alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kiat KH. Ilzamuddin Sholeh

Siapkan Kandang Sapi Komunal, Wali Santri Jadi Partner Bisnis

Berdakwah lewat Media Pertanian

06 Mei 2021, 19: 04: 09 WIB | editor : Abdul Basri

TERPADU: KH. Ilzamuddin Sholeh berada di kandang sapi yang sedang dia bangun di sekitar Ponpes Al-Fatih di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Kamis (15/4).

TERPADU: KH. Ilzamuddin Sholeh berada di kandang sapi yang sedang dia bangun di sekitar Ponpes Al-Fatih di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Kamis (15/4). (MOH. ALI MUHSIN/RadarMadura.id)

Share this      

KH. Ilzamuddin Sholeh terus mengembangkan usaha di bidang pertanian. Kiai yang terinspirasi oleh Pangeran Katandur itu berupaya menyiapkan pertanian yang terintegrasi dengan peternakan. Seperti apa cara dia mewujudkan partanian terpadu itu?

Oleh: FERI FERDIANSYAH

KEBUTUHAN pupuk terus bertambah seiring pengembangan lahan pertanian yang dikelola Ponpes Al-Fatih. KH Ilzamuddin Sholeh kemudian mulai melirik ke arah peternakan. Upaya tokoh agama yang biasa disapa Kiai Nangkernang untuk mengintegrasikan pertanian dan peternakan juga didasarkan keinginannya meningkatkan taraf hidup wali santri.

Baca juga: Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Karena itu, usaha peternakan yang akan dikelola koperasi pondok pesantren (kopontren) Al-Fatih tersebut akan melibatkan wali santri sebagai partner kerja. Rencana tersebut akan segera terwujud. Usai melaksanakan salat Asar, Kiai Nangkernang mengajak tim Acabis Jawa Pos Radar Madura melihat kandang sapi yang sudah dibangun, Kamis (15/4).

Kandang tersebut berada di barat Masjid Ponpes Al-Fatih. Tepatnya di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Siapa pun yang hendak menuju kandang tersebut harus melewati kebun jagung yang cukup luas.

”Kami punya konsep membuat kandang sapi komunal kapasitas dengan pertama 200 ekor. Wali santri kita ajak bermitra. Bagi yang punya sapi bisa langsung menitipkan ke kopontren,” ucap Ki Nangkernang setelah mengajak tim Acabis Jawa Pos Radar Madura melihat kandang yang sedang dia bangun.

Bagaimana jika wali santri tidak memiliki sapi? Ki Nangkernang mengatakan, hal itu bukan masalah. Pihak ponpes memiliki jalan keluar dengan memanfaatkan program pemerintah yang dikenal Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani. Bahkan, 100 wali santri di Ponpes Al-Fatih sudah daftar program tersebut.

”Masing-masing mendapatkan pinjaman Rp 25 juta. Saya belikan 2 ekor sapi untuk masing-masing wali santri. Jadi ada 200 ekor sapi nantinya,” terang Kiai Nangkernang yang kali ini memilih berbincang di sebuah gardu milik Ponpes Al –Fatih.

Dengan mengikutkan program tersebut, wali santri tidak perlu mengeluarkan banyak modal. Wali santri hanya bermodalkan sedikit. Berupa administrasi dan ujroh atau bunga. Dari dua ekor sapi tersebut dalam satu tahun diharapkan bisa menghasilkan 1 ekor sapi baru.

Jadi tahun berikutnya sapi yang merupakan pinjaman bisa kembali dijual dan uangnya dikembalikan kepada bank. Setelah menghasilkan satu sapi untuk sepasang sapi pinjaman, barulah masuk ke bisnis yang sebenarnya. Sapi-sapi yang sudah layak jual akan dijual dalam bentuk daging. Hasilnya menjadi keuntungan koperasi dan wali santri.

