alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Oleh ACH. SHODIQIL HAFIL*

10 Mei 2021, 18: 26: 54 WIB | editor : Abdul Basri

Jurus Sufi Melawan Pandemi

Share this      

BERTASAWUF tidak semudah mengucapkan. Bukan karena ajaran itu sulit, melainkan kehidupan yang serba dikelilingi teknologi dan digitalisasi ini menjadi bumerang jika tidak dikendalikan dengan baik. Sebenarnya ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang tertarik terhadap tasawuf. Tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Bagaimana agar tetap bisa bertasawuf tanpa meninggalkan gawai dan beraktivitas dalam dunia daring seperti pada umumnya.

Terlebih lagi di masa pandemi ini, tasawuf bisa menjadi solusi terbaik yang turut andil dalam menyelesaikan kegalauan kaum muda terhadap banyak hal. Tasawuf yang menyejukkan dan mendamaikan dapat diandalkan sebagai suplemen rohani. Untuk itu, setidaknya bisa dicoba lima langkah yang dikonsep oleh KH Muhammad Idris Jauhari (2003) sebagaimana berikut:

Iyqan al-Nafs (meyakinkan diri). Dalam beragama harus dimulai dengan iman (kepercayaan). Tiada agama tanpa iman. Iman dan agama merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam konteks bertasawuf, harus meyakinkan dirinya bahwa tasawuf adalah bagian dari keberagamaan seorang muslim, bahwa asumsi-asumsi yang salah tentang tasawuf sebenarnya bersumber dari kesalahpahaman yang harus diluruskan, dan siapa pun bisa menjadi Sufi. Bahkan, pemuda sekalipun. Karena Sufi bukan otoritas kaum tua. Dari keyakinan inilah kemudian timbul optimisme untuk belajar tasawuf dan optimisme bahwa tasawuf bisa menjadi benteng permasalahan di masa pandemi ini.

Baca juga: Siapkan Tiga Opsi sebagai Tempat Karantina

Taqwim al-Niyyah (meluruskan niat). Niat dalam Islam memiliki peranan yang sentral dan strategis. Menurut beberapa ulama Sufi, niat itu selalu mencakup awal dan akhir dari suatu perbuatan. Meliputi latar belakang, landasan, dan motivasi dari suatu pekerjaan serta tujuan dan sasaran yang akan dicapai.

Al-Tafakur wa al-Tadabur (berpikir dan merenung). Seorang Sufi selalu berupaya untuk memahami dan mendalami hakikat dari apa pun yang dia lihat, dengar, rasakan ataupun yang dia lakukan. Dia tidak pernah puas dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, seremonial, dan serba formal. Dalam konteks seperti ini kita harus mendalami apa hakikat dari pandemi ini? Apa hakikat bertasawuf di masa pandemi ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang hakikat dari setiap apa pun yang dia temui.

Al-Takhalli wa al-Tahalli (membersihkan dan menghias diri). Dalam melaksanakan proses meyakinkan diri, meluruskan niat, serta tafakur dan tadabur, seorang Sufi selalu berusaha untuk membebaskan dirinya dari berbagai penyakit hati dan akhlak yang tercela, seperti takabur, ujub, riya’, hasud, tamak, gibah, dan segala penyakit hati yang dapat menggerogoti amal ibadahnya.

Pada saat yang sama, seorang sufi harus pula berusaha untuk menghiasi dirinya dengan tambahan dan peningkatan ibadah, amal-amal saleh, dan akhlak terpuji. Proses takhalli dan tahalli inilah pada hakikatnya dalam tasawuf ini dikenal dengan istilah thariqah.

Al-Tajalli (menampak). Setelah proses meyakinkan diri, meluruskan niat, tafakur, dan tadabur itu bisa dilakukan secara istiqamah, maka seorang Sufi akan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya dan di sekitarnya, kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi bagaimanapun. Setiap apa pun yang dia lihat, dengar, rasakan dan lakukan, pada setiap suka dan duka, karunia dan musibah, kalah dan menang, untung dan rugi, dia selalu merasakan adanya kebesaran, keagungan, dan keadilan Allah.

Kalau sudah demikian, maka jadilah jiwanya muthmainnah yang rida terhadap apa pun yang ditakdirkan Allah untuk dirinya, sehingga akhirnya dia pun diridai Allah (mardhiyyah) yang masuk dalam kelompok ibadullah dan kelak masuk ke dalam surga-Nya. Itulah puncak dari kehidupan seorang Sufi. Proses al-Tajalli ini dalam tasawuf bisa disebut dengan ma’rifah.

Ma’rifah artinya mengetahui dengan mendalam dan sungguh-sungguh. Seorang sufi harus mengetahui betul apa yang ada dalam dirinya. Potensi apa yang bisa dia kembangkan. Kontribusi apa yang bisa ia berikan di masa pandemi ini. Hikmah apa sebenarnya yang bisa dipetik dari pandemi ini, dan pertanyaan-pertanyaan batiniah lainnya yang harus dijawab dengan menghadirkan Allah di dalam hatinya.

Jadi, ala bidzikrillah tathmainnul qulub? Tentu, berzikir selalu bisa mendamaikan hati yang galau karena ketakutan dan kecemasan yang tiada henti. Mengingat Allah di setiap tindakan dan pikiran membuat manusia sadar bahwa tidak ada suatu apa pun yang tidak berhikmah. Ada hikmah di balik pandemi yang mencemaskan. Ada hikmah di balik kehidupan serba daring yang merepotkan. Ada hikmah di setiap usaha yang dilakukan. Ada hikmah di balik harap yang dipanjatkan. Pun di sini ada pula hikmah di balik kata yang dituliskan. 

*)Santri TMI Al-Amien Prenduan Sumenep, Ketua Yayasan Ar-Rozzaq Bluto, Dosen IAIN Kediri

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news