alexametrics
Kamis, 29 Jul 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
KH. Ilzamuddin Sholeh

Terinspirasi Pangeran Katandur, Tanam Jagung hingga Porang

Berdakwah lewat Media Pertanian

05 Mei 2021, 18: 52: 31 WIB | editor : Abdul Basri

MURNI UNTUK SANTRI: KH. Ilzamuddin Sholeh menunjukkan lahan pertanian jagung dan porang di sekitar Ponpes Al-Fatih di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Kamis (15/4).

MURNI UNTUK SANTRI: KH. Ilzamuddin Sholeh menunjukkan lahan pertanian jagung dan porang di sekitar Ponpes Al-Fatih di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Kamis (15/4). (FERI FERDIANSYAH/RadarMadura.id)

Share this      

KH. Ilzamuddin Sholeh adalah pengasuh Ponpes Al-Fatih. Pondok ini berada di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Meski berstastus sebagai kiai, namun kesehariannya tak ubahnya petani. Bahkan, areal ponpes miliknya dikelilingi lahan pertanian. Seperti apa kisah kiai yang biasa dipanggil Kiai Nangkernang itu?

SEBENARNYA saya tidak jauh berbeda dengan kiai-kiai yang lain. Waktunya mulang ya mulang. Waktunya sorogan ya sorogan. Cuma sisi lain dalam kehidupan saya itu, saya lebih tertarik di dunia pertanian,” begitulah Kiai Nangkernang mengawali perbincangan dengan tim Acabis Jawa Pos Radar Madura di pelataran masjid Ponpes Al-Fatih, Kamis sore (15/4).

Kiai Nangkernang kemudian menyandarkan tubuhnya ke dinding masjid. Sesekali wajahnya dia tengokkan ke dalam masjid. Melihat santri-santrinya yang sedang menunggu azan Asar. Dari cara berpakaian, tampak jelas jika dia kiai yang sangat sederhana.

Baca juga: Pesantren dan Kekayaan Intelektual

Kiai Nangkernang menegakkan posisi duduknya. Dia pun menjelaskan kenapa dirinya berdakwah dengan media pertanian. Menurut dia, pertanian itu identik dengan rakyat. Sangat merakyat. Bahasanya sederhana. Tidak ada ewuh pakewuh.

”Yang kedua, pertanian itu kaitannya dengan pangan. Kebutuhan pokok. Manusia tidak bisa hidup tanpa hasil pertanian,” ungkap kiai bertitel sarjana pertanian itu.

Berdakwah melalui media pertanian bukanlah hal baru di dunia Islam. Menurut Kiai Nangkernang, apa yang dia lakukan hanya meneruskan ulama terdahulu. Dirinya mengaku terinspirasi oleh Pangeran Katandur di Sumenep. Pangeran Katandur berdakwah melalui media pertanian.

”Beliau itu seorang dai. Cucu Sunan Kudus. Berdakwah dari Kudus. Beliau bernama Pangeran Katandur. Nama aslinya Sayyid Ahmad Baidlawi. Beliau wafat di daerah Bangkal, Sumenep,” terangnya.

Menurut Kiai Nangkernang, awal mula berbaur dengan masyarakat Sumenep Pangeran Katandur mengajari cara bercocok tanam yang benar. Awalnya masyarakat banyak yang tidak tahu bertani. Berkat Pangeran Katandur, masyarakat Sumenep kemudian ahli di bidang pertanian.

Setelah diajarkan Pangeran Katandur, hasil panen masyarakat menjadi sukses. Dari situlah muncul kekaguman masyarakat kepada Pangeran Katandur. Setelah kagum, tentu saja Pangeran Katandur diidolakan. Yang namanya idola, jangankan dawuhnya, penampilannya saja diikuti. ”Jadi tidak langsung mengajarkan syahadat,” terang Kiai Nangkernang.

Masih menceritakan tentang Pangeran Katandur, Kiai Nangkernang mengatakan, saat panen masyarakat Sumenep sukses, sang pangeran kemudian mengajak menggelar tasyakuran. Waktu itu membuat acara hiburan seperti karapan sapi. Tapi tidak dipukul pakai paku. Hanya digertak saja supaya lari. Itu ekspresi dari tasyakuran panen raya.

Dari situlah, lanjut Kiai Nangkernang, sapi digunakan untuk membajak sawah. Dua ekor sapi diberi nanggala. Seiring perkembangan teknologi, diganti oleh traktor. Menurut dia, dua roda hand tractor itu pengganti sapi.

”Terus ada satu bajak di belakang. Ya sama itu namanya nanggala. Traktor itu sebenarnya nanggala imitasi. Tidak original. Originalnya ya nanggala itu,” ucapnya lantas tertawa.

Kiai Nangkernang selama ini menanam jagung. Dari hasil jagung itulah para santri di Ponpes Al-Fatih bisa makan selama satu tahun. Jumlah santri di Ponpes Al-Fatih mencapai 194 orang. Tapi yang mukim baru 24 orang.

”Hasilnya murni saya hadiahkan kepada santri untuk dimakan selama satu tahun. Jadi santri yang mukim di sini tidak perlu dikirim oleh orang tuanya. Cukup dari hasil jagung, biar jerih payah keringat ini saya infakkan untuk santri saya,” tuturnya.

Sebagai pengembangan usaha, Kiai Nangkernang tahun ini sudah mencoba menanam porang. Komoditas ekspor ini ditanam di lahan seluas setengah hektare. Dia menanam 15 ribu bibit sebagai uji coba. ”Ternyata hasilnya bagus. Insyaallah tahun depan 4 hektare. Lahan tersebut sudah saya siapkan untuk musim taman yang akan datang,” ungkapnya.

Seperti halnya jagung, porang yang akan ditanam nanti tidak murni bisnis. Sebagian hasilnya untuk pengembangan Al-Fatih yang dibangunnya pada 2012 silam. Kiai Nangkernang berharap apa yang dia lakukan hanya ingin meneladani perjuangan para ulama terdahulu.

Pondok pesantren ini didirikan pada akhir 2012. Itu setelah Kiai Nangkernang ziarah ke para leluhur dan Wali Sanga. Menurut dia, mereka berdakwah tanpa mengenal waktu dan tempat. Apa yang mereka punya didermakan untuk agama. ”Nah kita yang hidup sudah penuh dengan kenyamanan dan kecukupan malah kadang lupa untuk menyebarkan agama,” tuturnya.

Waktu azan Asar pun tiba. Kiai Nangkernang meminta wawancara dihentikan sementara. Dia kemudian menugaskan salah seorang santrinya untuk mengumandangkan azan.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news