alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Pamekasan
icon featured
Pamekasan

10 Hari, 506 PMI Nonprosedural Dipulangkan

10 Mei 2021, 18: 25: 27 WIB | editor : Abdul Basri

TRANSIT: Situasi Gedung Islamic Center yang menjadi tempat karantina sebelum PMI yang baru datang dari luar negeri dipulangkan ke rumah masing-masing.

TRANSIT: Situasi Gedung Islamic Center yang menjadi tempat karantina sebelum PMI yang baru datang dari luar negeri dipulangkan ke rumah masing-masing. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Kepulangan PMI dari tanah rantau ke Pamekasan dimulai sejak 30 April. Hingga kloter kesepuluh kemarin (9/5), terhitung sudah 506 PMI yang pulang secara mandiri. Mereka berstatus PMI nonprosedural atau bekerja ke luar negeri tanpa kontrak kerja yang jelas. Keberadaan PMI nonprosedural tersebut menjadi catatan bagi dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (dpmptsp) dan naker.

Plt Kepala DPMPTSP dan Naker Pamekasan Supriyanto membenarkan status kerja 506 PMI yang pulang tidak sesuai prosedur. Mereka tidak mengantongi kontrak kerja di tanah rantau. Jika status kerja PMI tersebut prosedural, pasti memiliki kontrak kerja sebelum berangkat ke luar negeri. Kemudian, visa dan paspor yang dipakai juga khusus ketenagakerjaan.

”Kalau prosedural, sebelum berangkat dimintai keterangan akan bekerja ke siapa dan diminta melampirkan kontrak kerja. Visanya khusus pekerja,” katanya.

Baca juga: Lebih dari Seribu PMI Dipulangkan

Sementara PMI yang pulang ke Pamekasan ini, sambung Supriyanto, paspor dan visa adalah visa kunjungan. Namun kenyataannya, mereka bekerja setelah tiba di luar negeri. ”Mereka berangkat pakai paspor itu (kunjungan, Red) dan sampai di luar negeri mereka hilang (bekerja serabutan),” tukasnya.

Supriyanto menerangkan, PMI nonprosedural tersebut sangat membahayakan keselamatan dan keamanan dirinya sendiri. ”Kadang ada yang ditangkap dan dipulangkan karena tidak sesuai dengan visanya,” katanya.

Dia mengatakan, institusinya tahun ini menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk calon PMI Pamekasan yang akan berangkat ke luar negeri. ”Sebab, banyak TKI yang berangkat tanpa keterampilan dan tidak prosedural,” ujarnya.

Tahun ini anggaran yang disediakan Rp 250 juta untuk pelatihan dan pendidikan calon PMI. ”Kami berharap, masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri mau difasilitasi pelatihan dan keberangkatannya,” terangnya.

Supriyanto mengatakan, salah satu kendala yang ditemui jajarannya saat ke lapangan adalah ketidaktertarikan masyarakat berangkat ke luar negeri secara prosedural. ”Alasannya macam-macam. Tapi, itu menjadi PR besar bagi kita untuk terus menekan PMI nonprosedural,” pungkasnya. (ky)

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news