alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Bangkalan
icon featured
Bangkalan

Dua Pekan, 34 Penderita Covid-19 Tewas

07 Juni 2021, 17: 13: 12 WIB | editor : Abdul Basri

MENJELASKAN: Tim Gugas Jawa Timur memberikan keterangan pers kepada awak media usai melakukan rakor di Pendapa Agung Bangkalan kemarin.

MENJELASKAN: Tim Gugas Jawa Timur memberikan keterangan pers kepada awak media usai melakukan rakor di Pendapa Agung Bangkalan kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Tren persebaran kasus coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Bangkalan terus meningkat. Indikasinya, dalam dua pekan terakhir terdapat 43 warga meninggal karena terjangkit penyakit yang kali pertama ditemukan di Wuhan, Tiongkok.

Peningkatan jumlah penderita tersebut membuat Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) turun tangan. Yakni, dengan melakukan swab massal di Kecamatan Arosbaya yang dianggap sebagai episentrum persebaran Covid-19 di Bangkalan. Termasuk, melakukan rapid antigen terhadap masyarakat yang hendak melintasi Jembatan Suramadu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo menyampaikan, jumlah warga yang terpapar Covid-19 terus melonjak. Kenaikan kasus terjadi pasca Hari Raya Idul Fitri. Sebab, banyak masyarakat abai terhadap protokol kesehatan (prokes). ”Sekarang klaster keluarga yang mendominasi,” ucapnya.

Baca juga: Kepala SMA 3 Annuqayah, Finalis GREEN Prize Award 2021

Pria yang akrab disapa Yoyok itu mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 itu dibarengi dengan tingginya angka kematian. Dalam dua pekan terakhir, terdapat 34 penderita yang meninggal. Tiga di antaranya tercatat sebagai tenaga kesehatan (nakes). Ketiganya berprofesi sebagai dokter, bidan, dan perawat.

”Kemarin (Sabtu, Red) ada 14 orang yang meninggal dan sehari sebelumnya (Jumat, Red) ada 10 orang meninggal,” tutur mantan kepala Puskesmas Blega tersebut.

Menurut dia, daerah yang menjadi persebaran Covid-19 yang paling masif ada di Kecamatan Arosbaya. Bahkan, puluhan petugas Puskesmas Arosbaya juga terpapar. Itulah yang membuat pemerintah memilih menutup pelayanan kesehatan di Puskesmas Arosbaya.

Dijelaskan, institusinya berencana menutup sementara pelayanan di Puskesmas Tongguh. Alasannya sama, banyak nakes yang terpapar Covid-19. Saat ini, jumlah nakes yang bertugas di Puskesmas Tongguh tersisa empat orang. Keempat nakes itu bertugas di ruang rawat inap dan instalasi gawat darurat (IGD).

”Puskesmas Klampis dan Geger juga sudah mengajukan (penutupan pelayanan, Red). Tetapi, masih dalam kajian,” sambungnya.

Ditambahkan, penanganan Covid-19 di wilayah Kecamatan Klampis dan Arosbaya terkendala minimnya kesadaran masyarakat. ”Sebab, banyak warga yang enggan menjalani tes usap meski pernah melakukan kontak dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jawa Timur dr Herlin Ferliana berpendapat, perlu ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan untuk mengatasi kenaikan kasus. Di antaranya, mengoptimalisasi pelayanan terhadap orang yang terpapar. ”Semaksimal mungkin harus bisa menyelamatkan nyawa pasien. Warga yang terpapar jangan sampai meninggal,” ingatnya.

Menurut Herlin, pelayanan di RSUD Syamrabu sebagai rumah sakit rujukan harus ditingkatkan. Misalnya dari sisi penyediaan tempat tidur dan nakes. Dengan demikian, proses pelayanan dapat berjalan dengan baik. ”Pemprov Jatim telah menyediakan enam rumah sakit (RS) penyangga jika RSUD Syamrabu sudah penuh dengan pasien Covid-19. Yaitu RSUD dr Soetomo, RS Unair, RS Haji, RS PHC, RS Adi Husada, dan RS Al Irsyad,” urainya.

Ditambahkan, pemprov juga mem-back up upaya tracing terhadap masyarakat di Kecamatan Arosbaya. Tim polymerase chain reaction (PCR) dibantu personel TNI/Polri melakukan tes usap secara masal di Kecamatan Arosbaya. Itu dilakukan untuk bisa memisahkan orang yang terpapar Covid-19 dengan yang negatif. ”Hari ini alatnya 1.000, andai bisa semua, akan cepat,” ungkapnya.

Hal lain yang harus dilakukan adalah, kembali meningkatkan upaya preventif dengan mengajak masyarakat konsisten menerapkan prokes. Serta menyemprotkan disinfektan di tempat-tempat, termasuk tempat ibadah. Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi mobilisasi. ”Di akses Suramadu sisi Surabaya dilakukan rapid antigen terhadap warga yang mau masuk ke Kota Pahlawan,” paparnya.

Perempuan berhijab itu menambahkan, institusinya sudah mendiskusikan pelayanan di IGD RSUD Syamrabu yang sempat ditutup. Hasilnya, pelayanan di IGD pelat merah tersebut disepakati akan dibuka lagi.” Akan diupayakan tetap dibuka dengan di-back up personel TNI/Polri dan nakes dari provinsi. Sehingga, pelayanan bisa berjalan normal,” sambungnya.

Wakil Bupati (Wabup) Bangkalan Mohni mengungkapkan, salah satu perwakilan Satuan Gugus Tugas (Gugas) Covid-19 Jatim sudah memantau langsung penutupan IGD RSUD Syamrabu. Tujuannya, untuk mengevaluasi hal-hal yang perlu dilakukan dalam optimalisasi pelayanan, termasuk kepada pasien Covid-19. ”Dokter Kohal (perwakilan satuan gugas, Red) sudah ke sana (RSUD Syamrabu, Red). Mungkin melihat apa yang kurang untuk segera dibenahi,” imbuhnya.

Dikonfirmasi di tempat terpisah, Sekcam Arosbaya Dedeng Suprapto tidak memungkiri banyak warganya yang meninggal karena terpapar Covid-19. Terdapat enam orang yang meninggal karena Covid-19 pada Jumat (4/6) sampai Sabtu (5/6). ”Kasus konfirmasi terjadi di hampir semua desa yang ada di Kecamatan Arosbaya,” jelasnya.

Sementara Camat Klampis Abd. Malik mengungkapkan, warga yang tewas usai terkonfirmasi Covid-19 lumayan banyak. Terdapat delapan orang selama sepekan terakhir. ”Kita sudah survei dan melakukan penyemprotan disinfektan. Termasuk berkoordinasi dengan Kades untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri,” pungkasnya. (jup)

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news