alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Kehidupan Pesisir di Kanvas Affandi dan Hendra Gunawan

Oleh HIDAYAT RAHARJA*

03 Mei 2021, 19: 16: 41 WIB | editor : Abdul Basri

ARTISTIK: Lukisan Hendra Gunawan berjudul Nelayan Madura II di atas kanvas pada 1982.

ARTISTIK: Lukisan Hendra Gunawan berjudul Nelayan Madura II di atas kanvas pada 1982. (archive.ivaa-online.org/pelakuseni/hendra-gunawan/page:5)

Share this      

PADA suatu waktu saya bertemu dengan kurator seni rupa Ayos Purwoaji. Pertemuan yang memperbincangkan tentang lukisan dan sketsa untuk mempersiapkan Pameran ”Nemor”. Pameran kolektif yang melibatkan beberapa seniman multi disiplin; seni rupa, teater, musik, dan kriya. Lukisan Hendra Gunawan dan Affandi berupa kehidupan pesisir. Affandi melukis perahu dan Hendra Gunawan melukis keluarga nelayan. Perahu dan nelayan.

Pertanyaan Ayos membuat saya berpikir ulang tentang seni rupa di Madura khususnya, dan kehidupan masyarakat pesisir. Tetapi, seni rupa di Madura ada dan tumbuh serta berkembang. Rumah-rumah tradisional Madura terdapat ukiran dengan ornamen tumbuhan dan hewan, dan di atas pintu masuk rumah sering kali didapatkan lukisan kaligrafi di atas kaca. Dalam lukisan tersebut tertulis dua kalimat syahadat dan ayat kursi. Ornamen/hiasan dan bentuk nisan yang terbuat dari batu gunung di pekuburan tua, juga ada bentuk dan ornamen sederhana yang menyimbolkan jenis kelamin dan status sosial orang yang meninggal. Dari bentuk nisan dapat diketahui jenis kelamin dan status yang meninggal apakah ulama atau orang biasa.

Dalam perkembangan seni rupa pekuburan terus berkembang, baik motif dan bahan yang digunakan. Perubahan-perubahan itu tak terhindarkan merupakan motif yang mengadaptasi bentuk atau motif dari luar. Dan belakangan ini kijing dan nisan di Madura sudah didominasi bahan keramik, sudah jarang menggunakan batu gunung. Sebuah penghargaan terhadap yang mati supaya selalu diingat untuk diziarahi juga mengirim doa supaya diselamatkan di alam kuburnya. Nisan dan kijing dibuat dari batu gunung (karst) ”bato kombhung” (Madura). Salah satu penanda jenis kelamin, jika ujung nisan datar berarti yang meninggal jenis kelamin perempuan. Namun jika ujung nisan berbentuk lancip berarti yang meninggal jenis kelamin laki-laki.

Baca juga: Minuman Manis Plus Oseng-Oseng Tempe

Juga lukisan kaca yang biasanya ditaruh di atas pintu masuk rumah. Lukisan kaca dengan tulisan kesaksian keesaan Allah dan kerasulan nabi Muhammad. ”Allahu wahdahu lasarikalah waabdahu Muhammadun abdahu wa rasuluh,” tulisan disusun dalam bidang berbentuk segitiga. Di luar segitiga sebelah kanan tertulis ”Tawajjahu haitsu syi’ta” dan di sebelah kiri tertulis ”fainnaka manshurun”. Lukisan tersebut diletakkan di atas pintu rumah. Kaligrafi tersebut dikenal sebutan Khataman Rasulullah. Cap kenabian Rasulullah Muhammad. Saat ini di Madura sudah sangat jarang ditemukan pelukis kaligrafi di atas kaca. Di Sampang pernah ada pelukis kaca (1970-1990-an) Daud Bey dengan objek lukisan budaya Madura, seperti: karapan sapi, penjual sate, dan semacamnya. Lukisan kaca dulu banyak ditemukan di rumah warga berupa lukisan ”Buraq”, sejenis makhluk, tubuh berbentuk tubuh kuda namun berkepala manusia. Bila dilihat, karya-karya tersebut berpadu dengan seni religi.

Mereka bukan hanya menjadikan karya sebagai hiasan belaka, tetapi menjalankan fungsi spiritual. Kakek saya membuat lukisan kaca di masanya untuk hiasan di atas pintu masuk rumah. Beliau bekerja di saat pagi setelah salat Duha menunggu waktu salat Duhur. Pekerjaan yang mereka lakukan di senggang waktu dengan kesungguhan sebagai ibadah. Betapa dekat hubungan seni rupa dengan keagamaan. Buraq, juga jadi hiasan di lèncak palè’ Sampang. Sebuah tempat tidur dari kayu berukir yang khas di daerah Sampang dan saat ini sudah sulit ditemukan.

