alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota

Choirul Anam, Koordinator PPI Dunia Asal Bangkalan

07 Juni 2021, 22: 33: 33 WIB | editor : Haryanto

BERPENDIDIKAN: Choirul Anam menyampaikan sambutan di badan intelijen strategis beberapa waktu lalu.

BERPENDIDIKAN: Choirul Anam menyampaikan sambutan di badan intelijen strategis beberapa waktu lalu. (PPI for RadarMadura.id)

Share this      

Choirul Anam, Koordinator PPI Dunia Asal Bangkalan

Tegaskan Orang Madura Punya Kapabilitas, Integritas, dan Standar Unggul

Kuliah sempat hanya sebagai mimpi lewat. Namun, ketekunan dan kerja keras mengantarkan Choirul Anam hingga ke Republik Ceko untuk menjemput gelar doktornya.

Baca juga: Hanya 14 Agen Elpiji Berizin

JUPRI, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

NAMA Choirul Anam, bagi seluruh mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di luar negeri pasti tidak asing. Pria asal Desa Dlambah Dajah, Kecamatan Tanah Merah, itu saat ini menjadi koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di seluruh dunia.

Anam mengemban amanah sebagai koordinator PPI saat awal melanjutkan studi doktornya di Charles University Prague, Republik Ceko, pada 2019 lalu. Sebelum berkesempatan kuliah S-3 di Ceko, ada banyak rintangan yang Anam hadapi di masa-masa remajanya.

Pemuda kelahiran 1984 tersebut berasal dari keluarga tidak mampu. Sejak lulus SD, kedua orang tuanya menitipkan Anam di Pondok Pesantren Asshomadiyah, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Untuk pendidikan formal, dia mengenyam pendidikan di SMPN 4 Bangkalan.

Setelah lulus dari SMPN 4 Bangkalan, dia melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Bangkalan dengan tetap bermukim di Pondok Asshomadiyah. Sebagai siswa sekaligus santri yang hidupnya pas-pasan, Anam sering pulang berjalan kaki dari Bangkalan ke pondok. ”Kalau jalan dulu lumayan karena sekitar tujuh kilometer dari SMAN 1 Bangkalan ke pondok,” kenangnya.

Putra pasangan (almarhum) Moch. Sahlun dan Siti Habibah itu lulus dari SMAN 1 Bangkalan pada 2002. Saat itu, Anam memiliki keinginan untuk kuliah. Namun dengan segala keterbatasan, dia merasa tidak akan pernah merasakan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Karena itu, Anam sempat beranggapan masa depannya gelap setelah lulus dari SMAN 1 Bangkalan dan Ponpes Asshomadiyah. Apalagi, orang tuanya ernah menentang keinginannya untuk kuliah karena alasan ekonomi.

Namun, saat itu dia mendapat petunjuk dari lora tempat dirinya mondok untuk mengikuti tes masuk di Politeknik Universitas Indonesia yang sekarang sudah barubah menjadi Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Biaya pendaftaran saat itu hanya Rp 150 ribu. Setelah diterima, Anam harus membayar Rp 2 juta.

Karena tidak punya, akhirnya orang tuanya mencari pinjaman. Bahkan, saat almarhum ayahnya sudah tidak mampu, sampai pernah terlontar ucapan ”Mon badha kennengngan magadhi cethak, paggun epagadhi, poko' asakola (kalau ada tempat menggadaikan kepala, tetap akan digadaikan, yang penting sekolah). ”Saat itu sudah saking tidak ada uang,” katanya.

Perkataan almarhum ayahnya itu menjadi pelecut baginya untuk terus membuktikan dan meraih kesuksesan. Bahkan, supaya bisa meringankan beban orang tuanya, Anam harus membagi waktu kuliah dan bekerja. Semua itu dilakukan untuk meringankan beban orang tuanya. ”Dari tidak punya harapan untuk kuliah, lalu bisa kuliah saya merasa memiliki second life. Makanya, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu,” katanya.

Mantan aktivis HMI itu lulus dan menyandang status Ahli Madya (Amd) Akuntansi di PNJ pada 2005. Setahun berikutnya, Anam melanjutkan pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) sambil bekerja. Dia baru bisa merasakan kursi pendidikan pascasarjana pada 2015 dengan jurusan perencanaan kebijakan publik di kampus yang sama. Lalu, lulus dua tahun berikutnya.

Tesis yang dirinya susun menjadi salah satu karya ilmiah terbaik. Karena itu, dia didaulat mengikuti seminar internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pasca kegiatan itu, Anam mendapat banyak dorongan agar tesis yang ditulis dikembangkan menjadi disertasi.

Setelah diolah dan menjadi proposal disertasi, Anam kirim karya ilmiahnya itu ke beberapa kampus top dan profesor di dunia. Hasilnya, ada tujuh negara yang kala itu mau menerima proposal disertasinya. Namun, pada akhirnya yang dipilih adalah Charles University Prague, Republik Ceko.

Mengapa memilih Charles University Prague? itu berdasarkan masukan beberapa dosennya di UI. Yang membuat dirinya semakin yakin mendapatkan gelar doktornya di Charles University Prague. Sebab, kampus itu almamater dari tokoh fisikawan dunia, yaitu Albert Einstein.

Anam menginjakkan kaki pertamnya di Republik Ceko pada 1 Oktober 2019. Dua hari berikutnya, terdapat kongres pemilihan PPI di Ceko. Anam yang diusulkan sebagai ketua akhirnya terpilih. ”Jadi, tidak ada konsolidasi pemilihan. Saya saja waktu itu masih baru. Tetapi, saya yakinkan kepada teman-teman akan membawa PPI Ceko terkenal seluruh dunia,” imbuhnya.

Satu tahun berikutnya, pria yang saat ini tercatat sebagai ASN di BPK RI tersebut terpilih sebagai koordinator PPI sedunia masa bakti 2020–2021. Dia mengalahkan calon koordinator PPI dunia yang merupakan ketua PPI Tunisia dengan suara kemenangan 80 suara.

Selain karena ingin membalas budi jerih payah orang tuanya, Anam memiliki mimpi yang sangat besar. Yakni, mengangkat derajat orang Madura. Selama ini, orang Madura selalu di-bully, dianggap orang bodoh, tertinggal, dan kolot. ”Kami ingin menujukkan kepada semua orang bahkan dunia, orang Madura itu punya kapabilitas, integritas, dan standar unggul untuk bersaing dengan siapa pun,” tegasnya.

Anam berpesan kepada seluruh generasi Madura untuk selalu memiliki mimpi mulia. Dengan begitu, dapat mengangkat derajat kedua orang tua, lingkungan, dan nama baik Madura. Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk melihat masa depan yang lebih cerah. ”Hal terpenting dalam hidup itu bukan harta, melainkan ilmu,” pungkasnya. (*)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news