alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Bangkalan
icon featured
Bangkalan

Al-Qur’an Braille Jadi Solusi bagi Penyandang Tunanetra

03 Mei 2021, 16: 18: 45 WIB | editor : Abdul Basri

NYARING: Seorang penyandang tunanetra mengaji dengan Al-Qur’an Braille di Syaikhona Kholil Bangkalan kemarin.

NYARING: Seorang penyandang tunanetra mengaji dengan Al-Qur’an Braille di Syaikhona Kholil Bangkalan kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Mengaji ayat suci Al-Qur’an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk melihat atau tunanetra. Solusinya, mereka membaca ayat suci menggunakan Al-Qur’an Braille.

Sebab, selain harus memahami setiap huruf, mereka juga dapat memahami apakah bacaan tersebut termasuk fatah, kasrah, atau damah. Untuk mengerti ayat per ayat menggunakan Al-Quran Braille. Hampir semua huruf hijaiah menggunakan kombinasi titik Braille pada huruf latin.

Cara belajar penyandang tunanetra ini tidak semudah orang normal pada umumnya. Mereka harus mengetahui dan memahami jumlah titik dari setiap ayat. Setiap huruf hijaiah memiliki jumlah titik yang berbeda.

Baca juga: KB Bukopin Konsisten Lanjutkan Transformasi di New Normal

”Kalau dari awal memang susah. Kita baca ada panjang pendeknya. Harus mengetahui harakatnya. Bagaimana kita berhenti membaca. Itu memang susah. Tapi, kalau sudah terbiasa, nantinya akan lancar,” tutur Imam Syafi’i, salah satu penyandang tunanetra yang mengaji menggunakan Al-Qur’an Braille kemarin (2/5).

Dia mengatakan, untuk huruf alif dalam Braille, yakni dalam bentuk titik satu sebelah kanan. Untuk huruf ba ada titik dua, dan titik empat untuk huruf ta. Kesulitan yang dialami yakni saat menghafal huruf-huruf hijaiah tersebut dengan tanda bacanya.

”Seperti damah isbaiyah, kasrah isbaiyah, fatah isbaiyah. Kita seperti belajar iqra, baru setelah itu dilanjut per ayat,” imbuhnya.

Arif Hadi Umam, pembina spiritual komunitas Ngaji Braille mengatakan, cara belajar penyandang tunanetra ini unik, berbeda dengan anak normal pada umumnya. Treatment pertama yang diberikan yakni belajar menulis. Karena mereka nantinya akan menghafalkan rumus di setiap hurufnya.

”Mulai dari alif, ba, ta, dan seterusnya memiliki jumlah titik yang bervariasi,” ucapnya. Selain ngaji Braille, juga melakukan kajian rutin untuk pembinaan spiritualnya.

Menurutnya, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang lebih untuk mengajarkan ayat suci Al-Qur’an kepada penyandang disabilitas. ”Kesulitan yang paling terlihat yakni membahasakan secara audio. Harus jelas setiap hurufnya. Memiliki titik di sebelah kanan atau kiri,” terangnya.

Dijelaskan, tingkat pemahaman ngaji Braille bergantung pada pembiasaan penyandang tunanetra berlatih. Saat ini juga sering menggunakan audio untuk belajar dan memahami per ayat.

Sementara itu, Ketua Umum Forum CSR Kesejahteraan Sosial Jawa Timur Ali Aliyuddin menambahkan, penyandang disabilitas ada yang terhimpun dalam komunitas Ngaji Braille. ”Kegiatan berbagi buku yasin Braille ke beberapa masjid juga dalam rangka menunaikan kewajibannya dengan membaca kitab suci Al-Qur’an,” paparnya.

Dia berharap, kaum disabilitas semakin inklusif, tidak perlu minder dan merasa terbatas untuk beraktualisasi. ”Komunitas Ngaji Braille ini siap membantu. Jika butuh guru atau yang lainnya, komunitas ini bisa memfasilitasi,” tandasnya. (mi)

(mr/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news