alexametrics
Kamis, 06 May 2021
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features
KH. Abdurrahman yang Lebih Dikenal Bajigur

Penyembuhan Gangguan Jiwa Akibat Cinta Butuh Waktu Lama

01 Mei 2021, 17: 18: 21 WIB | editor : Abdul Basri

MEMANUSIAKAN MANUSIA: KH. Abdurrahman (kiri) berinteraksi dengan Priyo, pasien ODGJ asal Manado di Ponpes Al-Bajigur, Desa Tanonan, Kecamatan Manding, Sumenep, Selasa (23/4).

MEMANUSIAKAN MANUSIA: KH. Abdurrahman (kiri) berinteraksi dengan Priyo, pasien ODGJ asal Manado di Ponpes Al-Bajigur, Desa Tanonan, Kecamatan Manding, Sumenep, Selasa (23/4). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Santri Kiai Bajigur tidak hanya mereka dari kalangan siswa tingkat PAUD, MI, MTs maupun MA. Ada juga dari kalangan umum. Mulai dari kepala desa, mantan pencandu narkoba hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

DUA ekor kambing yang sudah disembelih itu tampak dikaitkan pada pohon besar di bagian belakang Ponpes Al-Bajigur. Dengan peralatan seadanya, beberapa santri sibuk mengurus dua kambing tersebut. Ada yang bertugas menguliti, ada pula yang bergegas menyiapkan wadah untuk menyimpan potongan daging kambing.

”Itu untuk makan santri-santri di sini,” ucap Kiai Bajigur sambil memperhatikan santrinya bekerja menyiapkan kebutuhan makan di ponpes tersebut.

Baca juga: 25 Pekerja Di-PHK dan 25 PMI Dipulangkan

Tak jauh dari tempat itu terdapat satu gedung menghadap ke selatan. Gedung yang terbagi beberapa ruangan itu memiliki papan nama. Di papan nama itu tertulis Ma’had Al-Majnun. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya ponpes orang gila.

Tak lama memandangi gedung itu, keluarlah seorang pria paro baya membawa ember kecil berisi peralatan mandi. Pria itu hendak membersihkan diri setelah bekerja seharian. ”Itu sudah sembuh. Sudah bisa bekerja. Kerjanya kerja bangunan,” jelas Ki Bajigur.

Kiai yang memiliki nama lengkap KH. Abdurrahman ini mengatakan, pasien ODGJ yang ada di tempatnya akan diberi keterampilan. Dengan begitu, ketika kembali ke keluarganya, mereka sudah terbiasa mandiri dan tidak menjadi beban keluarga.

Ponpes Al-Bajigur menyediakan tempat bagi ODGJ dimulai 2015. Sepuluh tahun setelah pondok tersebut berdiri. Menurut Kiai Bajigur, itu dimulai ketika dirinya kedatangan tamu satu mobil dengan membawa orang yang dipasung.

Orang tersebut dianggap gila oleh keluarganya dan minta diobati kepada Kiai Bajigur. ”Waktu itu saya tanya, ini yang gila yang dipasung apa yang memasung? Tiba-tiba orang yang dipasung itu menjawab bahwa yang memasunglah yang gila,” terangnya.

Setelah itu Kiai Bajigur pun meminta keluarga tersebut melepas pasung orang itu. Tanpa diduga, orang tersebut ternyata benar-benar sembuh. Sejak itulah Kiai Bajigur dianggap mampu menyembuhkan ODGJ. Lalu banyak berdatangan pasien di bawa ke Ponpes Al-Bajigur yang terletak di Desa Tanonan, Kecamatan Manding, Sumenep.

Mereka yang mengalami gangguan jiwa biasanya memiliki latar berbeda. Ada yang karena bangkrut, kalah dalam pemilihan legislatif, kecanduan narkoba hingga ada juga yang disebabkan kegagalan cinta.

Menurut Kiai Bajigur, mereka yang mengalami gangguan jiwa akibat cinta membutuhkan waktu penyembuhan cukup lama. ”Bisa sampai dua tahun. Ya gimana kan cinta tidak ada tokonya,” ucap kiai yang sangat santun itu.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Bajigur juga mencoba mengajak salah seorang pasien ODGJ asal Manado berkomunikasi. ODGJ tersebut bernama Priyo. Meski belum benar-benar pulih, namun Priyo sudah bisa diajak komunikasi.

Kepada kru Acabis, Priyo mengaku dulu dia sering mengonsumsi narkoba. Priyo tidak segan-segan menunjukkan tato harimau yang menghiasi tubuhnya. ”Saya sudah sembuh. Saya dari Sulawesi Utara. Saya ingin pulang,” ucap Priyo kepada Kiai Bajigur.

Kiai Bajigur berharap ada keluarga yang mau menjenguk Priyo. Sebab, dia masuk ke Ponpes Al-Bajigur tidak diantar keluarganya. Tapi, ditemukan di sekitaran Kota Sumenep. Lalu, ada yang membawanya ke Al-Bajigur.

Kiai Bajigur mengatakan, ada beberapa upaya terapi yang dia terapkan terhadap ODGJ. Pertama, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. ”Mereka kita mandikan dan diajak membaca salawat,” ungkapnya.

Cara berikutnya dengan memberikan mereka jamu khusus yang diracik Kiai Bajigur. Kalau sudah terkena narkoba, terang dia, pasti ada gangguan syaraf di telinga. Kalau sudah parah, biasanya kedua telinganya rusak. Nah, dalam kondisi itulah muncul suara-suara seperti halusinasi.

”Syaraf inilah yang kita coba perbaiki dengan mengonsumsi jamu,” ucap Kiai Bajigur.

Namun, jamu racikan itu sampai saat ini belum bisa diproduksi untuk kalangan umum. Sebab, Kiai Bajigur tidak tahu bagaimana mengurus izin. Jika ada yang bisa membantu menguruskan izinnya, dia sangat senang. Menurut dia, siapa tahu bermanfaat bagi mereka yang ingin berhenti mengonsumsi narkoba atau ingin menyembuhkan keluarganya dari gangguan jiwa.

Kiai Bajigur menberikan jawaban yang sangat sederhana saat ditanya alasan mau mengobati dan memberikan tempat layak kepada ODGJ. Menurut dia, mereka juga manusia. ”Kalau bukan kita yang menyayangi, lalu siapa?” ungkapnya.

Selain ODGJ dan pengguna narkoba, kalangan lain yang dikabarkan sering bersilaturahmi ke Al-Bajigur adalah kepala desa. Hal itu diakui oleh Ki Bajigur. Kalau ada kepala desa yang datang biasanya berkoordinasi bagaimana membangun desa dengan baik.

Banyaknya kalangan yang datang ke sana membuat simpatisan Al-Bajigur bertambah. Bahkan, mereka membentuk lembaga khusus yang bernama IKBAR (Ikatan Keluarga Besar Al-Bajigur).

IKBAR bergerak pada kegiatan sosial kemanusiaan. Misalnya memberikan bantuan kepada fakir miskin dan anak yatim. Saat ini cabangnya sudah terbentuk hampir di seluruh Indonesia. Pada 2020, berhasil mengumpulkan dana Rp 1 miliar. Uang itu dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim.

”IKBAR bukan santri atau alumni, melainkan simpatisan. Misinya silaturahmi. Kita punya titipan yaitu fakir miskin dan anak yatim. Itu titipan Allah,” pungkasnya. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news