Tak hanya itu. Selama masa pemeliharaan, sapi-sapi tersebut akan menghasilkan pupuk kandang. Pupuk kandang inilah yang digunakan untuk kebutuhan pupuk tanaman jagung dan porang di Ponpes Al-Fatih.

Jika kotoran sapi berlebih, bahan pupuk kandang tersebut masih bisa dijual ke luar. Hasilnya tentu saja untuk semua yang terlibat dalam usaha tersebut. ”Misal ada pekerja yang merokok, kan hasil dari kotorannya saja bisa dibelikan rokok. Jadi mandiri kan?” yakinnya.

Kiai Nangkernang yakin dengan menciptakan magnet ekonomi, pesantren diharapkan bisa mandiri. Sehingg,a kebutuhan pesantren tidak bergantung pada pihak ketiga. Bahkan untuk pengembangan sekalipun bisa didanai sendiri.

”Ketika kami memiliki aset 200 ekor sapi, kemudian kami mau membangun madrasah atau apa pun, kan tinggal menjual hasil sapinya. Tidak bergantung pada dana ini itu lagi,” ungkap kiai yang juga menjadi ketua kelompok pertanian (poktan) di kampungnya itu.

Nama kampung tempat berdirinya Ponpes Al-Fatih adalah Kampung Nangkernang. Dari nama kampung itulah KH Ilzamuddin Sholeh dikenal dengan sebutan Kiai Nangkernang. Dia pun tidak menolak dengan sebutan tersebut.

Dulu, kata dia, para mubaligh tidak menonjolkan nama aslinya. Tapi lebih dikenal nama tempat atau julukan. ”Contohnya, orang menyebut Kiai Bata-Bata rawuh. Mereka tidak menyebut nama Kiai Hamid atau Kiai Tohir. Tapi Kiai Bata-Bata. Oh Sunan Kali Jaga, siapa itu? Raden Sahid. Sunan Ampel, siapa itu? Raden Rahmat,” terang Kiai Nangkernang yang saat itu duduk bersila di gardu.

Kiai Nangkernang berharap penggunaan lakab”Nangkernang” pada dirinya bisa mendidik dia menjadi orang yang ikhlas seperti kiai lain atau para pendahulunya. Baginya, penyebutan tersebut memiliki makna menghilangkan ego. Menghilangkan sikap keakuan.

Atas dasar itu pulalah ketika ditanya apakah ikhlas membangun Ponpes Al-Fatih, dirinya pasti memberikan jawaban yang sama. Pasti dia jawab agar tidak bertanya padanya. Sebab, dia hanya meneladani dan meneruskan apa yang dilakukan Pangeran Katandur dan para almarhumin.

Dia kemudian kembali menjelaskan rencana ternak sapi secara komunal. Pakan sapi yang nanti diberikan berupa konsentrat. Pakan tersebut tidak menyebabkan kotoran sapi menjadi bau. ”Sudah ada uji cobanya di sini. Kami punya dua ekor sapi yang diberi pakan konsentrat. Alhamdulillah tidak ada bau sama sekali,” ungkapnya.

Dirinya berharap apa yang diupayakan saat ini bisa sukses. Bahkan, usaha itu diharapkan bisa ditiru. ”Semoga apa yang saya harapkan seiring dengan rida Allah dan harapan para wali santri. Semoga santri dan para gurunya bisa didanai dari hasil pertanian dan peternakan,” tuturnya.

Dia berharap seiring perkembangan bisnis di Al-Fatih, ponpes bisa semakin besar. Tahun ini Ponpes Al-Fatih baru bisa menerima santri mukim. Sebelumnya hanya santri kalong dan siswa madrasah yang jumlahnya mencapai 194 orang. Sekarang sudah ada asrama santri putra dan putri.

”Dan yang terpenting sekarang sudah ada yang melayani, dalam artian juru masak. Dulu belum ada. Karena itu, saya tidak berani. Sekarang yang mukim untuk putra ada 15 orang. Untuk putri 9 orang,” pungkasnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news