alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Kiai Bagus Amirullah

Lebih Akrab berkat Tongkat Komando Era Majapahit

Manfaatkan Pusaka sebagai Sarana Dakwah

03 Mei 2021, 19: 01: 09 WIB | editor : Abdul Basri

BERI PENJELASAN: Kiai Bagus Amirullah memegang tongkat komando era Majapahit ketika ditemui tim Acabis JPRM di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Minggu (11/4).

BERI PENJELASAN: Kiai Bagus Amirullah memegang tongkat komando era Majapahit ketika ditemui tim Acabis JPRM di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Minggu (11/4). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Beragam cara dilakukan kiai dalam berdakwah di Madura. Ada yang melalui sastra, musik, batik, dan sebagainya. Kali ini tim Acabis Jawa Pos Radar Madura mengunjungi Kiai Bagus Amirullah. Salah seorang kiai di Ponpes Al-Amien Prenduan ini menjadikan benda pusaka sebagai sarana mendekati kaum preman. Seperti apa kisahnya?

SALAH satu cara dakwah yang dilakukan Kiai Amir –sapaan Kiai Bagus Amirullah– mendapat perhatian banyak orang. Tidak terkecuali dari kalangan akademisi. Pendekatan kepada masyarakat dengan menjadikan hobi benda pusaka sebagai pintu masuk, dijadikan bahan penelitian mahasiswa pascasarjana.

Informasi yang diperoleh tim Acabis, setidaknya sudah ada dua judul tesis yang menjadikan cara dakwah Kiai Amir sebagai objek penelitian. Pertama, dilakukan oleh Suhendi, mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Ampel asal Bondowoso. Tesis tersebut berjudul Dakwah Kultural Kiai Bagus Amirullah kepada Masyarakat Patologis.

Baca juga: 30 Tahun Tekuni Pekerjaan Warisan Orang Tua

Penelitian kedua dilakukan oleh Mauludi, mahasiswa dari kampus yang sama asal Sampang. Tesis yang kedua berjudul Strategi Dakwah pada Preman (Studi tentang Strategi Loga Bagus dalam Berdakwah di Komunitas Mantan Preman di Desa Pragaan Laok, Prenduan, Sumenep). Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar magister dalam program studi Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Sunan Ampel, Surabaya, pada 2016.

Sebagai catatan, Desa Pragaan Laok berada di Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, sama dengan Desa Prenduan yang juga masuk wilayah Kecamatan Pragaan. ”Saya murni cari pusaka untuk lebih dekat dengan masyarakat. Hobi itu kan bagian dari pendekatan persuasif,” ungkap Kiai Amir, Minggu (11/4).

Obrolan santai dengan kiai muda ini dilakukan di salah satu gazebo di depan Masjid Al-Amien Prenduan. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Amir menjelaskan siapa sebenarnya sasaran dakwahnya. Dia terlebih dahulu membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama adalah masyarakat dengan pelaksanaan syariat yang sudah baik. Kelompok ini sudah tahu banyak soal ilmu agama dan pengamalannya. Kelompok masyarakat seperti ini sudah terbiasa hadir dalam acara-acara pengajian.

Kelompok berikutnya adalah masyarakat yang pengamalan syariatnya belum baik. Namun, kelompok kedua ini terdiri atas mereka yang mau hadir ke acara pengajian. Sehingga, sangat berpotensi masuk ke kelompok pertama.

Adapun kelompok masyarakat ketiga adalah mereka yang selain tidak memiliki pengamalan syariat yang baik, juga enggan datang ke pengajian. Menurut Kiai Amir, mereka tidak mau datang ke pengajian karena malu. Mungkin dianggap punya kesalahan di masyarakat. ”Nah kelompok masyarakat seperti inilah yang kemudian menjadi sasaran,” jelasnya.

Kiai yang juga anggota Majelis ’Awan Ponpes Al-Amien Prenduan ini menuturkan, untuk masuk ke kelompok ketiga itulah menjadikan pusaka sebagai sarana. Itu didasarkan ketika dirinya mendatangi sebuah warung yang biasa digunakan kumpul oleh masyarakat. Di warung tersebut masyarakat saling mengeluarkan pusaka dan mendiskusikannya.

”Ada yang tombak, ada yang keris,” ucap kiai yang berdomisili di kompleks guru Ponpes Al-Amien Prenduan itu. Dari pengalaman itulah dirinya mencoba membawa salah satu pusakanya agar bisa mendekati kelompok masyarakat tersebut. Pada pertemuan berikutnya, dia membawa sebilah pusaka peninggalan Zaman Majapahit.

”Saya bawa tongkat komando era Majapahit. Awalnya kami tidak kenal. Tapi karena dianggap memiliki hobi yang sama, akhirnya kita berkenalan,” tutur kiai kelahiran Maret 1980 itu.

Dari perkenalan di warung itulah kedekatan Kiai Amir dengan golongan preman dan mantan preman kemudian terjalin. Bahkan, pertemuan berikutnya tak lagi di warung. Kiai Amir sengaja menemui rekan-rekan barunya itu ke rumah masing-masing. Tentunya dengan membawa ”bekal” pusaka terbaru sebagai sarana mempererat persahabatan mereka.

Selain silaturahmi, Kiai Amir main ke rumah mereka untuk menumpang salat. Sebab, dia sengaja datang menjelang waktu salat. Di situlah kesempatan numpang salat. Sedikit demi sedikit mereka mulai ikut salat berjamaah. ”Nanti waktunya asar pindah ke tempat yang lain,” ucap menantu salah seorang pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan KH. Idris Djauhari itu.

Kiai Amir tidak terlalu menghiraukan kemungkinan dituduh sebagai kiai nyeleneh atau tudingan lain. Masalah itu, kata dia, sesuai dengan prasangka masing-masing orang. Dia mengakui bagi sebagian orang ada yang menganggap pusaka itu syirik. Tidak boleh.

”Itu prasangka mereka saja dalam menilai. Saya kira saya tidak perlu mengikuti prasangka mereka,” ucapnya.

Soal menjadi syirik atau tidaknya, lanjut dia, bergantung dari cara mengultuskannya. Menurut dia, pernyataan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam salah satu ceramahnya bisa dijadikan dasar bagi penghobi pusaka. Gus Baha, jelas Kiai Amir, menyampaikan bahwa orang tidak membawa pusaka pergi ke mana-mana itu nggak enak. Tetapi kalau orang kota tidak membawa ATM, ke mana-mana juga ngga enak.

”Jadi saya kira bagaimana seseorang mengultuskan pusaka itu yang dikhawatirkan syirik. Saya sendiri tidak masalah. Cuma kalau santri ya tidak boleh,” ucap suami Nyai Nazlah Idris tersebut.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news