alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Pekerja Migran yang Pulang Kampung Terdampak Pandemi Covid-19

Saat Lockdown Tidak Bisa Beraktivitas

02 Juni 2021, 13: 13: 40 WIB | editor : Abdul Basri

DIDATA: Petugas BPBD Sampang mencatat identitas Rinawati dan Munir, PMI yang baru tiba di BLK kemarin.

DIDATA: Petugas BPBD Sampang mencatat identitas Rinawati dan Munir, PMI yang baru tiba di BLK kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

Semangat kerja orang Madura luar biasa. Tidak sedikit yang mengaiz rezeki hingga ke luar negeri. Itu dibuktikan dengan banyaknya pekerja yang pulang selama masa pandemi Covid-19 ini.

ANIS BILLAH, Sampang, Jawa Pos Radar Madura

MATAHARI tepat berada di atas kepala saat pekerja migran Indonesia (PMI) tiba di gedung Balai Pelatihan Kerja (BLK) Sampang kemarin (1/6). Meski tanggal merah, beberapa kendaraan pelat merah terparkir di halaman BLK.

Baca juga: Jelang RUPS, Sinergitas KB Kookmin dan Bosowa Kian Menguat

Layaknya hari aktif, pegawai dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) semangat bertugas. Mereka berasal dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), dinas penanaman modal pelayanan terpadu satu pintu dan tenaga kerja (DPMPTSP dan naker) berbagi tugas. Ada juga dari dinas perhubungan (dishub), dinas sosial (dinsos) serta personel TNI dan Polri.

Ada yang mendata, membantu menurunkan barang bawaan PMI hingga menjaga gerbang BLK. Beberapa kendaraan roda empat sudah berjejer di Jalan Syamsul Arifin untuk menjemput kerabat yang baru tiba di BLK.

Satu per satu PMI dipanggil petugas untuk didata. Jumlah PMI yang datang kemarin 21 orang. Lebih banyak dibandingkan dua hari sebelumnya yang hanya 14 orang.

Rinawati, PMI asal Desa Tragih, Kecamatan Robatal sudah empat tahun bekerja di Malaysia. Di perantauan, perempuan kelahiran 3 April 1993 itu bekerja kontrek alias kuli bangunan. Dia bertugas di bagian tukang angkut barang, seperti kayu dan besi. ”Bangunannya tinggi-tinggi,” tutur perempuan 28 tahun itu.

Hal senada disampaikan Munir. Pria sedesa dengan Rinawati itu lebih lama tinggal di Malaysia. Sekitar lima tahun setengah. Dia mengaku terpaksa berangkat ke negeri jiran karena di tanah kelahiran tidak punya pekerjaan.

Setibanya di Malaysia, pria kelahiran 11 Agustus 1974 itu berburu ringgit dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Namun, sejak pandemi Covid-19, pekerjaan mulai tidak normal. Jika pemerintah Malaysia memberlakukan kunci sementara (kuntara) alias lockdown, dia hanya berdiam diri di tempat tinggalnya.

”Sekarang di sana (Malaysia) tidak bisa ngapa-ngapain karena lockdown 14 hari. Kebetulan (masa berlaku) paspor sudah habis,” tutur pria berkumis tipis itu.

Sebenarnya Munir ingin pulang saat bulan sebelum puasa agar bisa berlebaran dengan keluarga. Namun, niatnya itu baru terwujud sekarang. Sebelum pulang ke Indonesia, dia bersama PMI lain menjalani tes kesehatan. Begitu juga saat tiba di Surabaya.

Meski melalui perjalanan yang melelahkan, Munir terlihat bahagia bisa kembali di Sampang. ”Belum ada rencana balik lagi, soalnya harus buat permit. Banyak yang tidak jadi (buat permit) karena sekarang buat permit sulit,” ungkapnya.

Rinawati dan Munir hanya dua dari sekian pekarja yang terdampak pandemi Covid-19. Proses pemulangan PMI sudah berlangsung sebulan lebih. Total jumlah PMI yang sudah kembali ke Kota Bahari 1.702 orang.

Pemkab Sampang tetap stand by jika sewaktu-waktu mendapat informasi dari Pemprov Jatim terkait pemulangan PMI. Pemkab menyiapkan armada untuk menjemput PMI. Kalau hasil tes dinyatakan negatif Covid-19, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing.

Sebelumnya dia berharap masyarakat tidak khawatir dengan kesehatan perantau yang mayoritas pulang dari Malaysia tersebut. Sebab, PMI sudah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Di sisi lain, Pemkab Sampang juga memfasilitasi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri. Sejak awal tahun DPMPTSP dan Naker Sampang memfasilitasi sekitar lima orang yang berangkat ke luar negeri. Dua di antaranya tujuan Norwegia. Biasanya bekerja di kapal pesiar.

Selain itu, terdapat 3 orang yang dikirim ke Hongkong. PMI di tempat perantauan biasanya bekerja sebagai perawat anak-anak atau lansia. ”Mereka berangkatnya resmi atau legal,” ungkap Plt Kabid Penempatan Tenaga Kenaga Kerja DPMPTSP dan Naker Sampang Agus Sumarso.

Agus tidak banyak mengetahui proses pemberangkatan PMI tersebut. Sebab, warga yang ingin bekerja berangkat dari perusahaan yang sudah bekerja sama dengan majikan di luar negeri. Biasanya, pekerja melamar pekerjaan melalui tahap seleksi dan pelatihan yang difasilitasi oleh perusahaan itu.

”Biasanya kontrak kerjanya dua tahun. Tapi kalau pekerjanya masih mau bekerja, bisa diperpanjang,” terang Agus.

Menurutnya, pemberangkatan PMI tersebut bisa membantu serapan tenaga kerja di Sampang. Otomatis bisa mengurangi jumlah pengangguran. Meski begitu, PMI yang bekerja di luar diharapkan tidak selamanya berada di perantauan.

”Gaji di luar negeri lebih tinggi dibandingkan di sini. Sehingga, ketika selesai kontrak (pulang ke Indonesia) bisa membuka usaha baru,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news