alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Cara Pemkab Bangkalan Ringankan Beban Penderita Covid-19

Alokasikan Dana Jamin Kebutuhan Pangan

17 Juni 2021, 18: 52: 22 WIB | editor : Abdul Basri

TERKURUNG: Warga Bangkalan menjalani isolasi mandiri di area IKM BPWS, Senin (14/6).

TERKURUNG: Warga Bangkalan menjalani isolasi mandiri di area IKM BPWS, Senin (14/6). (AMINATUS SUHRA/RadarMadura.id)

Share this      

Dibanding tiga kabupaten lainnya, jumlah warga Bangkalan yang terpapar Covid-19 paling banyak. Akibatnya, Bangkalan kini berstatus zona merah. Selain melakukan langkah pencegahan, pemkab melalui dinas sosial (dinsos) menyiapkan dana ratusan juta untuk meringankan derita para pengidap virus korona.

AMINATUS SUHRA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

LONJAKAN kasus Covid-19 di Bangkalan benar-benar di luar dugaan. Sebab, yang semula landai, dan pemkab setempat bisa dikatakan mampu menangani laju persebaran virus yang kali pertama ditemukan di Tiongkok tersebut, kini semuanya berubah sejak pasien dan jumlah warga yang meninggal bertambah.

Baca juga: BRI Serahkan Paket Bantuan Sembako ke UPT PSSA

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM) sejak Selasa lalu (1/6) hingga kemarin (16/6) pukul 13.51, terdapat 76 pasien Covid-19 yang tutup usia di RSUD Syamrabu Bangkalan. Rata-rata pasien tersebut berasal dari Kecamatan Arosbaya, Klampis, Geger, dan Kecamatan Kota Bangkalan. Sementara yang menjalani perawatan sekitar 174 orang.

Dari 18 kecamatan di Bangkalan, empat kecamatan berstatus zona merah. Sisanya berstatus zona oranye. Kecuali Kecamatan Kokop yang masih zona kuning.

Untuk mengantisipasi lonjakan, Pemkab Bangkalan mengoptimalkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di Kecamatan Kokop seperti di 17 kecamatan lainnya.

Sederet langkah pencegahan pun dilakukan Pemkab Bangkalan didukung TNI dan Polri serta instansi lainnya. Misalnya, dengan menggiatkan penyekatan kendaraan sampai mengoptimalkan program vaksinasi. Terbaru, menjamin kebutuhan hidup penderita Covid-19. Pemkab melalui dinsos menyediakan sembako agar kebutuhan pangan pasien yang menjalani isolasi mandiri terpenuhi.

Sasaran bantuan sembako ini hanya diperuntukkan warga yang berdomisili di empat kecamatan. Yakni Klampis, Arosbaya, Geger, dan Kecamatan Kota Bangkalan. Tetapi, penyaluran bantuan sembako tersebut sampai kemarin belum direalisasikan. Salah satu pertimbangannya, pengadaan barang tersebut harus melalui proses lelang.

Kepala Dinsos Bangkalan Wibagio Suharta mengatakan, pemerintah daerah sudah mengalokasikan anggaran untuk menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat yang menjalani isolasi mandiri. ”Sudah dianggarkan, tapi bantuan belum terdistribusi,” katanya.

Menurut dia, pengadaan barang tidak bisa dilakukan secara langsung. Apalagi, jika dana yang disiapkan cukup besar. Karena itu, pengadaan barang tersebut harus melalui sistem lelang. ”Disiapkan anggaran Rp 650 juta untuk warga yang terdampak Covid-19. Karena nominalnya cukup tinggi, jadi tidak bisa langsung dibelanjakan,” paparnya.

Dijelaskan, anggaran ratusan juta itu akan digunakan untuk pengadaan sembako. Dia akan mengupayakan agar pengadaan sejumlah paket sembako tersebut bisa segera terealisasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebab, kondisinya sedang darurat. ”Kalau bisa melalui penunjukan langsung agar prosesnya lebih cepat,” imbuhnya.

Ditambahkan, saat ini instansinya juga melayangkan surat kepada sebagian perusahaan yang ada di Kabupaten Bangkalan. Salah satu tujuannya, agar bisa membantu dalam penyediaan sembako bagi warga yang melakukan isolasi mandiri. ”Perusahaan juga bisa memberikan dukungan jika ingin membantu,” imbuhnya.

Wibagio menargetkan dalam waktu dekat akan tersedia sekitar 400 paket sembako. Ratusan paket bantuan sembako tersebut akan disebar kepada masyarakat yang sudah terdata di desa ataupun di kecamatan. ”Hal itu dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran,” pungkasnya.

Sementara itu, Dila Nur, warga Kecamatan Arosbaya, berharap sembako yang dijanjikan pemerintah segera disalurkan. ”Kalau tidak ada bantuan, isolasi mandiri tidak akan maksimal. Sebab, masyarakat tetap keluar rumah untuk mencari nafkah jika tidak menerima bantuan,” ucapnya.

Alumnus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini berharap pemerintah daerah benar-benar merealisasikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. ”Tidak hanya wacana. Ini kan juga demi kebaikan bersama,” tandasnya. (*)

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news