alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Pamekasan
icon featured
Pamekasan

Tempati Posisi Keempat, Penderita Kusta di Pamekasan Se-Jatim

01 Juni 2021, 18: 57: 44 WIB | editor : Abdul Basri

CARI SOLUSI: Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Pamekasan (depan-kiri) Agus Mulyadi menemui rombongan tamu dari Kemenkes.

CARI SOLUSI: Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Pamekasan (depan-kiri) Agus Mulyadi menemui rombongan tamu dari Kemenkes. (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Jumlah penderita kusta di Pamekasan cukup tinggi. Posisinya menempati peringkat keempat se-Jawa Timur (Jatim) dan tertinggi di Madura. Jumlah pengidap kusta di Kota Gerbang Salam saat ini mencapai 1.338 orang.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Pamekasan Agus Mulyadi membenarkan hal tersebut. ”Jumlah penderita tersebut terhitung sejak 2012–2021. Tapi, ada sebagian yang sudah sembuh. Khusus 2021, terdapat 200 penderita,” katanya.

Menurut dia, tingginya jumlah penderita kusta tersebut menjadi atensi pemkab. Karena itu, institusinya bakal mengumpulkan semua potensi yang ada untuk mengatasi tingginya penderita kusta tersebut. Mulai dinkes, kepala puskesmas, camat, Kades, lurah, dan ulama akan dilibatkan untuk menyelesaikan masalah itu.

Baca juga: Tiga Orang Terpilih Jadi Penerjemah Bahasa Madura

”Secara khusus, kita juga akan meminta dukungan para kepala desa. Ketika tim medis turun ke lapangan, penderita diharapkan mau berobat,” imbuh Agus Mulyadi.

Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Pamekasan Marzuky membenarkan jika penyakit kusta di Pamekasan tertinggi di Madura. Kesadaran masyarakat untuk berobat sangat rendah. Bahkan, cenderung tidak terbuka atas penyakit yang diderita. ”Itu masalah kita di lapangan. Saya berharap masyarakat sadar, terbuka, dan mau berobat,” ujarnya.

Dikonfirmasi di tempat terpisah, Direktur Operasional NLR Indonesia Asken Sinaga menjelaskan, untuk menekan penyakit kusta, tidak hanya fokus kepada pasien atau penderita. Tapi, perlu peran masyarakat di sekitar penderita untuk melakukan pencegahan dan memutus rantai penularan post exposure prophylaxis (PEP).

”Pasien kusta diobati secara mandiri dan warga sekitar diberi obat pencegahan. Dengan menerapkan PEP, efektivitas pencegahan bisa mencapai 80–90 persen. Karena itu, kami akan bekerja sama dengan Pemkab Pamekasan agar masalah kusta teratasi. Kami juga akan minta arahan bupat soal ini,” ucapnya.

Agus Handito, dokter yang bertugas di Kemenkes RI, kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengungkapkan, Pamekasan saat ini belum tereliminasi dari penyakit kusta. Karena itu, Pamekasan menjadi atensi institusinya. ”Kemenkes punya target eliminasi kusta. Salah satu cara yang dilakukan, pemberian obat prophylaxis. Itu bisa mencegah penularan kusta pada orang-orang yang pernah kontak dengan penderita,” ungkapnya.

Menurut dia, PEP sudah masuk dalam panduan WHO. NLR Indonesia sebagai salah satu mitra Kemenkes mencoba melakukan upaya baru dengan menerapkan PEP plus-plus. ”Kita terapkan di Pamekasan karena menjadi salah satu kabupaten yang belum eliminasi. Saya berharap upaya ini bisa mempercepat eliminasi kusta di Indonesia,” ungkapnya.

Kepada JPRM, Agus Handito mengungkapkan bahwa penderita kusta di Indonesia sekitar 16 ribu orang. Penderita kusta di Indonesia menempati posisi ketiga tertinggi di dunia setelah India dan Brasil. ”RPJMN 2024 ditargetkan sudah bebas kusta, tapi secara global diharapkan bisa tercapai pada 2030,” pungkasnya.

(mr/sin/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news