alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Memilih Fakir atau Terjerat Kefakiran

Oleh SHULHAN*

08 Mei 2021, 20: 03: 03 WIB | editor : Abdul Basri

Memilih Fakir atau Terjerat Kefakiran

Share this      

”Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS: Hud, 6).

AYAT ini seolah menyandera umat Islam untuk bergerak dinamis dalam meningkatkan kualitas finansial. Mereka meyakini bahwa setiap rezeki makhluk hidup dijamin oleh Allah SWT. Tetapi, mereka kurang dapat membedakan kata rizq dan maal.

Rizq merupakan pemberian Allah SWT untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (lihat mu’jam al-’arab). Rezeki-Nya tidak bergantung pada life style manusia dan human willingness, tetapi sesuai iradah atau kehendak-Nya.

Baca juga: Status Perkara Naik ke Penyidikan

Harta hanya diberikan kepada manusia olah Sang Pemberi Kehidupan. Sedangkan rezeki diberikan kepada semua makhluk hidup, termasuk manusia. Rezeki bagi manusia berfungsi untuk memenuhi kebutuhan primer. Sedangkan harta adalah segala kepemilikan walaupun belum tentu digunakan untuk kebutuhan. Manusia tidak mewariskan rezeki kepada anak cucunya, tetapi mewariskan harta kerena rezeki berfungsi secara individual dan tidak dapat dipindahkan.

Jika manusia ingin memaksimalkan jaminan rezeki Allah sesuai ayat di atas, mereka harus meniru gaya hewan dalam bertawakal dan kesederhanaan. Metode ini berhasil dipraktikkan secara sempurna oleh orang yang menyadari kehidupan akhirat lebih berarti dari dunia dan seisinya serta merindukan berjumpa Allah. Tanpa kesadaran itu, manusia sulit untuk melepas diri dari kenyamanan dunia.

Kelompok ini memilih hidup miskin atau fakir karena merasa kenikmatan dunia tidak berarti dibandingkan nikmatnya tawajuh (menghadap) Allah SWT. Proses ini dapat diistilahkan tafqir al-nafsi atau faqir ikhtiar, usaha secara sadar untuk hidup miskin karena terdorong pengalaman spiritual untuk memilih jalan sufi. Orang-orang ini mulanya bergelimang harta namun kemudian mewakafkan hartanya untuk agama dan kemanusiaan.

Mereka dapat membandingkan kenyamanan dunia dan keistimewaan akhirat karena berpengalaman menjadi orang kaya atau penguasa sekaligus menyelami secara serius spiritualitas aplikatif bukan sebatas teori doktrinal yang diindokrinasi melalui kegiatan pembelajaran parsial tanpa riyadhah (latihan) yang mendalam dengan bimbingan mursyid yang mumpuni. Ada beberapa contoh tokoh muslim yang berhasil menjalani proses ini. Salah satunya adalah Khalifah Utsman.

Utsman termasuk golongan konglomerat pada zamannya. Kemudian dia menafkahkan sepertiga hartanya untuk agama Islam. Bahkan, peninggalannya berupa sumur menjadi cikal bakal Baitul Maal di Madinah yang sampai detik ini masih ada dan terus dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Sosok ini menggambarkan proses transformasi rohani dengan sempurna, meninggalkan kekayaan dunia demi kehidupan akhirat. Hartanya diinvestasikan untuk keberlanjutan dakwah Islam sebagai bentuk dedikasi tertinggi kepada Allah SWT.

Pertanyaan menggelitik sekarang, adakah di antara kita yang mampu melewati proses laiknya Utsman? Rasanya sulit dijumpai kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Umat Islam di dunia rata-rata berada dalam taraf fiqir nasib, kondisi sulit finansial dan itu bukan pilihan yang disengaja, melainkan desakan keadaan. Mayoritas kita tidak menghendaki hidup sengsara, sederhana, dan diliputi berbagai kekurangan. Buktinya, orang-orang seperti kita ini bekerja mati-matian untuk mendapatkan rupiah bahkan hingga larut malam dan tidak kenal waktu. Ibadah wajib pun seperti salat lima waktu dilalaikan karena sibuk merawat tanaman di kebun atau berjualan di pasar, dan lain sebagainya.

Jika kelompok ini merasa mampu mendahului Nabi Sulaiman masuk surga karena kefakirannya, bukan karena rahmat Allah, rasanya tidak berlebihan jika mereka disebut orang sombong.

Kita hendaknya menyadari bahwa orang fakir yang akan masuk surga terlebih dahulu sebelum orang kaya adalah orang-orang yang memilih hidup miskin dangan kesadaran penuh. Mereka adalah hartawan yang memilih hidup miskin agar fokus beribadah kepada Allah tanpa terganggu urusan dunia.

Bagi umat Islam, dalam garis kemiskinan atau kefakiran bukan pilihan (faqir nashibi) seharusnya tidak terburu-buru mengaku dirinya tidak membutuhkan harta dan keduniaan lainnya. Mereka perlu bertanya pada dirinya apakah kondisi sehari-hari ini dilalui dengan penuh gembira atau malah sebaliknya. Bahagia itu terwujud karena pengalaman batin (spritual) yang didasari ilmu dan wawasan yang luas. Kelompok ini sering melakukan pembenaran (justification) kondisi sulitnya dengan fatwa doktrin keagamaan tentang keutamaan miskin.

Pembenaran ini tidak cukup sebagai dasar untuk terus hidup di bawah garis kemiskinan. Suatu saat jika ada kesempatan untuk menjadi kaya, mereka tanpa pertimbangan akan memilih status kaya itu.

Kelompok masyarakat faqir nashibi ini harus menyadari pentingnya meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan agar mendapatkan akses dan kesempatan untuk meraih kejayaan dunia. Mereka perlu merasakan pengalaman menjadi orang kaya, pejabat atau petinggi negara sehingga hidupnya serba kecukupan. Jika dalam posisi ini mereka mampu berpaling dari tipuan kenyamaan dunia dan memilih hidup miskin karena Allah, itu pertanda mereka termasuk gologan yang nanti masuk surga kali pertama. 

*)Dewan Pengasuh Lembaga Pendidikan Ar-Rasyid, Duko, Rubaru, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news