alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
KH. Mohammad Basthomi Tibyan

Gunakan Benang Sutra, Duri Landak, hingga Tulang Gajah

08 Mei 2021, 22: 30: 54 WIB | editor : Abdul Basri

KIAI SENIMAN: KH Mohammad Basthomi Tibyan menunjukkan proses pembuatan kaligrafi kepala tim Acabis JPRM di rumahnya, Rabu (14/4).

KIAI SENIMAN: KH Mohammad Basthomi Tibyan menunjukkan proses pembuatan kaligrafi kepala tim Acabis JPRM di rumahnya, Rabu (14/4). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Melihat keindahan karya kaligrafi sering kali membayangkan kerumitan di balik goresannya. Ternyata ada kerumitan lain di balik karya indah tersebut. Kerumitan itu adalah proses persiapan. Banyak peralatan yang jarang ditemukan di Indonesia. Apa saja itu? Berikut pemaparan KH. Mohammad Basthomi Tibyan, sang Guru Master Kaligrafi di Ponpes Al-Amien Prenduan.

KERUMITAN membuat karya kaligrafi ternyata tidak hanya saat pembuatannya. Pada tahap persiapan pun tak kalah rumit. Banyak peralatan yang harus didatangkan dari Turki untuk mendapat karya terbaik. Hal itu diketahui ketika KH Mohammad Basthomi Tibyan menekuni dunia kaligrafi.

Menantu almarhum KH. Idris Djauhari, salah seorang pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan, itu menunjukkan proses pembuatan kaligrafi kepada tim Acabis JPRM di rumahnya Rabu (14/4). Menurut dia, pertama yang harus disiapkan adalah tempat. Yakni, meja kerja serta penerangan yang cukup.

Baca juga: Pemkab Pamekasan Beri Beasiswa dan Kuliahkan Anak Guru

Setelah tempat tersedia, barulah kerumitan itu dimulai. Kertas yang digunakan harus memiliki permukaan licin. ”Selain harus ada kertas glossy atau kertas foto, harus licin,” ungkap suami Nyai Faiqoh Bariroh Idris tersebut.

Sambil menyiapkan kertas tersebut, Kiai Basthomi mengatakan, untuk seniman kaligrafi tingkat tinggi biasanya menggunakan kertas muqohar. Kertas tersebut adalah kertas yang juga digunakan saat minta ijazah kepada hakim kaligrafi.

Selain kertas licin, peralatan lain yang harus disiapkan adalah pena. Pena untuk membuat kaligrafi tentu tidak seperti pena pada umumnya yang memiliki bagian mata dari logam. Pena kaligrafi merupakan sebatang kayu yang diruncingkan. Tidak semua kayu bisa dijadikan pena untuk membuat kaligrafi.

”Kayu yang digunakan adalah kayu handam. Nah, yang lebih susah adalah mendapatkan pisau rautnya. Pisau rautnya harus pesan ke Turki,” terang Kiai Bashtomi.

Proses meraut kayu handam juga ada caranya. Bagian runcing pada ujung kayu yang berfungsi sebagai mata pena panjangnya harus sama dengan ruas jemari si pelukis kaligrafi. Dengan kata lain, panjang mata pena harus menyesuaikan panjang ujung ruas jari si empunya.

”Jadi setiap pena tidak bisa digunakan oleh sembarangan orang. Karena pena tersebut dibuat sesuai tangan si pemiliknya. Tujuannya, menyesuaikan keluwesan gerakan pena,” ungkap kiai yang pernah nyantri ke Rais PC NU Sumenep KH Hafidzi Syarbini di Kecamatan Batuan, Sumenep, itu.

Setelah mempersiapkan pena yang berbahan kayu handam dan pisau rautnya, masih ada alat penunjang lain yang tak kalah penting. Alat tersebut berupa talenan untuk menahan kayu handam ketika diruncingkan. Talenan ini pun tidak bisa ditemukan di Indonesia.

