alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kiai Bagus Amirullah

Berawal dari Mimpi, Tekadkan Rangkul Kalangan Preman

04 Mei 2021, 19: 41: 47 WIB | editor : Abdul Basri

EMAS PUTIH: Kiai Bagus Amirullah menunjukkan keris pusaka dari Kerajaan Bugis.

EMAS PUTIH: Kiai Bagus Amirullah menunjukkan keris pusaka dari Kerajaan Bugis. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Perjalanan dakwah Kiai Bagus Amirullah melalui benda pusaka bukan karena hobi. Bahkan, sebelumnya tidak memiliki ketertarikan terhadap benda pusaka. Dia menyimpan benda-benda itu tak lebih dari sarana untuk berdakwah.

KESENANGAN Kiai Amir terhadap benda pusaka belumlah lama. Kesenangan itu muncul seiring keputusannya berdakwah kepada golongan masyarakat tertentu di sekitar Ponpes Al-Amien Prenduan. Menurut dia, cara dakwah melalui benda pusaka sebagai sarana mendekati masyarakat tersebut dimulai saat dia bermimpi.

Kiai Amir pernah mimpi bertemu dengan mertuanya sekaligus salah seorang pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan, KH. Idris Djauhari. ”Dalam mimpi itu abah memberikan simbol atau isyarat,” ungkap kiai yang sudah dikaruniai empat anak tersebut.

Baca juga: Menu Kesukaan Buka Puasa Ketua DPRD Pamekasan Fathor Rohman

Dari isyarat itu, lanjut dia, kemudian dirinya menyimpulkan untuk berdakwah ke luar ponpes. Sebelum menjalankan misinya, tentu saja dia meminta izin kepada keluarga besarnya di Ponpes Al Amien Prenduan. Terutama kepada kakak iparnya, KH. Ghozi Mubarok.

”Beliau mengizinkan. Begitu pun kepada istri dan kepada umi. Saya izin dulu. Saat itu saya hanya diminta hati-hati. Yang jelas keluarga sangat mendukung,” ungkap suami Nyai Nazlah Idris tersebut.

Bagi Kiai Amir, pendekatan melalui benda pusaka bukanlah hal tabu bagi masyarakat Madura, khususnya Sumenep. Menurut dia, pusaka terutama keris merupakan bagian dari budaya orang Sumenep.

”Sumenep itu kan Kota Keris. Karena Kota Keris, saya menganggap kemungkinan besar masyarakatnya memang suka dengan pusaka,” ucap kiai yang juga menjabat sebagai ketua Lembaga Psikologi Terapan Al Amien Prenduan (eL-Psika) itu.

Kiai yang juga menjadi konsultan ahli psikoterapi Islam dan dakwah kemasyarakan di eL-Psika itu juga mengakui pendekatan psikologis menjadi alat dalam menjalankan dakwahnya. Kegemaran pusaka hanya dijadikan pintu masuk untuk berdakwah. Sedangkan, dakwahnya bisa dilakukan dengan teladan maupun lisan.

Untuk hal yang biasanya dijadikan teladan adalah mengajak rekan-rekannya menjalankan syariat. Semisal salat tepat waktu atau berjamaah. Sedangkan dakwah dengan lisan dilakukan ketika rekannya dirundung masalah.

”Biasanya berawal ketika mereka memiliki masalah. Masalah pribadi. Di situlah saya kemudian bisa memaskukan dakwah secara bil lisan juga,” ungkap Kiai Amir pada tim Acabis Jawa Pos Radar Madura, Minggu (11/4).

Dirinya menegaskan, berdakwah kepada kalangan preman atau masyarakat tertentu tidak bisa disamakan dengan berdakwah kepada santri. Dia tidak bisa langsung mengatakan bahwa mereka harus begini atau harus begitu. Tapi disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan mereka. ”Kita arahkan sekaligus kita doakan,” jelasnya.

Kiai Amir menambahkan, saat berbincang seperti itulah dia menyelipkan ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dia masuk saat mereka membutuhkan.

”Saya sering menyampaikan jika solusi itu adalah hidayah. Solusi itu dari Allah. Kemudian jika mereka berhenti dari pekerjaan-pekerjaan buruk sebelumnya, saya kira bukan murni karena saya. Saya hanya mendoakan,” tegasnya.

Kiai Amir tidak takut bergaul dengan preman. Justru yang dia takutkan ketika mereka tidak ada yang memberikan siraman rohani. Akhirnya mereka tidak tahu cara berubah. ”Kalau tidak ada yang mau mendekat kepada mereka, lalu siapa lagi?” paparnya.

Tanggapan rekan baru yang ditemui justru tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Kalangan preman sebenarnya membutuhkan orang yang bisa dijadikan teman sekaligus pembimbing. ”Ketika kita datangi, kita temani, kita ajak diskusi, ternyata mereka sangat senang,”ungkapnya.

Sebelum obrolan berakhir, Kiai Amir menunjukkan beberapa pusaka yang dia miliki. Selain tongkat komando era Majapahit, dia juga menunjukkan keris berukuran besar. Panjang keris tersebut lebih setengah meter. Keris tersebut dibuat di era Panembahan Sumolo.

Beberapa keris lain berukuran biasa. Salah satunya adalah keris pusaka dari Kerajaan Bugis. Selain dibalur warangka yang terbuat dari perak, pada bilah keris tersebut terdapat ornamen berbahan emas putih.

Pusaka yang tak kalah unik ialah keris dari Sumenep. Selain dibalut warangka dari kayu santeki, keris ini memiliki pamor unik. Pamornya membentuk lafaz ”Allah” ketika keris tersebut ditegakkan. Namun ketika keris tersebut dibalik, pamor terbaca menjadi lafadz ”Muhammad”.

”Hobi saya bukan benda pusaka. Hobi saya seni dan budaya. Benda pusaka ini hanya sarana untuk berdakwah saja. Jumlahnya pun tidak banyak,” tutupnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news