alexametrics
Sabtu, 19 Jun 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Pesantren dan Kekayaan Intelektual

Oleh THORIQ AZIZ JAYANA*

05 Mei 2021, 18: 45: 14 WIB | editor : Abdul Basri

Pesantren dan Kekayaan Intelektual

Share this      

PESANTREN, kata Nurcholish Madjid, merupakan lembaga pendidikan Islam yang indigenous. Ia bukan hanya sarat dengan makna keislaman, tetapi juga identik dengan nuansa keaslian budaya Indonesia. Artinya, pesantren adalah aset bangsa yang sangat berharga. Oleh sebabnya, ia harus tetap dipelihara dan dikembangkan.

Bukan hanya karena berperan dalam menyebarkan dakwah Islam, namun pula kiprahnya yang luar biasa dalam menjaga nilai-nilai tradisi, memperjuangkan kemerdekaan, serta besar sumbangsihnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, dari rahim pesantrenlah, banyak lahir tokoh dan guru bangsa.

Sebut saja, KH Muhammad Saleh asal Semarang (atau dikenal dengan Kiai Saleh Darat: wafat pada 1903). Beliau merupakan sosok ulama yang sangat berpengaruh sekaligus kiai pesantren yang menghasilkan banyak santri hebat. Seperti RA Kartini (wafat: 1904) pejuang emansipasi wanita, Kiai Ahmad Dahlan (wafat: 1923) pendiri organisasi Muhammadiyah, Kiai Hasyim Asy’ari (wafat: 1947) pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan lainnya.

Baca juga: Bupati Akan Jadi Peragawan Batik Pamekasan

Kiai Hasyim Asy’ari sendiri disebut oleh Asad Shahab (jurnalis asal Lebanon) sebagai wadli’u labnati istiqlali Indonesia, yakni peletak dasar kemerdekaan Indonesia. Sebab, saat itu Indonesia belum betul-betul merdeka dari penjajahan kolonial. Hingga Resolusi Jihad diserukan oleh Kiai Hasyim pada Oktober 1945, yang kemudian diikuti oleh semua ulama dan santri Jawa-Madura, untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan.

Selain pernah nyantri di pesantren Kiai Saleh Darat Semarang, Kiai Hasyim juga berkelana menimba ilmu di pesantren Mbah Kholil Bangkalan, Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Wonokoyo di Probolinggo. Begitulah kebiasaan ulama-ulama terdahulu, nyantri dari satu pesantren ke pesantren lain, yang kemudian akan membentuk jaring-jaring (genealogi) ulama Nusantara.

Dari Pesantren Tebuireng, Jombang, yang didirkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, lahirlah Kiai Wahid Hasyim (wafat: 1953) yang tidak lain merupakan putranya, yang pernah menjabat Menteri Agama dan telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Demikian pula putra dari Kiai Wahid, lahirlah Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur: wafat 2009) sebagai seorang santri brilian dan pernah menjadi Presiden RI keempat.

Kecemerlangan berpikir Gus Dur tidak datang begitu saja, akan tetapi ditempa dengan banyaknya pengalaman nyantri ke sana kemari. Selain belajar di pesantren kakeknya sendiri, Gus Dur pernah nyantri ke Pesantren Krapyak (Jogjakarta) asuhan Kiai Ali Maksum, nyantri di Tegalrejo di bawah bimbingan Kiai Chudori, kemudian nyantri di Tambakberas (Jombang) asuhan Kiai Wahab Hasbullah.

Demikian pula banyak sekali tokoh dan guru bangsa di negeri ini yang notabene pernah menjadi santri. Sebut saja, Kiai Ma’ruf Amin (wakil presiden), Moh. Mahfud MD (Menko Polhukam), Gus Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama), Habib Luthfi Yahya Pekalongan (ulama-mursyid), Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus: ulama-sastrawan), M. Quraish Shihab (mufassir), dan sebagainya.

Tradisi Keilmuan

Bila kita pernah nyantri di pesantren, pastilah dapat merasakan begitu kuatnya iklim keilmuan di dalamnya. Setiap ada waktu luang, diisi dengan kegiatan yang menunjang akademis, bisa dengan menghafal Al-Qur’an, hadis, maupun nadzam, membaca berbagai kitab, berdiskusi, dan sebagainya. Dan sering kali diadakan bahtsul masail untuk memecahkan suatu persoalan hukum kontemporer, yang kadang kala diikuti dengan perdebatan panjang hingga tercapai ”kesepakatan”.

Di pesantren, hingga saat ini, masih mempertahankan kajian kitab kuning sebagai referensi utamanya. Seiring perkembangan keilmuan, maka ”kitab-kitab putih” pun juga banyak dikaji di pesantren. Pada level atas, santri bisa dengan leluasa membaca dan mengkaji kitab-kitab yang bejibun, beragam bahasa, berbeda mazhab, dan berbeda aliran pemikiran; mulai dari yang literal-fundamental, moderat, hingga yang liberal-rasional. Semua disediakan di pesantren.

Di pesantren pula, santri dibekali dengan beragam keahlian dan asah bakat. Mulai dari kemampuan berbahasa asing; khususnya bahasa Arab-Inggris, berniaga, beternak, bertani, berkesenian, menguasai komputer, dan sebagainya. Bahkan dari pesantren, lahir para sastrawan hebat, penyair, penulis, pelukis, hingga content creator, dan lainnya. Itu karena pesantren selalu membuka diri dengan perkembangan zaman, sebagaimana kaidahnya al-muhafadzah ’ala al-qadim as-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah.

Maka, terlalu tabu jika dikatakan bahwa pesantren tidak memiliki atau tidak memproduksi kekayaan intelektual. Terlepas dari pemanfaatan hak eksklusif dari suatu karya cipta, pada hakikatnya, pesantren sudah menjadi garda terdepan dalam menghasilkan dan memproduksi kekayaan intelektual, dan ide-ide kreatif-inovatif yang dimiliki para santri kelak. Hal tersebut tentu perlu dipertahankan dan dikembangkan agar pesantren tetap survive dan mendapat kepercayaan dari umat.

Hanya, keterbatasan sarana, prasarana, dan manajemen waktu di pesantren menjadi kendala, yang membuat mereka tidak lebih leluasa dalam menyalurkan ide-ide kreatif yang dimiliki. Hal ini mestinya menjadi perhatian pimpinan pesantren ataupun dari pemerintah untuk bekerja sama membangun iklim akademis dan memproduksi kekayaan intelektual ala pesantren yang lebih baik. 

*)Alumnus PP Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news