alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Santri dan Negeri Tirai Bambu (2)

Cinta Tanah Air dan Melestarikan Budaya

28 Mei 2021, 20: 35: 19 WIB | editor : Haryanto

RIANG SAMBUT KEMENANGAN: Umat Islam tampak berbahagia setelah melaksanakan salat Id.

RIANG SAMBUT KEMENANGAN: Umat Islam tampak berbahagia setelah melaksanakan salat Id. (Nur Musyaffak for RadarMadura.id)

Share this      

Cinta tanah air bisa terlihat dari seberapa cinta terhadap produk-produk dalam negeri. Pemerintah di Tiongkok kompak melakukan tukar hasil bumi antara daerah satu dengan daerah lain. 

KEBEBASAN beragama di suatu negara tetap perlu dibarengi dengan cinta negara. Begitu juga di Tiongkok. Pemerintah di Tiongkok terus menumbuhkan rasa cinta tanah air rakyat Tiongkok. Karena tanpa negara yang aman, sulit untuk melakukan ibadah yang khusyuk. 

Dalam beragama pun, umat diajarkan untuk cinta tanah air. Dengan begitu, tidak jarang ahong (sebutan untuk imam masjid) sering menyampaikan dalam khotbahnya untuk selalu cinta terhadap tanah air, karena hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman.

Baca juga: Jalan Akses Wisata Rusak Parah

SEMARAK: Peserta beradu cepat dalam Festival Perahu Naga yang digelar setiap Juni. Festival ini dirayakan dengan berpedoman pada kalender tradisional Tiongkok.

SEMARAK: Peserta beradu cepat dalam Festival Perahu Naga yang digelar setiap Juni. Festival ini dirayakan dengan berpedoman pada kalender tradisional Tiongkok. (Nur Musyaffak for RadarMadura.id)

Hal seperti ini tidak hanya diucapkan saja. Namun juga harus dibarengi dengan implementasi. Dengan begitu, bisa benar-benar terwujud sebuah negara yang aman dan bisa ditempati oleh banyak orang dengan berbagai perbedaan, saling menghormati, dan toleransi tanpa mempermasalahkan perbedaan.

Sebanyak 56 suku di Tiongkok memiliki kepercayaan, budaya, dan kebiasaan yang berbeda bisa hidup berdampingan. Di antara 56 suku ini terdapat beberapa suku yang beragama Islam saling menghormati dan tolong-menolong. 

Pada hari Jumat ketika umat Islam mengerjakan salat di masjid, jamaah yang hadir bisa membeludak hingga menutup akses jalan. Bahkan, membuat pengendara sepeda dan pejalan kaki lainnya mencari jalan lain untuk lewat atau ada di antara mereka yang menunggu hingga salat selesai. 

Biasanya pada Lebaran Idul Adha dan Idul Fitri, jamaah yang datang ke masjid akan lebih banyak lagi dan membeludak ke luar masjid. Biasanya akan ada polisi yang berjaga-jaga sekaligus mengatur jalan lalu lintas. Hal seperti ini yang perlu dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, tidak saling mengganggu ibadah agama lain. Bisa hidup berdampingan dan saling menghormati.

Tidak hanya itu. Cinta tanah air bisa terlihat dari seberapa cinta terhadap produk-produk dalam negeri. Untuk menghindari impor, pemerintah di Tiongkok kompak melakukan tukar hasil bumi antara daerah satu dengan daerah yang lain. Seperti halnya Tiongkok bagian barat laut (xibei) lebih banyak menghasilkan buah-buahan seperti anggur, kurma, blewa, dan hasil bumi lainnya yang mendistribusikan ke daerah lain. Daerah selatan yang lebih banyak air akan membagikan airnya ke daerah di sekitar padang pasir yang biasanya tidak memiliki banyak air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Di samping itu, untuk kebutuhan teknologi, elektronik, transportasi, dan sebagainya, mereka lebih memilih produk-produk dalam negeri. Pengguna HP Oppo, Xiaomi, Huawei, dan Vivo lebih banyak dibandingkan pengguna HP IPhone. Yang terpenting teknologi atau elektronik yang mereka produksi tidak henti di-upgrade sehingga tidak kalah saing dengan produk-produk luar lainnya. 

Transportasi umum pun demikian. Xiamen menggunakan bus sebagai transportasi umum yang bermerek KingLong atau JinLong yang diproduksi sendiri oleh kota yang berjuluk Kota Amoy. Bahkan, tidak sedikit produk KingLong yang diekspor ke luar negeri memenuhi pesanan negara lain.

Globalisasi dan teknologi boleh berkembang dan maju. Namun, budaya sendiri jangan sampai hilang. Itu yang saya baca dari perkembangan Tiongkok di masa sekarang. Budaya adalah identitas sebuah negara, jangan sampai budaya yang sudah dipelihara oleh nenek moyang hilang begitu saja ditelan kemajuan zaman. Meskipun pergaulan di Tiongkok terbilang sangat bebas seperti di negara-negara Eropa, namun budaya-budaya warisan leluhur tetap mereka jaga.

Seperti halnya perayaan hari raya di Tiongkok. Festival Perahu Naga atau duanwujie digelar setiap bulan Juni. Tanggalnya tidak tetap, karena festival ini dirayakan dengan pedoman kalender tradisional Tiongkok. Pada umumnya festival ini dirayakan dengan memakan salah satu makanan tradisional Tiongkok yang disebut dengan zongzi atau ketan yang diisi dengan daging babi dan dibungkus menggunakan daun berbentuk kerucut. 

Namun untuk yang beragama Islam tidak perlu khawatir tidak bisa mencicipi zongzi. Sebab, ada zongzi halal yang diisi dengan kacang hijau atau daging sapi. Biasanya zongzi halal dibuat langsung oleh tionghoa muslim yang juga ikut memeriahkan festival ini. 

Fenomena seperti ini merupakan bentuk pelestarian budaya oleh semua warga negara. Dengan tanpa melanggar aturan kepercayaan atau kebiasaan masing-masing etnis. Di samping itu, festival ini dimeriahkan dengan lomba perahu naga. Perahu didesain memiliki kepala naga. Didayung oleh beberapa orang. Kemudian diperlombakan untuk mencari peserta yang tercepat mendayung menuju garis finis. (*)

NUR MUSYAFAK lahir di Bangkalan, Rabu, 29 Desember 1993. Sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Linguistics and Applied Linguistics di Central China Normal University Wuhan. Pernah mengenyam pendidikan dan menjadi pengajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Wuhan (2018–2019) dan wakil ketua umum PPI Tiongkok Pusat (2019–sekarang).

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news