”Talenannya khusus. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar namun tidak ada yang jual di Indonesia. Sebab, bahannya dari tulang gajah,” ucap Kiai Basthomi sambil menunjukkan proses meraut di atas tulang gajah yang dia beli secara online.

Peralatan penting lain yang harus ada saat membuat kaligrafi adalah tinta. Meski tintanya bisa mudah didapatkan, namun, lanjut Kiai Basthomi, wadah untuk tinta sebaiknya berbahan kuningan. ”Kebetulan punya saya sedang dipinjam teman. Jadi pakai yang ada saja ya,” katanya sambil menunjukkan wadah berbahan kaca yang sudah berisi tinta.

Tinta tidak dituang begitu saja ke dalam wadah tersebut. Seperti halnya tinta untuk pena lain, harus ada serabut dalam wadah tersebut. Nah bedanya, serabut untuk tinta kaligrafi ini biasanya menggunakan benang khusus. ”Pakai benang sutra. Itu yang paling bagus,” paparnya.

Alat lain yang juga sulit didapatkan berupa pengaduk tinta dengan benang sutra. Menurut Kiai Basthomi, alat pengaduk diambil dari duri landak. ”Saya masih pesan,” ungkapnya.

Perbedaan lain dalam proses membuat kaligrafi adalah ketika hendak membersihkan pena dari tinta yang mulai mengering. Menurut Kiai Busthomi, seorang khatot atau penulis kaligrafi pasti membersihkan pena dengan cara khusus. Yaitu, menggunakan tisu yang sudah diberi ludah.

”Setelah itu baru tisu dilapkan ke ujung pena. Itu ada sanadnya. Sanadnya itu sampai ke Sayiddina Ali,” jelas dia.

Kiai Basthomi mengingatkan, bagi mereka yang sedang belajar diwajibkan menggunakan tinta warna hitam. Tidak boleh menggunakan tinta selain warna tersebut. ”Untuk pengoreksi warna apa saja selain hitam,” tegasnya.

Dirinya mengaku menjadikan seni kaligrafi sebagai salah satu jalan dakwah. Menurut Kiai Basthomi, Allah itu indah dan menyukai keindahan. ”Allahu jamil yuhibul jamal. Jadi kalau dikaitkan dengan semua ciptaan, Allah itu penuh dengan seni. Seperti pohonlah. Dari batangnya, dari ranting, terus buah. Itu serasi semua,” ungkapnya.

Menurut dia, semua keindahan yang diciptakan Allah tidak ada yang bisa dikritik. Walaupun itu berbentuk kotoran atau kecoa. ”Kalau mau dikritik, mau dikritik apanya? Paling sifat-sifatnya,” tegasnya.

Kecintaan Kiai Basthomi terhadap kaligrafi sudah ada sejak dia masih kecil. Bahkan, ketika dirinya masih nyantri di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, dia berharap bisa ke tanah suci melalui perantara kaligrafi. Harapan itu hampir saja terwujud. Namun, tidak mendapat restu dari orang tua.

”Dulu ada pemintaan dari Saudi untuk membuat rasm. Rasm Itu kaligrafi dan pemandangan. Kalau khat itu hanya tulisan. Saat itu usai madrasah aliyah (MA), sekitar 1994. Sayangnya saat itu orang tua kurang merestui,” ungkap Kiai Basthomi.

Kiai Basthomi menuturkan, enam jenis khat bisa dipelajari dalam satu tahun bagi pemula. Mulai dari khat Naskhi, khat Riq’ah, khat Diwani, khat Kufi, khat Tsuluts, dan khat Farisi. Itu bisa berhasil jika belajar dengan intens.

”Kalau konsentrasi seperti di Lemka (Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an) di Pak Din Sirojudin, hanya butuh satu tahun. Itu standar ya. Tapi kalau di pesantren dengan banyaknya aktivitas, mungkin satu tahun hanya bisa satu jenis khat,” pungkas kiai yang pernah nyantri ke Kiai Faruq di Rembang, Jawa Tengah, itu.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news