alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Kepala SMA 3 Annuqayah, Finalis GREEN Prize Award 2021

Dorong Siswa Kurangi Polusi

06 Juni 2021, 19: 55: 29 WIB | editor : Abdul Basri

MUDA JADI TELADAN: Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Moh. Khatibul Umam bercerita tentang keikutsertannya pada kegiatan GREEN Prize.

MUDA JADI TELADAN: Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Moh. Khatibul Umam bercerita tentang keikutsertannya pada kegiatan GREEN Prize. (DAFIR FALAH/RadarMadura.id)

Share this      

Muda, menginspirasi, dan mendunia. Dialah Moh. Khatibul Umam. Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk itu konsen di bidang lingkungan. ”Pertemanannya” dengan sampah mengantarkanya terpilih sebagai finalis GREEN Prize Award 2021.

DAFIR FALAH, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura

JAWA Pos Radar Madura menemui Moh. Khatibul Umam di halaman SMA 3 Annuqayah Jumat (4/6). Dia bercerita banyak tentang keikutsertaannya sebagai peserta Grassroots Rising Environmental Education Network (GREEN) Prize Award 2021.

Baca juga: Kasus Covid-19 Naik, IGD RSUD Syamrabu Di-Lockdown

GREEN Prize merupakan penghargaan untuk para aktivis pemuda yang konsen di bidang lingkungan. Ajang tersebut diselenggarakan oleh 10 Billion Strong di Amerika Serikat. Dia bersaing dengan 30 peserta dari perwakilan negara-negara berkembang di dunia.

Berkat kegigihannya dalam urusan isu-isu lingkungan, alumnus UIN Sunnan Kalijaga Jogjakarta itu berhasil masuk 10 besar. Sembilan peserta lainnya berasal dari Banglades (Shougat Nazbin Khan), Colombia (Maria Angelica Mejia Cáceres), dan Tiongkok (Samtso Kyi). Lalu, Ghana (Grace Azoeya), Kenya (David Mulo), dan Malawi (Steven Makumba. Selain itu, Myanmar (Wyne Wyne Pye), Nepal (Rajib Sharma), dan Uganda (Nirere Sadrach).

”Tetapi, jauh sebelum ada GREEN Prize, saya memang sudah lama terlibat dalam urusan lingkungan,” katanya.

Menurut pria kelahiran 1986 itu, masalah lingkungan merupakan persoalan serius. Sebab, berkaitan langsung dengan keberlanjutan hidup manusia. Dia tergerak untuk menekuni isu-isu lingkungan disertai tindakan. ”Karena itu, di SMA 3 Annuqayah kami membentuk Pemulung Sampah Gaul (PSG) pada 2008,” ujarnya.

Sebelum PSG dibentuk, sebenarnya Pondok Pesantren Annuqayah sudah punya sejarah panjang tentang lingkungan pada era 1970. Pada 1981, Annuqayah mendapat penghargaan Kalpataru di bidang lingkungan. ”Tetapi, setelah itu memang vakum lama,” terangnya.

Pada 2006 dikampanyekan lagi. Kala itu hanya sebatas diskusi-diskusi kecil. Semisal, edukasi tentang ekologi. Kemudian, cara mengurangi sampah plastik di lingkungan pesantren. Puncaknya permasalahan lingkungan benar-benar ditekuni kembali pada 2008. Saat itu ada event School Climate Change Competition (SCCC) yang digelar oleh British Council Indonesia. Pesertanya tingkat SMA sederajat.

”SMA 3 Annuqayah ikut event-nya saat itu. Pelatihannya selama tiga bulan,” terangnya.

Karena event tersebut, SMA 3 Annuqayah membuat tiga bidang. Pertama, mengangkat soal sampah plastik. Kedua, pupuk organik. Ketiga, olahan pangan lokal. ”Dari situ akhirnya diseriusi. Terbentuklah PSG pada tahun yang sama,” katanya.

Magister lulusan UGM itu menyampaikan, kebetulan secara pribadi memang tertarik kalau berbicara tentang lingkungan. Apalagi, dia mengaku memang punya keahlian menjahit. Sehingga, sampah-sampah plastik yang bisa didaur ulang, itu dibikin sesuatu bernilai ekonomis.

”Saya berpikir, saya harus bikin sesuatu yang inovatif. Ya dengan cara sampah-sampah itu bisa didaur ulang,” tuturnya.

Atas dasar itu, pihaknya menerapkan kepada murid-murid dengan membuat komunitas PSG. PSG itu yang kemudian menjadi fasilitator yang konsen dalam urusan lingkungan.

PSG juga membuat gerakan mengurangi penggunaan sampah plastik. PSG bekerja sama dengan kantin dan OSIS untuk memakai barang-barang yang tidak sekali pakai.

Di kantin, apabila siswa membeli makanan harus pakai piring, minum pakai gelas, tidak boleh dibungkus, tidak boleh minum air kemasan. Intinya, santri-santri dibiasakan untuk ikut menjaga kebersihan.

Keikutsertaan ketua Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA) pada ajang GREEN Prize berkat kenal orang Amerika. Pada 2015, pernah ikut pertukaran pelajar di Amerika selama lima pekan. Saat itu berangkat dari kategori pendamping dewasa. Dari Indonesia hanya dua orang yang terpilih. ”Salah satunya kebetulan saya,” kata Ra Umam.

Saat tiba di Amerika, Ra Umam di-interview oleh salah satu anggota tim 10 Billion Strong. Anggota tim itulah yang memberi informasi tentang GREEN Prize. ”Saya sempat tidak menggubris. Khawatir ada upaya penipuan,” tutur pria 35 tahun itu.

Setelah mencari tahu tentang 10 Billion Strong, ternyata kegiatan GREEN Prize memang ada. Akhirnya, pada Maret lalu kiai muda ini mendaftar sebagai aktivis lingkungan mewakili SMA 3 Annuqayah dan BPM PPA.

”Saya diberi kabar Februari. Maret saya baru merespons,” ucapnya. ”Lalu saya bikin proyek lingkungan. Terus yang saya tawarkan program yang ada di PSG,” paparnya.

Dari 30 negara yang ikut, Ra Umam masuk 10 besar mewakili Indonesia. Dia bangga bisa memperkenalkan Indonesia, Jawa Timur, dan Sumenep ke dunia internasional. Lebih-lebih di bidang lingkungan.

Dikutip dari tenbillionstrong.org, melalui proyek pemulung sampahnya, Umam berencana memperluas kurikulum pendidikan lingkungan ke sekolah lain. Jaringan pesantren melayani lebih 11.000 siswa di 25 sekolah.

Program pendidikan lingkungan mereka fokus pada tindakan serta mendorong siswa untuk mengurangi polusi plastik dan memberikan keterampilan untuk mendaur ulang sampah plastik.

Melalui ajang penghargaan ini Ra Umam ingin pemuda punya perhatian khusus terhadap lingkungan. Apalagi, sekarang itu bukan lagi mengampanyekan buang sampah pada tempatnya. Tetapi, kata dia, kalau bisa jangan membuang sampah. ”Supaya bisa mengurangi sampah,” tandasnya.

Pengumuman pemenang GREEN Prize Award 2021 diumumkan hari ini (5/6). Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Putra almarhum KH Abd. Basith Bahar itu optimistis menjadi number one.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news