alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Mungkinkah, Budaya (Sejarah) Sebatas Masa Lalu?

03 Mei 2021, 19: 19: 23 WIB | editor : Abdul Basri

Mungkinkah, Budaya (Sejarah) Sebatas Masa Lalu?

Share this      

KALAU mau jujur, kajian terhadap budaya (sejarah) semakin ke sini semakin menggelitik.Meski lekat pada kearifan lokal,isu-isu kebijaksanaan lokal mampu mengantisipasi permasalahan, termasuk yang terjadi di dunia kontemposrer.

Nyoman dalam buku Antropologi Sastra (2011) memandang, kearifan lokal bak semen. Kearifan mengikat berbagai bentuk kebudayaan yang sudah ada, sehingga disadari keberadaannya.

Sebutlah karya-karya sastra novel pemenang Dewan Kesenian Jakarta 2019. Minanto melalui Aib dan Nasib, menguak kompleksitas budaya masyarakat rural di Indramayu. Pesona kehidupan pedesaan disuguhkan meliuk-liuk, dengan jebakan-jebakan teknologi. Kerumpangan pendidikan membuat masyarakat menelan aib dan nasibnya masing-masing.

Baca juga: Lawan Konstruksi Miring Perempuan

Kemudian, Sang Keris, Panji Sukma Her Asih berproses kreatif menyajikan dunia mistis, kisah-kisah (sejarah), cerita rakyat, dan legenda. Mengutip resensi Kreta Amura dalam blognya, Sang Keris merupakan pusat dan benang merah berbagai kisah-kisah penentu sejarah. Terakhir, Erni Aladjai dalam Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga, potret kehidupan dan tradisi lokal Desa Kon sebagai petani cengkeh.

Budaya dalam Aksara

Kehidupan masyarakat berbudaya, bukanlah sistem sosial yang datangnya tiba-tiba. Ada fakta sosial, fakta kemanusiaan, dan fakta sejarah sebagai titik temu filosofi-filosofi yang dibawa para leluhur. Di dalamnya banyak isyarat kehidupan melalui dialek estetis dan pernak-pernik ikonik.

Pada konteks perkembangan dunia, gejolak gesekan-gesekan sosial seakan menjadi hal yang lumrah-lumrah saja. Justru, kesempatan karya sastra mengulik budaya dalam aksara. Sastra bertindak sebagai warna lokal.

Sastra pula memberikan ruang lain. Ruang ketika komunikasi kritik mengandung paradoks-paradoks dan kontradiksi-kontradiksi. Ruang ekspresi ”budaya dalam aksara” laksana senjata. Eksistensinya mencoba menjadikan aksara sebagai jembatan komunikasi.

Berutang budi aksara, sejarah masa lampau akan dan tetap menggema. Usia-keabadiannya membumi menjadi bagian dari nyawa kebudayaan. Endraswara dalam Metodologi Penelitian Antropologi Sastra, terang-terangan mengatakan sastra wadah untuk menyirkulasikan gagasan dalam budaya. Segala pemikiran dari pelbagai aspek mengekspresikan kepentingan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yang mendominasi pada masanya.

Sejarah dan Masa Lalu

Karya sastra kebaruan, Arafat Nur, mengulik ulang pernak-pernik kehidupan dalam karya-karya sastranya. Hebatnya, kehidupan pada masa lampau di 1976, nyatanya masih elok diperbincangkan, bahkan semakin menggoda ketika diteliti. Itu, latar waktu kehidupan dalam Lolong Anjing di Bulan (2018).

Kemudian, mundur di 1980-an, Bumi Manusia (1980), Rumah Kaca (1988), Arus Balik (1995), dan Arok Dedes (1999) adalah karya-karya Pram bernuansa budaya feodalisme. Tatanan sosial Jawa dipoles gagah. Karya-karya tersebut pada perkembangan lapangan kesusastraan masih gemilang. Bahkan, semakin gencar dicari pembaca sastra.

Bergerak maju, Umar Kayam Para Priyayi (1991), berproses kreatif mengorek kehidupan priayi Jawa. Ada Ahmad Tohari melalui karya nyentriknya Ronggeng Dukuh Paruk (1982) berhasil difilmkan kuat penceritaan kehidupan orang primitif virgin—belum dinodai peradaban dunia kekinian.

Bergerak mundur lagi, tahun 1960-an ada prosa Panglipur Wuyung (1963). Cerita berbahasa Jawa salah satu garapan Any Asmara, yang diterbitkan majalah Panjebar Semangat. Sebagai orang Jawa, secara intens Achmad Ngubaeni, nama aslinya, menoreh sendi-sendi kehidupan etnis Jawa, yang kemudian dikonstruksi dalam karya sastra.

Kenyataannya, perkembangan budaya menurut Pieterse memiliki dua sekat dalam kehidupan manusia. Pertama, budaya yang terikat tempat dan terlalu berorientasi ke dalam, terbelakang. Kedua, budaya yang menuju ”translokal” yang berorientasi luar, lebih mengemuka. Dikatakan, keduanya tarik-menarik mewujudkan budaya yang beragam. Karenanya, tak heran komposisi karya sastra mengandung persentase budaya.

Komposisi budaya terhadap karya sastra berusaha membangun kompleksitas budaya masyarakat. Teks-teks sastra mengandung unsur-unsur budaya memuat kurasi (menimbang) nilai-nilai budaya. Lebih-lebih, Paul dalam Anthropology and Literature (1993) menyatakan, teks sastra seperti sebuah jaringan kutipan yang melukiskan sejumlah pusat budaya.

Mampirlah pada Aib dan Nasib, secara totalitas Minanto sebagai penulis asli Indramayu mengorek budaya masyarakat rural Indramayu sedalam-seluas-luasnya. Stilistika penceritaan mengolaborasi pandangan dan budaya masyarakat gagap teknologi informasi dan kekinian, ahli mengutak-atik mesin. Seperti telepon genggam dan PlayStation.

Representasi Minanto dalam novel keempat ini, meminjam istilah Endraswara merupakan sebuah simulacrum budaya pedesaan dalam menghadapi persoalan kehidupan di lingkungan rural. Kehidupan yang dipenuhi konflik-konflik, bertebaran. Jala-jala perselisihan membuah gaduh ikan-ikan keributan. Desa yang damai lepas dalam benak pembaca.

Tidak heran, novel ini menjadi pemenang DKJ 2019, sekaligus sastra pilihan Tempo. Di balik budaya, penulis Semang (2017) menjadikan novel sebagai komunikasi kritik. Bilamana kehidupan pedesaan tidak berhenti pada perputaran konflik kemiskinan, kisah tokoh-tokohnya adalah fenomena realitas. Refleksi atas pengamatan sosial dibubuhi pemanis dialektika dan penyedap kreativitas-imajinitas pengarang.

Karenanya tidak mengherankan bilamana cerita-cerita budaya (sejarah)-kearifan lokal semakin elok oleh tangan perakit aksara. Terbukti, perbincangan karya-karya lama beraroma budaya (sejarah) tidak mati. Ajaibnya, budaya dalam arti pola-pola tindakan masih relevan. Untuk itu, mungkinkah budaya hanya sebatas masa lalu? 

SUCI AYU LATIFAH

Admin lensasastra.id dan komunitas Sutejo Spectrum Center, asal Ponorogo

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news