Lukisan Buraq di lèncak palè’ hal yang sangat menarik karena lèncak sebagai tempat tidur di hulunya ada lukisan buraq. Dulu, lèncak Palè’ merupakan barang istimewa sebagai hantaran lamaran dari pihak lelaki kepada perempuan. Produk lokal yang istimewa sebelum diserbu industri tempat tidur besi dan springbed. Adakah pahatan lèncak palè’ sebagai spiritualitas pernikahan, sehingga perlu diberi ukiran buraq pada hulu tempat tidur? Seni rupa di pesisir sangat menarik dapat diamati pada bentuk dan motif warna dan hiasan pada perahu. Sebuah fakta yang menunjukkan betapa besar dan penting peran perahu bagi masyarakat pesisir Madura. Ketika laut menjadi jalur utama transportasi, otomatis posisi pesisir sangat penting sebagai titik tolak keberangkatan dan kedatangan. Lewat laut, para perantau Madura menjelajahi berbagai pulau di Nusantara. Aneka jenis perahu Madura, baik untuk angkutan penumpang dan barang dengan berbagai bentuk dan ornamen yang warna-warni.

Alat transportasi laut yang utama, sehingga nelayan Madura dikenal sebagai pelaut ulung. Ornamen perahu dengan warna yang khas merupakan kekayaan ragam yang ada. Juga kehidupan para nelayan di pesisir merupakan ragam hidup yang sangat menarik. Kegiatan berangkat melaut tak terlepas dari ritual tertentu juga di tengah melaut dan saat pulang melaut. Kehidupan yang menarik dibanding kaum tani yang berladang di tanah tandus. Melaut rutinitas kehidupan yang tak pernah henti kecuali jeda sejenak saat musim ”bharat” tiba.

Pelukis Sumenep yang sangat tertarik dengan tema pesisir adalah Moh. Saleh (alm). Lukisan-lukisannya dengan warna yang khas dan mencolok menggambarkan kehidupan nelayan. Saya masih ingat ketika dia mengisahkan tentang lukisannya yang berjudul ”Tanḍu’ Majâng” menggambarkan keberanian pelaut Madura dalam menghadapi tantangan di laut. Di atas kanvas dilukiskan ketika berangkat nelayan berjumlah tujuh orang dan ketika kembali tinggal 5 orang. Dua orang nelayan hilang di laut oleh amukan badai. Tetapi, mereka tidak kapok melaut. Mereka kembali ke laut ”abhântal ombâ’ asapo’ angèn” (berbantal ombak berselimut angin). Sebuah keakraban para nelayan dengan alam, saking akrabnya, ombak bagi mereka adalah bantal saat melaut dan angin sebagai selimut.

Affandi pernah melukis perahu di Pasongsongan, Sumenep, yang begitu ekspresif, menggambarkan ketangguhan perahu Madura. Menurut sejarahnya, di sini dulu banyak berlabuh kapal dari Kanton Cina dan kemudian berasimilasi dengan masyarakat setempat. Sikap terbuka orang Madura dalam menerima hal baru dan persilangan yang kemudian menjadi identitas baru. Persilangan penduduk asli Pasongsongan dengan pendatang dari Cina.

Hendra Gunawan melukiskan tentang nelayan/keluarga nelayan yang tengah berbahagia dengan perolehan ikan besar. Mereka melukis nelayan Madura, perahu, dan keluarga nelayan. Kenapa pesisir menarik bagi mereka? Melalui pesisir, orang-orang Madura pergi dan kembali pulang ke kampung halaman. Perahu yang membawa mereka mengembara ke berbagai pulau di belahan Nusantara dan dunia.

Sesungguhnya dunia laut, pesisir, dan seluruh kehidupannya sangat menarik untuk diabadikan. Terutama dalam masyarakat pesisir Madura, pesisir merupakan titik tolak dan balik orang-orang Madura di masa kejayaan negeri maritim. Sisa kejayaan itu masih terus tumbuh dan berkembang dalam kultur masyarakat pesisir Madura, keunikan perahu, dan kehidupan masyarakat pesisir. Dunia laut juga bernilai simbolis. Laut sebagai simbol kehidupan yang dinamik di antara tantangan dan kebahagiaan yang berlimpah. Jika Affandi dan Hendra Gunawan tertarik dengan dunia nelayan (pesisir) sesungguhnya tertarik pada nilai-nilai filosofis dan kultural. Secara filosofis, perahu kerap disimbolkan sebagai rumah tangga dan laut sebagai dunia tempat kita hidup dipenuhi tantangan gelombang dan badai. Gelombang yang akan mengantarkan perahu kehidupan mencapai pantai tujuan dan badai halangan yang harus dilalui.

Secara kultural, pesisir merupakan ruang terbuka yang memungkinkan pertukaran budaya terjadi secara alamiah. Perkawinan antara penduduk setempat dengan pendatang seperti banyak ditemui di pesisir Pasongsongan, pesisir Dungkek di wilayah Sumenep. Perkawinan kultural yang meninggalkan arsitektur rumah yang mirip dengan simbol etnis tertentu yang beradaptasi dengan kultur lokal. Sebuah keterbukaan budaya dan adaptif terhadap budaya luar. Sebuah kebinekaan di daerah pesisir. Sebuah lukisan yang bukan sekadar memindahkan objek ke atas kanvas, tetapi di dalamnya memiliki muatan baik secara filosofis maupun ideologis. Muatan ini yang saya curigai dalam lukisan Affandi dan Hendra Gunawan. 

*)Pelukis sketsa saat ini tinggal dan diberi tugas mengelola SMAN 4 Sampang

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news