alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Pamekasan
icon featured
Pamekasan

Bahas Bahaya Narkoba, Bupati se-Madura Gandeng Bassra

Peredaran di Jatim Nomor 2 setelah DKI

04 Juni 2021, 23: 13: 30 WIB | editor : Haryanto

DEMI MADURA: Dari kiri, Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Bupati Sumenep Achmad Fauzi, dan Bupati Sampang Slamet Junaidi bertemu Bassra membahas masa depan Madura di rumah dinas Bupati Sampang, Rabu (2/6).

DEMI MADURA: Dari kiri, Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Bupati Sumenep Achmad Fauzi, dan Bupati Sampang Slamet Junaidi bertemu Bassra membahas masa depan Madura di rumah dinas Bupati Sampang, Rabu (2/6). (Humas Pemkab Pamekasan for RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Peredaran narkoba di Madura marak. Sejak 2014, peredaran narkoba di Jawa Timur (Jatim), berada di urutan nomor dua setelah DKI Jakarta. Di Jatim, Madura menjadi salah satu titik hitam di dalamnya.

Bupati se-Madura dan Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (Bassra) berkumpul di rumah dinas Bupati Sampang, Rabu (2/6). Mereka membicarakan solusi untuk mencegah peredaran narkoba dan peningkatan ekonomi.

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mengusulkan langkah soft therapy. Yakni, berupa pemasangan banner besar di setiap kabupaten dengan bergandengan tangan bupati dan ulama se-Madura. ”Tegaskan, kita semua bermusuhan dengan narkoba,” ucapnya.

Baca juga: Delapan PMI Positif Covid-19

Politikus PKB itu menambahkan, memberantas narkoba bukan hanya tugas kepolisian. Semua pihak harus bersinergi. Karena itu, setiap bupati sambutan harus diselipkan pesan bahaya narkoba. Sehingga perang terhadap narkoba bisa masif dan merasuk ke setiap telinga masyarakat.

Menurut dia, jumlah pesantren di Jatim sangat banyak. Terkhusus di Madura. Namun peredaran narkoba nomor dua setelah DKI. ”Malu rasanya,” sambung bupati yang akrab disapa Mas Tamam itu.

Mantan anggota DPRD Jatim itu mengatakan, pendidikan keagamaan seharusnya selaras dengan fakta-fakta sosial di masyarakat. Namun ternyata tidak selaras. Karena itu, masalah ini tidak hanya tugas pemerintah. Tapi juga ulama, para penceramah, dan seluruh masyarakat.

”Tidak ada toleransi untuk narkoba,” tegasnya. (ky/luq)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news