alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Ajukan Odheng Tongkos sebagai Warisan Budaya Tak Benda

18 Juni 2021, 20: 21: 21 WIB | editor : Abdul Basri

WARISAN: Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominan menunjukkan warisan budaya tak benda odheng tongkosan di ruang kerjanya kemarin.

WARISAN: Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominan menunjukkan warisan budaya tak benda odheng tongkosan di ruang kerjanya kemarin. (AMINATUS SUHRA/RadarMadura.id)

Share this      

Odheng tongkosan merupakan pakaian khas Bangkalan. Pemasarannya terbatas karena terkait lokalitas. Namun, perajin tetap memproduksi sebagai bentuk pelestarian budaya.

AMINATUS SUHRA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

PANEMBAHAN Cakraadiningrat V atau Panembahan Sidomukti (bertakhta 1745–1770) termasuk raja yang sangat memperhatikan pengembangan seni dan budaya. Dia dikenal sering membuat berbagai inovasi baru. Wujudnya masih dapat kita nikmati hingga saat ini. Salah satu karya yang paling fenomenal adalah odheng tongkos.

Baca juga: Pengunjung Pasar Hajar Residivis Curanmor

KREATIF: Anwar Sadat, warga Kecamatan Arosbaya, memeriksa hasil produksi odheng tongkosan di rumahnya kemarin.

KREATIF: Anwar Sadat, warga Kecamatan Arosbaya, memeriksa hasil produksi odheng tongkosan di rumahnya kemarin. (ANWAR SADAT FOR RadarMadura.id)

Bentuk odheng ini terinspirasi dari sepasang binatang bernama mimi. Dalam bahasa Madura dikenal dengan nama me-eme. Suatu ketika, Panembahan Sidomukti sedang gundah karena kelengkapan busana adat bangsawan Madura Barat masih cenderung sama dengan Jawa. ”Kemudian, beliau segera mencari inspirasi untuk menciptakan sebuah odheng baru yang penuh dengan makna,” tutur Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan.

Panembahan Sidomukti pun berjalan-jalan ke tepi pantai. Saat itu dia melihat sepasang me-eme atau mintuno dan belangkas yang sedang memadu kasih. Bentuk dan kesetiaan mereka kemudian dituangkan dalam bentuk odheng khas Madura Barat.

”Perpaduan sepasang hewan tersebut menginspirasi panembahan dalam pembuatan odheng yang kemudian diberi nama tongkos,” jelas pejabat yang juga musisi itu. Binatang ini dinilai melambangkan kesetiaan yang dimiliki oleh para kesatria Madura Barat.

Ekor mimi ke atas bila terganggu dan datar dalam kondisi normal. Ini diartikan sebagai lambang kebijaksanaan dan dapat membuat keputusan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Selain itu, mimi memiliki ekor beracun yang artinya keberanian dalam memperjuangkan kebaikan dan kebenaran, menindak siapa pun yang tidak sesuai dengan jalan kebenaran.

Bentuk odheng tongkos ini semakin mengerucut ke atas. Bentuk itu bermakna kesejahteraan. ”Ekor horizontal ke kanan dan ke kiri melambangkan keseimbangan dan kesempurnaan kehidupan,” paparnya.

Pemakaian tongkos tidak terlalu tinggi. Hanya berjarak tiga jari dari garis alis. Ini diartikan kerendahan hati dan jauh dari sifat angkuh. Bentuknya juga menutupi penuh bagian atas kepala. Melambangkan orang yang memiliki keilmuan dan kebijaksanaan tinggi yang dapat ditebar manfaatnya.

Februari lalu, Pemkab Bangkalan mengajukan odheng tongkosan/tongkos sebagai warisan budaya tak benda (WBTB). Upaya itu dilakukan agar diakui sebagai warisan budaya nasional.

Odheng ini termasuk salah satu kelengkapan busana agungan adat bangsawan Madura Barat. Dikenakan bersama jas beskap dan samper atau senjang. Dilengkapi dengan aksesori seperti lencana, bros, dan juga memakai selop. ”Yang diajukan harus memiliki sejarah dan ciri khas,” ucap Hendra.

Dia berharap pengajuan kali ini menjadikan odheng tongkos warisan budaya tak benda khas Bangkalan. ”Hingga saat ini belum ada yang diresmikan. Semoga ini menjadi yang pertama,” harapnya.

Pengajuan odheng tongkos menjadi WBTB ini agar tidak menghilangkan bentuk kekhasan karya asal Bangkalan itu. Sebab, tongkos harus dilestarikan sebagai warisan budaya. Namun, pemasaran menjadi kendala para perajin. ”Butuh bantuan dari pemerintah untuk sosialisasi pada masyarakat,” ucap Anwar Sadat, warga Kecamatan Arosbaya itu kemarin (17/6).

Dia mengungkapkan, progres penjualan tidak meningkat karena odheng ini bersifat lokalitas. Jadi, untuk pangsa pasar keluar daerah memang sulit. Tidak sama dengan makanan atau oleh-oleh.

Omzet yang didapat para perajin tidak seberapa. Per satu odheng tongkos ini dihargai Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu. Bergantung bahan. Lebih mahal saat memakai kain batik tulis.

Penggiat Sanggar Lebur itu tetap memproduksi walaupun tidak ada permintaan. Kerajinan ini tetap ditekuni hingga saat ini. ”Pemasaran ke luar daerah juga tidak begitu banyak dan tidak mempekerjakan orang,” paparnya.

Dia sudah dua tahun menekui kerajinan ini. Awalnya membuat untuk dipakai sendiri ketika hendak menghadiri acara. Tetapi, lingkungan sekitar memberi dukungan agar Sadat menekuni kerajinan ini. ”Karena teman-teman saya banyak yang pesan,” tukasnya.

Proses pembuatannya dilakukan menggunakan mesin jahit. Tidak dijahit secara manual seperti dulu. Desain yang dipakai lebih kreatif. Tetapi, tidak jauh dari bentuk kekhasannya.

”Membuatnya tidak pakem seperti aslinya. Seperti jumlah gulungannya, terpenting mendekati filosofi yang ada di tongkos itu. Terutama bentuk dua ekor di belakang yang terinspirasi dua ikatan me-eme yang sedang kawin,” pungkasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news