alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
Abdul Mukti, Tukang Servis Pompa Air

30 Tahun Tekuni Pekerjaan Warisan Orang Tua

03 Mei 2021, 18: 42: 21 WIB | editor : Abdul Basri

PINGGIR JALAN: Abdul Mukti memperbaiki pompa air di rumahnya yang terletak di Jalan Pemuda Kaffa, Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, kemarin.

PINGGIR JALAN: Abdul Mukti memperbaiki pompa air di rumahnya yang terletak di Jalan Pemuda Kaffa, Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, kemarin. (HENDRI KAMARUDIN/RadarMadura.id)

Share this      

Bagian sebagian orang, untuk mendapatkan pekerjaan tidak harus bergelar sarjana. Pekerjaan bisa diperoleh asal memiliki niat kuat dan tidak gengsi selagi halal. Termasuk, rela mengotori badan demi mendulang rupiah.

HENDRI KAMARUDIN, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

PADA zaman seperti sekarang ini, ijazah bukanlah hal utama dalam mencari pekerjaan. Namun, yang utama adalah kemauan yang tinggi, serta ditopang dengan ikhtiar. Seperti yang dilakukan Abdul Mukti, warga Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan.

Baca juga: Puluhan Ribu PMI asal Jatim Dipulangkan

Abdul Mukti menuturkan, sebagai kepala rumah tangga, harus siap bekerja keras dan berani kotor. Karena itu, dia rela menekuni pekerjaan sebagai tukang servis pompa air. Tiap hari selalu bergelut dengan oli dan kawat. ”Kalau mau mendapatkan pekerjaan dan mendapat upah, ya harus siap kotor dan bekerja keras,” ucapnya kemarin (2/5).

Dia mengaku jika bukan lulusan sarjana. Dirinya hanya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang dulu dikenal sebagai sekolah teknik menengah (STM) di Kota Surabaya. Kemampuannya memperbaiki pompa air tidak hanya didapat dari bangku sekolah, melainkan dari bapak asuhnya, (alm) Sutanto.

”Almarhum yang telah mengajari saya servis pompa air. Kalau di sekolah, saya hanya mendapatkan teori. Namun secara praktik, almarhum yang mengajari sampai saya bisa seperti sekarang ini,” ungkap laki-laki yang dikaruniai dua orang putra itu.

Abdul Mukti menjelaskan, bukan hanya pompa air yang dia perbaiki. Kipas angin, gerinda, mesin cuci, dan yang lainnya juga dia perbaiki. Sehari-hari, biasanya melayani pelanggan sejak pukul 07.00 sampai pukul 16.00. ”Saya menjadi tukang servis sudah 30 tahun,” paparnya.

Upah yang diterima dari jasa perbaikan barang elektronik tersebut variatif. Bergantung dari tipe pompa air. Kalau pompa air bertipe 135, upahnya Rp 250 ribu. Perbaikan bisa diselesaikan dalam kurun waktu tiga Jam. Khusus pompa air bertipe 370, harganya bisa mencapai Rp 450 ribu. ”Biaya jasa servis bergantung dari tingkat kerumitan,” jelas laki-laki yang sudah berusia 53 tahun itu.

”Sedangkan untuk kipas angin, harganya bergantung dari besaran dan bahan kipas. Kalau kipas kecil Rp 80 ribu. Sedangkan untuk kipas yang besar biayanya Rp 250 ribu,” jelasnya.

Abdul Mukti mengungkapkan, penghasilan yang diperoleh setiap harinya tidak

 menentu. Terkadang bisa mencapai Rp 500 ribu. ”Dan terkadang bisa kurang dari itu. Namun yang pasti, segala yang diberikan oleh Allah SWT selalu saya syukuri,” pungkasnya.

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news