alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Oleh RUSDI EL UMAR*

06 Mei 2021, 16: 53: 46 WIB | editor : Abdul Basri

Pesantren dan Tadris Kitab Kuning

Share this      

PESANTREN merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pesantren tertua yang dapat diketahui tahun berdirinya adalah Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh Sunan Pakubuwono II pada 1742. Selanjutnya, lembaga pendidikan pesantren diresmikan pada 1800-an. Serat Centhini menyebutkan bahwa cikal bakal pesantren terdapat di Karang, Banten. Hingga saat ini, keberadaan pesantren sudah mencapai lebih kurang 279 tahun.

Pada jejak sejarah lembaga pesantren, pelajaran tidak melulu dalam hal keagamaan. Perjalanan berikutnya, ilmu sains pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan lembaga tradisional ini. Meskipun tradisi yang terjadi di lembaga pesantren ini fokus kepada keislaman, namun ilmu-ilmu umum lainnya juga menjadi target yang tidak terabaikan. Hal ini karena pesantren melihat lebih ke kemaslahatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Lahirkan Ilmuwan

Baca juga: Pak Haji Meninggal di Sungai

Jika pesantren melahirkan kiai, ulama, ustad, dai, dan keilmuan Islam lainnya merupakan sebuah kewajaran, lain halnya jika kemudian pesantren melahirkan ilmuwan dari bidang sains. Seperti insinyur, teknokrat, dokter, angkasawan, dan lain sebagainya, yang lahir dari pesantren bukan sebuah kemustahilan. Tidak sedikit, hingga saat ini, ilmuwan sains yang lahir dari lembaga tradisional ini. Bahkan, pahlawan dan pejuang pun terlahir dari sebuah pondok pesantren. Hal ini tentu akan menjadi semakin jelas bahwa pesantren memberikan kontribusi di segala aspek kehidupan.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, ulama sekaligus pemikir ulung, merupakan seorang ilmuwan dan sekaligus pahlawan nasional. Beliau adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU). KH Wahid Hasyim, seorang tokoh yang luar biasa dalam kiprah dan turut serta membangun bangsa Indonesia. KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur), adalah tokoh yang lahir dari dunia pesantren. Bahkan, Gus Dur sempat menjabat sebagai presiden RI ke-4. KH Ahmad Dahlan, tokoh sekaligus ilmuwan yang mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Dan masih banyak lagi ilmuwan dan tokoh yang lahir dari dunia pesantren yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam artikel singkat ini.

Tadris Kitab Kuning

Pesantren tidak dapat dipisahkan dengan kitab kuning. Kitab kuning menjadi karakter khusus dan menjadi ciri khas di lembaga ini. Kitab kuning merupakan sebutan untuk kitab yang (umumnya) ditulis dan terdiri dari bahasa Arab. Kitab kuning, dalam pendidikan agama Islam (baca: pesantren), merujuk pada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam yang diajarkan di pondok-pondok pesantren, mulai dari fikih, akidah, akhlak, tata bahasa Arab, hadis, tafsir, ilmu Al-Qur’an, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (Wikipedia).

Tadris atau pelajaran kitab kuning tidak terlepas dari kaidah bahasa Arab, yaitu ilmu nahwu dan sharaf. Kedua cabang ilmu ini –juga dicetak dalam bentuk kitab kuning– merupakan aspek ilmu yang mempelajari bagaimana cara memahami, membaca, dan mengerti terhadap kitab yang notabene berwarna kuning (tidak semua, tapi mayoritas).

Terkait dengan kitab kuning yang menjadi ciri khas sebuah lembaga pesantren, maka menjadi santri harus memahami dan mengerti kitab khas pesantren ini. Sebab, santri yang belajar di lembaga pesantren dalam keseharian tidak lepas dari tadris pelajaran kitab kuning. Dalam kitab yang membahas beragam tema atau materi, baik dari aspek keislaman maupun lainnya, menjadi jiwa seorang santri. Jika ada komitmen serta keseriusan dalam belajar, kitab yang biasa disebut dengan ”kitab turos” ini mudah kita pahami.

Santri dan Akhlak

Di dalam kitab kuning juga dibahas tentang akhlak. Tata kehidupan yang membangun bagaimana menjadi seseorang yang berkomumikasi dengan orang lain. Santri yang beretika atau memiliki akhlak yang mulia menjadi target utama dalam kehidupan santri di sebuah pesantren. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu).

Sebagai Generasi Islam

Santri memiliki kemuliaan akhlak merupakan sebuah keharusan. Karena setelah kembali ke kampung halaman, biasanya santri dijadikan panutan dan harapan bagi masyarakat. Oleh karena itu, santri harus mempersiapkan diri menjadi pionir di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pesantren, santri, dan kitab kuning adalah tiga aspek yang tidak terpisahkan. Di dalam kitab kuning dibahas tentang berbagai hal, termasuk bagaimana cara memiliki akhlak di dalam kehidupan. Lebih jauh, di dalam kitab turos ini juga dibahas bagaimana kita berhubungan, baik berhubungan dengan diri sendiri, dengan masyarakat sekitar, bahkan hubungan dengan Allah SWT. Wallahu A’lam! 

*)Alumnus PP Annuqayah. Mengajar di MTs Darul Ulum Batuputih

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news