sebuah perayaan maulid yang meriah. Hampir di setiap masjid bisa dijumpai spanduk merah dengan tulisan ”Perayaan Maulid Nabi Muhammad”. Karena ingin merasakan perayaan Maulid Nabi di sana, akhirnya kami masuk ke masjid dan mengikuti rangkaian acara yang sudah disusun panitia.

Kemudian, warga muslim setempat mulai berdatangan ke masjid dengan sangat antusias mengikuti acara perayaan Maulid Nabi. Panitia acara mengetahui kami adalah orang Indonesia, akhirnya menarik dan meminta kami untuk duduk di bagian depan, tepat di depan mimbar yang dipakai untuk berpidato oleh kiai. Sebelum acara dimulai, banyak hal yang kami bicarakan dengan masyarakat setempat. Mulai dari budaya maulid di Indonesia dan Tiongkok, budaya berpakaian, bentuk masjid hingga kehidupan muslim di masing-masing negara.

Acara dimulai dengan diawali dengan sambutan dari ahong atau imam masjid. Sambutannya yang menggunakan bahasa daerah setempat membuat saya harus berpikir keras untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Mandarin yang baku. Namun, hasilnya tetap saja tidak dimengerti. Hanya ucapan terima kasih yang kami pahami dari sambutan  tersebut.

Lalu, khotmil quran atau ngaji menghatamkan Al-Qur’an juga menjadi salah satu rangkaian acara pada perayaan maulid ini. Pembacaan Al-Qur’an dibagi kepada setiap orang untuk membaca satu juz. Kemudia, dilanjutkan dengan penyampaian ceramah oleh imam masjid. Dalam ceramahnya beliau mengutip ayat dan hadis. Pelafalannya cukup bagus.

Beliau menyampaikan ceramahnya dalam bahasa daerah setempat. Tapi kali ini masih bisa dimengerti walaupun sangat sedikit, karena masih ada beberapa kata atau kalimat yang sama dengan bahasa nasional Mandarin. Inti dari ceramah yang disampaikan oleh beliau adalah tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, dan juga meminta para hadirin untuk mencontoh kepribadian Rasul yang menjadi panutan umat Islam.

Pembacaan salawat (pujian kepada Nabi Muhammad) pun tidak ketinggalan. Ada kelompok atau grup yang memimpin pembacaan salawat. Tentu saja dalam membaca salawat menggunakan syair lagu khas mereka, yang sebelumnya belum pernah didengar di Indonesia.

Seperti acara hajatan pada umumnya, sebelum acara usai, makanan yang sudah dimasak oleh ibu-ibu panitia siap disajikan. Ada berbagai makanan yang sudah tersaji di atas meja. Mulai dari bakpao tawar yang menjadi makanan utama, olahan daging sapi, mi, dan semangka juga teh hangat sebagai minumannya. Tetapi karena rasa khas masakan yang disajikan terasa mala atau pedas menyengat, membuat kami yang terbiasa makan ”penyedap” terpaksa hanya makan bakpao dan buahnya saja.

Makanan dan dana perayaan untuk acara Maulid Nabi dikumpulkan dari sumbangan masyarakat setempat. Biasanya masyarakat muslim setempat yang memiliki rezeki lebih menyumbangkan ke masjid-masjid untuk perayaan kelahiran Nabi Muhammad ini, baik itu berupa uang, tepung, daging atau sebagainya. (*)

NUR MUSYAFAK lahir di Bangkalan, Rabu, 29 Desember 1993. Sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Linguistics and Applied Linguistics di Central China Normal University Wuhan. Pernah mengenyam pendidikan dan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Wuhan (2018—2019) dan wakil ketua umum PPI Tiongkok Pusat (2019—sekarang).

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news